Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bandung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Januari 2018

Nostalgia Lari di Sabuga, Menemukan Tempat Asik di Lebak Siliwangi

Ini adalah throwback story tentang throwback memory. 

Balik ke tahun 2017 lalu, waktu saya ikut acara ITB Ultramarathon Jakarta - Bandung yang pernah saya ceritakan beberapa waktu lalu. Selepas acara, hari minggu saya masih tinggal di Bandung. Senin pagi saya memang rencana mau recovery run di Lapangan Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). 

Sabuga itu adalah stadium olah raga yang letaknya bersebrangan dengan kampus saya dulu, bersebrangan juga dengan tempat kos saya dulu. Di dalam Sabuga sebenarnya ada beberapa sarana olahraga selain track lari. Ada lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan tennis, kolam renang. Di tahun pertama kuliah, di kampus saya ada mata kuliah olah raga. Ujiannya tes lari di track Sabuga. Demi lulus ujian mata kuliah olahraga dan ditambah dengan tuntutan harus kuat lari-lari malam waktu ospek, saya jadi sering latihan lari di Sabuga. 

Kalau dipikir-pikir waktu muda dulu, kegiatan fisik saya lumayan aktif. Selain lari, dari tempat kos ke kampus jalan kaki, ikut klub karate di kampus, ospek, dugem. Oooh masa muda, entah energi dari mana bisa punya kekuatan melakukan itu semua, padahal kalori yang masuk mayoritas asalnya cuma dari mie instant dan telur. Begadang 3 hari juga kuat. Sekarang mah boro-boro, jam 10 aja udah abis energinya kayak handphone yang baterenya udah tua, cepet low bat. 

Kebetulan saya menginap di Hotel Royal Dago yang tidak jauh dari Sabuga, jadi dari hotel saya lari ke sana, ke pintu yang dulu saya biasa masuk. Ternyata ditutup. Saya lari memutar jalan ke bagian belakang Sabuga, ada ibu-ibu jualan sarapan yang memberi tahu saya kalau pintu masuk ke track lari sekarang melalui Lebak Siliwangi. Saya lari lagi ke Lebak Siliwangi hingga ketemu jalan masuk ke track lari dan lari beberapa keliling. Target saya lari 5 kilometer, pace nya sudah tentu pace nostalgia.



Dulu saya biasa lari 3 hingga 5 keliling lapangan Sabuga, satu keliling 400m. jarak lari maksimal saya dulu hanya 5 keliling sabuga, jadi sebenarnya hanya 2 kilometer. Kalau dibandingkan dengan sekarang, 2 km itu buat saya kurang banget, short run saja 5km. Tapi memang gak instant sih, kalau buat saya untuk naik dari jarak standard 2km ke 5km memang butuh waktu satu tahun. Dulu boro-boro kepikiran bisa lari sampe 20an km, apalagi 40an km. 

Selesai lari nostalgia, sebelum gerbang melewati parkiran Lebak Siliwangi saya melihat sesuatu yang menarik. Ada semacam elevated structure, semacam jembatan mirip seperti yang di atas jalan cihampelas. Nah, tapi ini dibawahnya tanam-tanaman, jadi seru seperti jalan di jembatan yang menerobos hutan-hutan. Mungkin karena hari senin jadi tempatnya sepi, kalau weekend pasti rame. Sayangnya ide buat bikin kayak gitu terlambat 17 tahun (buat saya). 





Kamis, 21 Desember 2017

Airy Rooms, Bonus Cemilan Gratis

Ini adalah pengalaman pertama menggunakan Airy Rooms untuk booking hotel. Setelah ikut acara Ultramarathon ITB tempo hari, saya memutuskan tidak langsung pulang seusai acara, melainkan istirahat dulu sehari di Bandung. Supaya tidak jauh-jauh dari lokasi acara, di daerah dago, jadi saya cari penginapan di sekitar daerah itu juga. 

Sebenarnya sudah agak lama tertarik mau coba Airy Rooms karena saya sering lihat logonya di depan penginapan / hotel yang saya lewati waktu berpergian. Kebetulan rate hotel/penginapan daerah Dago itu diluar rata-rata, jadi saya coba lihat web booking yang katanya menyediakan penginapan yang harganya terjangkau. 

Tidak lama mencari saya sudah dapat penginapan yang sesuai dengan budget dan kalau dilihat lokasinya dekat sekali dengan kampus tempat acara berlangsung. Tapi saat itu saya hanya tahu alamatnya saja - nama jalan dan nomornya. Ketika akan check-in saya coba-coba cari di jalan dan nomor yang dimaksud, ternyata lokasinya di Hotel Royal Dago. Ternyata Hotel Royal Dago kerjasama dengan Airy Rooms.

Kalau hotel itu sih saya familiar sekali karena jaman kuliah dulu sempat kos selama 3 tahun di belakang hotel itu. Saban hari saya lewatin. Waktu jaman saya muda sih hotelnya termasuk yang bagus walaupun tipe hotel jaman baheula. Sekarang, beberapa belas tahun kemudian, hotel itu masih tetap sama. 

Perabotannya masih a la hotel tahun 90-an. Saya mau nyalakan AC saja bingung karena tidak ada remotenya, ternyata tombol on/off nya ada di meja samping tempat tidur bersama tombol-tombol lampu lainnya yang tersambung sama lampu sekamar. Soal kebersihan, walaupun standard tapi sudah checklist semua hal yang penting-penting, seperti spreinya bersih, kamarnya tidak bau aneh, kamar mandinya bersih, handuknya bersih. 

AC jadul
Selain sabun dan shampoo dari hotelnya, Airy Rooms juga menyediakan perlengkapan mandi yang kemasannya lucu. Dan yang beda adalah dapat kotak berisi air mineral dan snack untuk dua pax yang boleh dikonsumsi secara gratis. Bukan hanya air mineralnya saja, tapi dapat coklat dan biskuit juga. Asik kan.

Cemilan gratis



Kamis, 16 November 2017

ITB Ultramarathon Jakarta-Bandung 170km

Beberapa bulan lalu, tidak lama sebelum bulan puasa tahun ini, saya mulai mengikuti awal terlahirnya event yg idenya berawal dari salah satu pelari ultramarathon senior saya di kampus yang sudah malang melintang di dunia perlarian. Ide pelari ultramathon tersebut kemudian disambut oleh dua orang senior saya yang sudah jadi orang-orang hebat. 

Yang saya takjub dari ketiga beliau adalah ditengah kesibukan sebagai para petinggi tingkat (multi)nasional masih sempat2nya create event lari dalam waktu kurang dari satu tahun, efektifnya mungkin hanya 4-5 bulan. Acara lari ini mengambil rute dari jakarta ke kampus ITB di Bandung lewat puncak yang diselenggarakan untuk menggalang dana yang akan disumbangkan ke Fakultas tempat saya kuliah dulu. Acaranya diberi nama Tribute to FTMD (fakultas teknik mesin dan dirgantara).

Hal ini jd semacam re-charge energi dan motivasi buat saya - anak magang yang timbul tenggelam, bahwa gak ada satu ide gila pun yang tidak mungkin terlaksana dengan semangat, kerja keras dan ..... 

koneksi.

...makanya gaul itu juga penting. 

Jarak Jakarta - Bandung yang ditempuh sekitar 170km. Boleh ditempuh sendirian, boleh juga keroyokan. Bisa ber-2, ber-4, ber-8, dan ber-16. Demi untuk menjaring banyak anggota saya ikut kategori ber-16, jadi masing-masing pelari dapat jatah sekitar 10an km.



Mengumpulkan 16 orang dalam 1 team lari ternyata gampang-gampang susah. Memerlukan skill personal approach, negosiasi dan persuasi. Terutama ketika berusaha mendapatkan pelari perempuan kedua dan satu2nya yang bergelar Doktor @kireinashit dalam tim, sempat terjadi perebutan dan negosiasi alot dengan tim sebelah yang anggotanya perempuan semua. 

Walaupun rencana latihan bersama seminggu sekali hanya tinggal wacana, namun kapten tim yang penyabar, Hamzah, tetap berhasil mempertahankan kesatuan dan kekompakan. Detik-detik terakhir sempat terjadi krisis karena salah satu anggota berhalangan, namun kapten dengan tenang berhasil menanggulangi masalah ini dan membawa anggota baru, Igan - ikhwan ganteng sebagai pengganti. 

Tantangan sebenarnya dari ultramarathon ini bukan hanya di lari, tapi strategi mengatur logistik 16 pelari yang akan melewati jalur padat di akhir minggu. Untungnya ada Shadiq, pelari sekaligus ahli strategi yang sistematis. Ada juga pelari sekaligus penasihat tim yang kadang ide2nya brilian tapi lebih seringnya sampah, Chris yang juga pencetus nama tim ini, yaitu 137runner, 137 karena NIM kami semua berawalan 137. 

Unggulan tim ini adalah Hendra, pelari kencang berprestasi atlit PON kebanggaan kami yang sudah naik-turun podium. Yang tidak kalah fenomenal juga ada Ari yang rajin ikut race, Dicky (mantan) atlit kampus, Bagus, Helmi, dan Ganjar yang berwajah lugu tapi larinya jauh. Lalu ada para pemula yang kemampuannya meningkat pesat Fino, Budi -pelari sekaligus sponsor tim, dan Dodi - tangan kanan kapten. Satu lagi adalah pelari yang paling misterius, karena banyak dari anggota tim yang belum pernah melihat sosoknya (mungkin hanya bayangannya sangking cepetnya), Alnahyan. 

Tanggal 13 Oktober malam acara race dimulai. Perjalanan ini diawali oleh Igan di lokasi start wisma BNI dengan penuh perasaan cemas dan gugup karena baru pertama kali ikut dalam ajang race. Dikarenakan terbatasnya anggota dan tim support dari KAM maka Igan harus berjuang sendiri di garis start. Tapi kecemasan tak mempengaruhi performanya di ajang perdana ini, Igan berhasil mencapai WS (Water Station)1 di daerah pasar minggu, melewati tatapan sinis dan kesal para pengendara kendaraan yang terkena imbas macet akibat event ini. Pergantian pelari dilakukan di setiap WS.

Di WS1 Igan disambut oleh pelari misterius Alnahyan. Sambil mengunyah nata de coco, Al berhasil mencapai WS2 yang jaraknya lebih dari 10km dari WS1 pada pukul 00.34 wib, hanya dengan waktu 1.15 saja. Kedua pelari awal ini mengangkat estimasi waktu finish secara drastis sehingga rombongan pelari puncak memutuskan untuk berangkat lebih awal. Meminjam istilah Hendra bahwa Djakarta adalah Koentji! 

Sementara itu tanpa ada kesepakatan sebelumnya selalu ada pantauan dari grup wa 137runner, bergantian memberi support dan memantau perkembangan race. Dari Al, estafet dilanjutkan oleh Fino hingga tiba di ws3 pada pukul 02.08. Waktu tempuh Fino jg merupakan pencapaian yang luar biasa untuk pelari yang baru perdana ikut race, langsung menempuh jarak 10km dan larinya di jam2 orang lain bobo. Budi, yang merupakan newbie di dunia perlarian sudah siap menyongsong Fino di WS4. 

Ke newbie-annya membuat saya paling khawatir dengan Budi, sampai secara personal berkali-kali menyampaikan kalau ini acara fun, tidak perlu dipaksakan, dan tidak harus menyelesaikan 10km jatahnya. Tapi ternyata Budi berhasil menaklukan tantangan dengan support dari anggota di wa grup. Pukul 04.15 Budi berhasil mencapai WS5 di cibinong. Menjelang finish saya ketemu budi di kampus dengan gaya jalan yg sudah tertatih-tatih, tapi ketika yori mendekati finish budi tetap semangat ikut mengiring dari gerbang ganesha hingga gerbang finish dengan bertelanjang kaki. 

Dicky lanjut berlari dari ws4 menuju ws5, sementara itu pelari ke7, chris sudah berangkat lebih awal dan menunggu saya (mila) yang akan melanjutkan dicky dari bogor hingga daerah ciawi. Saat itu sekitar jam 4 subuh, padahal estimasi awal chris mulai lari pukul 11 siang. Jam 5 subuh rombongan pelari puncak hamzah, hendra, shadiq, bagus sudah berangkat juga. 

Pkl. 5.15 Dicky tiba di WS5. Kemudian giliran saya untuk melanjutkan arm band estafet hingga WS6. Jalan padjajaran bogor yang selama ini dilalui dengan angkot dan mobil rasanya datar-datar saja ternyata merupakan tanjakan tanpa bonus. Lewat dari 10km saya mulai merasa hilang arah karena tidak melihat ada pelari lain dan atau penunjuk arah, akhirnya tanya tukang parkir dimana arah wisma kemenag, tempat finish saya. Untung katanya masih lurus saja, berarti saya ada di jalur yang benar. Setelah melewati perempatan masuk ke jalan tol, pasar ciawi, gerobak bubur ayam, lontong sayur, gorengan saya tiba juga di ws6 pukul 7 passss... menempuh jarak 11.36 km dan elevasi 200 meter. 

Perjalanan saya dilanjutkan oleh chris yang harus melalui jalan dengan elevasi yang lebih dasyat lagi di daerah cisarua menuju Cimory. Dari jatah waktu COT 3 jam yang diberikan panitia, Chris mampu menyelesaikan dalam 1 jam 20an menit saja. Hendra, atlet kebanggaan 137runner lebih parah lagi. Berhasil membuat tukang ojek puncak minder karena berlari 10km elevasi 400an dengan waktu 1 jam doang. Itu baru pemanasan doang buat dia kayaknya soalnya masih kepingin lari lagi di slotnya helmi yang tiba2 sakit menjelang race. GWS ya helmi, semoga next event bisa ikutan. 

Kapten kita, Hamzah, melanjutkan perjuangan Hendra dari WS8 menuju WS9 dengan waktu yang tidak kalah gokil, kira-kira sejam doang juga ! Fiuh. Pkl. 10.20 hamzah sudah tiba di WS9, membawa 137runner memasuki segmen menurun dari kawasan puncak. Berlari di turunan yang panjang sebenarnya sama sulitnya dari berlari di tanjakan. Malahan lebih rawan cedera karena di turunan harus melawan gaya gravitasi. Shadiq yang ditugaskan berlari menyusuri elevasi yang semakin menyusut sepanjang sekitar 12km. Banyak anggota 137runner yang khawatir ketika shadiq berlari, bukan khawatir takut cedera, tapi khawatir ketika lari tiba2 dibelakangnya jadi banyak yang mengejar - para gadis kembang desa. 

Pkl 13.40 arm band beralih dari shadiq ke bagus di WS11. Dengan ceria dan sumringah, dibawah terik matahari yang panas, bagus berhasil tiba di WS12 pkl. 13.40 dan menyerahkan arm band kepada kapten hamzah lagi yang akan berlari mewakili helmi. 

Sementara para pelari berjuang menyelesaikan segmen masing-masing, kedua orang team manager- Aldy dan Putu, juga bekerja keras dengan penuh dedikasi mensupport mobilisasi pelari dari dan ke tiap WS. Konon Aldy sampai harus berkorban kartu ATM yang tertelan di mesin atm. Saya yakin capeknya manager team juga sama dengan para pelari, bahkan mungkin lebih, karena harus menyetir selama belasan jam melewati jalur naik turun dan macet. 

Hamzah tiba lagi di WS13 pukul 15.17. Katanya sempat ada insiden kaki keram tapi untungnya tiba juga dengan selamat dan menyerahkan tugas selanjutnya ke Dodi. Sebelum race saya sempat wa putu, yang merupakan kawan seangkatan dodi. Saya curiga sama kelakuan dodi yang gak pernah ikut latian bareng, ga pernah share hasil lari di grup wa, tapi kalau ngumpul selalu ada dengan sikap kalem dan cengengesan. Waduh, jangan2 dia bisa beres 10k dibawah 1 jam, kata saya ke putu. Putu bilang, yaa mungkin juga, karena waktu kuliah dulu dodi biasa lari 10k. Dan di event race perdananya ini, dodi berhasil menaklukan jarak yang ditugaskan kepadanya dengan smooth dan banyak foto-foto. 

Pkl. 18.40, Ari mulai berlari dari WS13 ke 14. Sudah semakin mendekati garis finish. Ari yang sudah sering ikut race dan berdedikasi sama latihan larinya juga menuntaskan segmennya dalam waktu 1 jam. Jam 20.54 arm band sudah beralih ke Ganjar, pelari ke 15. Yang artinya tinggal 1 pelari lagi menuju kampus ganesha. Ganjar sempat bermasalah lututnya, tapi tim support dengan cekatan mengantarkan balsem ke Ganjar. Dengan semangat material yang kuat, tangguh, bersemangat, ganjar berhasil mengalahkan masalah lutut dan berlari menyusuri padalarang hingga tiba di WS15, dimana Yori telah menanti. 

Yori, satu2nya doktor di tim lari 137runner, adalah pelari dengan jatah lari paling banyak. Hampir 15km. Menyusuri cimahi, belok ke pasteur, naik ke jembatan layang pasupati kemudian mengarah ke tamansari menuju ganesha. Memasuki jembatan layang Pasupati, rombongan pelari puncak sebanyak 5 orang mulai mengiringi yori. Di tamansari rombongan iringan bertambah dari team manager dan adik-adik MTM yang menyerukan yell-yell sepanjang jalan ganesha hingga memasuki gerbang finish. Pukul 23.10.

NB: sebagian tulisan ini (dan lebih banyak foto-foto) telah dipublish di IG @milasaid

Sabtu, 19 Agustus 2017

Braga 2017, Bonus Lari Pagi

Postingan pertama blog ini tentang Braga, tepatnya tentang Braga Permai, sebuah restoran yang sudah ada sejak jaman Belanda. Posting pertama saya itu ditulis tahun 2008, kira-kira 9 tahun yang lalu. Keadaan Jalan Braga saat itu dan sekarang jauh beda banget. Dulu banyak bangunan-bangunan tua disepanjang Braga yang tidak terurus, sekarang sudah di make-over jadi cantik dan rapi. 

Tahun 2009 saya sebenarnya balik lagi ke Braga, waktu itu ngajak kawan saya, Carly dari Australia jalan-jalan naik becak dari Naripan ke Braga. Waktu itu juga bangunan-bangunan tua sepanjang jalan itu masih kusam tak terurus. Keadaan mulai tampak beda sejak saya kembali ke Braga beberapa tahun kemudian, kayaknya  sekitar 2014 atau 2015. Waktu itu saya janjian ketemu sama Mami bule Norwegia untuk pertama kali hingga setelahnya saya sempat menemani beliau setiap ada urusan pekerjaan di Indonesia. Beliau menginap di Fave Hotel Braga waktu itu, terus kami menyebrang makan di Braga Permai. Nah saat itu mulai tampak rapi.

Minggu lalu saya ada urusan pekerjaan ke Bandung, pergi sendirian. Karena perjalanan Jakarta-Bandung akhir-akhir ini sangat melelahkan akibat kemacetan menggila di Cikampek maka saya niat mau menginap semalam. Lihat di website booking hotel, ternyata Hotel Fave Braga ratenya lumayan, reasonable. Langsung saja saya booking. 

Ini pengalaman pertama saya menginap di Jl. Braga Bandung layaknya turis. Selesai rangkaian meeting di Bandung saya sempat mampir ke salah satu kenalan saya yang buka pop-up cafe di kawasan buah batu bandung, Brewang Cafe. Baru agak malam saya ke Braga. 

Fave Hotel adalah salah satu budget hotel yang fasilitasnya lengkap, kalau buat saya yang penting ada pemanas air di kamar untuk bikin kopi. Sebenarnya saya mempertimbangkan dua hotel budget di kawasan Braga sebelum booking Fave, salah satunya juga chain hotel terkenal. Tapi akhirnya saya pilih Fave karena dengan rate yang tidak jauh beda, yang satu lagi kamarnya lebih menyedihkan, kamar mandinya tidak pakai ruangan, hanya kapsul dan tidak ada televisi.

Saya sempat cek daftar menu makanan yang ada di kamar, harganya gak mahal loh, wajar banget. Tapi karena letaknya di dalam mall Braga Citywalk, keluar sedikit juga banyak makanan. Ada KiosK, Starbuck, Wendy's. Di sepanjang jalan braga juga banyak tempat makan dan nongkrong yang baru, Warung Nasi Ce'Mar juga buka cabang di Jl. Braga.

Setelah check-in saya langsung ganti kostum celana pendek dan jalan menyusuri Braga hingga ke Jl. Asia-Afrika. Sempat pangling lihat Alun-Alun yang juga sudah di make-over. Atas nama kenangan masa muda saya memutuskan makan malam di warung Ce'mar lokasi lama. 

Braga

Alun-alun Bandung

Warung C' Mar
Paginya saya janjian sama senior saya waktu kuliah, Mba Dini, lari pagi keliling Braga. Bukan hanya saya yang punya pikiran begitu, banyak juga orang yang olahraga disekitar kawasan Braga dan Asia Afrika, padahal waktu hari kerja, bukan weekend. Ternyata pagi-pagi disitu masih dingin loh. 

Saya bisa lihat fenomena sadar hidup sehat makin marak akhir-akhir ini. Beberapa tahun lalu kalau saya ingat-ingat jarang banget lihat orang pakai baju olah raga berkeliaran di jalanan. Waktu awal saya mulai lari lagi kayaknya orang yang lari-lari di komplek cuma saya doang, ada sih opa-opa yang suka papasan lagi jalan pagi. Tapi sekarang komplek rute lari saya kalau sabtu dan minggu pagi ramai orang olahraga. Begitu pula di taman belakang kantor, dulu banyaknya opa-opa dan oma-oma aja, sekarang ramai banget sampai larinya harus zig zag. Senang saya lihatnya, jadi makin semangat berolahraga.

Rute lari

Bandung bukan cuma masalah geografis

Minggu, 04 Juni 2017

Cihampelas Skywalk

Bandung...Bandung...Bandung

Selalu saja ada terobosan-terobosan baru yang mengundang orang untuk berkunjung ke Parisnya Java tersebut. Saya ingat waktu saya kecil Bandung terkenal dengan pusat wisata belanja jeans di Cihampelas dan wisata belanja sepatu kulit dan tas kulit di Cibaduyut. Kemudian jaman saya kuliah disana trend beralih menjadi pusat wisata belanja Factory Outlet dan wisata kuliner. 

Sekarang walaupun era Factory Outlet sudah menurun drastis tapi saban weekend dan hari libur lainnya Bandung senantiasa ramai oleh wisatawan. Mungkin sekarang trendnya lagi wisata alam-alaman di sekitar Kota Bandung seperti ke Lembang, Ciwidey dan Dago. 

Sejak Pak RK jadi walikota, kota ini jadi makin unik, didandanin macem-macem. Salah satu yang lagi jadi tren adalah Cihampelas Skywalk atau bahasa Indonesianya Teras Cihampelas. Bangunan ini semacam jembatan selebar jalan yang membentang sejauh 450 meter diatas Jalan Cihampelas. Diatasnya ada taman-taman kecil, tempat duduk, kios-kios yang menjual makanan dan cinderamata. 

Beberapa waktu lalu saya ke Bandung untuk urusan pekerjaan saya sempatin untuk singgah. Waktu itu saya belum tahu pasti apa yang ada diatasnya, paling hanya lihat foto-foto instagram orang. Saya juga belum tahu lokasinya. Jadi waktu itu saya ke Bandungnya naik travel, gak bawa mobil sendiri. Sehabis meeting sama klien di daerah Pasteur, saya naik angkot sampai Cihampelas. Tapi angkot yang saya tumpangin tidak ke arah Cihampelas, saya harus ganti angkot di persimpangan gadog. Karena saya belum tahu letaknya, jadi saya putuskan jalan kaki saja sepanjang Cihampelas, ternyata lumayan jauh. Lewatin Rumah Sakit Advent kalau dari arah gadog. 

Struktur Cihampelas Walk tersebut benar-benar menaungi jalan raya, mobil-mobil lewat dibawahnya. Saya kesana di hari kerja siang-siang, jadi gak lihat macet. Saya jalan-jalan aja diatasnya. Lucu juga. Warna warni dan banyak tanaman, mudah-mudahan dirawat dengan baik supaya gak cepat kusam. Saya sempat makan siang batagor diatas situ. Yang paling penting, saya sudah tidak penasaran lagi. 




Jumat, 23 Desember 2016

Four Points by Sherraton Bandung

Saya menginap di hotel ini karena faktor kebetulan waktu lagi ke Bandung urusan kerjaan. Beberapa waktu lalu saya kedatangan tamu dari luar negeri yang berencana mau mengerjakan proyek di Indonesia, lokasinya kebetulan di sekitar Bandung. Jadi setelah ketemu saya di Jakarta, mereka berangkat ke Bandung duluan. Saya masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal di Jakarta, maka saya menyusul mereka keesokan harinya. 

Awalnya mereka hanya bilang menginap di Hotel Sherraton di Dago. Saya langsung menuju Hotel Sherraton di kawasan Dago Atas. Beberapa kali saya menginap disana karena salah satu hotel favorit saya, walaupun sejak di renovasi saya belum sempat menginap disana lagi. Ketika sudah dekat Hotel Sherraton saya dapat sms kalau mereka ada di Hotel Sherraton yang baru, bukan yang lama. Bandung itu memang pertumbuhan hotel barunya luar biasa, kayaknya tiap minggu ada hotel baru disana. Saya waktu itu baru tahu kalau ada lagi Hotel Sherraton lain di Dago. Ketika tanya sama security di depan gerbang Hotel Sherraton, saya diarahkan ke Four Points hotel by Sherraton yang ada di sebelah Dukomsel.

Lokasi Four Points merupakan lokasi yang bersejarah untuk saya karena jaman dulu pernah kecopetan handphone dalam angkot persis di depan jalan itu. Letaknya bersebelahan dengan Superindo Dago, bersebrangan dengan Plaza Dago, jadi sangat strategis. Gak jauh juga dari jajaran Factory Outlet di Jl. Riau atau Distro gaul di Jl Trunojoyo - Jl Sultan Agung. Saya juga baru sadar kalau tiba-tiba ada bangunan tinggi disitu. Seingat saya, sebelumnya itu adalah bangunan rumah tua yang digunakan Bank Niaga. 

Hotelnya tampak masih baru banget, pintu gerbang exitnya saja belum selesai dikerjakan. Paling depan bukan lobby hotel, melainkan pintu masuk cafe dan restoran. Lobbynya ada disebelah belakang restoran. Saya suka desain interior hotel yang simple tapi chick, didominasi warna putih jadi walaupun sebenarnya tidak terlalu luas tapi kesannya tidak sempit. Petugas resepsionis sangat ramah dan sangat membantu ketika saya berusaha menghubungi rekan kerja saya yang ternyata handphonenya ditinggal di kamar sementara mereka ngobrol di restoran hotel tempat breakfast. 





Saat itu saya belum berencana menginap di Bandung, karena pinginnya setelah urusan survei lapangan selesai, saya mau langsung pulang ke Jakarta. Ternyata survei lapangan sampai sore sekali, malamnya masih ada janji makan malam dan keesokannya ternyata kami ditunggu di suatu tempat juga di Bandung. Jadi dengan sepatu dan celana belepotan lumpur, muka kucel bau keringat, saya menghadap resepsionis - yang masih sangat ramah, dan menanyakan rate kamar - dijawab dengan ramah dan sangat membantu, jadi saya langsung check-in saat itu juga. Kalau punya Member Starwood Preferred Guest bisa dapat point disini.

Kamarnya cukup luas dan desainnya juga simple dan chick, dominasi warna putih. Saya suka karena kesannya jadi terang dan bersih. Yang keren adalah di kamar ada dock iPhone untuk iPhone 5 dan 6, tapi karena iPhone saya masih tipe 4s jadi tidak bisa dipakai disitu.  Menu breakfastnya juga bervariasi, ada lokal dan western, standar hotel bintang 4. Sayangnya saya tidak sempat menikmati semua fasilitas disana karena waktu yang terbatas, padahal kalau lihat difoto, pool areanya keren di rooftop. Saya pasti akan balik lagi ke Four Points kalau ada kesempatan. 

Pagi harinya ketika akan keluar dari parkir, saya lupa minta cap bebas parkir di resepsionis. Harusnya saya bayar parkir, tapi penjaga parkir sangat helpfull dan memperbolehkan saya lewat tanpa bayar walaupun tiket saya belum di cap, katanya dia akan bantu mengurusnya. Ketika dikirim e-mail kepuasan pelanggan saya harus kasih poin sangat puas atas keramahan staffnya.

Alamat:
Four Points Hotel By Sherraton
Jl. Ir. H. Djuanda No.46 (Dago)
Bandung
www.fourpointsbandung.com

Selasa, 07 Juni 2016

Lari di Taman Hutan Raya Djuanda Dago

Setelah usaha pertama kali untuk lari di Taman Hutan Raya Dago ini gagal karena digagalkan oleh hujan badai, usaha kedua kali cukup sukses. 

Cerita usaha yang pertama kali dulu. Mengikuti ambisi kami untuk mencoba rute-rute baru dan menantang untuk kegiatan lari-lari lucu, saya bersama nico dan grace pergi ke Bandung untuk mencoba lari di Taman Hutan Raya Dago. Kebetulan paginya kami ada urusan pekerjaan di Bandung, jadi sorenya direncanakan untuk lanjut olahraga di Dago. Persiapan sudah maksimal. Kami akan lari dari Dago sampai ke air terjun Maribaya Lembang mengikuti trek Tahura.

Sebenarnya Tahura Djuanda Dago bukan hal asing buat saya. Waktu kuliah di Bandung saya pernah kontrak rumah di daerah Dago Atas dan kalau hari minggu pagi sering jalan kaki ke Tahura. Dari dulu disitu memang sudah banyak orang olahraga. Tapi kalau jalan dari Dago sampai Maribaya Lembang, saya baru satu kali melakukannya bareng sama kawan-kawan kuliah saya. Waktu itu rasanya super jauh, jaraknya seperti infinity and beyond. Setiap ketemu orang dari arah berlawanan pasti selalu tanya: masih jauh ga air terjunnya? masih jauh ga? masih? 

Pada akhirnya kami sampai ke air terjun Maribaya yang konon katanya mirip air terjun niagara di amerika, ya saya sih percaya aja, lah wong belom pernah ke amerika. Pulang dari air terjun saya dan kawan-kawan charter angkot Lembang yang kotak warna kekuningan, kami waktu itu ber-20 masuk didalam satu mobil angkot, sampai ada yang duduk di lantai angkot karena ga kebagian kursi, barengan sama ban serep. 

Urusan kerjaan saya, nico dan grace sudah selesai siang-siang, setelah makan siang kami putuskan akan nunggu sore langsung di Dago. Kebetulan dari hasil browsing internet ada cafe asik yang berada di dalam kawasan Tahura. Jadi bisa ngopi-ngopi dibawah naungan pepohonan. Cuaca saat itu memang sudah tampak sedikit mendung, tapi kami tetap optimis. Tepat ketika memasuki parkiran Tahura hujan turun rintik-rintik. Hujan semakin deras diikuti angin kencang dan petir bersahutan ketika kami sedang duduk  manis menanti pesanan kopi dan pisang goreng. 

Angan-angan ngopi cantik sambil foto-foto dengan latar pepohonan buyar diganti oleh ngopi dibawah kanopi diantara tetesan air hujan yang masuk dari celah kanopi, berdesakan ditempat yang lumayan kering bersama pengunjung lain, sambil minum kopi yang campur-campur dikit sama percikan air hujan. Tapi kami tetap optimis, hujan akan reda, dan kami akan lari.




Hujan baru reda ketika sudah sore banget, sekitar jam setengah 5. Itu pun tidak berhenti total, masih ada rintik-rintik. Gak jadi lari, kami tetap memutuskan mau jalan untuk survei trek larinya. Di papan penunjuk ada keterangan air terjun Maribaya hanya berjarak 5km, kami jalan mengikuti arah penunjuk itu hingga lewat di depan Goa Belanda. Goa buatan Belanda jaman sebelum kemerdekaan ini pernah jadi lokasi uji nyali, waktu itu yg di uji melambaikan tangan ke hadapan kamera setelah beberapa jam ditinggal di dalam goa itu.

Jalan setapak di belakang Goa Belanda tergenang air sehingga kami jalan becek-becekan. Grace saat itu pakai sepatu sandal terbuat dari karet yang ada haknya, karena itu Grace jalan pelan banget karena licin. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang, saya mengajak Grace untuk lepas sepatu dan menjalani sisa perjalanan tanpa alas kaki alias nyeker.

Kesempatan untuk lari di Tahura Dago datang saat saya mengantar adik dan kawan-kawannya ke Bandung. Kami menginap di Wisma Joglo di daerah Dago yang dekat banget sama Tahura. Walaupun sore hari hingga malam waktu kami datang hujan deras tapi paginya cuaca cerah. Saya sampai di Tahura jam setengah 7, masih sepi. Saya lari mengikuti trek hingga sampai di air terjun Maribaya kemudian balik lagi. 

Saya sengaja mematikan musik yang biasa saya pasang kalau lagi lari, sebagai gantinya saya bisa dengar suara burung, gemericik air sungai yang mengalir sepanjang trek menuju Maribaya, suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Udara yang saya hirup sangat ringan dan segar, ketika lewat di deretan warung-warung jagung bakar saya bisa menghirup aroma kayu yang baru dibakar di tungku. 

GPS hanya saya nyalakan di jalan pergi ke air terjun, waktu pulang tidak saya nyalakan lagi. Sempat belok ke penunjuk arah batu dayang sumbi, tapi jalurnya tidak jelas, saya malah ketemu jalan buntu yang ujungnya jurang. Kemudian saya balik lagi ke jalur utama dan belok ke arah penangkaran rusa. Untuk ke penangkaran rusa melewati semacam bendungan kecil kemudian sampai di satu kandang besar yang berisi banyak rusa.

Dari Tahura sampai Maribaya

Penangkaran Rusa
Saya makin merasa kondisi fisik saya sekarang jauh lebih baik daripada waktu jaman kuliah. Beberapa tahun lalu saya mana kuat lari lebih dari 2 km. Jalan kaki aja di trek menanjak seperti di Tahura ini pasti sudah ngap-ngapan. Sekarang saya bisa lari nyaris sepanjang trek kecuali di tanjakan yang parah tinggi banget, pulangnya masih bisa lari lagi walaupun cenderung lebih mudah karena banyak turunannya. 

Boleh dibilang ini hasil dari olah raga teratur dan perubahan gaya hidup terutama makanan. Klise sih kesannya kalo ngomong begini, walaupun easy to say tapi pas melaksanakannya permulaan berat banget. Sekarang sudah jadi kebiasaan, jadi sudah otomatis melakukannya, tidak ada beban sama sekali. Yang signifikan banget dari perkembangan ini adalah sudah 3 tahun lebih saya ga pernah sakit, bahkan sakit flu aja gak pernah lagi padahal dulu sering banget.

Kamis, 26 Mei 2016

Rejeki Nomplok Dalam Wujud Upgrade Kamar Hotel

Belum lama ini saya, adik bungsu dan kawan-kawannya jalan-jalan ke Bandung pas weekend. Booking dua kamar di Wisma Joglo, daerah Dago Atas. Saya pernah cerita tentang Wisma Joglo di postingan sebelumnya. Karena saya suka lokasi dan suasana hotelnya, saya langsung pesan tempat disitu lagi. Pagi harinya saya sempatin bangun subuh dan lari pagi di Taman Hutan Raya Dago tidak jauh dari situ, akan saya ceritain besok-besok yah.  

Waktu itu dari siang hujan deras di Bandung, saya sendirian di kamar lagi nonton tv sambil makan pop mie rasa baso pakai chitato rasa indomie goreng. Padahal rencananya sore itu saya mau naik ojek dari depan Wisma Joglo ke Tebing Keraton, lumayan dekat kalau dari situ. Tapi karena hujan deras rencana tersebut batal, dan hingga saat ini saya belum pernah tuh ke Tebing Keraton. Hiks. Adik saya dan kawan-kawannya lagi kumpul di kamar seberang. 

Tiba-tiba AC kamar saya mati dan mengeluarkan bau hangus. Saya segera panggil petugas hotel, dia segera menelpon teknisi untuk perbaiki AC. Hingga lewat Magrib teknisi yang ditunggu tidak kunjung datang, kemungkinan karena hujan makin deras dan tidak berhenti sejak siang. Kebetulan karena hujan udaranya dingin secara alami, jadi saya tidak merasa sumpek karena AC tidak menyala. Saya santai aja dalam kamar sambil nonton tivi menunggu tukang service AC datang.  

Saya rencana mau tanya lagi ke reception pas jam 7 malam tapi saya keduluan. Sebelum jam 7 malam petugas hotel menelpon saya ke kamar dan berinisiatif menawarkan kamar ganti. Ternyata kamar tipe Deluxe seperti yang saya tempati itu sudah full semua, ada kamar standard yang rate nya dibawah kamar deluxe. Akhirnya mereka menawarkan kamar saya di upgrade ke kamar suite. Gak pakai tunggu 5 detik saya langsung tutup telpon, beresin barang-barang saya dan menentengnya menuju lobby.

Kamar Suite Wisma Joglo tidak terlalu mewah tapi luas banget dan nyaman. Ada ruang tamu dan dapur sendiri! Lengkap sama kompor, peralatan masak, meja makan dan peralatan  makan. Di dalam kamarnya ada pintu ke balkon. Di ruang tamunya selain pintu masuk dari lorong hotel juga ada pintu belakang yang keluar ke teras yang ada taman kecilnya. Asiknya lagi adalah saya tetap dicharge pakai rate kamar Deluxe. 

Kamar Suite di Wisma Joglo
Ini kedua kalinya saya dapat upgrade ke kamar yang mewah. Beberapa tahun lalu saya pernah booking Standard Room di Novotel Bogor. Waktu itu belum pakai website booking hotel, masih manual telpon ke hotelnya untuk reservasi. Ternyata ketika saya datang disana mau check-in, nama saya ada terdaftar di sistem booking, anehnya kamarnya yang penuh. Waktu itu katanya sedang ada acara pelatihan kantor sehingga kamar tipe Standard yang saya reservasi dua minggu sebelumnya penuh. Bahkan kamar tipe Superior juga penuh. Tinggal sisa kamar Deluxe dan Suite yang ratenya lebih mahal. 

Karena manajemen hotelnya baik dan mungkin merasa tidak enak karena saya sudah jauh-jauh sampai di Bogor, kamar saya di upgrade ke tipe Deluxe. Mereka minta maaf karena kesalahan teknis tersebut dan saya bayarnya tetap pakai rate kamar yang saya reservasi sebelumnya, padahal saya gak minta loh. Saya bahkan dapat voucher potongan harga untuk Spa-nya, yang langsung saya gunakan sore itu juga. 

Kamar tipe Deluxe-nya luas, dari pintu masuk ke pintu teras jaraknya bisa 3 kali koprol. Kejutannya adalah, pas saya buka pintu teras ternyata ada bathtub gede banget. Iya. Bathub di teras.

Minggu, 22 November 2015

Lawangwangi dan Gubug Mang Engking

Belakangan saya memang jadi sering mondar-mandir jakarta - bandung karena ada urusan pekerjaan. Nah seringnya yang terjadi adalah urusan kerjaan selesainya sebentar saja, yang bikin lama nyangkut di Bandung urusan nongkrong dan makan (dan biasanya ada unsur-unsur nostalgia sih). 

Seperti belum lama kemarin saya ke bandung untuk urusan pekerjaan, sengaja menyempatkan diri mampir di Yoghurt Cisangkuy dan makan siang di Gudeg Banda. Saya baru tau kalau sate ayam yang dulunya dijual sama nenek-nenek yang pakai gendongan di depan toko yoghurt cisangkuy sudah naik derajat pakai gerobak modern yang bagus. Si nenek kemana ya? Jangan-jangan lagi leyeh-leyeh di pinggir kolam renang di rumah mewahnya, hasil dari usaha sate ayam yang sukses.

Makanan jajanan saya jaman dulu banyak yang masih belum berubah, harganya juga relatif masih pada terjangkau. Tapi ada juga yang bikin syok, kayak kemarin banget kawan saya jajan Cireng Cipaganti di Cipaganti. Pas selesai sempat kaget karena perasaan gak beli banyak tapi total belanjanya bisa sampai sembilan puluhan ribu rupiah. Beli cireng 20rebu di belakang kantor saya bisa dapet dua kantong plastik. Udah gitu cireng nya tipis-tipis dan bulatannya kecil banget.

Yang saya mau cerita sekarang ini kejadiannya sudah lama sih, sekitar bulan lalu, sebelum makan gudeg banda dan cireng mihil bingits itu. Saya bertiga dengan chacha dan nico ada janji ketemu sama Pak Made yang ada di cerita Mendadak Bali Part 2. Kami bertiga sampai di Bandung kepagian, karena janji sama Pak Made baru jam 10 akhirnya kami memutuskan sarapan di Kiosk Setiabudi, saya sarapan Kupat Tahu Gempol disitu. 

Selesai urusan kerjaan sama Pak Made ternyata masih siang, mumpung lagi ada di Bandung pas weekday jadi kesempatan buat kami ke tempat-tempat happening di Bandung yang kalau weekend ramai sama orang jakarta. Lawangwangi adalah salah satu tempat yang lagi seliweran di sosial media, tempat itu yang jadi tujuan kami di siang menjelang petang sambil ngopi dan ngemil cantik.

Lokasi Lawangwangi terletak di Dago Giri, jalan di dago yang menuju arah Lembang. Jadi lewatin Terminal Angkot Dago sedikit sebelum jembatan jalannya terbagi dua, yang jalan lebih besar agak lurus ke atas itu ke arah Dago atas (cafe-cafe seperti siera, the valley, congo etc). Kalau mau ke Lawangwangi ambil yang jalan di kiri, lebih kecil dan sedikit menurun, dari situ lurus-lurus aja ikutin jalan besar nanti tempatnya ada di sebelah kanan.

Selain cafe, di Lawangwangi juga ada art gallery. Ikon dari tempat ini adalah lookout point buat melihat pemandangan yang bentuknya mirip dermaga, dari situ bisa melihat kebun-kebun sayur dan hutan pinus yang sepertinya merupakan bagian dari hutan raya Ir. H. Djuanda. Dari segi arsitektur tempatnya bagus banget, tapi saya kurang betah lama-lama akhirnya memutuskan cari tempat makan lain.

Instagramable lookoutview

Pemandangan hutan pinus dan petak-petak kebun sayur

Dari Lawangwangi kami niat cari makanan sunda, walaupun belum tahu akan kemana kami memutuskan ke arah Lembang. Di jalan menuju Lembang muncul ide buat makan di Gubug Mang Engking. Sebenarnya restoran khas sunda ini juga ada di Jakarta, tapi kami belum pernah cicipin masakan sunda disana yang katanya terkenal sama hidangan udang galahnya. 

Walaupun tiba di Gubug Mang Engking sebelum magrib dan masih terang, tapi udaranya sudah dingin sekali. Bikin tambah lapar. Ditambah kami duduk di atas saung yang terletak di atas danau, makin tiris euy. Nah kalau di Gubug Mang Engking ini saya betah lama-lama. Saya memang suka tempat-tempat yang close to nature, pake bambu-bambu, liat pohon-pohon dan daun-daunnya, dengar suara gemericik air, diterpa angin sepoi-sepoi, bawaannya kepingin selonjoran sambil sarungan. 

Kami memesan set menu yang terdiri dari nasi, udang galah bakar madu, gurame, tumis kangkung dan teh botol yang kami minta ganti sama teh hangat. Udang bakar madunya terlalu manis kalau buat saya, tapi gurame nya enak karena pedas sesuai dengan selera saya nyaammm. Gak pakai lama hidangan itu ludes kami garap bertiga. 

Gubug Mewah Mang Engking

Di bawah meja langsung air, hati2 sama HP jangan sampe jatoh ya


Ludesssss

Minggu, 30 Agustus 2015

Instagrammable: Dusun Bambu

Gara-gara penasaran sama istilah instagrammable, saya dan kawan-kawan pergi ke Dusun Bambu yang terletak di daerah Lembang, Bandung. 

Untuk pergi ke Dusun Bambu jalan yang dilalui sama dengan jalan ke Sapu Lidi, Kampung Daun, Kampung Gajah, Maja House, lurus-lurus saja ikuti petunjuk, lokasinya lebih jauh masuk ke dalam. Agak kaget juga sih lewat jalan itu karena jaman saya masih kuliah di Bandung beberapa tahun yang lalu, daerah itu masih sepi, sekarang sudah ramai dan padat.

Saya, Chacha dan kawan-kawan pergi kesana hari Sabtu, harinya jalan-jalan bersama keluarga. Kami rombongan jomblo nista bahagia berusaha keras berbaur diantara rombongan keluarga yang umumnya terdiri dari ibu, bapak, anak-anak kecil/remaja, dan kakek nenek di tempat rekreasi yang memang diperuntukan untuk keluarga. 

Di pintu gerbang masuk lokasi kami bayar tiket masuk yang setelah pulang bisa ditukar dengan sebotol air mineral atau tanaman di polybag. Di lobby Dusun Bambu, ada mobil odong-odong yang mengantar pengunjung ke lokasi-lokasi yang ada di dalam kawasan wisata itu. Saya dan sebagian kawan memutuskan jalan kaki menyebrang jembatan kayu melintasi sebidang kecil sawah yang ada di situ. Sementara Chacha dan sebagian kawan yang malas jalan kaki naik odong-odong. Kami bertemu lagi di lokasi utama yang jadi daya tarik Dusun Bambu, yaitu ruangan bentuk sarang burung yang instagrammable.

Kita bisa memesan makan siang dan makan di dalam 'sarang burung' itu, tapi bayar sewa ruangannya beda lagi per jam. Saya dan kawan-kawan hanya foto-foto di depannya, seperti yang kebanyakan dilakukan pengunjung di situ. 

Karena ramai sekali ambil fotonya harus antri dan gantian kalau tidak mau ada orang asing masuk ke frame foto kita. Jalan setapak berupa jembatan yang menghubungkan 'sarang-sarang burung' yang hanya selebar dua orang itu pun ramai sekali oleh pengunjung yang lalu lalang, perlu sedikit desak-desakan.

Setelah itu kami jalan menuju ladang bunga-bungaan mencari udara segar sambil foto-foto. Disini banyak pasangan yang berusaha selfie berdua bikin foto romantis diantara bunga-bungaan. Karena kami jomblo yaaaa jadi selfie sendiri aja.

Foto di ladang bunga yang instagrammable

Gak lama kami narsis di ladang bunga hujan rintik mulai turun, kami pindah ke area foodcourt. Seperti kebanyakan area foodcourt jaman sekarang, yang sebenarnya menurut saya gak efektif, disini belanjanya ga bisa langsung bayar ke counter-counter melainkan harus menukar kupon/kartu/uang-uang-an di loket untuk dibelanjakan ke gerai yang kita mau. 

Di Dusun Bambu bentuknya uang-uang-an, terdiri dari pecahan 100 ribu, 50 ribu, 10 ribu dan 5 ribu. Sesuai dengan nilai uang rupiah yang kita tukar di loket dengan uang Dusun Bambu yang kita gunakan di gerai. Gerai nya akan mengembalikan dengan pecahan uang Dusun Bambu yang nilainya sesuai dengan nilai rupiah. Saya paling males sama sistem kayak gitu, menurut saya tidak efisien karena harus antri dua kali (waktu tukar uang dan sewaktu belanja di gerai) dan lebih males lagi kalau ternyata uang rupiah yang kita tukar diawal yang tidak habis dibelanjakan tidak bisa ditukar lagi. 

Selain tempat makan dengan bentuk 'sarang-sarang burung' ada juga tempat makan lesehan di gubug yang terletak di sebrang danau, tapi kami tidak menyebrang danau. Konon katanya di dalam area Dusun Bambu juga ada penginapan (resort) dan ada perkemahan ekslusif. 

Tempat makan lesehan di seberang danau

Ada sungai-sungaian

Dari kunjungan ke Dusun Bambu ini saya menyimpulkan artinya instagrammable itu adalah bagus buat di posting di instagram, yang kalau kita kesana lihat aslinya harus siap andaikata gak sebagus yang kita lihat di instagram. Overall tempat ini lucu dan seru juga sih buat jadi alternatif tempat wisata keluarga.... ingat ya, keluarga.  



Rabu, 24 Juni 2015

Menempuh Jalan Terjal Berliku Menuju Cafe D'Pakar


Hari ini sudah lewat 80ribu kilometer yang saya lalui bersama Blue On, city car mungil 1300cc Matic berwarna biru muda seperti warna langit yang cerah, warna favorit saya. Banyak orang menyamakan warna Blue On dengan warna taksi Blue B*rd yang banyak berkeliaran di jalan, bahkan saat hujan tak jarang para pejalan kaki di pinggir jalan yang sedang menunggu taksi melambai-lambaikan tangan ke arah saya dan Blue On. 

Karena warna mobil saya yang terlalu shocking dan langsung melekat di benak orang yang melihatnya, jadi banyak kawan saya yang ingat sama warna mobil saya tersebut. Di suatu malam ketika saya lagi hang-out di Citos, tiba-tiba ada notifikasi tag di facebook, teman saya posting foto dua mobil - Blue On dan mobilnya. “Parkir di sebelah mobil lo, nih” captionnya. Padahal teman saya yang nge tag di facebook itu juga kebetulan banget ke Citos juga dan dapat parkir sebelah mobil saya, bukan karena janjian.

Hampir 6 tahun saya dan Blue On mengarungi jalanan ibukota, pinggiran kota hingga berpetualang ke luar kota. Image citycar  warna biru ceria dan Mila sepertinya sudah melekat di benak kawan-kawan saya. Suatu hari saya di telpon sama salah satu kawan yang sudah lama tidak berhubungan, 

“Mil, ini mobil lo kayaknya di depan gw. Lo lagi di daerah menteng ya?”

“Ha? Gw lagi di kantor nonton youtube One Direction.”

“Lah ini bukan elo? Warnanya kayak mobil lo banget.”

“Mobil apaan?”

“J*zz.”

“Yeee bukan kaliiii.. mobil gw s*r*on.”

Bulan lalu saya merasa sangat bangga dengan Blue On kesayangan saya.

Saya, Chacha, Anissa (adik bungsu) dan Blue On ke Bandung untuk menghadiri pernikahan salah satu teman kuliah. Pulang kondangan saya penasaran kepingin ke suatu tempat bernama Café D’Pakar yang sehari sebelumnya saya lihat diposting oleh kawan saya di Path.

Di perjalanan menuju daerahnya saya menelpon kawan saya tersebut untuk menanyakan lokasinya, “lo ke arah Hutan Raya Dago Pakar, masih lewatin itu terus ke arah Tebing Keraton.  Jalannya susah sih, tapi ya bisalah….”

Waktu dia bilang “susah” saya gak kepikiran kalau jalan yang dilalui bakal offroad dan menanjak curam. Sampailah kami di jalan yang tampaknya membelah Hutan Raya, di kiri kanan banyak tulisan “Dilaran Berburu”. Nyaris saja saya memutuskan putar balik karena ke depannya jalan semakin mengerikan, menanjak, banyak belokan, tanah merah yang becek, dan berlubang-lubang. Saya ngeri mobil saya selip di tengah hutan.

Tapi masa sudah sampai sejauh itu mau balik arah. Akhirnya dengan penuh harapan saya putuskan tetap melanjutkan perjalanan menanjak.

Akhirnya sampai juga di jalan yang pinggir kirinya ada beberapa mobil parkir. Saya memutuskan parkir paling belakang dan Chacha turun untuk melihat apakah benar di ujung parkiran ada café.

Untungnya benar.

Sampai juga kami dan Blue On di Café d’Pakar.







Jalan pulang dari Cafe D'Pakar

Pilihan makanan dan minumannya memang tidak banyak, tapi tempatnya bagus sekali dan harganya cocok untuk kantong mahasiswa. Saya emang udah lama ga jadi mahasiswa sih tapi tampang dan kantong masih belum berubah dari jaman itu sih.

Pulangnya perjalanan lebih menantang. Memang jalannya menurun, tapi tetap saja karena becek ngeri selip. Sementara itu kendaraan yang naik ke atas semakin banyak, sehingga kami kadang terpaksa harus berhenti melipir di pinggiran jurang. Alhamdulillah, Blue On berhasil melalui itu semua dengan mulus. Saya benar-benar bangga sekali. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...