Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Jakarta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

Naik Kereta Bandara Soekarno Hatta

Pulang dari Lombok kemarin kesempatan saya mencoba Kereta Api Bandara yang belum lama diresmikan Presiden Joko Widodo. Sekalian juga saya mau coba naik Skytrain bandara yang juga masih baru, cuma berselang beberapa bulan dari Kereta Api Bandara. 

Untuk menuju ke Stasiun Bandara Soekarno Hatta dari terminal 1, 2 atau 3 bisa menggunakan shuttle bus bandara atau sky train. Saya tiba di Bandara dengan pesawat pagi dari Lombok. Sampainya sih jam 7 pagi tapi saya makan dulu jadi baru jalan ke arah stasiun skytrain jam 7.30. Skytrainnya sepi. Dari terminal 1 saya turun di stasiun kereta bandara. 

Stasiun Bandara juga masih sepi, mungkin karena masih baru dan belum banyak yang tertarik naik kereta karena masih mudah dapat taksi atau damri. Mungkin juga sepi karena masih pagi, kios-kios jualan makanan dan minuman juga belum ada yang buka. Saya celingak celinguk di ruangan yang sepi itu kemudian lihat mesin beli tiket. Saya segera menuju mesin  yang kosong.

Mesin untuk beli tiket tersebut tampaknya tidak menerima uang cash. Jadi ada 3 metode pembayaran: Kartu Prepaid (Brizzi, BNI tap), Kartu Debit/kredit, voucher. Saya tidak punya kartu prepaid dari bank yang bisa dipakai, yang saya punya e-money malahan belum bisa digunakan di mesin itu. Jadi saya pilih metode pembayaran menggunakan kartu debit. Mesin EDCnya disediakan, jadi kita swipe sendiri kartu kita dan memasukan kartu pin. 

Awalnya saya bingung karena ketika saya swipe layar monitor tidak menunjukan perubahan, saya pikir swipe nya belum terdeteksi, ternyata ada tulisan masukan pin di mesin edc nya. Untung ada mas-mas baik hati yang nyamperin dan ngasih tau saya ketika saya tampak kebingungan.

Setelah masukan pin, kita pilih jadwal keberangkatan kereta jam berapa. Harga tiketnya 70ribu, berhenti di Stasiun Sudirman Baru. Jadwal kereta bisa dilihat di websitenya www.railink.co.id. Ruang tunggu stasiunnya edgy banget desainnya. Kita masuk ke dalam kereta dengan menempelkan barcode tiket kita di portal masuk. Nanti keluar juga tempel barcode, jadi tiketnya jangan sampai hilang.

Kereta bagus dan masih sepi. Lagi-lagi saya bingung karena di keretanya ada nomor tempat duduk sementara di tiket saya tidak ada nomor bangkunya. Pemberhentian pertama di Stasiun Batu Ceper. Setelah itu Baru di Stasiun terakhir, Sudirman Baru. Stasiunnya ternyata tidak menyambung dengan stasiun KRL dalam kota, jadi akhirnya saya naik taksi dari situ ke kantor saya di wilayah pancoran. Argonya 50 ribu.

Kalau dihitung-hitung, apabila saya langsung naik taksi dari bandara ke kantor, termasuk bayar toll mungkin biayanya sekitar 150rb-160rb. Dengan naik Kereta Bandara, 70 ribu tambah 50 ribu, jadi 120ribu. Bedanya tidak begitu jauh apabila saya pergi sendiri. Kalau perginya berdua atau bertiga masih lebih murah naik taksi. 

Mungkin dengan kereta waktu tempuh lebih cepat karena tidak macet. Tapi kalau berhentinya di tengah-tengah sudirman sementara rumahnya di bekasi, ya sama saja sih.  Misalkan saja kereta bandara boleh berhenti di stasiun-stasiun krl yang terhubung dengan rute dalam kota, nah itu lebih enak lagi. Setidaknya dengan adanya kereta bandara ini merupakan suatu kemajuan dalam sistem tranportasi umum di Jakarta yang saya lihat makin banyak kemajuannya.




Kamis, 16 November 2017

ITB Ultramarathon Jakarta-Bandung 170km

Beberapa bulan lalu, tidak lama sebelum bulan puasa tahun ini, saya mulai mengikuti awal terlahirnya event yg idenya berawal dari salah satu pelari ultramarathon senior saya di kampus yang sudah malang melintang di dunia perlarian. Ide pelari ultramathon tersebut kemudian disambut oleh dua orang senior saya yang sudah jadi orang-orang hebat. 

Yang saya takjub dari ketiga beliau adalah ditengah kesibukan sebagai para petinggi tingkat (multi)nasional masih sempat2nya create event lari dalam waktu kurang dari satu tahun, efektifnya mungkin hanya 4-5 bulan. Acara lari ini mengambil rute dari jakarta ke kampus ITB di Bandung lewat puncak yang diselenggarakan untuk menggalang dana yang akan disumbangkan ke Fakultas tempat saya kuliah dulu. Acaranya diberi nama Tribute to FTMD (fakultas teknik mesin dan dirgantara).

Hal ini jd semacam re-charge energi dan motivasi buat saya - anak magang yang timbul tenggelam, bahwa gak ada satu ide gila pun yang tidak mungkin terlaksana dengan semangat, kerja keras dan ..... 

koneksi.

...makanya gaul itu juga penting. 

Jarak Jakarta - Bandung yang ditempuh sekitar 170km. Boleh ditempuh sendirian, boleh juga keroyokan. Bisa ber-2, ber-4, ber-8, dan ber-16. Demi untuk menjaring banyak anggota saya ikut kategori ber-16, jadi masing-masing pelari dapat jatah sekitar 10an km.



Mengumpulkan 16 orang dalam 1 team lari ternyata gampang-gampang susah. Memerlukan skill personal approach, negosiasi dan persuasi. Terutama ketika berusaha mendapatkan pelari perempuan kedua dan satu2nya yang bergelar Doktor @kireinashit dalam tim, sempat terjadi perebutan dan negosiasi alot dengan tim sebelah yang anggotanya perempuan semua. 

Walaupun rencana latihan bersama seminggu sekali hanya tinggal wacana, namun kapten tim yang penyabar, Hamzah, tetap berhasil mempertahankan kesatuan dan kekompakan. Detik-detik terakhir sempat terjadi krisis karena salah satu anggota berhalangan, namun kapten dengan tenang berhasil menanggulangi masalah ini dan membawa anggota baru, Igan - ikhwan ganteng sebagai pengganti. 

Tantangan sebenarnya dari ultramarathon ini bukan hanya di lari, tapi strategi mengatur logistik 16 pelari yang akan melewati jalur padat di akhir minggu. Untungnya ada Shadiq, pelari sekaligus ahli strategi yang sistematis. Ada juga pelari sekaligus penasihat tim yang kadang ide2nya brilian tapi lebih seringnya sampah, Chris yang juga pencetus nama tim ini, yaitu 137runner, 137 karena NIM kami semua berawalan 137. 

Unggulan tim ini adalah Hendra, pelari kencang berprestasi atlit PON kebanggaan kami yang sudah naik-turun podium. Yang tidak kalah fenomenal juga ada Ari yang rajin ikut race, Dicky (mantan) atlit kampus, Bagus, Helmi, dan Ganjar yang berwajah lugu tapi larinya jauh. Lalu ada para pemula yang kemampuannya meningkat pesat Fino, Budi -pelari sekaligus sponsor tim, dan Dodi - tangan kanan kapten. Satu lagi adalah pelari yang paling misterius, karena banyak dari anggota tim yang belum pernah melihat sosoknya (mungkin hanya bayangannya sangking cepetnya), Alnahyan. 

Tanggal 13 Oktober malam acara race dimulai. Perjalanan ini diawali oleh Igan di lokasi start wisma BNI dengan penuh perasaan cemas dan gugup karena baru pertama kali ikut dalam ajang race. Dikarenakan terbatasnya anggota dan tim support dari KAM maka Igan harus berjuang sendiri di garis start. Tapi kecemasan tak mempengaruhi performanya di ajang perdana ini, Igan berhasil mencapai WS (Water Station)1 di daerah pasar minggu, melewati tatapan sinis dan kesal para pengendara kendaraan yang terkena imbas macet akibat event ini. Pergantian pelari dilakukan di setiap WS.

Di WS1 Igan disambut oleh pelari misterius Alnahyan. Sambil mengunyah nata de coco, Al berhasil mencapai WS2 yang jaraknya lebih dari 10km dari WS1 pada pukul 00.34 wib, hanya dengan waktu 1.15 saja. Kedua pelari awal ini mengangkat estimasi waktu finish secara drastis sehingga rombongan pelari puncak memutuskan untuk berangkat lebih awal. Meminjam istilah Hendra bahwa Djakarta adalah Koentji! 

Sementara itu tanpa ada kesepakatan sebelumnya selalu ada pantauan dari grup wa 137runner, bergantian memberi support dan memantau perkembangan race. Dari Al, estafet dilanjutkan oleh Fino hingga tiba di ws3 pada pukul 02.08. Waktu tempuh Fino jg merupakan pencapaian yang luar biasa untuk pelari yang baru perdana ikut race, langsung menempuh jarak 10km dan larinya di jam2 orang lain bobo. Budi, yang merupakan newbie di dunia perlarian sudah siap menyongsong Fino di WS4. 

Ke newbie-annya membuat saya paling khawatir dengan Budi, sampai secara personal berkali-kali menyampaikan kalau ini acara fun, tidak perlu dipaksakan, dan tidak harus menyelesaikan 10km jatahnya. Tapi ternyata Budi berhasil menaklukan tantangan dengan support dari anggota di wa grup. Pukul 04.15 Budi berhasil mencapai WS5 di cibinong. Menjelang finish saya ketemu budi di kampus dengan gaya jalan yg sudah tertatih-tatih, tapi ketika yori mendekati finish budi tetap semangat ikut mengiring dari gerbang ganesha hingga gerbang finish dengan bertelanjang kaki. 

Dicky lanjut berlari dari ws4 menuju ws5, sementara itu pelari ke7, chris sudah berangkat lebih awal dan menunggu saya (mila) yang akan melanjutkan dicky dari bogor hingga daerah ciawi. Saat itu sekitar jam 4 subuh, padahal estimasi awal chris mulai lari pukul 11 siang. Jam 5 subuh rombongan pelari puncak hamzah, hendra, shadiq, bagus sudah berangkat juga. 

Pkl. 5.15 Dicky tiba di WS5. Kemudian giliran saya untuk melanjutkan arm band estafet hingga WS6. Jalan padjajaran bogor yang selama ini dilalui dengan angkot dan mobil rasanya datar-datar saja ternyata merupakan tanjakan tanpa bonus. Lewat dari 10km saya mulai merasa hilang arah karena tidak melihat ada pelari lain dan atau penunjuk arah, akhirnya tanya tukang parkir dimana arah wisma kemenag, tempat finish saya. Untung katanya masih lurus saja, berarti saya ada di jalur yang benar. Setelah melewati perempatan masuk ke jalan tol, pasar ciawi, gerobak bubur ayam, lontong sayur, gorengan saya tiba juga di ws6 pukul 7 passss... menempuh jarak 11.36 km dan elevasi 200 meter. 

Perjalanan saya dilanjutkan oleh chris yang harus melalui jalan dengan elevasi yang lebih dasyat lagi di daerah cisarua menuju Cimory. Dari jatah waktu COT 3 jam yang diberikan panitia, Chris mampu menyelesaikan dalam 1 jam 20an menit saja. Hendra, atlet kebanggaan 137runner lebih parah lagi. Berhasil membuat tukang ojek puncak minder karena berlari 10km elevasi 400an dengan waktu 1 jam doang. Itu baru pemanasan doang buat dia kayaknya soalnya masih kepingin lari lagi di slotnya helmi yang tiba2 sakit menjelang race. GWS ya helmi, semoga next event bisa ikutan. 

Kapten kita, Hamzah, melanjutkan perjuangan Hendra dari WS8 menuju WS9 dengan waktu yang tidak kalah gokil, kira-kira sejam doang juga ! Fiuh. Pkl. 10.20 hamzah sudah tiba di WS9, membawa 137runner memasuki segmen menurun dari kawasan puncak. Berlari di turunan yang panjang sebenarnya sama sulitnya dari berlari di tanjakan. Malahan lebih rawan cedera karena di turunan harus melawan gaya gravitasi. Shadiq yang ditugaskan berlari menyusuri elevasi yang semakin menyusut sepanjang sekitar 12km. Banyak anggota 137runner yang khawatir ketika shadiq berlari, bukan khawatir takut cedera, tapi khawatir ketika lari tiba2 dibelakangnya jadi banyak yang mengejar - para gadis kembang desa. 

Pkl 13.40 arm band beralih dari shadiq ke bagus di WS11. Dengan ceria dan sumringah, dibawah terik matahari yang panas, bagus berhasil tiba di WS12 pkl. 13.40 dan menyerahkan arm band kepada kapten hamzah lagi yang akan berlari mewakili helmi. 

Sementara para pelari berjuang menyelesaikan segmen masing-masing, kedua orang team manager- Aldy dan Putu, juga bekerja keras dengan penuh dedikasi mensupport mobilisasi pelari dari dan ke tiap WS. Konon Aldy sampai harus berkorban kartu ATM yang tertelan di mesin atm. Saya yakin capeknya manager team juga sama dengan para pelari, bahkan mungkin lebih, karena harus menyetir selama belasan jam melewati jalur naik turun dan macet. 

Hamzah tiba lagi di WS13 pukul 15.17. Katanya sempat ada insiden kaki keram tapi untungnya tiba juga dengan selamat dan menyerahkan tugas selanjutnya ke Dodi. Sebelum race saya sempat wa putu, yang merupakan kawan seangkatan dodi. Saya curiga sama kelakuan dodi yang gak pernah ikut latian bareng, ga pernah share hasil lari di grup wa, tapi kalau ngumpul selalu ada dengan sikap kalem dan cengengesan. Waduh, jangan2 dia bisa beres 10k dibawah 1 jam, kata saya ke putu. Putu bilang, yaa mungkin juga, karena waktu kuliah dulu dodi biasa lari 10k. Dan di event race perdananya ini, dodi berhasil menaklukan jarak yang ditugaskan kepadanya dengan smooth dan banyak foto-foto. 

Pkl. 18.40, Ari mulai berlari dari WS13 ke 14. Sudah semakin mendekati garis finish. Ari yang sudah sering ikut race dan berdedikasi sama latihan larinya juga menuntaskan segmennya dalam waktu 1 jam. Jam 20.54 arm band sudah beralih ke Ganjar, pelari ke 15. Yang artinya tinggal 1 pelari lagi menuju kampus ganesha. Ganjar sempat bermasalah lututnya, tapi tim support dengan cekatan mengantarkan balsem ke Ganjar. Dengan semangat material yang kuat, tangguh, bersemangat, ganjar berhasil mengalahkan masalah lutut dan berlari menyusuri padalarang hingga tiba di WS15, dimana Yori telah menanti. 

Yori, satu2nya doktor di tim lari 137runner, adalah pelari dengan jatah lari paling banyak. Hampir 15km. Menyusuri cimahi, belok ke pasteur, naik ke jembatan layang pasupati kemudian mengarah ke tamansari menuju ganesha. Memasuki jembatan layang Pasupati, rombongan pelari puncak sebanyak 5 orang mulai mengiringi yori. Di tamansari rombongan iringan bertambah dari team manager dan adik-adik MTM yang menyerukan yell-yell sepanjang jalan ganesha hingga memasuki gerbang finish. Pukul 23.10.

NB: sebagian tulisan ini (dan lebih banyak foto-foto) telah dipublish di IG @milasaid

Senin, 06 November 2017

Jakarta Marathon Pertama Saya

Kegiatan lari-lari kecil saya di tahun 2017 ini tidak mengalami kemajuan, baik dalam hal jarak maupun pace. Malahan cenderung mengalami penurunan. Karena di 6 bulan pertama tahun 2017 agenda latihan lari rutin berantakan, jadi pace saya menurun drastis. Sebenarnya dari bulan Maret saya sudah daftar dua race yang jatuh di penghujung tahun, Jakarta Marathon akhir Oktober dan Lombok Marathon awal Desember, keduanya kategori Half Marathon. Ya tapi seperti yang saya bilang, karena 6 bulan jadwal saya berantakan jadi saya baru mulai latihan lagi untuk HM 4 bulan menjelang Jakarta Marathon. Rasanya seperti mulai dari nol, pace menurun drastis yang menyebabkan motivasi juga agak menurun. 

Tahun lalu waktu latihan untuk bali marathon, pace 5k saya sudah masuk 7, walaupun dibandingkan kawan-kawan saya yang lain masih tergolong lelet. Tahun lalu target saya menyelesaikan 15k dalam waktu maksimal 2 jam. Tahun ini pace 5k saya diatas 8, semakin lelet ketika mulai mencapai 10k dan lewat dari itu saya sudah tidak kuat lari nonstop, pasti diselingin jalan cepat. Kalau ditimbang berat saya gak berubah banyak dari tahun lalu, tapi badan rasanya lebih berat. Tapi saya masih optimis bisa finish HM dalam waktu 3 jam. 

Seminggu sebelum race, yang harusnya sudah taper week saya masih mencoba mau lari 15k dalam waktu 2 jam di CFD. Sayangnya usaha tersebut gagal total, karena belum 13k sudah lewat 2 jam saya lari, panasnya sudah terik banget dan sejak lewat 8k saya sudah selingi dengan jalan cepat. Akhirnya saya menyerah di kilometer ke-13. Tahun ini saya memang kurang disiplin dalam mengikuti training plan, banyak bolong-bolongnya dan pengurangan jarak. Kalau tahun lalu saya masih latihan core, HIIT dan yoga, tahun ini nyaris tidak ada. Terasa sekali bedanya ternyata. 

Ini adalah Jakarta Marathon yang ke-5 tapi yang pertama  buat saya. Buat saya ini event lari ke-5 yang saya ikuti (sebelumnya Bali Marathon 2016, Helo kitty run 2016, Synergy run 2017, Ultramarathon ITB 2017). Untuk Half Marathon ini yang ke-2 kali. Kalau dibandingkan kawan-kawan seperlarian saya yang lain sih memang saya tergolong jarang ikut event lari.

Tanggal 29 Oktober, saya bangun jam 2 subuh. Malam sebelumnya sudah beli Milo Kotak untuk sarapan. Tapi ketika Taxi pesanan jemput jam 3 baru ingat kalau Milo-nya ketinggalan di kulkas. Akhirnya saya beli susu coklat kemasan kotak di warung. Saya janjian sama kawan saya Hamzah dan Hendra di Sarinah. Jam 4 kami mulai jalan ke race central di kawasan Monas. Jalan masuknya ternyata jauh aja. Pas akhirnya kami lewat pintu masuk, Full marathon sudah dipanggil untuk siap-siap start, Hamzah yang ikut FM segera bergegas ke garis start sementara Hendra ikut HM tapi mau drop bag dulu. 

Saya telpon kawan saya satu lagi chris yang sudah di race central dari jam setengah 4, dia ikut HM juga. Saya dan Chris agak bingung sama pengumuman start HM, kami berdiri di barisan orang-orang yang ternyata antri untuk start 10k. Akhirnya kami mencoba cari jalan maju, eh ternyata yang HM sudah pada start sekitar 10menitan. Baru lari 2km-an saya pingin pipis. Sebenarnya ada niat mau ke toilet dulu sebelum start tapi ketika lihat antriannya saya jadi males dan berpikir kalau sudah lari nanti juga udah gak bakal berasa pingin pipis. Ternyata saya salah.

Rute larinya dari monas lewat Hayam Wuruk ke arah Kota Tua. Ketika saya tiba di depan stasiun Kota hujan turun, gerimis tapi lumayan basah. Saat itu mungkin sudah lewat 7km. Saya belum pernah lari waktu hujan, apalagi saat itu saya pakai kacamata jadi gak enak banget karena gak ada wipernya. Saya mulai jalan cepat, nah dari itu energi saya kayak langsung turun, padahal belum 10km. 

Hujan gerimis mungkin gak sampai 10 menitan, ketika saya depan lindeteves hujan berhenti, tapi saya sudah terlanjur jalan dan mau mulai lari berat. Apalagi karena kena hujan jadi semakin pingin pipis. Akhirnya saya numpang pipis di KFC yang sudah buka, cari-cari pom bensin gak lewat-lewat. Habis hujan gerimis, langsung panas, cuaca jadi gak enak. Pengap. Apalagi karena keleletan ketika sampai di jalan yang gak steril, jalanan sudah macet, tambah panas kendaraan dan asap knalpot. 

Makin parah ketika tiba di ruas CFD thamrin, itu jam lagi padat-padatnya. Karena sudah susah untuk lari tanpa harus zig-zag, nge-rem dan senggol-senggolan sama orang, akhirnya saya jalan saja. Lagipula target saya finish 2 jam 45 menit sudah lewat dan itu baru km ke 19, jadi masih ada 3km lagi. Disitu saya ketemu sama ibu dari Bogor yang menjadi kawan jalan saya sambil ngobrol sepanjang 2 km di kawasan Thamrin, kami menerobos bundaran HI bersama. Ibu-ibu itu kakinya kram, tapi karena ngobrol jadi mungkin lumayan berkurang. Saya meninggalkan ibu itu di tenda Salonpas, sekitar 1 km dari garis finish. Saat itu saya mulai lari lagi.

Akhirnya setelah berhenti lagi dua kali di perempatan Sarinah karena lampu merah dan di lampu merah sebelum monas untuk kasih jalan ke bus Transjakarta, saya berhasil finis Half Marathon pertama saya tahun 2017 ini. Hasilnya memang jauh dari target, tapi gak apa-apa deh yang penting foto-foto saya yang dipublish bagus-bagus. 


Senin, 23 Oktober 2017

Sepatu Juga Punya Cerita

Satu bulan lebih saya absen dari menulis blog. Padahal banyak yang mau diceritakan dari perjalanan ke banyuwangi, baluran dan ijen bulan agustus lalu. Minggu lalu saya sempat ikut acara yang diadakan alumni kuliah saya, lari relay dari jakarta ke bandung lewat puncak, 16 orang. Minggu depan saya juga lari Half Marathon di Jakarta Marathon. 

Tidak seperti persiapan HM tahun lalu, HM kali ini agak keteteran latihannya. Sejak awal tahun sebenarnya latihan lari saya sudah mulai keteteran, pace dan jarak long run menurun drastis. 3 bulan terakhir saya baru mulai bisa mengatur kembali pola latihan, hingga saat ini sih lumayan ada peningkatan walaupun rasanya kayak mulai dari nol lagi.

Saya mulai gandrung lari tahun 2013. Sebenarnya kalau joging pagi-pagi waktu wiken sih sudah lama. Saya sudah mulai pakai aplikasi lari sejak masih pakai Blackberry, waktu itu saya pakai endomondo. Saat itu saya kalau lari rutenya cuma keliling satu blok yang jaraknya tidak sampai 2km. Baru sekitar tahun 2013 saya menemukan hype-nya para runner yang punya blog dan vlog di youtube. Waktu itu mungkin sudah ada acara race dan komunitas lari di jakarta, tapi mungkin tidak seheboh sekarang, dan karena gak ada kawan-kawan disekitar saya yang join begituan jadi saya juga gak tahu.

Niat rajin lari sudah ada dari tahun 2011, yang diawali dengan beli sepatu. Waktu itu saya tidak riset mengenai sepatu yang mau saya beli. Saya beli hanya karena keterangannya running shoes, warnanya biru muda fav saya dan diskon 30%. Bisa dibilang itu sepatu lari serius saya yang pertama, Reebok, tipenya saya juga tidak tahu. 

Sempat beberapa saat lari rutin di taman belakang kantor dan keliling komplek, saya kena demam berdarah komplikasi tipus yang membuat sepatu reebok biru harus cuti. Hingga tahun 2013, saya berniat mau hiking ke Rinjani, tapi setelah baca sana-sini sepertinya persiapan fisik sangat diperlukan. Kemudian saya install aplikasi nike run di iphone saya, membeli treadmill dan mengeluarkan sepatu Reebok biru dari dalam dusnya. Dalam beberapa bulan, dari jarak tempuh yang hanya berkisar 2km-an saya berhasil mencapai 5km pertama saya di tahun 2013 itu pakai Reebok biru. Saya baru ke rinjani tahun 2014, menggunakan sepatu rebook biru yang kemudian saya kasih nama sepatu Rinjani. 

Untuk menghadiahi pencapaian lari karena telah menembus 5km, saya membeli sepatu lari serius saya yang kedua yaitu Nike Free. Ketika beli yang ini saya sudah mulai riset sedikit-sedikit. Saya suka sih pakai Nike Free karena ringan banget. Saya pun makin semangat lari di treadmil, di taman tebet dan komplek. Saat-saat itu saya juga ikut Bikram Yoga selama 2 bulan dan sempat ikut latihan Muaythai di tebet. Badan terasa fit banget jaman-jaman itu. Kemacetan Jakarta belum separah sekarang jadi entah kenapa waktu dan energi saya berasa jauh lebih banyak. 

Walaupun terasa fit dan hiking rinjani terlaksana, namun hingga tahun 2015 jarak lari saya gak pernah lebih dari 5km-an. Sepatu Reebok biru sudah koyak-koyak karena saya pakai ke Rinjani, jadi saya beli sepatu Reebok lain sebagai gantinya. Sepatu Reebok yang ini pun saya tak tahu tipenya. Waktu itu targetnya hanya mau cari running shoes yang harganya dibawah 1jt, jadi saya tetap punya dua sepatu lari untuk ganti-ganti. Sepatu rebook yang kedua itu kelak adalah sepatu yang saya gunakan untuk naik ke Ijen, sehingga sekarang saya kasih nama Sepatu Ijen.

Di tahun 2015 saya baru bikin target untuk menembus 5km, yaitu lari 10km pada saat ulang tahun saya alias birthday run. Jadi butuh waktu hampir 2 tahun buat saya, dari 2013 ke 2015, untuk mencapai jarak lari 10km. 

Awal tahun 2016 secara impulsif saya ikut mendaftar Race pertama saya, langsung Half Marathon! 21.1 km, dua puluh satu koma satu kilo meter. Jarak dari rumah saya ke kantor saja hanya 11km. Half Marathon itu nyaris jarak Pulang Pergi dari rumah ke kantor saya. Saya hanya punya waktu kurang dari setahun untuk persiapan. Tapi cukup sih, saya latihan pakai program training yang ada di aplikasi nike run. Selain itu saya juga mulai riset soal makanan dan latihan-latihan lain untuk menunjang lari, seperti strength training buat core dan yoga untuk strecthing. 

Kebetulan ketika lagi jalan-jalan di Lotte Avenue ada counter sepatu Asics yang lagi sale. Lumayan banyak diskon cuci gudangnya, akhirnya saya beli Asics GT-1000, yang hingga saat ini masih jadi sepatu favorit karena paling enak dipakai walaupun berat. Ganti dari Nike Free yang ringan banget ke Asics lumayan terasa di kaki, waktu pertama saya pakai mulai berasa di kilometer ke-6. Tapi lama-lama terbiasa juga sama beratnya. 

Beberapa bulan yang lalu sepatu Nike Free yang saya beli tahun 2013 sudah waktunya pensiun. Kalau dipakai lari agak jauh terasa keras lama-lama kayak telapak kaki langsung injak aspal. Tapi karena penampilannya masih bagus, sekarang masih saya gunakan untuk jalan-jalan. Setelah browsing sana sini, saya memutuskan beli Nike Pegasus untuk ganti Nike Free karena Nike Pegasus lebih cocok untuk long distance running - menurut beberapa sumber yang saya baca.

Ternyata nyaman juga pakai Nike Pegasus. Walaupun tidak seempuk Asics kalau dipakai lari jarak jauh tapi lebih ringan. Harganya juga lebih murah dari sepatu Nike lain yang untuk long distance running walaupun gak murah juga ya, sampai sekarang masih suka nyesek kalau injak becek

Khusus untuk lari saya rela deh keluar uang lebih untuk beli sepatu, karena sepatu itu penting untuk mencegah cedera dan juga untuk kenyamanan. Alhamdulillah sampai sekarang saya belum merasakan sakit lutut atau sakit-sakit aneh lainnya di kaki, palingan pegal aja kalau habis lari lebih jauh dari biasanya. Kalau baju sih saya gak beli yang mahal-mahal, kadang kaos yang enak dipakai lari itu yang sudah lemes karena dipakai tidur. Sekarang-sekarang malah saya kalau lari pakai kaos seragam dari acara race.

Yah jadi itu lah kisah-kisah sepatu dan mantan sepatu yang telah menemani saya berlari dari kenyataan hidup mulai dari tahun 2011 hingga sekarang. Kadang kalau lihat sale sepatu atau lihat sepatu model baru rasanya pingin beli, tapi kalau diturutin beli sepatu terus gak punya ongkos buat travelling lagi donk.

Jumat, 28 April 2017

Jalan-jalan di Ibukota sama Mommy Bule

Mommy bule keturunan Viking dari Norwegia ini orangnya luar biasa, saya nge-fans. Di tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya, beliau sudah bikin perusahaan sendiri untuk menegerjakan pekerjaan konstruksi terowongan menggunakan metode yang dikembangkannya pada saat penelitian Doktor. Usianya sepantaran Papa Said, tapi saya aja kalah lincah sama beliau. Masih semangat manjat-manjat bukit sendirian di lokasi proyek sementara saya ngopi di warung. 

Kisah awal saya bisa kenal dengan mommy bule ini bermula 4 tahun lalu. Berawal dari perkenalan saya dengan Felicity, blogger yang menikah dengan orang Norwegia dan tinggal disana. Saya sudah beberapa kali kopdar sama dia ketika pulang ke Indonesia, hingga suatu ketika Feli datang bersama suaminya, T, dan dikenalkan ke saya. Ngobrol-ngobrol ternyata bidang pekerjaan kita berkaitan, sama-sama di bidang konstruksi. T sempat mampir ke kantor saya juga waktu itu.

Saya lupa kapan tepatnya setelah pertemuan dengan Feli dan T, dia menghubungi saya melalui e-mail. Katanya ada rekan ayahnya, T Senior, yang lagi sendirian di Indonesia. Kalau ada waktu dia minta saya menengok keadaan rekan T Senior, saya diberikan kontaknya. Ternyata yang bersangkutan lagi di Bandung untuk dalam rangka mengejar suatu pekerjaan pembangunan terowongan. Kebetulan waktu itu lagi ada waktu luang jadi saya menghampiri ke Bandung dan sejak itu hubungan kami berlanjut hingga sekarang saya sudah anggap beliau mommy saya sendiri, mommy bule. Saya udah kayak anak angkatnya. 

Malahan tahun lalu Mommy bule dua kali berkunjung ke Indonesia membawa anak laki-lakinya. Waktu baru datang anaknya kaku dan dingin banget. Senyum aja pelit. Setelah 3 hari kena sinar matahari tropis yang hangat, sate, nasi padang dan gurame bakar, jadi cengengesan melulu. 

Awal tahun lalu Mommy bule kembali ke Jakarta sendirian. Kami sempat ke Bandung untuk melihat lokasi proyek, kemudian balik ke Jakarta. Sebelum pulang ke Norwegia saya sempat mengajak beliau jalan-jalan sore di Jakarta dengan fasilitas umum. Kita ke Kota Tua. Perginya naik Bus Transjakarta dari hotel Bidakara. Pulangnya naik Kereta Commuter Line dari Stasiun Kota ke Stasiun Cawang, Makan bakso di TIS, kemudian naik Bajaj kembali ke hotel.

Di Kota Tua

Naik Commline
Beberapa tahun belakangan ini saya merasakan kemajuan yang berarti dari sistem transportasi umum di Jakarta. Walaupun masih banyak kekurangan dan komplain tapi sudah mulai kelihatan terkoneksi. Lebih baik terlambat daripada tidak kan? 

Di Stasiun Kota waktu mau beli tiket commuter line saya sempat norak lihat mesin beli kartu seperti di Singapura. Mommy bule juga tampak kagum. Beliau tampak senang dan memuji adanya tempat khusus perempuan di Bus Transjakarta dan gerbong khusus perempuan di Commline. Kebetulan aja waktu itu perginya pas hari libur, jadi berasa nyaman. Kalau pergi di hari kerja di jam rush hour mana bisa selfie sambil nyengir di dalem kereta. 

Rabu, 19 April 2017

Synergy Run

Acara lari ketiga yang saya ikuti. Kebetulan saya berteman di Path sama Race Director nya yang share link untuk daftar di socmed nya tersebut. Iseng-iseng saya klik link nya, ternyata biaya pendaftarannya murah, 150 ribu saja untuk kategori 10k. Di acara ini hanya ada 2 kategori, 5k dan 10k. Lokasinya juga tidak jauh, start di FX, lari sekitar Jl. Sudirman, finish di FX. Ya saya langsung daftar. 

Sejak awal tahun 2017, dengan adanya pekerjaan baru, jadwal latihan lari saya berantakan. Bahkan saya sudah tidak punya cadangan energi untuk berkebun lagi, semuanya terkuras di jalanan. Dengan sisa-sisa energi yang ada saya mencoba untuk tetap lari di sabtu atau minggu, walaupun stamina jauh berkurang. Saya juga belum mampu mengatur lagi pola makan saya sehingga badan saya balik terasa enggak fit dan sluggish. Bahkan saat bangun tidur saya merasa seluruh badan sakit semua kayak abis lari marathon. 

Hampir saja saya kelewatan acara ini. Seingat saya event Synergy Run ini akan dilaksanakan akhir April, ternyata bulan Maret. What?! Saya belum sempat latihan serius, malahan banyak saat dimana satu minggu penuh saya gak lari karena saat weekend tubuh saya menolak bangun pagi karena di hari-hari lain bangun jam 4 subuh. Saya baru sadar ketika ada notifikasi untuk mengambil Race Pack.

Yah karena larinya jarak 10k saya masih percaya diri untuk tetap ikut walaupun waktunya menyedihkan banget. Jauh lebih jelek dari waktu saya latihan lari menghadapi HM tahun lalu, padahal lokasinya sama, di Jl. Sudirman (Car Free Day). Di luar waktu finish saya yang jelek, kaosnya bagus dan medalinya bagus - medali 10k pertama saya. 

Yang unik dari synergy run adalah ada kategori lari pakai kostum nusantara. Jadi pagi-pagi sebelum start saya lihat sudah banyak peserta berkostum baju daerah. Kostumnya juga gak tanggung-tanggung, komplit kayak acara pawai 17 Agustusan jaman saya kecil dulu. Sayangnya yang 10k start duluan jadi saya tidak sempat lihat peserta berkostum lari-lari.

Saya ketemu Astrid, teman yang ketemu di HM Bali Marathon. Reaksi saya pertama pas lihat dia langsung, "woooow.. lu kurus banget." Emang iya! kurusnya drastis dari terakhir saya ketemu di Bali bulan Agustus. Dia aktif banget ikut event lari, malahan tahun ini katanya sudah mau coba lari Full Marathon. Whoaaa... saya kapan? hiks.






Selasa, 28 Maret 2017

Semalam di Bidakara Hotel

Sebenarnya ini kejadian sudah agak lama, tepatnya awal tahun 2017. Waktu itu kenalan bisnis saya dari Norwegia datang berkunjung ke Indonesia. Pesawatnya tiba malam hari di Jakarta. Tadinya saya janjian ketemu dengan beliau malam hari di hotel yang telah di booking sama dia, yaitu Hotel Bidakara. Lokasinya dekat dengan kantor saya di kawasan Pancoran. 

Saya lupa awalnya kenapa saya iseng buka web pemesanan hotel, ternyata Hotel Bidakara lagi ada diskon yang lumayan banyak, walaupun dapatnya hanya room only tanpa breakfast tapi rate nya cukup menarik. Saya sering banget ke Bidakara, tapi biasanya hanya untuk acara conference atau sekadar janji ketemu orang dalam rangka bisnis, karena hotel ini termasuk salah satu meeting point kegiatan bisnis. Kalau untuk menginap, baru pertama kali. 

Saya berangkat dari kantor jam 5, tiba di Bidakara jam 5.20an. Dekat banget. Masih banyak waktu untuk explore hotel hingga Anne-Lise tiba di Jakarta, menurut perhitungan saya sekitar jam 9 malam. Saat itu hotelnya lagi sepi, mungkin karena tidak ada kegiatan training atau seminar dari kantor-kantor. Kamarnya luas, saya dapat view skyline gedung arah kuningan di jendela kamar. 

Sisa kamar tinggal yang twin bed, jadi satu bed buat saya, satu lagi buat tas

Skyline City view

Secara keseluruhan hotel ini memang excellent, sesuai dengan kelasnya, bintang 4. Yah walaupun Anne-Lise sempat complain kalau para staff nya banyak yang kesulitan dengan Bahasa Inggris. Tidak heran kalau hotel ini merupakan salah satu hotel favorit untuk tamu-tamu dengan tujuan bisnis, apalagi meeting rooms dan ballroom disini sudah sangat terkenal reputasinya.

Saya coba lihat fasilitas olah raganya, ada kolam renang dan gym. Kebetulan di mobil saya selalu sedia baju renang dan perlengkapan lari. Jadwal saya kan setiap harinya tidak pasti, makanya selalu siap-siap, jadi kalau ada waktu luang bisa langsung olahraga. 

Kolam renangnya terletak di rooftop dan bagus, bikin tambah semangat pingin berenang. Tapi setelah coba celupin tangan ke airnya ternyata dingin sekali. Sore itu memang sedikit hujan rintik-rintik. Saya akan orangnya paling gak kuat dingin, akhirnya mengurungkan niat untuk berenang. Batal berenang, saya putuskan mau lari aja 5km di treadmill. Ini pertama kali saya menggunakan fasilitas gym di hotel, suer. Yah, lumayan bisa latihan sebentar. 

Di lantai bawah hotel ada restoran dan cafe, diantaranya Starbuck dan Excelso. Ada juga convenience store, Family Mart, yang cukup komplit. Selain itu ada Taylor (tukang jahit, bukan Swift) dan Sport Warehouse yang menjual alat olahraga dengan harga diskon, iseng-iseng masuk sport warehouse saya malah belanja sport bra dan celana pendek. Tuh kan jadi salah fokus.

Anne-Lise datang sekitar jam 10 kurang karena pesawatnya delay, kami sempat diskusi sebentar mengatur jadwal kegiatan selama kunjungannya ke Jakarta dan Bandung. Selain urusan bisnis, saya juga sempat mengajak beliau jalan-jalan ke Kota Tua pakai fasilitas transportasi umum di Jakarta. Nanti kapan-kapan saya lanjutin ceritanya.

Hotel Bidakara
Jl. Jend Gatot Subroto Kav. 71-73
Pancoran
Jakarta Selatan
www.bidakarahotel.com

Minggu, 19 Februari 2017

Harus Pergi Liburan

Terhitung awal januari 2017, saya secara resmi menjalani kehidupan di dua pekerjaan. Di bulan kedua juggling antara pekerjaan satu dan yang lainnya, rasanya hari-hari saya sudah mulai kocar-kacir dan keteteran. Pekerjaan saya yang baru lokasinya jauh banget, jarak tempuh 40 km sekali jalan dari rumah saya. Otomatis saya berangkat harus subuh. Diantara waktu itu saya harus meluangkan waktu untuk pekerjaan nomor dua saya, jadi kadang sabtu juga saya harus kerja.

Seperti misalnya sabtu lalu, dari pagi mengerjakan dokumen tender. Hari minggu malam saya berangkat ke semarang. Senin subuh tiba di semarang langsung ke jepara. Siangnya langsung balik ke semarang, tidak lupa mampir ke kudus untuk makan garang asem favorit. Sorenya sudah naik kereta lagi ke jakarta. Sampai rumah hampir tengah malam. Selasa subuh saya sudah harus berangkat ke kantor baru saya yang berjarak 40 km dari rumah itu. 

Ngomong-ngomong, perkembangan kereta api luar kota semakin bagus saja sejak terakhir kali saya naik kereta ke Jogja dua tahun lalu. Saya beli tiket di Indomaret, dapat struk yang ketika sampai di Gambir dicetak langsung di mesin cetak boarding pass. Tidak perlu antri di loket seperti jaman dulu. 

Waktu dari semarang malahan saya beli tiket dari mesin, tinggal memasukan asal keberangkatan dan destinasi, pilih kereta, kemudian memasukan uang di mesinnya, langsung keluar struk. Setelah dapat struk pergi ke mesin cetak boarding pass. Mudah banget. Kereta yang saya naikin kebetulan argo, bersih banget dan tidak ada cek tiket karena kondekturnya sepertinya tinggal cek penumpang dan nomor kursinya dari handphone yang dibawa-bawa. 

Untungnya hari Rabu libur pilkada. Tapi saya tetap harus kerja setelah mencoblos, mengerjakan pekerjaan lain dari tempat kerja kedua. Yah akibatnya kalau ada waktu luang, saya utamakan untuk tidur. Jadwal latihan lari saya pun berantakan, seperti bangku belakang mobil saya yang sekarang setiap hari harus menempuh jarak lebih dari 100km. Entah sampai berapa lama saya bisa bertahan hingga tulang-tulang yang mulai renta ini start to falling apart. 

Terlebih karena sekarang lebih sering menghabiskan waktu sendirian terlalu lama di mobil, dalam cuaca yang senantiasa mendung dan sering hujan, saya jadi gampang merasa melankolis. Ah sepertinya saya benar-benar harus pergi liburan. 

Rabu, 30 November 2016

Hello Kitty Run

Ini adalah race kedua buat saya dan race pertama untuk adik saya, Anissa. Ini juga 5k pertama Anissa. Awalnya saya lihat tentang Hello Kitty run di Instagram, acara race ini sudah diselenggarakan di Jepang, Singapura, Malaysia, Bangkok, tahun ini pertama kali di Jakarta. Melihat postingan peserta Hello Kitty run yang sebelumnya unyu-unyu dan cute, saya jadi tertarik untuk ikut. Ketika saya ajak adik saya untuk ikutan, dia langsung setuju. Kategori Hello Kitty Run hanya ada 5 k.

Hari Sabtu, satu hari sebelum acara, saya dan Anissa ke Ratu Plaza untuk mengambil race kit. Kami ketemu sama Grace, kawan yang beberapa bulan lalu sering lari bareng di senayan. Grace adalah penggemar berat Hello Kitty, waktu lagi agak mabok soju dia sempat mengakui kalau kelak punya mobil kepingin tempel sticker Hello Kitty yang guwede buwaanget di body dan kap mobil. Pagi itu Grace tampak galau karena sempat daftar tapi sepertinya nyangkut, waktu ditanya ke panitia ternyata memang belum terdaftar dan belum ada charge ke kartu kreditnya. 

Sebagai penggemar berat Hello Kitty, matanya tampak berkaca-kaca karena tidak bisa ikut acara ini. Tapi Grace pantang menyerah, dia bertekad cari orang yang sudah daftar tapi tidak bisa lari keesokan harinya. Hampir tengah malam dia pun berhasil menemukan orang yang mau menjual race kitnya, keesokan harinya dia pun berhasil ikut lari.

Jam 3 subuh, saya dan Anissa berangkat dari rumah kami menuju AEON Mall di daerah Alam Sutera, Tangerang. Dengan itu kami melintasi 3 propinsi, Bekasi - Jakarta - Tangerang. Jam setengah 5 subuh kami sudah tiba di AEON dan langsung masuk ke parkiran mall. Tidak lama ada pesan masuk dari Goiq, katanya dia juga sudah tiba di lokasi.

Saya, Goiq dan Cipu sebenarnya sudah lama merencakan mau lari bareng, tapi selama ini hanya merupakan wacana belaka. Akhirnya di Hello Kitty Run ini saya dan Goiq berhasil lari bareng, tapi belum bareng sama Cipu. Omith alias Mita juga ikut! Setelah debutnya di Bali Marathon, Omith semakin semangat ikut event lari yang lainnya. Sementara saya tidak pernah ikut event lari lagi setelah Bali Marathon dan sebelum Hello Kity Run ini.


Dengan penuh perjuangan, Anissa akhirnya berhasil finish 5 k perdananya dan dapat medali. Sebenarnya saya agak kecewa sih sama medalinya karena biasa banget, bundar warna gold gambar Hello Kitty ditengah. Bayangan saya medalinya akan cute dan warna-warni seperti medali finisher yang saya lihat di acara Hello Kitty Run Singapura, Malaysia dan Bangkok. 

Ketika saya tanya Anissa bagaimana rasanya finish 5k, dia cuma jawab: kapok!


Sabtu, 23 Juli 2016

Lari di Bulan Puasa

Saya bukan termasuk orang yang ambisius, hobi lari juga gak pakai ambisi. Kawan-kawan saya yang mulai hobi lari dengan waktu yang hampir barengan kemampuannya sudah jauh melewati saya. Semuanya pasti sudah pernah ikut acara race 10k dan Half Marathon (21k). Sementara saya butuh waktu lama dari mulai rutin lari sampai bisa lari 10 kilometer, sekitar 3 tahun. 10k pertama saya pas di hari ultah saya tahun lalu. Birthday run tahun ini, secara spontan saya daftar acara race untuk pertama kali dan dengan nekat langsung daftar untuk half marathon. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan Akhirnya Daftar Acara Race.

Latihan untuk menambah jarak lari saya dua kali lipat dalam waktu beberapa bulan saja buat saya sih cukup berat. Tapi saya tetap konsisten gak ambisius, targetnya cuma mau melakukan hal beda yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dalam hidup saya. 

Sebenarnya tiap tahun pasti saya ada semacam yearly life goals, supaya hidup berasa ada tujuan seru aja dikit sih. Jadi setidaknya di hari-hari saya ada kegiatan untuk mempersiapkan suatu rencana, kayak misalnya seperti persiapan fisik waktu mau ke Rinjani. Waktu itu salah satu alasan saya semangat dan rutin lari karena persiapan mau ke Rinjani, tapi waktu itu kuatnya hanya lari paling jauh 5 kilometer. Kemudian tahun lalu saya niat harus bisa lari sampai 10 kilometer, terus saya coba ikut Coach yang ada di aplikasi Nike Run. Tepat di ulang tahun saya yang ke-33, saya berhasil menyelesaikan lari 10k.

Untuk persiapan lari half marathon saya ikut lagi program Coach di Nike Run. Hari pertama programnya jatuh tepat di hari pertama puasa. Waktu itu saya masih optimis dan semangat bahwa walaupun puasa saya akan berusaha mengikuti jadwal di program tersebut. Rencana saya tetap akan lari di taman tebet sambil ngabuburit, jadi selesai lari ketika bedug magrib, bisa langsung minum. Ada juga rencana mau lari malam di komplek kalau jadwal latihannya long run. Tapi seperti biasa, rencana dan kenyataan tidak pernah sesuai.

Puasa tahun ini entah kenapa rasanya berat banget di badan saya, lebih lemas dari biasanya dan maunya tidur terus padahal jumlah jam tidur sama seperti tahun-tahun sebelumnya, malahan tahun ini saya merasa kalau tidur malam lebih cepat. Apa karena faktor umur mulai mempengaruhi stamina dan fisik? Tapi kalau dipikir-pikir tahun ini memang mood saya secara keseluruhan tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya, kurang bersemangat dan kurang motivasi. Mungkin karena beberapa waktu terakhir ini saya kurang jalan-jalan. 

Hari pertama jadwal program lari yang bertepatan dengan hari pertama puasa terpaksa saya skip. Di hari kedua puasa ada jadwal lari 4.8 km, tapi saya hanya kuat lari 3 km di treadmill malam-malam setelah buka puasa. Sebenarnya komposisi program dalam seminggu ada 4 kali lari, satu kali long run, satu kali cross training, dan satu hari rest day. Saya skip hampir semua itu. Lari kedua kali di bulan puasa baru satu minggu kemudian, saya coba lari sebelum buka puasa di komplek. Saya lari diantara kerumunan pedagang-pedagang makanan buka puasa dan kerumunan motor-motor yang parkir dan seliweran di jalan. Cukup mengerikan dan menyesakan, akhirnya saya menyerah di 3 km.


Tiga hari kemudian di minggu yang sama saya berhasil lari 8 km di treadmill setelah buka puasa, kemudian skip beberapa hari lagi. Ketika lagi tidak puasa karena berhalangan saya lari di Car Free Day hari Minggu, karena bulan puasa jadi sepi. Saya lari 8 km dalam waktu 1 jam. Waktu lagi lari saya dengar di belakang saya ada yang lagi semangat ngobrol, "lebih susah control budget negara daripada mengatur strategi perang." Pas saya nengok ternyata Sandiaga Uno lagi lari sambil ngobrolin masalah negara casually, dan dengan santainya melewati saya yang tanpa ngobrol pun larinya terengah-engah. Hebat amat tu bapak.

Beberapa hari kemudian Tince tiba-tiba menghubungi mau ikut lari di taman sore-sore. Tiba-tiba muncul ide gila, saya mengajak tince lari di gbk senayan karena sudah lama tidak lari disitu. Kami berangkat jam 4 dari daerah Tebet, estimasi sampai di GBK beberapa saat sebelum buka puasa, jadi saya bisa buka puasa, sholat magrib, lanjut lari. Naasnya hari itu jalanan macet parah entah kenapa, kami baru tiba di GBK jam 7 lewat. 

Ketika magrib berkumandang kami baru sampai di depan kantor TVRI senayan, saya buka puasa dengan air minum bekalnya Tince. Sampai di GBK saya langsung ke mesjid, solat magrib dan siap-siap lari. Saya beli minuman teh dalam kemasan botol yang saya minum sambil lari. Target saya lari 8 km, tapi hanya kuat sampai 5 km, otak saya rasanya kayak kesemutan jadi saya berhenti lari. Paginya ketika bangun tidur punggung dan pinggang saya pegal-pegal, bukan karena lari tapi karena nyetir macet-macetan 3 jam lebih.

Setelah tragedi itu saya memutuskan lari di treadmill aja deh, ga kuat yang aneh-aneh. Saya sempat lari dua kali lagi malam hari, 8 km dan 5 km, hingga akhirnya lebaran tiba. Tapi selama sebulan itu program latihan lari saya berantakan, banyak bolong-bolongnya dan saya tidak merasa kemampuan lari saya improving, malahan kalau dilihat dari pace jauh menurun. Setelah lebaran saya berusaha mengejar ketinggalan latihan selama bulan puasa kemarin. Minggu lalu saya berhasil lari 15 km, jarak terjauh sepanjang sejarah lari saya. Minggu ini adalah minggu ke-7 dari program Nike Coach, besok saya harus lari lebih jauh lagi, 16 km. Harus semangat!

Rabu, 04 November 2015

Tiba di 10 Kilometer pertama

Butuh waktu 1,5 tahun dari pertama saya mulai rutin lari hingga mencapai jarak 5km. Mulai dari awal tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2014. Sebelumnya kalau lari pagi palingan cuma 2 sampai 3 km aja, satu kali keliling komplek. 

Dari 5 km pertama ke 10 km pertama butuh waktu 1,5 tahun lagi. Sengaja momen lari 10 km pertama kali itu dipas-in sama hari ulang tahun saya ke-33, yaitu pada bulan agustus 2015. Walaupun dari saat itu sampai sekarang saya belum lari sampai 10 km lagi.  

Sebenarnya saya lari tidak punya target mau ikut marathon atau punya ambisi harus mencapai pace tertentu. Saya senang lari-lari santai sambil mendengarkan lagu yang sudah saya pasang di playlist, kadang sambil lihat-lihat orang-orang. Beberapa bulan lalu sempat ada saatnya kegiatan lari saya berantakan, efeknya langsung terasa di badan terutama saat baru bangun tidur. Waktu itu selain jadwal lari berantakan, makan saya juga sempat berantakan, badan jadi terasa capek terus dan lemas. 

Gak tahan sama kondisi badan yang sluggish dan sakit-sakit tiap bangun tidur, saya mulai lari lagi. Asiknya sekarang banyak teman-teman yang bisa diajak lari bareng. Saya memang belum minat ikut event lari berjamaah yang lagi marak akhir-akhir ini, tapi senang kalau lari bareng teman-teman. Belum lama ini kami coba lari di Kebun Raya Bogor, lari dari Sentul City ke Gunung Pancar, yang terakhir lari di Buperta Cibubur. Nanti kapan-kapan saya ceritain disini deh.

Tempat saya rutin lari kalau hari biasa di Taman Tebet yang lokasinya pas di belakang gedung kantor, tinggal nyebrang. Kalau sabtu atau minggu saya biasa lari di komplek rumah. Waktu awal-awal saya lari kayaknya jarang menemukan orang seusia saya yang olah raga di taman atau di sekitar komplek, seringnya ketemu oma-oma dan opa-opa yang masih lincah dan tampak sangat sehat di usianya. Setahun / dua tahun belakangan baru mulai banyak orang-orang muda yang pakai gear lari komplit wara-wiri lari di rute lari rutin saya. 

Kadang kalau di  kantor lagi tidak banyak pekerjaan, saya gabung sama teman-teman yang rutin lari di GBK Senayan tiap Selasa dan Kamis. Nah kalo itu banyak mas-mas cogan (cowo ganteng) yang pakai celana gemes dan adik-adik unyu yang walaupun  udah lari keringetan tetap terlihat segar. Kalau lagi iseng banget weekend lari di Ancol. 

Rute Komplek Rumah

Rute Komplek
Ada 3 macam rute lari di area dekat rumah yang saya rangkai hingga bisa mencapai 5 km. Yang pertama rute lari dari rumah ke arah Kalimalang dan balik lagi, bukan rute berputar jadi pulang pergi lewat jalan yang sama. Tantangannya adalah rute ini harus lewat dua kali tanjakan lumayan dashyat ketika lewat jalan jembatan yang lewat diatas jalan toll. Rute kedua lewat komplek tetangga, tapi sama seperti rute pertama jalur ini jalur ramai kendaraan apalagi semenjak ada proyek pembangunan jalan di kalimalang. Jadi agak males lewat kedua rute ini sekarang karena banyak debu dan banyak motor walaupun subuh-subuh.

Rute satu lagi adalah rute komplek. Dari sejak saya mulai lari pas jaman kuliah sebenarnya rute ini yang saya pakai, tepatnya sebagian dari rute ini, yaitu rute yang melingkar totalnya sekitar 2,5 km. Setelah saya sudah biasa lari 5 km saya tambah dengan rute melintasi jalan raya komplek bolak-balik karena kalau mau berputar belum ketemu jalurnya dan pastinya akan lebih dari 5 km (3 mil lebih), jadi untuk sementara ini masih jadi rute comfort zone saya tiap weekend.

Rute Taman Tebet

Rute Taman Tebet
Ada dua taman di Tebet Barat yang letaknya bersebelahan. Taman Honda dan Taman sebelahnya yang saya tidak tahu namanya. Nah, saya biasa lari di taman yang saya tidak tahu namanya. Kalau taman Honda satu kelilingnya hanya 400m dan lebih ramai sama orang pacaran daripada orang olahraga. Kalau taman yang saya tidak tahu namanya satu keliling 800m, walaupun kadang suka agak bau kali tapi tempatnya adem dan kontur tracknya tanjakan turunan jadi seru. Yang lari disitu juga lumayan serius larinya. Biasanya saya lari setiap selasa dan/atau kamis, dan ada beberapa orang tertentu yang selalu ketemu di hari dan jam yang sama. Kalau pagi banyak opa-opa dan oma-oma. Saya biasa lari sore, di jam pulang kantor. Jadi kalau ada yang mau lari di taman tebet hari selasa atau kamis sore, kemungkinan besar akan ketemu saya ;)

Selasa, 01 September 2015

Peliharaan-Peliharaan Tante

Sama seperti orang-orang yang saya kenal sepanjang kehidupan saya datang dan pergi, begitu pun yang terjadi dengan hewan-hewan peliharaan yang ada di rumah saya.

Ingatan pertama saya tentang hewan peliharaan kejadiannya ketika saya masih usia sekolah TK , dan itu bukan kenangan yang indah. Yang saya ingat pulang dari luar kota sama keluarga, kelinci peliharaan yang baru beberapa hari tergeletak nyaris tak bernyawa di muka pintu belakang rumah karena kelaparan. Beberapa saat setelah ditemukan nyawanya tidak tertolong dan hewan malang itu pun menghembuskan napas terakhir.

Sempat pindah-pindah rumah kontrakan di masa kecil saya membuat saya tidak pernah punya hewan peliharaan lagi. Beberapa kali saya berusaha memelihara keong-keong kecil yang dijual di depan sekolah SD saya, tapi umurnya tidak pernah lebih dari sehari. Waktu itu saya sempat berpikir, mungkin supaya hidupnya tahan lama keong itu harus dikembalikan ke habitat asalnya, yaitu air laut. Jadi saya ambil baskom, saya isi air dan garam, diaduk-aduk, kemudian saya cemplungin keong yang baru saya beli. Alhasil keong itu langsung terpisah dari cangkangnya. Sampai sekarang masih jadi misteri, kenapa bisa jadi kayak gitu ya?

Ketika saya kelas 6 SD akhirnya kami sekeluarga tinggal di rumah permanen (bukan rumah kontrakan) yang hingga sekarang masih kami tempati. Waktu lagi bermain-main di halaman samping saya menemukan seekor burung yang tampak sakit dan gak bisa terbang. Waktu itu kebetulan lagi ada guru les gambar adik saya, namanya Pak Budi. Menurut Pak Budi burung itu namanya burung cicit emprit. Saya pun langsung memutuskan akan merawat burung malang itu dengan penuh kasih sayang hingga pulih dan bisa terbang melayang ke angkasa dengan ceria bergabung bersama kawan-kawannya.

Saya menemukan keranjang anyaman rotan bekas parcel lebaran, setelah minta ijin sama Mama Said buat pakai keranjang itu saya alas bawahnya pakai kain-kain bekas. Kemudian burung yang sakit itu saya balut dengan handuk kecil dan diletakkan di keranjang. Malam harinya karena khawatir dia takut ditinggal sendirian di ruang tamu saya bawa ke kamar saya yang ber-AC. Keesokan paginya ketika saya bangun saya mendapati burung cicit emprit itu tak bernafas, kaku dan kering. Sepertinya dia mati kedinginan. 

Niat baik saya merawat burung itu malah berujung petaka baginya. Saya menyampaikan permintaan maaf kepada burung malang itu dengan menggali kubur di halaman samping rumah dan menebar bunga di atas kuburannya.

Suatu hari di halaman rumah saya ada jejak bercak-bercak darah berceceran yang ketika diikuti mengarah ke seekor anjing kampung putih yang bersembunyi di sudut garasi, tampangnya takut dan kesakitan. Setelah diamati ternyata satu kaki belakangnya dipotong orang pas di lutut dan mengeluarkan darah. Tatapan matanya meminta pertolongan. Setelah diberi susu yang awalnya dengan ragu diminum sama dia, akhirnya anjing itu mau kakinya diobati oleh Papa Said. 

Kami menamai anjing betina malang itu Kati - Kaki Tiga. 

Sehari setelah Kati tinggal di rumah kami, muncul temannya, anjing kampung betina kurus tinggi berwarna coklat. Karena dia juga akhirnya memutuskan menetap menemani Kati akhirnya saya beri nama juga - Ceking. Selama lebih dari 10 tahun Kati dan Ceking menjadi anggota keluarga kami, mereka doyan banget makan Astor. Seneng banget kalau disuapin Astor. 

Ceking sempat hamil diluar nikah (misteri siapa bapak dari anak-anaknya tidak pernah terkuak) dan melahirkan 4 ekor anak anjing, 3 ekor berwarna hitam dan tumbuh menjadi anjing hitam legam besar, 1 ekor lagi (anehnya) mirip Kati - pendek, putih dengan bercak coklat mirip sapi perah. Karena terlalu banyak peliharaan akhirnya anak-anak Ceking diberikan ke tetangga, teman Mama Said dan tante saya yang kepingin punya anjing. Padahal sempat ada dua anak Ceking yang saya kasih nama Pit dan Bleki sudah pintar banget, bisa diajak salaman, bisa disuruh berdiri dua kaki, bisa disuruh duduk. Saya yang ngajarin donk. Tapi anak-anak itu punya kebiasaan buruk suka gigitin sendal tamu yang berkunjung ke rumah, kalau sendal orang rumah sih ga digigit, cuma sendal tamu aja.

Suatu hari tiba-tiba Ceking menghilang entah kemana, mungkin menemukan belahan jiwanya dan memutuskan menghabiskan sisa hidup bersama anjing jantan pujaan hatinya itu. Tinggal Kati yang ada di rumah, hingga makin lama anjing betina lucu dan pintar itu semakin tua dan sudah lebih sering duduk sambil benging memandang keluar halaman. 

Kati meninggal di usia tua, kata Papa Said seperti sedang tidur di dalam kandangnya sendiri. Saya tidak ada disaat-saat terakhir hidup Kati karena waktu itu saya sudah kuliah di Bandung. 

Di kos-an saya pernah pelihara hamster yang saya beli di depan BIP. 

Waktu itu kawan satu kos saya punya peliharaan burung hantu kayak punya Harry Potter. Kamar saya sebelahan sama garasi mobil tempat dia menaruh kandang burung hantu nya, jadi saya sering dengar dia ngomong sama burung nya, "Lucky, sekarang kamu makan jaaaang....krik." Ngomongnya pake suara sok manis padahal orangnya laki, tinggi, besar.

Lucky itu lucu banget, kepalanya goyang-goyang kiri kanan kalau dengar lagu hip hop. Waktu itu kawan saya dengan sombong pamer, "Mil, Mil, liat nih si Lucky bisa joget," trus dia pasang lagu hip hop.. eh beneran loh burung nya kepalanya goyang ke kiri trus goyang ke kanan ngikutin beatnya. 

Saya Iri.

Dipenuhi perasaan kompetitif pengen punya peliharaan yang keren dan bisa dipamerin juga saya pergi ke depan BIP - Bandung Indah Plaza. Jaman saya muda di depan pelataran BIP itu memang mirip kebun binatang, segala macem binatang di jual disitu, dari mulai yang biasa-biasa aja kayak kelinci sampai hewan dilindungi kayak monyet, kukang dan burung hantu. Disitulah saya memutuskan mau pelihara Hamster. 

Dari 2 ekor hamster tiba-tiba jadi banyak dalam waktu beberapa bulan. Sepertinya mereka terus bereproduksi. Saya beli satu lagi kandang hamster yang kecil. Kemudian ada tragedi di kandang kecil itu. Saya tidak tahu kalau salah satu hamster yang saya letakkan di kandang kecil itu punya anak, tiba-tiba waktu saya pulang kuliah kandangnya sudah berdarah-darah dimana-mana kayak habis ada pembantaian. Bayi-bayi hamster tanpa kepala berceceran tak bernyawa. Satu hamster bermata merah tampaknya pelaku ganas pembantaian bayi-bayi monster itu, memandang saya dengan kejam dari balik kandangnya. Saya bahkan sempat melihat monster hamster mata merah itu nunjukin taring-taringnya, sumpah. hiih... Langsung sore itu juga saya berikan secara cuma-cuma ke abang penjual binatang di depan BIP. 

Periode memelihara hamster diakhiri dengan mati masal hamster-hamster saya sekandang. Saya curiga tragedi itu terjadi karena kesalahan saya tidak mencuci bersih sayuran yang saya beli dari pasar simpang Dago. Saya buru-buru cucinya terus langsung saya kasih makan ke hamster-hamster itu karena sudah nyaris telat kuliah. Malamnya pas saya pulang, semua hamster saya sudah tergeletak tak bernyawa. Innalilahi.

Tahun terakhir masa kuliah saya di Bandung, saat itu Chacha juga sudah gabung kuliah di Bandung jadi Papa Said kontrakin rumah buat kami berdua di kawasan Dago Pakar, saya sempat pelihara kura-kura brazil yang saya beri nama Hanamichi Sakuragi. Itu loh cowo rambut merah yang jago main basket di komik jepang Slam Dunk. Saya juga ga tau kenapa saya kasih nama itu, tiba-tiba pas saya lihat muka kura-kura brazil imut yang ukuran badannya cuma setelapak tangan saya itu tiba-tiba kepikiran aja nama Hanamichi Sakuragi.

Sempat ada perdebatan antara saya dan kawan saya, Slamet (bukan nama sebenarnya), yang nganterin saya ke jalan karapitan buat beli si Hanamichi Sakuragi. Kami berdebat si Hanamichi itu cewe atau cowo, soalnya dia kayaknya ga terima kalau saya langsung kasih nama cowo padahal gendernya masih belum jelas. Tapi saya yakin banget sama nama itu, seolah-olah si Hanamichi itu sendiri yang memperkenalkan namanya ketika ketemu saya. Walaupun agak aneh ya seekor kura-kura brazil dengan nama jepang.

Hanamichi Sakuragi saya letakkan di dalam kandang kecil bekas Hamster yang masih saya simpan, yang pernah terjadi tragedi pembantaian bayi-bayi hamster oleh monster hamster bermata merah. Waktu itu belum ada toll cipularang, jadi kalau mau pulang ke Jakarta dari Bandung naik kereta api. Setiap saya pulang ke Jakarta saya selalu bawa Hanamichi Sakuragi, saya pangku dia di dalam kandangnya yang sudah saya hias pakai batu-batuan di atas kereta. Hanamichi tampak sangat bahagia, mungkin dia adalah kura-kura yang dilahirkan sebagai traveler.

Tidak sampai 3 bulan usianya, Hanamichi Sakuragi saya temukan tergeletak tak bernyawa di dalam kandangnya. Beberapa kemungkinan penyebab matinya adalah sebagai berikut: terlalu banyak kasih makan, keberatan nama, atau mati kesepian karena gak tahan sendirian di kandang cuma bisa ngobrol sama batu.

Sempat ada periode beberapa tahun tanpa peliharan, kemudian datanglah era drama perkucingan di rumah saya. 

Di awali dari 4 ekor bayi kucing yang di terlantarkan oleh ibunya di pekarangan rumah saya. Dari 4 hanya 2 yang survive, saya kasih nama Snowy (karena warna putih polos) dan Bubu. Snowy tumbuh menjadi kucing betina yang cantik dan anggun, gaya jalan dan makannya ala-ala princess gitu. Snowy adalah idola kucing-kucing garong yang ada di sekitar rumah. Kalau datang musim kawin kucing di halaman rumah selalu ramai oleh kucing-kucing jantan yang berkelahi memperebutkan perhatian Snowy. 

Persaingan paling ketat terjadi diantara dua ekor kucing jantan yang paling kuat di area Jatibening dan sekitarnya. Seekor kucing yang lumayan ganteng, warnan putih bercorak abu-abu, badannya besar dan kekar dengan muka persegi yang menambah kemachoannya, saya kasih nama Henry. Satu lagi kucing garong dengan warna hitam pekat di seluruh tubuh, tinggi tapi lebih langsing dari Henry, saya beri nama Temi Blekedet, temi nya itu item dibalik, sementara blekedet itu kan kalo ditulis pakai bahasa inggris jadi black-cat-dead....dibaca cepet jadi blekedet.

Karena Henry lebih ganteng dan kekar, Snowy memilih Henry dan melahirkan 4 ekor anak. Sama seperti generasi pertama, dari 4 anak kucing yang berhasil hidup sampai besar hanya dua ekor, satu ekor kucing jantan yang saya beri nama Babu (karena motifnya mirip pamannya, Bubu, jadi dikasih nama Baby Bubu) dan seekor kucing betina saya beri nama Kucan (kucing macan karena warna bulunya mirip macan).

Sementara itu saudara laki-laki Snowy, si Bubu, tumbuh menjadi seekor kucing yang judes, galak, sinis dan pemarah. Sering cari gara-gara sama kucing garong yang melintas di dekat rumah tapi selalu kalah dan akhirnya cuma bisa ngumpet di dalam rumah minta perlindungan dari orang-orang rumah. Musuh bebuyutannya adalah Henry. Bubu selalu cari gara-gara kalau Henry datang, tapi ketika Henry marah dan Bubu merasa terpojok dia akan mengeong keras memanggil pertolongan dari orang rumah yang sudah pasti akan datang mengusir Henry dan menyelamatkannya.

Snowy sempat hamil dan melahirkan lagi. Pada saat anak-anak nya masih bayi dan waktunya dipindah-pindah tempat ada seekor rubah yang mengintai. Anaknya hilang satu per satu, hingga suatu hari Snowy berhadapan dengan rubah yang mau memakan anaknya. Terjadi perkelahian, hidung snowy robek karena cakaran rubah, untungnya saya dan chacha segera keluar rumah karena dengar ribut-ribut. Begitu rubah melihat kami dia langsung kabur. Tapi anak Snowy yang tinggal satu sudah terlanjur tewas dibunuh oleh rubah kejam sadis itu. 

Sejak peristiwa itu Snowy jadi pemurung, sering bengong dan malas makan. Yang tadinya kucing idola para kucing jantan se-jatibening yang cantik, anggun seperti princess, lambat laun mulai kumal, kurus, bulu-bulu rontok, dan hidungnya yang di cakar rubah tidak bisa sembuh seperti sedia kala. Suatu hari Snowy menghilang. Saya dan Chacha menduga Snowy jadi gila, berkeliaran tanpa arah di komplek sambil mencari-cari anaknya mengeong-ngeong, "anakku dimana, anakku dimana..." Tragis sekali nasibnya.

Anaknya Snowy yang saya kasih nama Babu di adopsi dan dimanja berlebihan sama Chacha. Makannya gak mau sembarangan, musti whiskas. Dikasih fried chicken aja gak mau sembarangan, musti KFC atau Four Fingers, dan jangan harap mau dikasih tulangnya, maunya daging dan kulitnya yang crunchy. Camilan kedoyanannya Mayonaise Hokben. Tidurnya ga mau dilantai, musti di atas kasur atau dialas kain bersih. 

Walaupun kucing jantan tapi warna favoritnya pink, saya juga gak yakin kucing itu bisa bedain warna atau enggak, tapi Babu kalau ada sesuatu warna pink Babu selalu tertarik kesitu. Seperti misalnya selalu memilih untuk tiduran di keset warna pink padahal banyak keset-keset dengan warna lain. Waktu saya punya sepatu pink dan saya letakkan di depan pintu kamar, Babu memilih untuk tidur diatas sepatu saya dan menolak diusir.

Saya tidak pernah akur sama Babu. Dia selalu cari masalah sama saya. Kalau saya marahin dia bakal ngambek melengos dan cemberut di atas rak diantara panci-panci sampai Chacha datang trus dia sok-sok manja tidur diatas kasur Chacha dalam kamar yang ber AC. Kalau saya lengah dia akan membalas dendam menggigit betis saya.

Suatu hari Babu yang manja dan gendut pernah berantem sama kucing garong. Saya lupa, pokoknya antara Henry dan Temi Blekedet. Lehernya luka hingga terpaksa dibawa ke dokter hewan dekat rumah, dijahit dan disuntik antibiotik supaya tidak infeksi. Terakhir kali Babu kembali ke dokter hewan itu ketika tiba-tiba Babu jatuh sakit. Tidak mau makan dan lemas. Ketika dibawa ke dokter katanya Babu kena virus yang menyerang bagian leher. Cepat sekali dia kurus, di saat-saat terakhirnya Babu sudah seperti tulang berbalut kulit. Kemudian sudah tidak kuat berdiri dan batuk-batuk, keluar lendir seperti dahak dari mulutnya. Malam itu saya dan Chacha sempat membawa Babu kembali ke dokter hewan, tapi tampaknya nyawanya memang sudah tidak bisa tertolong.

Malam itu, sedikit lewat tengah malam saya mendengar Chacha berteriak dari kamar sebelah, "Babu kamu kenapa? Kaaakkk.. Babu kaaak... Babuuuuuuuu...." Saya bergegas ke kamar sebelah, membuka pintunya dan mendapati Chacha lagi bercucuran air mata dengan Babu di pangkuannya. Sudah kaku tak bernyawa. Paginya dilakukan prosesi penguburan Babu, sorenya Chacha menghias kuburan Babu dengan bunga Lili yang di beli di toko bunga di tebet.

Babu punya satu saudara bernama Kucan, yang kemudian melahirkan anak-anak yang saya kasih nama Kucir dan Bluwek. Kucir juga pernah dibawa ke dokter hewan karena hamil di usia yang masih sangat muda, kehamilan dini akibat pergaulan bebas. Alhasil karena terlalu kecil dia belum bisa melahirkan anaknya, jadi anaknya tersangkut ketika mau dilahirkan. Dibawa ke dokter hewan ternyata sudah tidak bisa ditolong. Jalan satu-satunya hanya operasi tapi Kucir belum bisa di operasi cesar karena terlalu kecil, resikonya terlalu besar. Akhirnya sama dokter dikasih obat pencahar untuk membantu mengeluarkan anaknya. Tapi rupanya Kucir sudah terlalu banyak mengeluarkan darah ketika pendarahan sehingga nyawanya juga tidak tertolong.

Bluwek kucing kesayangan saya. Lucu, lincah dan mukanya cantik. Saya kasih nama bluwek karena sejak lahir warnanya pudar kayak kain yang sudah keseringan dicuci atau kebanyakan pemutih. Bluwek suka nonton tivi, apalagi kalau ada acara nyanyi-nyanyi dan warna warni. Jadi setiap acara Inbox di SCTV, Bluwek akan duduk paling depan TV. Dia juga suka liatin saya main iPad dengan keponya pengen coba garuk-garuk layarnya, pake kuku. Bluwek juga suka banget masuk tas, kantong plastik, ember, pokoknya wadah-wadah yang terbuka. 

Kucing-kucing di rumah saya yang tersisa, selain Babu, direlokasi sama Mama saya menjelang acara kawinan Chacha. Katanya kalau kebanyakan kucing dirumah nanti si Chacha bisa kena penyakit apa itu yang kalau hamil anaknya dimakan sama virus atau bakteri dari bulu kucing? Ironisnya kucing kesayangan si Chacha ga direlokasi, malah Bluwek yang harus tereliminasi. Eh terus kawinannya batal pula. Sekarang saya tidak tahu dia ada dimana, semoga ada orang yang menyadari kelucuan dan kepintarannya sehingga mengadopsi dan memberinya tempat tinggal yang layak dan makanan yang enak-enak.

Sekarang di rumah saya sudah tidak ada kucing, tapi masih ada dua ekor kelinci peliharaan Chacha yang saya kasih nama Gonjes (karena blasteran jadi bulunya gondrong) dan Cincha (nama panjangnya Cincharoura pake logat bule). Kayaknya di rumah yang suka kasih-kasih nama hewan peliharaan cuma saya aja deh. Papa Said gak kasih nama cuma suka rubah-rubah nama yang saya kasih, Babu jadi Babaluba, Gonjes jadi Gonjreng.

Sementara itu Papa Said pelihara ayam banyak banget, ayam-ayam kampung yang liar yang kalau punya anak tiap sore saya terpaksa musti ikut ngumpulin ngejar-ngejar nangkep anak ayam dimasukin kandangnya disuruh sama Papa Said, supaya gak dimakan tikus katanya. Selain ayam kampung ada sepasang ayam Arab dan 3 ekor ayam kate. Ayam-ayam kampung itu selalu pingin tau sama tanaman saya, kalau sampai ada satu yang berhasil masuk ke kandang tanaman saya langsung deh mengacak-acak dan mencabut semua tanaman yang ada disitu, tapi anehnya mereka gak peduli sama tanaman yang tidak dikandangin. Tampaknya memang hanya cari gara-gara. 



Kamis, 07 Mei 2015

Sakit Gigi

Akhirnya datang juga salah satu masalah yang paling saya takutin. Sakit Gigi.

Meggy Z bilang, "lebih baik sakit gigi daripada sakit hati."

Saya bilang, "b*ll s***t" 

Kalau sakit hati bertahun-tahun saya bisa tahan, tapi kalau sakit gigi, satu malam saja saya sudah gak sHanggHupH. Gak bisa makan. Gak bisa tidur. Terus sakitnya yang berdenyut menggigit sampai terasa ke otak menuntut untuk dirasakan. 

Sebenarnya sudah lama saya sadar kalau ada bolong di gigi geraham kiri bawah paling depan, kadang berasa sakit juga sih kalau ada serpihan makanan yang menyelip ke lubangnya. Tapi begitu serpihannya di keluarkan sakitnya hilang. Seharusnya saya memang sudah lama ke dokter gigi buat menambal lubang itu, tapi ada 3 hal yang paling saya takuti di dunia ini:

1. Dirawat di Rumah Sakit
2. Tempat Praktek Dokter Gigi
3. Disakitin hati nya sama cowo brengsek (lagi)

Teman-teman dekat saya pada bilang, "elo berani bekpek sendirian, masuk hutan, naik gunung, terjun dari atas tebing, nyemplung ke tengah laut, tapi gak berani ke dokter gigi????"

Yagitudeh

Kali ini beda. Berjam-jam sakitnya tidak hilang, malahan semakin lama nyerinya makin dalam. Semaleman saya tahan berharap paginya sakit itu hilang. Tapi paginya malah makin sakit dan akhirnya saya gak tahan dan benar-benar membutuhkan pertolongan.

Untungnya ada Mba Alya, dokter gigi yang manis, penyabar dan penyayang. Waktu saya kuliah di Bandung, Mba Alya teman satu kos saya. Dari dulu saya udah mikir kalau suatu saat saya terpaksa harus berurusan sama dokter gigi, saya cuma mau yang bak toothfairy baik hati seperti Mba Alya. 

Sayangnya Mba Alya mengkhususkan diri buat jadi dokter gigi anak-anak, tapi di klinik gigi The SMILE Centre, Rukan Royal Palace Blok B No.37, Jl. Prof Soepomo, Tebet - tempat prakteknya ada dokter gigi untuk dewasa juga. Saya direkomendasikan ke Dokter Gigi Winny yang ternyata manis, penyabar dan baik hati juga seperti Dokter Alya.

Pas masuk lobby nya perasaan ngeri saya udah banyak berkurang karena lobby nya baguuusss dan nyaman, gak kayak lobby dokter gigi jaman saya kecil yang kaku dan mengintimidasi. Waktu baru daftar saya diberi sikat gigi gratis dan diajarin cara sikat gigi yang benar sama dokternya. Ruang prakteknya juga ga se-seram dokter-dokter gigi jaman saya kecil dulu. Yang paling penting Dokter Winny yang manis dan sabar banget.

Emang sakit banget sih, tapi ya salah saya sendiri yang baru ke dokter setelah sakitnya parah. Padahal seharusnya cek ke dokter gigi itu rutin 6 bulan sekali.  Hiks.




Minggu, 15 Juni 2014

Pertama Kali


There will always be the first times in life. Selama apapun manusia hidup ga akan mungkin mengetahui semua hal yang ada di dunia karena banyak banget. Malahan menurut saya kalaupun ada manusia yang umurnya ribuan tahun, ga mati-mati kayak Buffy the Vampire Slayer tetap saja dia tidak akan mungkin tahu semua yang ada di dunia dan mengalami/mencoba semua yang ada, soalnya selain banyak banget, akan selalu ada penemuan dan perkembangan baru. 

Sebagai orang yang terdaftar sebagai penduduk Jakarta dan sudah tinggal di kota ini melampaui beberapa dekade, masih banyak aja daerah-daerah di Jakarta yang saya belum pernah datengin. Banyak hal yang dilakukan penduduk Jakarta sehari-hari yang belum pernah saya lakukan, misalnya nih: naik commuter line.



Kawan baik saya, Neng Pagit setiap hari menggunakan sarana transportasi ini dari rumahnya di kawasan bogor menuju pusat ibukota jakarta. Sering banget kalau janjian sama pagit janjian di sekitar stasiun kereta, bahkan hampir selalu nge drop dia di stasiun kereta. Tapi saya sendiri belum pernah naik commuter line itu. Walaupun kalau denger ceritanya pagit naik kereta itu enak karena cepet (dengan asumsi ga ada masalah kerusakan sinyal atau masalah teknis lainnya), tapi kalau saya naik comline ke kantor ga efektif, stasiun kereta paling deket dari rumah saya jaraknya nyaris sama kayak jarak ke kantor. 

Beberapa kali saya pernah naik KRL, itu udah lama banget sebelum ada yang namanya commuter line. Itu pun bukan untuk kegiatan rutin, cuma dalam rangka jalan-jalan. Sejak mulai ada comline yang merupakan perkembangan dari KRL saya belum pernah naik kereta dalam kota dan sekitarnya lagi. 

Akhirnya bulan lalu ada kesempatan untuk pertama kali merasakan naik moda transportasi umum ini. Tujuannya adalah ke Stasiun Kota untuk menukar tiket KA ke Jogja yang saya pesan online dari website PT KAI. Hari Jumat, berangkat dari kantor saya di bilangan pancoran sekitar jam 11, jalan kaki menuju stasiun cawang. Sebelumnya saya sudah browsing peta comline dan jadwalnya di internet. Saya langsung menuju loket dan dikasih kartu untuk satu kali perjalanan. 

Dengan penuh percaya diri saya menuju pintu masuk dan meletakan kartu tiket saya di sensor, tapi ketika jalan maju besi penahan pintunya ga muter. Terus ada satpam langsung menghampiri, ternyata saya meletakan kartu di sisi sensor yang salah - bukan pasangan pintu nya. Untung waktu itu sepi, jadi saya cuma sendiri di situ, malu nya jadi ga seberapa. "hehee maklum pak, baru pertama nih,"ujar saya ke satpam yang pandangannya seolah-olah berkata 'kemana aja, neng?'

Misi menukar tiket Kereta Api pun sukses dengan gemilang dan hanya memakan waktu sekitar 1 jam hingga kembali lagi ke Stasiun Cawang. 

Keesokan harinya saya pun kembali melakukan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidup: Naik Kereta ke luar kota dari Stasiun Senen. Biasanya kalau mau naik KA luar kota di Jakarta saya selalu memilih Stasiun Jatinegara yang paling dekat dengan posisi rumah. Tapi sejak ada peraturan kalau di Stasiun Jatinegara sudah tidak melayani pemberangkatan keluar kota, saya naik dari Stasiun Gambir. Tapi peraturan baru, Stasiun Gambir pun sekarang hanya melayani pemberangkatan kereta eksekutif dan Argo. Sedangkan kereta Bisnis dan ekonomi AC berangkat dari Stasiun Senen.  Tiket KA saya ke Jogja bulan lalu adalah Fajar Utama, jadi berangkatnya harus dari Stasiun Senen.

Dini hari, saya mengawali sejarah pertama kali memasuki Stasiun Senen dengan tatapan galak penjaga tiket masuk. Saya tiba di Stasiun jam 5.55, karena kereta saya jadwalnya jam 6.30 saya dengan polosnya ikut di antrian masuk. Pas sampe giliran saya mengajukan selembar tiket dan selembar KTP, pandangan petugas tiket tiba-tiba judes menusuk kalbu tapi saya tetap diperbolehkan lewat. Tapi setelah itu dia teriak ke arah antrian, "Tawangjaya Tawangjaya". Oalaaa ternyata itu antrian masuk masih giliran Tawangjaya, belum giliran Fajar Utama. 

Saat itu juga pertama kali nya saya naik KA Bisnis lagi setelah terakhir kali tahun lalu saya naik KA bisnis dari Jogja ke Jakarta dalam rangka perjalanan innerpeace ke Dieng. Ternyata KA Bisnis sekarang ada AC nya. AC split kayak di rumah-rumah, merk panasonic, yang ditempel di atas langit-langit gerbong kereta. Semuanya berjalan menyenangkan di dalam gerbong yang dingin hingga kereta melewati Cirebon, di gerbong saya AC nya mulai ga berasa. Sampai ada ibu-ibu yang duduk di barisan ga jauh dari saya marah-marah ke petugas keretanya sambil kipas-kipas. 

AC Di gerbong kereta api bisnis
Saya pun mulai kegerahan dan berinisiatif buka jendela - untung jendelanya masih bisa dibuka. Yang bikin saya makin gerah pasangan yang duduk di baris sebelah saya, udah tau panas, gerah, sumuk masih aja peluk-pelukan, sambil mesra-mesra ketawa-ketawa bahagia gitu. Jadi pengen teriakin woooii panas wooii *tunjuk dada* *lemparin es balok*









Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...