Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Jepara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Jepara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2017

Harus Pergi Liburan

Terhitung awal januari 2017, saya secara resmi menjalani kehidupan di dua pekerjaan. Di bulan kedua juggling antara pekerjaan satu dan yang lainnya, rasanya hari-hari saya sudah mulai kocar-kacir dan keteteran. Pekerjaan saya yang baru lokasinya jauh banget, jarak tempuh 40 km sekali jalan dari rumah saya. Otomatis saya berangkat harus subuh. Diantara waktu itu saya harus meluangkan waktu untuk pekerjaan nomor dua saya, jadi kadang sabtu juga saya harus kerja.

Seperti misalnya sabtu lalu, dari pagi mengerjakan dokumen tender. Hari minggu malam saya berangkat ke semarang. Senin subuh tiba di semarang langsung ke jepara. Siangnya langsung balik ke semarang, tidak lupa mampir ke kudus untuk makan garang asem favorit. Sorenya sudah naik kereta lagi ke jakarta. Sampai rumah hampir tengah malam. Selasa subuh saya sudah harus berangkat ke kantor baru saya yang berjarak 40 km dari rumah itu. 

Ngomong-ngomong, perkembangan kereta api luar kota semakin bagus saja sejak terakhir kali saya naik kereta ke Jogja dua tahun lalu. Saya beli tiket di Indomaret, dapat struk yang ketika sampai di Gambir dicetak langsung di mesin cetak boarding pass. Tidak perlu antri di loket seperti jaman dulu. 

Waktu dari semarang malahan saya beli tiket dari mesin, tinggal memasukan asal keberangkatan dan destinasi, pilih kereta, kemudian memasukan uang di mesinnya, langsung keluar struk. Setelah dapat struk pergi ke mesin cetak boarding pass. Mudah banget. Kereta yang saya naikin kebetulan argo, bersih banget dan tidak ada cek tiket karena kondekturnya sepertinya tinggal cek penumpang dan nomor kursinya dari handphone yang dibawa-bawa. 

Untungnya hari Rabu libur pilkada. Tapi saya tetap harus kerja setelah mencoblos, mengerjakan pekerjaan lain dari tempat kerja kedua. Yah akibatnya kalau ada waktu luang, saya utamakan untuk tidur. Jadwal latihan lari saya pun berantakan, seperti bangku belakang mobil saya yang sekarang setiap hari harus menempuh jarak lebih dari 100km. Entah sampai berapa lama saya bisa bertahan hingga tulang-tulang yang mulai renta ini start to falling apart. 

Terlebih karena sekarang lebih sering menghabiskan waktu sendirian terlalu lama di mobil, dalam cuaca yang senantiasa mendung dan sering hujan, saya jadi gampang merasa melankolis. Ah sepertinya saya benar-benar harus pergi liburan. 

Rabu, 29 Januari 2014

Galau Memantau Banjir

Sudah beberapa hari sejak kembali dari trip ke Dili saya berangkat dari rumah ke kantor subuh-subuh untuk mengantisipasi kemacetan dan banjir. Kondisi seperti ini bener-bener bikin hati galau, badan remuk dan saya si gadis tropis ini senantiasa menggigil kedinginan karena tiap hari harus mandi di dini hari dengan air dingin.

Kalau sebelum trip ke Dili saya sibuk sama prakiraan cuaca, setelah pulang kembali ke Jakarta saya sibuk sama twitter TMCPoldametro. Tiap pagi bangun tidur yang saya lihat adalah informasi banjir dimana saja untuk selanjutnya segera mengatur strategi menempuh perjalanan ke kantor. Sempat ada dua hari yang saya terjebak hingga 4 jam di perjalanan dari rumah menuju kantor dan ada satu hari dimana saya nyaris terkepung banjir yang tiba-tiba naik ketika saya sedang melintas di seruas jalan. Beberapa hari ini hidup di Jakarta benar-benar menguras segala tenaga dan emosi.

Bukan hanya Jakarta dan sekitarnya yang dilanda musibah banjir. Waktu itu di Manado sempat ada banjir bandang yang berasal dari air laut yang meluap hingga ke daratan. Rumah om, tante, sodara-sodara saya yang di kampung arab kelelep banjir hingga nyaris sampai ke atap, walaupun sudah surut tapi beberapa hari musti kerja keras membersihkan lumpur yang tertinggal.

Daerah yang hampir setahun ini sering saya kunjungi untuk urusan pekerjaan - Jepara, juga dilanda banjir heboh. Rencana saya ke Jepara sudah tertunda satu minggu lebih, sambil setiap hari saya terus galau memantau perkembangan kondisi di sana.

Hati saya sedih membaca kecamatan-kecamatan yang dilanda banjir, Pecangaan, Mayong, Nalumsari, Welahan, Kalinyamatan, saya familiar banget sama nama-nama itu. I knew it by heart. Beberapa bulan saya mondar-mandir di sekitar kecamatan itu, kadang sambil janjian sama supir truk yang membawa barang dagangan saya untuk diantar ke PLTU. Daerah-daerah itu bukan hanya jadi sekadar daerah yang saya lalui untuk mencapai lokasi proyek, tapi sudah terjalin suatu keterikatan emosionil yang diperkuat dengan kenangan suka dan duka ketika melewatinya. Saya jadi kepikiran sawah-sawah yang membentang di sepanjang jalan itu. 

Hampir sepanjang jalan, mulai dari daerah Demak menuju Jepara, membentang petak-petak sawah. Waktu awal mula proyek disana, saya perhatikan para petani banyak yang sedang mulai menanam padi. Minggu demi minggu berlalu, bulan berganti, saya menyaksikan perubahan padi yang baru ditanam berubah warna menjadi hijau segar seperti menyelimuti daratan dengan karpet hijau. Kemudian warna hijau terang mulai berubah, makin lama makin tua hingga berubah kuning kecoklatan. Saatnya panen. Para petani sibuk memotong-motong padi, menumpuknya di sepanjang pematang sawah. 

Batang-batang padi yang sudah di potong di bawa ke tempat-tempat penggilingan padi yang ada di pinggiran jalan itu juga. Di halamannya penuh dengan butir-butir padi berwarna putih yang sedang dijemur dan tumpukan karung-karung beras yang padat berisi. Ada desir kebahagiaan melihat tumpukan beras di tempat-tempat penggilingan, dengan ini mungkin ratusan jiwa bisa makan dan menyambung hidup. Kemudian siklus menanam padi berulang kembali, sejumput bibit padi di jajarkan dengan rapi oleh petani di bidang tanah gembur. 

Selama ini, anehnya, saya gak pernah mengalami hujan ketika ke jepara, cuaca selalu cerah cenderung panas terik. Pernah sempat ada hujan satu kali tapi hanya gerimis dan sebentar saja. Setelah urusan pekerjaan selesai sorenya saya suka main ke pantai, disana pantainya bagus-bagus. Selain Pantai Bandengan ada juga Pantai Kartini yang disebelahnya ada dermaga untuk yang mau menyebrang ke Karimun Jawa.

Jajanan di pantai Kartini

Pantai Kartini sore-sore

Museum bentuk Kura-kura di pantai kartini

Pantai Kartini
Terakhir saya lewat daerah situ bulan Desember tahun lalu saya lihat sawahnya mulai rata hijaunya lagi, gak kebayang gimana nasibnya kalau tiba-tiba padi-padi itu diterjang dan tenggelam di air banjir. Berapa kerugian yang harus ditanggung oleh para petani. Belum lagi rumah mereka yang kena banjir juga. Kasian banget. Sudah kena banjir, akses ke daerah nya terputus, pasokan BBM terhambat, tadi pagi ketika saya memantau perkembangan disana ternyata di sana juga ada gempa dan ada tanah retak juga. Semoga kondisi di daerah Jepara dan sekitarnya cepat kembali normal.

Banjir cepatlah berlalu. Please. 


Selasa, 24 September 2013

Pelangi di Bandengan

Tahun ini saya dapat suatu kerjaan di suatu Pembangkit Listrik yang lokasinya di sekitar Jepara. Hal ini menyebabkan saya musti beberapa kali bolak-balik Jakarta-Semarang-Jepara-Semarang-Jakarta dalam beberapa bulan belakangan ini. 

Bahkan seringnya saya melakukan perjalanan bisnis trip pulang-pergi ini dalam sehari. Pagi saya naik pesawat ke semarang, kemudian lanjut naik mobil 3 jam-an ke lokasi Pembangkit Listrik. Sorenya saya kembali ke Semarang, kalau masih sempat naik pesawat paling akhir ke Jakarta, kalau sudah terlalu malam sampai semarang saya naik kereta. Sampai di jakarta pagi, langsung deh meluncur ke kantor. 

Pernah juga urusan saya di Jepara selesai terlalu sore, jadi tidak sempat mengejar pesawat dan sepertinya tidak akan sempat mengejar beli tiket kereta juga karena saat itu kebetulan pas hari Jum'at, wiken. Akhirnya waktu lewat daerah Kudus dalam perjalanan dari Jepara menuju Semarang saya melihat di pinggir jalan ada pool bus malam Pahala Kencana, saya memutuskan turun dan menanyakan tiket bus malam ke Jakarta, ternyata masih ada dan kebetulan banget sudah akan berangkat dalam waktu beberapa menit. Saya segera memutuskan naik bus itu. Di perjalanan saya mikir, ini gak untuk urusan jalan-jalan maupun urusan kerja, ujung-ujungnya tetep aja saya musti bekpekeran gini. 

Satu kali pernah saya mengajak Chacha - adik saya yang juga satu kantor, ikut ke sana. Karena perjalanan satu hari dengan rute Jakarta-semarang-jepara-semarang-jakarta gak bisa dilakukan oleh setiap orang- khususnya chacha, jadi saya putuskan kali itu untuk menginap semalam di Semarang. Kita berangkat hari minggu, menginap semalam di Semarang baru Senin paginya ke Jepara. Seperti biasa, saya tidak beli tiket pulang, karena jam kepulangan yang tidak pasti dan over confidence berlebih kalau pasti akan dapat tiket pulang.

Minggu siang ketika sudah siap mau berangkat saya baru lihat tiket saya dan chacha, disitu tertera jam keberangkatan Pukul 5.45 hari Minggu. Saya baru sadar kalau 5.45 berarti jam 5 pagi, kalau sore akan ditulis 17.45. Artinya, saya dan chacha sudah ketinggalan pesawat karena saya salah liat jadwal. Perasaan saya, kita tuh  berangkatnya jam 5 sore bukan jam 5 pagi. Ternyata perasaan saya salah. 

Saya segera membuka web maskapai-maskapai penerbangan, berharap masih bisa dapat tiket di hari itu juga. Kebetulan ada salah satu maskapai yang ada jadwal penerbangan jam 6 sore, langsung saja saya beli online. Kita tetap berhasil berangkat ke Semarang hari itu, malahan sempat jalan-jalan di Simpang Lima dan makan Tahu Gimbal. 

Tahu gimbal

Pagi hari nya kita langsung berangkat ke Jepara, lokasi tepatnya sih sebenarnya masih sekitar satu jam lagi dari Jepara. Jadi kalau dari Semarang ke Jepara nya sendiri sekitar 2 jam, tambah satu jam menuju lokasi jadi total 3 jam perjalanan darat. Sampai di lokasi penyerahan barang - di gudang Pembangkit Listrik itu terjadi suatu insiden yang bikin saya sempat mau nangis berurai air mata karena barang yang kita antar ternyata gak seperti yang di inginkan oleh kepala gudang. 

Sebenarnya barang itu sudah sesuai sama gambar awal yang diminta sama user nya, tapi setelah barang nya datang si kepala gudang langsung bilang, "barang nya bukan beginiiiiiii." 

Bahkan si user yang ganteng dan tampak seksi dengan safety shoes nya pun gak bisa menolong saya walaupun saya sudah melemparkan pandangan mengiba minta diselamatkan dari si kepala gudang yang kejam. Pada akhirnya saya tetap disuruh repair barang itu sesuai dengan gambar revisi yang baru diberikan oleh kepala gudang nya saat itu. Gara-gara peristiwa itu sekarang saya agak mikir-mikir kalo dapat tawaran kerjaan dari situ lagi. Masalahnya bukan kali itu saja yang bermasalah, tapi tiap kali saya kesana selalu saja ada yang bikin saya nyaris nangis, gak pernah mulus. 

Ya yang namanya kerjaan dimana-mana mesti ada masalah sih. Mungkin suatu hari nanti kalau kerjaan saya disitu sudah selesai semua dan dapat kesempatan lagi ya akan saya ambil juga. Memang kerjaan yang ini ribet nya banget dan secara fisik melelahkan sekali karena harus bolak-balik menempuh seribu kilometer lebih dalam sehari, tapi seberat apapun hari saya di situ bisa hilang tiba-tiba dengan hanya mampir di Pantai Bandengan.

Pantai Bandengan 

Waktu pertama kali menemukan Pantai Bandengan
Pantai Bandengan terletak di Jepara, dari jalan raya masuk kedalamnya lumayan jauh. Pantainya bersih banget dan terawat. Pasirnya juga putih dan lembut. Di daerah situ banyak cottage-cottage dan penginapan yang bagus-bagus. Bahkan kata orang situ kalau sabtu minggu banyak orang bule berjemur di pantai. Saya juga baru tahu kalau di Jepara banyak orang bule yang bisnis eksportir kayu jati ukiran Jepara.   

Pertama-tama saya ke Pantai ini karena waktu itu urusan pekerjaan saya selesai agak cepat dan saya dapat tiket pesawat jam 8 malam, jadi supir mobil sewaan mengajak saya melihat Pantai Bandengan yang ternyata bagus banget. 

Di hari saya ke Jepara sama Chacha itu, sebenarnya kita keluar dari lokasi Pembangkit Listriknya sudah sore banget, tapi saya mengajak Chacha ke Pantai Bandengan, liat sunset sambil melepas stress. Akhirnya kita jadi menginap semalam lagi di Semarang. Lagipula kita sudah kehabisan tiket pesawat dan tiket kereta untuk hari itu, bahkan keesokan harinya kita dapat tiket pesawat yang berangkat siang dengan harga 2 kali lipat dari harga normal. Kita baru sadar kalau hari kepergian kita itu ternyata barengan sama long weekend. 

Walaupun kepergian kali itu sepenuhnya adalah kekacauan; mulai dari ketinggalan pesawat gara-gara salah liat tiket, di omelin orang gudang dan barang-barang yang sudah dibawa ke sana disuruh bawa pulang lagi, kehabisan tiket pulang, sampai akhirnya dapat tiket dengan harga yang bikin gak rela. Tapi kita beruntung karena sore itu kita melihat pelangi di pantai bandengan.


Sunset di Bandengan

Pelangi di Bandengan

Reward dari hari yang berat

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...