Tampilkan postingan dengan label Malaysia - Kuala Lumpur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaysia - Kuala Lumpur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 September 2010

When Nature Calls

Dengan semakin berkembangnya jaman, maka kebutuhan Primer manusia bertambah dari Sandang, Pangan, Papan menjadi Sandang, Pangan, Papan, Toilet, dan Henpon. *ngarang*

Malahan mustinya Toilet tuh kebutuhan primer yang nomor satu, secara kalo Sandang, Pangan, Papan bisa ditahan tapi klo kebutuhan kita akan toilet merupakan kebutuhan mendesak yang sulit ditahan.

Dengan semakin berkurangnya hutan-hutan, kebon-kebon dan pepohonan. Ditambah sungai-sungai dan kali-kali yang semakin tercemar, orang-orang mulai beralih ke toilet untuk melampiaskan hasratnya *makin ngarang* Pun, di beberapa tempat khususnya di daerah yang masih tradisional, tradisi memenuhi panggilan alam di ALAM masih di pertahankan dan dilestarikan.

Toilet disebut dalam berbagai bahasa. Di bahasa Indonesia sendiri ada macam-macam sebutan untuk toilet: kamar kecil, WC, kakus dsb. Belum lagi sebutannya dalam bahasa daerah. Itu aja baru di Indonesia, belum di Luar Indonesia. Di Malaysia yang bahasanya deket-deket dari Indonesia aja "toilet" disebut Tandas Awam... jauh kan?!

Belajar dari pengalaman saya di Vietnam, dimana jarang ada orang mengerti bahasa Inggris, sejak itu kalau pergi kemana-mana saya selalu sedia catatan kecil yang bertuliskan 'Toilet' dalam bahasa lokal. Jadi ketika 'alam memanggil' kita tinggal kasih liat catatan kecil itu.
Malahan hal pertama yang saya lakukan kalau ketemu orang lokal yang bisa bahasa inggris adalah meminta orang tersebut menuliskan bahasa lokal 'Toilet' di secarik kertas tersebut.



Toilet juga terdapat dalam berbagai bentuk. Ada yang terletak di Pom Bensin, rumah makan, rumah penduduk, bahkan di pinggir jalan
. Waktu ke Shanghai saya akhirnya menemukan toilet canggih yang sebelumnya pernah saya baca di buku Naked Traveler, yakni Toilet yang bisa nge-flush sendiri ketika kita buka pintu nya. Waktu itu saya sedang menggunakan fasilitas toilet umum di Shanghai Expo ketika mendapati tulisan Automatic Flush, saya langsung teringat tulisan Mbak Trinity tentang toilet yang bisa nge-flush sendiri.... dan bergumam dalam hati.... woooooh... beneran canggiiiiiih.

Toilet yang bisa nge-flush sendiri memang sepertinya belum ada di Indonesia, tapi kalau toilet dalam kontainer di indonesia juga ada loh. Toilet dalam kontainer ini biasa di temukan di tempat-tempat rekreasi umum yang berada di outdoor seperti di Monas dan stadion Senayan. So, buat kamu-kamu yang ingin merasakan sensasi ber-toilet yang "BEDA" silahkan langsung mengunjungi toilet kontainer yang terdekat dari rumah kamu.

Sabtu, 20 Februari 2010

Behind The Scene: Turis Kere Singapore-Malaysia

Behind The Scene 1: Security Check

Inilah salah satu perbedaan antara penerbangan domestik dan internasional. Di penerbangan domestik pemeriksaan barang-barang hanya basa basi saja. Sedangkan di penerbangan internasional peraturan ini ketat bukan main. Sampe ada acara buka ikat pinggang dan jam tangan segala sewaktu melewati metal detector. Karena kebiasaan sama sistem penerbangan domestik yang seperti itu, salah satu anggota para bekpeker cupu ini ada yang kurang 'ngeh dengan peraturan tidak boleh membawa cairan diatas 100mL ke dalam kabin pesawat, dan membawa dua kemasan besar Susu cair.

Di pemeriksaan terakhir sebelum masuk ruang tunggu, dua kemasan susu cair yang belum diminum itu pun disita. Coba dia bilang-bilang dulu sebelum susu-nya disita, anggota rombongan yang lain pasti dengan sukarela siap membantu menghabiskan susu nya, dari pada di sita trus nantinya diminum sama petugasnya.

Ternyata di Singapore dan Malaysia, bahkan sistem security check-nya lebih parno lagi. Selain ikat pinggang dan jam tangan, jaket yang tebal harus dilepas dulu sebelum melewati metal detector.

Tidak hanya di Bandara Udara, bahkan ketika kita melewati perbatasan darat antara Singapore ke Johor, sistem pengamanannya juga ketat. Ketika di perbatasa darat waktu itu, setelah tertahan mengantri di imigrasi berjam-jam dan hampir ketinggalan kereta ke KL, salah satu anggota bekpeker kita merasa geregetan ketika di security check masih ada acara buka-buka tas dan interogasi.

Entah antara kesal, panik karena merasa takut ketinggalan kereta, atau kebelet pipis... ketika ditanya security nya mengenai isi kantong kecil di tas backpacknya, dia menjawab: Make-Up, sir. Seketika itu wajah pak security langsung berubah aneh dan buru-buru mempersilakan dia lewat. Ya jelas aja Pak securitynya ngeri. masa cowok bawa-bawa Make-up.

Behind The Scene 2: Demi Update Status

Sebagai peng-update setia Plurk dan Facebook, kita sempat khawatir kalau sewaktu kita jalan-jalan ga sempet update status. Sedemikian sehingga kehilangan momen untuk memberitakan apa yang sedang kita lakukan, demi eksistensi. Maupun hanya untuk sekedar membuat iri para penggemar kita di Plurk dan FB *belagu abeezzz*

Hal pertama yang kita lakukan saat melihat ada fasilitas internet gratis (berikut komputer-nya) di airport Changi adalah: meloncat-loncat kegirangan. Rasa gembira bukan kepalang karena bisa Up-Date Status: Telah tiba di Singapore. Kebetulan lagi hostel kita di Singapore menyediakan fasilitas internet gratis juga, jadi kita bisa tetap eksis di jagat plurk dan facebook.

Pokoknya setiap ada internet dan komputer nganggur rasanya ga tahan untuk segera meng-update status. Mau ya itu gratisan, pakai koinan, bahkan yang sistem bayar per-jam kayak warnet gitu... yang penting Up-Date Status.

Behind The Scene 3: Digi

Sebagai Turis Kere, salah satu hal yang paling bikin miris dan berat adalah pulsa telepon. Apalagi turis kere sok sibuk yang walaupun sedang cuti liburan teteup dii tilpunin Pak Boss Besar sehingga pulsa tersedot karena menerima telpon *curcol*. Untuk sms aja, tarifnya 4000-5000 sekali sms, cukup bikin kepala pusing setiap cek pulsa. Makanya itu kita hemat hemat banget sama yang namanya pulsa.

Hingga akhirnya di Malaysia kita memutuskan untuk mengganti SIM Card indonesia kita dengan SIM Card Malaysia bernama Digi. Jadi kita semua men-save nomor digi setiap anggota dengan menambah kata Digi di belakang namanya (Mila Digi, Cipu Digi, Lenia Digi, Gunard Digi). Dan.. Mila Digi bisa menelpon Cipu Digi dengan tenang. Cipu Digi bisa sms-an sama Lenia Digi sepuasnya. Gunard Digi bisa menelpon ibu nya di Jakarta dengan tarif relatif lebih murah. Kami semua bisa berbual lebih leluasa berkat Digi *bukan iklan loh* LOL

Series of Turis Kere Singapore-Malaysia:


- Turis Kere

- Singapore Tour a la Kere

- Naik MRT

- Keretaapi Tanah Melayu Berhad

- Nyicipin Rasanya Backpacker Hotel


Sabtu, 23 Januari 2010

Nyicipin Rasanya Backpacker Hotel

Salah satu target yang memang dicanangkan dalam perjalanan bekpeking perdana Singapura-Malaysia bersama Cipu, Lenia dan Gunard adalah mencoba Backpacker Hotel. Hotel yang ini beda dari hotel-hotel yang biasa nya saya temui, bayarnya per-orang, dalam satu kamar bisa terdiri dari empat sampe belasan orang, lebih mirip asrama. Dan yang paling penting, harga nya terjangkau dan biasanya terletak di lokasi strategis.

Yang namanya murah, tadinya saya tidak mengharapkan bakal enak kondisinya. Dari sebelum berangkat sudah mempersiapkan diri buat kemungkinan terburuk. Tapi entah karena kebetulan atau memang orang yang survei buat perjalanan ini *yang jelas bukan saya* pilihannya memang tepat.

Selama di Singapura dan Malaysia, hotel bacpakers yang kita tempati lumayan nyaman, bersih, dan terletak di lokasi strategis sehingga kita ga susah kalau mau kemana-mana. Bahkan kalau mau jalan sampai tengah malam. Orang-orangnya pun, dari mulai penjaga hotel sampai sesama backpacker ramah-ramah.

Di singapura, Penginapan kita terletak di lokasi strategis, Bugis Corner. mau naik MRT tinggal nyebrang, bisa kemana aja. Mau ke Merlion Park dan Esplanade juga tinggal jalan. Tempatnya di tengah-tengah ruko dan berada di lantai atas rumah makan India.

Selama saya hidup 27 thn ini, baru kali ini ngerasain tidur satu kamar bersama 5 orang cowok hehehe.. Kesannya: Beuh.. berisik banget, kayak pada lomba ngorok *tepok jidat*. Kamarnya sendiri bersih, ada AC nya, trus ada kunci otomatis yang pake password kalau mau masuk kamar. Rate nya $14 semalem, dapet breakfast, ada tiga komputer yang menyediakan internet gratis buat yang menginap (asal tau diri aja buat gantian ama yang lain hihihi), kamar mandinya bersih dan ada air hangatnya.




Tidak semua yang menginap disitu ternyata backpacker. Salah satu orang yang sekamar sama saya, mantan pengajar bahasa inggris di salah satu lembaga kursus di indonesia, yang ngakunya orang Jerman yang lama tinggal di Amerika jadi udah ga ngerti lagi sama bahasa Jerman. Dia sudah tinggal selama dua minggu di hotel tersebut dalam rangka mencari pekerjaan yang lebih baik di Singapura. Dalem hati saya berpikir, bule ada juga toh yang sengsara gitu *turut prihatin*

Ada lagi yang seru, yang ini sohiban sama Cipu. Pekerjaannya air photographer (tukang potret dari udara) tapi dia udah 7 tahun tinggal di Lombok. Bahasa Indonesianya juga lumayan. Dia bilang, " kalau saya... kerja apa saja," pake logat Cinta Laura,"yang penting HalaL." Walaaah.. bule juga ternyata tau-tau-an halal yak?

Di Kuala Lumpur, hotel kita bahkan lebih bagus lagi. Bangunannya kelihatan masih baru. Satu kamar lebih banyak isinya, mungkin sekitar 10-an orang. Ada AC dan air panas untuk mandi juga. Tapi kalau disini internetnya ga gratis a.k.a warnet mode ON. Ratenya RM32 semalem dan ternyata mbak-mbak yang jaga disana orang Indonesia (pahlawan devisa nih ceritanya).

Semua hotel itu kita booking secara on-line beberapa hari sebelum kita berangkat dan banyak info-info tentang hotel-hotel beginian di seluruh dunia asal kita rajin browsing-browsing. Salah satu cara yang jitu kita juga bisa tanya-tanya ke orang yang udah lebih pengalaman atau dari forum-forum milis backpacking.

Walaupun begitu, menginap di hotel begini musti extra hati-hati, terutama sama belongings. Dari dua hotel yang saya tempati itu, mereka menyediakan loker untuk menaruh barang-barang kita, tapi jangan lupa untuk selalu menggemboknya. Karena kan namanya kita sekamar sama orang-orang yang ga kenal, jadi jaga-jaga aja.


Selasa, 19 Januari 2010

Cuti-Cuti Malaysia

Posting ini memang di tujukan untuk mempromosikan posting dari blog Cipuceb@blogspot.com, bukan karena saya sedang tidak punya ide untuk bikin postingan sendiri melainkan karena saya terlalu sibuk dengan kehidupan sebagai orang kantoran demi mencari modal sebagai turis kere.

Alasan lainnya adalah karena model di foto-foto untuk posting tersebut adalah saya sendiri *narsis-lah sebelum narsis diharamkan.

This is one of my favorite part dalam rangkaian perjalan bekpeking ke singapore-malaysia, soalnya saya dan Cipu melihat bahwa membaca tulisan yang sama dengan makna berbeda bisa merupakan hiburan tersendiri, percaya ga percaya... kita bisa ketawa berhari2 membahas perbedaan makna di kata-kata yang sama. Entah karena selera humor kita tinggi atau karena kurang hiburan hehee..


Jadi, saya ga akan banyak nulis kata pengantar lagi, karena kayaknya emang ga mutu yak *nyadar*, silahkan klik link di bawah ini...


Sabtu, 05 Desember 2009

The convenience of public transportation

Masih dalam rangka Backpacking perdana Singapore-Malaysia.

Sebagai Turis dengan budget terbatas di negeri orang, saya dan rombongan banyak menggunakan transportasi umum seperti Bus dan MRT. Padahal kalau di Jakarta boro-boro naik bus, bahkan bus trans jakarta sekali pun. Membayangkan perjuangannya untuk berdesak-desakan saja sudah capek duluan *manja mode ON*. Jadi walaupun seringkali terjebak macet berjam-jam sampai betis dan pinggang pegal-pegal, tetap saja menyetir sendiri dengan kendaraan pribadi merupakan pilihan yang paling nyaman dan saya harus banyak bersyukur.

Di negara tetangga kita ini lah, I discover the meaning of "the convenience of public transportation". Rute-rute MRT dan Bus mudah di mengerti dan terpampang jelas di setiap terminal dan halte-halte. Rute antara Bus dan MRT terintegrasi. Coba kalau ada turis di Jakarta di suruh naik Bus, Angkot atau Metromini.. kalau ga nyasar-nyasar plus mabok darat, hebat tuh :p

Penumpang-penumpang nya juga lebih tertib di banding di sini, jadi ga ada yang dorong-dorongan, desak-desakan masuk ke bus, seperti di Bus Trans Jakarta. Mungkin juga karena disana jumlah penduduknya lebih sedikit kali ya, jadi lebih mudah di atur daripada di mari.

Ada satu lagi yang rasanya sulit di terapkan di Jakarta, yaitu Hop-on Hop-off city Tour. Di Singapore dan Kuala Lumpur ada Bus yang mengantar turis-turis keliling kota dan singgah di objek-objek wisata yang terdapat di kota tersebut. Karena kotanya yang relatif lebih kecil dan traffic-nya yang less crowded, dalam waktu satu hari kita bisa khatam keliling satu kota. Kalau di Jakarta mah seminggu juga ga khatam kalau mau kelilingin satu kotanya. Saya aja yang dari gede di Jakarta belum pernah seumur-umur yang namanya kelilingin kota Jakarta *tepok jidat*

Bayar RM 38 saja kita sudah bisa mengembara di kota Kuala Lumpur, thanks to KL Hop-on Hop-off [naik-turun sesuka hati] city tour. Bagi yang pertama kali ke Kuala Lumpur, cara ini paling efektif dan efisien, karena Bas Lawatan ini melewati semua objek wisata yang ada di Kuala Lumpur. Mereka bahkan menyediakan earphone di setiap tempat duduk yang menjelaskan ke kita tentang objek wisata yang sedang kita lewati dengan berbagai pilihan bahasa.

Satu tiket seharga RM 38 itu berlaku selama 24 Jam. Jadi andaikata kita turun di salah satu tempat pemberhentian, kita dapat naik Hop-on Hop-off yang lain hanya dengan menunjukan tiket tersebut, ga perlu bayar-bayar lagi. Jurang masa 30 minit antara setiap bas.

Tempat-tempat yang dilalui termasuk objek wisata, hotel dan tempat perbelanjaan. Diantaranya KLCC - Petronas tower, KL Tower, Bird Park, Butterfly Park, National Mosque, Aquaria, China Town, Sentral Market (pasar seni), Dataran Merdeka, National Palace, National Museum and many more.


Selasa, 03 November 2009

Petronas Tower

Belum ke Malaysia kalau belum melihat Menara Petronas, salah satu menara tertinggi di dunia. Kami pun melihat nya: pagi, siang dan malam... seriously. hehee...

Menara Petronas Pagi Hari

Masih ingat di posting sebelumnya waktu saya bilang penderitaan kami gara-gara MENGANTRI belum selesai? Ritual antri yang akan kita jalani selanjutnya adalah mengantri tiket untuk melawat jejantas udara (visiting skybridge) nya Menara Petronas. Tiketnya ternyata percuma (gratis), tapi ngantri nya.. wuidiiihh.. berkelok-kelok sepanjang beberapa ratus meter. *okey.. bagian ratusan meternya itu memang berlebihan*

Turun dari Kereta Tanah Melayu Berhad (KTMB) kami langsung naik MRT ke KLCC. Sampai disana jam 8 kurang waktu Kuala Lumpur, ruangan sudah penuh sesak dengan wisatawan yang mengantri tiket. Jangan tanya kapan kita mandi nya, karena memang belum pada mandi semua hehee... Pun begitu kita tetap berhati-hati dengan penyeluk saku (copet).


Menara Petronas Siang Hari

Setelah sabar MENGANTRI, kami mendapatkan tiket untuk melawat jam 12 siang. Karena jeda waktunya masih lama, kami memutuskan untuk mencari sarapan dan menitipkan backpack di rumah tumpangan (hostels) kami yang terletak di Bukit Bintang, ga jauh dari KLCC. Setelah ganti baju (doang, teteup belum mandi) kita kembali ke KLCC.


Sebelum naik ke sky bridge, kita di suguhi tayangan 3D lengkap dengan kacamatanya. Kemudian kita naik lift dan memulai sesi foto-foto di jembatan yang menghubungkan dua menara kembar tersebut. Para pelawat di beri waktu 10 menit di atas jejantas udara tersebut. Beuh.. ga sebanding sama penantiannya. Tapi ga sampe 10 menit juga udah bosen kog, ternyata begitu doang *ditoyor* hihihii...


Menara Petronas Malam Hari


Menara ini kelihatan cantiiiiiiiiiiiiiiiik sekali di malam hari *seperti yang nulis*.

Di malam terakhir kita di KL, ditraktir makan di restoran asik yang terletak tepat di depan Menara Petronas bernama NZ oleh sepupunya Cipu yang tinggal lama di sana dan bersedia menemani kita pusing-pusing (jalan-jalan) di KL. Jadi sembari menikmati makan malam, kita bisa menikmati pemandangan Menara Petronas di waktu malam.

Senin, 02 November 2009

Keretaapi Tanah Melayu Berhad (KTMB)

Satu setengah hari menjelajahi kota Singapura, akhirnya tiba saat kami bertolak ke Malaysia. Beberapa hari sebelum berangkat, kami telah memesan tiket KTMB secara on-line. Sebenarnya bisa saja kami naik dari Singapura langsung ke Kuala Lumpur, tapi demi penghematan budget kami memutuskan naik dari Johor Bahru untuk menuju Kuala Lumpur.

Kenyataan memang tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada saja hal-hal yang tidak pernah terkira sebelumnya. Dari Singapura ke Johor Bahru kami harus naik bus dulu. Berbekal saran dari orang-orang India pemilik restoran di bawah penginapan kami, berangkatlah kami ke Queen Street Bus Terminal Ternyata kami menemui antrian yang panjaaaang..

But, it was just a beginning.

It turns out to be, kami menghabiskan waktu ber-jam-jam hanya untuk mengantri. MENGANTRI di imigrasi Singapura, MENGANTRI untuk naik kembali ke bus ke Johor Bahru, MENGANTRI di imigrasi Malaysia... dan waktu terus berjalan, pukul 10.30 waktu Malaysia dan kami masih mengantri di imigrasi padahal jadwal kereta pukul 11.

And what made it worst is that we don't know the location of Train Station. Bahkan setelah kasak kusuk kesana kemari, tanya ke kiri dan ke kanan, kog ya ga ada yang tau pasti letak stasiun kereta di Johor Bahru. Untungnya kita sempat ketemu dengan dua orang cewe manis yang baik hati, yang rela nungguin kita di imigrasi Malaysia dan menunjukkan jalan ke stasiun yang ternyata hanya selemparan kancut *tepok jidat*.

Kami pun berlari-lari di kejar waktu, dengan menggendong backpack, menahan HIV (hasrat ingin vivis), dan jantung yang berdebar-debar. Eniwei... akhirnya kami tiba tepat waktu *fiuuhh*.
It was happy ending story afterall.


Tampak luar Kereta Tanah tersebut sama persis dengan kereta api yang ada di Indonesia, tapi interiornya yang beda. Lebih bersih dan terawat. Kami membeli tiket kereta yang ada tempat tidur nya supaya bisa sekalian istirahat di perjalanan menuju Kuala Lumpur.


Setelah melewati malam di kereta, pukul 7 pagi kami tiba di Kuala Lumpur Central Station... dan kami masih harus MENGANTRI tiket di Petronas... *sigh*


Rabu, 28 Oktober 2009

Turis Kere


"When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it
"
-Paulo Coelho




I've proved it!


Pada saat menulis postingan Ucapan Tahun Baru tentang rencana travelling 2009, jujur aja belum kepikiran untuk bikin planning ke luar negeri, walaupun ada siiiih.. impian-impian terpendam menyangkut hal tersebut, tapi kog ya rasanya ragu dan terlalu muluk.


Tapi ternyata... Salah Besar! Karena suatu hari di pertengahan tahun, saat perjalanan dari Bandung menuju Jakarta selepas menghadiri resepsi pernikahan teman, bersama dengan bapak Gunard Slamet Handiko (paling kiri, kaos item) dan beliau menceritakan kalau sudah punya tiket (yang mana di beli waktu promo seharga Rp.0,-), tiba-tiba terjadilah.


All of the sudden, I'm planning for the "Trip". Bersama dengan Gunard Slamet, Cipu dan Lenia.. kita akan menaklukan Singapura dan Kuala Lumpur dengan menggendong Backpack.

And who said it's going to be expensive trip? (I was hehee)

Kenyataannya kita hanya menghabiskan kurang dari 800 ribu rupiah untuk perjalanan Jakarta-Singapore-Kuala Lumpur-Jakarta. Ga percaya? coba liat kesini untuk rincian budget nya. Thank God, Daeng Cipu (tengah, kaos kuning) udah duluan posting rincian budget hehee...

Budget diatas memang belum termasuk harga tiket yang ternyata juga kurang dari 700 ribu rupiah. Pun sebenarnya kita bisa dapat harga lebih murah kalau planning dari jauh-jauh hari. Tapi karena lumayan mendadak, jadi kita pesan tiket sebulan sebelum jadwal.

Cipu likes to call himself a budgetary traveller, but I like to call myself Turis Kere. Walaupun dengan budget yang minim, toh bisa juga kita jadi wisatawan di negeri tetangga hehee..



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...