Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Makassar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Makassar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2008

Beda Bahasa

"Saksikan malam penganugerahan eP eP I..."
"eF eF I"
"Eh iya. Saksikan malam penganugerahan eF...eF...I, di eS Ce Te Pe"

Aku sampai senyum-senyum sendiri melihat iklan di salah satu televisi swasta menjelang di gelar nya acara Festival Film Indonesia yang waktu itu diadakan di Kota Bandung. Memang sudah jadi commonknowledge kalau orang sunda itu rada sulit mem-pronountiate huruf F dan V. Tapi aku baru tau ada yang hal semacam itu yang unik lagi di Makassar.


Waktu aku sedang di Makassar, kebetulan ada keperluan harus ke Bank. Aku bertanya ke pak supir mobil rental yang mengantar aku selama di kota tersebut,"Pak, disini ada bank?"

"Oh, disini banyak Ban mbak. Ada Ban Mandiri, Ban BCA, Ban Danamong..." Jawab pak supir.

Saat itu aku belum ngeh dengan keganjilan pengucapan pak supir itu. Hingga besoknya, pak supir itu bilang," Maaf telat mbak, tadi saya ganti Bang dalam dulu." Kemudian sayup-sayup aku dengar calon gubernur sedang berkampanye di radio, katanya, "Itu gunanya pajak. Untuk menutup Loban-Loban di Jalang." Aku baru mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Setelah di konfirmasikan ke salah satu teman aku yang asli orang Makassar, aku baru tahu ternyata disana pengucapan kata yang diakhiri huruf n, pengucapannya diakhiri dengan ng. Kebalikannya, kata yang diakhiri huruf ng, pengucapannya diakhiri dengan n. Contohnya, Ulang tahun akan menjadi Ulan Tahung.

Bahkan konon ada cerita seorang pria makassar yang di tuntut cerai oleh istrinya, pada waktu dikasih kesempataan membela diri dia berkata," Pak hakim, saya tidak mengerti apa yan kuran dari saya. Saya ini ganten, banyak uan, punya mobil kijan."

Istrinya menjawab," Kurang G, pak hakim"

Bagi orang makassar, tolong jangan diambil hati bukan maksudnya untuk menyinggung SARA loh. *peace*

Kesalahpahaman lain akibat perbedaan bahasa juga terjadi di Makassar. Ketika aku dan pak supir telah tiba di Ban Mandiri, aku berkata," Bapak tunggu disini ya, saya turun dulu sebentar."

"Iya. Kita turun saja disini," kata pak supir. Aku jadi bingung, kenapa dia mau ikut turun juga ya? " Oh, ga usah pak. Saya cuma sebentar. Bapak tunggu di mobil saja."

"Maksud saya juga begitu mbak. Kita yang turun...." si bapak itu ternyata masih nekad mau ikut-ikutan juga, aku segera menyanggah dengan lebih ngotot,"Saya bisa sendiri kog, pak. Ga usah ditemenin."

Tiba-tiba pak supir tertawa sendiri. Tiba-tiba aku kebingungan sendiri. "Kalau disini, 'kita' itu artinya sama dengan 'kamu' tapi halus, mbak." pak supir menjelaskan.

"Oooh.. gitu ya pak," aku jadi malu sendiri. Ternyata di beberapa kota di Sumatera aku juga sering menemukan bahasa 'kita' yang artinya 'kamu versi halus'.

Aku juga baru tahu bahwa di Aceh orang menyebut 'sepeda motor' dengan 'kereta' dan 'mobil' dibilangnya 'motor'.

Setelah selesai dengan urusan pekerjaan, salah satu rekan kerja yang berdomisili di Aceh menawarkan untuk tur keliling kota Banda Aceh. Dia bilang,"Habis ini mbak masih sibuk?" Aku menggeleng sembari tersenyum.

"Kalau mau jalan-jalan beli oleh-oleh, mari saya antar. Kebetulan saya bawa kereta diluar."

Mataku langsung membelalak," Kereta?" Yang terbayang di otak saat itu kereta api panjang dan jalan di atas rel itu loh.

"Iya," jawab orang itu sambil menunjuk satu-satunya sepeda motor bebek yang diparkir di sebelah tiang bendera.

Di daerah Bengkulu (kalau tidak salah. aku agak lupa daerah nya), kalau mau bertanya ke orang sana dimana bisa dapat taksi, pastikan orang tersebut mengerti dengan 'taksi' yang kita maksud. karena di sana 'mobil angkutan kota' juga disebut 'taksi'.

Kamis, 27 November 2008

Sumba Opu

Sudah menjadi tradisi, kalau jalan-jalan ke luar kota biasanya kita merasa kurang..gimanaaa gitu.. kalau belum beli oleh-oleh buat yang di rumah. Entah itu sebagai bentuk perhatian atau bentuk penegasan secara tidak langsung bahwa kita baru pulang jalan-jalan..he3..

Makassar adalah salah satu kota di daerah yang
memiliki pusat belanja oleh-oleh khas daerah tersebut, namanya Jl. Sumba Opu. Nah, yang kayak begini nih yang aku suka, sebagai turis pemalas, pusat belanja oleh-oleh model begini menghemat waktu dan lebih praktis.


Di sepanjang Jln Sumba Opu ini banyak toko-toko yang menawarkan souvenir dan oleh-oleh khas Sulawesi Selatan dari mulai kain tenun, sarung bugis, kerajinan dan kopi Toraja, kaos bergambar, macam-macam aksesoris (tas, kalung, gelang, etc, etc) dan macam-macam penganan ringan.


Berbagai macam kain tenun Makassar dapat kita temukan dengan harga yang terjangkau. Aku juga beli minyak tawon asli Makassar, titipan eyang putri. Dan favorit aku adalah miniatur kapal pinisi dalam botol, yang selalu bikin aku penasaran tentang cara pembuatannya. Ternyata menurut informasi salah seorang penjual, kapal miniatur itu di rakit di dalam botol. Waw...



Lihat juga:


Selasa, 25 November 2008

Tanjung Bunga, Rekreasi Terpaksa

Rekreasi kog terpaksa? Tapi bener loh, aku pernah mengalami sendiri.
Setelah melewati satu minggu yang berat di kota Makassar (karena pekerjaan, bukan karena makan melulu, terus jadi berat he3..), di hari Sabtu yang aku inginkan hanya bangun siang, malas-malasan seharian, dan memburu makanan enak di Makassar.

Kenyataannya, semua impian untuk bermalas-malasan seharian itu buyar semua. Si Boss, memerintahkan untuk berekreasi di hari Sabtu pagi tersebut, demi meningkatkan kebersamaan dengan cara bermain voli pantai. Jadilah kita semua berangkat ke Tanjung Bunga untuk memuaskan nafsu si Boss bermain voli pantai.


Kawasan Tanjung Bunga di Makassar, adalah kawasan yang baru dibangun. Fasilitas di kawasan ini sangat lengkap, termasuk perumahan, pertokoan, mall dan tempat rekreasi. Bahkan gosipnya, Kalla Group bekerjasama dengan Bakrie, berencana membangun tempat hiburan semacam Disneyland di sana. Tapi waktu aku kesana, kawasan ini masih dalam proses pembangunan.



Berekreasi dengan cara bermain voli pantai sudah jelas bukan cara ku untuk bersenang-senang. Tapi setidaknya aku sangat menikmati menyaksikan orang-orang paruh baya tampak senang bermain jungkat-jungkit.


Senin, 24 November 2008

Menikmati Kelapa Muda di Losari

Sore-sore enaknya santai di pinggir pantai sambil menikmati kelapa muda..Hmmm... Segar.. Itulah yang aku dan Pak Aluma (cowok hitam manis asal Afrika yang sedang memegang kelapa). Di pinggir pantai Losari di Makassar ini, kelapa muda yang dijual benar-benar asli. Tidak ditambah sirup atau gula seperti di restoran-restoran.

Buah kelapa langsung kita pilih, kemudian abang penjualnya langsung memangkas ujung batok kelapanya sedikit agar kita bisa meminum air nya. Setelah air nya habis, si abang baru akan membelah kelapa nya supaya kita bisa memakan daging kelapa.


Jujur saja, ini pengalaman pertama aku minum kelapa muda dengan cara begitu. Biasanya selama ini, kalau aku minum kelapa muda sekalian juga makan daging kelapanya. Kebayang kan maksud nya?

Jadi waktu pertama-pertama aku di kasih kelapa yang hanya terpangkas sedikit diujungnya (lebar bolongnya cuma sebesar sedotan), aku agak bingung juga, gimana cara makan buahnya?
"di minum airnya dulu, mil," kata Cipu (cowo berbaju merah yang foto sama aku dibawah ini). Anyway, dia itu orang Makassar yang merantau ke Jakarta dan pernah sekantor sama aku, dia lah oknum yang bertanggung jawab memandu perjalanan rombongan FAO di Makassar.

Terus, aku minum semua airnya..glek..glek..glek.. Kemudian, kelapa yang sudah kosong itu di berikan lagi ke abang nya untuk dibelah. Tapi karena tadi air nya aku minum semua, perut aku rasanya sudah penuh buat makan daging kelapanya. Padahal kalau dibuang sebagian juga enggak apa-apa kali. Memang dasar culun..he he he..




Fort Rotterdam


Benteng ini agak berbeda dengan benteng peninggalan jaman kolonial lain di Indonesia. Karena benteng yang terletak di Makassar ini awalnya dibangun oleh raja Gowa, Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, di tahun 1545. Baru kemudian, Belanda datang dan mengambil alih Benteng Makassar, memugarnya untuk dijadikan pusat pemerintahan dan perdagangan. Setelah itu nama Benteng ini menjadi Fort Rotterdam.





Jadi, kalau ke Makassar, sempetin deh ke benteng ini. Khususnya buat yang banci foto, Fort Rotterdam bisa jadi background foto yang bagus, seperti foto di dalam studio atau foto di dalam lukisan.





Fort Rotterdam berlokasi di pinggir pantai Losari. Dari atas benteng ini, kita bisa menyaksikan pemandangan pantai di kala senja, di saat matahari terbenam. Warna langitnya indah banget deh...

Lihat juga:
- Fort Marlborough di Bengkulu
- Benteng Otanaha di Gorontalo


Jumat, 21 November 2008

Makan-makan di Makassar

Pergi ke Makassar bisa berbahaya untuk orang yang lagi diet. Karena di kota yang terletak di bagian bawah pulau sulawesi ini banyak makanan khas yang lezat-lezat
  • Buat yang doyan seafood, disini tempatnya. Mumpung lagi di Makassar, lebih baik di puas-puasin, karena harga seafood di sini lumayan murmer alias murah meriah.
    Aku sempat nyoba'in di Restaurant Ratu Gurih, Jl. Pasar Ikan. Salah satu teman aku jadi ketagihan sama Palu Mara nya. Kalau mau yang lebih murmer lagi, yang aku sempet coba di Lae-Lae, tapi lupa jalan apa.
  • Kalau mau sarapan khas Makassar bisa ke Jalan Nusantara. Di sana ada Coto Makassar yang rame banget. Biar tempatnya sempi dan sesak tapi tetap saja banyak orang yang datang sampai rela mengantri tempat duduk. Sayangnya waktu makan disana aku belum kepikiran buat bikin blog begini, jadi enggak foto-foto, tapi aku ambil foto nya dari reinalreinal.multiply.com . Kalau di klik link nya, juga ada cara makan coto yang baik dan benar heheheee....

  • Iga bakar dan Sop Konro Karebosi adalah makanan yang wajib di cicipi di Makassar. Lokasi nya di Jl. Gunung Lompobattang. Mmmm.......Yummy..... Foto dibawah ini aku ambil dari www.serpong.org

  • Mie kering Makassar juga makanan yang wajib dicicipi di kota ini. Rasa kuahnya gurih, dicampur dengan potongan-potongan sea food dan sayur. Terus mie nya, garing..kriess..kriess... Mie kering yang sempat aku kunjungi adalah mie Anto di Jl. Bali. Lagi-lagi, tempatnya kecil tapi sesak pengunjung. Kalau mau lihat foto-fotonya ke ervita.multiply.com, disini juga ada review Palu Basa di Jl. Serigala, yang aku pengen banget coba'in tapi belum sempat.
  • Aku juga sempat makan es pisang ijo di rumah makan yang letaknya di depan pantai Losari. Pisang ijo itu pisang yang dilapisi tepung warna hijau, ada kuah santannya dan rasanya manis. Di santap dingin-dingin... segar....









Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...