Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bromo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bromo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 April 2010

Hidup ini adalah Perjuangan, Bung!

Berikut ini kisah Perjuangan Kakek, Nenek & Si Janggut dalam Menaklukan Bromo, lengkap dengan skrinsyut nya sehingga secara ekspresif menggambarkan kondisi dan situasi saat itu. Karena ini adalah kisah perjuangan, jadi jangan ada yang protes kalo di posting-an ini banyak kata-kata perjuangannya. Sebelumnya diinformasikan bahwa ini adalah kisah nyata *se-nyata-nyata-nya*.

Perjuangan pertama kita adalah melawan kantuk pukul 4 dini hari. Diikuti dengan perjuangan menyentuh air yang dingin kayak es batu untuk cuci muka. Sambil berjuang melawan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang (mulai lebay), kita memulai tur dengan Jeep Mas T 1 YO ke Pananjakan untuk menyaksikan Sunrise.

Dalam kegelapan kita berjuang berjalan kaki sejauh kurang lebih 400 meter di jalanan yang menanjak hingga akhirnya tiba di gerbang Pananjakan yang ternyata sudah penuh sesak dengan orang. Melalui perjuangan menyisip-nyisip demi mendapatkan view yang tidak terhalang kepala-kepala orang, akhirnya saya dan kakek menemukan spot di tepi jurang yang tidak berpagar, sementara itu si janggut udah tepar entah dimana gara-gara jalan kaki 400 meter sembari mulut nya ga brenti menyinggung-nyinggung "ojek gendong".


Dengan khidmat saya dan kakek menyaksikan Sunrise, walaupun tertutup oleh awan dan pucuk pohon cemara. Itu pun dengan penuh perjuangan mempertahankan posisi agar tidak terdorong-dorong oleh rombongan pengunjung yang rusuh di belakang kita. Perjuangan kali ini adalah perjuangan antara hidup dan mati, soalnya kalau sampai terdorong akibatnya ya nyusruk ke jurang dan bye bye dunia fana....

Tidak puas dengan Sunrise yang tertutup awan (tapi tetap puas foto-foto), kita pun kembali ke Jeep Mas T 1 YO. Pemandangan spektakuler persis kayak di pelem-pelem saya saksikan melalui kaca jeep tersebut. Kadang sedikit ngeri ketika Jeep melewati jalan kecil di tepi tebing yang curam dan merasa kereeeeen abissss ketika menyebrangi Padang savana menuju ke Bromo. Seperti yang pernah saya sebut sebelumnya, persis kayak lagi ikut Rally Paris-Dakkar.



Tiba di kaki gunung Bromo, kita pun turun dari jeep dengan penuh sukacita. Mempersiapkan paru-paru untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya..... Hhhmmm.... kog malah yang terhirup bau kotoran kuda.. Yah.. tapi ga pa pa lah.. setidaknya udara nya sejuk dan pemandangannya cocok banget buat foto-foto.



Puas-puaskanlah berfoto narsis dengan penuh keceriaan sebelum memulai perjuangan berat mendaki Bromo.

Siapkan fisik dan mental sebelum memulai pendakian. Yang paling penting adalah siapkan tenaga. Luangkan waktu untuk sarapan. Lebih bagus kalau sudah prepare bekal, tapi kalau tidak pun banyak warung-warung yang menjual makanan.

Jangan terpaku dengan sulitnya medan yang dilalui, usahakan sebisa mungkin tetap menikmati pemandangan yang indah di sekeliling kita. Namun tetap waspada dan jangan lengah dengan ranjau-ranjau yang berserakan di sepanjang jalan.

Hematlah nafas anda. Salah satu caranya adalah dengan TIDAK sambil menertawakan rekan anda yang kepayahan saat mendaki. Pada akhirnya anda sendiri lah yang akan kehabisan nafas karena kebanyakan ketawa. Jangan dipaksakan jika anda merasa sudah tidak kuat.

Beristirahatlah.......
Beli minum dulu sambil makan kacang. Ada beberapa penjual minuman yang menggelar dagangannya di sepanjang jalan menuju kawah. Nikmati saja suasananya.....
Kalau perlu sambil tidur dulu.

Yang penting.. jangan lupa untuk tetap terlihat se "semangat" mungkin dan se "optimis" mungkin walopun hidung tampak kembang kempis gara-gara napas tinggal senen kemis...

Masih belum kuat juga?
Kalau tidak kuat berjalan kaki, anda bisa menyewa Kuda. Dengan syarat, kuda nya mau di tunggangi oleh anda.
Para kuda akan menjauh dari anda apabila anda bergaya seperti kuda, karena si kuda asli akan merasa tersaingi.

Bagian tersulit dan terakhir dari rangkaian perjuangan ini, adalah mendaki tangga jahanam. pertahankan kecepatan konstan dan jangan paksakan apabila sudah tidak sanggup. Berhentilah untuk mengatur napas dan jangan hiraukan ledekan orang-orang yang sedang menuruni tangga dari arah sebaliknya.

Yakinlah.. bahwa orang-orang yang menggoda anda, sebelumnya juga mengalami hampir kehabisan napas akibat menapaki anak-anak tangga jahanam yang rasanya seperti ga ada abis-abisnya itu. Tetap semangat dan camkan di pikiran anda bahwa Puncak Bromo sudah tinggal beberapa langkah lagi.

Walaupun babak belur dan kehabisan napas, tapi perasaan telah menaklukan puncak gunung dengan penuh perjuangan segera menghapus rasa lelah itu.

Berfotolah dengan penuh kebanggaan dan kemenangan di tepi kawah Bromo *yang bau belerangnya sampe bikin pusing*




Rabu, 07 April 2010

Kakek & Nenek Menaklukan Bromo Feat. The Janggut

Dalam cuaca yang tak menentu, melalui perjalanan panjang berliku, mendaki gunung dan melewati lembah. Menyusuri setiap jengkal desa Cemoro Lawang demi menemukan tempat berlindung di tengah kehiruk pikukan Long Wiken. Untuk kemudian beristirahat semalam dan memulai dini hari yang dingin berkabut, menyusuri jalan terjal dalam kegelapan menuju Pananjakan untuk melihat sunrise *bukan sunset*. Menyusuri Padang savana dan lautan pasir Bromo diatas Jeep 4WD. Berjuang memanjat tebing dan tangga yang curam demi mencapai puncak. Hingga akhirnya Kakek & Nenek Kere featuring The Janggut (yang juga kere) BERHASIL menaklukan Bromo.

1. Menuju Bromo

Dari Bandara Djuanda - Surabaya, saya dan si kakek yang berbaju hitam *bukan abu-abu* memulai perjalanan dengan Bus Damri menuju Terminal Bungurasih, dimana kita akan bertemu The Janggut- Special Guest Star. Setelah tanya sana sini, si kakek memilih rute menuju Bromo melalui Probolinggo.

Secara saya disorientasi ya saya mah ngikut aja, walaupun kenyataannya si kakek juga ternyata dengan bangganya meng-klaim kalau "nyasar" adalah nama tengah nya. Kalaupun akhirnya kita bisa tiba di Bromo, itu semua adalah kuasa Tuhan. Special Guest Star kita juga tampaknya meragukan, secara di Terminal Bungurasih aja nyasar2 *menghela nafas*.

Dari Probolinggo, kita tinggal naik mobil angkutan ELF langsung ke Desa Cemoro Lawang, di Bromo situ. Turun dari bus juga banyak kog yang nawar-nawarin.

Damri Bandara Djuanda - Terminal Bungurasih : IDR 15.000
Tiket Peron : IDR 200
Bus AC Terminal Bungurasih - Probolinggo : IDR 23.000
ELF Probolinggo - Bromo (Cemara Lawang) : IDR 25.000

2. Penginapan

Beginilah kalimat si kakek sewaktu kita merencanakan perjalan,"ga usah khawatir, disana banyak penginapan kog..rumah-rumah penduduk di sewa-sewa-in (baca.guesthouse)"
Memang siy disepanjang jalan di Desa Cemoro Lawang itu berderet penginapan dan guest house. Tapi karena long wiken jadi penuh semua... Untungnya supir ELF kita berbaik hati mengantarkan kita (beserta penumpang lain yang adalah turis asing) mencari penginapan.

Akhirnya kita dapat penginapan paliiiiiing ujung, bentuknya cottage bernama Bromo Permai. Kebetulan tinggal sisa 3 kamar Ekonomi (utk 3pax, no breakfast, no hot water & kamar mandi luar), pas untuk kita dan turis-turis asing itu. Tadinya kita pikir harganya bakal mahal eh ternyata murah.

Penginapan IDR 110.000/kamar = IDR 37.000/pax.

Dengan langkah bahagia kita berjalan di taman yang indah, menuju arah yang ditunjukkan petugas hotel. Dari depan kamar itu kita bisa langsung melihat pemandangan gunung Bromo yang mengeluarkan asap putih.. indah sekali... Sembari membayangkan duduk di terasnya dan menikmati pemandangan, kami menebak-nebak.. Hmmm.. kamar kita yang mana ya?

Oh oh oh... itu petugas hotel berdiri di samping kamar pas banget di depan taman. Kita segera bergegas mendekati Petugas itu ternyata jari nya menunjuk ke lorong di belakang kamar yang kita sangka akan jadi kamar kita *ge-er-an*.

"Di belakang" kata petugas itu.


3. Jeep Mas T 1 YO

Pukul 3 subuh kita di bangunkan oleh gedoran di kamar. Tapi dasar pada turunan kebo semua, jam 4 baru kita keluar kamar. Setelah sedikit PeDeKaTe sama sepasang suami-istri asal sidoarjo, kita mengajak mereka untuk bareng men-charter Jeep. Hampir aja kita kehabisan jeep dari hotel karena tidak booking dulu malam sebelumnya, untungnya disaat kita sedang gundah Mas T1YO datang menawarkan Jeep-nya.

Charter Jeep IDR 300.000 per mobil, dengan rute: Pananjakan - melintas padang savana - Bromo - kembali ke Hotel. Rasanya nyaris seperti sedang Rally Paris Dakkar (eeeng... kayaknya siy.. soalnya belom pernah ngerasain juga).

Harga sewa Jeep (Lima Orang) = IDR 60.000 per orang




4. Total Budget

Not Include: Tiket Pesawat, makan, minum, oleh-oleh, ngasih pengamen, dan pengeluaran tak terduga lain.

IDR 223.400 per orang

Huhuuuy... menyenangkan....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...