Tampilkan postingan dengan label Australia - Sydney. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia - Sydney. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2016

Liburan ke Sydney Lagi Yuk

Sydney adalah kota ikonik yang terletak di New South Wales, Australia. Seperti kota-kota besar lainnya, Sydney dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit dan kesibukan warganya yang disebut Sydneysiders. Kota Metropolitan ini memang merupakan pusat bisnis sekaligus kota terbesar di Australia. 

Walaupun khas dengan hiruk pikuk kota bisnis tapi jalan-jalan di kota ini cukup menyenangkan buat saya karena trotoarnya luas, bangunan-bangunannya yang terdiri dari arsitektur gaya klasik dan gaya urban saling berdampingan menarik untuk diamati, selain itu di Sydney juga terdapat beberapa dermaga atau Port yang cantik dan rapi.

Selama saya di Australia saya perhatikan ada yang keren dari orang-orang Ausie, mereka senang dengan kegiatan di alam terbuka. Jadi bukan pemandangan aneh kalau lagi jalan-jalan di sekitar Sydney ketemu orang olahraga lari, sepedaan ke kantor atau kampus, surfing atau berenang di pantai bareng anak-anak dan anjingnya, bahkan sekedar leyeh-leyeh di taman yang hijau. Udara disana bersih banget dan langitnya biru, beda bangetlah sama Jakarta yang kalau tarik nafas yang kehirup asap knalpot.

Untuk soal Fashion dan Shopping Sydney tidak kalah dengan kota metropolitan lain. Favorit saya mall yang terdapat di Queen Victoria Building karena tampak klasik, elegan dan mewah, seperti jalan-jalan di mall di tahun 1800-an. Ada lagi Pitt Street Mall, ini lebih merupakan komplek pertokoan dengan ruang terbuka di tengah dan outlet-oulet Brand High-End Fashion di pinggirnya.

Lebih asik lagi buat saya ketika di Sydney adalah main ke pasar dadakan yang cuma buka pas weekend di The Rocks Markets, banyak pernik-pernik lucu. Saya beli CD lagu aborigin remix disana waktu itu. Di sekitar The Rock juga banyak butik-butik yang jual kerajinan local Australia dan baju-baju. Disana ada brand UGG Australia yang jual sepatu, tas, jaket dari kulit domba Australia asli, saya beli oleh-oleh buat adik saya disitu. By the way, tau kan kalau Surfing Apparel merk Billabong dan Rip Curl asalnya juga dari Australia?


Mampir ke Paddy’s markets dan Paddington market adalah suatu keharusan, disana jual barang souvenir khas Australia seperti gantungan kunci, magnet, dll. Selain itu sempatin diri liat di section makanannya, lihat deh sayuran dan buah-buahan hasil produksi petani Australia yang warnanya cerah-cerah dan segar.

Di seberang Paddy’s market ada China Town, disitu pusat kuliner chinese food di Sydney. Kota ini merupakan melting pot dari macam-macam kebudayaan. Karena sejarahnya kota ini menjadi salah satu kota yang sangat multikultur  dengan banyaknya transmigran yang menetap disini. Kita bisa menikmati kuliner dari berbagai belahan dunia di Sydney seperti kuliner Itali, Jepang, Turki, Vietnam, India, Korea, Yunani , you name it. Semua ada di Sydney dengan rasa yang autentik.

Selama disana saya suka banget sama Fish and Chips, rasanya pengen balik kesana cuman buat makan Fish and Chips. Selain itu disana saya juga jadi keranjingan pie isi curry yang legit dan gurih. Kalau malam kita bisa berbaur dengan orang lokal nongkrong di Pub-pub Sydney yang ngehits sambil nonton stand up comedy atau nonton live band.


Naik kereta sebentar dari Sydney ke daerah yang bernama Katoomba, kita bisa menikmati alam pengunungan, The Blue Mountains. Saya pernah tulis tentang betapa asiknya naik Scenic World Blue Mountains di postingan yang dulu-dulu. Di pegunungan itu kita juga bisa lihat tiga batu kembar yang dinamakan The Three Sisters, air terjun, goa limestone, dan jalan-jalan di Leura Village yang suasananya seperti di film Little House in The Prairie.


Kalau mau cari petualangan di laut Australia yang biru dengan pantainya yang bersih dan berpasir lembut, pergi deh ke Port Stephens. Disana bisa coba water sports, sand boarding daaaaaannn lihat Lumba-Lumba. Yaaaayyyy… Udah pada tau kan saya cinta bangeett sama lumba-lumba?


Sydney juga menyelanggarakan event-event keren seperti misalnya Vivid Sydney yang merupakan event tahunan terbesar dan termegah di Sydney. Ketika berkunjung ke Sydney, event ini adalah salah satu yang tidak boleh dilewatkan. Event ini akan berlangsung dari tanggal 27 May hingga 18 Juni 2016. Disitu kita bisa menyaksikan kota Sydney makin cantik dengan hiasan cahaya-cahaya berwarna-warni kayak di wonderland. Gratis gals.





Event lainnya The Sydney Royal Easter Show . Tiap tahun bisa ada 900,000 pengunjung yang datang ke event ini untuk merasakan serunya Rodeo, kompetisi main Polo, carnival, kembang api dan ketemu langsung sama hewan, kasih makan, belai-belai. Totalnya ada 14,000 hewan di acara ini, selain itu ada juga pameran kesenian dan kerajinan, 400 booth toko retail dan lebih dari 160 booth makanan.

Fiuh… seru banget yah? Jadi pengen ke Sydney yah?

Oke, selanjutnya silahkan booking tiket. Info Penting:

Fly Qantas with sale fares from Jakarta to Sydney. Sale ends 29 February 2016, unless sold out prior. Depart from 2 Mar to 31 May'16, 1 Aug to 19 Sep'16 and 17 Oct to 30 Nov'16. Book now at qantas.com or visit your local travel agent.

Info lebih lanjut tentang Sydney bisa langsung ke website resminya: www.sydney.com

Sabtu, 17 Mei 2014

Flaneur of The Rocks

Flaneur adalah istilah bahasa Perancis yang artinya kurang lebih jalan-jalan tanpa arah tujuan. Prinsipnya adalah keluar dari rumah, berbaur dengan kegiatan di kota untuk meresapi keadaan sekitar, membuka mata terhadap keindahan tumpukan bangunan-bangunan gedung di jalan, mengamati kegiatan dan kesibukan orang-orang nya dan mendengar setiap alunan suara percakapan orang, langkah kaki dan dengung kendaraan yang lalu lalang. Menjadi penonton kehidupan disekitar dan eventually, menjadi kota itu sendiri.

Sekitar abad ke-19, Flaneur merupakan kegiatan populer dan cenderung diminati para seniman penganut aliran Romanticsm. Dengan cara inilah mereka mendapatkan inspirasi. Salah satu yang populer adalah Charles Baudelaire, seorang poet yang merangkai puisinya dari apa yang dia amati dan resapi di kehidupan ketika melakukan flaneur. 

"For the perfect flaneur, for the passionate spectator, it is an immense joy to set up house in the heart of the multitude, amid the ebb and flow of movement, in the midst of the fugitive and the infinite.  To be away from home and yet to feel oneself everywhere at home; to see the world, to be at the centre of the world, and yet to remain hidden from the world - impartial natures which the tongue can but clumsily define.  The spectator is a prince who everywhere rejoices in his incognito." - Charles Baudelaire

Buat saya Flaneur asik banget dilakukan ketika traveling. Kadang saya sengaja untuk tidak terlalu banyak riset sebelum saya pergi ke suatu tempat. Ada sih beberapa kawan saya yang itinerary nya kalau jalan-jalan itu sangat detail dan matang, ada riset tempatnya, disana musti ngapain aja, apa yang harus dicoba disana, berapa yang harus dibayar untuk transportasi, berapa harga makanan, etc, etc. Tapi buat saya esensi dari jalan-jalan adalah untuk mengetahui sesuatu yang baru dengan cara mengalaminya langsung. Jadi seringkali saya skip the details, tentukan saja lokasi nya kemudian lihat apa saja yang akan saya temukan disana.

Contoh nya di suatu pagi di kota Sydney, setelah selesai sarapan bersama Mba Andri saya menuju kawasan The Rocks sendirian untuk Flaneur. Saya tahu The Rocks itu adalah area tempat koloni pertama - yang merupakan narapidana yang dibuang, membangun tempat tinggalnya di Sydney. Daerah itu dulunya mungkin kacau luar biasa, tapi sekarang disulap menjadi area turis yang banyak terdapat rumah makan, toko-toko, hotel mewah.  

Dan yang saya lakukan di The Rocks adalah hanya melangkah kemana kaki ini membawa saya, mengambil foto pemandangan yang menurut saya menarik. Otak saya tidak dipusingkan dengan target apa saja yang harus saya lihat di The Rocks dan target apa yang harus dilakukan setelahnya, saya hanya menonton yang ada disekitar saya. Sesekali ketika mulai letih berjalan saya akan duduk dan mengamati orang-orang lalu lalang. Saya juga masuk ke toko-toko, berbincang dengan penjaga tokonya yang kebanyakan wanita usia lanjut, terakhir saya berfoto dengan street performer Aborigin yang sedang bermain Didjeridu dan membeli CD nya seharga 5 dollar.











Minggu, 30 Maret 2014

Sarapan di Bourke Street Bakery

"Mil, kamu harus ke Bourke Street Bakery di Sydney," kata salah seorang kawan yang pernah menghabiskan masa kuliah di Sydney. 

"Mba, temen aku bilang aku musti cobain Bourke Street Bakery," saya pun mengutarakan rekomendasi itu ke Mba Andri di kamar apartemennya. 

Setelah meng-google Bourke Street Bakery, Mba Andri menemukan beberapa lokasi dan kebetulan ada satu cabang yang jaraknya cuma 15 menit jalan kaki aja dari apartementnya. Saat itu langsung diputuskan bahwa keesokan paginya disitulah saya dan Mba Andri akan berlabuh untuk cari sarapan.

Pukul 8 lewat waktu Sydney, saya dan Mba Andri sudah tiba di lokasi yang ditunjuk oleh google map. Sepertinya Bakery ini memang terkenal karena antrian pembelinya sudah panjang mengular. Kebanyakan costumer kliatannya hanya take-away sarapan mereka di perjalanan menuju kantor, jadi saya dan Mba Andri ga kesulitan cari meja di tempat yang disediakan di depan tokonya. 

Mba Andri mengambil posisi di antrian sementara saya mengamankan tempat duduk. Jam 8 pagi mataharinya terik banget, panasnya 3 kali lebih menusuk daripada panas matahari di Jakarta. Eh mungkin 4 kali lebih terik dari panas matahari di Jakarta. 

Saat saya di sana lagi ada penyesuaian kembali waktu Daylight Saving. Ketika Daylight Saving semua jam di sana dimajuin satu jam dari jam awal. Di musim gugur, waktu Daylight Saving di sesuaikan lagi ke waktu awal, jadi mundur lagi sejam. Saya baru tau konsep Daylight Saving ketika di tempat diena saya terbangun dan liat jam di dinding menunjukan pkl. 6 subuh, tapi jam di hp saya (yang disetting network time sehingga otomatis menyesuaikan diri) masih jam 5, diena bilang dia belum setting jamnya mengikuti jadwal Daylight Saving. Jadi jam 8 itu di jamnya Diena sudah jam 9 mungkin.

Itu pasti cukup membingungkan dan kita musti bersukur tinggal di daerah equatorial jadi ga perlu ribet sama urusan maju mundurin jam. Ga usah pake acara mundurin majuin jam aja di Indonesia patokan waktu udah ga jelas, misalnya kalo mau ketemuan jam 3 bilangnya  jam 2, nah ketemunya bisa jadi sekitar jam 4 tuh.

Duduk pas di sorotan sinar matahari, saya langsung pusing karena tak tahan panasnya jadi saya berusaha menutup diri dengan lembaran koran yang tergeletak di meja itu, tapi kemudian angin kencang berhembus sehingga lembaran-lembaran koran itu jatuh berceceran berantakan. Saya berusaha tetap cool, sembari berusaha mengumpulkan kertas-kertas koran itu dan melipatnya kembali. Cowo bule di sebelah saya ngeliatin kehebohan itu sambil senyum-senyum. 

Dalam hati saya bersukur pas kejadian ini ga ada adik saya - si Chacha. Kalau ada dia pasti udah ngomel-ngomel karena saya bikin malu (lagi) di tempat umum. Ga tau kenapa saya sering banget bikin kerusuhan gara-gara jatuhin sendok garpu, numpahin air minum. Di tempat service mobil pas pertama kali kesitu malahan saya bikin heboh satu showroom gara-gara numpahin teko kopi dan ampas kopi nya serta merta berceceran di lantai. Mungkin karena sejak peristiwa itu di tempat service sekarang ada mba-mba yang khusus ngelayanin kalau mau ambil minum, ga self service lagi. 

Pertanyaan itu pun ga lama terjawab ketika pas lagi kondangan bareng papa said dan mama, papa said ngejatohin centong buat ambil sop. kompraaang kompraang. Suasana tiba-tiba jadi heing disertai ratusan pasang mata memandang papa said yang cengengesan. "Papa kenapa sih bikin malu aja,"mama saya langsung ngomel. Dalam hati saya langsung mengambil kesimpulan, ooooo itu pasti penyakit turunan.

Pas ketika saya selesai membereskan keriuhan yang disebabkan oleh lembaran kertas koran itu Mba Andri datang membawa dua Mocha Latte dan Curry Pie. Selama trip di Australia saya sering banget makan curry pie,  harga nya ga terlalu mahal, banyak ditemuin dimana-mana - bahkan ada gerai khusus yang namanya Pie Face yang khusus jualan macam-macam jenis pie, dan buat saya udah cukup mengenyangkan. Saya juga suka ini karena ada rasa spicy nya. Kenapa kari India bisa nyasar ke dalem adonan pie yang makanan western itu? Awalnya dari jaman Inggris menjajah India, jamannya British India. Di jaman itu Inggris belajar tentang bumbu kari dari India dan me-fussion nya ke makanan mereka - Pie. 

Mba Andri di depan Bourke Street Bakery

Selfie bersama pie masing-masing

Curry Pie 

Selamat Makan
Bourke Street Bakery jualannya banyak banget jenis roti-roti yang saya ga ngerti nama-namanya. Banyak ukuran besar banget segede bantal tidur di jejerin rame-rame di rak, ada juga yang ukuran kecil-kecil, pastry kayak model pie saya itu dan sandwiches. 

Kali aja mau mampir kalau lewat sana, websitenya: http://bourkestreetbakery.com.au


Senin, 03 Februari 2014

Trip Spontan ke Blue Mountain

Saya tidak merencanakan akan pergi ke Blue Mountain.

Anjuran dari Cipu dan Mba Andri ketika kita ngopi-ngopi di Darling Harbour, Sydney yang membuat saya memutuskan untuk pergi ke Blue Mountain. Tanpa tahu ada apa saja dan apa yang bisa dilakukan disana. Saya punya budget untuk masuk ke museum-museum di Sydney dan kebun binatang, itulah yang kemudian saya alihkan untuk budget perjalanan spontan ke Blue Mountain.

Saya berangkat sendiri, berpisah dengan Cipu di stasiun kereta. Cipu sudah ada janji sama kawannya yang lain di Sydney. Di loket pembelian tiket kereta Cipu memesankan tiket ke Blue Mountain untuk perjalanan pulang-pergi saya. Tiket sudah didapat, kemudian saya dan Cipu menuju papan pengumuman untuk melihat di peron berapa kereta yang akan berangkat ke Blue Mountain. Cukup lama saya dan cipu bingung mondar-mandir dari satu papan jadwal ke papan lain karena tidak ada tertera tujuan "Blue Mountain" dimana-mana. Cipu berinisiatif menanyakan ke mba-mba yang ada di kotak pengawas yang terletak di peron, mba-mbanya menjelaskan kalau mau ke Blue Mountain cari yang jurusan Katoomba - stasiun itu ada di Blue Mountain Line.

Saya makin khawatir. Dalam hati saya mulai menyesal kenapa gampang banget dipengaruhin dan dijerumuskan sama Cipu. Belom pergi aja udah nyasar-nyasar di stasiun karena ga tau mau ke stasiun apa.

Katoomba itu apa dan dimana, saya juga gak tahu. Pokoknya saya naik kereta, nanti kalau ada stasiun Katoomba saya akan turun. Mudah-mudahan sih saya gak nyasar, berhasil sampai di Blue Mountain dan sore harinya bisa kembali ke Sydney, dimana saya sudah janjian ketemuan lagi sama Cipu dan Mba Andri di Circular Quay.

Malam itu ada kejadian lucu ketika saya dan Cipu menginap di backpacker hostel. Kita berdua check-in di malam hari, diantarkan oleh mba resepsionis ke suatu kamar dormitory yang didalamnya terdapat 2 tempat tidur bertingkat. Masing-masing tempat tidur itu di bagian bawahnya sudah diisi - tampak dari tas yang terletak di sampingnya. Karena sudah letih akibat malam sebelumnya tidur ga bener di bus dan seharian keliling Sydney, saya dan cipu langsung tertidur.

Pagi harinya saya mendapati dua penghuni di tempat tidur bawah sudah tidak ada. Terus Cipu cerita, malem-malem dua penghuni itu -yang ternyata cewe dua-duanya, minta pindah karena mereka pesennya di dorm khusus cewe, tapi ternyata mba resepsionisnya menaruh cipu dikamar itu. Mereka gak terima. Dua cewe itu pun langsung minta pindah kamar. Yang jadi pertanyaan saya adalah, apakah dua cewe itu yang di taro di mixed dorm atau mba resepsionis di malam kita menginap yang salah mengira kalau cipu itu cewe juga. Entahlah. Saya dan Cipu gak ambil pusing, subuh-subuh kita udah check-out dari hostel itu.

Saya duduk manis dalam gerbong  kereta yang kosong, memegang tiket saya dan terbaca apa yang sedari tadi harusnya saya baca: nama stasiun tujuan saya. Ternyata di tiket tertera tulisan stasiun yang harus saya tuju dengan huruf Bold: Katoomba. Kalau saja saya atau cipu baca tulisan itu lebih awal, ga perlu mondar-mandir ga jelas sebelum naik ke kereta.

Tidak lama sebelum kereta berangkat muncul sepasang turis (kelihatan dari pakaian & gayanya), yang perempuan menoleh ke saya sembari bertanya untuk memastikan mereka ada di kereta yang benar, "Blue Mountains?". Saya mengangkat bahu sambil tertawa, "I hope so." Sepasang turis itu pun tertawa dan mengambil tempat duduk satu deret di belakang saya.

Dari selipan tas daypack, saya mengambil selembar kertas rute kereta, menghafal nama stasiun sebelum stasiun Katoomba supaya gak kelewatan. Sepasang turis yang masuk belakangan ke kereta juga tampak melakukan hal yang sama. Stasiun demi stasiun terlewati, penumpang masuk dan keluar di tiap stasiun. Hingga tiba di stasiun Leura, satu stasiun sebelum tempat saya turun. Saya pun bersiap-siap mau turun, melirik ke bangku di belakang saya, ke sepasang turis amerika tadi. Walau  hanya saling tatap-tatapan saya dan perempuan amerika itu seolah-olah saling memberi kode bahwa kita turun di stasiun berikutnya.

Kereta berhenti si stasiun Katoomba, saya turun dari kereta langsung mengikuti tanda panah ke arah keluar, sementara turis amerika yang turun kereta bareng saya pamit mau ke toilet dulu. Celingukan di depan gerbang stasiun Katomba, saya bener-bener ga tau mau ngapain.

...to be continued.  



Selasa, 07 Januari 2014

Hari Pertama di Sydney: Disambut Kabut di Circular Quay dan Manly Scenic Walk Pakai Koper

Salah seorang kawan beberapa hari lalu mengkritik saya tentang penggunaan kata "kita" dan "kami" di blog saya. Karena malas mikir, saya tidak pernah menggunakan kata "kami" dan menganggap semuanya adalah kata ganti "kita", lagipula sepertinya saya sudah jarang mendengar orang menggunakan kata "kami" di percakapan sehari-hari, jadi saya bilang, "kata 'kami' itu udah nyaris punah, mungkin 2 generasi setelah ini udah ga ada yang ngerti kata itu." Tapi di postingan kali ini saya mau coba menggunakan kata 'kami' deh, walopun agak lucu-lucu gimana gitu.

Tahun lalu (2013) saya sudah selesai mencicil cerita tentang jalan-jalan saya di Melbourne dan sekitarnya (Ballarat dan Great Ocean Road), walaupun sudah hampir 1,5 tahun berselang saya akan cerita waktu pertama saya tiba di Sydney - setelah melalui insiden nyaris kehilangan koper di bus dari Melbourne ke Sydney.

Kami - Saya dan Cipu, tiba terlalu dini di Sydney Central Stasiun, tempat pemberhentian terakhir Bus yang mengantarkan kami dari Melbourne. Stasiun Central masih sepi, mungkin karena kebetulan hari itu hari Sabtu. Kami langsung mencari tanda yang menunjukan arah ke Toilet, ternyata toiletnya besaaaarrrr sekali dan waktu saya cuci-tangan-cuci-muka-gosok-gigi di wastafel airnya hangat. Untunglah karena udara pagi itu dingin sekali - ga sedingin di Melbourne sih, tapi cukup dingin untuk bikin saya, si gadis tropis menggigil kedinginan.

Sydney Central
Sydney Central Station bangunannya sama klasik seperti Flinders Station di Melbourne tapi lebih luas dan besar. Segala-galanya lebih luas dan besar di Sydney kalau di bandingkan Melbourne, kotanya lebih luas, bangunan-bangunannya lebih besar-besar, bahkan kereta di Sydney lebih besar dan bertingkat. Kami membeli tiket kereta menuju Circular Quay, karena janjian sama Mba Andri di Sydney Harbour agak siang karena paginya Mba Andri ada latihan menari.

Kabut pekat menyapa kami di Sydney Harbour, kapal-kapal Ferry di dermaga-dermaga yang ada di situ bahkan tidak berani beroperasi karena gelapnya kabut. Tadinya kami mau jalan-jalan naik Ferry mengelilingi teluk sydney itu dulu sambil nunggu ketemu Mba Andri, tapi karena ferry tidak ada yang berani jalan kami sarapan di McD sambil nunggu kabut mereda.

Bukan Cipu namanya kalo ga sok akrab sama orang asing. Waktu lagi makan di McD dia ngajak ngobrol bapak-bapak pakai seragam petugas yang lagi sarapan. Bapak itu orang Nepal, katanya mungkin orang Nepal pertama yang pergi ke Australia, kerja dan menetap disana. Katanya waktu dia pertama kali datang suasana rasisme nya masih  terasa banget, tapi sekarang sudah banyak berkurang. Sebelum pergi Bapak itu sempat memberi tahu lokasi market yang hanya buka sabtu dan minggu.

Bersamaan dengan berlalunya Bapak Nepal itu, kabut mulai reda. Dermaga Ferry mulai membuka loketnya. Disana ada beberapa dermaga dengan tujuan beda-beda, ada yang ke kebun binatang juga tapi kami memilih pergi ke Manly yang jaraknya paling dekat. Saya masih dengan menggeret koper kemana-mana.

Ferry-Ferry di dermaga

bersama cipu di atas Ferry

Sydney Opera House yang belakangnya masih ada kabut pekat menggelayut
Manly adalah daerah sub-urban di daerah Sydney yang lokasinya sebelahan sama pantai. Rumah-rumah disana bagus-bagus dengan view yang langsung memandang birunya laut. Waktu itu hari sabtu pagi, ketika kami merapat di Manly udara semakin cerah dan terasa hangat, sinar matahari yang ceria mulai menggantikan kabut yang muram. Kebiasaan orang Aussie yang suka banget sama kegiatan outdoor sangat menyenangkan dan seru buat diamati, ada yang jogging, berenang, mendayung perahu kanoe di laut, bahkan anjing pun main surfing sama majikannya.


Kanoe buat di dayung di pantai

Penunjuk kilometer manly scenic walk

pemandangan sydney cove dari Manly

Lari-lari di pantai gini mengingatkan saya sama masa kecil saya nih

Cipu sangat menikmati jalan-jalan pagi di Manly scenic walk sambil ga berenti ngakak ngetawain saya yang geret-geret koper sepanjang scenic walk 2 km sementara bule-bule jogging lalu lalang. Sebenarnya scenic walknya ada yg 9 km, tapi yang ada jalur wheelchair nya cuman yang 2 km, ya anggap aja roda koper itu sama kayak roda wheelchair. Belakangan baru saya tau, Cipu gak cuman ngetawain saya, tapi juga motret-motret pemandangan absurd yang memalukan itu dan membahasnya di blognya, jadi saya ga perlu bahas dua kali, klik aja link nya : Cipuism.

Ketika kami kembali dari Manly menuju ke Circular Quay lagi cuaca sudah cerah,  melalui jendela ferry kelihatan jembatan Sydney Harbour yang terkenal. Dan ternyata di dalam ferry nya ada wi fi. Ya sebenarnya ga istimewa-istimewa amat sih ya secara di sini dalem Bus AKAP dan Damri aja ada wi fi nya. Di Circular Quay kami makan siang fish and chips di taman di antara burung-burung, saya tetap sama koper.

di dalam ferry kembali ke circular quay

Jembatan Sydney Harbour

Fish & Chips (dan koper)


Jumat, 30 Agustus 2013

Semacam Duta Pariwisata

Saya menyeret langkah lunglai menuju pesawat Jetstar dari Darwin menuju Denpasar, Bali. Setelah melalui perjalanan nyaris 7 jam dari Sydney menuju Darwin ditambah akumulasi kegiatan fisik yang maksimal selama 2 minggu membuat otot-otot di sekujur tubuh saya menjerit kaku dan ngilu.

Di lorong pesawat, pramugari berwajah oriental membantu mengantar saya ke tempat duduk, diantara dua orang lelaki bule. Di sebelah kanan saya ada seorang lelaki yang tampaknya sangat tinggi sampai-sampai kelihatan kesulitan menekuk kakinya diantara ruang bangku yang sempit. Wajahnya tampan dengan struktur yang menimbulkan kesan macho gitu, kulitnya kecoklatan akibat terpapar matahari. Di sebelah kiri saya ada seorang lelaki yang mukanya Australia banget, rambut pirang, berkulit putih pucat dengan flek-flek coklat. Bau bir nya itu seakan-akan dia habis mandi berendam dalam 3 galon bir.

Saya mulai mengeluarkan iPad dan main game sembari melirik-lirik ke sebelah kanan saya, ke arah pria ganteng itu. Dia hanya tampak melamun memandang jauh keluar jendela yang gelap, saat itu waktu sudah menunjukan sekitar pukul setengah 7 malam waktu Darwin. Sementara di sebelah kiri saya, si pria Australia tampak gelisah membolak-balik majalah sambil kakinya tak henti-henti goyang-goyang.

Di tengah perjalanan pramugari membagi-bagikan selembar formulir Custom Declaration. Pria tampan di sebelah kanan saya akhirnya bicara, mau pinjam bolpoin. Saya segera menyerahkan bolpoin saya, berikut bonus senyuman termanis. Kalau saja dia meminta saya memberikan jiwa raga ini saya pasti bersedia, sayangnya tidak.

Pria pirang di sebelah kiri saya juga tiba-tiba ikut nimbrung, mau pinjem bolpoin juga. Aksen Ausie nya kental sekali dan bau bir nya semakin pekat tercium ketika dia berbicara, saya yang tidak suka banget bau bir jadi sebel. Kenapa sih si cowok ini menganggu aja, bisa ga sih dia pergi saja dan meninggalkan saya berdua dengan si cowok kece yang tinggi dan berkulit tanning persis seperti prince charming dambaan saya ini?

Tapi saya tetap mengangguk tanda setuju meminjamkan bolpoin saya.

“Where do you come from?” tanya saya membuka percakapan dengan cowo kece itu.

“France,” katanya dengan logat perancis yang kental.

“Wow,” ucap saya sambil membayangkan diri saya berjalan berdua bergandengan tangan dengan pria tampan dihadapan saya ini di depan menara Eifel. Tiba-tiba muka saya jadi merah sendiri,” Saya pernah kursus bahasa prancis 6 bulan, tapi satu-satu nya kata yang saya bisa cuman Je Mapele Mila.”

Pria ganteng itu pun mengalihkan pandangannya dari formulir CD yang lagi di oret-oretnya dan tertawa dengan manis di depan muka saya,”Hahaha.. nice,” katanya sambil mengulurkan tangan, “Hi Mila, my name is nick”

Saya meleleh.

“I’m Mark,” tiba-tiba dari sebelah kiri saya ada celetukan,” ini pertama kali saya naik pesawat makanya saya nervous sekali.” Kakinya terus goyang-goyang gelisah.

Dalam hati saya, gue harus bilang wow gitu kalo ini pertama kalinya lu naik pesawat?

Si cowok ganteng itu ternyata berasal dari suatu desa kecil di perbatasan Perancis, dia menunjukan posisi desa nya di peta prancis yang ada di paspornya. Saya menduga dengan kesoktau-an tingkat kelompencapir mungkin dia masih ada keturunan Algeria gitu, karena bentuk-bentuk mukanya cowok ini setipe sama pemain bola Perancis Zinedine Zidane yang juga keturunan Algeria.

Dia bukan sekedar traveling ke Australia, tapi juga sekalian mau mengadu nasib mencari pekerjaan dan kalau bisa tinggal lama di Australia. Menurutnya Benua yang terletak ratusan kilometer dari desa kecilnya itu lebih prospektif dibandingkan di Perancis. Eropa sudah terlalu padat penduduk sehingga persaingannya ketat, mencari pekerjaan dengan upah yang layak pun menjadi semakin sulit disana.

Sementara di Australia, menurut dia, walaupun biaya hidup lebih tinggi tapi lebih banyak pekerjaan tersedia dengan upah yang reasonable sehingga bisa menutup biaya hidup yang tinggi itu.

“Jadi, biaya hidup di Australia lebih tinggi dibandingkan di Eropa?” saya agak terkejut mendengarnya.

“Ya, Australia is very very expensive,” katanya.

Oke, pernyataan ini membuat saya semakin memantapkan niat untuk nekat ke Eropa.

Nick sudah pernah keliling benua Eropa, tempat favoritnya adalah Itali. Orang nya ramah-ramah, makanannya enak-enak dan relatif lebih murah dibandingkan Perancis. Baiklah, Itali officialy  masuk ke dalam list Eurotrip saya nanti. “But, this is my first time to Bali,” katanya dengan bahasa Inggris aksen Perancisnya.

Hmm.. saya mulai iri dengan orang-orang yang beraksen gitu, menurut saya kalau bahasa Inggris dicampur aksen dari bahasa eropa sana, kesannya jadi sophisticated. Saya pernah bertemu dengan orang Amerika di Thailand yang menanyakan kenapa beberapa orang-orang dari Indonesia, khususnya yang muda-muda (berarti tidak termasuk saya) bahasa Inggrisnya bergaya Amerika.

Saya berusaha menjawab walau kurang yakin, “Ya mungkin karena sebagian besar anak-anak muda jaman sekarang di tempat saya pada kursus bahasa Inggris di Lembaga Inggris Amerika dan nonton Glee?” 

Nick ternyata mau liburan ke Bali bersama teman-temannya, tapi teman-temannya sudah duluan disana.

“Ini pertama kalinya saya ke Bali juga,” si Aussie di sebelah kiri saya yang sedari tadi tampak menguping pembicaraan dan menunggu momen untuk menyelak masuk tiba-tiba mengeluarkan suara. Kakinya tetap masih bergoyang-goyang gelisah. “Kamu liburan juga ke Bali?” tanyanya.

“Oh, saya hanya transit di Bali, sebenarnya saya mau pulang ke Jakarta”

“Jakarta, dimana itu?”

Sabar..sabar..elus-elus dada..

“Jakarta itu ibukota nya Indonesia.”

“Oh..,” katanya mengangguk-angguk sembari menatap kosong kursi didepannya, kemudian kembali  mengalihkan pandangannya ke saya,”Dimana itu Indonesia?”

Hwaaaaaah… gue tendang juga nih bule.

“Indonesia itu adalah suatu negara. Bali itu adalah suatu pulau bagian dari negara Indonesia. Dan Ibukotanya negara Indonesia itu adalah kota Jakarta,” saya berbicara lambat-lambat menyesuaikan dengan spesifikasi prosesor di otak si bule dongdong di kiri saya yang kayaknya belom pentium.

“Saya punya teman di Jakarta,” Nick menyambung pembicaraan saya, sementara Mark masih dengan tatapan kosong berusaha mencerna ucapan saya. “Katanya disana macetnya parah.”

Sekalinya ada yang tau Jakarta yang pertama terlintas adalah soal kemacetannya. Oh well, semua orang juga berpikiran begitu kan kalau lagi berbicara tentang New York?

Beberapa kali saya bertemu orang asing di perjalanan yang tidak mengerti Indonesia itu ada dimana, kadang sebagai orang Indonesia saya sebel juga karena tanah tumpah darah saya ternyata tidak terkenal sedunia. Kadang saya jadi semacam duta pariwisata yang berusaha menjelaskan bahwa tidak hanya Bali yang ada di Indonesia, tapi 5 ada pulau besar dan Bali itu hanya pulau kecil di Indonesia. Sekaligus saya ceritakan macam-macam objek wisata menarik di darat maupun di lautan.

Teman saya yang orang kanada, sepupu nya sekolah di Amerika, katanya orang-orang Amerika itu sangking sombongnya jadi ignorant gitu, di sekolah dasar nya yang dipajang hanya peta Amerika doang, floating out of nowhere. Tapi itu kan kata dia, saya yang belum pernah ke Amerika ya percaya aja katanya begitu. Sebelum saya menuduh orang itu ignorant karena tidak tahu negara asal saya, yah saya positif thinking aja mungkin orang-orang yang tidak tahu Indonesia itu tertidur pas pelajaran geografi ketika lagi membahas negeri-negeri di South East Asia.

Sama seperti saya, yang selalu tertidur pas pelajaran geografi dan akhirnya jadi buta peta.

Pada suatu hari ada fiancé nya teman saya dari Amerika yang bilang kalau dirinya bukan asli dari Amerika tapi dia sebenarnya Hispanic. Asalnya dari Puerto Rico. Waktu itu saya berusaha memetakan dalam bayangan dimana lokasi Puerto Rico dan gagal total, atau kalo istilah Justin Bieber nya Epic Fail.

Kemungkinan besar itu yang terjadi pada cowok yang baru pertama kali naik pesawat dan baru pertama kali keluar dari tempurung pulau raksasa tempat tinggalnya, buta peta. Dia mungkin akan menjadi orang Aussie yang liburan ke Bali tanpa tahu tahu lokasi nya dipeta, pokoknya tempat dimana dia bisa minum bir sepanjang hari di suatu pulau eksotis.

Tapi mudah-mudahan dengan dia bertemu saya di pesawat setidak-tidaknya ilmunya nambah, kalau pulau Bali itu ada di negara Indonesia. Teman saya pernah bilang, “Dengan traveling itu, mau ga mau wawasan kita mesti bertambah. Suka atau tidak.”

Nah Mark, sekarang wawasan mu bertambah, suka atau tidak.

Pengumuman dari pilot yang menginformasikan ketinggian pesawat, kecepatan pesawat, kondisi cuaca dan perbedaan waktu menandakan bahwa sebentar lagi kita sampai di Bali.

Iseng-iseng saya mengajarkan sedikit bahasa Indonesia kepada mereka. “Se la mat da tang, artinya ‘Welcome’.”

Mereka pun mencoba mengikuti dengan terbata-bata, “Se la …..”

“Se la mat,” ucap saya lebih pelan, “da tang”

“Se la mat da tang,” ucap keduanya nyaris berbarengan.

“Selamat datang,” dan kita bertiga pun bertepuk tangan, sementara penumpang-penumpang lain memperhatikan tiga orang yang berisik di bangku tengah.

“Oke, sekarang ‘Thank You’ bahasa Indonesianya…….” Saya pun melanjutkan kursus singkat Bahasa Indonesia kepada kedua teman baru saya itu. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...