Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Cirebon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Cirebon. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

Mengulik Kisah Kesultanan Cirebon

Konon menurut cerita yang saya baca, setelah menaklukan Pelabuhan Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta, Syarif Hidayatullah bersama dengan putra nya yang dari Putri kerajaan Demak pergi ke Banten. Disana putranya yang bernama Maulana Hassanudin membangun kesultanan yang akhirnya di luluh lantak oleh VOC hingga yang tersisa sekarang hanya puing-puing nya. Beberapa bulan yang lalu saya sempat pergi kesana.

Sementara Maulana Hasanudin sedang membangun kesultanannya, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati berangkat lagi ke Cirebon dengan misi menyebarkan agama Islam. Waktu itu daerah Cirebon hanya merupakan suatu desa kecil yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian nelayan udang yang bahasa sananya rebon, beberapa sumber percaya itu adalah asal mula nama Cirebon diambil - cai (air) dan rebon (udang).

Syarif Hidayatullah kemudian mulai membangun kesultanannya disana.  Lama kelamaan pelabuhan di Cirebon semakin ramai dan kampung kecil ini semakin berkembang karena kegiatan perdagangannya. Menurut Bapak guide yang mengantar kita keliling Keraton Kasepuhan, Sunan Gunung Jati usianya mencapai 100 tahun lebih. Ketika beliau meninggal dan putra nya yang seharusnya menjadi pewaris tahta nya memutuskan untuk mengundurkan diri dan memilih menjadi penyebar agama Islam, ditunjuklah kawan lama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama menaklukan Pelabuhan Sunda Kelapa, yaitu Fatahillah sebagai pejabat sementara.

"Fatahilah juga adalah menantu Sunan Gunung Jati. Beliau menikah dengan putri Sunan Gunung Jati yang adalah janda nya Dipati Unus dari Kerajaan Demak. Dipati Unus gugur ketika perang dengan Portugis di Malaka. Karena itulah putrinya Sunan Gunung Jati nyaris tidak merestui ketika suami baru nya, Fatahillah akan dikirim perang ke Sunda Kelapa. Trauma," kata Bapak itu menjelaskan kisah romansa yang ga pernah muncul di buku sejarah sekolah dulu.

Mungkin karena kedekatan hubungan Fatahilah dan Sunan Gunung Jati, ketika Fatahilah wafat jenazahnya disemayamkan disebelah Sunan Gunung Jati dan ditunjuklah cucu dari Sunan Gunung Jati sebagai penerus Kesultanan Cirebon. Beberapa generasi selanjutnya Kesultanan Cirebon pecah menjadi dua sehingga Kesultanan yang pertama berdiri dikenal dengan nama Kesultanan Kasepuhan, dan Kesultanan yang lebih baru diberi nama Kesultanan Kanoman. Hingga sekarang di Kesultanan Kasepuhan sudah sampai ke generasi ke-14 yang memerintah, yaitu Sultan Kasepuhan XIV Cirebon Sultan Sepuh PRA Arief Natadiningrat.

Tampak Muka Keraton Kesultanan Kasepuhan Cirebon

"Pecahnya Kesultanan itu ya gara-gara ulah Belanda," kata si Bapak.

"Sultan ke berapa yang pertama kali memberontak terhadap Belanda, Pak?" tanya saya.

"Ada Sultan Kasepuhan V," jawab Bapak itu sembari membenarkan letak blankon nya yang melorot hingga ke dahi, "beliau memimpin pemberontakan terhadap Belanda tapi secara sembunyi-sembunyi. Menyamar jadi rakyat biasa dan mengumpulkan pasukan yang terdiri dari rakyat-rakyat juga di suatu tempat. Hal ini dia lakukan untuk melindungi Kesultanannya agar tidak dihancurkan dan diserbu oleh pasukan Belanda. 

"Katanya Sultan itu sangat sakti, satu-satu senjata yang dapat membunuhnya hanya keris nya sendiri. Ketika Belanda mulai mengetahui kalau Sultan itu yang memimpin pemberontakan, mereka mendekati adik laki-laki Sultan. Dengan di iming-imingi kedudukan sebagai Sultan, adik nya itu tega mengkhianati kakaknya sendiri.

"Pada suatu hari adiknya itu mengambil keris sakti kakaknya secara sembunyi-sembunyi dan memberikannya kepada Belanda. Kakaknya pun terbunuh oleh Belanda dengan kerisnya sendiri. Tapi tentu saja cerita pengkhianatan ini langsung ditutup-tutupi ketika si adik menjabat sebagai Sultan menggantikan kakaknya yang dikhianatinya."

Keunikan Keraton di Cirebon terletak pada potongan-potongan keramik yang tersebar di dindingnya. Baik Keraton Kasepuhan maupun Keraton Kanoman yang lebih sederhana, di dinding temboknya yang putih terdapat potongan-potongan keramik yang di tempel. Bentuk gerbangnya tampaknya masih terpengaruh arsitektur jaman Hindu-Buddha karena mirip gerbang Pura-Pura. 

Memasuki halaman Keraton Kasepuhan, pengunjung akan disambut oleh patung dua harimau putih. Harimau Putih adalah semacam legenda di daerah Jawa Barat yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi, Raja paling ngetop dari Kerajaan Pajajaran. Menurut mitos yang beredar, Prabu Siliwangi pergi bertapa ke hutan dan berubah menjadi harimau putih, sementara anak buahnya yang ikut dia ke hutan berubah menjadi harimau belang. Menurut cerita Bapak itu, salah satu pendiri kampung Cirebon masih keturunan Prabu Siliwangi, maka itu dulunya Cirebon itu berada dibawah Kerajaan Pajajaran.

Walaupun sudah mendapat pengaruh agama Islam yang kuat, tapi sosok Prabu Siliwangi tampaknya masih lekat di kebudayan masyarakat. Di dalam museum Keraton Kasepuhan pun dipajang lukisan Prabu Siliwangi yang gede banget, konon pelukisnya bermimpi didatangi oleh Prabu Siliwangi kemudian dia melukis orang yang persis seperti yang datang dalam mimpinya itu.

Di sebelah kanan dan kiri keraton utama terdapat dua bangunan, yang satu adalah semacam kantor administrasi untuk mendaftar kalau kita mau ketemu Sultan. Yang satu lagi namanya Sri Manganti, ruang tunggu buat tamu yang mau ketemu Sultan menunggu dipanggil. Ketika mau pulang ke Jakarta di Stasiun Cirebon saya mendapati ruang tunggu eksekutif nya pun dikasih nama Sri Manganti.

Jinem Pangranti, nama ruangan semacam beranda Keraton utama menuju ke Ruang Singgasana Sultan. Keramik-keramik tersebar di dindingnya yang putih, lampu kristal eropa menggantung tepat di tengah 4 batang kayu jati yang masih terlihat kokoh walaupun sudah beberapa abad usianya. Pilar-pilar ini bentuknya mirip pilar-pilar di bangunan Keraton Jawa. Jendela-jendelanya kental pengaruh Eropa nya. Kaca patri berwarna hijau dan kuning tersemat menghiasi pintu utama yang berwarna hijau senada dengan pilar nya.

Pintu di Jinem Pangranti hanya dibuka kalau Sultan menerima tamu penting, bagi para turis masuknya melalui pintu samping. Keraton ini tidak seluas Keraton di Jogja dan Solo, lebih mirip seperti rumah sih. Anggota keluarga kerajaan masih ada yang tinggal di bagian belakang bangunan Keraton ini. Kita masuk melepas alas kaki langsung menuju ruang singgasana.

Singgasana Sultan terletak di atas panggung. Kursi singgasananya unik, dihadapannya ada meja yang kaki nya berbentuk dua naga yang saling melingkar. Di belakang kursi singgasana ada tempat tidur yang di hiasi kelambu kain yang terdiri dari 9 warna, konon itu merupakan simbol dari Wali Songo - Sembilan orang Sunan yang menyebar agama Islam di Jawa. Tempat tidur itu untuk Sultan beristirahat si sela kesibukannya memerintah di atas singgasana.

Jinem Pangranti

Singgasana Sultan

Tembok akulturasi budaya



Di sisi singgasana ada sebidang dinding dimana akulturasi budaya menjadi satu disitu, patching the wall. Di tembok terukir relief bunga merah yang bernama Kembang Kanigaran. Bentuk ini dapat kita temui di atasnya buah manggis, merupakan simbol kejujuran karena kalau kembang ini jumlahnya 5 sudah pasti isi buah manggis di dalamnya juga 5, ga mungkin bohong deh. Di antara Kembang Kanigaran ada dua ekor burung beo berwarna putih sebagai simbol kecerdasan. Di bawah relief itu di tempel 3 buah piring keramik China.

Membingkai relief tersebut ada potongan-potongan keramik berwarna biru dan coklat yang berasal dari Eropa. Keramik yang warna coklat sebenarnya merupakan cerita tentang nabi-nabi di agama Nasrani, tapi karena yang menyusun nya ga ngerti jadinya random, malahan di atasnya malah dipotong bentuk kubah masjid.


Keraton Kanoman kelihatan jauh lebih sederhana, kecuali tembok bagian depannya yang sama dengan Keraton Kasepuhan - di taburi keramik-keramik walaupun beberapa kelihatannya sudah dicungkil meninggalkan lubang kosong di tembok putih. Keraton Kanoman terletak di belakang pasar. Ketika kita tiba disana tidak ada turis lain, hanya anak laki-laki yang ramai bermain  bola di halamannya yang luas. 

Keraton Kanoman


Kamis, 11 Oktober 2012

Sehari di Kota Udang, Nasi Jamblang dan Batik Trusmi

Kereta Api Cirebon Express berangkat pukul 6 dini hari, mengantarkan 4 orang perempuan di Stasiun Cirebon. Berbondong-bondong para penumpang turun dari kereta, tampaknya seluruh gerbong terisi penuh di hari Sabtu itu. 

Di depan pintu exit, abang tukang becak menyambut para penumpang yang baru turun dari kereta, menawarkan jasa nya. Tapi sesuai dengan niat awal Tante Debz - ketua rombongan yang hari itu mengenakan celana pendek pink dan terpaksa menanggalkan eyeliner nya karena telat bangun, kita menggunakan jasa ojek.

Kalau dirunut dari asal usul saya yang simpang siur, Papi nya Mama Said - Mbah Kakung saya asli nya dari Cirebon. Tapi karena keluarga sudah hijrah semua ke Jakarta jadi sudah sejak generasi Mama saya tidak pernah merasakan mudik ke Cirebon. Saya sendiri beberapa kali melintas Cirebon, cuma numpang lewat di perjalanan mau kemana. Baru kali ini kota udang ini menjadi tujuan saya, berkat ajakan Tante Debz untuk belanja batik di Trusmi, kampung batik yang ada di Cirebon.

Perut yang meraung-raung karena sejak pagi baru diisi sepotong roti dan segelas kopi susu mulai jinak berkat makanan khas Cirebon, Nasi Jamblang. Sebenarnya ini semacam nasi timbel, tapi bedanya bukan dibungkus daun pisang tapi dibungkus daun jati. Untuk lauknya kita bebas memilih secara prasmanan macam-macam lauk yang terhampar di meja. Menurut Lili, Nasi Jamblang Pelabuhan ini lebih enak daripada Nasi Jamblang Mang Dul yang populer. 

Nasi Jamblang Pelabuhan

Lauk prasmanan
Dari Tante Debz saya menyimak tentang motif-motif batik Cirebon. Mulai kapan Tante itu jadi ahlinya  batik, saya juga kurang paham sih. Tidak seperti batik di Jogja atau Solo yang dominan warna coklat, batik disini berwarna cerah. 

Dari tengah tumpukan kain-kain yang terlipat rapi di toko Batik Nofa, Tante Debz menarik sebuah kain berwarna dasar biru cerah, "Motif mega mendung," katanya.  Lukisan kumpulan awan-awan dengan kombinasi warna putih dan gradasi biru tua ke biru muda menghiasi sekujur kain itu, seperti lukisan langit yang cerah. Motif batik khas Cirebon mega mendung warna dasarnya macam-macam, ada yang berwarna merah sehingga seperti langit saat senja, ada juga warna pink dan hijau.

Toko Batik Nofa terletak di kampung batik Trusmi, 20 menit naik ojek dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Ternyata bukan hanya satu Toko Batik bernama Batik Nofa di Trusmi, tapi ada lebih dari tiga sehingga rombongan konvoi ojek kita sempat bingung-bingung. Untung Lili masih ingat lorong-lorong jalan yang mengarahkan kita ke toko itu. Trusmi adalah nama daerah pusat batik di Cirebon seperti Laweyan di Solo. Disini banyak toko batik mulai dari yang besar hingga kios-kios kecil.

Selain motif mega mendung, yang unik lagi motif batik yang bergambar hewan-hewan macam ikan, kupu-kupu, capung dan gambar orang-orangan serupa prajurit kompeni belanda yang kata Tante Debz motif robot-robot. Secara random Lili menarik selembar batik bermotif perempuan-perempuan belanda persis gambar logo salah satu merk susu kental manis.

Sementara Nyai Astri sedang pusing memutuskan batik mana yang akan dibeli untuk Ibu nya, karena memang motifnya bagus semua jadi agak bingung memilihnya. Saya pun sempat bingung dengan banyaknya pilihan yang menarik, tapi kemudian saya melihat sepotong kain batik dengan perpaduan 3 warna - putih di atasnya, merah di tengah dan biru dibawah, gambar awan-awan mungil menyebar diantara gambar kembang-kembang yang manis. Saya langsung terbayang sebuah dress cantik berbahan batik itu.

Tenggelam di tumpukan Batik (pic by Nyai Astri)

Di depan toko batik Nofa, Trusmi
Kain Batik Cirebon yang sekarang sudah jadi dress cantik

Saya juga beli satu lagi Batik berwarna dasar hijau tosca yang manis dengan motif capung. Sebenarnya waktu saya beli itu sudah terbayang mau bikin blus kasual berlengan pendek yang bisa di padu dengan jeans dan celana pendek. Tapi kemudian saya pikir-pikir, lucu juga kali ya kalau saya bikin Give Away.

Yang berminat mau punya koleksi Kain Batik Motif Capung boleh ikutan, tidak ada  batas usia, boleh cewek maupun cowok (batik ini dibikin kemeja cowok juga lucu loh), tidak ada batas domisili - yang tinggal di mana saja boleh ikutan.

Caranya tinggal share foto yang unik pakai batik favorit kalian di Facebook page Ceritanyamila, terus di kasih deh alasannya kenapa batik itu jadi favorit. Saya tunggu sampai Tanggal 28 Oktober 2012 yah :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...