Tampilkan postingan dengan label Australia - Great Ocean Road & Grampian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia - Great Ocean Road & Grampian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Oktober 2013

Bushwalking di Grampian National Park

Orang-orang di Australia menyebutnya Bushwalking - kegiatan jalan-jalan atau hiking di alam terbuka seperti di gunung dan hutan. Mereka termasuk gemar sekali dengan kegiatan yang berhubungan sama outdoor activities dan berhubungan langsung sama alam, jadi olahraga menyusuri alam ini sangat populer disana. 

Orang Aussie membedakan istilah hiking di daerahnya dengan  nama khusus yang mengandung kata "bush" kemungkinan besar untuk membedakan aktifitas hiking disana dari aktifitas hiking di lain tempat. Seolah-olah untuk menunjukan bahwa kalau hiking di australia itu gak sekedar hiking, tapi hiking di "bush" yang menggambarkan kondisi alam disana yang keras banget. Hanya orang-orang tangguh yang bisa survived di alam australia yang gak friendly. 

Sekarang aja Bushwalking jadi salah satu kegiatan refreshing untuk menghilangkan stress, tapi jaman dulunya, sewaktu imigran eropa pertama-tama datang ke australia, banyak dari mereka yang tewas karena mencoba menantang kekejaman alam di sana. Banyak dari imigran itu yang mencoba explore ke inland australia hanya untuk mendapati diri mereka kelaparan karena gak bisa menemukan makanan. Kehausan karena ga gampang menemukan sumber air di tanah aussie yang kering. Belum lagi panas mataharinya yang terik. Hingga mereka mulai belajar dari para bushmen (orang-orang aborigin) bagaimana cara menaklukan dan hidup dari kondisi alam yang keras itu.

Saya - dengan kondisi baru tidur 3 jam, akan mencoba menantang kekejaman alam di Grampian national park dengan bushwalking.

Subuh-subuh pintu kamar digedor-gedor oleh Damon, menyuruh kita bersiap-siap untuk berangkat. Di kabin saya dan kate sih hangat karena ada pemanas ruangan, tapi pas keluar dinginnya setengah mati. Saya yang menggigil takjub melihat Elaine mondar-mandir di halaman pakai tank top dan rambut yang masih setengah basah. oh well, she's irish, mungkin di kampungnya jauh lebih dingin.

Setelah mandi saya ikut sibuk di dapur,  bikin kopi dan roti sendiri. Bahannya sih udah disiapin, tinggal bikin sendiri aja. Habis sarapan, gak lupa cuci piring sendiri. Mandiri.

Kita tiba di suatu tempat yang di sekeliling kita hanya ada gunung-gunung batu yang berdiri tegak dan kokoh. Saya mulai mengerti inti dari tur Great Ocean Road dan Grampian ini pada dasarnya adalah untuk mengamati bebatuan-bebatuan. Setelah kemarinnya mengamati batu-batu yang ada di pantai, sekarang mengamati batu-batu yang ada di gunung. Kata Damon, tempat yang mau kita bushwalking-in ini adalah Grand Canyon nya Australia. Kata saya, tempat yang mau kita bushwalking-in ini adalah tumpukan batuan raksasa.

Sekali lagi saya tekankan enaknya jalan-jalan di alam di Australia adalah sepatu gak akan kotor sama sekali dan gak usah mikir milih-milih jalan. Karena trail (jalur) - nya udah dibikin jalan setapak yang bagus banget, batu-batuan yang untuk di daki sudah dibentuk seperti tangga dan di kasih pegangan di pinggir-pinggirnya. Jadi gak akan mungkin ada kejadian kejeblos tersuruk di tanah basah seperti yang saya alami ketika hiking di dieng. 

Masalahnya adalah titian tangga yang di buat dari batu-batu itu mengikuti ukuran kaki orang-orang bule yang panjang-panjang. Sementara kaki saya kan pendek. Jadi kalo buat mereka bisa melangkah, buat saya kadang musti butuh usaha ekstra buat memanjat. Mendekati puncak pendakian saya berhasil membuat teman-teman satu tur saya ngakak di sela-sela napas mereka yang tersengal-sengal akibat lajur pendakian ketika saya bilang, "I wish my feet were longer."

Manjat batu memang saya perlu usaha ekstra dibanding yang lain, tapi saya tersenyum lebar ketika jalur pendakian sampai di tempat dimana kita harus melewati celah yang kecil banget. Yang ukuran badannya besar-besar musti ribet jalannya miring-miring, sedangkan saya bisa melenggang gembira tanpa sesak napas. Elaine yang ukuran badannya termasuk mungil juga bisa melenggang gembira, tapi Kate musti pakai sumpah serapah dan sempat nyangkut hingga akhirnya berhasil keluar dari celah itu.

Akhirnya saya berhasil menyusuri jalur pendakian yang nyaris terus menanjak sepanjang hampir 2 km, malahan termasuk di rombongan pertama yang sampai diatas. Sementara itu setengah anggota tur yang kakinya lebih panjang dari saya baru tiba di puncak sekitar setengah jam setelah saya. 

Pemandangan dari atas puncak tumpukan batu raksasa itu - indah luar biasa. 

Jalur trekingnya

Batu-batu nya sudah disusun kayak tangga

Teman Mexico yang kepayahan pas mendaki

Grand Canyonnya Aussie ceritanya

Akhirnya teman mexico saya sampai juga di atas

Celah sempit yang buat saya ga sempit-sempit banget

Dari Grand Canyon nya Australia itu, kita naik mobil sebentar menuju ke McKenzie Waterfall, air terjun yang masih berada di kawan Grampian National Park juga. Air terjun nya sih biasa aja, kalau menurut saya bagusan air terjun di Indonesia. Rangkaian perjalanan tur ditutup di McKenzie Waterfall dengan acara foto bersama, setelah itu kami kembali ke mobil, mampir sebentar untuk beli makan siang di kota terdekat dan langsung menuju Melbourne.

McKenzie Waterfall

Senin, 07 Oktober 2013

Great Ocean Road

Great Ocean Road adalah jalan raya yang terbentang di sepanjang garis pantai bagian selatan benua Australia. Sebelum ada jalan darat, rute perjalanan yang sama dilakukan via laut  menyusuri garis pantai juga. Tapi laut disisi itu terkenal berbahaya, di musim-musim tertentu ombak nya sangat besar dan resiko kapal karam karena menghantam batu-batuan di coastline itu sangat tinggi. 

Setelah Perang Dunia I - tahun 1900-an gitu, sekitar 3000-an veteran perang bekerja sama membangun jalan darat yang kemudian diberi nama Great Ocean Road. Jalan itu dipersembahkan bagi rekan-rekannya yang gugur di medan perang. Ya sebenarnya sih Great Ocean Road ini semacam jalan raya Anyer-Panarukan yang dibangunnya gak pake kerja paksa. Walopun gak pake kerja paksa, karena di jaman itu belum canggih dan semua pekerjaannya masih manual labor, ya banyak juga jatuh korban jiwa, mungkin kayak ketiban batu, kepleset di jurang, kecemplung ke laut dan sebagainya.

Great Ocean Road ini melewati beberapa fishing village, landmark-landmark terkenal seperti Twelve Apostles, London Bridge, Loch Ard Gorge dan juga melewati kota dimana ditemukannya brand fashion surfing ternama Rip Curl, yaitu Torquay. Saingannya Rip Curl, Billabong yang berasal dari bahasa Aborigin juga brand yang berasal dari Australia, tapi asalnya di daerah Gold Coast - bagian Northeast Austalia.

Bells Beach

Cerita saya kali ini berawal dari Bells Beach, dimana saya terbangun di dalam bus yang sepi dan dikunciin sama Damon si tourguide. Pantai disini warnanya coklat banget, ditimpa cahaya matahari pagi jadi menimbulkan kesan keemasan - Golden Coast. Karena saya datang di musim gugur yang dingin jadi pantai itu tampak sepi. Katanya di musim yang udaranya hangat di pantai ini banyak mas-mas surfer bule yang perutnya kotak-kotak dan kulit yang kecoklatan tanned, diatas papan surfingnya,  menembus ombak dengan rambut yang basah terkena air laut. *ngacai* *lap iler*

Bells Beach
Bukan hanya pasirnya yang berwarna coklat, tebing batunya juga berwarna coklat nyaris seragam sama pasirnya. Bahkan rumput dan semak-semak disekitar pantai juga tampak berwarna kecoklatan, mungkin karena efek musim. Di tempat ini para anggota tur menikmati coffee break pagi mereka di iringi semilir angin pantai yang dingin. Dan di tempat ini saya kenalan sama Elaine, gadis Irlandia yang sama seperti saya, ikut tur ini sendirian. 

Damon menghampiri kita untuk memberi tahu saatnya coffee break sudah selesai. Kayaknya buat basa-basi dia nanya sesuatu ke saya yang karena gak terbiasa sama dialek australia terdengar seperti "kamu tidur dimana." 

"Excuse me?" tanya saya sambil mikir, ngapain dia nanya saya tidur dimana. Absurd banget.

Trus Damon ngulang lagi kalimatnya pelan-pelan, "Were you asleep?"

Oala.. ternyata dia nanya apa saya tidur tadi di bus waktu dia ngunciin saya itu, bukan nanya dimana saya tidur ato yang kedengeran saya seperti where you sleep. Antara otak masih belom optimal  gara-gara baru bangun tidur, ga terbiasa sama aksen ostrali dan agak budek gara-gara kedinginan. 

Great Ocean Road Memorial Arch

Seperti yang saya cerita di awal soal nilai historis Great Ocean Road, untuk selalu mengenang jasa para veteran perang dunia yang telah bekerja keras mengikis bebatuan, menggali, memadatkan tanah dan meratakan jalan ini sehingga dapat dilalui dibangun sebuah prasasti peringatan di tepi jalan. Ada prasasti, ada patung, dan ada gerbang yang digantung tulisan GREAT OCEAN ROAD. 

Gerbang Great Ocean Road

Great Ocean Road di musim gugur, rumputnya mulai kecoklatan
Kita menyusuri ruas great ocean road yang pemandangannya (karena saya arahnya dari timur ke barat) sebelah kiri ada laut dan sebelah kanan ada gunung. Selain warna nya yang didominasi coklat sebenarnya gak ada yang terlalu spesial dari pemandangan nya, mirip aja kayak jalan raya di sini yang menyusuri garis pantai juga. 

Mobil tur sempat berhenti di beberapa spot yang ada papan keterangannya, seperti Cape Patton dimana pas penggalian buat bikin great ocean road malah ditemukan rangka dinosaurus yang  berumur 100 juta tahun lebih. Tapi tidak semuanya menarik perhatian saya dan bikin males turun mobil. Kita juga mampir untuk mengamati koala-koala yang hidup liar. 

Setelah itu waktunya makan siang.

Apollo Bay

Bus berhenti di suatu kota bernama Apollo Bay, kita makan siang di suatu restoran yang menunya boleh pilih. Saya dan Elaine memilih Lamb Souvlaski, semacam kebab. Ukurannya besar banget dan masih ditambah potongan-potongan kentang goreng yang gemuk-gemuk, makan setengah porsi souvalski nya aja saya udah kenyang  banget, kentang nya sama sekali gak saya sentuh dan berpindah ke piring cowo brondong asal belanda yang namanya susah saya ingat.

Para anggota lain masih pada makan, Elaine memberi kode sama saya untuk keluar restoran itu, ngobrol-ngobrol disamping tempat sampah yang berfungsi sebagai asbak. Pekerjaan Elaine di Irlandia adalah penata artistik panggung buat pertunjukan-pertunjukan seni. Ketika kehidupan nya mulai terasa menjemukan dan meaningless dia memutuskan untuk travelling, sendiri. Gak seperti saya yang perjalanannya terencana, riset dulu, bikin itinerary dulu, perjalanan Elaine gak ada rencana sama sekali. Pokoknya kemana arah kaki melangkah. 

Disinilah Tara muncul, cewek Inggris yang cerewet tapi lucu. Dia dateng-dateng heboh menanyakan dimana orang-orang yang lain, apakah mereka sudah naik bus? dimana bus nya parkir? dimana Damon? Saya dan Elaine cuman liat-liatan sambil angkat bahu. Belom kita ngomong apa-apa, Tara udah ngomong duluan lagi kalo dia mau beli permen dulu di warung, jadi jangan ditinggalin. 

Saya dan Elaine cuman liat-liatan lagi sembari si Tara berlalu dengan hebohnya.

Tidak lama Tara muncul dari dalam warung, teriak-teriak sambil menunjuk suatu lorong, "Ova' hieeere." 

Maits Rest Rainforest

Tidak hanya tur ke daerah pantai, kita juga diajak ke Rain forest yang kebetulan dilewatin sama Great Ocean Road. Jalan-jalan di hutan di Australia tidak sama kayak jalan-jalan di hutan di Indonesia, jalan-jalan di hutan sini sepatu gak akan kotor sama sekali. Sepanjang jalurnya di alas sama papan-papan kayu. Bahkan sepatu saya ini lebih kotor waktu dipakai jalan-jalan di sekitar halaman rumah saya doang daripada dipakai selama saya di Australia. Higienis banget. 

Selepas rain forest pemandangan di kiri saya mulai bervariasi, ganti-ganti antara laut dan padang rumput yang berisi kawanan sapi-sapi dan domba-domba yang gemuk. 

Twelve Apostles 

Setelah perjalanan setengah hari akhirnya sampai juga di klimaks dari tur Great Ocean Road ini, yaitu Twelve Apostles. Dua belas tugu batu yang terbentuk akibat erosi air laut. Awalnya mungkin semacam tebing batu yang menjorok ke laut, kemudian air laut mengikis bagian bawahnya sehingga lama-lama membentuk semacam celah yang memotong tebing itu. Kelamaan celah makin besar dan bagian atasnya yang masih membentuk semacam jembatan makin tipis karena terus menerus di kikis oleh air laut dari bawah sehingga runtuh, maka jadilah semacam tugu yang berdiri tegak di tengah laut.

Twelve Apostles di tengah kabut
Bahkan sekarang twelve apostles sudah tidak berjumlah dua belas lagi. Tugu-tugu batu yang tegak berdiri membentuk formasi berjajar itu masih terus menerus di hantam ombak yang mengikis permukaannya, kelamaan bagian bawah tugu itu menipis dan runtuh karena tak sanggup menopang beban diatasnya. Satu persatu formasi batuan itu akan runtuh mungkin dalam beberapa puluh tahun tidak akan lagi ada yang namanya twelve apostles. 

Saya menyusuri jalan setapak yang melintas di sepanjang tebing sendirian karena Elaine memutuskan naik helikopter dan melihat barisan batu-batu itu dari atas. Tiba-tiba Tara muncul di belakang saya. Sekalian saja saya minta tolong dia fotoin saya. Kabut tebal yang menggantung di langit siang itu menimbulkan kesan misterius. Dalam imajinasi saya muncul daftar-daftar tempat yang mau saya kunjungi. Twelve Apostles, Contreng.

Loch Ard Gorge

Dari Twelve apostles yang sudah tidak twelve lagi, kita naik bus menuju suatu lokasi dimana ada 3 spot yang bisa dilihat. Arah kanan ada Goa, jarak tempuh di papan keterangan 1 jam 30 menit. Arah Lurus, ada tempat dimana kapal Loch Ard karam, jarak tempuh 50 menit. Sebelah kiri ada razorback, formasi batuan lain yang terbentuk akibat angin dan air laut sehingga bentuknya jadi unik, jarak tempuh 40 menit. 

Kita hanya dikasih waktu satu jam sama Damon, jadi saya dan Elaine memutuskan gak akan ke Gua karena terlalu jauh. Pertama-tama kita turun ke pantai, di mana kita bisa melihat tempat karamnya kapal Loch Ard. Semua penumpang kapal itu tewas kecuali dua orang survivor, seorang lelaki bernama Tom dan seorang wanita bernama Eva. 

Waktu kapal karam, Tom berhasil menyelamatkan diri, terombang-ambing berjam-jam di laut hingga ombak laut menghempaskan tubuhnya ke shore. Disitu dia mendengar ada cewe nangis, bukan kuntilanak, melainkan Eva yang lagi nyangkut dimana tauk. Tom balik lagi nyemplung ke laut, berenang dan menyelamatkan Eva. Mereka berlindung di dalam gua. Kemudian Tom meninggalkan Eva untuk mencari pertolongan, memanjat tebing itu. Dia ketemu dua orang pria yang akhirnya menolong mereka. Waktu insiden itu si Tom sempat naksir sama Eva. Ketika mereka selamat Tom sempat menyatakan cintanya sama Eva tapi ditolak, mungkin waktu itu si Eva bilang gini kali,"Tom, what happened in Loch Ard Gorge, stays in Loch Ard Gorge."

Loch Ard Gorge

Goa tempat menyelamatkan diri

Tempat kapal Loch Ard karam
Jalan di atas pasir coklat ini ternyata lebih susah dari pasir di indonesia yang pernah saya kunjungi, entah kenapa lebih berat rasanya. Mungkin karena ga padat, jadi kaki kita tuh ngejeblos banget. Selesai lihat gua tempat Tom dan Eva menyelamatkan diri, saya dan Elain naik lagi ke atas tebing menuju lokasi lookout kapal karam yang menurut papan keterangan berjarak 1.4 km bolak balik dan jarak tempuhnya 40 menit. Karena takut gak keburu waktunya, kita setengah berlari hingga sampai di lokasi yang dimaksud, foto-foto sebentar terus setengah lari balik lagi. Waktu yang kita perlukan bolak balik kayaknya gak sampe 15 menit deh.

Masih ada tempat yang mau kita kunjungi, kita pun berlari-lari kecil menuju arah razorback. Di tempat parkir Damon sudah melambai-lambai sambil memberi gesture nunjuk-nunjuk jam tangan. Menurut papan penunjuk waktu tempuh 40 menit, tapi waktu kita tinggal sekitar 10 menit aja. Walaupun ngos-ngosan tapi rasanya gak nyesel bela-belain lihat razorback. Cantik banget. Ternyata angin dan air laut bisa berkolaborasi membentuk suatu karya seni ukiran yang indah dari batu. 

Di papan keterangan tentang Razorback tertera peringatan:
Be Safe - Take Care
The Cliff edges are constantly changing shape under the powerful hand of nature

The Razorback


London Bridge

London bridge is falling down, falling down, falling down.
London bridge is falling down my fair lady.

Tempat terakhir yang kita kunjungi adalah yang dinamakan London Bridge, yang sekarang sudah gak jadi jembatan lagi karena sudah runtuh. Kalau saya datang tahun 1990, masih bisa lihat model jembatannya. Di dalam bus Damon cerita, jaman dulu bahkan mobil bisa sampai di ujung tebing itu melewati jembatan. Ketika jembatan nya runtuh, ada sebuah mobil yang terjebak di situ, penumpangnya seorang suami dan seorang istri. Tapi celakanya itu suaminya perempuan lain dan istrinya pria lain, jadi mereka ceritanya lagi selingkuh ketika insiden terjebak di tengah-tengah tebing di tengah laut itu. Fiuh, apes nya dobel itu. Sudah jembatannya runtuh, tertimpa tangga yang dilempar dari pasangannya dirumah gara-gara ketauan selingkuhnya sampai masuk koran dan tivi. Itu ceritanya Damon sih, gak tau bener atau issue yang dilebih-lebihkan.

London Bridge tahun 1990

London Bridge sekarang. beberapa tahun lagi mungkin jadi apostles juga
Matahari sudah mulai akan terbenam ketika saya menyusuri jalan di coastline itu. Semburat jingga mulai muncul di garis horizon yang membatasi antara biru langit dan biru laut. Andai saya menikmatinya sembari leyeh-leyeh, mengkhidmati kemolekan alam dengan penuh ketenangan dan kedamaian. Bukannya sambil ngos-ngosan jalan cepet gara-gara takut ditinggal bus begini. 

Rabu, 18 September 2013

Tur ke Great Ocean Road dan Grampian

Dari awal merencanakan perjalanan ke Australia salah satu tempat yang wajib mau saya kunjungi adalah Great Ocean Road - Jalan raya yang membentang menyusuri garis pantai di Australia bagian timur bawah. Di daerah sinilah terdapat Twelve Apostles yang terkenal dan menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Australia. Twelve Apostles itu sebenarnya hanya semacam gugusan bebatuan yang terletak di deket pantai sih, tapi kalao lihat foto-fotonya itu keren banget. Nanti saya akan ceritain khusus tentang Great Ocean Roadnya di postingan lain, kali ini yang mau saya ceritain itu adalah tur nya.

Walaupun punya niat musti ke Great Ocean Road, tapi sudah sampai di Melbourne pun saya belum memutuskan bagaimana cara saya ke sana, mau pergi sendiri ngeteng naik bus dan menginap di salah satu kota kecil yang ada di situ atau ikut tur. Ketika saya berkonsultasi sama Cipu tentang rencana trip ke Great Ocean Road itu sambil browsing jadwal bus yang menuju sana, Cipu menemukan tur ke Great Ocean Road yang lagi diskon. 

Tur itu ternyata bukan hanya ke Great Ocean Road, tapi tur 2 hari satu malam ke Great Ocean Road dan Grampian. Saya tidak tahu apa itu Grampian. Tapi total biaya tur itu cuman beda tipis banget dari estimasi biaya saya ngeteng naik bus sendiri kesana. Dan ketika di lihat di itinerary-nya ada tulisan melihat koala dan kangguru, langsung saya memutuskan booking tur itu dan berangkat 2 hari kemudian.

Pagi-pagi saya diantar Cipu sampai ke depan St. Paul's Cathedral yang terletak di seberang Stasiun Flinder, tempat dimana mobil tur akan menjemput saya. Pas sampai disana kita cari-cari rombongan orang yang kira-kira kelihatan mau ikut tur, tapi kelihatan masih sepi-sepi aja. Sampai akhirnya datang orang-orang yang keliatan seperti turis, Cipu langsung menghampiri mereka. Ternyata mereka ikut tur ke Great Ocean Road juga, jadi kita memutuskan untuk deket-deket sama mereka. 

Mobil tur minivan berlogo nama tur pun datang, berhenti di hadapan kita. Seorang pria keluar, rombongan turis yang bersama kita menyerahkan bukti transaksi ke pria itu dan masuk ke dalam minivan. Sementara saya yang juga ikutan menyerahkan bukti transaksi disuruh menunggu mobil yang lain, ternyata mobil itu untuk tur satu hari ke Great Ocean Road doang, sementara saya kan tur nya yang dua hari.

Tidak lama mobil tur saya pun muncul, sempat berhenti di depan suatu hotel menjemput seorang gadis pirang yang mungil. Tapi ternyata setelah jalan muter-muter beberapa blok, saya dan gadis pirang mungil itu diturunkan dan disuruh naik ke mobil tur lain yang sudah penuh berisi orang. Kita di perkenalkan dengan pemandu tur kita, namanya Damon, tinggi, masih muda, rambut coklat, lumayan ganteng.

Di dalam mobil sudah ada sepasang suami istri berusia 50-an, sepasang turis India, dan peserta lainnya anak-anak muda gitu. Satu-satunya orang asia cuman saya, itu juga saya dikira orang meksiko sama salah satu peserta tur yang ternyata orang Belanda. Eh tunggu, India juga asia dink. 

Masuk ke highway kantuk tak tertahankan mulai menyerang, apalagi si Damon nyerocos terus dengan intonasi suara yang datar, jadi makin nambah ngantuk. Terakhir yang saya denger dia lagi curhat sedang ngambil kuliah lagi buat jadi guru dan betapa dia menyesal sudah sia-siain masa mudanya, abis high school ga jelas nganggur-nganggur. Saya pun ketiduran.

Saya terbangun kaget. Melihat sekeliling, di dalam bus kecil itu cuman ada saya seorang. Saya melihat keluar jendela, minivan itu lagi terparkir di suatu tempat parkir di pinggir pantai dan peserta lain masing-masing lagi megang gelas minuman dan biskuit. Ketika saya mau keluar pintu bus terkunci. Gak lama Damon pun sadar kalau saya masih ketinggalan dalam bus. 

"I'm sorry, I didn't see you," kata Damon ketika saya menginjakan kaki keluar bus. Saya hanya tersenyum, masih memicingkan mata karena silau habis bangun tidur.

Pantai tempat perhentian pertama buat coffee break

Makan siang saya namanya Souvlaski (mudah2an bener nulisnya)

Me & Elaine
Saya segera menuju ke pagar pembatas dan melihat lautan terbentang di depan saya dengan pasir yang berwarna kecoklatan. Di sebelah saya cewek mungil yang dijemput di depan hotel bareng setelah saya, namanya Elaine, Irish Girl. Saya pinjem korek nya, dan sejak itu kita kemana-mana berdua terus selama tur. Ketika berhenti makan siang di suatu restoran, kita bahkan buru-buru makannya untuk sneaking out buat smoking sambil cekikikan kayak anak SMA. 

Ikut tur itu ternyata lebih kejam daripada studi tur jaman sekolah, pemandunya selalu bikin target waktu buat ke toilet, buat makan, buat ke suatu spot wisata, jadi kita malahan gak fokus sama tempat wisatanya tapi sama tenggat waktu yang dikasih sama guide nya itu. Apalagi kadang dari belakang dia tiba-tiba muncul sambil mengingatkan, "10 minutes." "5 minutes." "let's go, let's go."

Saya pun lelah.

Kadang untuk mengejar waktu saya dan Elaine sampai berlari-lari sambil cekikikan juga dan mikir ini tur apa latihan militer. Dari pengalaman ini akhirnya saya dan Elaine bikin kesimpulan kalau mau ke Great Ocean Road itu enaknya ya patungan naik mobil sendiri, jadi bisa bener-bener menikmati tempat-tempat wisata nya, bukan cuman sekedar turun minivan, lari-lari menuju spot, buru-buru foto-foto, kemudian lari-lari balik lagi ke mobil. 

Malamnya kita berhenti makan malam suatu restoran di suatu kota kecil banget menuju Grampian. Ternyata makan malam kita kali itu adalah makanan thai, nasi dan curry. Saya dan Elaine bergabung dengan dua orang cewek lagi di satu meja. Yang satu namanya Tara - cewek yang agak chubby dan cerewet banget dari Inggris. Satu lagi namanya Kattie, cewek yang tinggi banget agak tomboy tapi cantik yang berasal dari Kanada. 

Bertiga Tara, Katie dan Elaine ngomongin tempat-tempat di eropa yang pernah mereka kunjungin dan saya cuman dengerin sambil ngunyah nasi dan thai curry saya. Kalau dari umur sih kayaknya mereka sepantaran saya, atau bahkan mungkin bisa lebih muda karena kan kalau orang bule emang kelihatan lebih dewasa dari orang-orang asia yang kecil-kecil. Tapi keren banget mereka udah kemana-mana, ke banyak tempat, saya jadi merasa belum pernah kemana-mana *gigit sendok plastik*

Setelah makan, Damon ngumpulin yang peserta tur yang muda-muda, katanya dia tau tempat jualan liquor di kota itu yang bisa dapet harga murah banget kalo belinya banyak, jadi kalau mau kita patungan gitu supaya bisa beli bir murah. Masing-masing nyumbang 2 dollar dapet 3 kaleng  bir. Elaine yang orang irlandia - yang terkenal kuat minum alkohol, langsung mempertimbangkan mau nyumbang 4 dollar supaya dapet 6 kaleng bir tapi saya langsung mencegahnya dengan bilang kalau dia boleh ambil jatah saya soalnya saya sebenarnya ga suka bir. Tara pun ikut bilang mau menyumbangkan jatah birnya ke Elaine karena dia pun ga gitu suka bir dan akhirnya Tara beli sebotol kecil Cider buat dirinya. Dari hasil uang patungan itu ternyata masih ada kembalian yang akhirnya di beliin marshmellow sama Damon.

Di perjalanan menuju penginapan kita di Grampian ini lah dimana kita semua turun dari mobil malem-malem gara-gara Damon melihat sekawanan Kangguru nyebrang jalan. Karena jalanannya gelap banget dan dikiri kanan itu cuman ada padang rumput jadi tidak terlihat apa-apa, boro-boro liat kangguru.

Nyari Kangguru

Akhirnya tiba juga kita di kabin tempat kita akan menginap. Damon menyuruh kita turun dari mobil dan membawa semua barang bawaan kita dan berbaris. Sebagai permintaan maaf karena udah  ngunciin saya sendirian di mobil, Damon ngasih saya kamar khusus - satu kabin cuman berdua sama Kattie. Nah kalau dia dikasih privillage karena sepanjang perjalanan dia bantuin Damon jadi asisten tour guide. Jadilah saya dan Kattie berdua satu kabin. Sementara peserta yang lain tidur di satu kamar yang seperti kamar asrama dengan tempat tidur besi bertingkat dan berjejer di satu ruangan besar.

Di dalam kabin kita sempet ngobrol-ngobrol. Kattie berencana akan tinggal lebih lama di australia, dia mau cari kerja di Adelaide. Tiba-tiba saya jadi ingat lagu Adelaide Sky. Ach.. kenapa waktu saya di sana terbatas banget, kalau masih ada waktu lebih banyak saya juga mau ke Adelaide.

Selesai beres-beres dan lurusin badan sebentar, saya dan Kattie pergi ke dapur. Di sana peserta lain yang muda-muda lagi pada kumpul, ngobrol-ngobrol. Sementara Damon lagi sibuk di halaman, nyusun kayu bakar buat bikin api unggun. Kattie yang lihat si Damon gak bener-bener nyusun kayu bakarnya langsung turun tangan. Katanya kalo di kampung nya sana di Kanada mah semua orang pasti bisa bikin api unggun. Trus salah satu cowok dari belanda nanya ke Kattie, "is it true that Canadian are afraid of the dark ?"

Dalem hati saya mikir pasti tu cowo nonton di salah satu episode film seri how I met your mother. Seperti menyuarakan isi hati saya tiba-tiba saya denger Tara ngomong, "where did you hear that? how i met your mother?" 

Saya pun ngakak. 

Ya kalo dipikir-pikir emang potongan si kattie itu kayak Robin di film itu sih, gaya-gaya nya yang cuek, warna rambutnya, gaya ngomongnya. Mungkin itu tipikal kali ya. Sementara Tara yang cerewet nya beraksen inggris menjelaskan ke saya kalau aksen nya itu adalah aksen welsh, yang beda banget dari aksen british. Kalo Hugh Grant itu baru namanya british accent. Whatever lah, saya cuman manggut-manggut aja, gak ngerti bedanya dimana. 

Tara yang pke celana pendek jeans

Kabin pribadi saya dan Kattie yang atapnya hijau

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan tentang kangguru , malem itu para peserta tur yang berasal dari macem-macem negara semua duduk mengelilingi api unggun, bercerita tentang hal-hal khas yang menurut mereka cuman ada di negaranya. Saya duduk mendengarkan sambil memegang gelas kopi saya, sementara yang lain sudah ngabisin berapa kaleng bir. Kita masih ngobrol-ngobrol waktu Damon mengingatkan kalo sebentar lagi udah pagi dan kita musti tidur soalnya agenda tur selanjutnya adalah mendaki gunung batu di Grampian yang katanya semacam Grand Canyon yang ada di Australia. (yang akan saya ceritain juga di postingan yang lain khusus tentang itu yaa)

Treking di Grampian

Ternyata bukan cuman saya yang kesulitan mengingat dan mengucapkan nama-nama orang-orang eropa yang susah-susah itu, Damon si tour guide ternyata kesulitan mengeja nama saya yang tertulis di list peserta nya : Djamila. 

"How to say your name?"

"Just call me Mila."

"Me - what?"

"Mila. Like movie star Mila Kunis."

Sejenak si Damon agak bingung, terus nanya siapa itu Mila Kunis. Terus dijelasin sama Kattie, si Mila Kunis yang maen film apa aja. Akhirnya si Damon ngerti, malahan bilang kalo Mila Kunis agak-agak mirip juga potongannya sama saya. Saya mah ge-er aja dibilang mirip Mila Kunis, tapi sadar diri juga lah kalo gak ada mirip-miripnya. Mungkin si Damon ngebayangin Kunis yang salah. Tapi semenjak itu dia jadi bisa manggil dan ngabsen saya sih. 


Rabu, 26 Juni 2013

Berburu Koala dan Kangguru

Koala dan Kangguru adalah salah dua dari ratusan spesies fauna yang hanya ada di Benua Australia. Dua hewan ini populer karena keimutan parasnya. Koala yang berbulu, chubby, berwajah lugu dan Kangguru yang manis nya melompat-lompat dengan kantong di depan tubuhnya berisi anak kangguru kecil yang lagi mengintip. Bayanginnya aja udah gemes-gemes gimana gitu.

Sudah pasti lah kalau ke Australia ga melihat dengan mata kepala sendiri dua hewan ikonik itu ya pasti gak afdol. Tapi saya gak mau cuman liat dan foto bareng di kebun binatang. Saya pengen lihat Koala dan Kangguru yang hidup bebas dihabitatnya, bukan di kandangin. Setelah mengumpulkan data-data dari hasil browsing dan dari buku panduan Lonely Planet, saya memutuskan akan memburu Koala dan Kangguru ketika saya pergi ke Great Ocean Road karena menurut berbagai sumber di sepanjang jalan itu kalau beruntung kita bisa melihat sendiri Koala dan Kangguru berkeliaran bebas. Saya harap saya lagi beruntung aja sih.

Saat itu saya belum memutuskan pakai metode apa untuk trip Great Ocean Road nya, mau ngeteng atau ikut tur. Saya baru memutuskan akan ikut tur ketika saya sudah sampai di Melbourne dan membajak leptop cipu untuk booking tur itu. Dalam itinerary nya, dalam 2 hari ke Great Ocean Road dan Grampian itu jelas-jelas ditulis termasuk melihat kehidupan satwa liar khas Australia seperti Kangguru dan Koala. Saya pun langsung memutuskan mem-booking tur itu.

Great Ocean Road itu adalah nama ruas jalan yang membentang di pinggir south-eastern coast Australia - jadi sebelah pemandangannya laut, sebelah lagi pemandangannya gunung. Ketika sedang melintas di Great Ocean Road, minivan yang digunakan untuk tur membelok ke suatu tempat mirip kebun raya gitu, banyak pohon-pohon (yang sepertinya) adalah eucalyptus. Peserta tur di turunin disitu dan dibebasin menjelajah mencari Koala-Koala.

Saat itu saya sudah punya temen, baru kenalan di dalam mobil itu, seorang cewek Irlandia yang kira-kira umurnya sepantaran saya bernama Elaine. Saya dan Elain berdua masuk ke sela-sela pohon eucalyptus sambil cari-cari Koala di atas pohon. Jadi Koala itu gak jalan-jalan, kebanyakan waktu dalam hidupnya digunakan buat tidur dan bengong. Itu untuk menghemat energi supaya bisa survive di lingkungan hidup Australia yang ganas. Konon katanya otaknya Koala itu juga kecil sekali jika dibandingkan dengan ukuran kepalanya, itu juga salah satu keuntungan fisiologis dari koala, karena otaknya kecil gak banyak energi terbuang untuk kerja otaknya. Ya jadi seumur hidupnya dia cuman ngunyah-ngunyah daun eucalyptus, bengong, tidur diatas pohon. 

Nyari nya ternyata ya gampang-gampang susah. Liat pantat nya koala aja dari bawah itu sudah merasa beruntung sekali.

Pantat Koala

Pantat Koala

Pantat Koala

Nah ini lumayan dah ada mukanya
Walaupun gak ada foto berdampingan sama Koala tapi saya puas banget bisa lihat pantat Koala yang bebas di habitatnya. Dan selama trip saya di Australia selama 2 minggu itu saya sama sekali gak masuk ke dalam kebun binatangnya, ada sih di list saya tapi bukan prioritas utama. Selain waktu nya yang sempit sekali, sayang uang buat beli tiket masuknya juga.

Selain Koala, di tempat itu juga banyak burung-burung tapi tidak ada Kangguru. Malam-malam ketika saya sedang tertidur di mobil tiba-tiba Elaine membangunkan saya, sebagian peserta ada yang sudah pada turun.

"Damon melihat Kangguru menyebrang jalan," kata Elaine. Damon adalah Tour Guide yang juga menyetir mobil tur kita.

Saya pun loncat turun mengikuti arah Damon dan beberapa peserta berjalan, berusaha memicing kan mata berharap lampu senter yang dibawa Damon cukup terang untuk mencari Kangguru di tengah gelapnya malam. Tidak lama kita semua kembali naik ke atas mobil lagi, tidak berhasil melihat Kangguru. Di atas mobil Damon pun menghibur dengan bilang kalau besok kita akan diajak lihat Kangguru yang banyak.

Malam itu kami menginap di suatu kabin kayu di tengah hutan yang berlokasi di Grampian. Acara malam itu adalah bincang-bincang di pinggir api unggun sambil bakar marshmallow dibawah langit yang bintangnya banyak banget. Seumur hidup saya baru kali itu lihat bintang sebanyak itu dan baru pertama kali makan marshmallow yang dibakar di api unggun kayak yang sering saya tonton di film-film gitu. Biasanya kalo saya sih yang dibakar di api gitu singkong, bukan marshmallow.

Waktu lagi ngobrol-ngobrol, tiba-tiba Tara - seorang cewe Inggris tiba-tiba berteriak sambil menunjuk-nunjuk. Kita semua pun menengok ke arah yang ditunjuknya, seekor kangguru melompat-lompat melewati kita disusul beberapa ekor kangguru lagi di belakangnya. Tadi kita cari-cari tu Kangguru, pas kita gak nyari mereka enak aja gitu lewat-lewat gak pake permisi.

Kalau di Indonesia tuh Kangguru lompat-lompat malem-malem pasti bakal balapan sama pocong.

Saya pernah baca, ada alasannya kenapa Kangguru di benua australia itu melompat-lompat instead of berlari. Itu karena dengan melompat, energi seorang Kangguru untuk melintasi daerah di australia yang kebanyakan dataran rendah itu lebih efisien daripada kalau dia berlari. Sekali melompatnya Kangguru itu setara dengan beberapa langkah seekor kuda. 

Sesuai janji Damon, keesokan harinya setelah mendaki gunung batu Grampian kita diajak melihat Kangguru yang banyaaaaakkkk bangeeetttt lagi merumput.

Kangguru






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...