Tampilkan postingan dengan label Vietnam - Cu Chi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vietnam - Cu Chi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 September 2010

Ca Phe Deeech

Di pagi pertama terbangun di Vietnam, sembari menunggu giliran mandi dan jam sarapan di hostel saya sengaja berjalan-jalan di daerah sekitar Hostel Mini Saigon untuk mengamati kegiatan kota Saigon.


Ketika akan kembali ke Hostel, saya terpaku oleh gerobak minuman yang parkir di depan pintu masuk hostel. Disebelah gerobak itu ada meja dan kursi-kursi plastik pendek . Para lelaki dengan range umur dari anak muda hingga kakek-kakek, tampak sedang menikmati minuman masing-masing. Saya pun tergiur dengan segelas minuman yang mirip kopi susu pke es, apalagi di pagi itu matahari Ho Chi Minh sudah terik.

Bermodal nekad, saya memberanikan diri memesan minuman tersebut. Si Ibu Barista yang manis dan imut-imut, tidak mengerti bahasa inggris jadi saya pesan kopi susu nya sambil nunjuk gelas nya orang. Untung si ibu nya ngerti, ga lama minuman itu pun terhidang.

Kopi hitam pekat tapi encer dengan wangi yang semerbak. Di tambah es yang mengapung dan susu kental manis yang mengendap di dasar gelas yang berembun-embun... *glek*. Ketika di aduk warna nya langsung berubah kecoklatan dan segera saya menyeruput nya. SLURP! dan saya pun langsung Jatuh Cinta di seruputan pertama. Rasanya benar-benar unik dan bikin ketagihan.



Dari si ibu barista itu saya belajar bahwa, minuman ini namanya ca phe (dibaca kafe), pke es batu jadi ca phe da (dibaca kafe da dengan akhiran ng yang samar-samar)
 


Hari kedua, saya langsung menuju gerobak kopi vietnam itu dengan mata belekan. Setelah memesan minuman yang sama, saya duduk disamping pemuda vietnam dan senyum-senyum. Ketika kopi saya datang, si pemuda vietnam itu senyum-senyum sambil membantu mengaduk-ngaduk minuman saya, Hmmm.. Oke,,, *saya pikir* mungkin ini adalah tanda persahabatan dengan bahasa isyarat. Tidak berapa lama kami pun ngobrol-ngobrol, saya dengan bahasa inggris dan dia dengan bahasa vietnam, ditambah dengan bantuan bahasa isyarat.

Penemuan saya tentang minuman nikmat dan menyegarkan ini segera saya sampaikan kepada rekan seperjalanan, Cipu dan Mba Vony yang akhirnya ketularan ketagihan juga. Di sepanjang sisa perjalanan, kalau kita nemu gerobak minuman langsung histeris dan segera memesan ca phe. 

  
Begitu pula ketika kita ikut tur ke Cu Chi Tunnel, di tengah perjalanan menuju Cu Chi kita di singgahkan di sebuah kafe di pinggir Saigon River. Begitu disodorin menu, alamak.... menunya bahasa Vietnam dan pelayannya tidak bisa bahasa inggris. Tapi dengan modal nekad dan sok tau (seperti biasa) saya memesan yang tertulis di menu sebagai " ca phe da".

Si Pelayan pun manggut-manggut. Sejenak tidak yakin, saya pun menggambarkan gelas ada isi air dan kotak-kotak es batu yang mengapung plus sedotan. Si pelayan pun mengangguk semakin semangat menandakan pesanan kita tuh bener. Tapi kog perasaan kita masih kurang yakin.... sembari deg-deg-an nunggu pesanan kita muncul. Saya tetap merasa... pasti ada yang tidak beres ini.

Dan.... ternyata benar saja. Si pelayan datang muncul membawakan Es Kopi Tanpa Susu. Dan kemungkin besar tanpa gula juga karena pahit nya minta ampoooon.... Namun kita tak putus asa, demi untuk mendapatkan susu di Es kopi kita, saya pun kembali menggambar, menambahkan lapisan susu mengendap di gambar es kopi saya yang tadi. Namun tampaknya si Pelayan itu tidak mengerti.

Akhirnya si pelayan masuk ke dalam restorannya, dan datang kembali membawa dua orang temannya. Yes,, pasti dia membawa bala bantuan temannya yang bisa bahasa inggris. Tapi sayang sekali saudara-saudara,,, ternyata tidak seperti yang kita harapkan. Tiga-tiganya tetap tidak bisa berbahasa inggris. Dan setengah frustasi kami berusaha menggunakan berbagai macam cara, gambar susu, gambar kaleng susu, gambar sapi,,,, bahasa isyarat,,, sampai-sampai mba vonny sudah memperagakannya sambil jungkir balik, mereka tetap tidak mengerti kalau yang kita minta itu adalah SUSU.


Ketika kita sudah hampir putus asa dan terpaksa menghabiskan es kopi tanpa susu (dan tanpa gula) tersebut, pertolongan datang. Thanks GOD.


Rupanya rekan se-tur kita, adalah seorang wanita keturunan vietnam yang lama tinggal di Eropa. Dia pun yang menolong menyelesaikan masalah SUSU kita, dan dari dia lah kita belajar bahwa bahasa vietnam nya susu adalah SUA. Jadi Es Kopi Susu = Ca Phe Sua Da.... masaoloooooh... Ca Phe deeeech....


Terlepas dari masalah miskomunikasi, ca phe sua da itu benar-benar telah memikat hati ku. Di jakarta banyak yang jual kopi vietnam, di beberapa kafe dan rumah makan vietnam, tapi belum pernah saya nemu yang rasanya dan wangi nya persis Ca Phe Sua Da di vietnam. hiks!


Rabu, 18 Agustus 2010

Cu Chi Tunnel

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam di dalam perahu akhirnya rombongan Delta Tur menepi di Cu Chi Village. Hop! kami pun berbaris melompat dari perahu menuju daratan.


Cu Chi Village adalah perkampungan tempat persembunyian Vietkong, rakyat vietnam yang memberontak against Amerika. Letaknya tersembunyi di dalam hutan, di lindungi oleh jebakan-jebakan dan ranjau sehingga tidak terjangkau dari serbuan musuh. Untuk mencegah jebakan tersebut menciderai rakyat nya sendiri, mereka punay semacam kode rahasia untuk menandai suatu lokasi itu ada ranjau/jebakannya.


Rakyat vietkong ini membuat rumah-rumah mereka di bawah tanah, dengan atap yang terbuat dari daung-daunan kering sehingga sama-samar keliatan seperti daun-daun kering yang rontok dari pohon, kalau di lihat dari atas helikopter.

Sama seperti rumah pada umumnya, rumah-rumah di Cu Chi Village memiliki
beberapa ruangan; dapur, ruang makan dan ruang tidur. Perbedaannya hanya rumah ini terletak underground alias di bawah tanah yang gelap, lembab dan kurang oksigen.

Untuk memasak mereka menggunakan tungku kayu bakar seperti milik nenek-nenek kita di desa. Canggih nya, untuk menyamarkan asap yang timbul dari tungku tersebut, asap hasil pembakaran di alihkan dulu menggunakan semacam ventilasi hingga jauh dari perkampungannya. Semacam cerobong asap itu akan di tembuskan di bawah pohon. Orang yang melihat asap keluar dari bawah pohon mungkin tidak akan menduga kalau asap itu adalah asap kompor.


Dalam Tur ini, kita juga di beri tahukan, makanan apa sih yang dimasak dan dimakan oleh mereka. Kami serombongan di giring ke semacam ruang makan, kemudian tur guide kami mulai menjelaskan. Pada saat perang tersebut, rakyat vietkong yang dalam persembunyian tidak makan nasi, soalnya ga mungkin lah bikin sawah buat tanam padi. Terus juga sayur-sayuran terbatas banget karena di dalam hutan begitu. Mau berburu binatang juga resikonya tinggi banget, malah bisa-bisa bukannya memburu binatang malah di buru tentara amerika pake senapan M16. Jadi satu-satunya yang bisa mereka makan tiap hari adalah makan ini.

Berikutnya, kami (serombongan tur) akan di sajikan makanan mereka selama perang dan kita boleh mencicipi. Saya sudah deg-deg-an , penasaran. Jangan-jangan yang mereka makan itu semacam buah-buahan aneh atau mungkin (ekstrimnya) malah serangga-serangga, atau mungkin malah makan ular hiiiii....

Ternyata ketika makanannya keluar... Singkong Rebus... *sigh*
saya pun kecewa, klo beginian mah di Indo juga banyak. Tapi karena lapar akhirnya malah saya, cipu dan Mba vony yang lahap makan tu singkong, itung-itung makan siang. Jauh-jauh ke vietnam, ke dalam hutan, cuman buat makan singkong rebus wkwkwkkk....


Setelah makan siang singkong rebus, tibalah saat yang kita tunggu-tunggu. Masuk ke terowongan rahasia,,, Untuk lebih menyamarkan pergerakan mereka, dibuatlah terowongan agar mereka dapat berjalan-jalan tanpa takut terdeteksi musuh. Terowongan ini terdiri dari 3 level kedalaman, yaitu 4 Meter, 6 Meter dan 8 Meter di bawah permukaan tanah. Ukurannya kecil banget, cuman cukup buat dipake jalan sambil merangkak. Kalau imut nya se saya sih bisa sambil bungkuk.

Saya, Cipu & mba Vonny, sama sekali tidak kesulitan melewati lorong-lorong mungil itu,, secara kita kan jg imut-imut *hueekk*. Yaaah.. walaupun agak sesak napas kurang oksigen di bawah sono, tapi kita berhasil melalui 3 level terowongan itu tanpa banyak kesulitan. Yang masalah ya bule-bule yang berbadan besar-besar itu. Jangan kan mau jalan di dalam nya, masuk aja susah.


Sepertinya sih itu juga termasuk tak tik strategi Vietkong, untuk mencegah tentara Amerika mengikuti mereka masuk ke terowongan rahasia itu. Jadi sengaja dibuat terowongan itu sekecil mungkin sehingga hanya muat untuk badan mereka yang juga mungil-mungil (seperti saya).

Selain terowongan, Vietkong juga membuat lubang persembunyian rahasia di dalam tanah. Lubang tersebut sedemikian efisiennya sehingga - sekali lagi, hanya orang yang imut dan keren seperti saya yang bisa masuk. Sedangkan Mr. Herman, Turis asal Australia cuman bisa mencemplungkan betisnya doang. Itu kan berarti ukuran si saya ini hanya sebesar sepasang betisnya Mr. Herman.

Mr. Herman jugalah yang dengan mudahnya mengangkat saya dari lubang persembunyian tersebut ketika saya kesulitan untuk keluar dari kedalaman 2 meter itu. Rupanya para vietkong itu lupa bikin tangga di lubang persembunyiannya *tepok jidat*





Senin, 28 Juni 2010

Cruising The Saigon River

Di hari terakhir petualangan Backpacking saya, Cipu & Mba Vonny kami memutuskan untuk bergabung dalam Half Day Cu Chi Tunnel Tour. Cu Chi Tour itu sendiri ada dua jenis dibedakan dari waktunya, yang setengah hari (half day) dan yang seharian (full day). Di paket full day, tour nya termasuk mampir ke Pagoda dan pusat pemberdayaan disable people korban perang vietnam.



Sayangnya di hari itu kita harus terbang kembali ke tanah air , jadi tidak bisa ikut full day tour. Half day tour juga ada dua macam di bedakan dari transportasi ke Cu Chi Village nya. Kami memutuskan untuk mengambil tour yang menggunakan Boat ke Cu Chi dan menggunakan Bus untuk pulang walaupun selisihnya lumayan dengan yang menggunakan bus Pulang Pergi. Per orangnya kami membayar USD 15.




Perjalanan dimulai pk. 8.30 pagi di kantor travel yang terletak di kawasan backpacker dan diakhiri sekitar pukul 3 siang di tempat yang sama. Kita dijemput oleh Bus dan di antar ke Bach Dang untuk naik Boat. Perjalanan satu setengah jam menyusuri sungai itu hanya seru diawal nya saja karena Saya dan Cipu dengan antusias mengekplorasi kapal dan mengeluarkan segala jurus bergaya di depan kamera. Tapi tidak lama kami pun mulai mati gaya dan bosan.

Hari mulai siang dan matahari mulai terasa terik ketika saya dan cipu asik mengobrol dengan sepasang turis Ausie di atas kapal yang sedang sunbathing. Tapi kemudian saya dan Cipu pamit masuk ke dalam kapal karena tidak tahan dengan panasnya dan mulai merasa kering seperti ikan asin yang sedang dijemur.


Saya pun kembali ke tempat duduk di dalam kapal, dan menikmati pemandangan di sisi sungai dengan mata terkantuk-kantuk karena serangan angin sepoi-sepoi.
Sementara itu Tour Guide rombongan kami, yang duduk di depan saya sudah mulai terlelap dan merangkai mimpi diiringi suara mesin kapal dan siulan Pak Sopir yang dengan riang mendendangkan lagu Jingle Bell *di bulan Maret*


Sebelum saya mulai menulis postingan ini barusan, saya konsultasi dulu sama Mbah Wikipedia tentang Saigon River ini. Menurut beliau, sungai ini panjangnya hanya 29 Km. Tapi kelihatannya cukup dalam juga, kalau dilihat dari banyaknya kapal-kapal besar yang parkir di sepanjang sisi sungai. Yah.. kalau di Indonesia mungkin mirip-mirip Sungai Musi di Palembang.

Di pinggir sungai ini juga ada restoran mengapung, persis banget kayak yang di Palembang. Kapal pun menepi sejenak dan rombongan di persilahkan turun di restoran mengapung ini selama 20 menit. Dalam waktu 20 menit tersebut sempat terjadi insiden yang menggemparkan antara Saya, Cipu, Mba Vonny Vs Para Pelayan, tapi sabar dulu yah.. nanti saya ceritakan di postingan yang lain nya deh. hehee...

Setelah istirahat di restoran terapung, rombongan dipanggil kembali untuk meneruskan perjalanan, dimana Tour Guide akan meneruskan mimpinya dan Pak Sopir akan meneruskan berdendang.. tapi kali ini lagu Jingle Bell diganti dengan lagu Disko Dangdut Vietnam,,, "Happy..Happy.." hingga tiba di Cu Chi Village.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...