Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Jogjakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Jogjakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2015

Salah Jalan

Saya pergi ke Merbabu dengan rombongan. Perjalanan kami tempuh 3 hari 2 malam, naik di Wekas turun di Selo melintasi Puncak Kenteng Songo. Ditengah perjalanan rombongan terbagi dua kubu, kubu di depan dan kubu di belakang. Kubu di depan sudah lebih terbiasa naik turun gunung sehingga staminanya lebih kuat daripada kubu belakang yang kecepatannya kalah tertinggal. 

Di hari ketiga, turun dari camp kita di sabana 2, salah seorang dari kubu depan mulai tidak sabar dan pundung. Ditambah lagi karena mereka harus mengejar kereta kembali ke Jakarta dari Jogja sore hari nya,  jadi mereka jalan makin buru-buru, gak sabaran nunggu sebagian kelompok yang tertinggal di belakang.

Sementara saya kadang ada di depan, kadang ada di belakang, pokoknya prinsip saya hanya berjalan saja. Kalau lagi capek saya di belakang, kalau lagi semangat ya jalan di rombongan yang depan. 

Malam kedua hingga pagi hari ketiga hujan deras sehingga tenda yang saya bawa sendiri basah. Karena takut resiko sisa-sisa baju dan sleeping bag saya ikut basah kalau tenda saya masukan tas jadi saya memutuskan menenteng tenda saya diluar backpack. Dalam keadaan kering saja agak susah mengepak tenda saya itu dalam tas 50L, itu pun frame nya gak cukup di masukan ke dalam tas jadi di selipkan di saku luar tasnya. 

Perpecahan mulai meruncing ketika selesai foto bersama dengan background kawah Merapi dari kejauhan. Salah satu anggota rombongan yang pundung menolak untuk berfoto bersama, malah berjalan duluan ke arah turun. Saya sih dengan santai langsung mengikuti ke arah turun setelah selesai foto bersama, sementara beberapa masih foto-foto sendiri. Sementara itu kawan-kawan dekat nya mulai bergerak menyusul untuk menghiburnya.

Sampai di sabana 1, banyak sekali tenda beraneka warna pagi itu. Wajar karena bertepatan dengan hari libur long weekend. Saya melihat sosok kawan-kawan saya naik ke atas bukit dan segera mengikutinya. Itu setelah melalui turunan kejam yang terjal dan licin karena paginya habis hujan, dan saat itu sepatu saya mulai berasa kayak gigit-gigit kaki. Ternyata setelah naik bukit itu terulang lagi turunan terjal yang bahkan lebih licin lagi. 

Setelah itu saya masih harus mengulangi satu set naik bukit dan turunan terjal, posisi saat itu sudah tertinggal jauh dari kawan-kawan di depan dan yang di belakang belum terlihat. Setelah itu jalanan yang dilalui jadi makin aneh, melintasi sabana yang jalan setapaknya hanya cukup untuk satu orang. Saat itu sempat timbul pertanyaan di benak saya, kalau banyak pendaki yang lewat situ kog bisa ya jalan setapak yang terbentuk sempit banget? gimana kalau banyak pendaki yang berpapasan berlawanan arah?

Makin lama setapak makin gak jelas, banyak sudah tertutup rumput. Beberapa kali saya dan salah satu teman dari rombongan yang tertinggal bingung di persimpangan jalan setapak yang tidak ada keterangan apa-apanya. Saat itu saya merasakan perut saya mulai lapar. Penyesalan terdalam saya saat itu adalah karena pagi harinya saya menolak tawaran sepiring mie goreng dari tenda sebelah. Untungnya kawan saya punya 2 batang coki-coki yang akhirnya saya palak. Sementara itu bayang-bayang mie instan masih memenuhi hati dan pikiran saya.

Tiba di suatu titik dimana jalan yang kita lewati tampak nyaris buntu karena semua path tertutup rumput, saya dan kawan saya mulai bingung celingukan jangan-jangan kita mengambil arah yang salah di salah satu persimpangan. Untungnya gak lama kami dengar ada teman yang manggil-manggil dari balik salah satu rumput yang tinggi. Empat orang kawan lagi duduk menunggu kami berdua karena mereka tahu kami pasti bingung di jalan itu, sementara tiga orang lagi sudah duluan melesat di depan.

Setelah jalan setapak yang tertutup rumput itu selanjut nya kami mulai memasuki hutan lebat, jalan setapaknya semakin gak jelas - tertutup alang-alang, daun-daunan yang saling bersinggungan, akar pohon, bahkan sering kami harus merunduk melewati pohon-pohon tumbang.  Kawan saya di depan berteriak mengingatkan untuk selalu jalan di kanannya jalan setapak karena di sebelah kirinya yang tertutup alang-alang ternyata banyak lubang-lubang curam. Jalan menurunnya sangat menantang, makin lama makin banyak jalan yang saya lewati dengan berseluncur duduk selain karena jalannya sangat licin dan terjal, kaki saya di dalam sepatu sudah makin lecet dan tidak kuat menjejak menahan beban di turunan. 

Rasanya seperti mengulang pengalaman di Senaru, tapi lebih parah karena jalanannya basah, licin dan lebih sempit. Anehnya lagi sepertinya hanya rombongan kami yang ada di hutan itu, padahal kalau dilihat jumlah tenda di sabana 1 harusnya kami banyak berpapasan dengan pendaki-pendaki yang lalu lalang. 

Saya mulai curiga jangan-jangan kami salah jalan.

Iisshh.. nyasar sih emang my middle name, tapi ya jangan nyasar di hutan di gunung juga keleeuuss...

Tiga jam berjalan akhirnya kami mendengar ada suara orang-orang ngobrol di kejauhan. Tapi agak ragu juga sih jangan-jangan itu cuma halusinasi. 

Untungnya bukan halusinasi. Memang suara orang beneran yang kami dengar. Bukan juga suara orang jadi-jadian. Kami muncul di pertigaan. Jalan yang lumayan besar terbentang di hadapan kami. Tampaknya arah Selo ada di kanan kami. Di pertigaan itu, tepat di hadapan kami ada papan besar bertuliskan "PUNCAK" dengan tanda panah mengarah ke kiri. 

Kami terduduk lega sejenak di pertigaan itu, belepotan lumpur dan peluh. Gak lama muncul rombongan anak-anak muda pendaki dari arah bawah, salah satunya bertanya, "kalau jalan yang itu tembusnya kemana ya?"

"sabana 1,"kata kawan saya.

"Jalannya lebih dekat ga?"

Saya dan kawan saya serentak langsung menjawab,"lewat jalur yang normal aja!"

Sementara itu apa kabar rombongan kubu belakang yang di cap lelet dan terlalu lambat sama rombongan kubu depan (yang saya ikutin sampai terseok-seok). Ternyata mereka lewat jalur normal dan gak salah jalan, jadi waktu tempuh nya sama aja kayak yang jalan buru-buru takut ketinggalan kereta padahal mereka jalannya santai sambil foto-foto, banyak break duduk-duduk dan merokok.

Sampai di basecamp, kawan-kawan yang mengejar kereta sore sudah langsung berangkat ke Jogja. Saya dan tiga orang kawan yang ikut kebawa salah jalan masih stay di basecamp karena gak ikut pulang ke jakarta hari itu. Kami di olok-olok dan di bully abis-abisan sama rombongan yang gak pake salah jalan.

"Lo lewat mana sih tadi? Jalur evakuasi monyet?" mereka tertawa puas, kami tertawa miris.

Masih untung jalan tembusnya bener, coba kalau ternyata emang salah jalan beneran, coba aja kalau tembusnya ternyata balik ke Kenteng Songo... Kalo gitu mah saya butuh di evakuasi beneran. 

Lesson learned. Kalau suatu saat jadi orang yang kebetulan lebih kuat gak boleh sombong, memandang remeh yang lebih lemah, mencelanya dan menganggap sebagai penghambat. Karena kita ga pernah tau di depan kita akan ada kejadian seperti apa. So, Stay Humble :)


Selasa, 20 Januari 2015

Sunset di Pantai Depok Jogjakarta

Sesaat sebelum matahari terbenam, bersama dengan teman SMA saya Dayu Ary dan suaminya Lexis, saya tiba di Pantai Depok setelah melalui jalan lurus yang membentang diantara hamparan gumuk pasir Parangkusumo. Hari itu adalah hari Sabtu, Pantai Depok ramai oleh pengunjung, sekeluarga, berpasangan, maupun yang datang dengan sekelompok teman sepermainan. Perahu kayu nelayan warna warni parkir berjajaran di sisi pantai yang berpasir hitam. Ya, ciri khas Pantai Depok adalah pasirnya yang berwarna hitam. 



Banyak anak-anak dengan kaus kutang dan celana dalam masih asik bermain air di antara deburan ombak yang santai, mengingat masa balita saya di pantai cilacap persis dengan kutang dan celana dalam. Sementara ibu dan kakek neneknya mengamati sambil menyantap camilan di atas tikar. Sementara itu matahari berwarna keemasan bulat sempurna perlahan bersiap turun ke batas horizon, menyinari siluet keluarga yang sedang bercengkrama di atas tikar itu.

Kami sempat mencicipi jenis hewan laut yang baru saya lihat seumur hidup. Hewan laut ini bercangkang seperti kepiting tapi tidak keras dan ukurannya juga kecil, kira-kira sebesar satu ruas ibu jari. Dijajakan diantara cumi dan ikan asin yang sudah dimasak kering, saya tertarik melihat hewan yang buat saya terlihat asing itu. 

"Ini apa, bu?" tanya saya ke ibu pemilik warung.

"Undur-undur itu. Boleh di coba saja," ibu itu mengambil seekor undur-undur dan menyodorkan ke tangan saya.

Rasanya aneh.

Ibu itu tertawa girang melihat ekspresi muka saya.



Rabu, 24 Desember 2014

Merapi

Ketika komputer atau smartphone kita sering nge-hang, mungkin seringkali kita mengambil jalan pintas untuk menekan tombol reset. Dengan menekan tombol reset kita 'memaksa' perangkat elektronik kita untuk memulai segala sesuatu dari awal, beberapa file yang belum kita save mungkin akan hilang. Untuk kasus smartphone mungkin saja reset yang kita lakukan untuk memulihkan fungsi nya memerlukan pengorbanan menghapus semua data-data. 

Itulah yang ada di pikiran saya yang random ini ketika mengunjungi Merapi dan melihat sisa-sisa bekas letusannya di tahun 2005. Saat itu rumah-rumah, kebun-kebun dan segala sesuatu yang ada di daerah itu habis dilahap aliran lava panas. Hewan-hewan ternak yang terperangkap tinggal tersisa tulang belulangnya. Motor-motor yang ditinggalkan pemiliknya seperti tanaman yang layu kepanasan - coklat, kering dan menyusut.

Beberapa bulan lalu, tujuh tahun dari peristiwa yang catastrophic itu, saya, Dayu Ary dan Lexis mengunjungi daerah bekas letusan Gunung Merapi di Jogjakarta. Konon katanya Gunung Merapi, Keraton dan Pantai Parangkusumo (Pantai Laut Selatan) berada dalam satu garis lurus. Di Merapi vegetasi-vegetasi baru sudah tumbuh subur dan rapat di tanah vulkanik, memulai suatu ekosistem baru. Saat itulah saya kepikiran soal reset. Walaupun dalam kasus ini reset nya drastis banget, harus hancur-hancuran hingga semuanya habis jadi nol - kosong. Dan seperti kata penjaga pom bensin pertamina kalau kita mau isi bensin, "dimulai dari nol ya."

Pasir-pasir dan batu bekas letusan gunung merapi sekarang di tambang oleh warga

Motor yang jadi korban

Tumbuh-tumbuhan sudah mulai tumbuh subur lagi
Bagi penduduk disana ketika bencana terjadi mungkin itulah mimpi terburuk mereka. Bahkan sangking menyeramkannya mungkin banyak yang tidak berani hanya untuk sekedar memimpikannya. Rumah, barang-barang, ternak, kebun yang dikumpulkan dalam waktu bertahun-tahun habis dalam waktu beberapa jam saja. Pernah gak kita meluangkan waktu beberapa menit saja untuk ngebayangin kira-kira apa yang akan terjadi dan gimana perasaan kita kalau besok pagi kita bangun dari tidur dan semua yang kita (anggap) punya kita hilang?

Betapa sering nya kita dengar istilah kalau apa yang kita miliki di dunia ini hanya pinjaman dari Tuhan, tapi lebih sering kita lupa dan menjalin suatu keterikatan dengan benda-benda itu. Seperti ketika setahun lalu saya kehilangan Blackberry yang sudah saya gunakan selama bertahun-tahun, saya mengikatkan diri saya dengan blackberry itu melalui kenangan yang telah kami lewati bersama, karena itu kehilangannya membuat saya sedih. 

Kecenderungan manusia untuk mengikatkan diri dengan benda dan/atau manusia lain lah yang mungkin membuat hidup ini selalu ga tenang karena selalu merasa takut kehilangan. Hal itulah yang membuat perusahaan-perusahaan asuransi makmur, menjadikan ketakutan dan kekhawatiran kita sebagai bisnis menguntungkan. Semakin banyak yang kita punya, maka rasa takut kehilangan itu akan semakin besar, dan semakin makmurlah perusahaan asuransi.

Yah, seperti yang saya bilang waktu itu 
"maybe that's what true freedom is, kita gak takut kehilangan apa pun lagi kalau kita ga punya apa-apa"
Tapi sepertinya kebebasan memang harus selalu diikuti oleh keberanian. Pertanyaannya, ada berapa banyak orang yang berani untuk ga punya apa-apa.

Lava dan copet mungkin hanya salah satu/dua cara untuk mengingatkan manusia bahwa setiap saat kita harus siap kehilangan. Kata orang-orang jaman dulu, dunia ini seperti roda yang berputar, dengan kata lain kehidupan ini adalah suatu siklus. begitu pula dengan kehilangan yang diawali dari kedapetan, akan berubah menjadi kedapetan lagi. Jadi kita harus selalu siap menyambut siklus: kedapetan - kehilangan - kedapetan. Dan yang challenging dari kehidupan ini adalah, kita ga akan pernah tau kado kejutan manis apa yang akan kita dapat setelah kehilangan. 

Seperti waktu saya ke Merapi, setidaknya ada dua peluang usaha baru setelah bencana itu: tambang pasir untuk bangunan dan wisata tur mengelilingi kawasan bekas letusan Merapi. Melewati gerbang selamat datang di kawasan Merapi ada beberapa operator tur di sisi-sisi jalan yang menawarkan tur keliling Merapi dengan mobil Jeep. Saya, Dayu Ary dan Lexis, ikut tur semacam itu menggunakan jeep. Ada 3 rute yang ditawarkan berdasarkan jarak, kami memilih yang paling dekat saja, melewatkan rute yang mencakup makam Mbah Maridjan.  

"dapet jeep ini darimana?" saya iseng bertanya sama guide yang merangkap supir jeep kami.

"cari di b*rniaga.com, mba," jawabnya santai.

Tur berakhir di mata air di kaki gunung merapi luput dari aliran lahar panas.


Minggu, 07 Desember 2014

Malioboro

Entah berapa kali saya mondar-mandir di seruas jalan yang merupakan lokasi wisata terkenal di Kota Jogja. Jalan kaki, naik becak, naik delman, dengan rombongan, bersama Chacha, berdua 'kamu' bergandengan tangan menyebrang jalan yang padat ditengah rintik hujan dan tak terhitung berapa banyak saya ayunkan langkah sendirian menyusuri jalan yang senantiasa ramai itu. Nyaris setiap kalinya punya kenangan tersendiri.

Kali ini saya pergi bersama kawan SMA saya bernama Dayu Ary, yang baru menikah dengan warga negara amerika, Lexis. Buat Lexis mungkin ini pertama kalinya mengalami liburan ala turis lokal di Malioboro. Buat saya ini pertama kalinya jalan di Malioboro bersama orang yang baru pertama kali mengalami liburan ala turis lokal Indonesia.

Malam itu malam Sabtu, udara cerah cenderung gerah. Saya, Dayu Ary dan Lexis naik becak dari depan hotel kami dengan tujuan Malioboro. Saya satu becak berdua dengan Dayu, sementara suaminya Lexis di satu becak sendiri, kegirangan karena jarang (atau mungkin baru pertama) naik becak. 

Kami di turunkan tak jauh di depan Benteng Vredeburg. Lokasi yang sama ketika setahun sebelumnya saya dan Chacha duduk termangu di pagi hari yang lengang, baru tiba di Jogja dengan Kereta Api, jalan kaki dari Stasiun Tugu menyanding backpack, sementara sepanjang perjalanan kaki kami beraneka mas/bapak/abang menawarkan becak dan penginapan. Kami menunggu para penjual pecel di depan Pasar Beringharjo bersiap-siap, sarapan kami waktu itu.

Tapi malam itu saya, Dayu dan Lexis tidak mampir ke Pasar Beringharjo. Dayu sempat jajan kacamata hitam di pinggir jalan depan Benteng Vrederburg karena punyanya jatuh, hanyut dan menghilang di Goa Pindul siang harinya. Lexis dan Dayu sempat berfoto dengan sekelompok anak muda yang berdandan seperti kunti, zombie, mumi, pocong, sadako dan nenek gayung. 

Lexis sedang belajar bahasa Indonesia menggunakan media DVD film hantu Indonesia dan lagu-lagu Dangdut. Jadi ketika dia melihat ada Pocong, langsung deh minta foto bareng. 

Di depan Pasar Beringharjo kami bertiga menyebrang ke Toko Mirota. Tujuan kami sebenarnya mau nonton pertunjukan yang ada di lantai atas Mirota, tapi ternyata sudah full. Akhirnya saya mengajak mereka ke angkringan kopi joss yang pernah saya datangi bersama Tince, Rio, Anno dan Chacha beberapa bulan sebelumnya. 

Saya duduk menunggu di tikar yang tersedia di depan angkringan itu sementara Lexis memvideokan pembuatan kopi Joss, ketika arang membara di cemplungkan ke dalam kopi hitam - yang beberapa hari setelahnya langsung di unggah ke facebook. 

Kami makan malam di warung lesehan, Lexis mencoba makan gudeg sambil menganalisa dan bertanya kepada Dayu satu-satu komponen dari Gudeg di piringnya itu. Tragedi terjadi ketika saya sedang menawar delman untuk kembali ke hotel, tiba-tiba dengan wajah panik Dayu menghampiri saya,"Laki gw ilang.."

Saya dan Pak Kusir saat itu sudah mencapai kesepakatan harga, saya pun sudah nyaris duduk disamping pak Kusir yang sedang bekerja. Beberapa saat saya menunggu Dayu yang bergegas mengejar bayang-bayang Lexis ke tengah kerumunan, tapi kemudian Dayu kembali hanya sendiri. Akhirnya saya memutuskan membatalkan kesepakatan saya dengan Pak Kusir dan mengikuti Dayu menyusuri jalan Malioboro.

Ada beberapa poin yang menjadi inti masalah hilangnya Lexis di Malioboro:
1. Lexis tidak bawa henpon
2. Tidak tahu jalan kembali ke hotel 
3. Tidak tahu nama hotel nya

Jadi satu-satunya cara kita menemukannya adalah dengan cara mencari jarum dalam jerami. 

"Laki gw pendek lagi, jadi susah nih," keluh Dayu. Suaminya memang tingginya standard tinggi laki-laki Asia, buat saya ga bisa dibilang pendek, tapi buat ukuran orang amerika bisa dibilang agak imut-imut. Tapi tentu saja, akan jauh lebih mudah mencari laki-laki pirang bertinggi 190 cm di tengah kerumunan manusia dengan tinggi rata-rata 160-170 cm.

Peluh sudah mulai membasahi ubun-ubun saya karena berjalan tergesa. Lexis belum juga ditemukan. Saya sempat masuk ke circle K, ngantri ATM sementara Dayu tetap memantau arus pengunjung di luarnya. 

Tidak jauh dari penampilan penari di tepi jalan malioboro yang ramai di kerumuni penonton muncul sosok Lexis dengan wajah tak berdosa, tersenyum seperti kawan lama yang baru ketemu di jalan.


Jumat, 14 November 2014

Run Mila Run


Lokasi : Gumuk Pasir Parangkusumo, Jogjakarta 
Waktu : Sesaat setelah matahari terbenam


Minggu, 17 Agustus 2014

Ullen Sentalu

Museum kebudayaan Jawa yang terletak di daerah Kaliurang, Jogjakarta ini mendapat banyak rekomendasi dari blog dan situs travel sebagai salah satu lokasi yang wajib dikunjungi. Waktu saya ke Jogja sama Chacha tahun lalu sempat ada rencana ke tempat ini, tapi karena lokasinya jauh menyimpang dari tempat-tempat tujuan pencarian innerpeace kita ke candi-candi di jogja dan sekitanya jadi tidak sempat mampir. 

Kebetulan tahun ini, saya bersama kawan saya Dayu Ary dan suaminya pergi ke daerah bekas letusan Gunung Merapi, pulangnya melewati daerah Kaliurang kita mampir ke Ullen Sentalu ini.

Museum ini bangunannya dari batu-batu dan tampak asri, pintu masuknya melewati lorong batu dan diantara ruangan-ruangannya ada yang dialiri air jadi sejuk dan dingin. Pengunjung di pandu oleh pemandu tur selama sekitar 15 menit menyusuri ruangan-ruangan di museum itu. 

Pertama - tama pengunjung dijelaskan tentang silsilah kerajaan Jawa yang berasal dari Kerajaan Mataram kemudian terpisah jadi dua Kesultanan Jogjakarta dan Kesultanan Surakarta. Masing-masing kesultanan Jogjakarta dan Kesultanan Surakarta pecah lagi jadi dua, hingga sekarang dari yang awalnya satu kerajaan Mataram pecah jadi 4 kerajaan yang berlokasi di daerah Jawa Tengah. 

Dalam ruangan pertama terdapat alat-alat musik gamelan dan lukisan tari-tarian. Pemandu menjelaskan filosofi musik dan tari-tarian Jawa, juga menjelaskan arti dari busana penari-penarinya. Setelah itu pengunjung dibawa menyusuri lorong yang berisi lukisan-lukisan keluarga kerajaan Hamengkubuwono (yang sekarang memerintah di Jogjakarta) dan ada juga Pakubuwono (yang sekarang memerintah di Surakarta).

Menurut saya yang paling menarik kisah Pakubuwono XII yang sudah jadi Raja sejak masih muda sekali karena ayahnya PB XI meninggal dunia, jadi beliau memerintah didampingi oleh Ibunya. Kalau seperti cerita di Games of Throne - ada Queen Regent nya. Uniknya PB XII ini punya 6 selir tapi tidak satu pun yang diakui sebagai permaisuri. Ada juga putri dari PB XI yang terkenal dengan panggilan Tineke, di museum itu bahkan beliau punya ruangan sendiri yang berisi foto-foto dan korespondensi surat-suratnya waku jaman dulu. Putri Solo itu cantik banget, bahkan kalau mau dibandingkan dengan gadis-gadis jaman sekarang cantiknya masih gak kalah. 

Selain tentang keluarga-keluarga kerajaan ada juga ruangan yang berisi koleksi batik dari berbagai daerah. Pemandu menjelaskan tentang makna motif-motif batik yang ada di koleksinya. Selesai tur pengunjung diberi minum yang kayaknya jamu kunyit asem, tapi karena saya ga suka bau jamu-jamu-an jadi saya ga cobain minumannya.

Di dalam museum Ullen Sentalu pengunjung tidak di perbolehkan mengambil gambar / foto-foto. Setelah selesai tur dan berada di tamannya baru boleh foto-foto.

Replika salah satu panel Candi Borobudur

Mejeng di taman belakangnya yang asri, disini ada cafe juga

Minggu, 15 Juni 2014

Pertama Kali


There will always be the first times in life. Selama apapun manusia hidup ga akan mungkin mengetahui semua hal yang ada di dunia karena banyak banget. Malahan menurut saya kalaupun ada manusia yang umurnya ribuan tahun, ga mati-mati kayak Buffy the Vampire Slayer tetap saja dia tidak akan mungkin tahu semua yang ada di dunia dan mengalami/mencoba semua yang ada, soalnya selain banyak banget, akan selalu ada penemuan dan perkembangan baru. 

Sebagai orang yang terdaftar sebagai penduduk Jakarta dan sudah tinggal di kota ini melampaui beberapa dekade, masih banyak aja daerah-daerah di Jakarta yang saya belum pernah datengin. Banyak hal yang dilakukan penduduk Jakarta sehari-hari yang belum pernah saya lakukan, misalnya nih: naik commuter line.



Kawan baik saya, Neng Pagit setiap hari menggunakan sarana transportasi ini dari rumahnya di kawasan bogor menuju pusat ibukota jakarta. Sering banget kalau janjian sama pagit janjian di sekitar stasiun kereta, bahkan hampir selalu nge drop dia di stasiun kereta. Tapi saya sendiri belum pernah naik commuter line itu. Walaupun kalau denger ceritanya pagit naik kereta itu enak karena cepet (dengan asumsi ga ada masalah kerusakan sinyal atau masalah teknis lainnya), tapi kalau saya naik comline ke kantor ga efektif, stasiun kereta paling deket dari rumah saya jaraknya nyaris sama kayak jarak ke kantor. 

Beberapa kali saya pernah naik KRL, itu udah lama banget sebelum ada yang namanya commuter line. Itu pun bukan untuk kegiatan rutin, cuma dalam rangka jalan-jalan. Sejak mulai ada comline yang merupakan perkembangan dari KRL saya belum pernah naik kereta dalam kota dan sekitarnya lagi. 

Akhirnya bulan lalu ada kesempatan untuk pertama kali merasakan naik moda transportasi umum ini. Tujuannya adalah ke Stasiun Kota untuk menukar tiket KA ke Jogja yang saya pesan online dari website PT KAI. Hari Jumat, berangkat dari kantor saya di bilangan pancoran sekitar jam 11, jalan kaki menuju stasiun cawang. Sebelumnya saya sudah browsing peta comline dan jadwalnya di internet. Saya langsung menuju loket dan dikasih kartu untuk satu kali perjalanan. 

Dengan penuh percaya diri saya menuju pintu masuk dan meletakan kartu tiket saya di sensor, tapi ketika jalan maju besi penahan pintunya ga muter. Terus ada satpam langsung menghampiri, ternyata saya meletakan kartu di sisi sensor yang salah - bukan pasangan pintu nya. Untung waktu itu sepi, jadi saya cuma sendiri di situ, malu nya jadi ga seberapa. "hehee maklum pak, baru pertama nih,"ujar saya ke satpam yang pandangannya seolah-olah berkata 'kemana aja, neng?'

Misi menukar tiket Kereta Api pun sukses dengan gemilang dan hanya memakan waktu sekitar 1 jam hingga kembali lagi ke Stasiun Cawang. 

Keesokan harinya saya pun kembali melakukan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidup: Naik Kereta ke luar kota dari Stasiun Senen. Biasanya kalau mau naik KA luar kota di Jakarta saya selalu memilih Stasiun Jatinegara yang paling dekat dengan posisi rumah. Tapi sejak ada peraturan kalau di Stasiun Jatinegara sudah tidak melayani pemberangkatan keluar kota, saya naik dari Stasiun Gambir. Tapi peraturan baru, Stasiun Gambir pun sekarang hanya melayani pemberangkatan kereta eksekutif dan Argo. Sedangkan kereta Bisnis dan ekonomi AC berangkat dari Stasiun Senen.  Tiket KA saya ke Jogja bulan lalu adalah Fajar Utama, jadi berangkatnya harus dari Stasiun Senen.

Dini hari, saya mengawali sejarah pertama kali memasuki Stasiun Senen dengan tatapan galak penjaga tiket masuk. Saya tiba di Stasiun jam 5.55, karena kereta saya jadwalnya jam 6.30 saya dengan polosnya ikut di antrian masuk. Pas sampe giliran saya mengajukan selembar tiket dan selembar KTP, pandangan petugas tiket tiba-tiba judes menusuk kalbu tapi saya tetap diperbolehkan lewat. Tapi setelah itu dia teriak ke arah antrian, "Tawangjaya Tawangjaya". Oalaaa ternyata itu antrian masuk masih giliran Tawangjaya, belum giliran Fajar Utama. 

Saat itu juga pertama kali nya saya naik KA Bisnis lagi setelah terakhir kali tahun lalu saya naik KA bisnis dari Jogja ke Jakarta dalam rangka perjalanan innerpeace ke Dieng. Ternyata KA Bisnis sekarang ada AC nya. AC split kayak di rumah-rumah, merk panasonic, yang ditempel di atas langit-langit gerbong kereta. Semuanya berjalan menyenangkan di dalam gerbong yang dingin hingga kereta melewati Cirebon, di gerbong saya AC nya mulai ga berasa. Sampai ada ibu-ibu yang duduk di barisan ga jauh dari saya marah-marah ke petugas keretanya sambil kipas-kipas. 

AC Di gerbong kereta api bisnis
Saya pun mulai kegerahan dan berinisiatif buka jendela - untung jendelanya masih bisa dibuka. Yang bikin saya makin gerah pasangan yang duduk di baris sebelah saya, udah tau panas, gerah, sumuk masih aja peluk-pelukan, sambil mesra-mesra ketawa-ketawa bahagia gitu. Jadi pengen teriakin woooii panas wooii *tunjuk dada* *lemparin es balok*









Minggu, 25 Mei 2014

Tidur di Bandung dan Jogjakarta

Buat saya kriteria penginapan yang bagus dan nyaman itu yang ada tamannya dan suasananya rumahan. Sebenarnya saya kurang suka hotel yang bentuk gedung bertingkat, buat saya itu hanya tempat untuk mandi dan tidur saja tapi tidak untuk lama-lama leyeh-leyeh di hotel nya. Tapi kalau saya dapat hotel yang kriterianya seperti saya bilang di awal, walaupun gak mahal dan lebih sederhana daripada hotel gaya urban-architecture yang selalu tampak licin dan higienis - saya akan lebih betah. 

Kebetulan nih belum lama ini saya ada short trip ke Bandung dan Jogjakarta, saya menemukan penginapan yang masuk banget sama kriteria penginapan yang bikin betah. 

Wisma Joglo - Bandung

Bulan lalu saya melakukan short-trip ke Bandung di akhir pekan karena Chacha ada undangan pernikahan teman kuliahnya. Sambil menyelam minum air, saya dan Chacha pun mempergunakan kesempatan ini untuk bernostalgia mengenang masa-masa muda yang pernah kita lewati di Bandung beberapa tahun lampau.

Sudah dari sejak beberapa tahun lampau juga, yang namanya cari hotel di Bandung pas akhir pekan itu seringnya memerlukan perjuangan, khususnya di daerah Bandung Utara yang banyak tempat wisatanya. Dari mulai penginapan kelas losmen hingga hotel bintang lima selalu full-booked. Bahkan setelah semakin banyak hotel-hotel baru yang tumbuh, demand pun semakin tumbuh dan hotel-hotel itu  tetap penuh sehingga memasang tarif lebih mahal di akhir pekan. Disini hukum supply and demand berlaku dalam hal menentukan harga.

Saya & Chacha pernah menginap di hotel yang baru buka yang terletak di kawasan Dago, dekat lampu merah persimpangan Bandung Indah Plaza (BIP). Waktu itu sih katanya opening rate, jadi diskon walaupun menurut saya tetap saja ga sesuai dengan fasilitas yang di dapat. Hotelnya rapih sih, karena kan masih baru, tapi sempit banget kamar dan parkirannya. Dengan harga itu yang saya bayar hanya lokasi nya aja.

Weekend bulan lalu itu, saya & Chacha dapat penginapan enak banget dan menurut saya sesuailah value yang saya bayar sama yang didapat. Lokasi nya agak ngumpet, di Dago atas sebelum pintu masuk perumahan Dago Pakar Resort. Kalau kuat jalan kaki naik turun bukit bisa aja jalan kaki ke Warung Lela makan Mie Yamin, nongkrong sambil nyemil di Rumah Kopi, Resto Bumi Joglo yang terkenal sama Nasi Liwet nya, dan deretan resto/cafe yang terletak di daerah Ranca Kendal itu. Kalau saya sih naik mobil, soalnya walaupun jaraknya dekat tapi tanjakan nya itu bisa bikin betis kondean.

Saya dan Chacha sampai disana sudah malam, tempatnya luas banget tapi sepi, kata resepsionis nya akhir pekan ini sepi karena hanya 4  kamar yang terisi dari belasan kamar yang ada. Desain arsitekturnya tradisional jawa yang didominasi kayu-kayu ukiran, kesan rustic gitu, kalau malem-malem sepi ya berasa juga merindingnya. Apalagi ternyata saya dan Chacha dapet kamar yang luasnya bisa salto 3 kali dari ujung ke ujungnya. Furniture nya juga jaman dulu gitu gaya-gaya antik begitu. 

Tapi ketika keesokan pagi saya bangun dan keluar kamar, baru tampak keindahan penginapan yang kita tempati itu.  Karena pengunjung nya sedikit, pagi itu sarapan dipesan langsung, bukan model prasmanan yang bisa pilih gitu. Setiap orang boleh pilih lebih dari satu, saya pesan roti dan bubur kacang hijau tapi masih juga ditawarin nasi goreng. Mungkin muka saya kelihatan lapar karena sebelum sarapan morning run dulu naik turun tanjakan. 

Ternyata hotelnya juga ada semacam ballroom yang bisa disewa untuk acara kawinan, tidak besar tapi dekornya bagus. Benar-benar sesuai namanya, Joglo.

Saya suka dekor kamarnya

Bangun pagi liatnya begini

Suka perosotannnya - bukan tangga langsung tapi langsung dari undakan batu  

Dari atas ke bawah

Rumah Makan, tempat sarapan

View jalan menuju Dago Pakar

Lookout view - Bandung dari atas

Tanaman merambatnya cantik

Hotel Puri Pangeran - Jogjakarta  

Rencana saya ke Jogja baru-baru kemarin bisa dibilang dadakan, saya pesen tiket kereta dan booking hotel 3 hari sebelum berangkat. Saya pergi sendiri, janjian sama kawan saya Dayu Ary ketemuan di Jogja, tapi dia pergi sama suaminya jadi itu artinya kan saya ga bisa share bayar kamar hotel. Karena itulah salah satu pertimbangan saya booking hotel adalah yang tidak mahal tapi tidak jauh dari Malioboro karena saya pikir di sekitar area itulah Dayu Ary dan suaminya akan memilih penginapan.

Salah satu kawan saya merekomendasikan hotel yang namanya unik banget 'Rumah Mertua', kalau saya liat di internet sih bagus banget, sayangnya lokasinya jauh dari Malioboro dan walaupun tidak begitu mahal untuk ukuran hotel di Jogja tetap saja tidak masuk budget saya. Satu lagi rekomendasi dari Tante Debz, hotel yang dia tinggalin waktu ke liburan ke Jogja beberapa bulan lalu 'Sagan Huis', tarifnya masuk budget saya tapi lokasinya masih lumayan jauh sih dari Malioboro. 

Kemudian cari-cari di internet dapet hotel yang bernama 'Hotel Puri Pangeran', setelah di google liat rekomendasi dan review di blog-blog, entah kenapa saya jadi tertarik. Padahal sebenarnya reviewnya juga biasa aja sih, ga ada yang spesial gitu dari hotel ini. Dari lokasi sebenarnya lumayan jauh dari Malioboro, mungkin sama jaraknya dengan jarak Hotel Pop yang saya nginep terakhir sama Chacha ke Malioboro karena pas saya sampai disana tarif naik becak dari hotel Puri Pangeran ke Malioboro sama dengan tarif becak dari Hotel Pop ke Malioboro.

Di kereta mendekati stasiun Tugu Jogja saya SMS Dayu Ary, memberi kabar kalau saya tiba sebentar lagi. Dayu Ary membalas dengan memberi tahu kalau dia sudah sampai di hotel nya di jalan Mesjid daerah Pakualaman. Sebelumnya saya dan dia tidak saling memberitahu mau menginap di mana. Ternyata dia juga booking Hotel Puri Pangeran. Ga tau itu kebetulan, takdir, atau memang cara pikir saya sama kayak Dayu Ary. 

Saya suka hotelnya, halamannya bagus dan kamar saya di lantai bawah ada terasnya dan langsung menghadap taman. Kamarnya juga bersih, staff nya baik-baik, ramah dan helpful sekali. Staff yang mengantar saya ke kamar bahkan menolak ketika saya nyodorin tip, langsung ngacir aja gitu sambil nyengir-nyengir. Sukurlah, saya pun langsung ngantongin uang itu lagi, lumayan buat jajan.

Sarapannya juga enak walaupun pilihannya tidak banyak. Sambil diiringi pria yang nyanyi Jawa sambil metik kecapi. Walaupun ditulis disitu sarapan mulai pukul 6 - 9 pagi, tapi ketika senin subuh saya mau check out sebelum jam 6 saya disuruh sarapan dulu. "Sarapan aja dulu, mba. nanti kami siapkan minuman dan roti, tapi maaf nasi nya belum matang." 

Depannya kamar saya, pendopo tempat sarapan dan taman yang rapi

Rabu, 11 Desember 2013

Taman Sari Jogjakarta

Kayaknya semua orang udah pernah kesini ya? Saya berkali-kali ke Jogja baru satu kali ke Taman Sari. Ketika perjalanan pencarian innerpeace yang marathon ke candi-candi, saya dan chacha sempat makan siang nasi brongkos di deket daerah situ, jadi kita pikir sekalian aja mampir. 

Taman Sari adalah tempat pemandian putri-putri, permaisuri dan selir-selir keraton. Disekitarnya terdapat perumahan para abdi dalem yang bekerja untuk keraton dan masjid yang terletak di bawah tanah. Di depan pintu masuk Taman Sari terpancang papan bertuliskan UNESCO World Heritage. Setelah membeli tiket kita masuk ke dalam nya, suasana ramai sekali sampai susah banget mau foto tanpa ada kepala orang lain seliweran di frame foto kita. Dua pasang sejoli tampak sedang melakukan sesi foto pre-wedding dengan make-up yang nyaris meleleh kena panas dan serombongan kru fotografer.

Seorang bapak tua menghampiri saya, menawarkan diri menjadi guide. Saya coba menolak dengan halus dengan cara meleparkan senyuman seadanya sembari melipir pelan-pelan. Tapi tampaknya kemana pun saya pergi si bapak selalu aja bisa menemukan saya dan tiba-tiba sudah ada dibelakang sambil menjelaskan tentang sejarah tempat pemandian itu. Akhirnya saya kasihan juga dengan kegigihan bapak itu, saya pun mulai menimpali penjelasan-penjelasannya. 

Bapak itu kemudian menawarkan untuk mengajak keliling kampung sekitar situ sambil mampir di mesjid bawah tanah, saya dan chacha mengiyakan. Sebelum kita keluar dari kompleks tempat pemandian, kita mampir di tempat jual cinderamata berupa lukisan-lukisan dan wayang-wayang. Ada satu lukisan batik yang saya suka banget, memang kebetulan saya lagi cari lukisan untuk dipajang di dinding kamar. Ketika saya tanya harga nya mahal banget, si bapak itu kemudian berbisik nanti dia akan antar saya langsung ke rumah yang membuat kerajinan itu, harganya bisa lebih murah.

Setelah dari mesjid bawah tanah, bapak itu mengajak kita keliling kampung di sekeliling tempat pemandian. Katanya yang tinggal disitu abdi dalem yang bekerja di keraton, tapi kerjanya shift-shift-an tidak setiap hari. kalau tidak bekerja mereka melakukan kegiatan lain seperti membuat kerajinan wayang dan lukisan batik. Beberapa rumah bahkan membuka kursus membuat lukisan batik. Kita diajak masuk keluar rumah di kampung itu, semuanya ramah-ramah. 

Akhirnya saya jadi punya ide ga akan beli lukisan batik untuk di pajang di dinding kamar, tapi suatu saat saya akan ambil kursus disitu membuat lukisan batik sendiri untuk dipajang di kamar saya.






Kamis, 12 September 2013

Sunset di Ratu Boko - Failed Edition

Tidak jauh dari kompleks Candi Prambanan - sekitar 3 kilometer naik keatas bukit, ada Keraton Ratu Boko yang konon dibangun di era yang sama seperti Candi Prambanan. Ini adalah bangunan peninggalan jaman Hindu -Buddha pertama yang pernah saya kunjungi yang tidak berupa bangunan ibadah atau candi. Bangunan yang diperkirakan dibangun di abad ke 8 - 9 ini adalah keraton atau istana yang berfungsi sebagai tempat tinggal. 

Kata orang-orang matahari terbenam di daerah Keraton Ratu Boko itu indah sekali, karena itulah saya dan Chacha berencana menutup perjalanan candi Hopping kita di Jogja dan sekitarnya dengan menyaksikan matahari terbenam di Ratu Boko. Tiba di tempat parkir Ratu Boko cuaca mendung, bahkan sedikit percikan air hujan yang terbawa angin terasa lembab di wajah. Berkali-kali saya menengadahkan kepala memastikan itu hujan atau  bukan. 

Di pintu gerbang, tiket kita diperiksa dan kita masing-masing diberikan sebotol kecil air mineral. Kita bahkan ditawarkan payung untuk dipinjam. Dari gerbang pemeriksaan tiket kita menyusuri jalan setapak di antara taman yang rumputnya hijau rapih terawat. Dari kejauhan tampak susunan batu andesit keabuan yang tersusun rapi. Bunyi gemuruh guntur dari kejauhan membuat saya dan chacha mempercepat laju jalan kita.

Di gerbang keraton yang megah tampak seorang foto model sedang bergaya di potret oleh satu tim fotografer, membuat saya dan chacha kesulitan mengabadikan diri kita sendiri tanpa intervensi dari perkakas fotografi rombongan itu. Waktu matahari terbenam masih lumayan lama, jadi saya dan chacha memutuskan menjelajah bagian dalam keraton yang ternyata luas banget. Ada pendopo nya, ada kapuntren (tempat tinggal putri-putri/ selir-selir  raja), ada tempat pemandian yang keren banget, ada candi-candi juga. Kesemuanya sudah berupa puing-puing, tapi beberapa bangunan temboknya masih lumayan berbentuk. 

Sembari menunggu matahari turun kita minum kopi di kedai yang terletak di dalam kompleks puing keraton itu. "Kalau kata orang-orang jaman dulu, kalau melewati gerbang yang di depan itu otomatis dosa-dosanya tertinggal diluar. Jadi pas masuk keraton ini dalam keadaan suci gitu," cerita ibu pemilik kedai sembari menuang air panas ke gelas kopi pesanan kita. 

Saya dan chacha duduk di atas bangku panjang yang disusun dari batang-batang  bambu. "Bu, kalau mau lihat sunset yang bagus dari sebelah mana ya?" saya bertanya, pas saat si ibu menaruh gelas belimbing yang didalamnya berisi cairan hitam mengepul panas. 

"Bagus dari depan Candi Pembakaran, itu candi yang di depan gak jauh dari gerbang masuk."

Saya dan Chacha mengangguk-angguk sambil berpikir candi yang dimaksud sama si ibu itu, karena pas tadi kita lewat situ gak merhatiin ada candi apa enggak.

"Tapi sekarang - sekarang ini lagi tidak ada sunset, gelap jadi tidak kelihatan. Kalau mau kesini musim panas, sunsetnya bagus," sambung ibu itu yang kemudian masuk ke dalam kedainya lagi.

Mendengarnya saya dan Chacha agak kecewa juga sih. Udah paginya gagal nemu sunrise di Borobudur, eh sorenya gagal juga nemu sunset di Ratu Boko. Perjalanan kita kali ini bener-bener failed. Ya walopun menurut si chacha semua trip nya yang sama saya failed semua sih, tapi yang kali ini bener-bener total failed lah. 

Tapi kita tetap optimis. Setelah menghabiskan kopi kita dan membayarnya, berdua kita menuju lokasi yang disebut si ibu itu. Menggelar kain pantai di atas rumput, menghadap arah matahari terbenam yang gak jelas dimana karena ketutup awan-awan gelap. Dan menunggu. 

Gerbang depan Ratu Boko

Dapet sunsetnya cuman begini :(




Selasa, 11 Juni 2013

Jalan Sore di Kompleks Prambanan

Saya dan Chacha tiba di loket Prambanan menjelang sore, tapi matahari masih semangat memancarkan panas dari lidah apinya. Kita pun masih semangat melanjutkan perjalanan Candi hopping yang dimulai dari Borobudur, Mendut, Sambisari dimana terjadi tragedi nyaris kehilangan kamera yang menyebabkan gagal narsis di Candi Kalasan, hingga akhirnya tiba di Prambanan.

Kita memutuskan beli  tiket terusan untuk masuk ke kompleks Prambanan dan Ratu Boko. Lokasi Prambanan dan Ratu Boko sebenarnya letaknya agak jauh, jadi  harus menggunakan kendaraan lagi kesananya. Pihak pengelola Prambanan menyediakan transportasi gratis dari Prambanan ke Ratu Boko dan sebaliknya, tapi karena kita naik mobil sendiri jadi ga coba fasilitas itu.

Sama seperti di Borobudur, di pintu masuk pengunjung dibagikan kain untuk dikenakan selama dalam komplek candi. Panas terik disana benar-benar menyengat, untung saya sudah sedia payung sebelom gosong. Dalam satu kompleks yang bernama Taman Wisata Candi Prambanan itu sebenarnya ada beberapa Candi, Candi Rara Jonggrang yang kita tau sebagai Candi Prambanan nya, ada juga Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu. 

Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang, sebagai main attraction dari kompleks ini terdiri dari 3 Candi gede banget, 3 candi lebih kecil yang berhadapan dengan candi yang besar dan 2 candi kecil di kiri kanan yang dinamakan Candi Apit. Candi paling besar, posisi nya di tengah, adalah Candi Siwa. Tapi waktu saya kesana Candi ini masih dalam tahap renovasi setelah gempa beberapa waktu lalu, jadi di sekeliling Candi ini masih di kasih pagar dan kalau masuk harus pakai helm konstruksi. 

Berdiri gagah di kanan dan kiri Candi Siwa adalah Candi Brahma dan Candi Wisnu. Tiga candi yang posisinya berhadapan dengan candi besar yaitu Candi Angsa, Candi Garuda dan Candi Nandi masing-masing adalah kendaraan dewa yang dihadapannya. Wisnu naik Garuda, Siwa naik Nandi dan Brahma naik Angsa. 

Candi-candi itu dibangun sebagai penanda kebangkitan kembali Wangsa Sanjaya di tanah jawa setelah sekian lama berada dibawah kekuasaan Dinasti Syailendra yang di beking oleh Sriwijaya, kerajaan Melayu yang kuat dan berkuasa banget pas jaman itu. Sayangnya Raja Samaratungga - raja dari Dinasti Syailendra, melakukan kesalahan dengan menikahkan putrinya dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Mungkin maksud Samaratungga untuk bonding dengan rival nya itu dengan cara pernikahan, tapi Rakai Pikatan yang ambisius melihat ini sebagai kesempatan untuk merebut kembali kekuasaan dinastinya sebagai pendiri kerajaan Mataram Kuno tersebut. 

Selepas wafatnya Samaratungga tahta dilanjutkan oleh anak laki-lakinya bernama Balaputra. Tapi kemudian Balaputra di kudeta oleh Rakai Pikatan sehingga melarikan diri mencari perlindungan ke Kerajaan Sriwijaya, tempat dimana ibunya berasal. Wangsa Sanjaya pun kembali berkuasa di bawah pimpinan Rakai Pikatan yang kemudian membangun Candi Prambanan di abad ke 9 tersebut.

Prambanan

Bas relief yang ada ukiran burung kakaktua nya

Makara
Keluar dari Candi Prambanan, saya dan Chacha mengikuti petunjuk arah untuk melihat Candi-Candi lain, tujuan utama kita adalah Candi Sewu yang menurut legenda di bangun dalam waktu semalam. Di persimpangan kita memutuskan jalan ke kanan, walaupun sejenak ragu mau ke kiri karena melihat ada kereta.

Chacha pun bertanya, " Kak, itu kereta apa ya?"

Saya hanya menggelengkan kepala seraya tetap berjalan menjauhi kereta wisata warna-warni itu.

Saya dan Chacha berjalan dan terus berjalan sore hari itu, dibawah bayang-bayang rimbun pohon-pohon. Menjejakan kaki-kaki kecil kita di atas jalan aspal yang membelah taman luas di selimuti rumput hijau. Sudah jauh sekali kita berjalan tapi tidak kelihatan ada orang lain selain kita berdua. Candi Lumbung dan Candi Bubrah sudah kita lewati, tetap belum ada penampakan satu orang pun. Kita mulai khawatir tersesat.

Matahari mulai menyerah dan sinarnya pun kian meredup. Semilir angin sore mulai terasa. Candi Sewu masih belum tampak. Tiba-tiba di kejauhan kita melihat lagi kereta wisata itu, penuh sama penumpang. Ternyata pengunjung-pengunjung yang barengan sama kita di Candi Prambanan pada naik kereta itu semua, yang jalan kaki cuman saya dan Chacha doang. Kita pun pasrah menyaksikan kereta itu melintas di depan kita sambil elus-elus dengkul.

Tidak lama, sampai juga kita di Candi Sewu. Ternyata sebagian candi nya berantakan, banyak batu-batu tergeletak tak beraturan di tanah akibat gempa yang beberapa waktu lalu yang sempat bikin sebagian candi ini porak poranda. Yang saya pikirkan hanya, "ihiks, kita musti balik lagi jalan kaki lagi lewat jalan yang sama...."

Candi Sewu

 

Selasa, 04 Juni 2013

Meracau tentang Borobudur

Dari kecil saya sudah seneng banget yang namanya baca buku, tapi sejak saya mulai traveling saya jadi seneng banget baca buku sejarah. Hampir tiap bulan saya memburu buku-buku sejarah di situs online Amazon.com dan Bookdepository.com. Soalnya buku sejarah yang di tulis sejarawan asing itu seru bacanya, sangat naratif jadi kayak baca novel. Jangan bayangin model buku sejarah kayak buku teks pegangan kita jaman sekolah dulu. Saya terpaksa harus menelan kembali statement yang pernah saya buat waktu sekolah dulu kalau sejarah itu membosankan

Salah satu buku favorit saya tentang sejarah Indonesia jaman kerajaan-kerajaan dulu adalah buku nya Paul Michel Munoz yang judulnya Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Baca buku ini saya jadi paham tentang kejayaan Kerajaan Sriwijaya selama 6 abad di wilayah nusantara hingga ke semenanjung malaya. Saya juga jadi paham tentang pergantian kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Jawa jaman dulu. Itulah yang membawa saya merancang perjalanan Candi Hoping di daerah Jogja dan sekitarnya

Kalau sebelumnya saya pernah datang di candi-candi ini hanya untuk melihat susunan batu yang dipahat cantik, kali ini saya datang dengan modal sedikit ilmu pengetahuan tentang asal-usul candi yang saya baca di buku ini. Dan buat saya, setelah tau sedikit sejarah latar  belakang nya kekerenan candi - candi itu levelnya meningkat drastis jadi 736 %. Begitu pula waktu melihat figur Candi Borobudur yang megah di pagi hari diantara hembusan kabut tipis yang menghiasi Stupa nya, saya merasa level apresiasi saya terhadap Candi itu meningkat 689 %. Sama hal nya sewaktu saya mencoba merunutkan kisah Lalitasvistara yang terukir di relief panel-panel dinding Candi, level kekaguman saya meningkat 820%. 

Bukan hanya kisah kehidupan Sang Buddha yang terukir di Bas Relief Panel di Borobudur, ada juga kisah tentang seorang pemuda pedagang yang hidup di abad ke-8, bagaimana dia naik kapal dan pergi untuk mempelajari ajaran Buddha. Di panel relief yang ada gambar kapalnya itu kita jadi tahu jenis kapal yang digunakan waktu jaman itu, pakaian-pakaian yang digunakan, dan kegiatan perdagangannya, karena semua terukir secara detail.

Borobudur

Dinding Borobudur

Bas Relief yang menggambarkan situasi perdagangan dan maritim di nusantara masa itu

Model kapal Nusantara abad ke-8
Kalau ditilik dari bentuk kapal yang terpahat di situ, bisa dilihat kalau dari segi maritim Kerajaan-kerajaan jaman itu yang berada di kawasan nusantara gak kalah canggih sama bangsa-bangsa lain. Kira-kira mungkin dengan kapal model gini sekumpulan orang dari wilayah nusantara pernah pergi hingga ke pulau Madagaskar dekat Benua Afrika, jauh sebelum Columbus berlayar melewati Cape of Good Hope dan menemukan Benua Amerika. Keturunan orang-orang dari wilayah nusantara yang berlayar beberapa abad lalu itu hingga saat ini masih hidup di Madagaskar.

Borobudur ini dibangun di puncak kejayaan Agama Buddha di Nusantara, yang mengikuti kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Candi Buddha yang besar ini dibangun di wilayah Kerajaan Mataram Kuno, yang diduga kuat adalah pengikut (vassal) Kerajaan Sriwijaya, dibawah kekuasaan Dinasti Syailendra. Pendiri Kerajaan Mataram Kuno ini sebenarnya adalah Sanjaya, yang konon masih merupakan keturunan dari Ratu Shima dari kerajaan Kalingga yang - kalau dilihat dari Candi Dieng yang didirikannya, adalah beragama Hindu. 

Kemudian Syailendra datang, di back-up oleh Sriwijaya, menggulingkan kekuasaan Wangsa Sanjaya dan merubah kerajaan Mataram Kuno ini menjadi kerajaan Buddha. Tapi pas jaman itu gak serta merta rakyat nya pindah agama masal semua, sebagian masih taat menganut agama Hindu. Jadi dibangunnya Candi Borobudur itu, selain untuk jadi pusat Agama Buddha dari seluruh belahan dunia juga diharapkan bisa menarik lebih banyak penganut Hindu di daerah sekitar situ untuk pindah ke Buddha. Sementara itu Wangsa Sanjaya yang telah di kalahkan oleh Dinasti Syailendra menanti saat-saat pembalasan untuk merebut kembali wilayahnya. 

Kemudian tibalah saat yang dinanti-nanti, peluang untuk mendapatkan kembali Mataram Kuno. Wangsa Sanjaya kembali berjaya. Itu terjadi tak lama setelah Candi Borobudur selesai dibangun, tapi ceritanya akan saya lanjut di postingan berikutnya. Sekitar abad ke-9, kekuasaan Syailendra di Mataram Kuno berakhir dan Wangsa Sanjaya kembali dengan pengaruh Hindu-nya dan membangun Candi Prambanan.

Memang banyak yang bilang kalau Borobudur itu adalah sebuah kitab berbentuk bangunan, begitu banyak pesan-pesan dan ajaran Buddha yang terangkum di detail-detail candi tersebut. Kalau mau dikulik-kulik dan dibahas satu-satu, wuih bisa gak akan selesai-selesai nih postingan saya. Apalagi ternyata bukan cuman kemegahan Candi pada saat matahari terbit, kemolekan ukiran relief nya, dan perayaan Waisak tiap tahun lengkap dengan pelepasan lampion-lampion di sana aja yang bisa dibahas. Peristiwa yang terjadi dibalik pembuatan candi Borobudur juga ternyata menarik banget- ada intrik-intrik, konspirasi, perebutan kekuasaan dan pertumpahan darah. Seru gak tuh.



  

Sabtu, 01 Juni 2013

Yang kecil, Yang berpetualang

"Gw pikir lo orangnya gede ternyata kecil begini."

Itulah kalimat komplain dari orang-orang yang sering berinteraksi lewat dunia maya tapi baru pertama kali ketemu saya secara langsung. Saya juga gak ngerti apa mungkin kalau di foto saya kelihatan tinggi besar gitu kali ya? padahal kenyataannya sebenarnya tuh tinggi saya kurang 2 senti dari 1,5 meter. 

Begitu juga kalau ketemu klien urusan kerjaan yang sudah sering berkorespondensi lewat phone dan e-mail sebelumnya tapi baru pertama kali berhadapan langsung dengan saya. Kekecewaan terpancar di wajah mereka bahwa perempuan yang mereka temui tampak seperti anak kuliahan dengan kemeja, celana panjang, flatshoes dan (kadang) berponi. Sering juga saya mengganti flatshoes saya dengan high-heels supaya tampak lebih tinggi dan berwibawa, tapi itu seringkali terasa terlalu menyakitkan, khusus nya di bagian betis. 

Mungkin karena ukuran badan saya yang 'compact', kalau baru kenalan sama orang trus mereka coba-coba nebak umur saya, tidak ada satu pun yang tebakan nya menembus angka 28. Kisarannya antara 25 dan 27. Saya gak tau musti bangga atau sedih dengan hal ini, yang jelas adik saya - Chacha, suka senewen karena selalu disangka kakak saya atau sering disangka kembar padahal umur kita terpaut 3 tahun.

Mata air awet muda di Dieng, Tuk Bimo Lukar - tapi bukan karena ini saya awet muda

Nongkrong di angkringan Jogja sama Rio & Anno yang masih SD waktu saya udah kuliah
Ada seorang bapak-bapak di kantor saya dulu yang pernah bilang gini, "kamu itu, mil, kecil-kecil tapi udah jalan-jalan kemana-mana, saya yang segede gini aja belom pernah kemana-mana, paspor aja gak punya." Saya sih gak liat korelasi antara ukuran badan dan semangat jalan-jalan. Malahan enak lagi punya badan irit gini, kalo packing gak repot soalnya baju nya kecil-kecil jadi bawaannya gak berat *halah*.

Dan petualangan saya bulan Mei berlanjut. Setelah menghabiskan waktu 4 hari di Labuan Bajo demi cita-cita saya ketemu Mbah Komodo di Pulau Komodo, beberapa hari setelahnya saya langsung terbang ke Arab bersama Chacha dan Papa Said untuk menunaikan ibadah Umroh dan juga ibadah jalan-jalan di Madinah dan Mekkah.

Waktu mau berangkat

Pulau Komodo

Sementara itu jadwal business trip saya bolak-balik Jakarta-Semarang-Jepara akan masih padat dalam beberapa bulan kedepan. Belum lagi ada dua acara Undangan Pernikahan sepupu saya yang berdomisili di Manado. Jadi dalam tahun ini masih akan banyak petualangan baru yang menanti saya. Sementara itu, diantara himpitan padatnya pekerjaan saya akan mencoba untuk terus konsisten mencicil postingan perjalanan saya di Australia yang masih banyak banget belum saya tulis, masih  banyak keseruan dan tempat-tempat indah disana yang belum sempat saya share disini.

Jadi kesimpulan dari postingan ini adalah, tidak ada syarat tinggi badan minimum untuk memulai suatu petualangan dan melihat dunia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...