Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Semarang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2017

Harus Pergi Liburan

Terhitung awal januari 2017, saya secara resmi menjalani kehidupan di dua pekerjaan. Di bulan kedua juggling antara pekerjaan satu dan yang lainnya, rasanya hari-hari saya sudah mulai kocar-kacir dan keteteran. Pekerjaan saya yang baru lokasinya jauh banget, jarak tempuh 40 km sekali jalan dari rumah saya. Otomatis saya berangkat harus subuh. Diantara waktu itu saya harus meluangkan waktu untuk pekerjaan nomor dua saya, jadi kadang sabtu juga saya harus kerja.

Seperti misalnya sabtu lalu, dari pagi mengerjakan dokumen tender. Hari minggu malam saya berangkat ke semarang. Senin subuh tiba di semarang langsung ke jepara. Siangnya langsung balik ke semarang, tidak lupa mampir ke kudus untuk makan garang asem favorit. Sorenya sudah naik kereta lagi ke jakarta. Sampai rumah hampir tengah malam. Selasa subuh saya sudah harus berangkat ke kantor baru saya yang berjarak 40 km dari rumah itu. 

Ngomong-ngomong, perkembangan kereta api luar kota semakin bagus saja sejak terakhir kali saya naik kereta ke Jogja dua tahun lalu. Saya beli tiket di Indomaret, dapat struk yang ketika sampai di Gambir dicetak langsung di mesin cetak boarding pass. Tidak perlu antri di loket seperti jaman dulu. 

Waktu dari semarang malahan saya beli tiket dari mesin, tinggal memasukan asal keberangkatan dan destinasi, pilih kereta, kemudian memasukan uang di mesinnya, langsung keluar struk. Setelah dapat struk pergi ke mesin cetak boarding pass. Mudah banget. Kereta yang saya naikin kebetulan argo, bersih banget dan tidak ada cek tiket karena kondekturnya sepertinya tinggal cek penumpang dan nomor kursinya dari handphone yang dibawa-bawa. 

Untungnya hari Rabu libur pilkada. Tapi saya tetap harus kerja setelah mencoblos, mengerjakan pekerjaan lain dari tempat kerja kedua. Yah akibatnya kalau ada waktu luang, saya utamakan untuk tidur. Jadwal latihan lari saya pun berantakan, seperti bangku belakang mobil saya yang sekarang setiap hari harus menempuh jarak lebih dari 100km. Entah sampai berapa lama saya bisa bertahan hingga tulang-tulang yang mulai renta ini start to falling apart. 

Terlebih karena sekarang lebih sering menghabiskan waktu sendirian terlalu lama di mobil, dalam cuaca yang senantiasa mendung dan sering hujan, saya jadi gampang merasa melankolis. Ah sepertinya saya benar-benar harus pergi liburan. 

Minggu, 24 Mei 2015

Salah Jalan

Saya pergi ke Merbabu dengan rombongan. Perjalanan kami tempuh 3 hari 2 malam, naik di Wekas turun di Selo melintasi Puncak Kenteng Songo. Ditengah perjalanan rombongan terbagi dua kubu, kubu di depan dan kubu di belakang. Kubu di depan sudah lebih terbiasa naik turun gunung sehingga staminanya lebih kuat daripada kubu belakang yang kecepatannya kalah tertinggal. 

Di hari ketiga, turun dari camp kita di sabana 2, salah seorang dari kubu depan mulai tidak sabar dan pundung. Ditambah lagi karena mereka harus mengejar kereta kembali ke Jakarta dari Jogja sore hari nya,  jadi mereka jalan makin buru-buru, gak sabaran nunggu sebagian kelompok yang tertinggal di belakang.

Sementara saya kadang ada di depan, kadang ada di belakang, pokoknya prinsip saya hanya berjalan saja. Kalau lagi capek saya di belakang, kalau lagi semangat ya jalan di rombongan yang depan. 

Malam kedua hingga pagi hari ketiga hujan deras sehingga tenda yang saya bawa sendiri basah. Karena takut resiko sisa-sisa baju dan sleeping bag saya ikut basah kalau tenda saya masukan tas jadi saya memutuskan menenteng tenda saya diluar backpack. Dalam keadaan kering saja agak susah mengepak tenda saya itu dalam tas 50L, itu pun frame nya gak cukup di masukan ke dalam tas jadi di selipkan di saku luar tasnya. 

Perpecahan mulai meruncing ketika selesai foto bersama dengan background kawah Merapi dari kejauhan. Salah satu anggota rombongan yang pundung menolak untuk berfoto bersama, malah berjalan duluan ke arah turun. Saya sih dengan santai langsung mengikuti ke arah turun setelah selesai foto bersama, sementara beberapa masih foto-foto sendiri. Sementara itu kawan-kawan dekat nya mulai bergerak menyusul untuk menghiburnya.

Sampai di sabana 1, banyak sekali tenda beraneka warna pagi itu. Wajar karena bertepatan dengan hari libur long weekend. Saya melihat sosok kawan-kawan saya naik ke atas bukit dan segera mengikutinya. Itu setelah melalui turunan kejam yang terjal dan licin karena paginya habis hujan, dan saat itu sepatu saya mulai berasa kayak gigit-gigit kaki. Ternyata setelah naik bukit itu terulang lagi turunan terjal yang bahkan lebih licin lagi. 

Setelah itu saya masih harus mengulangi satu set naik bukit dan turunan terjal, posisi saat itu sudah tertinggal jauh dari kawan-kawan di depan dan yang di belakang belum terlihat. Setelah itu jalanan yang dilalui jadi makin aneh, melintasi sabana yang jalan setapaknya hanya cukup untuk satu orang. Saat itu sempat timbul pertanyaan di benak saya, kalau banyak pendaki yang lewat situ kog bisa ya jalan setapak yang terbentuk sempit banget? gimana kalau banyak pendaki yang berpapasan berlawanan arah?

Makin lama setapak makin gak jelas, banyak sudah tertutup rumput. Beberapa kali saya dan salah satu teman dari rombongan yang tertinggal bingung di persimpangan jalan setapak yang tidak ada keterangan apa-apanya. Saat itu saya merasakan perut saya mulai lapar. Penyesalan terdalam saya saat itu adalah karena pagi harinya saya menolak tawaran sepiring mie goreng dari tenda sebelah. Untungnya kawan saya punya 2 batang coki-coki yang akhirnya saya palak. Sementara itu bayang-bayang mie instan masih memenuhi hati dan pikiran saya.

Tiba di suatu titik dimana jalan yang kita lewati tampak nyaris buntu karena semua path tertutup rumput, saya dan kawan saya mulai bingung celingukan jangan-jangan kita mengambil arah yang salah di salah satu persimpangan. Untungnya gak lama kami dengar ada teman yang manggil-manggil dari balik salah satu rumput yang tinggi. Empat orang kawan lagi duduk menunggu kami berdua karena mereka tahu kami pasti bingung di jalan itu, sementara tiga orang lagi sudah duluan melesat di depan.

Setelah jalan setapak yang tertutup rumput itu selanjut nya kami mulai memasuki hutan lebat, jalan setapaknya semakin gak jelas - tertutup alang-alang, daun-daunan yang saling bersinggungan, akar pohon, bahkan sering kami harus merunduk melewati pohon-pohon tumbang.  Kawan saya di depan berteriak mengingatkan untuk selalu jalan di kanannya jalan setapak karena di sebelah kirinya yang tertutup alang-alang ternyata banyak lubang-lubang curam. Jalan menurunnya sangat menantang, makin lama makin banyak jalan yang saya lewati dengan berseluncur duduk selain karena jalannya sangat licin dan terjal, kaki saya di dalam sepatu sudah makin lecet dan tidak kuat menjejak menahan beban di turunan. 

Rasanya seperti mengulang pengalaman di Senaru, tapi lebih parah karena jalanannya basah, licin dan lebih sempit. Anehnya lagi sepertinya hanya rombongan kami yang ada di hutan itu, padahal kalau dilihat jumlah tenda di sabana 1 harusnya kami banyak berpapasan dengan pendaki-pendaki yang lalu lalang. 

Saya mulai curiga jangan-jangan kami salah jalan.

Iisshh.. nyasar sih emang my middle name, tapi ya jangan nyasar di hutan di gunung juga keleeuuss...

Tiga jam berjalan akhirnya kami mendengar ada suara orang-orang ngobrol di kejauhan. Tapi agak ragu juga sih jangan-jangan itu cuma halusinasi. 

Untungnya bukan halusinasi. Memang suara orang beneran yang kami dengar. Bukan juga suara orang jadi-jadian. Kami muncul di pertigaan. Jalan yang lumayan besar terbentang di hadapan kami. Tampaknya arah Selo ada di kanan kami. Di pertigaan itu, tepat di hadapan kami ada papan besar bertuliskan "PUNCAK" dengan tanda panah mengarah ke kiri. 

Kami terduduk lega sejenak di pertigaan itu, belepotan lumpur dan peluh. Gak lama muncul rombongan anak-anak muda pendaki dari arah bawah, salah satunya bertanya, "kalau jalan yang itu tembusnya kemana ya?"

"sabana 1,"kata kawan saya.

"Jalannya lebih dekat ga?"

Saya dan kawan saya serentak langsung menjawab,"lewat jalur yang normal aja!"

Sementara itu apa kabar rombongan kubu belakang yang di cap lelet dan terlalu lambat sama rombongan kubu depan (yang saya ikutin sampai terseok-seok). Ternyata mereka lewat jalur normal dan gak salah jalan, jadi waktu tempuh nya sama aja kayak yang jalan buru-buru takut ketinggalan kereta padahal mereka jalannya santai sambil foto-foto, banyak break duduk-duduk dan merokok.

Sampai di basecamp, kawan-kawan yang mengejar kereta sore sudah langsung berangkat ke Jogja. Saya dan tiga orang kawan yang ikut kebawa salah jalan masih stay di basecamp karena gak ikut pulang ke jakarta hari itu. Kami di olok-olok dan di bully abis-abisan sama rombongan yang gak pake salah jalan.

"Lo lewat mana sih tadi? Jalur evakuasi monyet?" mereka tertawa puas, kami tertawa miris.

Masih untung jalan tembusnya bener, coba kalau ternyata emang salah jalan beneran, coba aja kalau tembusnya ternyata balik ke Kenteng Songo... Kalo gitu mah saya butuh di evakuasi beneran. 

Lesson learned. Kalau suatu saat jadi orang yang kebetulan lebih kuat gak boleh sombong, memandang remeh yang lebih lemah, mencelanya dan menganggap sebagai penghambat. Karena kita ga pernah tau di depan kita akan ada kejadian seperti apa. So, Stay Humble :)


Selasa, 24 September 2013

Pelangi di Bandengan

Tahun ini saya dapat suatu kerjaan di suatu Pembangkit Listrik yang lokasinya di sekitar Jepara. Hal ini menyebabkan saya musti beberapa kali bolak-balik Jakarta-Semarang-Jepara-Semarang-Jakarta dalam beberapa bulan belakangan ini. 

Bahkan seringnya saya melakukan perjalanan bisnis trip pulang-pergi ini dalam sehari. Pagi saya naik pesawat ke semarang, kemudian lanjut naik mobil 3 jam-an ke lokasi Pembangkit Listrik. Sorenya saya kembali ke Semarang, kalau masih sempat naik pesawat paling akhir ke Jakarta, kalau sudah terlalu malam sampai semarang saya naik kereta. Sampai di jakarta pagi, langsung deh meluncur ke kantor. 

Pernah juga urusan saya di Jepara selesai terlalu sore, jadi tidak sempat mengejar pesawat dan sepertinya tidak akan sempat mengejar beli tiket kereta juga karena saat itu kebetulan pas hari Jum'at, wiken. Akhirnya waktu lewat daerah Kudus dalam perjalanan dari Jepara menuju Semarang saya melihat di pinggir jalan ada pool bus malam Pahala Kencana, saya memutuskan turun dan menanyakan tiket bus malam ke Jakarta, ternyata masih ada dan kebetulan banget sudah akan berangkat dalam waktu beberapa menit. Saya segera memutuskan naik bus itu. Di perjalanan saya mikir, ini gak untuk urusan jalan-jalan maupun urusan kerja, ujung-ujungnya tetep aja saya musti bekpekeran gini. 

Satu kali pernah saya mengajak Chacha - adik saya yang juga satu kantor, ikut ke sana. Karena perjalanan satu hari dengan rute Jakarta-semarang-jepara-semarang-jakarta gak bisa dilakukan oleh setiap orang- khususnya chacha, jadi saya putuskan kali itu untuk menginap semalam di Semarang. Kita berangkat hari minggu, menginap semalam di Semarang baru Senin paginya ke Jepara. Seperti biasa, saya tidak beli tiket pulang, karena jam kepulangan yang tidak pasti dan over confidence berlebih kalau pasti akan dapat tiket pulang.

Minggu siang ketika sudah siap mau berangkat saya baru lihat tiket saya dan chacha, disitu tertera jam keberangkatan Pukul 5.45 hari Minggu. Saya baru sadar kalau 5.45 berarti jam 5 pagi, kalau sore akan ditulis 17.45. Artinya, saya dan chacha sudah ketinggalan pesawat karena saya salah liat jadwal. Perasaan saya, kita tuh  berangkatnya jam 5 sore bukan jam 5 pagi. Ternyata perasaan saya salah. 

Saya segera membuka web maskapai-maskapai penerbangan, berharap masih bisa dapat tiket di hari itu juga. Kebetulan ada salah satu maskapai yang ada jadwal penerbangan jam 6 sore, langsung saja saya beli online. Kita tetap berhasil berangkat ke Semarang hari itu, malahan sempat jalan-jalan di Simpang Lima dan makan Tahu Gimbal. 

Tahu gimbal

Pagi hari nya kita langsung berangkat ke Jepara, lokasi tepatnya sih sebenarnya masih sekitar satu jam lagi dari Jepara. Jadi kalau dari Semarang ke Jepara nya sendiri sekitar 2 jam, tambah satu jam menuju lokasi jadi total 3 jam perjalanan darat. Sampai di lokasi penyerahan barang - di gudang Pembangkit Listrik itu terjadi suatu insiden yang bikin saya sempat mau nangis berurai air mata karena barang yang kita antar ternyata gak seperti yang di inginkan oleh kepala gudang. 

Sebenarnya barang itu sudah sesuai sama gambar awal yang diminta sama user nya, tapi setelah barang nya datang si kepala gudang langsung bilang, "barang nya bukan beginiiiiiii." 

Bahkan si user yang ganteng dan tampak seksi dengan safety shoes nya pun gak bisa menolong saya walaupun saya sudah melemparkan pandangan mengiba minta diselamatkan dari si kepala gudang yang kejam. Pada akhirnya saya tetap disuruh repair barang itu sesuai dengan gambar revisi yang baru diberikan oleh kepala gudang nya saat itu. Gara-gara peristiwa itu sekarang saya agak mikir-mikir kalo dapat tawaran kerjaan dari situ lagi. Masalahnya bukan kali itu saja yang bermasalah, tapi tiap kali saya kesana selalu saja ada yang bikin saya nyaris nangis, gak pernah mulus. 

Ya yang namanya kerjaan dimana-mana mesti ada masalah sih. Mungkin suatu hari nanti kalau kerjaan saya disitu sudah selesai semua dan dapat kesempatan lagi ya akan saya ambil juga. Memang kerjaan yang ini ribet nya banget dan secara fisik melelahkan sekali karena harus bolak-balik menempuh seribu kilometer lebih dalam sehari, tapi seberat apapun hari saya di situ bisa hilang tiba-tiba dengan hanya mampir di Pantai Bandengan.

Pantai Bandengan 

Waktu pertama kali menemukan Pantai Bandengan
Pantai Bandengan terletak di Jepara, dari jalan raya masuk kedalamnya lumayan jauh. Pantainya bersih banget dan terawat. Pasirnya juga putih dan lembut. Di daerah situ banyak cottage-cottage dan penginapan yang bagus-bagus. Bahkan kata orang situ kalau sabtu minggu banyak orang bule berjemur di pantai. Saya juga baru tahu kalau di Jepara banyak orang bule yang bisnis eksportir kayu jati ukiran Jepara.   

Pertama-tama saya ke Pantai ini karena waktu itu urusan pekerjaan saya selesai agak cepat dan saya dapat tiket pesawat jam 8 malam, jadi supir mobil sewaan mengajak saya melihat Pantai Bandengan yang ternyata bagus banget. 

Di hari saya ke Jepara sama Chacha itu, sebenarnya kita keluar dari lokasi Pembangkit Listriknya sudah sore banget, tapi saya mengajak Chacha ke Pantai Bandengan, liat sunset sambil melepas stress. Akhirnya kita jadi menginap semalam lagi di Semarang. Lagipula kita sudah kehabisan tiket pesawat dan tiket kereta untuk hari itu, bahkan keesokan harinya kita dapat tiket pesawat yang berangkat siang dengan harga 2 kali lipat dari harga normal. Kita baru sadar kalau hari kepergian kita itu ternyata barengan sama long weekend. 

Walaupun kepergian kali itu sepenuhnya adalah kekacauan; mulai dari ketinggalan pesawat gara-gara salah liat tiket, di omelin orang gudang dan barang-barang yang sudah dibawa ke sana disuruh bawa pulang lagi, kehabisan tiket pulang, sampai akhirnya dapat tiket dengan harga yang bikin gak rela. Tapi kita beruntung karena sore itu kita melihat pelangi di pantai bandengan.


Sunset di Bandengan

Pelangi di Bandengan

Reward dari hari yang berat

Jumat, 14 Juni 2013

Lorong Bawah Tanah Lawang Sewu

Di suatu sore di kota Semarang, akibat salah beli tiket saya terdampar di Tugu Muda, di hadapan bangunan tua yang sempat lama terbengkalai dan tidak diindahkan orang-orang, Lawang Sewu. Kini bangunan tua peninggalan Belanda itu menjadi populer, karena pernah dijadikan salah satu lokasi uji nyali.

Saya menyebrang jalan yang lengang sore itu dan memasuki halaman Lawang Sewu. Masuk ke dalam Lawang sewu harus bayar tiket, harus menggunakan pemandu dan bayar pemandu lagi terpisah sama biaya masuknya. Saat itu saya sendirian, pakai baju kantoran dan membawa backpack. Pemandu saya seorang mas-mas mungil berlogat Jawa yang mukanya tampak kebingungan melihat tampilan pengunjung dihadapannya.

Seperti layaknya pemandu pada umumnya, sembari menjelaskan sejarah gedung bekas kantor VOC yang (katanya) memiliki pintu dan jendela sebanyak delapan-ratus-sekian-sekian, mas pemandu itu kerap kali memaksakan memotret saya di spot wajib turis. Saya yang biasanya narsis saat itu memang lagi kurang semangat foto-foto diri sendiri, salah satu alasannya karena salah kostum.

Saya diajak ke ruangan yang katanya dulunya merupakan ballroom sampai ke pojok-pojokan bangunan dimana terletak toilet tua yang kusam. Diajaknya saya naik ke loteng bangunan yang katanya pernah jadi tempat penyiksaan sandera perang ketika bangunan tua ini diambil alih tentara Jepang dan dijadikan markas mereka. Jendela kecil di loteng itu memandang lurus ke arah Tugu Muda.

Bangunan Lawang Sewu

Pintu-pintu nya

Salah satu spot wajib turis

Wastafelnya dikirim langsung dari eropa

Ballroom

Loteng yang pernah jadi tempat tawanan perang

Tapi yang membangkitkan adrenalin saya ketika mas pemandu mengajak saya ke tempat masuk gorong-gorong air yang terletak di bawah bangunan. Fungsi gorong-gorong air ini sebenarnya untuk jalan air sekaligus mendinginkan bangunan, tapi ketika Lawang Sewu di duduki Jepang, gorong-gorong ini dirubah fungsinya secara kreatif oleh tentara Jepang menjadi tempat tawanan perang dan tempat penyiksaan.

Sayangnya mau masuk lorong ini harus bayar lagi biaya masuk tambahan, bayar sewa sepatu boot dan pemandunya. Terlanjur sudah sampai disitu ya terpaksa saya merogoh kantong demi menyusuri lorong-lorong gelap bawah tanah Lawang Sewu yang terkenal angker itu.

Pemandu yang mengantar saya di bawah tanah ganti menjadi mbak-mbak mungil yang manis, seketika membuyarkan kesan angker saya terhadap lorong gelapnya. Masalahnya kalo si mbak-mbak yang kecil mungil kayak gitu aja ga takut berkeliaran di dalem situ ya berarti gak mungkin nyeremin lah. Lorongnya memang gelap banget walaupun di dinding-dindingnya ada lampu-lampu bohlam dengan jarak yang jarang-jarang. Air setinggi mata kaki menggenangi seluruh permukaan lorong bawah tanah itu. Jadi jalannya kayak setengah berenang.

Dengan santai mba pemandunya menjelaskan mengenai tawanan perang yang ditahan di kolam-kolam beton setinggi kira-kira setengah meter dengan ukuran 2 x 2 meter-an. Diatas kolam-kolam beton itu dipasang jeruji besi, jadi tawanan perang yang di taro didalemnya harus tiarap jongkok sedemikian rupa supaya ga lebih dari tinggi kolam itu. Kolam - kolam itu tergenang air terus, kalau lagi hujan aliran air dari sungai dan dari saluran pembuangan air masuk ke dalam lorong bawah tanah itu, air di dalam kolam-kolam itu bisa penuh. 

Tawanan-tawanan itu langsung disiksa di dalam situ, kalau meninggal mayatnya tinggal dibuang ke suatu lubang di dinding lorong itu yang merupakan tempat air mengalir jatuh ke sungai yang berlokasi di belakang Lawang Sewu. Mba-mba itu menjelaskan semua itu dengan intonasi datar dan muka yang gak ada ekspresi.

"Waktu acara uji nyali itu, pesertanya duduk disini," mba pemandu itu menunjukan suatu tempat, berbentuk pipa besar yang memanjang searah lorong. "terus muncul bayang-bayang dari arah situ," dia menggerak-gerakkan senternya ke arah yang dimaksud. 

Pas lagi cerita horor itu sekilas dari ekor mata saya kog saya menangkap raut wajah si mbak nya itu kayak lagi senyum gaya suzana yang penuh misteri gitu. Tiba-tiba saya jadi merasa kayak ada angin dingin lewat di tengkuk, merinding. Jangan-jangan itu mba cemilannya melati.

Salah satu dari sedikit lobang cahaya yang bisa masuk ke lorong ini

Di dalam lorong

Mba Pemandu

Jumat, 25 Januari 2013

Hotel Budget Ceria

Setelah konsep budget airlines yang memacu jiwa petualangan orang-orang untuk jalan-jalan ke berbagai tempat, muncul juga konsep budget hotel. Konsep budget hotel ini mirip dengan budget airlines, harganya relatif terjangkau tapi fasilitas yang ada hanya yang fungsional saja. Jadi rata-rata hotel begini ukuran kamarnya efisien banget dan isinya juga minimalis, cuman ada tempat tidur, ac, kamar mandi, tv, meja dan kursi seadanya. Kelebihannya, biasanya terletak di lokasi yang strategis (dekat dengan pusat kota / wisata).

Saya ini memang selalu termasuk ketinggalan jaman, pertama kali masuk ke dalam budget hotel model gini waktu ke Bali sama chacha. Kita mengunjungi Tante Pungky dan Siba yang menginap di Hotel Pop di Kuta. Penampilan gedungnya semarak banget dengan warna-warna vibran yang mencolok. Lebih mirip TK daripada hotel sih, tapi lucu. Staff front desk nya muda-muda dan pakaiannya casual, t-shirt, celana pendek, sneakers. Bandingin sama hotel-hotel biasa yang tampilan front desknya rapi mengkilat. 

Masuk ke dalam kamarnya Tante Pungky, memang kecil sih tapi desainnya menarik. Semuanya serba nempel di tembok, mejanya nempel di tembok, kursinya nempel di tembok, tivinya nempel di tembok. Tidak ada lemari, cuman rak kecil dan gantungan baju yang (pastinya) nempel di tembok. Tidak ada kulkas, minibar dan pemanas air. Kamar mandinya keren, model kapal selam dari stainless steel gitu, walaupun buat sebagian orang yang ukuran tubuhnya agak panjang-panjang susah juga bergerak di dalem situ kayaknya karena sempit.

Kalau standar kebersihan dan pelayanan sih, karena masih dibawah manajemen hotel yang punya standar pelayanan bagus jadi ya bagus juga. Setelah kunjungan singkat ke hotelnya Tante Pungky, mempertimbangkan lokasi strategis, kebersihan bagus dan harga yang terjangkau, ditambah pengen nyobain kamar mandi model kapal selam, saya dan Chacha memutuskan untuk booking hotel Pop di perjalanan pencarian innerpeace kedua kita ke Jogja. Sayang banget, ternyata di Jogja kamar mandi nya yang standar, model kotak biasa bukan model submarine.
 
Jarak dari pintu masuk ke ujung kamar

segala furniture yang nempel di tembok

Kamar mandi kotak, bukan kapal selam
Saya dan chacha sih ga ada masalah sama ukuran ruangan secara kita kan semacam hobbit-hobbit yang ukurannya juga minimalis. Barang-barang saya kalo pergi kemana-mana juga selalu minimalis. Barang-barangnya Chacha aja yang tumpah ruah, roll rambut berantakan dimana-mana, belanjaannya yang segambreng berjejer di kursi yang nempel di tembok itu sampai-sampai berubah fungsi jadi meja juga.

Yang bikin sengsara karena saya dan Chacha adalah pecandu kopi berat. Kalau pagi-pagi bangun tidur ga langsung  ketemu kopi bisa-bisa kita udah cakar-cakaran dan gigit-gigitan. Jadi sebelum terjadi pertumpahan darah di antara kita berdua harus ada segelas kopi hitam pas bangun tidur. Di dalem kamar itu tidak ada pemanas air, sementara kita berdua bangun subuh-subuh demi mengejar matahari terbit di Borobudur jadi sudah pasti breakfast complimentnya belum tersedia. Ada sih mesin minuman di lobby, jadi kita turun dulu ke lobby subuh-subuh demi segelas kopi. 

Masalah lain muncul ketika si Chacha beli oleh-oleh Gudeg. Karena penerbangan kita pulang ke Jakarta pagi-pagi, jadi beli gudeg nya di malam sebelum pulang itu. Karena ga ada kulkas di dalam kamar jadi kita hanya bisa berdoa semoga gudegnya ga akan basi dalam jangka waktu semalam. Soal yang lain sih ga masalah. Tempat tidurnya nyaman, sprei nya bersih, kamar mandi bersih, handuk setiap hari diganti, air panas lancar, ada channel cable TV. Secara fungsional sih fasilitas nya terpenuhi. 

Waktu ke Semarang, saya minta rekomendasi hotel ke Arie Goiq. Dia rekomendasi beberapa hotel tapi pilihannya saya dengan pertimbangan lokasi dan harga akhirnya ke hotel Whizz Semarang. Pas sampe sana ternyata hotel ini juga konsep budget hotel seperti Pop hotel. Desain interior nya dominan warna hijau terang seperti daun muda di pagi hari habis kena embun gitu, seger. Desain kamarnya juga mirip sama Pop hotel, segalanya serba nempel di tembok.

Disini saya baru sadar satu macam "luxury" lagi yang tidak ada di hotel konsep begini. Sandal hotel. Karena kebiasaan di sediakan sandal hotel di hotel, kalau bisnis trip saya ga pernah bawa sandal supaya bawaan saya ringkas. Sialnya sepatu cantik yang saya pakai waktu ke semarang membuat kaki saya lecet karena dipakai jalan jauh, jadi di pagi hari waktu mau sarapan saya telanjang kaki aja berkeliaran di hotel itu. Oia, sambil berdoa semoga pas antri sarapan tidak ada bapak-bapak pakai sepatu kantor yang menginjak kaki saya yang imut.

Di Pop hotel jogja saya ga sempet cobain sarapannya, karena dua hari tinggal di hotel selalu pergi sebelum jam 6 pagi, sedangkan sarapan baru mulai tersedia jam 6. Denger cerita tante Pungky di Pop hotel Bali sarapannya makanan tradisional gitu, ada nasi jenggo, nasi jagung, dan semacamnya. Di Whizz ini sarapannya ada menu tradisional - nasi ayam dan pecel, ada juga roti dan selai ala kadarnya. Bagus juga sih saya bilang, sarapan yang ditawarkan sama hotelnya memang menu murah meriah tapi sekalian mengenalkan menu khas daerah itu.

Kamar mandi

Kamar desain minimalis

yang ini kursinya ga nempel tembok, cuma mejanya aja

wastafelnya diluar supaya ngirit,cerminnya jadi cuman satu
Selain dua hotel yang sudah saya cobain masih banyak hotel-hotel konsep budget hotel gitu. Ada Tune hotel yang satu manajemen sama Air Asia. Ada Amaris yang satu manajemen sama Hotel Santika. Grup hotel internasional besar Accor juga punya, dulu sempat namanya hotel formule 1, katanya sekarang berubah nama jadi Ibis Budget. Ya masih banyak deh budget-budget hotel lain dan malah makin banyak aja, dan yang saya ga ngerti kenapa rata-rata pilihan warna interior nya yang ceria-ceria gitu ya? Apa karena target segmen nya anak muda kali ya? Tapi konsep desain kamarnya yang serba nempel tembok itu lucu juga sih buat diterapkan di kamar saya yang ukurannya juga mini.

Senin, 21 Januari 2013

Akibat Salah Beli Tiket

Salah satu kelemahan saya lagi selain tukang nyasar adalah yang Mama saya selalu bilang dengan istilah "slebor". Bahasa ini mungkin populer pas jaman mama saya muda, bahkan katanya ada film terkenal dengan judul Bety Bencong Slebor. Definisi slebor sendiri itu kalau menurut saya sih sepertinya rada mirip cuek berantakan acak-acakan gitu, baik dalam berpakaian maupun berperilaku. 

Kalau soal ke gak matching-an saya dalam berbusana yang selalu di permasalahkan sama orang-orang sih sebenarnya itu merupakan salah satu perwujudan dari kreatifitas saya. Nah yang ganggu adalah perilaku slebor saya yang jujur gak bisa saya kendalikan. Seperti misalnya, ngupil waktu lagi nunggu lampu merah di mobil, angkat sebelah kaki waktu makan di KFC pake tangan, sering lupa pake kacamata dan baru sadar pas lagi nyetir udah rada jauh dari rumah, udah selesai makan di warteg pas mau  bayar ternyata di dompet ga ada uangnya, selalu salah  ngerjain soal matematika waktu sekolah karena gak pernah teliti (kalo ini kata guru-guru saya) dan masih banyak lagi kelakuan aneh yang suka bikin saya malu sendiri kalau sadar. Ya kalau gak sadar gak apa-apa sih.

Completely aware dengan kekacauan pribadi dan ke tidak telitian ini, setiap beli tiket pesawat online saya selalu berusaha untuk ekstra hati-hati. Berkali-kali mengecek tanggal, jam dan destinasi supaya ga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sangking ekstra hati-hatinya dan berkali-kali cross check, ga jarang saya kehabisan waktu dan harus mengulang dari awal lagi. 

Dulu waktu saya masih kerja di salah satu non-profit organization yang mengharuskan saya sering naik pesawat, sering banget saya salah jadwal. Saya pikir berangkat hari sabtu udah sampe airport baru sadar kalo tanggal yang di tiket itu hari minggu. Ada lagi, jam keberangkatan di tiket jam 6, saya santai-santai aja nunggu sore, eh pas sampe di airport ternyata tiket saya itu jam 6 pagi. Untungnya dulu saya selalu dapat tiket Garuda yang fleksibel, jadi kalo ketinggalan pesawat masih bisa ikut penerbangan selanjutnya selama masih ada tempat kosong.

Di akhir tahun kemarin saya melakukan kesalahan dalam  membeli tiket online. Jadi ceritanya saya ada urusan kerjaan ke Semarang, karena hanya sehari jadi rencananya saya pergi pagi pulang malam. Beberapa kali saya sering gitu sih, walaupun disertai dengan perasaan bersalah meninggalkan carbon footprint yang berceceran kemana-mana. Saya beli tiket sehari sebelum keberangkatan saya, dengan ekstra hati-hati saya memeriksa lagi tanggal keberangkatan, destinasi, jamnya berkali-kali untuk memastikan. Jadi rencananya saya berangkat tgl.24 penerbangan pertama dan pulang tgl.24 penerbangan jam 5. 

Karena kelamaan saya sempat kehabisan waktu dan mengulang lagi dari awal proses pemesanan tiketnya. Setelah pembayaran saya di approved dan keluar itinerary nya baru saya sadar kalau saya beli tiket berangkat tgl. 24 subuh dan pulangnya tgl. 25 jam 5. 

Jeng! Jeng! Jeng!

Setelah keliling mondar-mandir nge berisikin satu kantor mencerocos tentang kesalahan beli tiket itu, akhirnya saya malahan memutuskan buat pesen hotel untuk bermalam dan memikirkan nanti aja masalah tanggal 25 itu saya mau ngapain aja di Semarang. 

Urusan pekerjaan saya ternyata cepat selesai, jam 3-an saya sudah terdampar di tengah-tengah Tugu Muda Semarang yang dibangun sebagai monumen untuk mengingat pertempuran 5 hari di Semarang dengan baju kantor, flatshoes cantik dan backpack yang tentu saj aga matching sama sepatu cantiknya. Di hadapan saya Lawang Sewu, bangunan jaman Belanda yang terkenal ke horor-an nya sejak di ekploitasi sama salah satu acara mistis di TV swasta. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk dulu ke bangunan tua itu sebelum mencari lokasi hotel saya yang terletak di sekitar Mall Paragon, menurut website hotelnya.

Tugu Muda

Lawang Sewu
Keesokan hari nya saya sedang mondar-mandir tanpa sepatu di hotel sehabis sarapan karena kaki saya sakit dan lecet gara-gara jalan jauh pakai sepatu cantik, ketika saya merasakan Blackberry saya bergetar di kantong ketika salah satu rekan bisnis (gayanya wanita bisnis maksimal) menge Ping menandakan kalau dia sudah ada di muka hotel dan siap mengantar saya keliling kota Semarang yang unik karena ketinggian kotanya lebih rendah dari ketinggian air laut.

Jadi ceritanya saya terselamatkan ketika bertemu rekan bisnis saya ini kemarin harinya dan cerita kalau saya salah beli tiket, dia antusias banget ngajak saya jalan-jalan. Malahan sempat mau ngajak ke Candi Gedong Songo yang katanya tidak sampai 2 jam perjalanan, tapi khawatir ga keburu ngejar flight sore akhirnya diputuskan jalan-jalan di Semarang aja. Destinasi pertama tentu saja beli pesenan Bandeng Juwana di Jalan Panandaran dan Wingko Babat di deket Stasiun Tawang. 
  

Gereja Blenduk
Masjid Agung Jawa Tengah

Ada Menara Lookout, bisa lihat Semarang dari atas
Semarang from Al Husna Tower di Masjid Raya Jawa Tengah

Masjidnya, lengkap dengan payung hidraulik

Restoran berputar, tapi pusing lama-lama euy


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...