Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Princess Garden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Princess Garden. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Juni 2017

Ayam Goreng yang berubah menjadi Opor

"This is not a love story, this is a story about love." - quote taken from movie 500 days of summer.

Dulu saya pernah cerita tentang sejarah hewan-hewan peliharaan yang sempat singgah dan mewarnai kehidupan saya di postingan Peliharaan-Peliharaan Tante . Yang belum baca bisa di klik link nya. 

Sekarang saya mau cerita tentang kisah memilukan salah satu hewan peliharaan yang saya sayang banget. Dia adalah seekor anak ayam yatim piatu sebatang kara yang ibunya mati tidak lama setelah dia baru menetas, walaupun gak bayi-bayi amat tapi masih dalam usia belum mampu hidup mandiri sepenuhnya. Bapaknya entah yang mana. Sementara induk ayam lain tidak ada yang mau mengadopsinya, bahkan gerombolan anak-anak ayam selalu kabur berpencar kalau dia menghampiri. 

Biasanya kan anak-anak ayam tidurnya di bawah sayap induknya, tapi karena tidak ada induknya dia terlunta-lunta hingga terdampar di teras. Itu pun dia sulit tidur karena teras sangat terang dan dia gak menemukan posisi yang enak dan hangat untuk tidur sendiri. Karena itu dia hanya mampu berciap-ciap di malam hari. Suara ciapannya sangat memilukan bak sembilu menyayat-nyayat lubuk hati yang paling dalam, kedengaran jelas ke dalam kamar saya. Karena gak tega saya menghampiri anak ayam tersebut, ketika saya ambil dia langsung melompat ke pundak saya dan tertidur. Sempat khawatir di e'ek-in sih, ayam kan sebelum bobo biasanya e'ek. 

Saat itu juga, di saat dia tertidur lelap di pundak itu, saya langsung jatuh sayang dan memberinya nama Ayam Goreng. 

Malam-malam berikutnya dia tidur sendirian dalam kandang kecil yang dibuat Papa Said, diletakan di teras tapi di pojokan yang gelap. Tapi Ayam Goreng kecil masih saja suka melompat ke pundak saya dan bertengger disitu, seolah-olah dia merasa seperti bayi naga di film Games of Throne, dan saya otomatis merasa seperti Daenerys Targeryien. Alih-alih the mother of dragons, saya jadi the mother of ayam. 

The mother of dragon
The mother of ayam
Ayam Goreng tumbuh menjadi seekor ayam jantan remaja yang tampan, dengan warna hitam dihiasi semburat putih yang berkilauan bila ditimpa sinar matahari. Setiap pagi ketika saya keluar rumah Ayam Goreng akan selalu lari menghampiri minta di elus-elus, persis kayak punya anjing. Begitu pula ketika saya pulang kantor, turun dari mobil dan buka pagar saya akan memanggilnya: 

Ayam Goreeeeeeeeeng.......

Apa pun kesibukannya lagi ngais-ngais dimanapun pasti akan segera dihentikan dan berhambur lari sekencang-kencangnya dengan sepasang cekernya untuk menghampiri saya. 

Kalau saya lagi mondar-mandir dihalaman, atau mau ngurusin kebun, dia akan selalu ngikutin di belakang. Kalau saya tiba-tiba berhenti, gak jarang kepalanya kejeduk betis saya. Seperti biasa Papa Said selalu ganti-ganti nama hewan peliharaan yang saya kasih kan, Ayam Goreng pun diganti jadi Ayam Bakar. KZL. 

Hingga suatu hari yang kelam kelabu, seharian perasaan saya udah gak enak. Ketika sampai di rumah sorenya, saya buka pagar kemudian panggil-panggil:

Ayam Goreeeeng.... Ayam Goreeeng...

Tapi Ayam Goreng tidak tampak dimanapun. Saya pun cari-cari di seluruh penjuru halaman, di pojok-pojok kebun, di semua kandang ayam Papa Said, di atas pohon. Tapi Ayam Goreng was nowhere to be found. Perasaan saya makin gak enak. 

Ketika masuk ke dapur, saya lihat di meja makan ada opor ayam. Saat itu rasanya kayak ada yang meremas hati saya. Insting saya langsung mengatakan kalau yang di atas meja makan itu adalah Ayam Goreng yang telah dimasak jadi Opor. Saya gak berani tanya, takut perasaan saya makin hancur mendengar kenyataan yang diutarakan secara eksplisit. Dengan langkah lunglai saya langsung masuk kamar dan tidak pernah memandang opor itu untuk kedua kalinya.


Kamis, 15 September 2016

Menanam Jagung [Failed]

Tidak semua tanaman yang saya coba tanam langsung berhasil. Beberapa ada yang gagal. Ada yang gagal dari sejak ditanam, bijinya tidak berkecambah, seperti biji seledri dan beberapa jenis bunga-bungaan. Ada yang sudah berhasil berkecambah, tapi beberapa hari setelahnya layu sebelum sempat besar, biasanya sih tanaman yang saya sudah tahu tumbuhnya di tempat dingin tapi saya iseng coba-coba tanam karena benih sayur yang saya beli kan paketan, nah di dalam paket itu dicampur juga ada sayuran tempat dingin seperti kol dan brokoli. 

Dalam hal menanam jagung, saya tidak mengira kalau ternyata susah juga. Karena saya lihat orang tanam jagung dimana-mana, kayaknya tinggal lempar biji saja langsung tumbuh. Saya tidak tanam biji jagung langsung di tanah, karena takut bijinya dimakan tikus atau hanyut kena air hujan, jadi awalnya biji jagung saya semai di wadah gelas plastik. Tidak sampai 3 hari semua biji jagung yang saya tanam berkecambah, kemudian gelas-gelas plastik itu saya letakan di tempat yang kena sinar matahari langsung. 

Setelah tanaman jagung di wadah plastik cukup besar, kira-kira umur 6 minggu, dipindahkan ke tanah. Karena kandang tanaman saya tempatnya terbatas jadi tidak bisa tanam banyak. Di Plot Plan bulan agustus, saya memang sudah alokasikan tempat di kandang tanaman untuk jagung, yang ternyata hanya cukup untuk 4 tanaman saja. Yah untuk eksperimen coba-coba 4 juga sudah cukup, kalau ternyata percobaan pertama sukses, berikutnya saya akan cari tempat di kebun papa said yang tidak terpakai untuk tanam lebih banyak jagung.

Beberapa hari setelah dipindahkan ke tanah tanaman-tanaman jagung tersebut menunjukan prospek yang bagus, mereka cepat sekali tumbuh besar dan tinggi. Kurang dari satu bulan jagung-jagung itu tingginya sudah lebih besar dari saya. Keempat jagung yang ditanam di kandang tanaman tingginya tidak sama besar, karena ada tragedi yang terjadi selang 2 minggu sejak jagung-jagung itu saya pindah ke kandang tanaman. Salah satu ayam Papa Said berhasil terbang dan masuk ke kandang tanaman kemudian memporak-porandakan tanaman yang ada disitu, mencerabut kacang panjang, mengoyak-ngoyak pohon terong dan 2 batang tanaman jagung saya patah. Jagung yang patah segera saya ganti dengan cadangan jagung yang masih ada di wadah gelas plastik. 

Bersamaan dengan makin tingginya tanaman jagung, dibagian pucuk tanaman tumbuh bunga serbuk sari yang nantinya akan berjatuhan membuahi bunga betina (putik) yang ada di pangkal-pangkal daun yang kemudian akan tumbuh jadi jagung. Hingga saat itu jagung-jagung saya masih tampak bagus dan sehat. 

Datanglah musim hujan. Tiba-tiba jadi banyak capung berterbangan di kebun, entah darimana. Selain capung, ternyata hujan membuat banyak hewan-hewan kecil yang hidup di tanah jadi segar. Belalang, ulat bulu, lalat, semacam rayap yang hidup ditanah tiba-tiba juga jadi banyak. Tadinya saya senang ketika musim hujan datang, karena itu artinya mengurangi pekerjaan saya menyiram tanaman. Ternyata itu mimpi buruk.

Hujan dan kurang sinar matahari mengakibatkan tanaman terong saya kena penyakit sehingga daun-daunnya membusuk, saya terpaksa mencabutnya. Black aphids (kutu) kembali menyerang tanaman kacang panjang yang saya tanam dekat tanaman jagung mengikuti prinsip three sisters. Bunga-bunga marigold yang ditanam sebagai companion planting jadi berantakan dan lusuh karena terus-terusan tergenang air. Tanah di kebun saya memang masih dominan tanah merah, jadi kalau hujan terus-terusan jadi jenuh dan air akan menggenang. Yang paling parah adalah, pasukan belalang memakan daun bunga matahari dan daun jagung.

Daun tanaman jagung jadi compang-camping karena gigitan belalang-belalang ganas. Saat itu mulai terlihat ada bongkol yang tumbuh di ketiak daun. Ternyata hujan juga mengakibatkan serbuk sari yang ada di puncak tanaman jadi lengket sehingga tidak bisa menyerbuki putik dengan sempurna. Ketika saya petik jagung di bulan Mei, ukurannya kecil dan biji-biji jagungnya tidak rapi tumbuhnya. Tapi ketika dimakan rasanya manis sekali.

Tanaman jagung usia 2 bulan

Bongkol jagung yang masih kecil, tanaman jagungnya juga sebagai penyangga kacang panjang disebelahnya

Tanaman jagung adalah tanaman monokotil yang mati setelah berbuah, batangnya lambat laun akan berubah warna jadi coklat dan mengering. 2 tanaman jagung yang ditanam belakangan sebagai pengganti jagung yang dirusak ayam bahkan tidak sempat berbuah sempurna, ada bongkol tapi masih kecil sekali, tapi karena umurnya sudah lebih dari 3 bulan tetap mati. 

Karena akhir-akhir ini sudah tidak terlalu sering hujan saya akan coba lagi tanam jagung. Mudah-mudahan kali ini berhasil. Oia, sekarang saya akan sering share di instastory perkembangan tanaman -tanaman yang saya tanam, follow IG @milasaid yah. 


Selasa, 12 Juli 2016

Menanam Okra

Okra apaan sih? pikir saya ketika melihat bibit okra yang dijual di toko bibit online tempat saya beli bibit sayur dan bunga yang saya tanam di kebun. Karena penasaran, saya memutuskan untuk beli sebungkus bibit okra hijau dan sebungkus bibit okra merah. Sebelumnya saya belum pernah makan sayuran itu. 

Browsing di internet saya dapat info tentang tanaman ini. Okra aslinya tanaman yang berasal dari Afrika, tapi lumayan dikenal di Amerika, biasanya untuk bikin semacam sup namanya Gumbo. Mungkin tanaman ini dibawa atau terbawa oleh orang ethiopia yang jaman dulu banyak didatangkan ke amerika untuk jadi budak. Negara lain yang saya temukan di internet yang masakan khasnya pakai okra adalah India. Okra dimasak dengan kuah kari. Karena biji okra itu mengeluarkan getah yang berlendir, dia menambah kekentalan kuah sup ataupun kari. Hampir sama teksturnya seperti kuah capcay yang jadi kental kalau ditambahkan tepung maizena, nah kayak gitu deh getahnya Okra kalau dimasak. 

Biji Okra ukurannya besar, seperti kacang polong, lebih besar sedikit dari biji pepaya. Dalam waktu 2 hari sudah berkecambah, cepat sekali. Tumbuhnya juga cepat, daunnya berjari mirip daun pepaya, di tengahnya ada semburat warna merah. Dalam waktu kurang dari 2 minggu, benih okra sudah bisa saya pindahkan ke pot dan ada juga yang saya tanam langsung di tanah. Katanya tanaman ini suka banget sama matahari dan suka di tempat panas, jadi saya tanam di tempat yang paling banyak dan paling lama kena matahari.

Kurang dari dua bulan muncul bunga Okra. Bunganya ternyata cantik banget, warna kuning, kombinasi ungu di tengahnya. Buah Okranya nanti muncul dari dalam bunga, ketika buah makin membesar, kelopak nya akan mengering dan jatuh. Tapi jangan tunggu sampai besar banget. Buah okra yang sudah besar tidak bisa dimakan karena alot dan keras. Jadi dipetik ketika masih muda, ketika ukuranya kira-kira masih seukuran jari telunjuk. Karena itulah nama lain Okra ini di amerika adalah Lady Finger.

Pohon Okra komplit sama Daun, Bunga dan Buah nya
Satu pohon buahnya banyak banget dan saya punya tiga pohon. Tiga hari sekali saya panen okra. Seperti biasa, dari kebun bergerak ke dapur, saya coba macam-macam resep yang pakai bahan baku Okra. Saya juga coba bikin okra di goreng tepung dan dipanggang untuk jadi cemilan sehat ceritanya, tapi rasanya gak enak, jujur aja hehe.

Okra ini, kalau buat saya, paling enak ditumis biasa pakai sedikit kuah. Seperti yang saya bilang tadi, dia membuat kuahnya mengental sama seperti kalau kita tambahkan tepung maizena. Selain itu Okra juga enak dibikin kari, tapi Okranya dimasukan belakangan supaya tidak jadi terlalu lembek. Menurut saya sayuran ini lebih enak kalau dimasak sebentar saja, jadi masih krenyes-krenyes gimana gitu. 

Tumis Okra

Indian Vegetable Curry with Okra

Buat yang mau coba tanam sayuran yang eksotis, daunnya bagus dan bunganya bagus, terus buahnya bisa dimakan, coba saja tanam Okra. Tanaman ini gak minta diurus, tumbuh sendiri dan cepat. Syaratnya hanya harus kena sinar matahari dan tidak perlu teralu sering disiram. Kalau di tanah, tiga hari sekali cukup. Kalau tanam di pot siram dua hari sekali cukup kecuali kalau udara lagi panas banget dan tanahnya terasa kering boleh lah sehari sekali.  

Oia, yang baru saya tanam memang Okra hijau saja, yang Okra merah belum saya tanam. Mungkin bulan ini mau coba tanam okra hijau lagi dan okra merah, nanti pasti kalau dimasak jadi cantik warna-warni. 


Jumat, 03 Juni 2016

Menanam Kacang Panjang

Kacang panjang menurut saya adalah salah satu tanaman sayur yang gampang banget ditanamnya. Bijinya yang besar gampang banget berkecambah dan ga banyak menuntut ini itu, letakkan saja di tempat yang kena sinar matahari langsung. Ada satu hal ekstra yang harus disiapkan sih, dibandingkan menanam jenis sayuran lain. Tanaman kacang panjang ini adalah tanaman merambat, jadi kita harus menyiapkan media untuk tempat merambat. Tapi selanjutnya, bisalah dibilang effortless.

Sebelum bibit kacang panjang yang dibeli online sampai di tangan, saya belum pernah lihat biji kacang panjang. Soalnya kacang panjang yang dijual, yang kita masak dan makan itu kan sebenarnya masih muda, kacang yang didalamnya belum besar, masih kecil-kecil banget. Yang kita lihat ijo-ijo panjang itu kulitnya. Ternyata biji kadang panjang bentuknya mirip biji kacang merah, tapi warnanya pink. 

Karena bijinya besar, ditanamnya harus agak dalam supaya nanti tumbuh kecambah dan akarnya lebih kuat. Dalam waktu 3 hari sudah keliatan kecambahnya muncul dari permukaan tanah, mengingatkan saya sama cerita Jack and The Beanstalk yang menanam biji pohon kacang terus tanamannya tumbuh sampai tembus ke langit dan berujung ke istana yang dihuni raksasa. 

Tanaman kacang panjang pertama saya ditanam di pot, karena waktu itu kandang tanaman di kebun samping belum dibuat. Setelah ada kandang tanaman yang melindungi tanaman sayur saya dari ayam-ayam bandel, tanaman kacang panjang yang mulai tinggi dan mulai cari pegangan untuk merambat saya pindahkan ke kandang tanaman dan dikasih bambu untuk tempat merambatnya. Dalam waktu sebulan daunnya sudah banyak dan rimbun. Kata orang pucuk daun kacang panjang bisa dimakan, ditumis seperti kangkung dan bayam, tapi saya belum pernah coba. 

Ditanam di pot pakai bambu untuk tanamannya merambat


Bunga Kacang Panjang

Belum genap 3 bulan sejak biji ditanam muncul bunga kacang panjang, warnanya putih ada semburat ungu dan kuning muda. Saya baru tahu kalau bunga kacang panjang ternyata cantik juga. Kemudian dari dalam bunganya mulai muncul semacam ekor kecil berwarna hijau yang nantinya akan tumbuh besar dan panjang menjadi kacang panjang yang kita kenal. 

Setelah sukses panen kacang panjang yang ditanam di pot, saya coba menanamnya langsung di tanah. Untuk media rambatnya saya eksperimen dengan menggunakan tali tambang plastik yang diikat ke tembok karena bambu-bambu yang saya punya kurang banyak dan kurang tinggi. Saya memang rencana waktu itu mau tanam banyak. 3,5 bulan kemudian saya mulai panen kacang panjang, seminggu bisa dua kali. Akhirnya hampir setiap hari saya makan kacang panjang. 

Tanaman kacang panjang mulai merambat di tali

Kacang panjang hasil panen
Waktu tante saya datang berkunjung, saya kasih satu ikat kacang panjang yang waktu itu langsung saya petik dari pohonnya dan beberapa buah terong ungu. Tante saya bilang kayak abis berkunjung ke kampung, pulang dikasih oleh-oleh sayuran. 

Kacang panjang yang saya tanam beda banget sama yang biasa dibeli. Seumur hidup baru kali itu saya merasakan makan kacang panjang mentah yang manis. Tapi karena manis tanaman saya jadi banyak semutnya. Kalau petik kacang panjang harus berantem sama semut, dia gigit tangan saya. Pengen sih saya gigit balik, tapi semutnya kekecilan, curang banget emang mereka berantemnya.

Semut-semut itu tidak hanya suka gigit tangan saya sangking posesifnya sama tanaman kacang panjang itu, mereka juga bawa sekutu berbentuk kutu. Kelihatannya sih ga berbahaya tapi berkembang biaknya cepet banget, tiba-tiba tiap pucuk tanaman kacang panjang dikerubutin sama kutu-kutu hitam itu. Mereka merusak tanaman secara perlahan dengan cara menghisap sari-sari tumbuhan. 

Kutu-kutu yang suka nongkrong di pucuk tanaman muda dan belakang daun
Saya sudah coba macam-macam cara untuk mengenyahkan kutu-kutu hitam itu. Di internet memang mereka adalah musuh semua tukang kebun sedunia. Ada yang bilang, semprot sama air yang dicampur bawang putih yang diblender, saya coba. Tapi begitu bau bawangnya hilang mereka balik lagi. Saya gak rela karena bawang putih kan mahal. Terus saya coba semprot pakai sabun cuci piring yang dicampur air, ikutin tips di internet, tapi gak mempan. Sampai saya kesal, saya bersihkan secara manual, dibasuh pakai kain lap dan memangkas bagian-bagian yang banyak ditongkrongin sama gerombolan kutu itu. Tapi mereka tetap beranak terus gak habis-habis. Mungkin saya harus pasang tivi di situ supaya kutu-kutu itu ada hiburan lain selain bikin anak dan berkembang biak terus.

Ketika saya nyaris putus asa mau mencabut semua tanaman kacang panjang saya itu muncul gerombolan hewan mungil baru. Kepik atau bahasa inggrisnya Lady Bug. Saya belum cari info lebih lanjut sih, tapi sempat terbersit di otak saya, kepik jantan bahasa inggrisnya apa? gentleman bug? Mau nyebut kepik jantan pakai sebutan Lady juga saya gak enak, takut gak sopan, khawatir kepik jantan tersinggung kayak kalau cowo jantan kita panggil Lady Boy.

Anyway, terlepas dari masalah kebingungan gender mereka adalah predator alami kutu-kutu itu. Kepik pun makin banyak menghiasi daun-daun kacang panjang, ada yang warnanya merah, ada juga yang warna coklat muda seperti warna capucinno. Tanaman kacang panjang saya terus menghasilkan hingga 8 bulan. Makin lama kepik pun bisa kalah banyak dari kutu-kutu hitam itu. Kutu jadi banyak lagi dan daun-daun yang kuning dan layu pun makin banyak. Akhirnya saya cabut semua tanaman kacang panjang. 

Rencananya saya mau tanam kacang panjang lagi di gabung sama pohon jagung. Saya lihat di internet ada yang namanya three sisters, kombinasi tanaman yang umum dipakai oleh suku indian jaman dulu terdiri dari tanaman jagung, kacang-kacangan dan squash. Mungkin saya hanya akan eksperimen dengan jagung dan kacang panjang, teorinya batang jagung nantinya akan jadi tempat si tanaman kacang merambat. 

Sekarang ini saya merasa belum sukses menanam jagung. Ternyata tidak semudah cangkul-cangkul-cangkul-yang-dalam-menanam-jagung-di-kebun-kita. Jagung yang saya tanam tumbuh sih, tapi satu pohon cuma tumbuh satu bongkol jagung yang kecil ukurannya dan biji di dalamnya tidak sempurna, jalurnya berantakan. Rasanya sih manis dan juicy, karena yang saya tanam memang varian sweet corn. Saya sempat mencontoh yang saya liat di youtube, makan jagung mentah yang baru dipetik, awalnya saya ragu dan waktu gigit sambil mengerenyit dan merem. Tapi begitu gigi saya nancep di jagungnya, wooooww... dari mengerenyit, saya spontan mengerjap-ngerjap karena rasanya kayak jagung rebus, empuk dan manis. 

Sama sih kasusnya sama waktu saya metik-metik kacang panjang, pasti ada saja satu helai yang saya cemilin langsung abis dipetik. Seger banget rasanya. 

Beberapa helai kacang panjang saya biarkan tumbuh di pohon sampai besar dan gemuk-gemuk. Kemudian ketika kulitnya sudah mulai mau terbuka karena kacang didalamnya sudah besar, saya petik dan keringkan biji didalamnya dengan cara di jemur. Biji itu kemudian saya tanam lagi, sebagian saya simpan. Dari biji tumbuh tanaman, tumbuh biji lagi jadi tanaman kacang panjang baru lagi, menyempurnakan satu siklus kehidupan.

Senin, 02 Mei 2016

Bunga Matahari

Peruntungan saya dalam menanam bunga tidak sebagus dalam hal menanam sayur-sayuran. Sudah macam-macam jenis bunga saya coba beli bijinya untuk ditanam tapi selalu gagal kecuali satu jenis bunga, yaitu Marigold. Ternyata menanam bunga lebih sulit dari menanam sayur, kebanyakan biji yang saya tanam tidak berhasil berkecambah. Yang berkecambah pun rentan sekali karena kebanyakan sangat kecil dan halus sehingga cepat layu dan mengering. 

Dari sekian banyak biji bunga yang gagal saya tanam, ada satu bunga yang saya coba terus menerus. Bunga Matahari. Saya kepingin banget menanam bunga matahari karena suka dengan warna dan bentuknya yang menimbulkan kesan ceria. Biji-biji bunga matahari yang saya tanam pertama kali tidak ada yang berkecambah. Saya menanamnya dengan metode yang sama seperti menanam sayur, di dalam wadah gelas plastik berisi tanah. Biji bunga matahari ukurannya besar, ya seperti kuaci bunga matahari, jadi satu gelas saya tanam satu biji bunga matahari.

Saya tunggu dengan sabar berminggu-minggu, tak pernah lupa saya cek keadaan tanahnya agar selalu lembab, tapi tidak ada yang berkecambah. Saya sudah coba cari-cari sumber dari internet tentang berbagai metode menanam bunga matahari, kemudian saya coba cari apa kesalahan saya, tapi dari yang saya lihat sepertinya menanam bunga matahari itu gampang banget. Malahan ada youtube video anak kecil yang kasih tutorial menanam bunga matahari, dia hanya bolongin tanah depan rumahnya pakai pensil, masukan biji matahari, dan beberapa hari kemudian sudah tumbuh bakal calon daun bunga matahari. KZL.

Saya pun coba beli lagi biji bunga matahari. Dari satu pak isi 10 biji saya coba tanam dengan metode berbeda-beda. Ada yang saya rendam air dulu semalaman, ada yang langsung saya tanam ditanah, ada yang saya bungkus di kertas tissue yang lembab kemudian dimasukan dalam plastik, ada yang ujung bijinya saya potong sedikit pakai gunting kuku kemudian ditanam di tanah. 

Saya tunggu beberapa minggu lagi, tapi dari semua metode cara menanam bunga matahari yang saya ambil dari internet itu tidak ada satu pun yang berkecambah. Malahan biji bunga matahari yang saya bungkus di dalam kertas tissue basah mengeluarkan mahluk aneh seperti cacing halus dari dalam bijinya.

Tadinya saya berpikir mau beli satu set perlengkapan menanam bunga matahari yang dijual di Ace Hardware, sama seperti tanaman tomat pertama saya. Tapi sementara belum sempat ke Ace Hardware saya kembali memesan biji bunga matahari secara online.

Bulan Januari 2016 saya kembali coba menanam biji bunga matahari. Kali ini saya tidak pakai metode macam-macam, biji saya tanam dalam wadah gelas plastik berisi tanah. Keterangan di bungkusnya bilang kalau biji akan berkecambah dalam waktu 14-21 hari. Saya sangat tidak menyangka ketika 4 hari kemudian salah satu gelas berisi bunga matahari berkecambah. Senangnya pakai bingits sumpe deh.

Setelah tumbuh daun sejati dan saya rasa cukup besar (sekitar 4-5 minggu), saya pindahkan bunga matahari itu ke kebun saya di depan, diantara tanaman okra dan jagung. Bulan Maret, ketika setiap hari pasti selalu hujan deras, bunga matahari pertama saya mekar walaupun tampak lesu karena kurang kena sinar matahari tapi tetap kelihatan vibran. Tinggi tanamannya sekitar satu meter dan bunganya nyaris selebar telapak tangan saya. 

Sebulan setelah biji bunga matahari pertama saya berkecambah saya tanam lagi, masih biji dari bungkus yang sama. Dari 3 biji yang saya tanam ada satu lagi yang berkecambah. Hal itu membuat saya berpikir mungkin biji bunga matahari yang saya beli sebelumnya sudah lama, jadi sudah tidak bisa berkecambah, bukan metode tanam saya yang salah.

Saya baru ngerti kenapa bunga satu ini termasuk salah satu yang favorit dan sering jadi objek foto, karena melihatnya saya rasanya sudah bikin hati bahagia. Jadi pingin tanam bunga matahari yang banyaaaakkk.

Biji bunga matahari berkecambah di gelas plastik, belakangnya sawi

Bakal bunga mulai mau mekar

Mesmerising kan ?

Selasa, 08 Maret 2016

Tanam Bayam di Pot Gampang Banget

Iyak, betul. Gampang. Gak mahal. Gak repot ngurusinnya. Gak perlu punya kebon atau lahan yang luas. 

Saya memang selalu bilang sama kawan-kawan saya di path dan FB, cobain deh tanam sayuran di rumah untuk merasakan yang namanya sayuran segar, organik dan gak mahal. Dan saya selalu bilang coba deh tanam bayam dan kangkung, gampang banget. Yang dibutuhkan cuma pot, media tanah yang sudah dicampur kompos dan benih bayam. 

Ya awalnya memang perlu beli benih, tapi harganya murah dan hanya perlu beli satu kali untuk awalnya. Kalau untuk kasus bayam, kita tunggu aja beberapa bulan nanti tanaman bayam itu akan menghasilkan biji yang bisa dipakai sebagai benih lagi. 

Cara tanam dan perawatannya juga gampang. 

Masukan tanah basah ke pot, sebar biji bayam, tutup dengan tanah yang disebar tipis-tipis diatasnya, taruh di tempat yang kena matahari langsung dan siram setiap pagi. Memang kalau terlalu penuh atau crowded dalam satu pot pertumbuhan bayam akan terhambat, kalau itu terjadi tinggal ambil beberapa bayam yang masih muda itu dan pindahkan ke pot lain atau bisa langsung dimakan jadi salad atau lalap. Biasanya dalam waktu 30 - 40 hari atau sekitar sebulan bayam yang saya tanam di pot sudah bisa dipanen.

Awalnya saya sempat pakai cara lain, yaitu biji bayam pertama-tama saya semai dulu di tempat yang kecil, baru setelah tumbuh 4 daun sejati dipindahkan ke wadah yang lebih besar. Sama seperti menanam biji cabai atau tomat. Tapi buat saya mindah-mindahin bayam makan waktu karena banyak banget, jadi cara pertama buat saya lebih praktis. 

Sekarang bibit bayam yang saya tanam saya sebut sebagai generasi kedua, jadi benih bayam yang saya tanam sekarang didapat dari tanaman bayam batch pertama, yaitu yang benihnya dibeli online. 

Cara mendapatkan biji bayam juga gampang. Pokoknya ini serba gampang deh. 

Khusus satu pot saya sisakan 5 pohon bayam yang saya biarkan tumbuh sampai batangnya dan daunnya jadi besar banget. Setelah lebih dari 3 bulan di ujung batang tumbuh bunga yang di dalamnya ada biji berwarna hitam yang rontok kalau digoyang-goyang, nah itu biji bayam yang kemudian saya tanam lagi. Dengan itu saya menutup satu siklus kehidupan, benih - tanaman - jadi benih lagi - tanaman lagi - benih lagi dst dst.

Untungnya hidup di daerah tropis salah satunya adalah perbedaan temperatur sepanjang tahun tidak signifikan, jadi kalau mau menanam tidak perlu menunggu kondisi musim dan temperatur. Palingan yang harus diperhatikan hanya lagi banyak hujan atau tidak. Tapi untuk tanaman bayam di pot yang jumlahnya gak banyak seperti di perkebunan bayam, saya sudah pernah coba tanam di musim hujan dan musim panas, hasilnya tidak jauh berbeda. 

Hanya saja kalau di musim hujan perlu diperhatikan potnya, jangan sampai tersumbat dan air menggenang di pot. Kalau cuaca lagi panas banget juga perlu diperhatikan, kadang walaupun sudah saya siram paginya tapi kalau siang panas terik banget sorenya saya siram lagi sedikit. Dan satu lagi yang saya pelajari dari Bayam adalah tanaman itu suka banget sama cahaya matahari, kalau di tempat teduh pertumbuhannya tidak maksimal.

Punya persediaan bayam sepanjang tahun di rumah gak bikin saya bosen karena paling gampang dimasaknya dan bisa jadi macam-macam masakan. 

Seringnya cuma saya tumis pakai bawang putih dan cabe, juga dibuat sayur bening pakai jagung manis. Tapi kadang saya eksperimen, misalnya masukin bayam ke telur dadar, enak juga. Bayam yang masih muda dimakan mentah juga enak, jadi kayak lalapan. Waktu itu saya pernah iseng bikin pizza bayam gara-gara habis nonton youtube Jamie Oliver lagi bikin adonan pizza from scratch. Pengen praktekin hasil tontonan youtube tapi liat di kulkas ga ada yang bisa dijadiin topping, petik aja bayam di pot.

Salad Baby Bayam dimakan sama terong tepung goreng dan Telor dadar bayam tomat

Eksperimen pizza bayam - from scratch






Selasa, 19 Januari 2016

Marigold

Waktu itu saya pernah ditanya sama salah satu teman saya,"mil, lo gak tanam bunga-bunga?"

Dan waktu itu saya menjawab, "Gw cuma tanam yang bisa dimakan." 

Itu sebelum saya tahu kalau ada bunga-bunga yang bisa dimakan - edible flowers dan fakta bahwa mencampur tanaman bunga di antara tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan juga penting untuk mengecoh serangga yang tidak diinginkan dan mengundang serangga yang penting untuk tanaman kita, misalnya kupu-kupu dan lebah yang membantu proses penyerbukan.

Bunga yang pertama saya tanam adalah Marigold. Saya membeli bibitnya online setelah membaca tentang companion planting, rencananya saya akan menyandingkan Marigold dengan tanaman tomat karena Marigold bikin lalat-lalat yang suka numpang bertelur di daun tomat males untuk mendekat karena baunya. Selain itu akar Marigold juga membantu membunuh nematoda-nematoda yang dapat merusak akar tanaman. 

Marigold (kanan) berkecambah 
Saya mulai menanam benih Marigold bersamaan dengan menanam benih Terong Ungu, mereka pun berkecambah di waktu yang nyaris bersamaan, sekitar 3 - 4 hari sejak ditanam. 

Dari hasil browsing lebih dalam tentang Marigold, saya mengetahui bahwa bunga ini bisa dimakan walaupun ada macam-macam pendapat yang bilang kalau marigold yang bisa dimakan itu dari jenis Calendula, sementara yang saya tanam ini nama latinnya Tagetes Patula biasanya hanya digunakan sebagai pengusir serangga. Tapi saya bertekad tetap mau coba makan kalau sudah berbunga untuk memastikan apakah bunga ini bisa dimakan atau tidak. 

Selain Marigol masih banyak sekali edible flower yang populer seperti Pansy, Chamomile yang banyak digunakan untuk dibuat teh, juga Sunflower atau bunga matahari yang bijinya bisa diambil untuk jadi kuaci. Saya pun membeli bibit bunga-bunga lagi yang ada di daftar edible flower. Tapi dari sekian banyak benih bunga yang coba saya tanam di tahun 2015 tidak ada yang berkecambah lagi selain marigold itu.

Sementara kegagalan demi kegagalan saya lalui dengan berbagai macam benih bunga-bunga yang coba saya tanam, Marigold saya tumbuh subur dalam pot, bahkan hanya dengan perawatan yang minimal. Bunga ini tahan kering jadi saya hanya menyiramnya 2 hari sekali atau apabila permukaan tanah di pot tampak kering. Tiga setengah bulan kemudian Marigold mulai menampakan kuncupnya dan tak lama bunga mungil berwarna merah mekar dari kuncup tersebut.

Kuncup Marigold

Bunga Marigold mekar

Karena tanaman itu sudah semakin rimbun dan tampak sesak di potnya maka saya memutuskan memindahkan tanaman itu di tanah, di petak tanah kebun samping yang sudah dipagari dari serangan ayam. Tapi tak lama datang tukang kebun yang biasa dipanggil Papa Said setiap beberapa bulan sekali untuk merapikan rumput-rumpur liar. Semak Marigold saya dicabut sampai habis oleh tukang kebun itu karena dikira rumpur liar, mungkin karena bentuk daunnya yang kecil-kecil mirip rumput-rumputan yang sejenis putri malu. Tanaman marigold saya pun musnah tak berbekas.

Masih dengan hati hancur berantakan saya kembali membuka laman yang menjual bibit bunga online. Saya kembali membeli bibit marigold. Mulai dari nol lagi.

Saya membeli dua jenis Marigold berbeda, yang ternyata setelah berbunga coraknya berbeda dengan Marigold pertama yang berwarna merah. Marigold kedua yang saya tanam bunganya berwarna kuning. Sementara jenis satunya lagi bunganya juga berwarna kuning tapi ada garis jingga di tengah kelopak kuningnya.

Marigold kedua yang saya tanam
Setelah dilihat-lihat sih, walaupun bunga ini masuk ke kategori edible flower, tapi karena ukuran bunganya yang kecil jadi gak berasa makannya. Kalau pun dipakai di masakan palingan cuma sebagai hiasan cantik yang bisa dimakan. Tapi saya sudah coba makan kelopak Marigold, cenderung tidak ada rasanya jadi bisa ditelan dan yang penting sehabis makan gak sakit perut atau keracunan. Warna kelopaknya yang vibran bisa dipakai untuk  menambah warna di salad atau makanan lain.

Roti alpukat bertabur kelopak Marigold






Sabtu, 28 November 2015

Princess Garden Plan 2016

Kemarin saya bangun pagi ketika matahari mulai terbit dan ayam-ayam papa said lagi pada berisik berkokok. Malam sebelumnya hujan deras pake petir mengguyur daerah rumah dan tentunya tanaman-tanaman di kebun Princess. 

Princess nya ya sudah pasti saya.

Sebelum berangkat ke kantor saya menyempatkan diri menengok kebun. Sudah sebulan lebih kegiatan berkebun saya berkurang drastis terutama yang di halaman samping. Alasan pertama karena pekerjaan. Hampir setiap hari saya pulang malam dan banyak menempuh jarak jauh sehingga sampai di rumah udah kehabisan energi. Alasan kedua karena saya lagi sebel sama ayam liar Papa Said yang suka ngacak-ngacak tanaman yang baru saya tanam. Setelah tanaman jagung saya yang baru tumbuh beberapa minggu di acak-acak, tanaman kacang panjang saya juga sempat di rusak dan malahan ada yang bertelur disitu. Rasanya jadi males tambah tanaman karena pasti akan dirusak ayam. 

Ayam-ayam itu bisa terbang melewati pagar kawat setinggi 1 meter. Tanpa ampun mereka menyerang tanaman yang baru, sementara tanaman yang sudah lama dan besar walaupun diacak-acak masih bisa bertahan. Selama beberapa bulan saya masih menikmati hasil panen terong ungu dan kacang panjang yang Alhamdulillah masih produktif sampai sekarang walaupun senantiasa tampak bekas koyakan patuk ayam di daun-daunnya. 

Tanaman-tanaman cabai yang daun-daunnya sempat banyak meranggas karena udara super panas bulan lalu sudah tidak menghasilkan cabai lagi. Akhirnya saya putuskan akan meremajakan tanaman-tanaman tersebut di musim yang mulai hujan ini. Lagipula mereka juga sudah terlalu tua, umurnya sudah lebih dari satu tahun dan yang terakhir saya tanam berumur 11 bulan.

Saya mencabut satu tanaman cabai yang sudah tua di kandang tanaman sayur saya, tanaman itu ditanam oleh Papa Said dan sudah ada sejak sebelum saya dapat jatah sepetak tanah untuk berkebun dari Papa Said. Sementara ada satu tanaman cabai yang saya sisakan, tanaman berumur 11 bulan yang saya tanam dari benih yang saya beli online, sejak mulai hujan akhir-akhir ini tanaman itu mulai menampakan semangat hidup lagi dengan muncul banyak daun-daun baru yang segar.

Pagi itu di Princess Garden semilir angin yang berhembus terasa sejuk. Bau tanah basah buat saya punya efek aromateraphy menenangkan jiwa. Burung-burung ramai berkicau menambah kesyahduan di hari Jumat itu. Daun-daun tampak sangat hijau dan segar dengan efek sedikit bulir-bulir air di atasnya. Tiba-tiba semangat berkebun saya jadi menggebu-gebu. Sampai di kantor saya langsung menggambar planning tanaman-tanaman apa yang akan saya tanam di penghujung tahun 2015. Karena bentuknya baru akan tampak tahun depan, maka saya sebut ini Year 2016 Plan for Princess Garden


Plot Plan untuk bulan Agustus 2015 yang gagal total

Menjelang bulan Agustus kemarin saya sempat bikin plot plan juga. Sebelumnya ada 3 pohon terong berjajar di kandang tanaman saya, kemudian ada kacang panjang dan buncis yang saya tanam di dalam pot, sementara sisi kanan kandang di dominasi oleh dua pohon cabe yang rimbun. Waktu itu masih banyak ruang kosong di kandang tanaman itu, saya pikir mereka memang harus dikasih jarak-jarak supaya akar-akarnya tidak berebutan unsur makanan.

Tapi kemudian saya nonton youtube satu acara berkebun yang bilang kalau tanahnya cukup unsur haranya ga perlu terlalu jauh jaraknya, kalau terlalu jauh malah nanti akan banyak rumput-rumput liar dan kita malah jadi ngabisin banyak waktu buat cabutin rumput liar. Yang perlu dilakukan itu adalah yang namanya Companion planting, jadi kita mencampur jenis-jenis tanaman supaya lebih efisien mempergunakan lahan yang ada dan menghasilkan hasil yang optimal.

Waktu itu saya sudah mulai mengenal Companion Planting, tapi baru sedikit yang saya tahu. Diantaranya kalau Marigold bisa ditanam dengan tanaman jenis terong-terongan, tomat, cabai untuk membantu menghalau lalat-lalat yang suka hinggap dan bertelur di daun tanaman. Kalau cuma numpang bertelur sih tidak apa-apa, masalahnya ketika telurnya menetas, sebelum jadi lalat dan bisa terbang, larvanya makanin daun. Kalau banyak bisa menyebabkan daun-daun gak efektif berfotosintesis dan akhirnya merusak tanaman.

Tanaman bawang juga bisa berfungsi mengusir hama-hama yang bisa merusak atau memakan tanaman kita karena mereka tidak suka baunya. Karena itu di Plan bulan agustus saya menambahkan Marigold dan Bawang di dalam kandang tanaman saya.

Sepertinya saya memang harus lebih banyak riset dan praktek soal companion planting. 

Dari segala sumber browsing di internet saya juga tahu kalau tanaman kacang-kacangan (beans) kayak kacang panjang dan buncis bisa memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah. Nitrogen itu zat yang diperlukan tanaman untuk memperbanyak daun. Ada satu lagi konsep yang saya baru tahu yaitu Rotation Planting, jadi di satu tempat itu sebaiknya tanaman yang ditanam gak sama terus dari tahun ke tahun, kalau kita punya beberapa tempat, harus dirotasi. Hal itu untuk menghindari penyakit tanaman dan hama-hama keburu datang. 

Selain itu Rotation Planting juga ada hubungannya dengan unsur tanah. Jadi tanaman sayur pada intinya dibagi menjadi empat kelompok besar, masing-masing kelompok membutuhkan unsur hara yang berbeda, misalnya sayuran daun-daunan seperti selada, bayam, kangkung membutuhkan banyak nitrogen untuk daunnya. Maka dari itu sayur daun baiknya ditanam di tanah yang bekas ditanam kacang-kacangan, karena tanah itu pasti banyak nitrogennya. Kalau kita tanam (misalnya) tomat disitu sebelum sayuran daun, ya sebenarnya tidak apa-apa juga tapi sayang aja karena untuk tanaman tomat kalau terlalu banyak nitrogen nanti daunnya kebanyakan malah gak ada buahnya. 

Awalnya kacang panjang dan buncis saya tanam di pot. Buncis sudah layu lebih dulu karena panas. Sementara kacang panjang yang di dalam pot tidak menghasilkan buah yang banyak, daun-daunnya pun kecil-kecil dan jarang. Karena itu di Plan Agustus saya menanam kacang panjang langsung di tanah. Hasilnya sampai sekarang, tanaman tersebut sudah berusia 4 bulan lebih tapi masih produktif menghasilkan kacang panjang. Mungkin saya akan bikin postingan khusus tentang menanam kacang panjang besok-besok.

Asalnya tanaman terong ungu saya ada tiga. Kemudian tiba-tiba mereka diserang hama warna putih kayak ketombe yang mengerubungi batang-batang dan bawah daun. Cari-cari di internet akhirnya tahu kalau namanya adalah Mealybugs. Cara menghilangkannya adalah dengan menyiramnya dengan larutan bawang putih di campur sama sabun cuci piring. Tapi gak berhasil. Sementara itu ketiga pohon masih menghasilkan terong tapi ukurannya jadi drastis menyusut, jadi kecil-kecil dan jadi ada bercak-bercak di buahnya.

Akhirnya saya ambil langkah ekstrim. Saya cabut dua pohon terong, menyisakan satu yang serangan mealy bugsnya tidak terlalu parah. Satu pohon terong itu saya pangkas bagian atas pohon yang banyak hama nya. Saya tetap menyemprot dengan larutan bawang putih seminggu sekali, masih ada sedikit mealybugs tapi tidak parah seperti sebelumnya. Malahan sejak ada kepik datang makanin mealy bugs sampai sekarang saya sudah tidak pernah semprot larutan bawang putih lagi dan satu pohon itu terus berbuah hingga sekarang. 

Ketika mulai hujan satu masalah muncul lagi, yaitu belalang. Telur-telur belalang menetas ketika tanah mulai lembab oleh hujan, jadi sekarang di terong saya lagi banyak bayi belalang. hiks. 

Tanah yang bekas dua pohon terong yang saya cabut itu saya cangkul sampai gembur kemudian di tambah kompos, sambil menunggu bibit jagung yang saya pesan online datang. Sewaktu mencangkulnya saya sambil nyanyi: Cangkul Cangkul Cangkul yang dalam. Menanam jagung di kebun Princess.

Princessnya ya sudah pasti saya.

Biji jagung pun datang dan saya langsung tanam di tanah. Tidak seperti tanaman-tanaman saya yang lain yang saya semai dulu di wadah kecil sampai mereka cukup besar untk dipindah ke tanah, menurut berbagai macam sumber yang saya baca tanaman jagung harus di tanam langsung di tanah dari biji karena akarnya rentan dan gak bisa dipindah-pindah. Satu bulan tanaman jagung saya tumbuh cukup tinggi sekitar 10 cm.

Hingga suatu hari mimpi buruk itu datang. Suatu sore sepulang kantor ketika mau menyiram tanaman saya mendapati tanaman jagung saya hilang. Ketika di dekati tampak ujung-ujungnya seperti dimakan hewan. Awalnya saya menuduh itu perbuatan tikus. Saya menaruh jebakan tikus dan racun tikus di sekitar kandang tanaman dan kembali menanam jagung. 

Sebulan kemudian kejadian itu kembali terulang. Kali itu bukan hanya jagung yang hilang, tanaman kacang panjang saya juga di obrak abrik, beberapa ada yang tercerabut dari tanah. Untung saya masih ada sisa anakan kacang panjang yang saya semai, langsung saya pindah ke tanah itu untuk mengganti tanaman yang tercerabut. Tapi karena kesal saya tidak tanam jagung lagi.

Beberapa hari kemudian saya memergoki biang kerok yang suka acak-acak kandang tanaman saya. Ternyata ayam Papa Said yang masuk dan seenaknya mengais-ngais, mematuk-matuk dan meluluh lantakan tanaman saya. Setelah itu saya lumayan males nambah tanaman baru di situ.

Hingga 2 minggu lalu. Saya punya pohon okra di pot yang mau saya pindah ke kandang tanaman saya. Tapi sebelumnya saya bikin benteng untuk melindungi okra saya itu. Saya bikin sekat lagi di tengah kandang tanaman dan saya beli net (semacam jaring yang mirip jalan nelayan) untuk menutup atasnya supaya ayam tidak bisa masuk dari atas. Sampai sekarang sih masih aman.

2016 plot plan

Melihat tanaman okra yang sudah semakin besar sejak di transplant dan bahwa lokasi yang telah di bentengi itu cukup aman dari serangan ayam, maka selanjutnya saya akan tanam beberapa tanaman baru sampai Okra jadi besar banget dan cukup kuat mempertahankan diri sendiri dari serangan ayam.

Marigold yang saya semai beberapa bulan lalu untuk diletakan di kandang tanaman masih saya pelihara di pot. Sejak peristiwa pembantaian jagung saya takut meletakan tanaman lain di situ, takut di eksekusi sama ayam. Saya punya tempat lain di pojok belakang rumah, sebelah kamar saya, tempat tanaman pot-pot saya seperti kangkung, bayam, sawi, kemangi. Tanaman Marigold saya pelihara di situ juga. Beberapa hari lalu saya mulai menanam marigold di kandang tanaman. Berikutnya saya akan tanam Parsley saya disitu, saya juga punya parsley di pot yang biasa di pakai langsung kalau mau bikin pasta oglio olio. Mungkin di tempat yang agak terhalang sinar mataharinya saya akan tanam kemangi lagi.

Tadi pagi saya menebar biji kangkung di depan pohon Okra. Biasanya kangkung sudah bisa dipanen dalam waktu 30 - 40 hari, jadi kurang lebih sebulan, cukup lah sampai okra nya makin besar dan benteng di lepas.

Saya belum punya rencana sama pohon cabe dan terong ungu yang lama, jadi sepertinya akan saya biarkan disitu dulu sampai benar-benar sudah tidak menghasilkan buah lagi.

Kacang panjang rencananya akan saya cabut di awal desember, rencananya disitu saya mau tanam Jagung dan Kacang Panjang gaya the three sisters. Suku Indian kuno dulu punya tradisi menanam gaya ini, mereka biasa menanam Jagung, tanaman kacang-kacangan merambat dan squash di satu tempat, jadi kayak semacam sistem tumpang sari. Saya tidak punya bibit squash, jadi cuma akan menanam jagung dan kacang panjang aja. Nantinya kacang panjang akan berfungsi sebagai nitrogen fixer buat jagung dan tumbuhnya merambat di pohon jagung yang akan berfungsi sebagai penyangganya.

Kali ini saya mau semai jagung dan kacang panjang di tempat lain dulu sampai besar baru saya pindah ke tanah. Sementara itu menunggu waktu persemaian kurang lebih sebulan saya akan tanam kangkung atau bayam, yang tentunya nanti akan dilindungi lagi pakai net (jala) supaya aman dari ayam.

Di depannya itu saya belum kepikiran mau tanam apa. Pengennya sih tanam bawang merah atau bawang putih. Tapi waktu tanam bawang awal-awal gagal total, mungkin karena tanah saya masih terlalu berstruktur lempung jadi kurang bagus untuk tanam bawang. Mungkin bisa kalau tanahnya dicampur sedikit pasir, kepingin sih coba lagi. 





Minggu, 02 Agustus 2015

Dari kebun langsung ke perut

Saya tertarik dengan satu teori yang pernah saya baca di suatu tempat. Sayangnya saya lupa dimana sumbernya, udah lama banget. Teori itu menyatakan kalau apa yang kita makan akan bermanifestasi di dalam diri kita. Misalkan kalau kita makan sapi yang semasa hidup nya tidak bahagia, maka yang memakannya juga bisa merasakan emosi yang sama. Apalagi kalau ketika di pejagalan sapi tersebut mengakhiri hidupnya dengan perasaan takut dan resah, perasaan itu terbawa ke serat-serat dagingnya yang kita makan dan di pencernaan kita diproses dan ikut terbawa ke aliran darah di tubuh. 

Jadi kalau kita sering merasa gak tenang, galau, pengen marah terus atau tiba-tiba merasa sedih sendiri sampai depresi, jangan-jangan sebenarnya itu perasaan hewan ternak yang eksistensinya merupakan hasil rekaya dan manipulasi manusia sedemikian sehingga mereka merasa hidupnya hampa dan tidak bahagia karena harus berakhir di pejagalan pada usia yang relatif muda sementara nenek moyangnya bisa hidup hingga 10 kali lebih lama. Mereka yang lahir karena inseminasi buatan, bukan hasil reproduksi natural dari hewan jantan dan betina kemudian jadi daging yang kita beli di supermarket atau restoran untuk dimakan.

Saya pernah deh waktu itu ngebahas soal sapi ternak disini 

Gak ada bukti scientific yang berkaitan dengan teori ini sih, tapi menurut saya itu menarik.

"We are what we eat."

Setelah lebih dari satu tahun mulai menanam sayur-sayuran, saya jadi sadar kalau tanaman juga bisa terlihat sehat dan bahagia. Gak tau ini nyata atau hanya sugesti saja, tapi ketika dimakan rasanya berbeda - lebih segar, juicy dan tidak ada rasa sepah. Mudah-mudahan teori diatas itu benar, saya berharap kalau tanaman-tanaman yang saya besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang itu tumbuh menjadi tanaman yang bahagia dan yang memakannya juga merasa ikut merasa bahagia. 

Tomat Cherry manis 

Semua yang di piring kecuali ikan dan bawang dari kebun princess

Tumis Kangkung

Sampai saat ini, karena memang juga tidak banyak, mayoritas yang saya tanam untuk dimakan sendiri. Tapi pernah juga saya menyumbang kangkung, kacang panjang dan terong ungu ke mama said untuk dimasak. Ya tapi ujung-ujungnya saya juga yang makan.

Waktu tanaman buncis dan kacang panjang berbuah, saya suka gak tahan godaan buat metikin satu-satu dan memakannya langsung mentah-mentah dan ternyata enak. Bayam, kangkung, sawi yang langsung dipetik juga masaknya gak ribet-ribet, cuma ditumis pakai bawang dan cabe saja udah enak banget. Cabenya juga hasil kebun sendiri tentunya. Dikukus sebentar juga enak, rasa manis sayurnya lebih terasa. Saya malahan pernah campur daun bayam mentah di salad. 

Sawinya memang kurang besar karena di tanam di polybag, tapi tampak segar kan?

Seikat kangkung

Kadang saya suka sedih lihat daun bayam dan kangkung yang lesu di supermarket, mungkin mereka lelah karena sudah melalui perjalanan panjang dari tempat nya ditanam, ditambah penantian panjang di pendingin swalayan. Apalagi kalo liat harganya, jadi sensitif banget karena teringat kalau panen bayam dan kangkung di rumah daunnya besar-besar dan segar karena belum dehidrasi. Sayur juga bisa dehidrasi kayak manusia. Sayangnya keterbatasan waktu dan lahan membuat saya jadi ga bisa makan sayur hasil tanam sendiri setiap hari.

Saya pernah bilang kan kalau saya gak suka terong ungu. Saya cuma senang menanamnya saja. Tapi penasaran juga karena menurut orang di rumah rasanya lebih manis dari yang biasanya beli, minggu lalu saya mulai coba makan terong. Awalnya cuma di goreng biasa untuk dimakan pakai sambal, sengaja saya petik terong yang ukurannya paling kecil. Kemudian saya ada ide buat menggorengnya pakai tepung ala-ala tempura, ternyata enak juga. 



Jumat, 19 Juni 2015

Menanam Terong


Saya tidak pernah suka makan terong ungu.

Sama seperti saya tidak pernah suka makan jengkol, pete dan paria. Bukan karena gengsi tapi karena memang tidak suka rasanya.  Sementara di rumah saya sih sering banget muncul menu-menu masakan dari bahan-bahan yang saya sebut diatas. Soalnya orang rumah pada suka makan.

Kalau tidak suka makan terong ungu kenapa menanam terong?

Pasti pada mau nanya gitu kan? Kan? Kan?

Ya soalnya waktu saya google soal home gardening banyak tuh nemu gambar pohon terong ungu, terus saya suka. 

Udah gitu aja sih yang memicu saya buat menanam terong ungu dari bibitnya.

Saya beli dua macam bibit terong, Terong Taiwan dan Terong Ungu. Terong Taiwan sempat tumbuh subur dan berdaun lebar-lebar, ada 5 pohon di dalam pot saya beri nama Tau Ming Tse, Hua Ze Lei, Xi Men, Mei Zuo dan San Chai yang kemudian saya sebut dengan Terong Meteor Garden (Terong Kebun Meteor). Tapi mungkin karena tidak cocok dengan cuaca Jakarta  bekasi yang panas, jadi gak pernah sempat berbuah.

Sementara Terong Ungu dalam waktu 4 bulan mulai tumbuh bunga. Bunganya cantik sekali, warna kelopaknya ungu didalamnya putik nya (atau serbuk sari?) berwarna kuning. Karena saat itu cuaca lagi galau, sebentar hujan deras berangin kencang, sebentar panas terik,  maka bunga-bunga terong yang tumbuh pertama-tama itu ga ada yang jadi buah.

Bunga Terong
Satu hal penting yang saya pelajari dari berkebun adalah kesabaran menunggu. Eh tapi kalau soal kesabaran menunggu sih saya udah ahli dink, sabar menunggu jodoh yang tak kunjung datang…eaaaaa….

Ganti deh.

Satu hal penting yang saya pelajari dari berkebun adalah bahwa tumbuhan itu sudah tahu sendiri caranya survive buat dirinya sendiri. Jadi mereka tahu sendiri gimana menentukan waktu kapan harus tumbuh daun banyak, kapan daun nya musti berkurang, kapan berbunga, kapan berbuah.

Terong Taiwan saya yang gak pernah berbuah walaupun sempat berbunga satu kali, itu mungkin karena terlalu banyak energy yang dihabiskan pohonnya untuk survive dari cuaca yang terlalu panas buat dirinya sehingga udah ga ada lebihan buat berbuah. Dan tumbuhan itu kan berbuah sebenarnya tujuannya buat reproduksi lagi, kalau buat dirinya aja mereka gak sanggup survive mungkin mereka mikirnya ya buat apa bereproduksi disitu. Dengan catatan kalo gak ada bantuan atau rekayasa apa-apa dari manusia ya.

Saya sih selalu percaya tanaman-tanaman saya adalah tanaman yang tangguh dan mandiri, jadi yang saya bisa lakukan hanyalah memberi perawatan dasar, menjaga dari hama/kutu/ulat dan menunggu mereka siap sendiri untuk berbuah. Jadi gak dipaksain berbuah pakai pupuk buah atau nutrisi-nutrisi lainnya gitu, palingan sebelum ditanam tanahnya saya campur kompos aja. Begitu juga dengan cuaca. Kalau tanaman saya ngerasa betah dengan kondisi cuaca di kebun saya ya seneng banget, tapi kalau mereka ngerasa gak cocok ya saya gak mau maksain. Saya mah selalu demokratis ama taneman-taneman saya, membiarkan mereka memilih jalan hidup (atau mati?) mereka sendiri.

Papa Said memberikan sepetak tanah di kebunnya khusus untuk saya menanam apa saja yang saya mau. Supaya gak di ganggu ayam-ayam peliharaan Papa Said yang berandalan, saya dibantu Papa Said memagari bidang tanah punya saya itu.  Disitu saya memindahkan Terong Ungu yang mulai tumbuh besar dari Polybag ke tanah, sementara satu terong yang sudah mulai berbunga di pot tidak dipindah.

Baby Terong

Petak Tanah milik saya di kebon Papa Said, ada terong, cabe, buncis, kacang panjang

Hasil panen

Kira-kira satu bulan kemudian mulai muncul bakal buah terong berwarna ungu dari dalam bunganya Warnanya kontras dan cantik bangeeettt. Gak lama saya sudah bisa memanen Terong Ungu hasil kebun sendiri.

Menurut orang rumah yang pada mencicipi Terong Ungu hasil kebun saya, rasa terong nya manis dan enak.

Ya wajarlah, kan yang nanemnya juga manis…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...