Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Pulau Komodo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Pulau Komodo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2014

Kindness of Strangers

Kadang kita takut untuk pergi jauh dari lingkungan hidup kita sehari-hari karena khawatir bahwa dunia di "luar sana" adalah dunia yang kejam. Tapi buat saya ga selalu begitu. Ketika saya traveling saya selalu menemukan banyak orang  baik bertebaran dimana-mana, itu semakin membuat saya optimis dalam memandang dunia ini. 

Pengalaman saya selama traveling selalu positif, orang-orang yang saya temui di jalan kebanyakan adalah orang yang ramah dan baik. Malahan selama ini saya ga pernah (dan jangan sampe) kena modus scam atau ditipu. Kalau soal modus penipuan atau scam memang kebanyakan saya riset dulu sebelum pergi ke suatu tempat dan sebisa mungkin menjauhi tempat-tempat nya. Kalau memang tempat yang mau saya datangi itu yang banyak modus scam nya, ya saya waspada tingkat tinggi dan berusaha supaya ga narik perhatian - usaha yang ga gitu susah dengan ukuran badan segede saya gini sih. 

Sering juga saya dapet "peringatan" mengenai modus scam dari ngobrol-ngobrol sesama turis atau traveler atau backpacker atau whatever yang saya temui di jalan. Agak aneh juga kalau lagi jalan-jalan trus ketemu sesama pelancong walaupun dari beda negara, bahkan seringkali ga tukeran nama, tapi kita bisa ngobrol banyak. Tukeran informasi tempat yang sudah dan akan dikunjungi, tempat makan, sampai modus scam. Beberapa kali saya ngalamin kayak gitu, malahan di Bangkok saya sempat dapat lungsuran buku guide tentang thailand dari cowo bule agak tua yang ngobrol sama saya pas sarapan di hostel di hari pertama saya dan hari terakhirnya dia, trus dia mewariskan buku guide nya yang tebel tapi udah lusuh kumel karena di abuse selama hampir 3 bulan di Thailand. Sampai sekarang masih saya simpen.

Menemukan kebaikan hati orang yang ga kita kenal di tempat  yang asing itulah yang buat saya pengalaman paling berharga. Buat saya tingkat tertinggi dari tolong-menolong adalah yang tulus dan tanpa pamrih, satu tingkat lebih tinggi dari itu adalah tolong-menolong sesama orang yang kita ga kenal sebelumnya. Kita berbuat baik karena kita ingin berbuat baik, bukan karena orang itu adalah kawan kita atau bukan karena suatu saat kita mengharapkan kalau kita susah orang itu bakal bales nolongin kita juga karena belum tentu kita bakal ketemu lagi. 

Suatu saat ketika saya lagi bingung di pinggir jalan kota Bangkok, lagi mikir gimana caranya nyebrangin jalan dan lagi nunggu orang lokal yang nyebrang supaya saya bisa mencontoh tiba-tiba lewat di depan saya cewe bule yang nanya. "mau nyebrang jalan?".

Saya mengangguk.

Kemudian cewe itu menjelaskan, "kamu jalan dulu ke arah sana terus nyebrang di lampu merah di bawah jembatan, balik lagi ke arah di depan sana. Tadi juga saya bingung cari jalan nyebrangnya." Dan cewe itu langsung berlalu setelah saya mengucapkan terima kasih.

Sebelum saya ke Timor Leste saya ngobrol sama salah satu temen kuliah saya dulu, pas itu saya cerita kalau sebulan lagi saya mau jalan-jalan ke Timor Leste. Kemudian temen kuliah saya itu bilang kalau dia punya temen orang Dili, dulu temen satu kos di Bandung. Namanya Livio Jesus Amaral de Oliveira, panggilannya Kiko. Saya diberi nomor kontak Whatsapp nya dan beberapa hari sebelum saya ke Dili saya menghubungi nya. 

Kiko itu baik banget, pas saya sampe ke Dili saya langsung di jemput di bandara dan hotel yang sudah saya booking ga jadi ditempati karena Kiko menawarkan untuk menginap di rumahnya. Dari kantornya dia terus memantau, saya ada dimana atau apakah saya nyasar, "kalau nyasar nanti bilang aja, aku jemput," katanya. 

Tuan Rumah di Dili yang namanya kayak pemeran telenovela

Di Pink Beach Pulau Komodo, ketika saya, Pagit dan Mba Efa sedang menikmati makan siang di atas kapal sebelum kapal kita menempuh perjalanan 4 jam kembali ke Labuan Bajo, kita di samperin sama salah satu orang dari kapal lain yang lagi bawa rombongan turis dari Bali. Perjalanan mereka berhari-hari dari Bali ke Pulau Komodo, bermalam di kapal dan berhenti di beberapa tempat yang dilalui sepanjang perjalanan. Tapi baru setengah perjalanan ada seorang perempuan bule yang sakit demam, ga mungkin nunggu beberapa hari lagi sampai mereka kembali tiba di bali, jadi orang itu minta ijin supaya penumpangnya boleh numpang kapal kita bertiga sampai Labuan Bajo.

Kita bertiga pun langsung memperbolehkan perempuan itu - ditemani sama pacar cowo nya, pindah ke kapal kita bersama barang bawaan mereka yang segambreng sampai di Labuan Bajo. Malahan kita sempat bawa mereka ke hotel tempat kita nginap karena mereka sama sekali ga ada persiapan mau terdampat di kampung kecil kayak Labuan Bajo. Beruntung mereka ketemu kita bertiga yang booking satu kapal, kalau mereka ketemunya sama kapal tur yang ada pemandunya pasti mereka bakal disuruh bayar mahal buat numpang ke Labuan Bajo. 

Buat Pagit, balasan datangnya ga lama. 

Lunch di atas kapal
Keesokannya saya, Pagit dan Mba Efa pergi ke air terjun. Kita jalan kaki lebih dari 5 km dari kampung terdekat menuju ke air terjun, menembus hutan belukar yang masih alami. Perjalanan pergi sih lumayan karena jalanan menurun, dalam hati saya udah mulai mikir ini jalan pulangnya pasti berat banget. 5 kilometer jalan menanjak di lumpur-lumpur. Mantap.

Sebelum masuk ke dalam hutan kita ketemu sama gerombolan bapak-bapak yang sedang mengatur napas nya. Mereka naik mobil 4WD ban gede yang bisa tembus jalanan Off-Road, ada 2 mobil. Melihat kita bertiga, cewe-cewe, dengan 2 orang pemandu orang lokal, bapak-bapak itu memberi semangat ke kita dengan berkata bahwa bagaimanapun perjalanan yang kita tempuh itu worth it karena air terjun nya memang indah luar biasa.

Air terjunnya memang indah luar biasa.

Perjalanan pulangnya juga luar biasa. Awalnya kita harus keluar dari hutan itu dengan posisi nyaris merayap karena jalan nya terjal. Keluar dari hutan kita masih harus jalan menanjak di tanah berlumpur, sampai ke kampung cuncawulang. Beberapa ratus meter berjalan, pagit sudah kepayahan jalan paling belakang sambil setengah sadar meracau, "Coca Cola Dingin... Coca Cola Dingin...".

Pemandu kita, seorang anak muda kurus tinggi penyabar dari kampung cuncawulang berusaha menghibur pagit, "iya sabar, nanti kalau udah sampai di warung ya, kakak."

Tapi pagit terus saja merapal , "Coca Cola Dingin.. Coca Cola Dingin..." seolah-olah itua dalah mantra yang menguatkan langkah nya yang tertatih. 

Tiba-tiba di kejauhan saya melihat dua mobil off-road milik gerombolan bapak-bapak terparkir di pinggir jalan lumpur. Saya segera menghampiri dan sok akrab ngajak ngobrol salah satu bapak yang kurus kecil.

"Kenapa, pak mobilnya?" tanya saya.

"Yang satu pecah ban," katanya sambil menunjuk salah satu mobil yang sedang di dongkrak, salah satu ban nya lagi dalam proses dilepasin,"ban  nya mau dibawa ke kota, mau dibenerin dulu."

"Oooo..." jawab saya.

"Kalian dari mana?" tanya bapak itu.

"Kita dari Jakarta, Pak. Jalan-jalan kesini," jawab saya, "Bapak rombongan darimana?"

"Kita dari Bandung." kata bapak itu.

"Naik mobil dari Bandung sampai ke sini,pak?" tanya saya takjub.

"Iya. kita dari Geologi..." bapak itu mejelaskan.

Tiba-tiba entah darimana Pagit menyeruak masuk ke pembicaraan kita.

"Bapak dari Geologi? Bandung? kenal ibu A (pagit nyebut salah satu nama yang saya luap)?" 

"Kenal lah." kata bapak itu.

"Saya ini keponakannya, pak," kata pagit dengan intonasi seperti di sinetron-sinetron disaat seorang anak yang sudah bertahun-tahun hilang menemukan kembali jejak ibu kandungnya : saya ini anaknya, pak.

Tapi rupanya ban pecah itu, bapak-bapak dari Bandung yang sedang meneliti struktur batuan di air terjun itu, bapak-bapak dari Bandung yang kerja bareng tantenya Pagit itu, adalah semacam oase di padang pasir bagi pagit, bantuan yang dikirimkan Tuhan buat Pagit. Tidak lama Pagit sudah ada di salah satu mobil yang akan membawa ban pecah untuk diperbaiki ke kota, Pagit di antar sampai ke warung di kampung cuncawulang.

Cerita lebih lengkapnya dari sudut pandang Pagit langsung di cekidot disini:

Saya optimis bahwa diantara segelintir orang jahat, maniak, psikopat, pembunuh berantai, koruptor di dunia ini, masih lebih banyak orang yang baik. 

Rabu, 18 Desember 2013

Berburu ( Tur ) Komodo

Sebelumnya saya sudah cerita kalau misi saya, Pagit dan Mba Efa melihat Komodo dan Pink Beach sudah terlaksana dengan sukses, yang belum saya ceritakan adalah suka duka mencari tur yang murah yang sesuai dengan kantong kita-kita.

Saya juga sudah ceritakan sekilas tentang riset singkat saya sebelum berangkat menelpon Pak Hans dari salah satu agen tur yang menyediakan fasilitas ke Pulau Komodo. Melalui telepon Pak Hans sempat menjelas secara singkat mengenai jenis-jenis tur yang ditawarkan, ada tur 1 hari ke Pulau Komodo dan Pink Beach, dan ada tur 2 hari ke Pulau Komodo, Pink Beach, menginap di kapal atau di pulau seraya, ke Pulau yang banyak kelelawarnya dan terakhir ke pulau rinca. Tapi waktu itu saya hanya tanya-tanya aja dan bilang ke Pak Hans itu kalau nanti kita akan langsung berkunjung ke kantor tur nya ketika kita tiba di Labuan Bajo. Rencana kita (saya, mba efa dan pagit) mau langsung membandingkan dan kalau bisa memodifikasi sendiri perjalanan kita ke pulau komodo itu.

Saya sempat cerita juga sebelumnya, bahwa dihari  kita mendarat di Labuan Bajo takdir mempertemukan kita dengan Wawan yang mengantarkan kita dari bandara ke Labuan Bajo dengan tarif 50 ribu rupiah setelah melalui proses tawar menawar yang sadis oleh Pagit. 

Di hotel Gardenia yang berbukit-bukit itu di meja resepsionis saya kenalan sama seorang guide yang lagi bawa tamu orang asing, dia menawarkan trip ke Pulau Komodo untuk 2 hari. Jadi prinsipnya ikut tur ke pulau disini adalah semakin banyak peserta maka biaya per-orangnya jatuhnya lebih murah, jumlah yang wajar kalau menurut saya sih melihat besar rata-rata kapal disana maksimal 7 orang udah sumpek sih. Si guide itu sudah ada 2 peserta yang mau ikut tur untuk keesokan harinya, jadi kalau tambah kita 3 orang, total 5 orang - jadi untuk trip 2 hari (menginap di kapal) biaya per-orang nya hanya 500 ribu-an. 

500 ribu untuk 2 hari jauh lebih murah dari pada biaya yang ditawarkan oleh Pak Hans, yaitu 800 ribu-an per orang untuk trip yang satu hari. Saya dan guide itu pun tukeran nomor henpon dan saya berjanji akan mengabari nya lagi sebelum matahari terbenam.

Ternyata kakak sepupu nya Wawan punya usaha tur juga. Kakak sepupu nya Wawan saat itu tidak ada di Labuan Bajo karena lagi ada pameran di Jakarta. Tapi kita akhirnya berkesempatan ketemu kakak nya Wawan - si pengusaha tur Labuan Bajo yang sukses itu, di bandara waktu kita mau pulang. Karena pesawat kita delay kita ngopi-ngopi di kantin bandara di temani wawan dan kakak sepupu nya itu. Pas lagi ngopi-ngopi tiba-tiba ada satu laki-laki flores datang memanggil Mba Efa, ternyata dia pria yang kita ketemu di pink beach yang nyuruh saya buka kacamata hitam untuk melihat warna pink pasirnya dan langsung aja ikut nimbrung ngobrol sama kita.  

Kita pun dibawa ke kantor agen tur kakak nya itu dan dikenalkan dengan kawan nya bernama James yang kerja disitu. James juga menawarkan kita trip 2 hari bergabung dengan 2 orang lain yang sudah mendaftar. Tapi kita hanya punya waktu sebentar di Labuan Bajo, jadi kita hanya mau trip ke pulau 1 hari sedangkan 1 hari lagi kita mau trip di darat, lihat gua dan air terjun yang kita lihat di brosur di hotel - keren banget. 

Akhirnya kita minta James mencarikan kita kapal yang bisa di charter sehari, ketika ditanyakan ternyata harganya 1,5 juta satu kapal per-hari (tujuan terserah kita) tapi kita dapat makan siang di atas kapal, dapat kopi/teh pagi-pagi dan air mineral sepuasnya. Untuk trip satu hari itu, karena kita hanya bertiga, jatuhnya jadi sama kayak trip 2 hari berlima, yaitu 500 ribu per pax.

"Kita pikir-pikir dulu deh James," kita mau berunding dulu ambil trip 2 hari atau trip 1 hari mengingat harga per orangnya yang sama dan mempertimbangkan kunjungan ke air terjun, "nanti sore kita kabarin lagi".

Kita masih punya satu alternatif, mengunjungi Pak Hans.

Kita tiba di depan agen tur Pak Hans, dekorasi kantor nya mencolok banget, dari kayu-kayu dan beratap daun kelapa kering. Sepertinya kantor turnya merangkap cafe dan tempat nongkrong turis-turis bule. Pak Hans sendiri ternyata orang asli Belanda yang sudah tinggal di Labuan Bajo selama 20 tahun dan sudah fasih berbahasa Indonesia walau kadang masih mikir-mikir untuk mencari padanan kata yang sesuai.

Pak Hans langsung membuka peta flores di meja di hadapan kita bertiga dan menjelaskan rute trip nya dengan menunjuknya langsung diatas peta. Dari penjelasan Pak Hans itu saya baru mengerti tata letak kepulauan komodo, apa saja yang bisa kita liat dan kita lakukan disana. Sebelum pergi kan saya minim riset, jadi tiba di Labuan Bajo bener-bener masih gelap tentang apa yang mau dilakuin disana. Pokoknya tujuan saya cuman mau liat komodo aja, ternyata banyak banget hal yang menarik selain komodo yang  bisa dijelajahin mulai dari laut sekitar Labuan Bajo sampai ke kepulauan komodo itu. 

Setelah kita mengutarakan keinginan kita untuk hanya sehari trip aja dia merekomendasikan untuk ke Pulau Komodo, lanjut ke Pink Beach, kemudian mampir di suatu teluk dekat situ dimana kita bisa snorkeling bersama Manta (semacam ikan pari tapi gak galak). Kalau kita mau rute itu ada satu orang bule yang lagi nunggu mau join. Biaya sewa kapal ternyata sudah standard di kalangan agen-agen tur itu, mungkin aja bisa dapat lebih murah kalau kita cari langsung ke dermaga, tapi kita sudah tidak punya waktu untuk itu. Yang mahal adalah biaya snorkeling bersama manta itu, karena harus bayar entrance fee ke pengelola konservasi itu 100 dollar per-orang. 

Kita bertiga membelalak.

Melihat tampang kita bertiga yang stress, Pak Hans mulai ngitung-ngitung lagi kemudian dia menawarkan solusi. "oke, buat kalian bertiga saya beri keringanan untuk biaya masuk manta itu, nanti bisa saya atur." Tapi biayanya paling sedikit sekitar 700 ribu per orang dan itu gak termasuk makan siang di kapal.

Beberapa alternatif ini membuat kita bertiga galau. Tiap alternatif punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua menarik dan semuanya sebenarnya mepet sama budget kita yang miris ini. Akhirnya setelah melalui diskusi panjang, kita bertiga mufakat kalau kita akan sewa kapal + makan siang melalui James. Saya pun menelpon guide yang saya temui di Hotel Gardenia untuk memberi tahu kita tidak ikut trip dua hari itu. Kemudian menelpon Pak Hans untuk memberi tahu kita tidak jadi ambil trip sehari yang include berenang sama manta ray itu. Setelah menutup telepon Pak Hans sebenarnya hati saya merintih sedih, saya mau berenang sama Manta Ray hiks hiks....

Sementara Pagit menelpon James yang segera mengurus keberangkatan kita untuk keesokan subuhnya termasuk mencarikan kita seperangkat google dan kaki katak untuk snorkeling. Transaksi pembayaran dilakukan saat kita makan malam di warung kaki lima pinggir laut. 

"Besok subuh jam 4 saya jemput di hotel ya, kak." seru James sebelum pergi meninggalkan kita malam itu.


Musyawarah di depan warung yang kayak seven eleven-nya labuan bajo

James di depan kantor tur nya

Rabu, 02 Oktober 2013

Pink Beach, Translucent Sea. Pink Heart, Translucent Emotion

Komodo Dragon bukan satu-satu nya hal langka yang ada di Pulau Komodo. Pink Beach yang juga terletak di pulau itu merupakan salah satu dari (hanya) 7 pink beach yang ada di seluruh dunia. Matahari tepat berada di atas kepala ketika saya menginjakan kaki di pantai ini, mengenakan kacamata hitam karena cerahnya langit menyilaukan mata. 

Dua orang laki-laki sedang duduk di bawah pohon, salah satunya berteriak ke saya, mba efa dan pagit yang sedang berjalan di pasir yang hangat,"keliatan gak warna pinknya?"

Terus terang waktu itu saya kurang memperhatikan pasir yang saya injak-injak itu.

"Buka dulu kacamata nya," laki-laki itu berseru lagi.

Saya pun segera membuka kacamata dan melihat kebawah, ke butiran pasir lembut yang mengerubungi telapak kaki saya. Awalnya saya agak kurang yakin dan berpikir itu hanya pantulan cahaya. Saya berlutut mendekatkan wajah saya hingga hanya sejengkal di atas hamparan pasir. 

Pink!

Bukan hanya pantulan, tapi warna pasirnya memang terlihat bertaburan pink. Mirip seperti bubuk detergen yang bertaburan butiran konsentrat. 

"Pasir nya Piiiiink !!!" saya berteriak-teriak kegirangan, ada sesuatu yang membuncah dari dada ini. Selama ini saya sering  browsing-browsing mengenai pink beach, setidaknya saya sudah antisipasi membayangkan (dari cerita orang-orang lain yang pernah kesini) bahwa pasirnya memang berwarna pink. Tapi menyaksikan sendiri rasanya berbeda dari hanya membayangkan dari cerita-cerita orang.

Saya pun berlarian, melompat-lompat, berteriak-teriak, tertawa diatas pasir yang bercampur dengan butiran pink yang berasal dari serpihan koral itu. Tiba-tiba panas yang tadi menyilaukan sudah tidak berasa lagi. Saya hanya merasa.... pink.... dan bahagia. Merasakan hal baru membuat saya sangat bahagia, membuat saya merasa hidup. Itulah yang membuat saya ingin terus pergi ke tempat yang baru, melihat sesuatu yang berbeda, experience new things. Memberi makna dalam hidup. 

Dengan banyak merasakan hal baru saya gak merasa hidup saya ini sia-sia walaupun hingga di usia saya ini 31 of my age, statusisasi saya masih jauh dari yang namanya kemapanan alias masih labil ekonomi. Dalam hal materi saya memang gak  belum punya apa-apa, tapi saya punya experience, saya pergi ke Labuan Bajo naik pesawat baling-baling, melihat komodo, merasakan pantai yang pasirnya pink, berenang di lautan yang airnya transparan, menyaksikan sendiri apa yang ada di dasar laut. 






Experience new things juga gak harus dengan traveling ke tempat yang jauh sih. Saya selalu seneng baca dan belajar hal baru - history, philosophy, music. Hal-hal simpel yang terjadi sehari-hari kalau kita bisa melihatnya sebagai suatu experience, bisa memberi warna beda dalam hidup juga. Kayak misalnya, hari Senin kemarin, I have a bad day..I have a bad day.... *nyanyi*

Berawal dari pagi hari, waktu mau masuk ke parkiran kantor saya baru sadar kalau saya gak bawa kartu parkir, jadi saya musti bayar parkir 3000 di jam pertama dan 2000/jam berikutnya. Nah kalau saya seharian di kantor, sekitar 10 jam gitu ya itung aja sendiri. Itu satu. 

Kemudian saya mau kirim surat ke luar kota, saya jalan kaki ke agen JNE terdekat dari kantor ternyata loketnya tutup, secarik kertas menempel di kaca loketnya - Libur sampai tanggal blablabla. Saya jalan lagi ke cabang kantor pos yang ada di gedung kantor sebelah gedung saya, ternyata masih tutup juga walopun itu udah jam 10. Karena itu surat urusan kerjaan penting banget harus dikirim secepatnya, saya akhirnya memutuskan pergi ke kantor pos cabang tebet naik mobil. 

Di kantor pos itu, waktu mau bayar mas-masnya nanya, "punya uang 500 ga mba?". Saya pun membuka bagian dompet saya tempat menyimpan uang receh dan lupa nutup lagi, pas saya kasih tuh logam ke mas-masnya uang-uang logam lain yang ada di dompet saya pun berjatuhan tumpah ruah berceceran ke seluruh penjuru kantor pos dengan bunyi yang rama berdentingan. 

Keanehan hari senin itu gak hanya sampai disitu aja. Sore hari nya saya baru sadar kalau seharian saya pakai baju terbalik, yang belakang di depan yang depan di belakang. 

Saya pun bingung harus nangis atau tertawa.

Experience new things gak selalu membuat bahagia dan tertawa, kadang hal baru itu membuat kita jadi mengenal yang namanya gagal, sakit hati dan menangis. Yang mana memang menyakitkan, tapi kan hanya orang yang hidup yang berasa sakit. Coba kalo orang mati, di cubit-cubit kayak apa tauk juga gak bakal ngerasa sakit. 

Makanya kalo lagi berasa sedih, saya gak berusaha melupakan kalau saya lagi sedih - buat apa? Kalau lagi sedih ya di rasakan lah kesedihan itu - experience. Bahkan walaupun saya terbangun dan merasa sangat sedih entah kenapa, ya saya jalanin aja hari itu sambil sedih walaupun muncul di kantor dengan tampilan berantakan dan muka bete. 

Nah kalo sekarang ini pas lagi nulis postingan ini mood saya lagi bagus, makanya jadi panjang lebar gak jelas begini. Kalo mood saya lagi jelek, mau pesen ketoprak aja males ngomong sama mas-masnya.

Dipikir-pikir, kalau saya ini adalah pantai mungkin saya bakal jadi pink beach. Saya punya hati yang pink dan romantic sampai-sampai bisa jatuh cinta sama seseorang, ngerasa berbunga-bunga, kemudian gagal, nangis-nangis berurai air mata dengan melankolisnya bersumpah gak akan jatuh cinta lagi dan memutuskan untuk hidup selibat. Tapi kemudian saya jatuh cinta lagi sama orang yang sama dan cycle itu kembali terulang, lagi dan lagi. Kalau emosi saya seperti air laut yang ada di pink beach, translucent sampai semua orang bisa melihat kedasarnya. Tapi dengan itu setidaknya saya memberi sinyal ke orang-orang kalau, "Hei, I'm alive and I'm not afraid to fly or to fall."

Senin, 02 September 2013

Weleh Weleh.... Si Komo

Langit biru cerah dengan sedikit sapuan awan putih lembut ketika perahu kami merapat ke dermaga Pulau Komodo. Setelah 4 jam perjalanan dari Labuan Bajo dengan perahu, menyusuri gugusan pulau-pulau indah di area kepulauan komodo akhirnya tiba juga saat yang sudah saya impikan sejak lama. Melihat Komodo secara langsung. Salah satu spesies hewan tertua yang hingga kini masih hidup di bumi ini. 

Saya, Pagit dan Mba Efa melompat dari perahu, menjejakan kaki-kaki mungil kita di atas titian kayu yang memanjang membentuk dermaga. Berjalan dengan riang gembira menuju pintu masuk area konservasi komodo. Tiba-tiba seekor Komodo muncul, menghadang jalan masuk dengan pandangan sinis yang bikin hati langsung ciut. Memberi makna baru yang lebih pas untuk kata "judes". 

Komodo memang hewan besar yang tidak banyak bergerak dan tampak malas-malasan, tapi menurut hasil browsing-browsing saya, kalau hewan buas ini sudah bergerak bisa cepat sekali. Dalam sekejap mata bisa-bisa kaki kita sudah hilang di gigit. Hewan ini juga jago berenang di laut. Sebelum kita berangkat ke Pulau Komodo Pagit bertanya apa kita bisa snorkeling di pulau komodo situ? Saya cuman bilang, ya boleh aja sih kalo mau balapan renang sama komodo. 

Di saat kita lagi ragu-ragu dan merasa terintimidasi oleh tatapan galak komodo betina itu munculah seorang ranger (pemandu yang sudah dilatih khusus untuk menghadapi komodo) dengan tongkat kayu yang ujungnya bercabang dua, mirip galah untuk memetik mangga di atas pohon. Cabang di ujung kayu itu berfungsi untuk menahan leher komodo supaya gak bisa menjilat. Jadi kalau anjing kan kalau menjilat-jilat majikannya itu tandanya sayang, nah jangan di samakan sama komodo ya. Soalnya kalau sampai kena jilatan komodo itu bisa fatal banget, gak bisa cuman di basuh tanah 7 kali, malahan kalau dalam waktu 4 jam gak dapet pertolongan khusus kita bisa mati kena racun yang ada di lidahnya itu.

Ranger itu pun menyambut dan mempersilahkan kita bertiga untuk masuk dan melewati komodo yang lagi mejeng di pantai itu. "Jangan goyang-goyangin tas ya," kata ranger itu. Kita bertiga pun patuh, berjalan kaku melewati komodo yang hanya melirik jutek, berjingkat-jingkat sambil nunduk-nunduk sopan. Takut menyinggung perasaannya. 

"Itu dia mencium bau sesuatu yang ada di antara kapal-kapal itu," kata ranger berperawakan mungil itu sembari menunjuk ke jajaran perahu-perahu yang lagi parkir di dermaga, seolah-olah bisa membaca pikiran kita yang lagi bertanya-tanya ngapain ada komodo disitu. Ranger yang ternyata bernama Latif itu menjelaskan lebih lanjut, "komodo kan penciumannya bisa sampai 5 kilometer, ya tergantung angin juga sih, kadang bisa lebih jauh." 

Komodo Judes

Karena itu lah kalau ada wanita yang lagi datang bulang dilarang banget deket-deket komodo kalo gak mau langsung dicaplok gara-gara kecium bau darah. 

Latif mengantarkan kita bertiga menuju loket administrasi untuk membayar biaya-biaya masuk. Sebelum-sebelumnya kita bertiga survei di labuan bajo, kira-kira berapa biaya masuk yang harus kita keluarkan. Hasil survei itu membuat kita galau, konon menurut khalayak ramai mau masuk sana aja musti bayar sampai ratusan ribu per-orang. Ternyata pas kita sampai sana dan melakukan transaksi sendiri, murah bangeeettt... ternyata yang selama kita survei tanya-tanya di Labuan Bajo itu tarif masuk untuk turis asing, sementara untuk turis domestik bedanya jauh. *elus-elus dada, elus-elus dompet*

Sebelum mulai tracking pencarian komodo kita bertiga di briefing mengenai rute yang akan kita jalani. Ada rute gampang, menengah, dan susah. Yang membedakannya adalah jaraknya, dan juga possibility ketemu komodonya, walopun di setiap akhir kalimat penjelasan Latif selalu menambahkan "Ya belum pasti juga sih."

Contohnya nih.

"Nanti kita akan jalan ke sini," menunjuk suatu lokasi di peta yang gambarnya berupa kolam,"komodo-komodo biasanya suka menunggu mangsa disini karena disini tempat minum rusa, babi hutan dan hewan-hewan lainnya di pulau itu yang jadi buruan komodo. Biasanya sih ada. Ya tapi belum pasti juga sih."

Contoh lain.

"Di sini adalah dapur umum ranger, nah biasanya suka ada komodo disini nunggu jatah makanan. Ya tapi belum pasti juga sih."

Pokoknya tidak ada yang pasti kalau menurut Latif. Kita jadi ragu-ragu mau mulai tracking, takutnya udah capek-capek masuk hutan malah gak ketemu komodo.

Akhirnya setelah saya, pagit dan mba efa berdiskusi, kita memutuskan mengambil rute yang tingkat kesulitannya menengah. Eh bener aja, di tempat kolam air yang ditunjuk Latif, yang katanya suka ada komodo mengintai mangsa, kita gak nemu satu pun komodo.

Latif malah dengan semangat memperlihatkan sebuah pohon yang katanya adalah pohon bernama Palang Sandi. "Ini daunnya suka di pakai di acara gereja-gereja."

Mba efa yang rajin ke gereja berpikir keras, "oooo.... buat acara yang hari Rabu itu ya."

Sementara Pagit diam-diam masih mikir itu jenis tanaman yang biasa digunakan di kegiatan Pramuka soalnya ada kata-kata Palang nya dan ada kata-kata Sandi nya.

"Ini Palang Sandi," Latif masih ngotot seolah-olah mikir ini cewek-cewek kota kog bodoh-bodoh amat yak. "Palang Sandi itu biasa dipake di hari Minggu. Sandi kan Minggu."

Ternyata saudara-saudara, Latif itu okkots. Saya sih sudah curiga karena dia senantiasa menambahkan huruf G di kata-kata yang berakhiran N. Yang dimaksud nya dengan Palang itu ternyata adalah Palm. Dan Sandi itu adalah Minggu. Jadi tanaman itu tulisannya adalah Palm Sunday, dibaca Palang Sandi.

Mungkin dalam hati Latif berpikir, ini cewek-cewek kota kenapa bodoh-bodoh amat yak. Jelas-jelas Sandi itu Minggu, kalo Rabu yang namanya Wenesdi.

Dan kita pun meneruskan perjalanan kita menyusuri hutan-hutan. Kata Latif sebenarnya di kepulauan komodo ada 3 pulau yang dihuni oleh Komodo, yang sering dikunjungi wisatawan adalah Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang letaknya lebih dekat dengan labuan bajo. Sementara pulau satunya lagi itu jauh banget. Kita gak sempat ke Pulau Rinca, tapi kata Latif, komodo di pulau Rinca lebih kecil-kecil tapi lebih agresif. Kebanyakan insiden penyerangan komodo ke manusia terjadi di Pulau Rinca. Kondisi alamnya juga beda banget sama Pulau Komodo, kalau di pulau komodo adem, rindang, banyak pohon-pohonnya, sementara di Pulau Rinca itu adanya savana dan panas.

Sampai di atas bukit, kita bisa memandang pulau komodo dari atas. Kemudian tiba-tiba Latif menyuruh kita jangan berisik. Ternyata ada seekor komodo sedang leyeh-leyeh di antara rumput. Kepalanya aja yang keliatan lagi melongok-longok ke kiri dan kanan. Lagi-lagi kita terintimidasi oleh kegagahannya. 

Di atas bukit di Pulau Komodo

Pagit yang sedang merenung

Komodooooooo

Berusaha mendekati walopun sambil gemeteran
Kata Latif, walopun komodo itu sangat gesit dalam mengejar mangsanya tapi sebenarnya trik berburunya adalah menyamar jadi batu. Jadi komodo akan diam gak bergerak sama sekali sehingga mangsanya gak sadar kalau ada bahaya yang sedang mengincar nyawanya, mangsa pun lengah dan hap! komodo pun akan menerkamnya.

Konon populasi komodo di pulau itu ada ratusan, tapi karena mereka pemalu dan mungkin pas kita lewat lagi pada menyamar jadi batu makanya kita tidak melihat mereka. Tapi menurut Latif kita sudah sangat beruntung bisa lihat komodo yang diatas bukit itu. 

Di belakang dapur umum ranger, sesuai kata Latif, kita ketemu dua komodo lagi sedang tumpuk-tumpukan. Latif pun segera menghampiri sambil teriak-teriak, " woooi homooo." Soalnya menurut latif itu dua-duanya komodo jantan lagi peluk-pelukan, tapi ya gak gitu juga kali ya sampe musti teriak-teriak homo di muka komodo itu. Untung kayaknya mood mereka lagi bagus, jd cuman ngelirik judes males-malesan aja ke si Latif, coba kalo moodnya lagi jelek, pasti tuh langsung di cabik-cabik si Latif.

Komodo gay

Pagit, Mba Efa, Saya dan Latif

Pantai Komodo
Yang pertama menemukan hewan-hewan Komodo Dragon di Pulau Komodo ini adalah pelaut-pelaut Belanda waktu jaman kolonial dulu. Tapi sebenarnya penduduk lokal punya satu legenda tentang reptil raksasa ini. Jaman dahulu kala ada seorang putri yang melahirkan anak kembar, yang satu adalah manusia dan satu lagi adalah komodo. Karena rupanya yang menyeramkan maka komodo di kucilkan. 

Hingga suatu hari kembaran manusianya komodo sedang berburu dan nyaris membunuh komodo, munculah sang putri ibu mereka memberi tahu bahwa sebenarnya mereka bersaudara, jadi gak boleh saling menyakiti. Nah karena itulah di Pulau Komodo ini ada penduduk manusia yang hidup berdampingan dengan aman bersama Komodo tanpa saling menyakiti satu sama lain.

Tapi..tapi.. kalau manusia dan komodo tidak boleh saling menyakiti satu sama lain, trus kenapa hati ku masih sering disakiti sama buaya darat sih? kan sama-sama reptil *hiks 

Sabtu, 01 Juni 2013

Yang kecil, Yang berpetualang

"Gw pikir lo orangnya gede ternyata kecil begini."

Itulah kalimat komplain dari orang-orang yang sering berinteraksi lewat dunia maya tapi baru pertama kali ketemu saya secara langsung. Saya juga gak ngerti apa mungkin kalau di foto saya kelihatan tinggi besar gitu kali ya? padahal kenyataannya sebenarnya tuh tinggi saya kurang 2 senti dari 1,5 meter. 

Begitu juga kalau ketemu klien urusan kerjaan yang sudah sering berkorespondensi lewat phone dan e-mail sebelumnya tapi baru pertama kali berhadapan langsung dengan saya. Kekecewaan terpancar di wajah mereka bahwa perempuan yang mereka temui tampak seperti anak kuliahan dengan kemeja, celana panjang, flatshoes dan (kadang) berponi. Sering juga saya mengganti flatshoes saya dengan high-heels supaya tampak lebih tinggi dan berwibawa, tapi itu seringkali terasa terlalu menyakitkan, khusus nya di bagian betis. 

Mungkin karena ukuran badan saya yang 'compact', kalau baru kenalan sama orang trus mereka coba-coba nebak umur saya, tidak ada satu pun yang tebakan nya menembus angka 28. Kisarannya antara 25 dan 27. Saya gak tau musti bangga atau sedih dengan hal ini, yang jelas adik saya - Chacha, suka senewen karena selalu disangka kakak saya atau sering disangka kembar padahal umur kita terpaut 3 tahun.

Mata air awet muda di Dieng, Tuk Bimo Lukar - tapi bukan karena ini saya awet muda

Nongkrong di angkringan Jogja sama Rio & Anno yang masih SD waktu saya udah kuliah
Ada seorang bapak-bapak di kantor saya dulu yang pernah bilang gini, "kamu itu, mil, kecil-kecil tapi udah jalan-jalan kemana-mana, saya yang segede gini aja belom pernah kemana-mana, paspor aja gak punya." Saya sih gak liat korelasi antara ukuran badan dan semangat jalan-jalan. Malahan enak lagi punya badan irit gini, kalo packing gak repot soalnya baju nya kecil-kecil jadi bawaannya gak berat *halah*.

Dan petualangan saya bulan Mei berlanjut. Setelah menghabiskan waktu 4 hari di Labuan Bajo demi cita-cita saya ketemu Mbah Komodo di Pulau Komodo, beberapa hari setelahnya saya langsung terbang ke Arab bersama Chacha dan Papa Said untuk menunaikan ibadah Umroh dan juga ibadah jalan-jalan di Madinah dan Mekkah.

Waktu mau berangkat

Pulau Komodo

Sementara itu jadwal business trip saya bolak-balik Jakarta-Semarang-Jepara akan masih padat dalam beberapa bulan kedepan. Belum lagi ada dua acara Undangan Pernikahan sepupu saya yang berdomisili di Manado. Jadi dalam tahun ini masih akan banyak petualangan baru yang menanti saya. Sementara itu, diantara himpitan padatnya pekerjaan saya akan mencoba untuk terus konsisten mencicil postingan perjalanan saya di Australia yang masih banyak banget belum saya tulis, masih  banyak keseruan dan tempat-tempat indah disana yang belum sempat saya share disini.

Jadi kesimpulan dari postingan ini adalah, tidak ada syarat tinggi badan minimum untuk memulai suatu petualangan dan melihat dunia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...