Tampilkan postingan dengan label Kamboja - Pnom Phen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kamboja - Pnom Phen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2011

Tuk-Tuk Mr. Marley

Kalau di Jawa ada delman, di Sulawesi ada Bentor nah di Kamboja dan Thailand ada yang namanya Tuktuk. Kendaraan ini semacam delman tapi bukan ditarik kuda, melainkan ditarik motor. 

Pertama kali saya naik Tuk-tuk di Kamboja, tepatnya di kota Pnom Phen waktu perjalanan HCMC-PP bersama Cipu & Mba Vonny. Yang berkesan buat saya justru adalah si pengemudi Tuktuk yang memperkenalkan dirinya sebagai Marley. Bukan Bob Marley, tapi So Marley.
 
Takdir membawa saya, Cipu & Mba Vonny bertemu dengan So Marley di malam hari dibawah hujan rintik-rintik saat kita bertiga baru saja menempuh perjalanan 7 jam dari Ho Chi Minh dengan Bus Capitol. Sebelum Bus sampai di tempat pemberhentian terakhir, Cipu menanyakan alamat hostel yang telah kita booking ke pegawai Bus Capitol yang kemudian mengenalkan kita kepada So Marley, si supir Tuktuk. 


Pegawai Capitol (baju biru) mengantar kita bertiga naik ke tuktuk So Marley
Naik Tuktuk pertama kali, foto duluuuuu
Entah karena ada suatu chemistry diantara kita atau memang karena So Marley jenis orang yang gampang akrab sama orang asing, baru ketemu aja rasanya kita kayak long lost friend yang udah lama kenal gitu. Tanpa ragu-ragu So Marley pun ikut bergaya di depan kamera ketika kita berfoto di atas tuktuk nya. Hal ini membuktikan bahwa "narsis" bukan hanya mewabah di Indonesia.

Yang membuat kita sangat merasa lega karena So Marley bahasa Inggris nya canggih banget. Walopun logatnya medok-medok trus pake kuah gitu tapi lumayanlah. Dibandingin HCMC, yang sama supir taksi aja bisa ga nyambung karena beda bahasanya. Sampe-sampe Cipu nyaris dibuat mewek gara-gara sebuah City Hall.

Sepanjang perjalanan Mr. Marley terus berceloteh dengan bahasa Inggris nya yang dakdukdakduk penuh keceriaan, padahal waktu itu udah malem banget, tapi semangat nya Mr. Marley ga ikut terbenam sama matahari deh kayaknya *tsah bahasa gueeee*. Apa sih yang di celotehin? 

Ya mengenai objek-objek wisata yang ada di Pnom Phen dan sekitarnya. Malahan di Tuktuk nya di tempel tuh daftar objek-objek wisata yang ada di kota itu berikut nomor HP nya So Marley. Barulah saya ngerti kalo supir Tuktuk di sana itu merangkap jadi Tour Guide juga. Malahan menurut So Marley, para supir tuktuk dan pedagang-pedagang di sana di kasih pelatihan bahasa Inggris gratis sama pemerintahnya untuk memajukan sektor pariwisata gitu.


Daftar menu objek wisata

Setelah melalui perjalanan yang cukup mengerikan dan berkali-kali lolos ukuran senti dari tabrakan karena So Marly cerita-cerita sambil nengok-nengok ke kita-kita (yang ada di belakang), akhirnya sampe juga dengan slamet ke hostel. Terkena rayuan maut Mr. Marley, akhirnya kita bertiga sepakat untuk menggunakan jasa tuktuk nya mengantarkan kita keliling ke tempat-tempat wisata di Pnom Phen. Dia pun berjanji menjemput kita jam 8 Pagi keesokan harinya,

See you tomorrow Mr. Marley

Keesokan hari nya So Marley datang tepat waktu, sebelum jam 8 dia udah nongkrong di depan hostel kita. Seharian dia antar kita keliling-keliling ke Wat Pnom, Royal Palace, Russian Market dan mengantar kita lagi ke hostel sore harinya. Bahkan dia juga yang menjemput kita lagi pagi hari nya dan mengantar kita ke pool Bus Capitol untuk kembali ke HCMC.

Seru juga sih sewa tuktuk seharian buat keliling gitu, malahan saya recommended banget cara ini. Lebih Praktis. Apalagi kalo dapet supir tuktuk yang lucu kayak Mr. Marley, denger dia ngomong aja kita udah ngakak-ngakak. Yang paling bikin saya ga bisa lupa sama Mr. Marley ya karena keramahan nya dan perhatiannya. Pokoknya dia tanggung jawab banget deh, ga ngebiarin kita-kita sampe nyasar. Selalu ngejelasin tentang lokasi pintu masuk dan pintu keluar, dan setia nongkrong di setiap pintu exit nungguin penumpangnya. 

Pesan moral yang bisa saya ambil adalah, pekerjaan apapun kalo di lakukan dengan penuh dedikasi sehingga bisa memuaskan pelanggan, selalu bisa menimbulkan kesan yang mendalam. AHA!

See you again Mr. Marley

Jumat, 21 Januari 2011

Cambodia Royal Palace

 PREAH BOROM REACH VANG CHATOMUK MONGKUL. THE ROYAL PALACE IN PHNOM PENH. Tulisan tersebut adalah dua baris pertama yang terdapat di balik Tiket seharga USD 6.5 atau 25,000 riel.

Dibawah tulisan judul tersebut juga terdapat sekilas uraian sejarah Royal Palace ini. Pertama dibangun tahun 1434 pada saat kekuasaan Raja Ponhea Yat. Kemudian di re-built di tahun 1866 hingga yang saat ini berdiri dan dinamakan PREAH BOROM REACH VANG CHATOMUK MONGKUL.

"The name is so given due to it's location near the intersection of four rivers: the upper Mekong, the Tonle Sap, the lower Mekong, and the Tonle Bassac"

Begitulah menurut uraian singkat di belakang Tiket masuk ke Komplek Royal Palace dan Silver Pagoda tersebut. Pembangunan kembali Istana ini terjadi pada saat Raja Norodom berkuasa.


Di dalam kompleks yang luas dan asri ini terdapat banyak bangunan. Yang utama adalah Throne Palace. Kalau mau masuk tempat ini harus lepas topi dan sepatu. Foto-foto juga tidak diperbolehkan. 

Oh iya, untuk masuk tempat ini juga pengunjung harus berpakaian sopan, ya sama kayak kalo kita mau masuk keraton di Indonesia sini. Hampir mirip juga sama keraton disini,  komplek ini punya semacam ruang serba guna yang bahasa Kamboja nya beribet tapi turis-turis boleh menyebut nya Moonlight Pavillion. Tempat ini biasa diapakai kalau ada acara seperti tari-tarian dan lain-lain.

Tempat tinggal keluarga kerajaan namanya Khemarin Palace, terletak di sebelah belakang Throne Hall. Tapi bangunan ini privat banget, ada gerbang nya sendiri dan turis dilarang masuk. Mungkin masih ada keluarga kerajaan yang tinggal disitu juga kali ya?

Masih di area yang sama, jalan sedikit kita sudah masuk ke komplek Silver Pagoda. Tempat ini masuk ke dalam daftar buku 1,000 Places to See Before You Die: A Traveler's Life List by Patricia Schultz. Menurut yang saya baca disana sih bayangannya keren banget: "life-size gold Budha, weighing close to 200 Pounds and adorned with over 9,500 diamonds". Tapi begitu saya lihat sendiri kog kelihatannya kurang gimana gitu, mungkin karena pencahayaannya.

Trus saya jadi heran, kog patungnya dari emas tapi namanya Silver Pagoda. Ternyata karena katanya Mbah Wikipedia lantai Pagoda ini dibuat dari perak, tapi waktu saya disana kog ga sadar ya ada lantai yang dari perak -_-"

Di halaman Silver Pagoda juga bertebaran stupa-stupa dengan berbagai macam model. Sepertinya bangsa Kamboja ini termasuk bangsa yang kreatif dan telaten. Setiap bangunan dihiasi oleh detail-detail ukiran yang rumit. Warna nya juga di dominasi warna-warna kuning dan gold.

Kalau dilihat dari jauh, model atap-atap bangunan nya mengingat kan saya sama bangunan tradisional daerah Sumatera di Indonesia. Model-model bangunan tradisional di Riau dan Palembang.

Dan yang membuat saya salut adalah, bangsa ini walopun lebih kecil dan berpenduduk lebih sedikit dari Indonesia, tapi mereka sadar wisata loh. Buktinya tempat bersejarah begini kelihatan sekali sangat terawat dan bersih. Ayo donk Indonesia jangan mau kalah, kita rawat juga punya kita yang ga kalah keren-keren nya!

Selasa, 21 September 2010

iiiih kog sama sih?

Ketika saya sedang berusaha memahami kenapa di Shanghai tidak ada Es Shanghai, Cap cay, Kwetiau dan Puyunghai, saya malah menemukan Onde-Onde.

iiiih kog sama sih? padahal saya pikir itu makanan asli Indo. Emang ada bedanya siy.. klo di Indo kan isi nya kacang hijau, klo ini isinya kacang merah, tapi rasanya sama. Kulitnya juga lebih tebel dari onde-onde Indo, tapi sama-sama di selimutin sama wijen.


Oke..Oke.. saya ini kan ceritanya turis kere, jadi wajar lah klo ndeso. Bisa jalan-jalan keluar negri aja baru-baru ini doang. Trus disaat orang-orang udah pada keliling Eropa, saya masih yang deket-deket dulu sesuai kemampuan financial* wkwkwkkk... Yah..maklum aja klo kadang suka norak ketika menemukan sesuatu yang sama kayak di tanah air.

Seperti ketika saya ikut tur ke tempat persembunyian vietkong hanya untuk mendapati bahwa modal para vietkong itu untuk mengusir tentara Amerika yang mau menguasai daerahnya adalah Singkong Rebus. Begitu melihat penampakan Singkong, spontan saya langsung berucap... "iiiiih... kog sama sih?"





Seringkali sama nya karena di sama-sama-in dan sengaja dicari-cari supaya sama, kayak postingan saya sebelum ini soal cerita kodok & hujan. Contoh lain yang lebih tidak berkelas, sewaktu melihat nama jalan "Pasteur" di Ho Chi Minh City - Vietnam, saya serta merta teringat nama jalan serupa di kota Bandung.... iiiiih... kog sama sih? Langsung aja saya poto tu plang nama jalan buat bukti ketika saya kembali ke tanah air, bahwasanya di luar negeri sono ada jalan pasteur juga.

Tidak selalu sih yang sama itu sengaja di cari-cari dan disama-samakan. Malahan seringnya "hal itu" tiba-tiba aja muncul secara tidak sengaja, tidak terkira dan mengejutkan.

Misalnya waktu saya sedang berkeliling Pnom Phen dengan Tuk Tuk Mr. Marley, tiba-tiba di pinggir jalan saya melihat tenda di depan rumah. Komplit dengan hiasan-hiasan dan tandan pisang di depan jalan masuk nya, persis kayak tenda hajatan nikah nya orang Jawa. Bedanya tenda mereka lebih warna-warni.

Masih di Pnom Phen, ketika saya, cipu dan Mba Vony sedang menunggu bus ke Vietnam, tanpa sengaja saya membaca iklan Tukang Pijit Tuna Netra di tembok.
iiiiih... kog sama sih?

Apakah hal ini hanya terjadi kepada saya saja? Apakah ada seseorang di luar sana yang sama seperti saya? Adakah diantara kalian yang m'baca postingan ini kemudian kepikiran "iiiiih... kog sama sih?" *lebay*


Kamis, 17 Juni 2010

Antar Kota, Antar Propinsi, Antar Negara

Ini adalah pengalaman kedua kali nya saya melintasi perbatasan darat antara dua negara, setelah pengalaman perdana melewati perbatasan antara negara Singapore dan Malaysia. Tapi ini adalah pengalaman pertama saya mengurus Visa on Arrival di perbatasan.

Perjalanan sekitar 7 jam dimulai di Duong De Tham, backpaker area di Ho Chi Minh City. Sekitar jam 12-an, Bus Capitol menjemput saya, Mba Vonny dan Cipu. Di atas Bus, petugas membagikan sebotol air mineral dan tissue basah (plus masker sewaktu perjalanan balik dari Pnom Penh ke HCMC). Rate Bus Capitol HCMC-Pnom Penh = USD 10 / orang.

Tidak berapa lama, petugas mengumpulkan paspor-paspor penumpang termasuk menawarkan jasa mengurus Visa on Arrival di perbatasan Moc Bai dengan hanya membayar USD 25 (resminya USD 20), pokoknya kita tinggal tahu beres dan menikmati perjalanan.


Di perbatasan Moc Bai semua penumpang turun dari bus dengan membawa semua barang-barang nya, kemudian menunggu paspor kita di cap di imigrasi, setelah itu naik kembali ke Bus untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati perbatasan Moc Bai, Bus Capitol tersebut berhenti 15 menit untuk istirahat di sebuah restoran Mie. Penumpang di persilahkan untuk meluruskan badan, makan, minum, dan menuntaskan urusan pribadi di toilet. Di perjalanan balik dari Pnom Penh ke HCMC juga Bus itu berhenti di tempat yang sama selama 15 menit.

Daerah perbatasan Vietnam-Kamboja yang gersang dan tandus ini, di sepanjang jalan nya berjejer kasino dan hotel mewah, persis di Las vegas. Di halaman parkir nya juga berjejer mobil-mobil mewah.


Sore hari, menjelang terbenam nya matahari, Bus Capitol membawa kita naik ke atas kapal feri menyebrangi sungai yang luaaaaas banget sampe ujungnya ga terlihat. Secara ini adalah pengalaman pertama saya naik kapal feri, serta merta saya meloncat dari dalam Bus dan berfoto-foto dengan cuek nya di antara barisan mobil-mobil, motor-motor, dan pedagang asongan.

Kira-kira sebulan setelah nya, dalam perjalanan ke Bromo, saya kembali merasakan naik Bus luar kota. Secara keseluruhan sih rasanya sama saja dibandingkan dengan yang saya tumpangi di Singapore, Vietnam dan Kamboja. Dari mulai model bus nya hingga cara menyetir Pak Sopir nya sama, sepertinya ada standard internasional untuk Bus luar kota semacam ini... yah, sama seperti standar penerbangan internasional gitu.


Tapi diantara terminal-terminal bus internasional yang pernah saya datangi di kawasan Asia Tenggara, baru di Surabaya saya menemui Terminal Bus yang lengkap dengan panggung hiburan Live Music. Memang walau bagaimanapun, saya harus bangga, negara saya masih lebih unggul dalam hal fasilitas di terminal bus nya.


Minggu, 13 Juni 2010

2 breakfast menu at 2 city in 2 days

Halooooo semuanyaaaah.....
Sudah cukup lama blog ini terbengkalai akibat dari kesibukan saya berkutat dengan pekerjaan demi mengumpulkan pundi-pundi buat modal jalan-jalan lagi a la kere hihihihii...
Sebenarnya masih banyak yang mau saya ceritain dari pengalaman bekpeking ke vietnam-kamboja berapa waktu lalu, tapi nanti dulu lah. Soalnya kesibukan gara-gara kerjaan ini sedikit menumpulkan kreatifitas.

Jadwal perjalanan kali ini sangat ketat, jadi pagi ini kita di vietnam, pagi berikutnya kita sudah ada di negara lain: kamboja. Begitu pula dengan sarapannya, pagi ini sarapan Pho di Vietnam (gambar kiri), pagi berikutnya sarapan Bubur Ayam ala Kamboja (gambar kanan). Bubur Ayam ala Kamboja beda sama Bubur ayam disini. Kuahnya sama kayak kuah Pho, trus pke toge juga. Jadi kalo menurut saya mah bukan bubur ayam, lebih mirip soto ayam hihihii..



Kamis, 01 April 2010

Visiting Budha

Kebudayaan dan Kepercayaan masyarakat Vietnam dan Kamboja (menurut wikipedia) sama-sama banyak dipengaruhi oleh Budha Mahayana. Uniknya kedua negara ini, walaupun sangat berdekatan, memiliki bangunan ibadah yang sangat berbeda sekali.


Di Vietnam, banyak bertebaran bangunan ibadah agama Budha berbentuk Pagoda. Di Kamboja bangunan ibadah nya berupa Wat (mirip dengan struktur bangunan candi di Indonesia). Perbedaan ini sempat menimbukan suatu pertanyaan di kepala saya, dan sempat saya tanyakan juga kepada Cipu. Menganut kepercayaan yang sama tapi kog bentuk bangunan ibadahnya bisa berbeda banget.

Sebenarnya saya belum mendapat jawaban yang pasti. Tapi kalau menurut ke-sok-tau-an saya siy perbedaan itu karena Vietnam lebih dekat dengan China sehingga pengaruh China lebih kental, akibatnya di negara itu tempat ibadah yang lazim bertebaran dimana-mana adalah berbentuk Pagoda China. Sedangkan Kamboja, yang tetangga-an sama Thailand, lebih banyak dipengaruhi unsur India. Kalau ada yang lebih mengerti masalah ini, bisa tolong jelaskan kepada saya? dan kalau saya salah mohon di koreksi.. hehee..

1. Quoc Tu Pagoda


Ini adalah satu-satu nya Pagoda yang sempat kita kunjungi di Ho Chi Minh karena letaknya paling terjangkau. Cuman di pengkolan *halah*. Masuk nya juga Free alias Gretongan. Kelihatannya tidak ada yang istimewa-istimewa banget dari Pagoda ini, walaupun memang banyak turis yang datang berkunjung. Malahan lebih banyak turis nya daripada orang yang beribadah.


Di halamannya ada Patung Dewi Kwan Im Raksasa, bisa dilihat perbandingannya sama saya yang foto di depan patungnya.Ada juga patung Dewa (atau Dewi ya?) yang tangannya banyak- yang setiap tangannya itu memegang senjata yang berbeda-beda (siapa ya namanya?). Ada seorang Biksu di samping gerbang yang membuka lapak, menjual dupa berbagai ukuran. Dan banyak ibu-ibu yang menjual burung-burung kecil *entah untuk keperluan ibadah atau untuk di piara*







Bagi yang sempat meluangkan waktu sebaiknya jangan lewatkan untuk mengunjungi Cao Dai Temple. Biasanya kalau kita ikut tur Cu Chi Tunnel yang satu hari, termasuk mengunjungi Cao Dai Temple ini. Sayang nya waktu itu saya, Cipu dan Mba Vonny hanya mengambil tur Cu Chi Tunnel yang setengah hari karena malamnya sudah harus kembali ke Jakarta.

2. Wat Phnom

Wat Phnom dibangun Tahun 1373, namun katanya sudah mengalami beberapa kali renovasi hingga saat ini. Untuk masuk ke Wat Phnom, tarifnya sebesar USD 1 saja (untuk penduduk lokal tidak dipungut bayaran). Yang saya perhatikan di bangunan-bangunan asli Kamboja, pasti ada sepasang ular kepala tujuh yang nongkrong di samping tangga-tangga nya. Setelah browsing kesana kemari ternyata Patung ular kepala tujuh itu adalah Naga, yang tugas nya menjaga Wat. Kenapa kepalanya tujuh? Katanya sih itu me-represent jumlah warna pelangi. Sebentar...sebentar.. coba saya hitung dulu warna pelangi: Me Ji Ku Hi Bi Ni U eh.. iya bener ada tujuh.. hihiiii..

Selain Naga ada juga dvarapalas (patung berbentuk orang yang konon kabarnya adalah God Warior) dan Chinthe (patung yang bentuknya Singa). Tiga serangkai itulah yang menjaga jalan masuk Wat Phnom.





Di balik Wat Phnom ada stupa dan patung salah satu Raja Khmer, Ponhea Yat. Di hadapan patung Raja Ponhea Yat tersebut ada Jam Raksasa yang berbahan dasar tumbuh-tumbuhan. Kira-kira kalau jam segede gitu batere nya segede apa ya? *garuk-garuk dagu*




Kalau di perhatikan relief-relief di bangunan ini, sepertinya mirip-mirip sama relief-relief yang ada di Candi-candi Jawa. 

Jadi ada semacam cerita legenda (ga tau bener atau enggak). Salah seorang Raja Water Chenla pernah sompral mulut nya, menyatakan kalau beliau mampu memenggal kepala Maharaja dari tanah Jawa dan di sajikan di nampan gitu *sadis*. Sampailah berita ini ke telinga Raja, langsung panas deh si Raja itu. Akhirnya Raja berangkat menyerbu kerajaan tersebut dan memenggal kepala Raja Chenla yang sombong itu. 

Raja tersebut memerintahkan kepada perdana menteri Khmer untuk mencari pengganti rajanya dan dipilihlah Jayavarman II yang sebenarnya masih keturunan Raja Funan, tapi lahir dan besar di Jawa pada masa dinasti Sailendra.  Keluarga nya mengungsi ke Jawa pada saat Funan di kalahkan Chenla. Jayavarman II kembali menjadi raja di tanah leluhurnya dan memulai Khmer Empire. 

Walaupun pada saat pemerintahannya Jayavarman II menyatakan bahwa kerajaannya tidak lagi berada di bawah kekuasaan Jawa tapi menurut para ahli-ahli ternyata budaya dan seni dari dinasti Syailendra itu terbawa dan mempengaruhi kesenian Khmer, hal ini bisa dilihat dari  bangunan-bangunan keagamaan yang terdapat di Angkor.

Khmer Empire berjaya dari abad ke-9 sampai abad ke-13. Dari segi religion, Khmer di pengaruhi oleh Hindu (yang menyebar dari India sejak abad ke-1) dan Budha Mahayana (yang  dibawa oleh Jayavarman II  sebagai salah satu pengaruh dari dinasti Syailendra). Ketika ajaran Budha Theravada yang merambat dari Sri Lanka mulai mendominasi di akhir abad ke-13, dari situlah awal kehancuran kerajaan Khmer. Kawasan kekuasaannya pun mulai melepaskan diri satu persatu.


3. Silver Pagoda


Kalau yang ini namanya memang Pagoda, tapi beda sama Pagoda model China yang banyak di Vietnam. Pagoda ini terletak di kompleks Royal Palace di Pnom Phen, Kamboja. Untuk mengunjungi Pagoda ini harus membayar entrance fee USD 6.5. Syaratnya harus menggunakan pakaian yang sopan (celana dibawah lutut) dan kalau masuk ruangan harus lepas topi dan sepatu. Mengambil foto dengan kamera juga tidak di perbolehkan.


Di dalam Silver Pagoda terdapat banyak Patung-patung Budha berbagai macam pose dan ukuran. Tapi yang paling istimewa adalah Patung Budha ukuran asli yang terbuat dari Emas asli & di hiasi batu-batu giok.

Halaman Silver Pagoda juga cantik dan artistik banget. Ada pohon kamboja, kolam-kolam bunga teratai, stupa-stupa, dan ada hutan-hutan-an kecil juga. Tapi puanas nya bo'... terik banget.


Sabtu, 27 Maret 2010

Pnom Phen: Kota Mentereng, Masa Lalu Kelam

Pnom Phen berjarak sekitar 8 jam perjalanan darat dari Ho Chi Minh City, melewati perbatasan darat Moc Bai yang membatasi Vietnam & Kamboja. Walaupun hanya berjarak sekian jam, perbedaan suasana antara kedua kota di dua negara yang berbeda ini sangat drastis.

Di Kamboja, hawa keramahan penduduknya 'lebih terasa' dibandingkan dengan Vietnam. Yang lebih melegakan lagi karena disini penduduknya familiar dengan Bahasa Inggris dan mata uang USD.


Ketika Bus Capitol yang membawa kami (saya, cipu & mba vony) dari Vietnam mulai memasuki Kamboja, kami sempat khawatir karena (lagi-lagi) underestimate, akibat masalah komunikasi yang kita hadapi di HCMC. Dan di Kamboja kasusnya akan lebih parah, karena kita sama sekali buta aksara Kamboja yang keriting-keriting begitu. Lebih meningan di Vietnam karena setidaknya tulisan disana masih menggunakan huruf latin. Waaah.. ini mah alamat nyasar-nyasar lagi.

Sebelum tiba di tempat pemberhentian Bus, Cipu menanyakan alamat hotel kita kepada pegawai bus Capitol (yang mengurus Visa kita di perbatasan Moc Bai). Pegawai itulah yang akhirnya memperkenalkan kita kepada Supir Tuk-Tuk yang asik berat bernama So Marly. Mengejutkan! Karena So Marly dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris *walaupun dialeknya rada aneh*. Keesokan harinya ketika Cipu & Mba Vony belanja topi di Psar They (Central Market), saya menunggu di tuk-tuk sambil ngobrol bareng So Marly. Ternyata supir-supir tuk-tuk, pedagang-pedagang, dan profesi-profesi lain yang berhubungan langsung dengan tourism di fasilitasi oleh pemerintah Kamboja untuk belajar bahasa Inggris. Mereka dikumpulkan untuk *semacam* kursus bahasa Inggris secara gratis, bahkan di berikan Kamus untuk dipelajari.

Setelah malam hari menghabiskan waktu memandangi Independence Monumen yang sangat indah. Pagi hari saya terbangun dan mengamati pemandangan dari lantai 5 penginapan kami. Kota Pnom Phen dari atas. Ya.. kliatannya ga jauh beda dari di Indonesia sih. Walaupun sebagai warga negara Indonesia saya agak miris juga begitu sadar mata uang Kamboja (riel) ternyata nilainya lebih tinggi dari mata uang Rupiah.



Sayangnya waktu kita terbatas di Kamboja, padahal saya pingin banget ke Killing Field dan Genocide Museum hasil karya Pol Pot dan genk Khmer Merah nya yang tersohor itu. Sewaktu disana sih rasa pengennya justru ga sepengen setelah saya pulang. Somehow, setelah beberapa jam di kota ini saya merasa lebih tertarik untuk browsing-browsing sejarah nya. Semakin saya banyak mengetahui sejarah kekejaman Khmer Merah di jaman Polpot semakin saya menyesal telah melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Killing Field dan Genocide Museum.


Hhmm... ternyata keindahan Independence Monumen dan air mancur warna warni nya di kala malam; Kemegahan Wat-nya dimana patung-patung dewa berpose dengan elegan; Kemewahan Royal Palace dan Silver Pagoda yang sempat saya kunjungi dengan membayar USD 6.5; kesemuan semata *tsah*.

Kamuflase atas penderitaan dan masa lalu kelam Kamboja. Dimana pernah terjadi pembantaian beribu-ribu rakyat Kamboja -mulai dari bayi hingga renta, wanita ataupun pria- oleh sesama bangsanya. Dimana pada saat itu menjadi kalangan intelektual dapat membahayakan nyawa. Dimana pada masa itu anak-anak muda direkrut, dicuci otaknya untuk membunuh orang tua nya sendiri. Masa itu bahkan belum lama berselang. Menurut yang saya baca-baca, baru pada tahun 1998, Pol Pot di khianati oleh para pengikutnya (Khmer Merah) dan diserahkan ke pengadilan internasional. Pol Pot pun meninggal malam setelah itu sebelum sempat di sidang.



Walaupun begitu saya pribadi percaya bahwa ada alasan dibalik tindakan semua orang. Tujuan Pol Pot mungkin baik, untuk membangun negaranya.

I want you to know that everything I did, I did for my country.

~ Pol Pot

Namun cara yang dipilih nya memang SUPER ekstrem.

It is up to History to judge.

~ Pol Pot

*polpot quotes taken from: www.brainyquote.com

Minggu, 21 Maret 2010

Turis Kere: antara HCMC - Pnom Phen

Lagi-lagi, perjalanan kali ini hampir merupakan suatu kebetulan. Asal muasalnya adalah ketika saya memposting My Best Travelmate, dan orang yang sedang saya bahas itu menulis komen kalau ybs akan berangkat ke vietnam di bulan Maret. Berlanjut ke YM!, memesan tiket, mengurus surat cuti... segalanya berlalu begitu cepat. Hingga akhirnya tibalah saya di Vietnam.

Setengah hari di Vietnam, menempuh perjalanan naik Bus selama hampir 8 jam melewati perbatasan Moc Bai hingga akhirnya tiba di Kamboja. Setengah hari keliling-keliling Pnom Phen dengan Tuk-Tuk, kembali naik Bus selama 8 jam kembali ke Ho Chi Minh City - Vietnam. Bahkan orang vietnam sendiri berdecak kagum ketika mereka tahu kalau kita PP dari Vietnam-Kamboja dalam waktu sehari saja.

Asal tahu saja, pose loncat pada foto diatas itu diambil di depan Reunification Palace yang menurut Cipu sering masuk di acara The Amazing Race (acara yang selalu menginspirasi setiap perjalanan bekpeking saya dan Cipu). Foto diatas diambil setelah saya melakukan 4 loncatan di bawah terik matahari Ho Chi Minh City yang menyengat, dan entah lompatan keberapa yang mengakibatkan robek di celana saya.

Kira-kira begitulah sekilas tentang perjalanan bekpeking kedua saya bersama rekan saya Cipu dan Mba Vonny. Bagi yang penasaran mengenai detil perjalanan yang (lagi-lagi) dipenuhi oleh kekonyolan saya & Cipu, langsung aja intip-intip blog nya Cipu.

Sebagai blogger sejati, Cipu dengan setia dan gigih selalu meng-update jurnal hariannya setiap ada kesempatan, malam hari sebelum tidur, ketika sarapan dan makan malam, di dalam bus, di pinggir jalan ketika sedang menunggu Mba Vonny hunting foto. Pokoknya setiap hari Cipu selalu memposting jurnal harian perjalanan kita secara live di blog nya berikut budget travel.


- Laporan hari Pertama

- Laporan hari Kedua

- Laporan hari Ketiga

- Laporan hari Keempat

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...