Tampilkan postingan dengan label Thailand - Phuket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thailand - Phuket. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2012

Maduma, masuk duduk mabok

Ini bukan cerita mabok minuman keras, mabok harta apalagi mabok janda. Ini lebih kepada mabok naik kendaraan. Saya juga baru tahu akhir-akhir ini kalau istilah bahasa inggris buat mabok semacam ini adalah motion sickness, mungkin karena kemabukan ini diakibatkan oleh goyangan yang lama-lama bikin pusing sehingga menyebabkan mual. 

Adik saya, pernah melakukan kesalahan fatal waktu di Phuket yang menyebabkan dia terserang mabuk laut. Di hari terakhir kita di Phuket, diputuskanlah untuk mengambil paket tur half-day snorkeling ke 3 pulau. Hari sebelumnya juga kita naik kapal seharian, tapi adik saya ga mabok. Hanya saja di hari sebelumnya itu kapalnya besar, jadi guncangan ombak tidak begitu terasa. Sedangkan di paket tur snorkeling ini kita naik boat kecil sehingga lumayan berasa kalau diombang-ambing ombak.

Di pulau pertama adik saya - Chacha, masih baik-baik saja, bahkan sempat mencoba belajar snorkeling. Kesalahannya adalah ketika mau berangkat ke spot snorkeling kedua, kita buru-buru naik duluan dan masuk ke dalam ruangan gitu. Lumayan lama kita menunggu peserta tur lain masuk semua ke dalam kapal dan selama itu kapal diguncang-guncang ombak sehingga motion nya menimbulkan sickness buat si Chacha.

Jadi, sementara saya dan peserta lain berenang-renang di laut, Chacha dengan muka pucat berjemur di atas geladak kapal mengenggam lembaran-lembaran kantong plastik untuk muntah di kelilingi kru-kru kapal yang prihatin. "Jangan  khawatir, plastiknya masih banyak," ujar sang nahkoda kapal yang berbadan besar dan berkulit legam. Sementara itu tour guide kita, yang awalnya mengaku bernama Simon tapi setelah ngobrol lebih banyak ternyata nama aslinya Sulaiman, berusaha keras menghibur dan menemani adik saya yang mabok berat itu dengan bercerita macam-macam ikan yang ada disana.

Kalau ditilik dari historikal nya sebenarnya si Chacha itu ga pernah mabok laut, beberapa kali kita naik kapal di Indonesia menyebrang ke pulau-pulau kecil tidak pernah dia mabok laut sekalipun. Mungkin karena kapal yang biasa dia naikin itu kapal kayu jelek punya nelayan gitu, sedangkan ini naik boat bagus. Waktu masih kecil juga dia suka mabok kalau naik pesawat, tapi ga pernah loh dia ngerasa pusing kalo naik angkot. Ya mungkin dia cuman mabok kalau naik kendaraan yang bagus-bagus gitu.

Tiba di pulau ketiga, adik saya yang mabok itu hanya bisa terkapar di kursi warna-warni di pinggir pantai. Tak peduli dengan putihnya pasir yang terhampar dihadapannya. Tak peduli dengan beningnya air di pinggir pantai yang ombaknya menyapu lembut di depannya. Tak peduli dengan seorang cewek korea dengan bikini kombinasi pink-putih dan topi selebar setengah meter sedang berpose jungkir balik di bawah payung warna-warni. Mata nya hanya memandang kosong ke horizon biru muda, sementara Sulaiman yang iba dengan sukarela memberi pijatan refleksi di kepalanya.

Tour Guide pun jadi merangkap tukang pijit

Mabok laut yang tersisa menjelang perjalanan udara
Boat belum sepenuhnya berhenti dan merapat ke daratan ketika Chacha duluan melompat dari dalamnya, seolah-olah ingin cepat-cepat mengakhiri penderitaannya. Di dalam mobil jemputan tur yang mengantar kita kembali ke hotel, seorang bapak-bapak bule rusia yang ikut prihatin berkata,"istri saya juga sama kayak kamu (mabok laut), makanya saya ikut paket tur ini sendirian." 

Jadi begini rencana awal nya, pagi-pagi kita check-out dari hotel dan menitipkan barang kita. Pulang dari paket tur half-day itu kita akan menghabiskan waktu di Spa sambil menunggu sore dan berangkat ke bandara. Tapi karena adik saya mabok laut itu rencana ke Spa terpaksa dibatalkan. Atas permintaan si mabok kita pun terpaksa extend sehari di kamar hotel yang hanya kita pakai 3 jam lebih. Dia yang mabok, saya yang ikut-ikutan tekor.

Waktu trip ke Belitung, salah satu kawan saya juga ada yang mabuk laut. Nah, kalau yang ini dia mengaku memang mudah mabuk, mabuk di kendaraan maupun mabuk minuman. Minum wine segelas saja sudah bisa membuat wajahnya memerah dan mabuk, katanya. Sudah tau mabuk-an, dengan nekadnya dia memutuskan ikut trip yang sudah pasti seharian terayun-ayun di atas kapal.

Setiap kali duduk diatas kapal yang  bergoyang-goyang, wajahnya akan pucat dan lemas. Lucunya ketika waktunya kita disuruh terjun ke laut untuk snorkeling dia langsung bersemangat dan duluan melompat ke dalam air dan berenang-renang dengan riang gembira. Tapi ketika tiba waktunya naik ke atas kapal, wajahnya kembali pucat pasi, tangannya senantiasa mengenggam sebuah kantong plastik hitam. Maduma banget deh, Masuk Duduk Mabok. Pas.

Waktu kapal berlabuh ke pantai, dia juga duluan yang turun dari kapal dan berlarian di sepanjang garis pantai dan minta di foto-foto bergaya a la baywatch. Tidak ada tersirat sedikit pun pucat dan pias yang beberapa menit sebelumnya terlukis di wajahnya. Tidak terlihat ada tanda-tanda sedikit pun bahwa perempuan ini yang meringkuk karena pusing dan mual di atas kapal, bahkan ketika sedang snorkeling di tengah laut pun minta dilemparin kantong plastik sama bapak yang diatas kapal.

Si bapak nya cuman ketawa-tawa sambil teriak, "muntah aja di laut situ, kasih makan ikan-ikan."

Perempuan yang satu ini emang saya curiga keturunan dewa atau urat nekat nya sudah putus. Setelah perjalanan hopping island seharian di kapal yang membuat hidupnya semacam sengsara karena mabok laut, sejak trip Belitung itu dia sekarang lagi semangat-semangatnya mengajak trip ke kepulauan komodo yang sudah pasti bakal seharian di kapal juga. Saya curiga orang itu lupa kalau dia itu mabok laut.

Kalau pulang ke kampung Papa Said di Kotamobagu, dari Manado itu jalanannya lumayan ekstrim tikungan-tikungannya. Kalau tidak biasa dengan gaya nge-drift gitu sudah bisa dipastikan bakal mabok darat. Om saya pernah cerita, ada nih tante nya Papa Said yang maduma kalo masuk mobil, masuk duduk mabok. Suatu ketika ada undangan pernikahan di Kotamobagu, sementara dia di Manado. Nah, untuk perjalanan naik mobil sekitar kota saja sudah bisa membuat dia pusing, apalagi perjalanan dengan medan berat seperti ke Kotamobagu, perjalanannya 4 - 5 jam pulak.

Karena takut mabok darat, tantenya Papa Said membeli 3 strip Antimo. Om saya curiga itu diminum semua sekaligus, karena tante nya Papa Said sukses ga mabok darat sama sekali. Jadi pas perjalanan dari Manado ke Kotamobagu dia tidur, sampai tiba kembali di Manado dia tidur. Ketika terbangun, tante nya Papa Said berkata, "sudah sampai kita di pesta?"


Selasa, 20 Maret 2012

My name is Bond.... James Bond

Kalimat di judul itu bisa membuat hati cewek-cewek sexy meleleh, termasuk saya tentunya. Sudah beberapa kali saya dapat tawaran jadi salah satu Bond's girl gitu, tapi ya karena syuting nya jauh dan saya tidak bisa meninggalkan segala kewajiban saya di Indonesia, dengan berat hati saya terpaksa menolak semua tawaran itu.

Nah, sebagai salah satu kandidat dari Bond's girl kayaknya kurang lazim  kalau melewatkan kesempatan ikut tur James Bond Island di Phuket. 

James Bond Island disebut James Bond Island karena tempat ini pernah jadi lokasi syuting salah satu film James Bond, The Man With Golden Gun. Tempat ini nama asli nya Phang Nga Bay. Film nya sendiri keluar pada tahun 1970-an, jadi saya sejujurnya belum nonton juga film nya. Tapi sedikit cuplikan dari youtube cukup membuat saya mengerti kira-kira apa yang dilakukan Mr. Bond yang ganteng di pulau tersebut. *klik aja link birunya*

Di kantor travel kita di tawarkan dua pilihan untuk tur James Bond. Paket ekonomis, ga pake acara kayaking dan pakai boat kecil - tapi kita mampir di Fishing Village, perkampungan nelayan terapung yang konon merupakan keturunan dari Sea Gypsy. Saya pengeeennn bangeettt ke perkampungan terapung yang ada Seven Eleven terapung itu... pengen liat alay-alay terapung lagi nyeruput Slurpee dan melahap Big Bite.

Paket kedua lebih mahal, ada acara kayaking dan boat nya besar luar binasa - tapi ga ada acara mampir ke Fishing Village. 

By the way, paket ekonomis itu bisa lebih murah karena pas pulang nya kita di mampirin ke toko-toko souvenir gitu, jadi ini sebenarnya pake prinsip Tuk-Tuk yang nawarin harga murah tapi bawa kita ke toko-toko cinderamata yang ngasih mereka komisi.

Tapi saya pengen banget ikut ngapung bareng alay-alay terapung. Saya pun galau dan bimbang... kayak .....alay-ngapung..... kayak.... alay-ngapung.....kayak...... alay ngapung.......

Hingga akhirnya kita ditawarin potongan harga sebesar 500 bath sehingga selisih paket mahal dan paket ekonomis nya cuman 100 bath saja. Ya dengan sangat menyesal saya harus menunda kesempatan eksis sambil mengapung dan mengambil paket dengan kapal besar tersebut.

***
Para 3 alays dijemput tepat jam 8 di hotel, langsung menuju dermaga dan dipersilahkan mengambil sarapan yang tersedia berupa teh/kopi dan biskuit sembari menunggu peserta tur yang lain komplit. Setelah komplit, para peserta tur dipanggil dan digiring menuju kapal yang beneran bueessarrr... dua tingkat, men. 

Dengan norak nya ketiga alay langsung jejingkrakan di atas kapal, foto-fotoan segala gaya. Sementara ada mbak-mbak yang lagi nyiapin minuman, mba itu pun ngomong ke Chacha pakai bahasa Thailand. Sementara si Chacha nyengir-nyengir sambil manggut-manggut seolah-olah ngerti dan si mba terus nyerocos. Melihat keganjilan ini saya langsung menyela, "sorry, we're no Thai." 

Si mba itu langsung kaget dan speechless sampe-sampe nyamperin kita dan bilang, "oooooh.. I thought you were Thai." Masih tidak melepaskan pandangan dari si Chacha seolah-olah ga percaya kalo dia bukan orang Thai.

Menunggu peserta lain di Ao Por

Dikira turis lokal

3 alay bergaya

Tur ini termasuk minuman free-flow, sampe kita kembung. Ada softdrink, teh, kopi dan air mineral - dingin juga ada. Buah-buahan juga tersedia terus di meja nya. Sayang nya cuaca hari itu tidak mendukung, hujan nyaris seharian. Itu membuat kegiatan foto-foto juga jadi kurang maksimal.


Waktu itu pas lagi hujan dan saya bersiap-siap turun dari kapal untuk main kayaking. Para peserta tur yang lain udah siap sama jas ujan, Saya berinisiatif mengambil kantong plastik yang memang di sediakan untuk menyimpan barang-barang kita kalau takut basah, kemudian saya pakai di kepala. Ada bapak-bapak bule yang ngeliatin saya pake kantong plastik di kepala, terus saya jelasin aja kalo di Indonesia orang-orang biasa begini kalo hujan dan ga bawa payung. TAU APAH??? Si  bapak itu langsung motret-motretin saya dengan kantong plastik di kepala.

Saya sudah tidak kuasa menolak nya, hanya satu permintaan saya sama si bapak itu, "Please sir, don't put this on internet."

***

Akhirnya sampai juga di Phang Nga Bay, atau James Bond Island. Kita dipindahkan dari boat besar ke Long Tail Boat supaya bisa mendekati pulau kecil tersebut. Dengan lincah nya ketiga alay berlompatan di Long Tail Boat yang kecil tanpa menggunakan life-jacket. Kelihatan banget bedanya penduduk dari negara kepulauan sama penduduk negara daratan. 

Ya tapi ga selalu siy, cewek New Zealand yang baru saya kenal di boat itu mengaku, " I can't swim, if I fall into the water the only thing that float is my ass." 

Begitu pula waktu turun, dengan gesit dan penuh kesigapan - saya, chacha dan joko menyusuri tepian long tail boat dan langsung melompat ke daratan. Banyak kios-kios cinderamata di pulau itu, saya sempat berbincang dengan salah satu ibu pemilik kios. 

Si ibu itu duduk di sebelah saya waktu saya lagi istirahat nungguin si Joko motret-motretin batu. Katanya kebanyakan yang usaha di pulau-pulau ini adalah orang-orang Thailand pesisir yang mayoritas beragama muslim. Pas tau saya dari Indonesia dan muslim juga, si ibu itu langsung bilang kalau kita bersaudara - karena itu dia akan memberi saya harga murah untuk magnet kulkas James Bond Island. Teteup ya bu, dagang nya hahahaa......
Ceritanya ini Roger Moore dan Christopher Lee di film James Bond

Poin of Interest dari pulau ini adalah sebiji batu yang berdiri tegak dengan posisi gaib. Soalnya atasnya itu lebih besar dan bawahnya mengecil akibat terkikis air laut, tapi bisa berdiri tegak gitu. Nah di film James Bond, The Man With Golden Gun, ceritanya di batu itu ada Solar Panel rahasia dan ada adegan duel pistol dan kejar-kejaran dengan bekgron batu itu.

***

Karst adalah daerah batu-batuan yang terbentuk jutaan tahun melalui proses kimia yang ruwet antara H2O (air), CO2 dan CaCO3 (kalsium karbonat). Di tur ini kita diajak melintas lautan menyusuri deretan karst, kemudian diajak mengamati fenomena alam tersebut dari dekat menggunakan kayak. 

Mengunakan perahu karet tersebut, kita bisa lebih dekat mengamati tekstur permukaannya yang berlapis-lapis bahkan bisa menyentuh nya. Kita juga masuk ke dalam gua-gua yang tersembunyi di dalam rongga batu raksasa, merasakan dingin nya udara di dalam gua kapur dan merasakan rintik air yang merembes dari permukaan nya.

Perhatikan itu bawahnya bolong karena erosi air laut

Gunung kapur yang indah
Diantara peserta tur adalah 3 orang cewe-cewe cantik asal New Zealand, mereka kelihatan kurang antusias sehingga saya pikir mereka mabuk laut. Iseng-iseng saya ajak ngobrol, "oooh.. you're from New Zealand.. so what's it looks like?"

Salah satu dari mereka menjawab,"like this.."

Oalaaah.. makanya mereka kurang antusias karena di kampung halamannya pemandangan nya sama persis, batu-batuan begonoan juga.

Sebenarnya di negara kita juga banyak sih. Banyak banget wilayah Karst tersebar di seluruh Indonesia. Banyak juga yang di tambang secara ga terkontrol untuk dijadikan bahan campuran semen. Saya pernah baca, salah satu lokasi penambangan kapur yang kontroversial adalah di kawasan Citatah. Cuman sebagai salah satu contoh saja karena sebenarnya masih ada beberapa kawasan eksploitasi kapur yang tidak kalah kontroversial.

Konon dengan adanya penambangan kapur tersebut tambahan pendapatan daerah mencapai ratusan juta dan ekonomi rakyat di sekitar kawasan tersebut juga terangkat. Ya karena tambang kapur tersebut membuka lahan pekerjaan dan membuat kawasan tersebut jadi hidup.

Tapi ada dampak-dampak negatif yang tidak disadari, yang di sebut dengan cost of illness. Dengan adanya penambangan kapur tersebut terjadi lah pencemaran lingkungan. Banyak anak-anak dan balita terkena penyakit sesak napas akibat menghirup debu-debu kapur yang di tambang. Belum lagi asap dari pabrik pengolahan kapur yang terletak tidak jauh dari situ. Pencemaran air pun semakin parah dan warga kini sudah tidak bisa minum air dari sumur tanah, sehingga mereka terpaksa harus membeli air galon atau isi ulang. 

Sebenarnya gunung kapur sendiri salah satu fungsinya yang utama adalah untuk  kawasan resapan air dan penyedia air yang layak diminum. Air hujan yang jatuh ke atas permukaan nya akan terserap dengan cepat karena struktur batuan ini berpori. Kemudian air yang merembes di permukaan tersebut akan mengalami semacam proses filtrasi alam, menghilangkan kadar acid nya dan segala macam kotoran sehingga keluar air bersih. Beberapa kawasan karst memiliki sungai atau danau atau sumber air lainnya di dalam nya yang bisa digunakan sebagai sumber air bersih. Tapi ironi nya karena sekarang di garuk-garuk begitu yang tadinya sebagai sumber air bersih malahan jadi mencemari.

Dengan semakin berkurangnya gunung kapur karena ditambang berarti berkurang juga daerah resapan air. Bisa dibayangkan apa dampak nya: Banjir Besar Karena Arus Air Sudah  Tidak Terbendung.

Saya rasa ada hal yang harus kita ingat sebagai generasi muda (cieeee yang muda.. *kibas poni*) supaya lebih aware terhadap sustainability lingkungan, bencana juga bisa terjadi karena manusia menganggu kestabilan yang terbentuk secara alamiah.

Ini ada bahan bacaan bagus yang lebih bermutu daripada postingan saya, judul nya bosenin  kayak pidato tingkat kecamatan tapi isi nya keren banget hehee...
Pengelolaan Kawasan Karst dan Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

Senin, 05 Maret 2012

Edisi Bikin Ngiler : Part 2

Setelah Edisi Bikin Ngiler yang sukses membuat orang yang baca terngiler-ngiler, sekarang saat nya saya bikin Part 2 nya. 

Hampir 30 tahun dan masih hidup menjomblo, saya mulai mencoba untuk introspeksi diri. Agak terlambat sih, harusnya ya saya udah mulai introspeksi diri 5 tahun yang lalu. Yah, tapi kan kata orang-orang pinter di tivi kan better late than never. Dari hasil introspeksi itu saya menemukan bahwa salah satu masalah terbesar saya berkaitan dengan nafsu makan. 

Mungkin agak menyeramkan juga ya ketika para lelaki itu membayangkan masa depan nya dengan saya sebagai istri, kemudian mengkalkulasi berapa karung beras yang dibutuhkan setiap bulannya untuk ngasih makan saya. Apalagi kalau punya anak yang nurunin nafsu makan ibunya. Saya yakin hitung-hitungan karung beras itu setelah di tuangkan ke dalam spreadsheet excel kemudian dimasukin kedalam formula excel, hasil yang keluar adalah MELARAT. Sehingga ketika mereka liat saya lagi mungkin di otaknya ada semacam alert berbentuk running text berwarna merah dengan huruf kapital semua yang menyala kedip-kedip : ...MELARAT...MELARAT...MELARAT.. 

Begitu juga pas traveling, seketat apa pun budget nya saya tetap ga rela kalau penghematan itu harus saya lakukan dari segi kuliner. Saya senang banget nyicip-nyicip makanan khas, apalagi kalau makanan itu tidak ada di tempat saya tinggal. Excitement nya itu rasanya seperti coba-coba berjudi gitu, kadang rasanya kayak menemukan jackpot karena enak banget. Tapi kadang juga terjebak karena rasanya aneh dan ga sesuai sama lidah saya. Kalau kayak gitu saya juga tetap bersukur udah nyobain, yah walaupun cukup sekali saja.  

Ga usah jauh-jauh pas traveling, pas jam makan siang di hari biasa saja saya sering gitu. Belum lama ini saya baru nyicipin yang namanya sroto. Selama ini saya penasaran banget apa bedanya sroto dan soto, cuman baru beberapa waktu lalu sempet mampir ke RM Eling-Eling yang menu khas nya sroto. Ternyata sroto dan soto itu benar-benar dua hal yang berbeda. Saya suka soto tapi ga akan dua kali makan yang namanya sroto. Bleeegh.. rasanya aneh kalau menurut saya.

Di Penang saya penasaran sama Nasi Kandar. Berbagai sumber yang saya temukan waktu browsing-browsing sebelum berangkat bilang kalau ke Penang ga nyobain nasi kandar rugi banget, gitu katanya. Jadi waktu disana saya minta diantar ke Rumah Makan yang jual nasi kandar naik becak warna kuning yang penuh bunga-bunga-an. Saya diantar ke satu rumah makan nasi kandar yang menurut abang becaknya termasuk yang ramai di Penang. 

Sayang nya waktu itu Jum'at siang, rumah makan nya masih tutup dan baru buka lagi agak sore-an, jadi saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di Fort Cornwalis sambil nunggu RM Nasi Kandar nya buka. Sial nya perut saya ini protes ga bisa disuruh nunggu Nasi Kandar, akhirnya saya memutuskan mengganjal perut dengan Nasi Ayam di foodcourt  nya Taman Kota Lama. 

Saya cuman sehari sih di Penang, tapi kalau menurut saya itu testimonial dari turis-turis lain tentang Penang yang merupakan surga makanan kaki lima overrated banget. Cendol disana sama cendol disini, kalau buat saya enakkan disini - jauh lebih murah pula. Sama hal nya dengan Singapura yang memutuskan menggunakan promosi sejenis buat menarik wisatawan asing. Menurut saya sih rasa makanan disana bukan yang istimewa-istimewa amat. Personally, saya lebih suka Thailand kalau untuk hal kayak begini-begini-an.

Kebetulan lokasi rumah makannya nya tidak jauh dari Fort Cornwalis, tinggal nyebrang menuju daerah Little India. Saya masuk agak bingung-bingung. Pertama saya pikir cara pesan makanan itu di pesan dari menu, ternyata ketika saya bilang mau pesan nasi kandar saya disuruh langsung menuju etalase yang mirip seperti etalase warteg.

Menu yang dipajang macam-macam, ada daging, ikan, ayam dan sayur-sayuran. Semua nya berkuah kari mirip kuah gulai RM Padang. Saya pilih cumi atau sotong, yang ternyata bahasa melayu nya disana juga sotong. Nasi putih saya pun di siram 3 macam kuah kari sebagai pelengkap. 
RM Nasi kandar Mustafa

Nasi Kandar Sotong
Saya segera menuju kasir sambil nenteng piring mau bayar, tapi tiba-tiba di teriakin sama bapak-bapak yang meracik nasi kandar saya, makan dulu baru bayarnya belakangan katanya. Wangi nya sih semerbak banget. Tapi rasa kari nya buat saya terlalu pekat jadi malah eneg. Yah, at least kan saya sudah coba nasi kandar (walaupun ga doyan) jadi ga rugi-rugi amat.
***
Awalnya saya sempat bertanya-tanya, kenapa Ho Chi Minh City dulunya di sebut Saigon. Apakah karena kota itu asalnya makanan ringan jajanan SD jaman dulu yang berbentuk serbuk warna coklat dan manis itu? Eh tapi itu sagon ya bukan saigon..

Ternyata asal nama Saigon itu karena konon di daerah itu dulu nya banyak pohon kapas, jadi di kasih nama based on pohon kapas dalam bahasa nya mereka. Ini semakin menguatkan ketidak ada nya hubungan antara jajanan SD di Indonesia jaman dulu (Sagon) dan salah satu kota di Vietnam (Saigon). Bukan juga merupakan jajanan SD bernama sagon yang dicampur sama salah satu merk obat nyamuk sehingga mengakibatkan 78 anak SD dibawa ke Rumah Sakit karena kasus keracunan makanan.

Jadi jelas lah kenapa kita tidak akan menemukan sagon di Saigon. Walaupun masih belum jelas buat saya sampai sekarang kenapa tidak ada Es Shanghai di Shanghai, yang jelas saya menemukan Ca Phe Sua Da yang membuat saya tergila-gila. Saya juga sempat nyicipin sandwich khas daerah itu, yang ini sepertinya perpaduan dengan budaya Prancis. Dulu nya daerah ini sempat di jajah Prancis. Sandwich ini banyak dijual di kaki lima, menggunakan roti Baquet yang bisa kita pilih isinya, namanya bánh mì.
bánh mì saya yang isinya telor ceplok & sayur doang
Saya mulai melihat sisi ironis nya disini kalau dikaitkan dengan perkembangan negaranya. Bangsa Vietnam memang bangga makan singkong, tapi itu waktu jaman mereka perang dulu. Nah sekarang mereka sudah beralih dari makan singkong ke makan roti. Sedangkan di Indonesia kita masih aja setia sama singkong. Karena itu saya mulai khawatir ga lama lagi bangsa kita bakal kalah maju sama Vietnam, ya karena kita masih terlena sama singkong itu.
***
Thailand buat saya adalah surga makanan, enak-enak dan murah meriah. Waktu kedua kali nya saya ke Thailand ada satu makanan yang saya cari tapi tidak ketemu, saya ga tau namanya tapi itu semacam rujak mangga muda yang pake bumbu pedes terus ditaburin kacang. Saya ketemu ini waktu di Bangkok, ada ibu-ibu yang jualan makanan ini di pinggir jalan dan ada seorang lelaki yang lagi beli. Trus penasaran saya tanya itu apa, terus dijelasin kalau itu mangga pedes.Akhirnya saya & temen saya waktu itu beli makanan itu dibantu di terjemahin sama cowo itu. Si cowo thai itu mesti mikir, ni turis random abis.

Jajan Rujak Mangga

Si ibu lagi meracik rujak mangga pesanan kita
Kedua kali nya saya ke Thailand, memang ga ketemu jajanan rujak mangga pedes tapi ada juga sih jajanan yang lain yang lucu-lucu. Diantaranya jajanan semacam pancake waktu 3 alay main ke Patong Beach, lumayan kiyut gitu buat cemilan. Saya juga nyobain sotong yang dikeringin gitu, soalnya saya liat ada orang Thai makan gituan kayak enak banget, pas saya yang nyobain kok susah di kunyah nya, alot gitu. Awet jadinya, ga habis-habis hahaha....

Penjual Pancake di Patong Beach
Pancake Pisang Coklat
Saya juga heran sama orang-orang Thai. Kalau dilihat masakan nya dan cara masak nya kayaknya simpel banget. Either orang sana semua pada jago masak atau masakannya di kasih banyak MSG atau ganja jadi semuanya enak. Ayam goreng pinggir jalan, bola-bola ubi, Thai ice tea dan makan siang dari paket tur, walaupun masakan sederhana tapi incredibly delicious, bahkan nasi putih nya aja enak banget. No wonder Indonesia impor beras dari Thailand. 

Gerobak makanan di pinggir jalan

Nasi Goreng Thai yang pucat tapi rasanya berbumbu banget
Mie kuah siram sea food, murah dengan potongan udang dan cumi melimpah
Makan siang di resto terapung waktu tur mengayak di Krabi
Makan siang di kapal, James Bond island Tour

Senin, 13 Februari 2012

Phuket FantaSea (bukan sy)

Sebelum berangkat ke Phuket, saya semangat banget mau liat pertunjukan yang namanya Phuket FantaSea (bukan sy, as in fantasy). Pertunjukan ini ada di dalam buku "Roughguide to Thailand" di halaman 346 (komplit banget yak?) sebagai pertunjukan yang wajib di tonton kalau kita ke Phuket, selain Simon Cabaret Show yang isinya ladyboy-ladyboy menor yang udah susah dibedain sama cewe asli.

Phuket FantaSea dan Simon Cabaret ini tiketnya tersedia di travel-travel agent yang tersebar di seluruh Phuket. Beda lagi waktu saya ke Bangkok. Niat nya mau shopping yang lucu-lucu dan murah meriah di Patpong night market, eh sepanjang jalan malah di sodorin dvd-dvd bajakan sesama jenis yang cover nya vulgar abis. Ada juga yang tiba-tiba  nyamperin trus nyodorin semacam daftar menu. Kata temen saya itu daftar menu buat menyaksikan macem-macem jenis Tiger Show, pertunjukan sex live gitu. Jaaaah... tidak terima kasih deh, meningan ga usah daripada nanti malah pengen *loh*

Sudah..sudah.. lupakan soal Tiger Show di Bangkok dan kita kembali fokus ke Phuket FantaSea. Melalui gambar hitam-putih di buku panduan perjalanan setebal 1800 halaman dan seberat 1,5 kilogram itu, saya mendapat kesan bahwa Phuket FantaSea ini semacam pertunjukan sirkus binatang-binatang. Soalnya foto itu menampilkan beberapa ekor gajah sedang bahu membahu *literally*, dua kaki depan nya bertumpu ke teman di depannya sedemikian sehingga membentuk suatu formasi gajah berdiri.... bukan gajah duduk kayak merk sarung itu. 

Imajinasi saya pun meliar membayangkan ada harimau yang melompati lingkaran api. Saya juga ngebayangin macem-macem akrobat kayak di sirkus yang sering saya liat di tivi-tivi. Saya pun memutuskan harus melihat pertunjukan itu.

Tapi ketika sampai di Phuket tiba-tiba saya bimbang, seperti biasa kelabilan datang melanda. Mengingat harga tiket pertunjukannya yang mahal, 1500 bath atau Rp.450 rebu, kog rasanya sayang banget yah. Meningan uang segitu saya pake buat ambil paket lain, malahan bisa lebih murah. Tapi sialnya di travel yang kita kunjungin bisa pake credit card, akhirnya walaupun penuh dengan keraguan saya, chacha dan joko tetap membeli tiket pertunjukan itu. 

Kita pun terkena rayuan  maut travel akhirnya sekalian membeli paket makan malam buffet di Golden Kinaree, yang konon merupakan restoran buffet dengan kapasitas terluas dan menu makanan paling bervariasi se-asia. Ditambah lagi sama fasilitas antar-jemput dari hotel ke lokasi nya yang katanya jauh dari Phuket Town dan susah transportasi umumnya, total nya kita nambah 500 Bath lagi. There goes 2000 Bath untuk menonton pertunjukan Phuket FantaSea.

Kita dijemput jam 5 tepat di hotel kita oleh orang berseragam aneh. Dijadwal yang kita dapat dari travel, makan malam mulai tersedia sejak pukul 6 sore dan pertunjukan nya sendiri baru dimulai jam 9. Sebelum jam 6 kita sudah tiba di pintu gerbang Phuket FantaSea dan disambut oleh mbak-mbak berpakaian tradisional Thailand yang sangat bersemangat dengan senyuman mengembang dan langsung digiring ke tempat penukaran tiket. Tanda terima dari travel di tukar dengan tiket asli yang ada nomor tempat duduk nya.

Mobil Jemputan Phuket FantaSea

Tiket

Taman di pintu masuk yang memutar theme song Phuket FantaSea
Dari sebelum memasuki pintu gerbang area Phuket FantaSea otak saya sudah keracunan sama theme song nya. Asli itu lagu nya cepet banget nempel dan menggerayangi otak saya. Bahkan setelah 3 hari baru saya  berhasil menghilangkan dengung nya di kepala saya. Tapi saya tahu lagu  itu ga pernah pergi dari otak saya, buktinya pas saya milih-milih foto buat postingan ini lagu itu terbayang kembali. Malahan sembari nulis postingan ini nih lagu itu terngiang-ngiang terus. 

Nyebelin.

Beberapa saat sebelum kita di jemput oleh jemputan ungu nan unyu di hotel, Joko mendapat kabar bahwa kedua temannya Aga dan Seto yang sempat saya singgung di postingan sebelum ini juga mendapatkan tiket Phuket FantaSea. Yang bikin nyesek adalah mereka berhasil mendapatkan tiket komplit + golden seat dengan harga hanya 1800 Bath. Saya, Chacha & Joko yang sirik setengah mampus mulai membuat spekulasi-spekulasi yang bisa menenangkan hati kita sendiri, seperti misalnya:

"Mungkin mereka dapet lebih murah karena belinya udah sore, jadi daripada ga kejual akhirnya banting  harga gitu."

Ketika waktu sudah menunjukan pukul 7 dan mereka belum muncul, "Ooooh.. pantesan aja mereka beli nya murah, di anterin nya terlambat." 

Ketika di ruang makan kita tidak melihat keberadaan mereka, " ooooh.. mungkin mereka makannya di bedain, kan bayarnya lebih murah."

Sampe pas di dalem teater nya, ketika kita melihat mereka dapet posisi duduk di paling depan bagian tengah panggung, which is gold seat, kita sempet bete ga bisa cari-cari kejelekannya. Ternyata pertunjukan akrobatik trapeze itu pas banget diatas tempat duduk gold seat, komen sinis pun keluar "ooooooh... pantesan gold seat dapet murah, soalnya resiko ketiban pemain trapeze tuh."

Pokoknya ga terima banget deh kalo ada orang yang nasibnya lebih baik.

Ternyata Phuket FantaSea itu bukan cuman sekedar pertunjukan saja, tapi di dalam kompleks nya yang luas itu banyak toko-toko souvenir. Bangunannya unik-unik, harga barang yang dijual di dalamnya juga mahal-mahal. 

White Tiger yang keliatan bosan abis

Toko Souvenir

Ini juga toko souvenir

Kalo ini cafe

Logo tempat makannya

Restorannya yang mewah


Ada kecemasan tersendiri sesaat sebelum masuk ke Golden Kinnaree. 

Saya tiba-tiba kepikiran,"Eh Cha, tadi sama mba di travel dibilangin ga kalo dapet minum ?" Soalnya kalo makan buffet di restoran atau hotel gitu ada beberapa tempat yang tidak menyediakan minum, jadi minum nya musti beli dan biasanya harga nya mahal.

"Wah ga nanya tadi. Yaudah kalo gitu ntar kalo ga dapet minum cari makanan yang ada kuah-kuah nya aja supaya ga usah beli minum."

Sampe di dalem kita agak lega karena ternyata disediakan air es di gelas.

Tapi kecemasan saya belum usai, " eh Cha, ini minum nya cuman segini ? dikit amat.. kalo gitu musti hemat-hemat nih."

Biar seret tetep eksis
Chacha pun berteori," jangan-jangan kita dikasih minum cuman dikit ini taktik supaya kita beli minuman dari sini," sambil nunjukin daftar menu minuman yang dipajang di meja kita.

Setelah berjuang menghemat air minum, sampe seret-seret makannya. Ternyata setelah makanan saya habis semua datang mbak-mbak yang tiba-tiba nuangin air es lagi sampe penuh ke gelas saya yang nyaris kosong. Owalaaaaah.. refill toh. Kenapa ga bilang dari tadi toh mbak... ????

Nyebelin.

Lebih nyebelin lagi karena setelah diamati lebih teliti ternyata tersedia juga teh dan  kopi di dalam termos-termos di pojokan meja buffet. Mungkin alasan kita tidak menyadari keberadaannya dari awal karena kedodolan yang terjadi waktu kita pertama ngambil makanan.

Masuk ke ruang makan pertama yang kita lakukan adalah nyamperin Mba penerima tamu dan nanya dimana lokasi makanan halal. Dengan yakin si mbak bilang halal food di bagian F, sebelah kiri. Kita pun menuju ke arah yang ditunjuk nya, pas sampe kog rada aneh karena menu pertama yang saya liat aja judulnya udah Fried Rice Crispy Pork, sebelahan sama nasi putih. 

Merasa ragu saya mendekati mbak-mbak lain yang lagi sibukl me refill makanan di meja buffet. 

"Excuse me, Where is halal food section?"

Si mbak itu malah nunjuk lagi ke meja hidangan buffet yang ada Fried Rice Crispy Pork itu. Kayaknya dia ga ngerti maksud saya.. hiks! Dengan pasrah, karena merasa telah mengeluarkan 300 Bath buat bayar makanan buffet ini akhirnya kita tetap ngambil makanan di meja tersebut. Tentu saja ga ngambil menu yang ada tulisan pork nya, nasi putih, ayam goreng tepung dan sayur-sayuran. Boro-boro mau cari makanan berkuah.

Saya baru menemukan lokasi halal food section yang bersertifikat pas saya keliling cari dessert buah-buahan. Di kejauhan saya melihat ibu-ibu berwajah timur tengah berkerudung lagi ngambil makanan di pojokan. Baru deh saya liat keterangannya "Halal Food". Pas saya deketin di temboknya dipajang sertifikat halal. Weeeh..... 

Nyebelin.

Selesai makan kita siap-siap di depan gedung teater nya untuk menyaksikan pertunjukan Phuket FantaSea. Ternyata nonton ini ga boleh bawa kamera, musti di titip di tempat penitipan. Mohon maaf saya juga ga bisa cerita itu pertunjukan nya tentang apa karena saya juga ga ngerti. Asli ga jelas blasss... 

Yang jelas jauh banget dari pertunjukan sirkus yang saya bayangin sebelumnya. Ini cuman orang-orang nari-nari pake baju Thailand. Trus tiba-tiba dipotong sama pertunjukan trapeze yang ga nyambung sama ceritanya. Trus orang nari-nari, kambing lari-lari di panggung, disusul sama ayam lari-larian. Eh dipotong sama pertunjukan sulap modern yang sesuai sama konteks tari-tariannya yang tradisional.

Tapi paling enggak ada juga sih barisan formasi gajah yang berdiri bahu-membahu kayak yang saya liat di foto itu. Setelah selesai atraksi berdiri itu, gajah-gajah tersebut saling bergandengan ekor berkeliling panggung kemudian berdiri menyebar di panggung itu. Pas itu, mungkin karena gugup naik kepanggung dan ga tahan sama mules nya, salah satu gajah memutuskan untuk pup diatas panggung. Euuuuh... Bukan cara yang baik menghibur orang di atas panggung.


Saya pikir cuman saya yang bodoh," Cha, jadi inti ceritanya apa?"


"Ga ngerti juga gw, kak."


Pingsan.



Selasa, 07 Februari 2012

Turis Gaul

If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home. - James A. Michener

Di semua perjalanan traveling saya, baik itu dalam rangka bisnis maupun dalam rangka leisure, saya selalu berusaha mencari keunikan dan ciri khas dari daerah yang saya kunjungi. Mulai dari hal simpel seperti mencoba makanan lokal sampai kadang juga pengen tau kebiasaan orang lokal yang aneh-aneh (buat saya).

Kalau ada peribahasa "never talk to stranger", hal itu susah banget saya jalanin. Secara saya ini orangnya suka ngobrol dan kepo abis, apalagi kalau nemu orang yang saya anggap unik. Dulu waktu saya masih kuliah, di kampus saya ada orang gila yang suka keliling-keliling di kampus, namanya Donna. Pokoknya tu orang gila terkenal banget (gilanya). Kalau kebetulan saya lagi nongkrong di kampus, si Donna ini suka  nyamperin saya karena selalu saya ajak ngobrol. 

Ga nyambung juga sih, secara dia orang gila. Dan kemungkinan besar orang yang liat mungkin menganggap saya ini juga gila karena bergaul sama orang gila. Bahkan waktu saya ga sengaja papasan sama Dona di luar area kampus, dia ternyata masih ngenalin saya loh.... ga percaya? tanya saja sama saksi hidup nya si Chacha, adik saya.

Kebiasaan cepet nyambung kalau ngobrol sama orang (yang waras juga loooh) ini terbawa waktu saya traveling. Sering kog saya posting di blog ini mengenai orang-orang unik yang saya temui di perjalanan. Malam pertama saya di Phuket, saya kenalan sama taxi Driver yang namanya ga bisa saya ingat karena susah banget. 

Jadi ceritanya waktu itu setelah adik saya baru tiba di Phuket (ceritanya lengkapnya klik disini), sembari menunggu dia menyimpan barang-barang nya di kamar hotel, saya menunggu di halaman. Tiba-tiba ada bapak-bapak tua nyamperin, ngajak saya ngomong bahasa Thai. Saya langsung ketawa sambil bilang, "No Thai." pfuh... udah berkali-kali saya di salah sangka-in sebagai penduduk lokal.

Chacha dan saya, do we look like Thai? O_o
Di terminal bus Krabi, waktu saya mau beli tiket bus. Di loket saya cuman ngomong ke ibu-ibu yang jaga loket,"Phuket," dengan cara pengucapan akhiran 'et' jadi 'ed' mengikuti cara orang lokal. Eh ibu itu malah ngomong panjang pke bahasa Thai, "phangensjhiauehaksnlakn". 

Saya hanya jawab, "hah?".

"phangeakhatkjskjenakjdh."

"hah?"

kemudian saya sadar, oh dia mungkin nyebutin harga nya. Langsung saya sodorkan uang selembar 500 bath. Trus si ibu itu baru sadar kalau saya tidak mengerti.

"No Thai?", tanya nya.

saya geleng-geleng.

"hekjalksljdioajkendjabhsjgdiajelalopaskdjajh...thai", kata si ibu itu sambil ngambilin kembalian uang saya. Dengan bahasa kalbu saya menangkap kira-kira omongannya itu,"saya pikir kamu orang Thai."

Eniwei, kembali ke bapak-bapak taxi driver di Phuket itu. Setelah dia yakin kalau saya bukan orang Thai, dia mulai bicara dengan bahasa Inggris yang agak broken-broken gitu. Dia cerita di belakang hotel lagi ada bazaar murah. Terus saya tanya tempat makan  muslim yang dekat, murah tapi enak. dan dia memberi beberapa alternatif. Waktu adik saya selesai taruh barang di kamar, saya beranjak dari tempat duduk saya sambil bilang terima kasih, "kop kurn ka". 

"ooo.. you speak Thai?"

"Nit noi," jawab saya sambil membuat gerakan isyarat dengan jempol dan jari telunjuk menandakan 'sedikit', itu satu kosakata Thai yang saya pick-up di Krabi waktu ngobrol sama orang Thai yang bisa bahasa Melayu disana. Cerita lebih lengkap nya, silahkan klik disini.

Tiga hari kemudian, saat nya saya pulang ke Jakarta. Rencana awalnya saya, chacha dan joko (3 alay) mau naik bus, tapi di hari itu si chacha terserang mabok laut (nanti bakal saya ceritain yang ini) sehingga mau ga mau kita harus naik taxi. Mau  naik sembarang taxi takut kena scam yang maksa membawa ke tempat gem-gem dan souvenir gitu. Untung pas kita lagi jalan cari pool taksi resmi, ketemu si taxi driver itu. Akhirnya setelah sepakat bertiga, kita minta dia yang mengantar kita ke bandara. 

Sepanjang perjalanan ke bandara dia cerita kalau dia baru beli mobil dari hasil menang lotere. Dia juga cerita banyak tentang istrinya yang orang asli Phi Phi Island. Istrinya lebih tua 2 tahun, "face not to beautiful, but her heart very beautiful," katanya. Masakan nya juga enak, nyaris se-enak masakan ibunya. Kalau dia ada uang lebih dari hasil narik taxi dia pasti bawa istrinya makan malam berdua di tempat yang agak mahal. 

Dengan bangga dia ngasih lihat jam tangan pemberian istri nya. Jadi ceritanya waktu itu pas dia lagi ada uang lebih dia kasih ke istri nya untuk beli perhiasan, kalung gitu. Tapi ternyata istrinya malah beliin jam tangan buat si taxi driver itu. Kata istrinya dia ga perlu lah pake kalung, uang itu hasil kerja keras suami nya karena itu yang harusnya dapat hadiah ya suaminya itu. Itulah kenapa dia setia banget sama istrinya dan ga pernah menghabiskan uang mabok-mabok di karaoke sama cewek-cewek penghibur gitu. huhuhuuu... kurang sweet apa lagi coba.

***

Di curhatin sama taxi driver memang "sesuatu". Menghadapi Tuk-Tuk driver lebih "sesuatu" lagi.

Sebelum pergi ke Phuket, banyak banget saya baca mengenai modus scam sopir tuk-tuk. Jadi mereka akan menawarkan naik tuk-tuk keliling kota ke tempat-tempat wisata dengan harga murah, tapi ternyata kita dibawa dan dipaksa masuk ke toko-toko gem stone, souvenir dan silk supaya kita beli di toko itu. Nah mereka nanti dikasih semacam stamp gitu, satu pengunjung satu stamp. Kalau sudah terkumpul 10 stamp mereka dapat uang bensin gitu. Plus, mereka juga dapat komisi dari jumlah pembelian. 

Pagi hari pertama kita di Phuket, keluar hotel kita di sambut sama tuk-tuk driver bernama Alex (begitu dia memperkenalkan dirinya, walopun saya berani taruhan itu bukan nama aslinya). Si Alex ini persistent banget memburu kita. Akhirnya kita pun bernegosiasi sama Alex, tidak apa-apa kalau dia minta bayaran lebih mahal tapi kita ga mau pergi ke toko-toko souvenir karena waktu kita terbatas. Dia bisa nganterin kita ke travel, soalnya kita pasti beli paket tur dan dia pasti kan dapet komisi. Abis itu dia bisa langsung nganterin kita ke pasar, karena kita mau cari sarapan. Akhirnya harga yang disepakati adalah 15 bath per-orang. 


Negosiasi sama Alex

Naik Tuk-tuk Alex

Tuk-Tuk di Phuket modelnya beda lagi sama yang di Phnom Phen dan Bangkok. kalau yang di PP mirip delman, yang di bangkok mirip bentor, nah yang ini mirip bemo. Alex menepati janji nya mengantar kita ke travel kemudian langsung ke pasar tanpa menurunkan kita di tempat souvenir. 

Saya punya trik khusus menghadapi jeratan tuk-tuk driver. Pokoknya kalau mereka sudah mulai  mendekat, saya langsung angkat tangan sambil bilang, "mai chai," artinya tidak. Kebanyakan mereka langsung ngeloyor, tapi ada juga satu orang yang keukeuh. Pas saya bilang "mai chai" dia ngajak ngobrol pakai bahasa Thai,"nghapkenaksbdhsgdakhdekjn."

Kata Chacha," nah loh, sukurin loh, Kak. Jadi malah panjang urusannya."

****

Alex, si Tuk-Tuk driver menepati janjinya mengantar kita ke pasar phuket dimana kita akhirnya janjian sama dua orang lain, Aga dan Seto. Bersama mereka kita menjelajahi pasar phuket dan jajan makanan tradisional. 

Bersama Seto & Aga, anggota rombongan baru

Kebetulan kita menemukan gerobak jual ayam goreng khas Thai yang ada lambang bulan-bintang nya. Menandakan kalau yang jual muslim. Saya pernah makan ayam goreng beginian di tempat transit minivan dari Penang ke Krabi, waktu itu saya juga beli sticky rice nya (ketan ditaburin bawang goreng). Enak bangeeeettt.... berbumbu banget, beda sama fried chicken yang biasa saya makan disini. Mencium wangi nya yang familiar langsung saya bergegas menyatroni gerobak nya. 


Perhatikan lambang bulan-bintang di papan namanya, itu bukan tanda partai loh

Berusaha jajan dengan bahasa tarzan

Kita juga jajan bola-bola ubi yang enaaaaaaak bangeeeet. Apalagi dimakan nya pas lagi hangat-hangat. Untungnya kita orang Indonesia udah biasa sama jajanan kurang higienis tapi murah gini, jadi hajar aja tanpa takut mencret-mencret hehee...

***
Saya pernah cerita kan waktu saya ke Bangkok dan gara-gara salah pesan jadi dikasih Thai ice tea. Di Indonesia saya pernah coba minum Thai ice tea tapi ga enak, rasa nya aneh gitu. Tapi yang saya minum di Bangkok itu enak banget, segar dan wangi. Pas saya ke jakarta, cobain Thai ice tea disini rasanya tetep aja ga enak bleeeegh.

Nah di Phuket, keranjingan saya sama Thai ice tea jadi nyaris sama kayak keranjingan saya sama Cafe Sua Da di Vietnam. Kemana-mana kalau nemu warung yang jualan minuman saya selalu beli Thai ice tea. Sampe-sampe si Chacha komen bisa-bisa saya pulang dari Phuket berat badan langsung naik 5 kilo gara-gara Thai ice tea, soalnya itu pakai susu kental manis. hahaha.. bodo amat, di jakarta ga nemu ini yang seenak di tempat aslinya.

jajan Thai ice tea

Minggu, 25 Desember 2011

Snorkeling is Fun

Menjelang usia kepala tiga saya baru merasakan asik nya snorkeling. Bukan nya takut, tapi karena kesempatan (dan budget) nya belum ada. Ya mungkin juga karena jaman sudah berubah yah... sekarang ini tur-tur yang menawarkan paket snorkeling itu menjamur banget dan harga nya juga relatif terjangkau.

Kalau dibilang jago berenang, ya saya sih ga jago-jago amat. Dulu waktu SD pernah les berenang - tapi cuman sampe pelajaran gaya katak, abis itu berenti. Jadi satu-satu gaya renang yang saya bisa ya gaya kecebong, kadang juga sih gaya bebas. Dalam artian bebas sebebas nya gimana ni kaki & tangan mau gerak yang penting ngambang dan maju.

Satu kelemahan saya sampe sekarang ini. Saya masih belum berani buka mata di air huhuhuuu.... jadi kalo berenang wajib pake google. 

Waktu di Phuket dengan penuh ke-nekat-an dan ke-sok-tau-an tingkat dewa, saya (mempengaruhi dua alay lainnya) ngambil paket snorkeling half day ke 3 pulau : Khai Nai, Khai Nui, Khai Nok. Di speed boat, guide kita yang mengaku namanya Simon (pada akhirnya dia  ngaku juga khusus kepada 3 alay kalau nama sebenarnya adalah Sulaiman) membagi-bagikan alat snorkel. Nah itu lah pertama kali saya megang tu benda, biasanya cuman liat-liat di foto orang-orang aja. 

Perhentian pertama adalah pulau Khai Nai, pulau yang di pantai nya aja udah keliatan ikan kuning belang-belang seliweran. Dan tuh ikan-ikan lucu banget, kalo ada orang malah nyamperin & ngerubungin. Di situlah kita dikasih kesempatan buat nyoba alat snorkel-nya, bagi yang baru pertama snorkeling bisa belajar-belajar dulu. 

Saya tidak pake buang-buang waktu langsung nyerbu pantai menenteng alat snorkel saya itu, ternyata ribet juga karena ga diajarin cara pakai nya. Kebetulan di depan saya ada cewe Jepang yang lagi coba-coba alat snorkel nya. "How to use this thing?" saya nanya ke dia *sok akrab abis*. 

"just put this in your mouth like this," dia pun memperagakan cara nya memasukan selang napas ke mulut, " and breath with your mouth."

Tidak sampai 3 menit saya langsung menguasai alat itu *sombong* dan langsung aja seliweran berenang-renang di sekitar situ mengikuti cewek Jepang yang baru ngajarin saya itu. Dia langsung ngacungin jempol nya sambil ketawa-ketawa. 

Merasa sudah menguasai alat itu saya pun berlari ke pantai menjemput dua alay lain nya yang lagi ribet sama life jacket. Et dah, mau berenang di pinggir pantai aja pakai lifejacket, memang luar biasa itu adik saya yang satu itu. Ngajarin dia pakai alat snorkel juga luar biasa ribet nya. Saya yang ngajarin malah di bentak-bentak,"kak, jangan seret-seret ke tengah!" Udah gitu malah ngetawain cewe Korea yang lagi belajar snorkel juga, "cupu banget tu cewek.. hahahaaa." Woooi.. ngaca wooooi... #nyelem

Ngajarin alay #3 nyelem

Alay #3 lengkap dengan life jacketnya

Ternyata menyenangkan sekali snorkeling itu. Yang berenangnya belum jago seperti saya juga tidak perlu khawatir karena ada life jacket. Jadi  ga perlu banyak effort udah pasti mengambang. Tapi kalo diajak berenang jauh tetep aja capek, apalagi kalau jarang olah raga. 

Terbukti sama saya waktu diajak sama Simon a.k.a Sulaiman untuk berburu ikan Nemo. Yang berhasil terpengaruh sama si Simon itu cuman saya dan si cewe Jepang yang ngajarin snorkeling ke saya di pantai, kita berenang-renang sampe jauh.. menyusuri lautan sampe akhirnya ketemu ikan Nemo nya... jauuuuuh di dalem laut, di balik terumbu karang. 

Lumayan nyesek juga sih bo', udah jauh-jauh berenang cuman liat ikan nemo ngumpet.

Nah pas balik badan saya langsung panik karena speed boat nya sudah tidak kelihatan. Itu menandakan kalau kita berenang sudah sangat jauh. Di jalan pulang saya semakin kehabisan nafas sementara di cewek Jepang dan Simon meninggalkan saya di belakang. Huhuhuuu... don't leave me... Saya pun mempercepat renangan sampai akhirnya berhasil meraih ujung celana pendek Simon. Dia pun sadar kalau saya kecapekan dan memperlambat renangan nya.

Sampai di kapal saya bener-bener dah kehabisan napas dan berjanji ke seluruh penumpang kapal kalau sampai di Indo saya akan rajin berolah raga, jogging seminggu 3 kali. Guyuran air mineral dingin dari Simon di kepala saya lumayan menyegarkan sih. Di perhentian terakhir, pulau ke3, saya pun tepar.... 

Walaupun melelahkan tapi snorkeling itu sangat menyenangkan. Saya pun ketagihan. Beberapa bulan kemudian ada tawaran dari seorang wanita bernama Lili dan Pagit untuk berlibur ke Belitung. Saya langsung memutuskan ikut karena ada acara snorkeling nya. Saya suka snorkeling.... yuhuuuuuuy... Walaupun pas disana saya pun tetep masih kehabisan napas kalau berenang kejauhan. 

Ikan mana ikan.....
Sementara itu janji jogging 3 kali seminggu yang pernah saya lafalkan di sebuah speed boad di lautan Andaman dihadapan para turis berbagai bangsa : Jepang, Korea, Rusia dan Australia - masih  belum juga terlaksana. *pecut diri sendiri*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...