Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Cisarua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Cisarua. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

Tea Walk

"Coba, berapa luas hutan yang dikorbankan untuk bikin kebun teh begini sama Belanda jaman dulu?" tanya saya ke Rio ketika kami tiba di kebun teh daerah puncak sore itu. Entah kenapa itu pikiran pertama yang melintas di otak saya ketika melihat hamparan pohon teh.

Kabut sore mulai menggelayut sehingga membuat pohon-pohon pinus yang tak jauh dari tempat kami berdiri tampak seperti siluet. Ide aneh jalan-jalan ke kebun teh berawal dari hari sebelumnya ketika saya, tince dan nico menyambut kedatangan Rio yang sedang berlibur di Jakarta. Terakhir kali saya ketemu Rio waktu Mendadak Bali Part 1 tahun 2015, awal tahun 2016 kami ketemu lagi di ibukota. 

Rio tertawa mendengar pertanyaan saya, "yang disuruh kerja paksa orang kita lagi ya. memang brengsek belanda jaman dulu hahaha."

"Terus," tiba-tiba muncul lagi pikiran yang lebih horor yang bikin mata saya membelalak memikirkannya, "berapa banyak hewan-hewan yang tinggal di hutan yang punah gara-gara tempat tinggalnya dibikin kebun teh?"

Perkebunan Teh
Parahnya manusia juga gak akan bisa kenyang karena makan teh,  jadi sebenarnya bukan kebutuhan pokok. Jaman dulu teh itu adalah gaya hidup alias lifestyle. VOC menanam teh di Indonesia supaya tidak perlu ambil teh jauh-jauh ke Cina untuk dijual ke Eropa. Kemudian dengan menanam sendiri, tidak perlu beli mahal-mahal dari Cina, cost lebih murah, margin lebih tinggi. Bener kata Rio, brengsek memang tuh belanda jaman dulu. 

Orang Eropa baru ngerti minum teh di abad ke-17. Karena sumbernya jauh dan mengambilnya berisiko, harga teh jadi sangat mahal. Tidak sembarangan orang bisa beli teh, maka minuman ini dianggap sebagai minuman berkelas para bangsawan. Disajikannya di cangkir-cangkir mahal yang imut supaya minumnya  gak banyak-banyak (mungkin). Sementara di Cina sendiri budaya minum teh sudah ada sejak jaman sebelum masehi (BC). Saya ingat waktu ke shanghai beberapa tahun lalu banyak orang yang jalan kaki menenteng botol minuman yang isinya teh seperti masyarakat ibukota di daerah perkantoran pagi-pagi menenteng gelas Starbuck.

Perusahaan dagang milik Belanda (VOC) dan milik Inggris di abad 17 itu bersaing berat membawa komoditas teh ke pasar Eropa, ketika Belanda mulai bikin perkebunan teh di pulau Jawa, Inggris pun bikin kebun teh di India yang merupakan daerah koloninya. Sangking berharganya itu yang namanya teh. Di jaman itu siapa yang bakal mengira kalau beberapa abad kemudian di rumah makan sunda di indonesia minuman teh tawar itu bakal jadi compliment alias gratis. Dan biasanya di rumah makan jepang teh hijau adalah minuman yang harganya paling murah dan bisa di refill sampai kembung, walaupun jaman dulunya teh itu dianggap minuman berkhasiat yang cara minumnya saja dibuat ritual khusus.

Kalau mau nongkrong di cafe selama berjam-jam tapi hemat, ada tips dan trik dari kawan saya yang selalu memesan teh hangat. Alasannya adalah karena kalau pesan teh kita dapat satu tea bag, bisa minta tambah air panas berkali-kali untuk seduh tea bag itu dan gak bayar. Jadi kalau duduk di cafe 3 jam, saya sudah pesan 2 cangkir kopi dan satu air mineral yang kesemuanya musti bayar, kawan saya itu cuma  minta air panas berkali-kali - gratis, seduh aja terus sampai airnya bening, yang penting di atas  meja keliatan ada gelasnya.

Walaupun sudah bisnis impor teh ke eropa dari cina sejak abad 17, VOC baru mulai menanam teh di Jawa tahun 1800-an. Awalnya VOC beli benih teh dari Jepang untuk ditanam di Jawa. Kemudian VOC mengirim seorang ahli teh orang Belanda ke Cina. Dia dikirim untuk mempelajari secara diam-diam cara budidaya teh disana, kemudian berhasil menyeludupkan benih-benih teh dari sana berikut bawa orang Cina yang ahli menanam teh dan ahli mengolah teh. Baru setelah itu perkebunan teh berkemabng pesat di pulau Jawa hingga merambah ke pulau Sumatera. Ketika Indonesia merdeka, perkebunan teh milik VOC diambil alih oleh negara dibawah perusahaan bernama PTPN, PT Perkebunan Nusantara. 

Turis Kebun Teh
Setelah Tea Walk berkeliling kebun teh dan berusaha mendaki sampai puncaknya yang tertinggi (menurut keterangan sih 3000-an mdpl), saya dan Rio menikmati sore di kebun teh sembari ngopi di warung. Kopi sachetan yang diseduh air panas tidak mendidih. Di warung itu dijual macam-macam jenis teh: teh hitam, teh hijau dan teh putih (white tea), dari bungkusnya saya lihat yang dijual itu hasil produksi dari Jawa Tengah, bukan produksi kebun teh disitu. 

Kebun teh di puncak itu masih dipetik, dua minggu sekali, menurut informasi dari ibu penjaga warung. Dari atas bukit teh juga saya sempat lihat ada bangunan yang saya tebak seperti pabrik pengolahan teh, tapi saat itu tampak sepi. Di area perkebunan juga ada area glamping, glamour camping. Sudah ada tenda-tenda yang disiapkan disitu untuk disewakan.

Tidak lama kami duduk di warung, muncul beberapa orang turis arab. Ibu warung langsung mengambil dagangan macam-macam tehnya untuk diletakan di depan warung supaya dilihat turis arab.

"Mereka biasanya suka beli ini," kata ibu warung dengan logat sundanya yang khas.

Saya tidak tahu sejak kapan daerah puncak itu jadi destinasi untuk turis timur tengah. Pertama saya lihat banyak turis Arab di puncak sekitar 2 tahun lalu ketika saya iseng ke Puncak mau cari curug Cilember tapi nyasar dan berakhir di Taman Wisata berlogo Matahari Departemen Store. Ternyata kemarin pas lewat jalan raya puncak saya baru sadar kalau banyak sekali hotel-hotel dan rumah makan pakai huruf arab, bahkan ada salon yang keterangan di depannya berbahasa arab. Mungkin kalau di gurun lagi panas, mereka ngadem di daerah puncak. 

Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali lagi ke kebun teh ini, bukan untuk Tea Walk lagi tapi Tea Run. 


Senin, 30 Juni 2014

Petualangan sebelum Sop Duren

Salah satu kawan saya yang sebaiknya namanya tidak saya publikasikan disini pada suatu hari berkeinginan mencicipi Sop Duren yang (katanya) lagi happening, terletak di kota Bogor. Seperti seorang calon ibu yang hamil muda, ngidam sop duren nya diiringi syarat tak beralasan kalau harus sambil bolos kerja. Kalau saya sih bebas aja berkeliaran di jam kerja. Maka berangkatlah saya dan kawan saya itu di hari Jum'at.

Kami berangkat pagi-pagi dari Jakarta, di persimpangan antara arah Bogor dan Cisarua di toll Jagorawi dengan impulsif kami memutuskan untuk lurus dulu ke arah puncak. Tujuannya ke Curug Cilember, inspirasi yang baru saja didapat kawan saya dari hasil google nya beberapa saat sebelumnya, ketika baru memasuki toll jagorawi.

"Di sini ditulis setelah Cimory belok kiri," ujarnya mengacu kepada sumber yang dia baca di smartphone nya mengenai lokasi curug tersebut.

Belok kiri dari jalan Cisarua puncak itu jalan yang lebarnya kurang dari 5 meter dan di kiri-kanannya rumah-rumah penduduk padat berhimpit-himpitan. Kalau ada mobil dari arah berlawanan Blue On saya harus melipir mepet ke pagar atau tembok rumah orang dengan spion terlipat. Walaupun jalannya sempit tapi terasa terus menanjak, kami terus menyusuri jalan dengan rumah-rumah mungil yang rapat hingga jarak antara rumah makin jarang. di kiri- kanan jalan pemandangannya sawah menghampar, beberapa kali kawanan bebek menyebrang jalan. 

Makin ke atas suasana makin sepi, tidak ada rumah lagi, tidak ada sawah, jalanan mulai berbelok-belok, tanjakan makin tajam. Kami sudah makin jauh berjalan tanpa ada penunjuk atau tanda-tanda bahwa kita menuju curug. 

Jalan semakin menanjak dan semakin sepi. Pemandangan mulai berganti pepohonan, lembah dan villa dengan pagar yang megah dan tinggi, belum ada tanda-tanda kemana akhir dari jalan yang semakin lama semakin menyempit itu. 

Tiba-tiba di tengah-tengah sepi itu ada gerbang parkiran yang merupakan pintu masuk ke sebuah lapangan luas, di dalamnya seperti ada tenda besar sekali berwarna putih. Di papan yang terpancang di gerbang nya terdapat logo Matahari Departemen Store. 

"Coba aja kita masuk situ sekalian nanya dimana curug cilember nya," usul saya yang sudah mulai curiga bahwa kami tersesat.

Ternyata ada dua kali bayar tiket untuk masuk tempat ini. Yang pertama pada saat ambil tiket parkir, bayar 5,000 rupiah. Kami sempat bertanya sama mas di dalam booth tiket parkir. "Curug Cilember sebelah mana, mas?"

"ooo itu mah masih jauh keatas," anak laki-laki muda yang tampak belum mencapai usia 20 itu tampak menunjuk suatu tempat di awang-awang.

"mas nya belum pernah kesana ya?"

"belum hehehe"

Saya sudah hampir punya niat cuma mau puter balik di tempat itu dan melanjutkan lagi perjalanan ke arah atas, tapi lepas dari mas petugas parkir yang belum pernah ke curug Cilember kami langsung ditangkap oleh teteh petugas tiket masuk arena hiburan dan diminta 15,000 rupiah per orang untuk bayar tiket masuk.

"Di dalem ada apa sih, mba?"

"ya ada macem-macem, ada naik perahu, spa ikan...coba deh spa ikannya,"anjuran dari si teteh. 

Kami pun pasrah dan mencoba mengitari area taman hiburan yang ternyata luas nya berhektar-hektar dengan mobil, berusaha menerka-nerka, mengumpulkan data dari hasil survei dan mencoba menarik kesimpulan tentang tempat wisata itu. Di dalamnya ada taman bermain anak-anak, danau yang luas, waterboom, area foodcourt yang luas, papan penunjuk lokasi outbond dan rafting. Terus terang saya cukup terpesona bahwa ternyata di area puncak yang selama ini saya pikir cuma ada kebun teh ternyata ada tempat wisata keluarga yang luas seperti itu.

Di tiketnya ada 3 kupon gratis, untuk naik sepeda air, naik perahu karet dan sewa sepeda gratis. Kami memarkir mobil dan menuju ke tempat penyewaan sepeda, ternyata sepedanya hanya boleh di sewa untuk berputar-putar di sebuah pelataran kosong, tidak boleh dibawa keluar untuk dipakai di kompleks wisata. Kami pun mengurungkan niat dan melanjutkan keliling tempat itu jalan kaki. Masih dalam usaha menerka-nerka konsep dari taman wisata itu.

Anehnya loket-loket permainan yang ada di danau kelihatan sepi dan kios loketnya tutup tak berpenghuni. Kamipun mencoba mau naik ke atas menara lookout - yang gratis juga, tapi pintu masuk ke menaranya masih terkunci. Padahal saat itu sudah jam 11 siang lewat. 

Pengunjungnya juga sepi sekali, mungkin karena bukan hari libur. Yang banyak kami temui adalah keluarga-keluarga yang tampaknya berasal dari Arab, karena ibu-ibunya mengenakan Abaya hitam bercadar. Saya pun mengambil kesimpulan, mungkin tempat wisata ini target segmennya orang Arab, jadi di sana di iklanin besar-besaran sementara disini malah orang-orang (paling tidak saya dan kawan saya itu) tidak tahu tentang keberadaan tempat itu. 

Jangan-jangan tujuan utama turis-turis Arab itu ke Indonesia semata-mata adalah untuk ke tempat wisata berlogo Matahari Dept Store itu, layaknya turis Indonesia ke Singapura semata-mata untuk berkunjung ke Universal Studio. Mereka dengan riang gembira naik sepeda keliling-keliling pelataran kosong, yaelaaaah kalo naik sepeda kayak gitu doang sih saya meningan di rumah aja.



Dari rencana mulia ke Curug Cilember, kami terdampar di Taman Wisata berlogo Matahari Dept Store. Untungnya tujuan awal mencicipi Sop Duren Bogor yang happening terlaksana juga. Semoga kalau kawan saya itu benar-benar hamil muda, anaknya kalau lahir ga ileran.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...