Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Merbabu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Merbabu. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2015

Terdampar di Muntilan

Sore itu, menjelang Magrib, saya dan kawan-kawan yang tersisa selepas pendakian ke Merbabu selama 3 hari 2 malam masih asik berbincang di basecamp. Sebagian kawan yang tidak nyasar, lagi girang-girangnya membully saya dan kawan lain yang sempat tersasar di jalan turun dari sabana ke basecamp Selo. Cerita nyasarnya yang komplit ada di postingan Salah Jalan.

Sebagian besar kawan serombongan saya sudah jalan duluan ke Jogja karena mengejar kereta kembali ke Jakarta yang akan berangkat sore hari. Sementara saya masih memilih bersantai-santai di basecamp karena tidak mengejar kereta. Awalnya saya ikut rombongan yang pulang duluan itu, malahan saya sudah punya tiket kereta pulang ke Jakarta barengan sama mereka. Tapi saya harus merelakan tiket kereta saya itu hangus.

Satu hari sebelum berangkat ke Merbabu, Papa Said tiba-tiba muncul di pintu kamar saya subuh-subuh memberitahu kalau di saat long weekend itu sekeluarga mau ke Bali dan saya disuruh langsung menyusul ke Bali sepulang dari Merbabu. Itu nanti akan saya ceritakan di postingan Mendadak Bali Part 1, yang belum saya tulis juga hingga sekarang. Tapi Part 2-nya sudah dipublish dan bisa dilihat di postingan Mendadak Bali Part 2.

Ada satu orang pendaki yang gabung sama kami, dia punya cerita seru waktu mendaki di suatu gunung, saya lupa gunung apa tapi pokoknya  tembusnya di Grojogan Sewu. Yang wajar perjalanan dari gunung itu ke grojogan sewu akan memakan waktu 2 hari 3 malam, tapi anehnya orang itu cuma merasa jalan selama satu malam saja. Sementara itu orang tuanya di rumah sudah sibuk mencari-cari dia karena tidak ada kabar selama 2 hari. Dia seperti terjebak di semacam dimensi waktu kayak twilight zone gitu. 

Ngobrol-ngobrol gak berasa kalau sudah makin sore, akhirnya setelah melalui diskusi dan riset angkutan apa yang akan kita pakai untuk ke jogja, pilihan jatuh ke mobil pick-up karena paling murah. Tapi karena supir tidak berani bawa penumpang di bak terbuka masuk ke daerah jogja maka kami akan diantar sampai terminal muntilan kemudian naik bus sampai ke Terminal Jombor di Jogja.

yang ga salah jalan (kiri) dan yang salah jalan (kanan)
Kami baru berangkat setelah magrib jadi ternyata tiba di Muntilan sudah kemalaman. Tiba di terminal bus ternyata sudah sepi, tidak ada bus lagi. Akhirnya orang disitu menyarankan kami menunggu di jalan raya, tapi jalan raya sudah sepi di Muntilan jam 9 malam. Akhirnya sopir inisiatif mengantarkan kami ke suatu pertigaan yang katanya selalu lewat bus AKAP yang mau ke arah Jogja. Kami diturunkan di pertigaan itu.

Satu jam berlalu tidak ada satu pun bus AKAP yang lewat di pertigaan itu. Makin lama yang tadinya lumayan banyak mobil berseliweran sampai hanya ada satu dan dua kendaraan yang melintas. Sempat ada dua atau tiga bus yang lewat tapi bukan ke arah Jogja. Kami semua sudah gelosoran di trotoar, bersandar di keril masing-masing sambil main-main henpon. 

Saya sudah mulai mengantuk, masih belepotan lumpur akibat salah jalan dan badan terasa lengket karena keringat. Masih memikirkan bagaimana caranya dari Terminal Jombor ke hotel yang saya booking melalui website booking hotel, yang tempatnya aja saya belum tau ada dimana. Harusnya sih dekat dengan Bandara Udara Adisucipto Jogja. 

Ngomong-ngomong soal Bandara Udara, saya mulai khawatir kalau harus terdampar di Muntilan sampai pagi karena pesawat saya ke Bali berangkat jam 6 pagi. Tiba-tiba de ja vu peristiwa di Malaka nih, nyaris gak bisa pulang karena gak dapat bus

Karena jalanan sepi jadi penantian itu rasanya lebih lama. Kemudian dari jauh terlihat bus yang ke arah Jogja, kami langsung bersiap-siap dan naik ke atas bus. Di terminal Jombor, sudah hampir tengah malam, say aberpisah dengan kawan-kawan saya naik taksi langsung menuju hotel yang ternyata hanya berjarak 7 menit ke bandara. Yaayy.. gak jadi ketinggalan pesawat ke Bali deh. Fiuh.

Jumat, 24 Juli 2015

Menuju Puncak Kenteng Songo 3142 MDPL

Seperti biasa, kali itu saya memulai perjalanan dari kantor. Muncul di kantor dengan menggendong keril yang disematkan matras dan menenteng hiking boots, semua sekuriti, tukang kebun, mba kantin serta segenap bapak2/ibu2 tetangga ruangan kantor secara kompak bertanya : mau ke gunung? 

Yang saya jawab dengan senyum simpul sok misterius supaya terkesan cool gitu. Jawaban sama yang saya berikan kalau ada yang nanya : kapan nikah?

Jam 5 tepat saya bergegas mencegat taksi di depan kantor menuju Stasiun Senen, mengejar kereta ekonomi AC ke Stasiun Poncol Semarang. Jalanan hari itu lenggang jadi saya tiba lebih dulu dari kawan-kawan saya yang berangkat dari bekasi. Gak lama saya menunggu di depan seven eleven stasiun senen, muncul sosok-sosok yang familiar, kawan-kawan saya telah datang.

Kereta berangkat tepat waktu, tiba pagi hari di Stasiun Poncol. Kami sudah ditunggu mobil angkutan sewaan yang akan membawa kami menuju Wekas, titik awal pendakian. Jalur yang akan kami tempuh dimulai dari Wekas dan berakhir di Selo. Kami dibawa sarapan di warung nasi dalam perjalanan. 

Tiba di Basecamp Wekas tiba-tiba turun hujan dan kabut. Kami memutuskan menunggu hujan reda, baru mulai jalan. Sementara itu banyak pendaki yang tiba di basecamp dalam keadaan basah kuyup, ada rombongan yang baru turun, ada juga rombongan yang baru mau naik tapi keburu hujan jadi memutuskan balik lagi.

Kami menunggu hingga lewat tengah hari, hujan sudah mulai reda walau masih rintik-rintik. Lumayan terasa dingin di muka. Jalan sebentar di jalan setapak yang menanjak di antara perkampungan penduduk dan kebun sayur, selepas melewati perkampungan hujan deras lagi, kami berteduh di pinggir sebuah makam keramat. Untungnya gak lama hujan berhenti, jalan tanah becek berlumpur yang licin harus kami lalui sepanjang perjalanan. 

Sampai di pos 1 saya merasa lapar dan baru ingat kalau terakhir makan pagi hari di warung menuju ke Wekas dan siangnya gak makan apa-apa karena hujan. Saya makan biskuit sambil menunggu kawan-kawan serombongan yang masih di belakang. Cukup lama istirahat sambil foto-foto di pos satu, setelah semua rombongan lengkap kami kembali meneruskan perjalanan ke tempat kemah kami untuk malam itu, Pos 2.

Saya dan 3 orang kawan tiba lebih dulu di Pos 2, saat itu matahari baru saja tenggelam, sesaat sebelum gelap. Saya masih sempat mendirikan tenda saya sendiri - tenda dome kapasitas 2 orang, sebelum gelap, setelah itu saya bantu memegang senter ke kawan-kawan lain yang sedang mendirikan tenda mereka. Setelah gelap baru mulai terasa dingin banget sampai terasa ke tulang sumsum. Setelah makan malam saya langsung masuk ke dalam tenda. 

Tengah malam saya terbangun karena berasa dingin walaupun sudah pakai kaus kaki dobel, sarung tangan dan menutup rapat sleeping bag. Di rombongan yang perempuan hanya dua orang, saya dan kawan setenda saya waktu itu, dia baru pertama kali hiking. Kondisinya payah banget akibat pendakian hari pertama itu. Ternyata bukan hanya saya yang kedinginan, kawan saya itu sampai menggigil. 

Saya sempat bilang ke dia untuk pakai semua baju yang dia bawa berlapis-lapis gitu kemudian mengamati sekeliling tenda yang memang baru perdana dipakai ke gunung itu. Biasanya tenda saya cuma dipakai kemping di kebun samping rumah. Ternyata ada celah dibawah pintu yang bisa dimasuki udara dingin. Di malam kedua saya mulai tutup celah itu pakai jaket dan keril dari awal, belajar dari pengalaman malam pertama, jadi gak pake ada acara menggigil lagi.

Di malam pertama itu setelah terbangun karena dingin, saya jadi tidak bisa tidur lagi. Malah kebelet pipis. Saya lihat jam di iphone, hampir jam 3 subuh. Gak tahan, akhirnya saya keluar dari tenda menuju ke semak-semak. Sumpah! pantat kayak dicelupin ke air es pas buka celana, dingin banget. Brrrr... 

Balik ke tenda saya malah ikut nimbrung di tenda kawan saya di sebelah yang lagi rame rumpi sambil ngopi. Dibikinin kopi segelas akhirnya ikut ngobrol sampai pagi. Ketika mulai terang baru keliatan kalau ternyata banyak banget tenda warna warni di pos 2 itu. Jalan lewatin semak-semak sedikit di belakang tenda kami ada spot yang pemandangannya bagus banget. Bisa lihat pucuk gunung Sindoro, Sumbing dan Prau berdampingan diatas awan.


Sarapan pagi digelar di atas trashbag, nasi dan lauk-lauk nya plus sayur sop diletakkan di situ untuk dimakan berjamaah. Khusus dua orang perempuan manis yang udah pasti kalah kalo rebutan makan sama segerombolan cowo-cowo lapar dikasih piring dan boleh ambil makanan duluan. Selesai makan saya langsung beres-beres barang dan lipat tenda. Di pos 2 ini ada keran air buat refill persediaan air minum, karena dari situ sampai turun di selo sudah tidak ada sumber air lagi.

Dari mulai pos 2 ini jalanan terus menanjak. Di persimpangan antara Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo kami istirahat lagi sambil menunggu rombongan yang tertinggal. Sebenarnya katanya di Merbabu ada 7 puncak, tapi tujuan kami kali ini hanya ke Kenteng Songo karena waktunya yang sangat terbatas.

Saya sempat makan mi instant mentah dan tidur-tiduran sambil berjemur di matahari yang hangat. Dari posisi sunbathing saya terlihat sebidang pasir yang katanya helipad, tapi terlalu malas untuk turun ke bawah situ, saya hanya leyeh-leyeh bersandar di batu besar. 

Setelah rombongan komplit lagi kami meneruskan perjalanan yang semakin menantang ke puncak Kenteng Songo. Saat itu jarak antar rombongan semakin lama semakin jauh. Saya dan beberapa kawan yang jalan lebih dulu sempat menunggu kawan-kawan yang lain mendekati jembatan setan. Salahnya posisi nunggu kami gak enak, gak terlindung, langsung kena angin dan pas kabut mulai turun rasanya dingin banget. Akhirnya gak kuat kedinginan kami meneruskan jalan duluan ke puncak. 

Jembatan Setan Merbabu
Karena terlalu lama menunggu di bawah, sampai di Kenteng Songo sudah kesorean dan kabut sudah turun. Kawan-kawan serombongan yang lain belum menunjukan tanda-tanda kemunculan, akhirnya kami mencari tempat dibelakang batu yang agak terhalang dari terpaan angin dingin dan mulai mengeluarkan kompor. Kawan saya memasak air dan kami masing-masing menyeduh minuman hangat. Saya yang gak suka banget sama jahe, seumur hidup baru kali itu terpaksa minum wedang jahe segelas. Itu juga wedang jahe nya cuma sempat hangat 2 menit, cepet banget dinginnya. Setengah gelas kemudian yang saya minum udah berupa es wedang jahe kayak baru keluar dari kulkas. 

Kawan-kawan yang lain baru mulai berdatangan setelah mulai gelap. Beberapa tenda tampak sudah berdiri di sisi Kenteng Songo, yang pasti jenis tenda canggih yang tahan terpaan angin kencang. Kami menuruni Kenteng Songo menuju tempat perkemahan malam kedua dalam keadaan gelap. Saya sempat tergelincir karena salah melangkah kemudian jatuh dan sempat terguling satu kali. Dalam keadaan telungkup saya terperosok ke bawah tertarik gaya gravitasi, tangan saya menggapai-gapai dalam gelap mencari pegangan tapi karena di jalur itu tidak ada vegetasi yang besar jadi saya hanya menggapai-gapai hampa aja. 

Karena gelap saya tidak bisa lihat saya terperosok kemana, yang saya tahu badan saya makin jauh terperosok ke bawah. Sempat tertangkap sesuatu yang berasa seperti akar, tapi terlalu lemah untuk menahan berat badan saya ditambah keril yang ditarik gravitasi. Untungnya beberapa saat kemudian saat saya nyaris pasrah bakal terus nyusruk kejurang, badan saya tertahan oleh semak yang lumayan rimbun. Seketika saya berhenti meluncur tapi teriakan saya yang kaget karena tergelincir masih terdengar gemanya.

Peristiwa itu bikin adrenalin meningkat dan dengkul lemes. 

Setelah turun dari Merbabu saya baru sadar kalau peristiwa itu juga bikin ankle kaki kiri saya bengkak akibat terkilir.

Malam itu hujan turun dengan derasnya, untung tenda saya sudah berdiri sebelum hujan deras. Untung di malam sebelumnya saya sudah tahu lokasi celah di tenda saya, jadi sempat saya tutup plastik di tambah keril dan jas hujan. Sempat khawatir juga kalau air hujan merembes ke tenda, karena sebelumnya tenda say aiu belum pernah di uji coba di kondisi hujan dan berangin kencang. Untungnya sih enggak. 

Keesokannya sebelum nyasar, seperti yang pernah saya ceritain dipostingan Salah Jalan (klik link birunya), saya sempat foto dengan latar pucuk Gunung Merapi yang menjulang di atas awan. Keesokan harinya baru saya dengar kabar, di hari yang sama saya foto dengan Merapi itu ada orang yang jatuh ke dalam kawah Merapi.

liat kan merapi nya yang abu-abu itu di tengah awan



Minggu, 24 Mei 2015

Salah Jalan

Saya pergi ke Merbabu dengan rombongan. Perjalanan kami tempuh 3 hari 2 malam, naik di Wekas turun di Selo melintasi Puncak Kenteng Songo. Ditengah perjalanan rombongan terbagi dua kubu, kubu di depan dan kubu di belakang. Kubu di depan sudah lebih terbiasa naik turun gunung sehingga staminanya lebih kuat daripada kubu belakang yang kecepatannya kalah tertinggal. 

Di hari ketiga, turun dari camp kita di sabana 2, salah seorang dari kubu depan mulai tidak sabar dan pundung. Ditambah lagi karena mereka harus mengejar kereta kembali ke Jakarta dari Jogja sore hari nya,  jadi mereka jalan makin buru-buru, gak sabaran nunggu sebagian kelompok yang tertinggal di belakang.

Sementara saya kadang ada di depan, kadang ada di belakang, pokoknya prinsip saya hanya berjalan saja. Kalau lagi capek saya di belakang, kalau lagi semangat ya jalan di rombongan yang depan. 

Malam kedua hingga pagi hari ketiga hujan deras sehingga tenda yang saya bawa sendiri basah. Karena takut resiko sisa-sisa baju dan sleeping bag saya ikut basah kalau tenda saya masukan tas jadi saya memutuskan menenteng tenda saya diluar backpack. Dalam keadaan kering saja agak susah mengepak tenda saya itu dalam tas 50L, itu pun frame nya gak cukup di masukan ke dalam tas jadi di selipkan di saku luar tasnya. 

Perpecahan mulai meruncing ketika selesai foto bersama dengan background kawah Merapi dari kejauhan. Salah satu anggota rombongan yang pundung menolak untuk berfoto bersama, malah berjalan duluan ke arah turun. Saya sih dengan santai langsung mengikuti ke arah turun setelah selesai foto bersama, sementara beberapa masih foto-foto sendiri. Sementara itu kawan-kawan dekat nya mulai bergerak menyusul untuk menghiburnya.

Sampai di sabana 1, banyak sekali tenda beraneka warna pagi itu. Wajar karena bertepatan dengan hari libur long weekend. Saya melihat sosok kawan-kawan saya naik ke atas bukit dan segera mengikutinya. Itu setelah melalui turunan kejam yang terjal dan licin karena paginya habis hujan, dan saat itu sepatu saya mulai berasa kayak gigit-gigit kaki. Ternyata setelah naik bukit itu terulang lagi turunan terjal yang bahkan lebih licin lagi. 

Setelah itu saya masih harus mengulangi satu set naik bukit dan turunan terjal, posisi saat itu sudah tertinggal jauh dari kawan-kawan di depan dan yang di belakang belum terlihat. Setelah itu jalanan yang dilalui jadi makin aneh, melintasi sabana yang jalan setapaknya hanya cukup untuk satu orang. Saat itu sempat timbul pertanyaan di benak saya, kalau banyak pendaki yang lewat situ kog bisa ya jalan setapak yang terbentuk sempit banget? gimana kalau banyak pendaki yang berpapasan berlawanan arah?

Makin lama setapak makin gak jelas, banyak sudah tertutup rumput. Beberapa kali saya dan salah satu teman dari rombongan yang tertinggal bingung di persimpangan jalan setapak yang tidak ada keterangan apa-apanya. Saat itu saya merasakan perut saya mulai lapar. Penyesalan terdalam saya saat itu adalah karena pagi harinya saya menolak tawaran sepiring mie goreng dari tenda sebelah. Untungnya kawan saya punya 2 batang coki-coki yang akhirnya saya palak. Sementara itu bayang-bayang mie instan masih memenuhi hati dan pikiran saya.

Tiba di suatu titik dimana jalan yang kita lewati tampak nyaris buntu karena semua path tertutup rumput, saya dan kawan saya mulai bingung celingukan jangan-jangan kita mengambil arah yang salah di salah satu persimpangan. Untungnya gak lama kami dengar ada teman yang manggil-manggil dari balik salah satu rumput yang tinggi. Empat orang kawan lagi duduk menunggu kami berdua karena mereka tahu kami pasti bingung di jalan itu, sementara tiga orang lagi sudah duluan melesat di depan.

Setelah jalan setapak yang tertutup rumput itu selanjut nya kami mulai memasuki hutan lebat, jalan setapaknya semakin gak jelas - tertutup alang-alang, daun-daunan yang saling bersinggungan, akar pohon, bahkan sering kami harus merunduk melewati pohon-pohon tumbang.  Kawan saya di depan berteriak mengingatkan untuk selalu jalan di kanannya jalan setapak karena di sebelah kirinya yang tertutup alang-alang ternyata banyak lubang-lubang curam. Jalan menurunnya sangat menantang, makin lama makin banyak jalan yang saya lewati dengan berseluncur duduk selain karena jalannya sangat licin dan terjal, kaki saya di dalam sepatu sudah makin lecet dan tidak kuat menjejak menahan beban di turunan. 

Rasanya seperti mengulang pengalaman di Senaru, tapi lebih parah karena jalanannya basah, licin dan lebih sempit. Anehnya lagi sepertinya hanya rombongan kami yang ada di hutan itu, padahal kalau dilihat jumlah tenda di sabana 1 harusnya kami banyak berpapasan dengan pendaki-pendaki yang lalu lalang. 

Saya mulai curiga jangan-jangan kami salah jalan.

Iisshh.. nyasar sih emang my middle name, tapi ya jangan nyasar di hutan di gunung juga keleeuuss...

Tiga jam berjalan akhirnya kami mendengar ada suara orang-orang ngobrol di kejauhan. Tapi agak ragu juga sih jangan-jangan itu cuma halusinasi. 

Untungnya bukan halusinasi. Memang suara orang beneran yang kami dengar. Bukan juga suara orang jadi-jadian. Kami muncul di pertigaan. Jalan yang lumayan besar terbentang di hadapan kami. Tampaknya arah Selo ada di kanan kami. Di pertigaan itu, tepat di hadapan kami ada papan besar bertuliskan "PUNCAK" dengan tanda panah mengarah ke kiri. 

Kami terduduk lega sejenak di pertigaan itu, belepotan lumpur dan peluh. Gak lama muncul rombongan anak-anak muda pendaki dari arah bawah, salah satunya bertanya, "kalau jalan yang itu tembusnya kemana ya?"

"sabana 1,"kata kawan saya.

"Jalannya lebih dekat ga?"

Saya dan kawan saya serentak langsung menjawab,"lewat jalur yang normal aja!"

Sementara itu apa kabar rombongan kubu belakang yang di cap lelet dan terlalu lambat sama rombongan kubu depan (yang saya ikutin sampai terseok-seok). Ternyata mereka lewat jalur normal dan gak salah jalan, jadi waktu tempuh nya sama aja kayak yang jalan buru-buru takut ketinggalan kereta padahal mereka jalannya santai sambil foto-foto, banyak break duduk-duduk dan merokok.

Sampai di basecamp, kawan-kawan yang mengejar kereta sore sudah langsung berangkat ke Jogja. Saya dan tiga orang kawan yang ikut kebawa salah jalan masih stay di basecamp karena gak ikut pulang ke jakarta hari itu. Kami di olok-olok dan di bully abis-abisan sama rombongan yang gak pake salah jalan.

"Lo lewat mana sih tadi? Jalur evakuasi monyet?" mereka tertawa puas, kami tertawa miris.

Masih untung jalan tembusnya bener, coba kalau ternyata emang salah jalan beneran, coba aja kalau tembusnya ternyata balik ke Kenteng Songo... Kalo gitu mah saya butuh di evakuasi beneran. 

Lesson learned. Kalau suatu saat jadi orang yang kebetulan lebih kuat gak boleh sombong, memandang remeh yang lebih lemah, mencelanya dan menganggap sebagai penghambat. Karena kita ga pernah tau di depan kita akan ada kejadian seperti apa. So, Stay Humble :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...