Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Banten. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juli 2017

Beach Squad Tanpa Arah Terdampar di Pantai Kerang

Mendekati akhir libur lebaran kemarin saya diajak ke Pantai oleh dua kawan yang saya kenal beberapa bulan lalu di perjalanan ke Gunung Sumbing. Oia saya belum ceritain soal pergi ke gunung sumbing, nanti yaaaaa setelah postingan ini. 

Misi dari perjalanan ini pokoknya menyusuri pantai mulai dari Anyer ke arah Tanjung Lesung sampai sejauh-jauhnya, dibatasi waktunya oleh matahari terbenam. Dari perbatasan bekasi kami mulai perjalanan sekitar jam setengah 11 siang. Waktu itu jalanan relatif lengang. Bahkan yang biasanya saat liburan ramai pengunjung di kawasan anyer-carita, ini cenderung sepi. Mungkin karena ada toll baru Cipali jadi jangkauan libur orang-orang yang berkendaraan lebih tersebar sampai ke area yang lebih jauh. Mungkiinnn...

Dari Jakarta sampai Anyer kami tempuh dengan jarak kurang dari 3 jam, memang sudah lewat sedikit dari jam makan siang, perut kami sudah kukurunutumu. Tidak jauh dari Mercusuar Anyer, kami berhenti di salah satu restoran seafood untuk makan siang. Menu yang kami pesan untuk bertiga ternyata banyak banget, tapi hampir ludes juga, cuma sisa dikit sop gurame yang akhirnya dibungkus dan ikut di sisa petualangan mengejar sunset. 

Kawasan Pantai Carita tampak lebih ramai turis lokalnya daripada Anyer, khususnya di pantai umum yang ada water sport. Kami terus melewati Pantai Carita hingga tiba di kawasan Pandeglang. Garis pantai sudah tidak tampak di sisi jalan, diganti oleh persawahan. Warta, yang nyetir bertanya ke para penumpang, "lanjut atau puter balik?". Para penumpang, saya dan entin menjawab kompak,"lanjuutt."

Ketika jam menunjukan pukul 4 sore kami sudah melewati daerah Labuan, menurut papan penunjuk tanjung lesung tinggal 33 km lagi. Saat itu kami lumayan optimis bisa sampai di tanjung lesung sebelum sunset. Tapi ada yang salah dengan pengukuran jarak karena di sepanjang jalan berubah-rubah. Beberapa saat kami jalan ketemu papan penunjuk dengan tulisan Tanjung Lesung tinggal 10km lagi. Tapi beberapa kilometer, ada papan penunjuk lagi yang tulisannya Tanjung Lesung 13 km. Lah kog makin jauh. Di depannya lagi malah tambah jauh: Tanjung Lesung 19 km. 

Akhirnya jam setengah 5, menurut GPS, kami masih sekitar 15km lagi dari Tanjung Lesung. Kami pun menyerah dan masuk ke pantai umum terdekat, Pantai Kerang. Ya memang gak sebagus tanjung lesung sih, pasirnya gak putih dan sesuai namanya banyak kerang-kerang kecil. Yang penting mission accomplished: Sunset di Pantai.  

Beach Squad

Sunset di Pantai Kerang, Pandeglang


Sabtu, 09 April 2016

Pantai Bodur

Lagi sumpek sama Jakarta dan kangen sama pemandangan pasir putih dan laut biru yang masih bersih? Ada Pantai Bodur di Tanjung Lesung, hanya 4 - 5 jam dari Jakarta. Untuk ke Pantai ini dari Jakarta bisa melalui dua jalur, lewat toll merak keluar di Pandeglang atau exit toll Cilegon menyusuri jalur pantai Anyer - Carita- Labuan. 

Kalau pilih jalur lewat Pandeglang waktu tempuh lebih dekat, tapi harus jeli memperhatikan penunjuk arah ke Tanjung Lesung. Di beberapa persimpangan ada petunjuk arahnya. Kalau sudah ketemu PLTU Labuan berarti Tanjung Lesung sudah dekat. Kalau lewat jalur anyer jarak tempuh memang lebih lama karena jalan memutar tapi lebih mudah karena tinggal lurus-lurus saja mengikuti jalur pantai hingga ketemu persimpangan yang ada petunjuk ke arah PLTU Labuan, arah yang sama dengan Tanjung Lesung.

Kalau mau trip satu hari PP dari Jakarta bisa banget, kalau mau menginap yang tidak mahal di dekat pintu masuk Tanjung Lesung banyak terdapat homestay di pinggir jalan. 

Untuk ke Pantai Bodur harus masuk ke kawasan resort Tanjung Lesung dulu, posisinya ada di paling ujung kawasan ini. Waktu saya kesana banyak terdapat warung-warung tapi sepi, konon kata penjaga resort dulunya Pantai Bodur terbuka untuk umum, tapi kemudian setelah diambil alih dikelola oleh resort jadi tidak seramai sebelumnya tapi lebih bersih dan ekslusif. 

Lokasinya sebenarnya cukup unik, karena sebelum ketemu pantai kita akan lihat melewati semacam savana yang dihiasi rumput, beberapa kumpulan semak dan sedikit pohon. Mungkin juga karena waktu saya kesana lagi musim panas, tumbuhan di kawasan itu tampak mengering sehingga mirip savana dengan rumput kering kecoklatan.

Panas tapi fotogenik.







Selasa, 09 Februari 2016

Kalicaa Villa Tanjung Lesung

Tanjung Lesung berlokasi di Provinsi Banten, ujung barat pulau Jawa. Dari Jakarta menempuh waktu sekitar 4 jam untuk tiba disana. Cocok untuk sekedar quick getaway di akhir pekan untuk mencari suasana beda. Di dalam kawasan Tanjung Lesung ada Tanjung Lesung Resort dan ada Kalicaa Villa. Kalau resortnya seperti resort di pinggir pantai pada umumnya, dengan kamar-kamar yang tersebar di antara taman-taman, ada kolam renang besar yang menghadap pantai dan ada lapangan untuk kegiatan outbond di belakang resort. Waktu saya kesana juga lagi ada kegiatan gathering perusahaan yang menggunakan fasilitas outbond.

Saya menginap di Kalicaa Villa yang terletak bersebelahan dengan Tanjung Lesung Resort. Kebetulan saya dapat lokasi villa yang tidak terlalu jauh dari pantai, terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi besar, satu kamar mandi kecil yang terletak di dalam kamar utama, ruang tivi, dapur dan kolam renang pribadi komplit dengan gazeebo. Ternyata tidak perlu jauh-jauh untuk bisa menikmati liburan a la Bali.

Kalau mau liburan di Villa ini, saya saranin bawa bekal persediaan makanan. Di dalam kawasan ada restorannya sih, tapi karena di villa ada dapur bisa sambil masak-masak. Perlengkapan masak seperti kompor, panci, pengorengan, bahkan piring-piring dan sendok lengkap disediakan. 

Jalan Setapak di sisi pantai

Villa tampak depan

Pintu masuk

Private Pool di dalam villa

Santai-santai di kolam sambil ngopi dan ngemil kentang goreng
Dari kompleks Kalicaa Villa menyusuri jalan setapak di pinggir pantai bisa sampai di Green Coral Beach Club, tempat snorkelling dan water sport lain di Tanjung Lesung. Kalau mau lebih jauh lagi jalan kaki, ke arah sebaliknya, kita bisa main-main di Pantai Bodur. Disarankan naik mobil sih karena jaraknya lumayan kalau jalan kaki, apalagi ketika saya kesana jalan menuju pantai Bodur sepi banget. Tidak perlu jauh-jauh dari villa kita juga bisa menikmati keindahan pantai berpasir putih dan bersih. Sore-sore bisa menyaksikan sunset di bangku-bangku yang telah disiapkan. 

Menunggu sunset

Menikmati kopi pagi hari di pantai




Senin, 07 Desember 2015

Kembali ke Tanjung Lesung

Setelah survei singkat ke Tanjung Lesung tahun lalu akhirnya beberapa bulan lalu saya kembali ke pantai yang terletak di Banten itu. Kali ini saya menginap dua malam di Kalicaa Villa yang terletak di kawasan wisata Tanjung Lesung bersama keluarga dan ukulele biru.

Di hari keberangkatan ke Tanjung Lesung saya ada janji sama orang urusan pekerjaan di suatu pameran di JCC. Selesai urusan lagi jalan-jalan tanpa arah di pameran tiba-tiba saya lihat sosok yang familiar. Rupanya Cipu lagi jaga stand pameran.

Woow, saya tidak mengira akan bertemu Cipu.

Cipu
Saya janjian sama adik saya di kantor, target mau makan siang di Serang, tapi karena macet sedikit di jalan toll makan siang jadi agak terlambat. Kami berhasil tiba di Tanjung Lesung sebelum sunset, jadi masih sempat menyaksikan matahari terbenam di teluk yang terletak di bagian barat pulau Jawa itu. Langit cerah, laut disana tampak biru jernih dan pasir putih bersih. 

Villa yang kami tempati terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, dua kamar mandi yang satu berukuran lebih kecil ada di kamar tidur utama yang ukurannya lebih luas, gazeboo untuk santai-santai dan kolam renang kecil. Ternyata kalau malam anginnya dingin. Saya, adik bungsu dan sepupu yang punya rencana mau berenang malam di kolam renang itu terpaksa mengurungkan niat. Kamar mandi utama yang terletak di luar shower di bawah langit alias tidak pakai atap, tren kamar mandi resort terkini yang diadaptasi dari gaya hidup tradisional di pedesaan. Waktu menyalakan shower saya langsung sadar kalau saya tidak sendiri, ada seekor kodok dipojokan yang lagi memperhatikan saya.

Woow, saya tidak mengira akan ketemu kodok di kamar mandi.

Dini hari, masih gelap, saya keluar dari villa menuju dermaga diikuti oleh adik dan sepupu. Sampai di dermaga masih gelap dan banyak bintang, saya tiduran sambil memandang bintang dan mendengarkan bunyi gemericik ombak di bawah dermaga. Angin bertiup kencang dan dingin. Tak lama semburat warna jingga mulai tampak di bagian timur. Semakin lama semakin terang, saya melihat kebawah dermaga ternyata penuh dengan terumbu karang bagus-bagus dan tampak jelas karena airnya bening sekali.

Koralnya terlihat dari atas dermaga
Ketika mulai terang kami pun beranjak dari dermaga dan mejelajahi area sekitar. Dermaga itu tempat saya foto sama ukulele tahun lalu, ada di kompleks Green Coral beach camp. Jaraknya sekitar satu kilometer dari kompleks Kalicaa Villa tempat saya menginap. Disitu ada tenda-tenda camping yang disewakan, ada paketnya per pax termasuk makan dan minum. Kalau mau snorkelling di situ ada tempat yang menyewakan peralatan snorkeling dan ada paket trip juga kalau mau snorkelling yang agak jauh pakai boat. Tempat penyewaan alat snorkelling baru buka jam 10 pagi, jadi rencana berikutnya kami akan balik ke villa untuk sarapan kemudian balik ke situ untuk snorkelling.

Di jalan balik menuju villa saya lihat ada tanda panah ke kebun binatang mini, ada jalan setapaknya. Sebidang tanah tidak begitu luas yang di dalamnya ada kandang-kandang kecil. Isi kandang itu ada beberapa jenis ayam, kelinci, kambing dan beberapa macam burung diantaranya ada burung merak. Favorit saya adalah ayam yang suara berkokoknya aneh, kayak lagi ketawa.

Woow, saya tidak mengira akan ketemu ayam yang bisa tertawa ngakak.

Diantara kompleks Green Coral Beach dan Kalicaa Villa ada Tanjung Lesung Beach Hotel. Hotel & Resortnya beda kompleks dan beda konsep sama Villanya, tapi sepertinya pengelolanya sama karena waktu saya check in di lobby hotel Tanjung Lesung juga. Karena waktu check in di lobby hotel, maka kami pikir breakfast nya di restorant hotel itu juga. Jadi kami ke villa, ambil kupon, kemudian jalan ke hotel lagi. Sampai di restoran baru diberitahu kalau untuk villa sarapannya di restoran berbeda yang ada di kompleks Kalicaa Villa. Yah jadi kami berbondong-bondong balik lagi ke kompleks villa. 

Ternyata memang benar ada restoran juga di kompleks villa. Sarapan ada dua macam, menu Indonesia yaitu nasi goreng dan menu western yang terdiri dari roti, omelet dan sosis. Setelah menunggu sekian lama sampai lemas karena lapar akhirnya datang juga sarapannya. View dari restorannya yang langsung ke pantai sih bagus, tapi karena udah kelaparan dan lemas akibat banyak jalan dari sebelum matahari terbit jadinya sudah tidak nafsu sama pemandangan pantai yang bagus. 

Setelah sarapan dan energi sudah kembali full saya memprovokasi adik-adik dan sepupu untuk jalan lagi ke Pantai Bodur. Saya sebelumnya belum pernah kesana, cuma pernah lihat di suatu blog dan lihat tanda panah penunjuk arah yang terlihat dari jalan masuk ke kompleks villa. Saya tidak tahu seberapa jauh ke dalam, ternyata jauh juga kalau jalan kaki. Apalagi di tengah perjalanan matahari mulai terik. Sebelum sampai ke pantai ada bidang tanah luas yang mirip savana-savana-an kalau di foto. Pantainya bagus, pasir putih, ada ombak dan sepi banget, jadi berasa pantai milik berempat. 

Saya menggelar kain pantai di bawah pohon kelapa dan mengeluarkan camilan yang dibawa, sambil main-main ukulele, foto-foto dan ngobrol-ngobrol. Kalau kondisi begini sih betah banget, sampai gak berasa udah siang lagi. Waktu itu Eyang saya ikut sama Papa Said dan Mama Said, mereka udah telpon nyari-nyari untuk makan siang. Kami pun di jemput pakai mobil ke Pantai Bodur dan makan siang di restoran yang ada di Green Coral beach camp. Tahun lalu waktu juga kami makan siang di restoran itu.

Sayangnya kami tidak bawa baju berenang, padahal bisa tuh habis makan langsung snorkeling. Kembali ke villa malahan asik berenang-renang di kolam villa dan leyeh-leyeh di gazebo, ternyata sadar-sadar sudah sore. Tempat penyewaan snorkeling tutup jam 4 sore. Yasudah kami terusin berenang di kolam kecil sambil ngemil kentang goreng, menjelang sunset kami baru beranjak ke pantai di depan villa. 

Anissa, adik bungsu

Hari terakhir di Tanjung Lesung, saya bangun pagi dan melaksanakan ritual morning run. Berangkatnya menyusuri pinggir pantai, kali ini sudah terang. Saya terus berlari sampai pintu gerbang kawasan Tanjung Lesung, dibawah barisan pohon yang membentuk kanopi. Disisi jalan masih ada hutan, saya mendengar bunyi monyet-monyet dan ketika saya menengok keatas mereka lagi gelantungan nonton saya lari pagi. Tapi ketika saya berhenti dan mengeluarkan handphone untuk memotret, mereka kabur.

Woow saya tidak mengira akan ketemu monyet.

Sampai di gerbang saya putar balik, di pinggir jalan ternyata ada tanda-tanda lalu lintas gambar hewan. Ada gambar monyet. Ada gambar Babi hutan. Ada gambar komodo atau buaya atau kadal.

Woow saya tidak mengira akan ketemu babi hutan dan komodo. Untungnya sih gak ketemu.

Pemandangan Lari Pagi di Tanjung Lesung

Sampai di kompleks villa saya lihat adik dan sepupu saya lagi main di pinggir pantai, saya bikin kopi dan ambil buku kemudian menyusul mereka. Tapi lihat air jernih jadi pengen nyemplung, akhirnya ganti baju renang dan nyebur ke laut. Airnya dingin. Ketika air mulai menghangat kena sinar matahari pagi, ikan-ikan mulai bermunculan berenang-renang dibawah saya.

Woow, saya tidak mengira akan ketemu ikan. 



Selasa, 06 Januari 2015

Ukulele Biru di Tanjung Lesung

Niat main ukulele di pinggir pantai Lombok sambil nunggu sunset memang batal dan saya juga menunda untuk membeli ukulele karena ketika saya lihat harganya di toko buku ternyata mahal juga. 

Beberapa hari setelah kepulangan dari Lombok saya melihat seorang emak sosialita beranak 4 yang punya toko peralatan olahraga dan musik di Balikpapan share foto ukulele warna-warni di Path nya. Emak gaul yang hobi makan dan yoga ini bernama Meiyin. Perkenalan kami berawal dari sebuah social media bernama Plurk, kemudian merambat ke socmed lainnya. Ketika Path mulai merebak di dunia maya 2 tahun belakangan, pertemanan kami pun dilanjutkan melalui media ini. Sementara untuk bertemu muka secara langsung (baca: kopdar), belum pernah kami lakukan.

Di foto ukulele warna-warni yang dipajang Cece Meiyin di Path nya ada satu ukulele berwarna biru seperti warna biru kesukaan saya - biru seperti langit yang cerah, seperti lautan yang jernih, seperti gunung di kejauhan. Ternyata ukulele-ukulele itu barang dagangan di tokonya yang  baru saja tiba dari suppliernya. 

Awalnya saya hanya bertanya dimana beli ukulele warna-warni itu. Tak disangka, tak dinyana saya malah dikirimin satu ukulele biru langsung dari Balikpapan. Gratis.

Main ukulele ternyata beda dengan main gitar. Jumlah dan susunan senarnya beda, sehingga kunci nada (chord) yang digunakan juga berbeda. Jadilah saya seharian mengulik-ngulik ukulele dalam usaha untuk menaklukannya. Selama beberapa hari saya tidak lepas dari ukulele biru imut itu. Malam hari saya ngulik ukulele sampai mengantuk dan tertidur. Pagi-pagi bangun tidur langsung ngulik ukulele. Kemana saya pergi selama beberapa hari itu, saya senantiasa membawa alat musik berbentuk gitar mini itu - ke kantor, ke proyek, ke pantai. 

Kebetulan beberapa hari setelah saya punya ukulele itu Papa Said pagi-pagi ngajak bolos kantor, katanya mau ke Tanjung Lesung. Saya yang belum pernah ke Tanjung Lesung segera mengiyakan ajakannya dan membawa serta ukulele biru saya.

Jalur yang kita lalui ketika berangkat melalui anyer - carita - labuan - hingga tiba di tanjung lesung. Sebenarnya saya mengajukan rute lewat pandeglang, tapi karena exit toll nya kelewatan akhirnya diputuskan perginya lewat anyer dan pulangnya baru via pandeglang ke serang. Karena bukan hari libur di jalan raya Anyer dan Carita sepi, jadi bisa tancap gas. Untuk ke Tanjung Lesung dari Jakarta via anyer memerlukan waktu kurang lebih 6 - 7 jam. dari Tanjung lesung ke Jakarta via pandeglang lanjut serang memerlukan waktu kurang lebih 5 jam. 

Di pertigaan yang ada tanda panah PLTU Labuan kami ambil jalan lurus, beberapa saat kemudian baru sadar kalau jalannya semakin menjauhi laut yang berarti sudah nyasar. Ketika di cek di GPS benar saja, kita sudah makin menjauhi laut. Ketika Papa Said mau balik arah tiba-tiba ada motor dari arah lurus yang ngebut dan menyelonong ke bumper depan mobil yang sedang ambil ancang-ancang belok. Motor tersebut kemudian menyerempet ujung bumper mobil dan pengendaranya mental terpelanting sendiri. Kejadiannya begitu cepat dan kami semobil hanya bisa ternganga terdiam melihat motor itu jumpalitan sendiri.   

Motornya ringsek, pengendaranya tampak hanya luka ringan dan tidak punya SIM. Mobil Papa Said, gompel di bagian bumper dimana badan motor menyerempetnya, pelat nomor mobil ringsek dan terlempar. Warga kampung disitu membantu meluruskan pelatnya dan mengikatnya kembali di mobil dengan kawat bekas yang diambil entah darimana. 

Setelah insiden itu kami tetap melanjutkan perjalanan ke Tanjung Lesung. 

Ternyata seharusnya kalau mau ke Tanjung Lesung kita musti belok di pertigaan yang ada penunjuk ke PLTU Labuan. 1,5 jam dari pertigaan itu, kami tiba di gerbang kompleks pantai Tanjung Lesung. 

Di gerbang kami disapa satpam. 

"Kalau ke resort, di bulatan ke empat..." satpam muda di depan gerbang menjelaskan sembari tangannya lurus memberi gestur ke arah depan,"bulatan 1, bulatan 2, bulatan 3, bulatan 4..nah belok kanan."

"Kalau mau ke pantai...."satpam muda itu masih menjelaskan, " di bulatan keempat, bulatan 1, bulatan 2, bulatan 3, bulatan 4..nah belok kanan."

"Lah.. sama donk, Pak," kami semobil serentak berseru. 

Jalan masuk ke resort ( dan tentunya pantai) lumayan jauh tapi teduh, di kiri dan kanan ada pohon-pohon rindang yang menyatu di atas membentuk semacam atap yang menaungi jalan masuk itu. Di bulatan ke-4 belok kanan ada Tanjung Lesung Resort dan Kalicaa Villa Resort. Sayangnya untuk tahun baru-an di sana sudah full booked. Kami pun mencari restoran untuk makan siang disana.

Sembari menunggu pesanan ikan bakar matang, saya dan chacha melakukan photo session dengan ukulele biru. Ketika kami sedang menikmati makan siang yang agak telat hari itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur tanjung yang berada di bagian barat pulau jawa itu.



Senin, 09 Juli 2012

Meniti Tembok Karang Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk merupakan bekas markas VOC di Banten setelah kerajaan ini berhasil ditaklukan oleh mereka. Puluhan tahun VOC mengincar Banten karena lokasinya yang strategis sebagai pusat perdagangan dan sumber nya lada. Sejak mulai melakukan aktifitas dagang di Banten tahun 1603, dengan segala tipu daya muslihat VOC baru berhasil menundukan Kesultanan Banten sekitar 80 tahun kemudian dan baru membangun benteng ini setelah itu.

Di postingan sebelumnya kan saya singgung, Kesultanan Banten berdiri di timing yang pas banget sama kejatuhan Malaka - yang sebelumnya merupakan pusat perdagangan rempah-rempah internasional. Portugis yang berhasil menguasai Malaka saat itu tidak berhasil meneruskan kejayaan port itu, yang ada malah pedagang-pedagang Cina dan Arab beralih mencari port lain untuk menghindari konflik di selat Malaka itu. Banten ini lah salah satunya sumber penghasil lada yang jadi banyak disinggahi pedagang-pedagang.

Portugis, sebagai bangsa Eropa pertama yang berhasil mencapai "spice land" mengunci rapat-rapat rahasia rute navigasi mereka dari bangsa Eropa lain. Tentu saja dengan tujuan supaya mereka bisa monopoli perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Tapi rupanya di antara orang Portugis itu menyusup mata-mata Belanda yang membocorkan penemuan Portugis itu. Sebagai eksperimen, dikirimlah Cornelis de Houtman dan sampai juga dia di Banten, itu di akhir abad ke 16. De Houtman berhasil membawa rempah-rempah kembali ke negeri nya, misi nya sukses walaupun di pulau Jawa dia rupanya berhasil mendapatkan banyak musuh akibat ketengilannya.

Peta jaman dulu di Museum Situs Purbakala Banten, Australia belum ditemukan
Keberhasilan misi Cornelis De Houtman membuat perusahaan-perusahaan dagang lain dari Belanda kemudian memutuskan untuk berlayar ke "spice island" juga. Beberapa waktu berselang, di Banten saja terdapat 4 agen perusahaan dagang Belanda yang saling bersaing mendapatkan rempah-rempah. Kemudian pemerintah Belanda memerintahkan 4 perusahaan itu merger dengan nama VOC. Yang awalnya hanya punya niat dagang, VOC kemudian jadi ikut campur dalam politik kerajaan-kerajaan dan akhirnya jadi semakin ngelunjak mau menguasai wilayah.

Di puncak masa kejayaan Banten pada jaman Sultan Ageng, selain ngiler pengen menguasai perdagangan lada disitu, VOC juga mulai merasa terancam sama kekuatan kerajaan ini. Apalagi Sultan Ageng anti banget sama VOC dan letak Batavia yang merupakan markas utama VOC sebelahan sama Banten. Tapi kemudian VOC melihat ada celah, konflik antara Sultan Ageng dan putranya Sultan Haji. VOC kemudian mendekati Sultan Haji untuk mendukungnya merebut kekuasaan dari ayahnya sendiri. Sultan Ageng berhasil disingkirkan, ga lama Banten pun takluk di tangan VOC.

Benteng tua Speelwijk masih terletak di kawasan Banten Lama, lumayan jaraknya dari kompleks Istana Surosowan dan Masjid Agung Banten. Kalo jalan kaki ya lumayan gempor. Rombongan petualang cantik yang sempat saya singgung di postingan awal mengenai trip ke Banten Lama ini menyewa sebuah angkot. Di halaman depan Benteng Surosowan kita disambut kembali oleh pak kuncen Naraji yang naik motor dari Surosowan untuk membukakan Benteng untuk kita.

Uniknya, bangunan ini merupakan perpaduan dari batu bata dan batu karang. Di halamannya yang hijau beberapa ekor domba tampak asik merumput. Kumpulan bocah-bocah lincah bermain bola sepak  di bawah teduh nya pohon kelapa yang berjejer jarang-jarang di luar tembok benteng.  
Halaman dalam Benteng Speelwijk

Batu Bata dan Karang dalam satu tembok
Masuk ke dalam Benteng suasananya ngeri mencekam. Aroma lumut dan lembab jadi satu menggelitik rongga hidung. Konon di sini pernah menjadi tempat penahanan anggota kerajaan yang ditangkap semasa Daendels memerintahkan penyerangan terhadap Kesultanan Banten. Kita dibawa menyusuri lorong yang gelap dan sempit menuju gudang penyimpanan senjata. Bebatuan dan air yang terserap di dalamnya membuat udara di dalam lorong benteng itu dingin, bulu tengkuk saya jadi merinding. 

Lorong dalam Benteng

Kurang cahaya di dalam benteng tidak menyurutkan semangat para petualang cantik untuk tetap eksis narsis berfoto-foto. Sementara itu pak kuncen sudah mulai alih profesi menjadi juru foto karena kerap kali dimintai tolong memotret kita bareng-bareng. Pucuk kumis di ujung bibir nya pun bergoyang-goyang tatkala pak kuncen mulai berhitung, " satuuuu... duaaaa.... tigaaaa...," diikuti kilatan lampu blitz dari kamera mungil di tangannya.

Lepas dari lorong yang gelap, kita dibawa ke atas benteng yang terik oleh sinar matahari. Mata saya memicing sementara pupil saya menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya. Dari atas celah benteng kita dapat melihat atap merah cerah sebuah klenteng yang diatasnya tampak sepasang naga hijau saling berhadapan, Vihara Avalokitesvara. Vihara ini sedang di renovasi akibat kebakaran beberapa waktu lalu. Dari sisi lain, kita bisa melihat tambak milik masyarakat yang merupakan pertanda bahwa lokasi itu tidak jauh dari laut.

Seolah-olah kayak mau bungee jumping di New Zealand, diantara domba-domba

Rossa lagi ngintip gudang senjata dari atas

Pemandangan dari atas benteng ke bagian dalam

Lantai atas benteng, kelihatan ada menara penjaganya

Salah satu pojok benteng

Tiba-tiba dengan intonasi menantang pak kuncen berseru,"Siapa yang berani jalan di atas tembooook?"

Ga bisa dapet challenge kayak gitu, para petualang-petualang cantik pun serta merta menyambut gayung tantangan sang kuncen. Begitulah, delapan orang perempuan meniti tembok benteng setinggi 5 meter dengan gagah berani dan tak lupa narsis doooonk...

Di atas tembok benteng, bersama pak kuncen paling belakang  (pic by Mba Ariya Dewi)






...dan ini lah 8 petualang cantik nya (pic by: Uni Afrina )


Senin, 25 Juni 2012

Mengais Jejak Masa Lalu di Banten Lama

Masid Agung Banten
Sekitar 500 tahun yang lalu pengaruh Islam mulai merambah di tanah Jawa menggeser pengaruh Hindu Buddha. Jatuhnya Kerajaan Majapahit, kemudian diikuti dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu Kesultanan Demak mendukung penyebaran Islam ke seluruh tanah Jawa. Demak tumbuh menjadi salah satu kerajaan terkuat di Jawa.

Di awal abad ke-16, Kesultanan Demak mengirim Maulana Hasanuddin untuk menaklukan pelabuhan terbesar Kerajaan Sunda di Barat pulau Jawa, yaitu Pelabuhan Kelapa. Bersama dengan Fatahillah dan pasukannya, Maulana Hasanuddin berhasil menguasai Pelabuhan (Sunda) Kelapa tersebut, kemudian mengganti namanya dengan Jayakarta. 

Maulana Hasanuddin merupakan putra dari Sunan Gunungjati dan seorang putri kerajaan Demak, adik dari Sultan Trenggana. Dari Jayakarta, Maulana Hasanuddin bergerak ke arah Barat hingga tiba di Banten Girang, disinilah beliau membangun kerajaan baru dengan nama Kerajaan Banten dan membangun Istana Surosowan.

Di luar dinding benteng Istana Surosowan, 5 abad kemudian, saya dan Rossa termangu di depan pagar hitam yang digembok. Mengikuti petunjuk dari tulisan yang tertera di papan pengumuman dan teriakan nyaring dari ibu-ibu menor kita sampai di depan pos jaga Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.

Surosowan yang terkunci
Di depan pos jaga, seorang lelaki paruh baya, kurus berkulit coklat mengenakan setelan hitam sedang menghisap Dji Sam Soe nya dalam-dalam ketika saya dan Rossa linglung di muka bangunan yang mirip kantor kelurahan itu. Sepi banget. 

"Kalau mau masuk ke Istana Surosowan, bapak yang pegang kuncinya," ujar lelaki itu, bibirnya membuat gerakan semacam senyum dibawah kumis lebat. 

"Iya, kita mau kesana  tapi mau masuk museum dulu, Pak."

Jangan berharap ruangan museum yang ber-AC, dengan almari kayu mengkilat dan display kaca dengan lampu sorot yang membuat benda-benda kuno di dalamnya tampak bersahaja. Dengan  bayaran masuk hanya seribu perak yang kita dapat hanya lapisan debu tebal dan beberapa pasang kipas tua mengantung layu di langit-langit ruangan.

Di depan pintu masuk Museum terpampang daftar Sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Banten. Di urutan pertama tertulis nama Sunan Gunungjati, walaupun ada keterangan bahwa beliau adalah penguasa pertama namun  tidak pernah menasbihkan diri sebagai raja. Dari Banten Sunan Gunungjati berangkat ke Cirebon dalam misinya menyebarkan Islam dan meminjam istilah dari M.C. Rickfles di bukunya A History of Modern Indonesia "established another royal line", yang kemudian terkenal dengan Kesultanan Cirebon. 

Tampak di sisi sebelah kiri pintu masuk terdapat sebuah maket kusam yang merupakan denah dari Banten Lama. Saya mempelajari denah tersebut berharap maket ini bisa jadi pengganti peta wisata. Tempat kita berada saat itu, Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terletak berseberangan dengan Istana Surosowan dan Masjid Agung Banten. Sementara tujuan kita yang lain yaitu, Istana Kaibon dan Benteng Speelwijk letaknya agak jauh dari posisi saat itu.

Maket Banten Lama
Di maket, Istana Surosowan dan Masjid Agung yang posisi  nya di tengah. Istana Kaibon, letaknya di kiri bawah. Sekitar 1 kilometer dari Surosowan. Benteng Speelwijk yang di kanan atas berwarna abu-abu di maket. 

Kerajaan Banten berdiri di waktu yang tepat, pas banget ketika Malaka sebagai pusat perdagangan rempah di kuasai Portugis dan berakhir tragis. Para pedagang dari Arab dan Cina kemudian beralih dari port Malaka ke port-port lain untuk mendapatkan komoditi yang saat itu harga nya mahal banget di Eropa, ya rempah-rempah itu. Salah satunya Banten, dengan posisi nya yang strategis dan keberhasilannya menaklukan Lampung kemudian menguasai perdagangan Lada disana membuat pelabuhan ini sebagai pusat perdangangan lada terbesar. Kesultanan Banten pun menjadi salah satu kerajaan terkaya dalam sejarah Nusantara. 

Uang yang digunakan untuk perdagangan di Banten
Kesultanan Banten mencapai masa puncak kejayaannya pada jaman Sultan Ageng Tirtayasa, di abad ke 17. Beliau membangun kanal puluhan kilometer untuk kotanya dan irigasi pertanian. Berhektar-hektar sawah baru dan perkebunan kelapa juga dibangun. Saat itu Kesultanan Banten mampu memesan kincir angin dari Belanda untuk di gunakan di pertanian. Kesultanan Banten saat itu sangat maju dalam hubungan perdagangan Internasional, dan dari segi militer mereka memiliki pasukan yang sangat kuat. 

Kecemerlangan Kesultanan Banten merupakan ancaman bagi VOC yang saat itu sudah berhasil menaklukan Jayakarta dan mengubah nya menjadi markas VOC bernama Batavia. Selain merasa terancam, VOC juga ngiler menguasai penghasil lada terbesar di pulau Jawa. Dengan segala tipu daya muslihat, tak lupa mempraktekkan politik devide et impera andalannya, VOC berhasil menguasai Kesultanan Banten.

Saat itu Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji mengalami konflik internal. Di panas-panasin dan di dukung VOC, Sultan Haji berhasil naik tahta dan Sultan Ageng menyingkir dari Kesultanan Banten. Setelah  itu VOC berhasil mencengkram Kesultanan Banten tunduk dibawah pengaruh nya.

Hingga saat jaman nya Herman Willem Daendels, yang kita kenal di pelajaran sejarah sekolah sebagai antagonis yang melakukan kerja paksa membangun jalan di Anyer itu. Sultan yang menjabat saat itu menolak perintah Daendels untuk memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Banten ke Anyer dan memindahkan pelabuhannya ke Ujung Kulon. Daendels pun marah dan menganggap aksi Sultan tersebut sebagai pemberontakan. Menambah list kelakuan antagonis nya, Daendels memerintahkan pasukan Belanda untuk meluluh lantakan Kesultanan Banten. Meruntuhkan Istana Surosowan dan menghancurkan Istana Kaibon.


Puing-puing Istana Surosowan

Menurut Pak Naraji, sang kuncen yang bukain pintu Surosowan untuk saya dan Rossa dan ngajak kita keliling, sebagian dari situs yang luasnya 3 kali lapangan bola ini masih belum di gali. Belanda rupanya niat banget meruntuhkan Istana ini sampai yang tersisa tinggal pondasi-pondasi nya dan kolam-kolam pemandian yang berada di bawah level tanah. 

Konon runtuhan pondasi yang bisa kita lihat sekarang, sebelumnya sebagian besar tertimbun tanah, walaupun tembok yang membentengi sekeliling Istana masih bisa dibilang utuh. Tapi kalau barang-barang berharga sudah hampir bisa dipastikan tidak ada lagi karena sudah habis di jarah massa selepas perang, bahkan pancuran air di kolam pemandian yang terbuat dari tembaga di cungkil orang karena dikira emas. Sesuai dengan nama pemandiannya yaitu "pancuran emas"

Tangga menuju tembok benteng dan pos jaga yang masih utuh

Salah satu gerbang Istana

Kolam Pemandian Pancuran Emas yang sudah dicungkilin

Struktur Istana Surosowan mengikuti struktur Keraton yang dibangun di tanah Jawa. Istana sebagai pusat pemerintahan berada di pusat, Masjid di sebelah Barat - Masjid Agung Banten yang dirancang oleh arsitek dari China, Pasar di sebelah Timur - Pasar Karangantu, Alun-alun berada di Utara. 

Menurut penjual minuman di depan Masjid Agung, saat-saat liburan Masjid ini selalu penuh oleh para peziarah dari luar kota bahkan banyak yang berasal dari luar pulau. Mereka berziarah ke Makam Sultan-Sultan yang dimakamkan disana, diantaranya Sultan Maulana Hasanuddin dan Sultan Ageng Tirtayasa. Selain menghormati dan mengirimkan doa kepada keturunan Sunan Gunungjati, sebagian punya misi tertentu untuk berdoa disana dan pulang membawa sebotol air yang dipercaya mujarab untuk cepat mengabulkan doa, menyembuhkan penyakit, hingga mendapatkan jodoh. - yaah.. percaya ga percayaaaa...

Begitu pula di hari saya berkunjung kesana, di lapangan parkir Masjid yang terpampang spanduk "Selamat Datang Bapak Rano Karno" tampak padat berbagai jenis mobil dan bis-bis pariwisata. Saya dan Lili berbincang dengan seorang penjual minuman sembari kita melepas dahaga di panas terik itu dengan sebotol teh dingin.

Abang penjual minuman : Dari kampus mana, Neng ?

Saya : dari Jakarta

Abang : dari kampus mana?

Lili : Kita dari Jakarta, bang.

Abang : iya, maksudnya rombongan dari kampus mana?

Saya : Li, kampus lu dimana ? (tanya ke Lili)

Lili : Unpad

Abang : Ooooh.. kalo neng yang ini, unpad juga? (nunjuk ke saya)

Saya : saya itebeh

Abang : oooh... dari bandung dong

Saya : iya, tapi tinggal di Jakarta

Abang : ooooh jadi kuliah nya di bandung trus tinggal nya di jakarta... (nyimpulin sendiri)

Lili : (mesem-mesem)

Saya : (pura-pura sibuk sama hape)

Abang : Semester berapa?

Saya : Tiga (sambil masih pura-pura sibuk sama hape)

Abang : loh kan sekarang masih semester genap, neng  (Jeng..jeng..jeng..)

Saya & Lili : (Liat-liatan)

- yaaah.. percaya ga percayaaa....

Di luar dari kompleks berjarak lima ribu rupiah naik becak,  dibangun Istana Kaibon yang dibangun pertama kali sebagai tempat tinggal ibu suri seorang Sultan  yang saat itu masih terlalu muda untuk menjabat, usianya saat itu baru 5 tahun. Kehancuran Istana Kaibon tidak separah Surosowan, mungkin karena dianggap karena penghuninya ibu-ibu doang. Sisi feminin dari Istana ini sudah mulai tampak dari sisi tangga yang di rol kayak poni rambut. 
Runtuhan Istana Kaibon
Sebagian temboknya masih ada

Sisi tangga yang di rol

Senin, 18 Juni 2012

Sehari bersama Neng Rossa di Banten Lama

"Mil, itu kabut ?" tanya Rossa, cemas.

"Bukan ah, masa kabut tebel banget kayak gitu. Apa ada truk bawa dry ice kebalik ya? asapnya putih banget kayak dry ice kena panas."

Berjarak tiga mobil di depan mobil saya, di jalan yang pas selebar dua mobil menuju situs sejarah Banten Lama, mengepul asap putih tebal yang semakin lama semakin pekat menutupi pandangan di tengah jalan itu. Orang-orang mulai keluar dari rumahnya, para pengendara motor berhenti sejenak di pinggir jalan, menduga-duga asal asap putih tersebut. Ada sesuatu yang terbakar? ada sesuatu yang meledak?

Tiba-tiba kerumunan orang-orang di depan kita berbalik arah, berlari dan berseru ke deretan mobil-mobil, "munduuuurrr...munduuuuurrr...." sembari melambai-lambaikan tangan diatas kepala. 

Panik!

Saya lihat di spion, tidak ada ruang untuk mundur karena persis mepet di belakang saya ada truk segede gaban. Ya walopun saya ga tau gaban itu segede apa karena belom pernah liat, untuk sekarang kita asumsikan aja kalo gaban itu segede truk. Jadi dibelakang saya ada truk yang segede gaban yang segede truk. Demikian. Sementara angkot di depan saya bermanuver balik arah. Tanpa banyak berpikir saya segera  meniru angkot itu.

Sial!

Tidak semulus si angkot yang mungkin dalam sehari lewat jalan itu 5 kali. Daihatsu Sirion biru langit saya maju mundur 4 kali berusaha secepat mungkin melarikan diri dari tempat itu, sebelum "sesuatu" yang menimbulkan asap putih itu meledak. 

Di otak saya terangkai suatu adegan dari film Hollywood dimana ada scene sebuah mobil terlempar ke udara oleh ledakan maha dashyat disertai puluhan lidah api berwarna merah oranye yang menjulur-julur ke udara. 

Dalam AC mobil saya saat itu yang (tumben) dingin, sekujur tubuh saya bermandi keringat. Keringat dingin.Setir mobil tiba-tiba jadi seberat kayak narik ember dari sumur pas lagi nimba. Ketika posisi mobil saya sudah siap mau melaju, di hadapan saya sebuah motor tiba-tiba berhenti. Teeeeeeeeeeeetttttt..... saya pencet klakson sekuat tenaga. 

Eh tapi kog, truk gaban yang sebelumnya ada di belakang saya kembali melaju ke depan, ke arah sumber asap malapetaka itu? saya lirik spion, asap putih nya sudah menipis. Akhirnya saya kembali mengulang gerakan manuver balik arah di jalan sempit yang membuat ketiak saya bersimbah keringat. fiuh.

"Ga ada apa-apa kog, Mil. Cuman ada tumpukan kayu gitu," Rossa masih penasaran sama sumber asap putih pekat yang ternyata bukan berasal dari sesuatu yang mau meledak.

Perjalanan menuju sisa-sisa kejayaan Kerajaan Islam Banten pun dilanjutkan diiringi oleh hentakan beat dari lagu Pittbull.

Bermodalkan petunjuk singkat oret-oretan saya di selembar kertas notes: Exit toll Serang Timur - Belok kanan - 11 km sampai di Banten Lama,  akhirnya kita tiba di depan bangunan semacam benteng. Waktu menunjukan pukul setengah 10 pagi, total perjalanan sekitar 3 jam dari depan halte Komdak - tempat saya mengangkut Neng Ocha yang naik bus dari Bogor. Tapi itu pun sudah termasuk coffee break di rest area toll.

Coffee Break narsis
Sebenarnya saya janjian dengan segerombol perempuan-perempuan untuk berwisata ke sisa-sisa kejayaan Kerajaan Islam Banten yang terletak di bagian barat pulau Jawa itu jam 10 pagi. Tapi ternyata sebagian ada yang salah bus, bus nya balik lagi ke terminal Kampung Rambutan, dan ada juga yang nyangkut di Terminal Bus Serang ditemenin sama om-om berkumis. Akhirnya saya dan Ocha memutuskan masuk duluan ke bangunan semacam benteng yang namanya masih belum kita ketahui.

Berdua kita menyusuri jalan setapak yang dikiri dan kanan nya terdapat kios-kios penjual macem-macem barang, dari mulai tas, peci, minyak wangi, oleh-oleh khas banten hingga buah sawo dan kesemek. "kalo mau ke istana itu pintu masuknya disana, tapi masih di kunci." kata mas-mas yang lagi nongkrong di warung kopi. 

Di depan pintu reruntuhan Istana Surosowan yang terkunci
Setengah ga percaya kita tetap saja ngeloyor ke arah pintu gerbang dan bener ternyata kekunci. Ada papan pengumuman yang digantung kalau mau masuk hubungi petugas di museum. Ternyata bangunan semacam benteng itu namanya Istana Surosowan.

Pas lagi bingung-bingung mau cari orang yang bisa ditanya dimana letak museum nya, tiba-tiba kita di teriakin ibu-ibu menor. "Neng, kalau mau masuk ke istana ambil kunci dulu di pos museum. itu disana lurus aja. bagus di dalem buat foto-foto," seru ibu-ibu itu dengan suara high pitch nya tanpa kita tanya dulu. 

"Ini nih hebatnya orang Indonesia," kata saya ke Ocha, masih agak shock disapa ibu-ibu menor pagi-pagi. "Ramah nya nomor satu. Belom juga kita tanya, dia udah ngasih tau duluan."

Sampai di pos jaga Museum kita ketemu sama Pak Naraji sang kuncen (red. juru kunci). Beliau lah yang akhirnya mengantar kita sampai ke dalam Istana Surosowan dan menjelaskan tentang sisa-sisa bangunan yang ada disana, di tengah rintik hujan yang terbawa angin.

Di jalan menuju pintu masuk, si bapak itu berhenti di suatu undakan batu yang di sangkarin besi yang menurut papan keterangan bernama Watu Gilang. "Disini tempat pejabat-pejabat kerajaan di sumpah ketika pelantikan, ayo difoto," katanya setengah memaksa. Saya & Ocha ga ada yang bergeming buat ngambil kamera dan memotret objek yang buat kita ga menarik itu, tapi si bapak kayaknya ga akan beranjak dari situ sebelum kita ada yang motret deh.

Akhirnya saya mengalah, mengeluarkan kamera dan memotret Watu Gilang itu sekaligus sama Pak Kuncen berserta kumis lebat yang nongkrong pas memenuhi ruang antara bibir dan hidung nya. 

Pak Kuncen di depan Watu Gilang

Tetep eksis walopun ujan

di antara puing-puing reruntuhan Istana Surosowan
Pak Kuncen itu rupanya suka maksa. Setelah selesai menjelaskan tentang Istana Surosowan, kita dipaksa memilih mau ke Benteng Speelwijk dulu atau ke Istana Kaibon dulu. Kedua tempat itu jaraknya lumayan jauh dari lokasi kita berada sekarang. Maksud hati kita sebenarnya mau nungguin kawan-kawan lain yang masih kena aral melintang di jalan, tapi ga tega nolak kemauan si bapak akhirnya kita berdua pasrah di naikin ke atas becak menuju Istana Kaibon.

"Nanti Bapak bukain kunci Kaibon nya, kita ketemu disana ya," katanya melepas kepergian kita dengan becak.

Narsis di Becak
Lama ga naik becak, saya & Ocha ribut banget di dalem becak yang sempit. Di depan billboard besar bergambar Ratu Atut, becak yang kita tumpangi hampir terjungkir karena rodanya tergelincir di batas antara aspal dan jalan berbatu. Si abang dengan sigap mengarahkan setir becak ke kiri untuk menjaga keseimbangan ban yang tergelincir itu, tapi tidak melihat pas di depan kita ada sebuah sepotong selembar pintu mobil yang posisi nya lagi terkuak lebar. Becak mungil itu nyaris saja menubruk pintu mobil jika pengendara nya tidak sigap menarik pintunya dari dalam mobil. 
 
Dari kejauhan kita dapat melihat mobil acara dangdut Banten TV yang cat nya warna warni nge-jreng sudah parkir dengan manis di halaman istana. Rupanya sedang ada syuting. Istana Kaibon nasibnya masih lebih lumayan daripada Istana Surosowan, masih ada beberapa sisa-sisa bagian dindingnya yang kelihatan sementara Istana Surosowan beneran luluh lantak oleh gempuran Belanda semasa perang dulu. 

"Di sini juga sering di pakai syuting sinetron Indosiar," Pak Naraji menjelaskan. 

Sebenarnya Pak Kuncen naraji itu sudah menyiapkan rencana untuk kita ke tujuan berikutnya, tapi kemudian saya menjelaskan bahwa teman-teman saya sudah menunggu di dekat Masjid Agung yang lokasi nya di seberang Istana Surosowan. Pak Naraji segera melaju dengan motornya kembali ke museum, sementara saya dan Rossa berjalan kaki menyusuri balik jalan yang kita lalui dengan becak sepanjang hampir 1 Km diantara deru angkot dan bis pariwisata yang isinya rombongan anggota pengajian yang mau Ziarah. 

Selamat Datang di Banten Lama

Muka habis jalan kaki 700 meter
Menjelang saat makan siang kami tiba kembali di halaman museum. Dimuka gedung museum Lili melambaikan tangannya memanggil-manggil. Rombongan terkumpul di Mesjid Agung, total 8 perempuan cantik melakukan petualangan napak tilas sejarah Kerajaan Banten. Hari masih panjang dan petualangan masih berlanjut ke Benteng Speelwijk dan Klenteng, ditutup dengan pencarian kuliner Pecak Bandeng yang tak kunjung ketemu. Akhirnya rombongan berpisah di depan warung sate bandeng, sementara saya & Rossa kembali meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...