Tampilkan postingan dengan label Singapore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singapore. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Basah Kuyup di USS

Beberapa hari lalu saya dapet e-mail dari seseorang, kita sebut aja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya). Si Mawar nanya, "ngapain aja di USS?," karena kebetulan dia berencana mau ke Universal Studio Singapore juga.

Saya jawab ke Mawar, coba aja search di google website-nya USS, disitu kan ada tuh info komplit mengenai permainan di USS. Kalo tanya SAYA sih, malu jawabnya. 

Mau foto di depan monumen bola dunia USS - yang merupakan hal wajib dilakuin klo kesana, gagal karena ditutup papan renovasi.


Naik Rollercoaster indoor, pas keluar ada foto candid memalukan persis kayak foto candid di Hongkong yang memperlihatkan ketakutan ke-ekspresif-an saya.

Ada satu lagi yang lebih mengerikan, saya BASAH KUYUP di Universal Studio.

Entah ini semacam kutukan, tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalu atau emang kebetulan sial. Waktu ke Disneyland Hong Kong saya juga BASAH KUYUP di tengah terik matahari. Saya pernah cerita sedikit mengenai hal ini dulu. Tapi akan saya ulang sedikit kali aja ada yang belom pernah baca.

Jadi ceritanya pas pawai, saya dan adik-adik dengan gagah berani mengambil barisan paling depan bersama dengan anak-anak kecil yang membawa payung.

Tanpa kita duga-duga ternyata pawai nya nyemprot-nyemprotin air ke penonton. Pertama-pertama sih lucu-lucu gitu. Pinokio keluar bawa pistol air, cipriiit cipriiiit. Terus ada bunga-bunga-an yang menari-nari dan ada watercan yang semprot-semprot-in air, cipraaat cipraaat.

Lama-lama pawai semakin brutal. Ada semacam mobil penyembur air dengan Mickie Mouse melambai-lambai diatasnya. Mirip kayak mobil pemadam kebakaran. Saya dan adik-adik berniat kabur, kita berbalik badan tapi di belakang kita gerombolan orang rapat sekali dan tidak bisa di tembus. Kita pun panik. Sementara mobil pembawa air bah itu semakin mendekat. 

Akhirnya spontan kita menyebar, merunduk, dan mencari perlindungan di balik payung anak-anak kecil di sebelah-sebelah kita. Tetap saja BASAH -____________-"

Nah, waktu saya ke USS terulang lagi kejadian basah kuyup karena bodoh di salah satu attraction (wahana) dalam Jurassic Park. Attraction ini semacam arung jeram gitu dengan dinosaurus-dinosaurus murka di samping-samping kita. Sebelum mengantri kita harus menitipkan tas di semacam loker yang tarif nya 4 SGD perjam. Alay 1, Alay 2 dan Alay 3 berusaha berhemat dengan hanya menggunakan satu loker buat bertiga. Di dalam situlah kita menaruh semua barang bawaan kita.

Cerita yang di paragraf atas itu harus benar-benar di pahami. Khususnya di kalimat yang terakhir itu. Soalnya ini berkaitan banget sama cerita selanjutnya. Oke?

Coba dibaca sekali lagi.

Sudah ngerti kan? yak... sekarang kita lanjut.

Permainan itu antrinya puanjang banget. Di depannya itu estimasi waktu ngantrinya 70 menit. Kita pun mengantri dengan polos nya, tanpa membawa apa-apa. No bag, no camera, no cellphone, nothing. Hanya baju di badan (dan sunglasses pastinya - supaya tetap eksis).

Setengah jalan antrian kita baru mulai merasakan ada yang aneh karena orang-orang lain pada bawa tas. Lebih aneh lagi pas liat orang-orang yang nenteng semacam plastik yang belakangan baru kita ketahui adalah ponco (semacam jas hujan). Kita pun mulai gelisah dan ga pede. Galau dan bimbang campur aduk menjadi satu. Kalau kita ninggalin antrian buat cari jas ujan dulu nanti kita musti antri dari belakang lagi. On the other side, kita tiba-tiba terserang rasa takut basah yang lebih dashyat dari sebelumnya.

Sementara para alay masih labil, posisi antrian semakin maju. Jeng...jeng.... tiba-tiba di pojokan berdiri lah sepasang mesin penjual Ponco Plastik. Tapi itu kan harus beliiiii... kita harus masukin koin ke dalemnya... baru bisa dapetin itu ponco plastik, sedangkan semua barang-barang kita kan ada di dalem LOKER. Huhuhuuu... bagaimanaaaa iniiiiii ????

Alay 1, Alay 2 dan Alay 3 pun semakin galau.

Kegalauan pun mencapai puncaknya berganti dengan kepasrahan maksimal. Que sera..sera.. What will be.. will be.. *alunan biola mendayu-dayu sebagai bekgron musik*

Tibalah giliran kita masuk ke dalam boat bulat berwarna kuning, bersama dengan sekeluarga orang India. Ibunya yang berukuran Triple XXL duduk persis di depan alay 1 (saya). Itu boat bulat yang harusnya muter-muter posisi nya kena riak-riak jadi ga muter karena keberatan sama tu ibu-ibu. D*mn, mana posisi saya menghadap belakang, jadi kayak jalan mundur terus gitu. Bleeeegh -____-"

Nah ini nih klimaksnya. Kita sampai ke dalam sebuah terowongan gelap, trus masuk kayak semacam ruangan, yang tertutup pas kita di dalam. Suasana sunyi senyap. Tiba-tiba saya merasakan permukaan air di bawah boat semain lama semakin tinggi, boat terangkat perlahan. Kita semua tegang, dont have any idea mau diapain.

O'ow... Saya lihat-lihatan sama Alay #3. Trus Alay #3 mengalihkan pandangan buat lihat-lihatan sama alay #2. Saya pun mencari target lain buat lihat-lihatan, dan pandangan saya bertemu dengan ibu-ibu India triple XXL yang pas di hadapan saya itu.

Secercah cahaya matahari masuk, ada semacam pintu yang terbuka. Pintunya pas di belakang saya, jadi saya ga gitu ngerti detailnya bagaimana. Tiba-tiba saya merasakan boat dihempas kan seperti air cucian kotor yang di lontarkan dari ember. Bersamaan dengan itu saya merasakan guyuran air persis di atas kepala, seolah-seolah kayak saya sedang mandi di kali, kepleset, kejungkir ke belakang, trus diguyur gayung raksasa segede tangki air merk Penguin ukuran 650 Liter dari atas.

Seketika itu juga saya menyadari kalau saya BASAH KUYUP.

Di pinggir pintu keluar, saya dan alay #2 dengan mengenaskannya sibuk memeras pakaian kita yang basah dibasan. Ada ibu-ibu lewat, dia tampak sangat kering, mungkin karena pakai Ponco Plastik. Ibu-ibu itu menertawai kita yang basah kuyup di pojokan sambil geleng-geleng kepala dengan tatapan antara kasian dan terhibur gitu. Kita berdua pun hanya bisa menghunuskan pandangan setajam silet ke punggung ibu-ibu itu.

Kita pun bergegas berjalan ke arah loker, meninggalkan jejak-jejak air yang masih menetes dari baju kita yang basah. Ternyata kesialan kita belum berakhir. Loker kita terkunci karena sudah lewat dari 60 menit. hiks! Untuk membukanya kita harus memasukan 4 SGD lagi. Tapi bagaimana mungkin? Tas, dompet dan semua uang kita kan ada di dalem loker.

Nyaris aja kita  bertiga nangis meraung-raung karena semua barang kita telah di rebut oleh loker sialan itu dan dia hanya menyisakan baju basah di badan kita masing-masing (dan sunglasses basah tentunya). Sebelum itu terjadi, saya merogoh kantong saya dan menemukan recehan. Tapi recehan saya itu kurang dari 2 SGD... masih kurang banyaaaaak.. huhuhuuu....

AHA! ide pun datang. Alternatif 1: kita pinjem uang dari orang lain, nanti setelah loker kita kebuka langsung deh kita balikin. Kalo Alternatif 1 ga sukses karena ga ada yang mau minjemin receh ke tiga orang culunn yang basah kuyup, saya punya Alternatif 2: ngamen sampe kekumpul recehan buat buka loker.

Alay #2 mencari target, buat dipinjemin duit. Pilihan pun tertuju kepada petugas USS, seorang mbak-mbak imut yang menggemaskan. Mbak-mbak itu pun menolong kita membuka loker dengan kartu nya. Terima kasih Tuhan telah kau kirim kepada kami seorang penolong dalam wujud mbak-mbak petugas USS yang imut nan lucu. Setelah kita mendapatkan kembali barang-barang bawaan kita, dan setelah mengganti hutang 4 SGD, kita pun langsung mengabadikan kekuyupan yang menyedihkan tersebut.

Muka-muka celepuk kuyup
Atas - bawah, Luar - dalem, bassssaaaaahhhh.......

Selasa, 05 Juli 2011

Tiga Alay di Universal Studio Singapore

Alay #2, Puss in Boots, Alay #3 & Alay #1
Alkisah, ada 3 orang alay kadaluarsa yang masa kecilnya kurang bahagia, menempuh jarak hampir 900 kilometer dari Jakarta ke Universal Studio Singapore. Sebenarnya ga istimewa-istimewa amat sih.... secara pastinya udah banyak banget orang Indonesia yang maen kesini. Kita malah mungkin tergolong telat. Jadi saya agak males kalo ceritain yang umum-umum kayak ada apa aja disana dan ngapain aja. Kalo mau tau itu meningan langsung cek websitenya : Universal Studio Singapore

Kita beli tiket masuk USS secara online melalui website : Universal Studio Singapore itu. Kita naik MRT sampai di Station MRT Habourfront, ikutin penunjuk arah masuk ke dalam VivoCity Mall. Kita langsung menuju pintu depan nya.... ya untuk foto-foto lah.. heheee.... 

Panas terik banget di depan VivoCity Mall, akhirnya sesi foto-foto kita cuman sebentar aja dan langsung lah kita menuju lantai 3 Mall. Disinilah kita bisa beli tiket Sentosa Express menuju Universal Studio. Harganya 3 dollar singapore untuk PP. 
Sentosa Express, naik dari Lt. 3 VivoCity mall

Yaaaay... masuk USS

Ternyata kita sampai di USS kepagian, pintu nya belum di buka. Agak sebel sih karena patung Universal Studio Singapore - nya di tutup papan. Jadi kita cuma bisa foto-foto di depan gambar patung... ga asik banget. Tapi udah gitu masih aja rame tuh yang foto-foto di depan triplek bergambar Logo USS. Kebanyakan rombongan turis Indonesia yang sangat mudah dikenali dari kehebohannya (se-tipe sama saya).

Ada di USS ini tidak berasa seperti di luar negeri. Di mana-mana papasannya sama orang-orang bahasa Indonesia. Ini mah berasa lagi di Jatibening -_-"

Wahana (jieeee "wahana" serasa di dufan) yang lagi happening di USS adalah sebuah rollercoaster setinggi 40 meter yang kecepatannya bisa mencapai 90km/jam. Namanya adalah Battlestar Galactica. Sirkuitnya ada dua macam, yang merah dan yang biru. Kalau yang merah itu buat yang menyadari kalau dirinya adalah manusia biasa, sedangkan kalau berani naik yang biru.... itu udah lebih nekad dari human deh.

Sebagian dari lintasan Battlestar Galactica
Perbedaan dari lintasan merah (human) dan lintasan biru (ceylon) sejauh mata memandang terletak pada tempat duduk nya. Kalau yang Human tempat duduk nya biasa, tapi yang Ceylon kaki nya gantung. Awalnya dua dari 3 alay antusias menaiki rollercoaster ini, saya alay #1 dan Joko alay #2. Tapi kemudian belum sempat mengantri si Joko alay #2 kebelet pup. 

Jadilah saya alay #1 menunggu si Joko alay #2 pup di bawah lintasan Battlestar Galactica. Saya alay #1 mendengar teriakan orang-orang di atas sana. Merasakan angin nya wuuuzzz wuuuzzz wuuuzz.... Melihat orang-orang di atas kereta nya di putar-putar, melintir kiri-kanan, jumpalitan... nyaris tabrakan antara lintasan biru dan merah...nyali saya alay #1 jadi ciut. Yang tadi nya sok tau gagah berani jadi mulai jiper. 

Sewaktu mereka keluar, saya alay #1 menyaksikan sendiri muka-muka pucat menatap nanar. Ada seorang anak ABG Indonesia laporan ke ibunya kalau dengkul nya lemes. Ada seorang lelaki seumuran saya yang langusng menuju smoking area dan berasap dengan setress nya. Bahkan memegang rokok nya pun tangannya gemetaran.

Joko alay #2 keluar dari toilet dengan ragu mengajak saya untuk masuk ke permainan itu. Kata Joko alay #2, "yuk". Trus gw alay #1 bilang, "yuk.". Si Joko alay #2 jawab lagi, " yuk." tapi tidak satu pun diantara kita yang beranjak meninggalkan tempat berdiri kita. 

Akhirnya saya alay #1 mengusulkan agar naik rollercoaster nya di tunda dulu, sore aja... soalnya kalau naik sekarang di atas pasti panas terik banget. *sambil ngebayangin betapa mengerikannya posisi jungkir balik kepala dibawah dengan kaki mengambai-ngambai*

Kita makan siang di Discovery Foodcourt, di taman yang bertema Jurrasic Park. Konon katanya Foodcourt ini sama persis kayak foodcourt di museum dinosaurus itu. Yang pas dinosaurus nya bangkit itu anak-anak kecil lagi pada makan trus ada kayak gempa gitu.
Kantin yang sama persis kayak di film Jurassic park
Pterodactyl penyet

Menu makanannya macam-macam, dan kita memilih menu paling murah dan mengenyangkan. Paket ayam penyet plus minum nya air mineral di tambah bonus puding susu kedelai. Pas muncul potongan paha ayam itu besar banget. Saya curiga itu bukan ayam, tapi jenis dinosaurus dari hewan unggas yaitu Pterodactyl. Ternyata makan pterodactyl penyet itu merupakan kegiatan yang melelahkan dan membosankan sangking gedenya tuh paha, rasanya ga habis-habis. Bleeeeegh... keblenger.....

Sore hari nya sebelum pulang, kita bertiga mampir lagi di Battlestar Galactica. Demi gengsi, saya alay #1 mencetuskan ajakan untuk mulai mengantri padahal jantungnya deg-deg-an abis. Sementara itu teriakan nyaring dari orang-orang yang sedang di pelitirin di atas masih aja ramai. Untung nya respon dari anggota alay yang lain seperti kurang menyambut gimana gitu. Langsung aja saya alay #1 mengambil kesempatan itu, sebelum pada berobah pikiran dan memutuskan untuk mencoba rollercoaster jahanam itu, saya alay #1 angsung bilang... "eh tapi kayaknya  udah kesorean yah....."

Jumat, 10 Juni 2011

Merlion Hotel

Meski lunglai lemah lesu macam orang kurang darah karena terancam bakal terdampar di Melaka & ga bisa pulang ke tanah air, ketiga alay tetap berusaha berpikir positif dan optimis. Untungnya kita asli orang Indonesia, yang walopun kena musibah kayak apa pun masih tetap menemukan sisi positif. Misalkan, ada org kecelakaan mobil sampe ringsek... "untungnya ada asuransi." Ada orang jatoh dari atas patung pancoran, tulangnya patah-patah..... "untungnya masih hidup". Ada rumah kebanjiran.... "untungnya cuman sampe sedengkul".Dst...dst....

Waktu kita ke Merlion dan ternyata ditutup triplek merah itu juga sebenarnya "blessing in disguise". Awalnya kita panik karena terancam ga bisa foto di depan patung ikan kepala singa yang jadi lambang Negara Singapura itu. Tapi setelah agak mendekat baru kelihatan ada antrian di samping kotak merah yang nutupin Patung Merlion itu. Kita langsung memutuskan untuk ikut ngantri walopun sebenarnya  belom tau itu antrian apa. Bisa aja antri minta tanda tangan artis, ato antri bagi2 duit ato antri sembako ato antri nyebur ke laut. Pokoknya kita mah ikut antri aja lah dulu. 

Antrian itu ternyata antrian untuk masuk ke Merlion Hotel. Jadi ceritanya ada seniman Jepang yang bernama Tatzu Nishi yang punya ide untuk masukin si Patung Merlion segede gaban ini ke dalem kamar hotel. Dia kerjasama dengan Fullerton Hotel yang terletak di depan situ. Dari mulai pukul 10 siang hingga pukul 7 sore ruangan ini dibuka bebas untuk pengunjung. Setelah antri, setiap 10 orang di bolehkan masuk selama sekitar 5 menit-an gitu.

Pintu masuk Merlion Hotel

Pemandangan dari dalam kamar
Malamnya, kamar ini di sewakan layaknya seperti kamar hotel gitu. Tapi menurut info sih udah di booking jauh-jauh hari dan sudah full sepanjang acara ini digelar. Ternyata banyak juga orang yang pengen tidur bareng Merlion. Apa ga serem ya, pas bangun tidur trus ngeliat ada kepala singa guede banget di depan mata... -_-"

Memang sih kita ga bisa foto di depan Patung Merlion dengan gaya "wajibnya", pas mulutnya lagi ngucurin air mancur gitu. Untungnyaaaaa...  it was much much better. Kita bahkan bisa foto bareng merlion dari deket banget, I can even touch it! Kesempatan langkaaaaa kaaaaaannn???? *bangga*

Foto di depan Merlion

Colek dikit aaaaahhhh......

Tapi kalo untuk menghabiskan malam tidur di dalem situ bareng si Merlion, no thanks deh... saya pikir-pikir dulu. Mana bisa tidur nyenyak juga, pas bobo diliatin dari belakang kasur. Trus udah gitu saya masih bingung sama kamar mandinya. Itu buangannya kemana yak? secara bangunannya itu bangunan sementara, yang berdiri diatas laut dan disangga pake kaki-kaki besi. Bayangan saya kog tu toiletnya jadi kayak jamban di kampung yang dibawahnya ada empang.

Anyway,,,,, pengalaman sama Patung Merlion ini yang kembali membangkitkan semangat ketiga alay. Keteledoran kita dengan tidak mempertimbangkan padatnya traffic antara malaysia-singapore di saat weekend telah membawa kita ke dalam kondisi mengenaskan *lebay*.

UNTUNGNYA..... sebelom pergi ke  Melaka kita sudah bikin alternatif plan. Buat cadangan kalo Plan A tidak berjalan mulus.... heheeee......... Mau tau?

Jumat, 03 Juni 2011

Malacca Singapore Express

Seperti yang telah saya sempat singgung di awal postingan petualangan 3 alay, sehari sebelum kembali ke tanah air kita memutuskan untuk melakukan perjalanan nekad yang memacu adrenalin: singapore - malaka - singapore dalam sehari.

Karena keterbatasan waktu maka perjalanan sehari ini harus di rencanakan dengan teliti dan detail. Dari hasil penelusuran di internet, dari Singapore ke Malacca bisa menggunakan Bus dengan waktu tempuh 4-5 jam tergantung antrian di imigrasi nya. Ada beberapa perusahaan bus yang menawarkan jurusan ke Malaka, diantaranya Transnasional, Delima Express, Malacca Singapore Express dan masih ada beberapa perusahaan lainnya. Ada dua terminal bus (setahu saya) yang melayani jurusan Singapore-Malacca, dari Terminal Bus Lavender dan Golden Mile Complex.

Kita memutuskan untuk naik dari Terminal Bus Lavender, karena disini waktu keberangkatannya tiap jam mulai dari jam 8 pagi. Kalau yang di Golden Mile Complex tidak tiap jam berangkatnya, bus-busnya juga lebih mewah jadi harga lebih mahal. Kelebihannya kalau bus-bus yang berangkat dari Golden Mile, tiket nya bisa di beli online.

Malam sebelum keberangkatan ke Malaka - setelah pulang dari USS - kita melakukan survey letak tempat Terminal Bus Lavender. Oh iya... ini beda loh.. terminal bus Lavender, bukan Station MRT Lavender tempat kita turun  dan mondar-mandir ga jelas pertama kali waktu baru sampe di Singapore. Survey ini dalam rangka mengantisipasi, jangan sampe kita nyasar-nyasar ga jelas di pagi hari nya gegara nyari-nyari terminal bus nya dan ga kedapetan tiket paling pagi. Terminal nya ga jauh dari hotel kita di  Little India, kalau jalan kaki cepet ga sampe 10 menit.

Keesokan hari nya kita bangun subuh-subuh dan mulai jalan jam 6.30. Jam 7 kurang kita sudah tiba di tempat tujuan dan langsung beli tiket untuk bus Malacca Singapore Express jam 8 Pagi seharga $20 (dollar singapore)

Terminal Bus Lavender

Tiket Bus Malacca-Singapore Express $20

Di dalam Bus
Kita adalah tiga orang pertama yang masuk ke Bus. Pak sopir nya yang langsung aware kalau kita mahluk asing langsung nyamperin kita bertiga, mempersilahkan kita masuk ke bus, mengambil ketiga tiket kita dan menunjuk masing-masing dari ketiga alay, "you number 6, you number 5, you number 4." Tapi pas kita masuk ke dalem bus, tiap nomor ternyata ada a,b,c nya... nah bingung deh jadinya kita di a atau b atau c.. Akhirnya setelah hesitate agak lama kita bertiga sepakat bahwa kita ada di deret c yang bangkunya single.
Ga lama setelah kita masuk bus, penumpang lain pun mulai berdatangan. Tiba-tiba, si Joko yang duduk di nomor 6 di suruh pindah sama penumpang lain karena tiketnya dia nomor 6c. Si Joko pun turun berusaha mendapatkan tiketnya yang diambil pak supir bus untuk liat tempat duduk nya. Setelah terlihat berbincang dengan Pak sopir, Joko pun masuk kembali ke bus dengan lunglai. Saya pun tanya, " 6 mana kata Pak supirnya?".

"Any 6", kata si Joko meniru jawaban sopirnya.

Saya pun turun mencoba bicara dengan Pak supir nya yang ternyata langsung ramah abezzz setelah saya ajak ngomong bahasa Indonesia yang mirip-mirip melayu. Tapi tetep aja saya ga dapetin tiket yang di pegang sama dia. Waktu saya ngotot minta potongan tiket untuk bukti nanti setelah turun di imigrasi mau naik kembali ke bus, dia bilang ga perlu khawatir. Yauwdah, saya pun kembali ke dalam bus dengan tangan kosong tapi penuh perasaan ragu.

Ternyata keraguan saya tidak terbukti. Pak sopir itu, surprisingly, hafal sama semua penumpangnya. Di imigrasi dia nunggu di depan pintu keluar dan melambai-lambai memanggil semua penumpangnya. Begitu pula waktu kita berhenti untuk makan siang di rest area- nya Malaysia, Pak Sopir itu pun keliling mencari seluruh penumpangnya, dan dipanggilin satu-satu sampai komplit. jam 1 siang waktu setempat kita tiba di Melaka Sentral. Teminal bus sekaligus pusat perbelanjaan di Melaka.

Melaka Sentral

Kita pun segera menuju tempat beli tiket lagi untuk membeli tiket pulang ke singapore untuk jam 6 atau jam  7 malam. Pertama kita menuju loket Singapore Malacca express, ternyata tiket untuk hari itu ke Singapore sudah habis. Kita menuju loket Delima Express, untuk tujuan singapore juga sudah habis untuk hari itu. Kita pergi ke tiap loket yang menjual jurusan ke Singapore. 


Tapi tiket untuk hari itu ke Singapore sudah SOLD-OUT !

Ini bisa-bisa kita terdampar di Melaka, ga bisa pulang nih. Alternatif nginep semalem ke Malaka terus baru kembali ke Singapore besoknya pagi-pagi juga ga mungkin. Ga akan sempat ngejar pesawat kita yang berangkat jam 11, sementara barang-barang kita masih di tinggal di hotel di Singapore. 

Kami pun - tiga alay yang tetap imut di saat-saat tertekan, terkulai lemas dan berjalan tanpa arah di Melaka Sentral.........ratusan kilometer dari rumah.....

Sambungan nya bisa dilihat di SINI !

Selasa, 24 Mei 2011

Tiga Alay di Singapore

alay #1, alay#2 & alay #3
Pesawat Tiger Airways mendarat dengan mulus dan tepat waktu di Bandara International Changi, Singapore. Itinerary sudah dipersiapkan dengan matang beberapa hari sebelumnya dan sudah di print. Hotel sudah di booking. Pokoknya secara keseluruhan "rasanya" sih persiapan sudah matang.

Kekonyolan pertama sudah mulai terjadi pada saat mau cari alamat hostel kita. Hostel yang kita booking terletak di daerah Little India, menurut website nya kalau mau ke sana kita bisa naik MRT turun di Station Little India atau Fareer park. Tapi jalur MRT nya memutar dan kita harus ketemu interchange 3 kali.

Dengan sok tau nya saya alay #1 ber teori, kita bisa potong jalan dengan cara turun di terminal Lavender dan jalan kaki. Kalau di liat dari peta sih jaraknya sama, antara kita turun di Little India dan di Lavender. bedanya kalau turun di Lavender jalur MRT nya jadi ga muter sehingga waktunya pun lebih singkat.

Permasalahan utama nya adalah: Peta -nya ga di bawa.

Kami, ketiga alay, berbondong-bondong turun di terminal Lavender. Kemudian setelah mondar-mandir ga jelas tanpa peta di sekitar station Lavender (pada saat itu fasilitas roaming blackberry gratisan 3 hari dari provider yang kita gunakan belum berfungsi, jadi agak kebingungan juga download peta) akhirnya diputuskan untuk kembali naik MRT di station Lavender itu dan - kembali ke rencana semula, turun di  Station Little India.

Turun di Little India pun kita masih muter-muter hingga akhirnya menemukan Upper Weld Street, lokasi hostel yang kita booking. Setelah check-in dan menaruh bekpek, kita segera meluncur ke rumah makan India di seberang hostel. Rumah makannya kelihatannya rame, jadi kita memutuskan makan disitu. Soalnya kalo rame kan biasanya enak... betul bukan? 


Eh ternyata disana rame bukan pada makan, tapi rame sama orang-orang India yang pada nonton film India di televisi yang di gantung di tembok Rumah Makan itu. Kita tetap memesan makanan disitu, Nasi Biryani Ayam. Ketika pesanan keluar kita kaget bukan main karena bukan di sajikan di piring melainkan di baki dengan porsi buat makan sekeluarga.
Chicken Biryani di tampah
Dengan perut yang kekenyangan ketiga alay pun melanjutkan perjalanan. Rencana nya sih ke Esplanade, Merlion, kemudian ke Orchard. Tapi tiba-tiba ada perubahan rencana lagi, karena Joko alay #2 (alay yang paling tinggi) pengen ke Clarke Quay. Jadi planning nya pun  berubah menjadi: Esplanade - Merlion - Clarke Quay baru ke Orchard. 

Turun di Station MRT City Hall, Esplanade pun tampak di sebrang jalan. Kita menyebrang melalui underpass. Pas muncul,,,,,,,,,

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,esplanade masih di seberang jalan.

Ternyata kita salah ambil belokan waktu di bawah underpass tadi. *tepok jidat*. Tapi saya mulai terbiasa dengan petualangan seru kedodolan ini.

Di atas jembatan menuju Merlion Park saya baru sadar kalau ada yang aneh. Patung Merlion nya tidak ada. Apa Patung Merlion sudah dipindah lokasi nya? atau lagi dipinjam? atau Patung nya ketiban duren terus retak jadi lagi di reparasi? ga jelas. Yang kelihatan dari jauh hanya semacam tembok warna merah di tempat yang seharusnya ada Patung Merlion.

Dimana Patung Merlion nya?
Namun sedikit ketidak nyamanan ini tidak membuat kami - ketiga alay, mundur dari rencana awal untuk foto-foto di Merlion Park. Walaupun akhirnya kita malah foto-foto di depan Fullerton One. Karena keasikan foto-foto (diri sendiri, bukan foto-foto view nya), tampaknya  kita kelamaan di Fullerton dan Esplanade.

Jam 8 lewat kita baru berangkat dari daerah itu menuju Clarke Quay. Ternyata di Clarke Quay juga kita keasikan  foto-foto jadi waktu nya kelewatan batas lagi, hingga akhirnya rencana ke Orchard diundur keesokan hari nya. Setelah rencana ke Bugis Junction gagal karena waktu nya terbuang pas kita nyasar cari Hostel, rencana ke Orchard road pun terpaksa di undur ke esokkan hari setelah kita pulang dari Universal Studio Singapore (USS).

Walaupun aktualnya, rencana ke Bugis Junction & Orchard tidak  terlaksana keesokan harinya dan tidak pernah terlaksana karena setelah pulang dari USS ada perubahan rencana lagi,,,,,,,

- ya beginilah kalau 3 alay LABIL bikin itinerary,,, jadinya ya,,,, LABIL -

,,,,,,,, pulang dari USS kita malah survei letak Stasiun Bus Lavender, Stasiun Bus yang menuju Malaka. Kemudian karena kelaparan parah kita  memutuskan kembali ke hostel, makan dan langsung tidur.

Clarke Quay, tempat nongkrong di pinggir sungai

Macem-macem cafe & resto yang hip di dalem Clarke Quay
Di perjalanan pulang ke hostel dari Clarke Quay, I'm craving for Murtabak (martabak telor). Secara penginapan kita itu letaknya di daerah Little India, jadi sebelum masuk ke hostel kita mampir di resto India lagi. Bukan resto India yang banyak bapak-bapak nonton film India dengan sangat menghayati-nya. Resto kali ini namanya Mubarak dan ternyata salah satu staff nya bisa bahasa melayu sedikit-sedikit dan setelah ngobrol-ngobrol ternyata dia pernah ke Jakarta. "Jakarta macet dimana-mana,,,,," katanya, ditambahin juga masalah motor yang kacau.

Rumah Makan India "Mubarak" di Little India

Murtabak daging

Keesokan pagi nya menjelang siang kita berangkat ke Universal Studio, naik MRT dari Little India ke Harbourfront. Dari situ kita nyambung naik Sentosa Express dari lantai 3 Vivo City Mall. Tapi tiba di USS kita harus kecewa lagi karena icon USS - yang bentuknya kayak bola dunia yang ada tulisan UNIVERSAL STUDIO - yang kalau orang ke sana hukumnya wajib foto di depan situ, di tutup juga sama papan.

Akhirnya terpaksa foto di depan papan yang nutupin patung USS-nya

eeeergh,,, ada apa sih ? kemaren ke Merlion, patung nya ditutup papan,,, ke USS patungnya di tutup papan juga. Menyebalkan,,,, saya mulai curiga kalau ada yang ga suka dengan rencana kami - 3 Alay, untuk narsis-narsis-an  sehingga rencana kami itu di sabotase dengan cara nutup-nutupin spot foto wajib turis di Singapore -_-"


Selasa, 10 Mei 2011

Petualangan Tiga Alay

Setelah pengalaman perdana bekpeking ke Singapore tahun 2009 silam, saya kembali lagi. Dulu Marina bay Sands masih dalam tahap konstruksi, sekarang sudah jadi dan ternyata aslinya bagus sekali. Bangunan mewah ini adalah salah satu pusat hiburan orang-orang kaya, di dalamnya ada Casino, hotel, theatre, museum, butik-butik, dan di atapnya yang berbentuk perahu itu ada kolam renang nya. Keren banget kan tuh.

Sekarang sih saya hanya mampu memandang dari kejauhan. Tapi saya yakin suatu saat nanti saya akan nginep di resortnya yang konon rate paling murahnya 3,5 juta - 4 juta  (nanti kalo dah jadi orang kaya maksudnya wkwkwkwk..)

Marina Bay Sands menjelang malam
Sebenernya kalau untuk tujuan berwisata, buat saya Singapura kurang menarik. Soalnya disana yang ada cuman gedung-gedung, mall, cafe-cafe tempat nongkrong.... yang di Jakarta juga ada. Apalagi disana segala serba mahal dan suasananya nya serasa nothing-personal-it's-just-business style. Saya cuman penasaran pengen ke Universal Studio Singapore.

Berangkat hari Jum'at dan pulang hari Senin, hari Sabtu-nya khusus hari bersenang-senang seharian di Universal Studio. Yah walopun sempet basah kuyup kayak ayam kecebur kali tapi overall it was fun. Terus ngapain donk hari Minggu nya? keliling-keliling Singapura mah ga asik and it's so lame. Akhirnya muncul ide untuk PP ke Melaka di malaysia. Emang sih kedengarannya agak nekat. Apalagi perjalanan darat Singapura - Melaka tuh 4 jam, belom termasuk antri di imigrasinya..... tapi hasilnya adalah petualangan yang lumayan seru penuh kedodolan.

Saya menyebut perjalanan kali ini - yang lebih banyak acara foto-foto nya daripada jalan-jalannya- dengan judul "petualangan 3 alay"...... Tunggu postingan nya yaaaaaah.... ;)
AL4y #1

AL4y #2

AL4y #3

Sabtu, 20 Februari 2010

Behind The Scene: Turis Kere Singapore-Malaysia

Behind The Scene 1: Security Check

Inilah salah satu perbedaan antara penerbangan domestik dan internasional. Di penerbangan domestik pemeriksaan barang-barang hanya basa basi saja. Sedangkan di penerbangan internasional peraturan ini ketat bukan main. Sampe ada acara buka ikat pinggang dan jam tangan segala sewaktu melewati metal detector. Karena kebiasaan sama sistem penerbangan domestik yang seperti itu, salah satu anggota para bekpeker cupu ini ada yang kurang 'ngeh dengan peraturan tidak boleh membawa cairan diatas 100mL ke dalam kabin pesawat, dan membawa dua kemasan besar Susu cair.

Di pemeriksaan terakhir sebelum masuk ruang tunggu, dua kemasan susu cair yang belum diminum itu pun disita. Coba dia bilang-bilang dulu sebelum susu-nya disita, anggota rombongan yang lain pasti dengan sukarela siap membantu menghabiskan susu nya, dari pada di sita trus nantinya diminum sama petugasnya.

Ternyata di Singapore dan Malaysia, bahkan sistem security check-nya lebih parno lagi. Selain ikat pinggang dan jam tangan, jaket yang tebal harus dilepas dulu sebelum melewati metal detector.

Tidak hanya di Bandara Udara, bahkan ketika kita melewati perbatasan darat antara Singapore ke Johor, sistem pengamanannya juga ketat. Ketika di perbatasa darat waktu itu, setelah tertahan mengantri di imigrasi berjam-jam dan hampir ketinggalan kereta ke KL, salah satu anggota bekpeker kita merasa geregetan ketika di security check masih ada acara buka-buka tas dan interogasi.

Entah antara kesal, panik karena merasa takut ketinggalan kereta, atau kebelet pipis... ketika ditanya security nya mengenai isi kantong kecil di tas backpacknya, dia menjawab: Make-Up, sir. Seketika itu wajah pak security langsung berubah aneh dan buru-buru mempersilakan dia lewat. Ya jelas aja Pak securitynya ngeri. masa cowok bawa-bawa Make-up.

Behind The Scene 2: Demi Update Status

Sebagai peng-update setia Plurk dan Facebook, kita sempat khawatir kalau sewaktu kita jalan-jalan ga sempet update status. Sedemikian sehingga kehilangan momen untuk memberitakan apa yang sedang kita lakukan, demi eksistensi. Maupun hanya untuk sekedar membuat iri para penggemar kita di Plurk dan FB *belagu abeezzz*

Hal pertama yang kita lakukan saat melihat ada fasilitas internet gratis (berikut komputer-nya) di airport Changi adalah: meloncat-loncat kegirangan. Rasa gembira bukan kepalang karena bisa Up-Date Status: Telah tiba di Singapore. Kebetulan lagi hostel kita di Singapore menyediakan fasilitas internet gratis juga, jadi kita bisa tetap eksis di jagat plurk dan facebook.

Pokoknya setiap ada internet dan komputer nganggur rasanya ga tahan untuk segera meng-update status. Mau ya itu gratisan, pakai koinan, bahkan yang sistem bayar per-jam kayak warnet gitu... yang penting Up-Date Status.

Behind The Scene 3: Digi

Sebagai Turis Kere, salah satu hal yang paling bikin miris dan berat adalah pulsa telepon. Apalagi turis kere sok sibuk yang walaupun sedang cuti liburan teteup dii tilpunin Pak Boss Besar sehingga pulsa tersedot karena menerima telpon *curcol*. Untuk sms aja, tarifnya 4000-5000 sekali sms, cukup bikin kepala pusing setiap cek pulsa. Makanya itu kita hemat hemat banget sama yang namanya pulsa.

Hingga akhirnya di Malaysia kita memutuskan untuk mengganti SIM Card indonesia kita dengan SIM Card Malaysia bernama Digi. Jadi kita semua men-save nomor digi setiap anggota dengan menambah kata Digi di belakang namanya (Mila Digi, Cipu Digi, Lenia Digi, Gunard Digi). Dan.. Mila Digi bisa menelpon Cipu Digi dengan tenang. Cipu Digi bisa sms-an sama Lenia Digi sepuasnya. Gunard Digi bisa menelpon ibu nya di Jakarta dengan tarif relatif lebih murah. Kami semua bisa berbual lebih leluasa berkat Digi *bukan iklan loh* LOL

Series of Turis Kere Singapore-Malaysia:


- Turis Kere

- Singapore Tour a la Kere

- Naik MRT

- Keretaapi Tanah Melayu Berhad

- Nyicipin Rasanya Backpacker Hotel


Sabtu, 23 Januari 2010

Nyicipin Rasanya Backpacker Hotel

Salah satu target yang memang dicanangkan dalam perjalanan bekpeking perdana Singapura-Malaysia bersama Cipu, Lenia dan Gunard adalah mencoba Backpacker Hotel. Hotel yang ini beda dari hotel-hotel yang biasa nya saya temui, bayarnya per-orang, dalam satu kamar bisa terdiri dari empat sampe belasan orang, lebih mirip asrama. Dan yang paling penting, harga nya terjangkau dan biasanya terletak di lokasi strategis.

Yang namanya murah, tadinya saya tidak mengharapkan bakal enak kondisinya. Dari sebelum berangkat sudah mempersiapkan diri buat kemungkinan terburuk. Tapi entah karena kebetulan atau memang orang yang survei buat perjalanan ini *yang jelas bukan saya* pilihannya memang tepat.

Selama di Singapura dan Malaysia, hotel bacpakers yang kita tempati lumayan nyaman, bersih, dan terletak di lokasi strategis sehingga kita ga susah kalau mau kemana-mana. Bahkan kalau mau jalan sampai tengah malam. Orang-orangnya pun, dari mulai penjaga hotel sampai sesama backpacker ramah-ramah.

Di singapura, Penginapan kita terletak di lokasi strategis, Bugis Corner. mau naik MRT tinggal nyebrang, bisa kemana aja. Mau ke Merlion Park dan Esplanade juga tinggal jalan. Tempatnya di tengah-tengah ruko dan berada di lantai atas rumah makan India.

Selama saya hidup 27 thn ini, baru kali ini ngerasain tidur satu kamar bersama 5 orang cowok hehehe.. Kesannya: Beuh.. berisik banget, kayak pada lomba ngorok *tepok jidat*. Kamarnya sendiri bersih, ada AC nya, trus ada kunci otomatis yang pake password kalau mau masuk kamar. Rate nya $14 semalem, dapet breakfast, ada tiga komputer yang menyediakan internet gratis buat yang menginap (asal tau diri aja buat gantian ama yang lain hihihi), kamar mandinya bersih dan ada air hangatnya.




Tidak semua yang menginap disitu ternyata backpacker. Salah satu orang yang sekamar sama saya, mantan pengajar bahasa inggris di salah satu lembaga kursus di indonesia, yang ngakunya orang Jerman yang lama tinggal di Amerika jadi udah ga ngerti lagi sama bahasa Jerman. Dia sudah tinggal selama dua minggu di hotel tersebut dalam rangka mencari pekerjaan yang lebih baik di Singapura. Dalem hati saya berpikir, bule ada juga toh yang sengsara gitu *turut prihatin*

Ada lagi yang seru, yang ini sohiban sama Cipu. Pekerjaannya air photographer (tukang potret dari udara) tapi dia udah 7 tahun tinggal di Lombok. Bahasa Indonesianya juga lumayan. Dia bilang, " kalau saya... kerja apa saja," pake logat Cinta Laura,"yang penting HalaL." Walaaah.. bule juga ternyata tau-tau-an halal yak?

Di Kuala Lumpur, hotel kita bahkan lebih bagus lagi. Bangunannya kelihatan masih baru. Satu kamar lebih banyak isinya, mungkin sekitar 10-an orang. Ada AC dan air panas untuk mandi juga. Tapi kalau disini internetnya ga gratis a.k.a warnet mode ON. Ratenya RM32 semalem dan ternyata mbak-mbak yang jaga disana orang Indonesia (pahlawan devisa nih ceritanya).

Semua hotel itu kita booking secara on-line beberapa hari sebelum kita berangkat dan banyak info-info tentang hotel-hotel beginian di seluruh dunia asal kita rajin browsing-browsing. Salah satu cara yang jitu kita juga bisa tanya-tanya ke orang yang udah lebih pengalaman atau dari forum-forum milis backpacking.

Walaupun begitu, menginap di hotel begini musti extra hati-hati, terutama sama belongings. Dari dua hotel yang saya tempati itu, mereka menyediakan loker untuk menaruh barang-barang kita, tapi jangan lupa untuk selalu menggemboknya. Karena kan namanya kita sekamar sama orang-orang yang ga kenal, jadi jaga-jaga aja.


Selasa, 19 Januari 2010

Minum Sepuasnya

Sebagai turis dengan budget terbatas kita memang harus pintar-pintar mensiasati agar pengeluaran menjadi seminim mungkin. Salah satu caranya bisa dengan penghematan dalam membeli air minum.

Di negara-negara maju seperti Singapore, kita bisa langsung minum air dari keran tanpa dimasak dulu. Menurut yang saya pernah baca, lupa entah dimana, di Singapore dilakukan kurang lebih 8000 tes setiap hari untuk menjamin kualitas dan kebersihan air kerannya.

Pun begitu sebagai orang Indonesia yang kebetulan tinggal di dekat Kalimalang (yang katanya merupakan sumber air PAM) rasanya tetap aneh dan ga biasa kalau disuruh minum air keran, membayangkan warna, bau dan benda-benda asing yang mengambang di kali di Indonesia. Kemana pun saya pergi, yang kebayang tetap sama.... Padahal dengan meminum air keran, sebenarnya kita bisa menghemat secara signifikan karena disana air mineral botol harganya bisa hampir 20 ribu sebotol. Sedangkan minum air dari keran ga usah bayar, bisa minum sepuasnya sampe kembung.

Jadi inget, waktu jaman kuliah di Bandung dulu sempat mengalami terobosan teknologi dalam hal penyediaan air minum di kampus. Konon dulu di kampus saya sempat disediakan keran-keran air di beberapa titik. Air tersebut telah diproses sedemikian sehingga aman untuk diminum. Namanya mahasiswa yang kebanyakan anak kos, pada ga mo rugi. Jadilah keran-keran tersebut jadi laku sebagai tempat isi minum refill gratis, kita tinggal bawa botol kosong aja. Tapi sayang, tidak berapa lama air tersebut menunjukan gejala-gejala aneh yang membuat orang jd ragu buat minum, yaitu berwarna kekuningan dan berbau. Apakah teknologi air bersih aman diminum masih terlalu canggih untuk di terapkan di Indonesia ya?

Suka perhatikan ga di hotel-hotel Indonesia, di kerannya ada tulisan "air dari keran tidak aman untuk diminum". Mungkin banyak kejadian kali ya pendatang dari negara-negara lain yang nekat minum air langsung dari keran karena di negaranya biasa langsung glek ga pake di masak-masak dulu. Yah.. paling juga akibatnya pada sakit perut diserang bakteri hehehee....

Kurang lebih seperti itulah yang terjadi kepada saya yang ndeso ini ketika di Singapore. Walaupun saya yakin akan kebersihan air kerannya, tetap aja ga bisa minum nya karena ga biasa. Beda sama rekan seperjalanan saya, Cipu, yang ga bisa liat keran nganggur langsung refill botol minumnya *tipe-tipe anak kos yang ga mo rugi dunk*

Anehnya, kalau makan di pinggir jalan yang jelas-jelas terkontaminasi saya mah cuek-cuek aja. Malahan makan siang favorit saya nasi bungkus 5000-an dari warteg pinggir jalan, yang ga jelas itu bahan nya & masak nya gimana sampe bisa murah gitu. Pokoknya perut kenyang. Dan sampe sekarang belum pernah kejadian *dan jangan sampe deh* sakit perut gara-gara makan sembarangan, jadi terbukti lah kalau perutnya tahan banting.

Sabtu, 05 Desember 2009

The convenience of public transportation

Masih dalam rangka Backpacking perdana Singapore-Malaysia.

Sebagai Turis dengan budget terbatas di negeri orang, saya dan rombongan banyak menggunakan transportasi umum seperti Bus dan MRT. Padahal kalau di Jakarta boro-boro naik bus, bahkan bus trans jakarta sekali pun. Membayangkan perjuangannya untuk berdesak-desakan saja sudah capek duluan *manja mode ON*. Jadi walaupun seringkali terjebak macet berjam-jam sampai betis dan pinggang pegal-pegal, tetap saja menyetir sendiri dengan kendaraan pribadi merupakan pilihan yang paling nyaman dan saya harus banyak bersyukur.

Di negara tetangga kita ini lah, I discover the meaning of "the convenience of public transportation". Rute-rute MRT dan Bus mudah di mengerti dan terpampang jelas di setiap terminal dan halte-halte. Rute antara Bus dan MRT terintegrasi. Coba kalau ada turis di Jakarta di suruh naik Bus, Angkot atau Metromini.. kalau ga nyasar-nyasar plus mabok darat, hebat tuh :p

Penumpang-penumpang nya juga lebih tertib di banding di sini, jadi ga ada yang dorong-dorongan, desak-desakan masuk ke bus, seperti di Bus Trans Jakarta. Mungkin juga karena disana jumlah penduduknya lebih sedikit kali ya, jadi lebih mudah di atur daripada di mari.

Ada satu lagi yang rasanya sulit di terapkan di Jakarta, yaitu Hop-on Hop-off city Tour. Di Singapore dan Kuala Lumpur ada Bus yang mengantar turis-turis keliling kota dan singgah di objek-objek wisata yang terdapat di kota tersebut. Karena kotanya yang relatif lebih kecil dan traffic-nya yang less crowded, dalam waktu satu hari kita bisa khatam keliling satu kota. Kalau di Jakarta mah seminggu juga ga khatam kalau mau kelilingin satu kotanya. Saya aja yang dari gede di Jakarta belum pernah seumur-umur yang namanya kelilingin kota Jakarta *tepok jidat*

Bayar RM 38 saja kita sudah bisa mengembara di kota Kuala Lumpur, thanks to KL Hop-on Hop-off [naik-turun sesuka hati] city tour. Bagi yang pertama kali ke Kuala Lumpur, cara ini paling efektif dan efisien, karena Bas Lawatan ini melewati semua objek wisata yang ada di Kuala Lumpur. Mereka bahkan menyediakan earphone di setiap tempat duduk yang menjelaskan ke kita tentang objek wisata yang sedang kita lewati dengan berbagai pilihan bahasa.

Satu tiket seharga RM 38 itu berlaku selama 24 Jam. Jadi andaikata kita turun di salah satu tempat pemberhentian, kita dapat naik Hop-on Hop-off yang lain hanya dengan menunjukan tiket tersebut, ga perlu bayar-bayar lagi. Jurang masa 30 minit antara setiap bas.

Tempat-tempat yang dilalui termasuk objek wisata, hotel dan tempat perbelanjaan. Diantaranya KLCC - Petronas tower, KL Tower, Bird Park, Butterfly Park, National Mosque, Aquaria, China Town, Sentral Market (pasar seni), Dataran Merdeka, National Palace, National Museum and many more.


Senin, 02 November 2009

Keretaapi Tanah Melayu Berhad (KTMB)

Satu setengah hari menjelajahi kota Singapura, akhirnya tiba saat kami bertolak ke Malaysia. Beberapa hari sebelum berangkat, kami telah memesan tiket KTMB secara on-line. Sebenarnya bisa saja kami naik dari Singapura langsung ke Kuala Lumpur, tapi demi penghematan budget kami memutuskan naik dari Johor Bahru untuk menuju Kuala Lumpur.

Kenyataan memang tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada saja hal-hal yang tidak pernah terkira sebelumnya. Dari Singapura ke Johor Bahru kami harus naik bus dulu. Berbekal saran dari orang-orang India pemilik restoran di bawah penginapan kami, berangkatlah kami ke Queen Street Bus Terminal Ternyata kami menemui antrian yang panjaaaang..

But, it was just a beginning.

It turns out to be, kami menghabiskan waktu ber-jam-jam hanya untuk mengantri. MENGANTRI di imigrasi Singapura, MENGANTRI untuk naik kembali ke bus ke Johor Bahru, MENGANTRI di imigrasi Malaysia... dan waktu terus berjalan, pukul 10.30 waktu Malaysia dan kami masih mengantri di imigrasi padahal jadwal kereta pukul 11.

And what made it worst is that we don't know the location of Train Station. Bahkan setelah kasak kusuk kesana kemari, tanya ke kiri dan ke kanan, kog ya ga ada yang tau pasti letak stasiun kereta di Johor Bahru. Untungnya kita sempat ketemu dengan dua orang cewe manis yang baik hati, yang rela nungguin kita di imigrasi Malaysia dan menunjukkan jalan ke stasiun yang ternyata hanya selemparan kancut *tepok jidat*.

Kami pun berlari-lari di kejar waktu, dengan menggendong backpack, menahan HIV (hasrat ingin vivis), dan jantung yang berdebar-debar. Eniwei... akhirnya kami tiba tepat waktu *fiuuhh*.
It was happy ending story afterall.


Tampak luar Kereta Tanah tersebut sama persis dengan kereta api yang ada di Indonesia, tapi interiornya yang beda. Lebih bersih dan terawat. Kami membeli tiket kereta yang ada tempat tidur nya supaya bisa sekalian istirahat di perjalanan menuju Kuala Lumpur.


Setelah melewati malam di kereta, pukul 7 pagi kami tiba di Kuala Lumpur Central Station... dan kami masih harus MENGANTRI tiket di Petronas... *sigh*


Kamis, 29 Oktober 2009

Singapore Tour a la Kere

Kalau punya waktu satu hari menjelajah kota Singapura dengan budget minim, kemana kah tujuan kamu?

Ke tempat-tempat inilah Turis Kere berkunjung:



1. Little India


Kami memutuskan untuk menghabiskan malam pertama kami di Singapura dengan berkunjung ke Little India. Maksudnya sekalian berburu kuliner khas India disana. 

Di depan Little India yg gemerlap sama lampu-lampu

Kebetulan untuk mencapai Little India dari penginapan kami hanya perlu naik bus ($1/org) dan jalan sedikit.

Ternyata saat itu para umat hindu sedang merayakan Deepavali Day yaitu semacam festival untuk merayakan kemenangan Good VS Evil yang di simbolisasi dengan kemeriahan cahaya-cahaya lampu. Jadi kebayang kan cantik nya, berjalan-jalan di tengah kerlap kerlip lampu berbagai warna di malam hari, kadang terhirup aroma dupa dan bunga-bungaan. Mungkin karena terlalu terbawa suasana kita jadi lupa buat makan malam disana, tapi akhirnya kita makan malam di restoran India 24 jam yang terletak di bawah penginapan kita. Toh akhirnya kuliner India juga kan? hehee..


2. Esplanade & Merlion Park


Perjalanan perdana para Turis Kere kali ini benar-benar di warnai dengan keberuntungan. Penginapan kita ternyata tempat yang sangat strategis. Secara tidak sengaja, di hari pertama kami berjalan dan berjalan hingga kog akhirnya bisa tiba di Esplanade. Dan keesokan pagi nya kita kembali lagi ke Esplanade untuk sesi berpoto. Dan ketika kita berputar ke sisi sebelah Esplanade... TERNYATA... di seberangnya ada Merlion Park.



Background nya : Patung Merlion & Esplanade



Ya ya ya.. kita baru tau.. kalau ternyata Merlion Park dan Esplanade itu seberang-seberangan (doh..kemana aja) hihihiii...

 
Jadi, berapa ongkos yang kita perlukan untuk mengunjungi Esplanade & Merlion Park?


$0



Esplanade itu adalah gedung theater, kalau disini mah kayak Theater Ismail Marzuki (TIM) gitu kali ya. Tapi kita tidak masuk kedalamnya. Dan sayang nya lagi tidak sempat melihat kecantikan Esplanade waktu malam karena kepepet waktu.

Kalau patung Merlion itu patung kepala singa berbadan ikan yang merupakan ikon kota Singapura. Yaaa.. klo disini mungkin mirip dengan patung ikon kota surabaya gitu kali ya? *penulis ngarang ga boleh ada yang protes*


3. Orchard Road

 
Jalan ini terkenal sebagai pusat perbelanjaan di Singapura. Beberapa tahun yang lalu, mungkin kita akan takjub melihat mall-mall disini, bahkan orang-orang kaya Indonesia kabarnya banyak yang bela-belain belanja barang ber-merk sampe ke sini.

Tapi kalau di lihat sekarang, seperti nya biasa saja ya. Mungkin karena di Jakarta sendiri sudah banyak mall yang megah-megah. Selain itu outlet-outlet ber-merk yang ada di sini sepertinya sudah buka cabang semua di Jakarta.


House of Condom, blm ada di Indonesia nih
Yang belum buka cabang di Jakarta seperti nya hanya outlet yang seperti poto di atas heheheee...




4. China Town



China Town -nya Singapore

Hati-hati bagi para turis ber-budget minim kalau berkunjung ke sini. Harus bisa tahan napsu belanja-belanji, karena disini banyak terdapat pernak-pernik yang menarik.

Untuk mencapai China Town kami menggunakan transportasi favorit kami - MRT, seharga satu dollar-an.

Jangan sampai terjebak dengan harga dalam dollar. Kalau saya pribadi yang hampir seumur hidup menggunakan mata uang yang terdiri dari ratusan dan ribuan angka di tiap lembarnya, jadi sering lupa kalau melihat harga yang hanya terdiri dari angka satuan dan puluhan. Kesannya tuh murah banget, padahal setelah di kalikan kurs nya, ternyata ga semurah itu.

Rabu, 28 Oktober 2009

Naik MRT tut tut tut.. siapa hendak turut..

Hehee..baru tau kalo MRT itu kepanjangannya Mas Rapid Transit karena mau nulis postingan ini *gubrak*

Padahal di Singapore, sarana transportasi ini yang jadi pilihan kita - selain bus, karena ongkosnya yang murah meriah. Murah kalau dibandingkan naik taksi tentunya, kalau dibandingkan sama jalan kaki ya tentu lebih murah jalan kaki.

Kelebihan dari negara tetangga kita ini adalah sistem transportasi nya yang terintegrasi dan ga ribet. Keterangan jalur yang terpampang di setiap terminal MRT dan Bus dibuat sedemikian sehingga sangat sistematis, bahkan untuk pendatang yang pertama kali melihatnya tidak memerlukan waktu lama untuk memahami. Ya tentunya kita harus tau dulu tujuan kita. Tapi mungkin karena kita orang Indonesia dengan peribahasanya "malu bertanya sesat di jalan", kayaknya kurang afdol kalau ga tanya-tanya ke orang *lirik cipu*

Tiket MRT dibeli melalui mesin. Di terminal MRT bandara Changi, dengan penuh tekad kita mengamati mesin ajaib tersebut , menekan-nekan semua tombol, memasukkan uang ke setiap lubang yang ada, dan hampir putus asa. Kemudian di sebelah datang seorang kakek. Dengan pandangan penuh harap akan diajari cara menggunakannya, kita langsung mengalihkan perhatian ke si kakek itu yang dengan ekspresi tidak kalah bingung berkata, " I dont know how to use it".

Akhirnya datang sepasang turis asing, yang kelihatan lebih pintar mencoba menaklukan mesin tiket tersebut. Kita menunggu sambil mengamati dengan seksama dan akhirnya mereka berhasil. Horeeee... dan kita pun akhirnya mendapatkan tiket MRT pertama kita.

Di siang hari kedua kita di Singapore, kita berniat naik MRT dari Sommerset menuju City Hall, terminal yang dekat dengan Esplanade. Saat itu arus penumpang sangat deras, berlarian menuruni tangga mengejar MRT yang pintunya sudah hampir tertutup. Kami pun ikut hanyut dalam arus penumpang itu, pintu sudah tertutup setengah, aku& Cipu terpisah dari Gunard, tapi kami BERHASIL memasuki MRT tersebut. Aku dan Cipu bernafas lega... Fiuuuuuh...


Hingga tak lama kemudian, Cipu tersadar kalau kita naik MRT dengan arah berlawanan dari tujuan kita. MRT saat itu penuh, kita tak bisa melihat keberadaan Gunard. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk turun di terminal berikutnya: Dolby Gauth. Sedangkan Gunard yang terpisah dari kami terbawa hingga terminal berikutnya.

Kita hanya bisa menertawakan kejadian ini, soalnya entah kenapa kita musti ikut lari-lari padahal MRT akan datang setiap 4 menit. hehehee...

Pesan moral yang bisa diambil dari kejadian ini: Jadi orang itu harus punya pendirian, jangan cuman terbawa arus karena bisa menyesatkan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...