Tampilkan postingan dengan label Malaysia - Melaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaysia - Melaka. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

St. Paul's Church Ruin, Malacca

Portugis jaman dulu pernah jadi bangsa yang hebat, pokoknya mengukir sejarah banget deh. Bangsa Eropa pertama yang berhasil menjelajah sampai ke Jepang dan China. Bangsa Eropa pertama juga yang berhasil sampai ke daerah yang saat ini menjadi wilayah negara Malaysia dan Indonesia. Belanda dan Inggris perlu waktu seratus tahun lebih buat nyusul Portugis.

Awal abad ke-16 Portugis berhasil menaklukan Goa di India. Dari Goa misi penjelajahan berlanjut ke arah Timur, sampai ke Malaka. Waktu itu Malaka merupakan sebuah kerajaan mungil yang sibuk. Karena lokasi nya yang strategis tempat ini menjadi commercial port bagi pedagang-pedagang dari China, Arab, India dan Sumatera. Portugis berambisi menguasai Malaka karena dipikirnya dengan menguasai daerah tersebut dia dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah ke Eropa, yang saat itu komoditas mahal.

Bulan Agustus tahun 1511, pasukan Portugis dipimpin oleh Afonso de Albuquerque berhasil menguasai Malaka kemudian membangun benteng disekitarnya, Fortaleza de Malaca - yang memiliki 4 gate: Porta de Santiago, The gateway of the Custom House Terrace, Porta de São Domingos, Porta de Santo António. Namun sekarang benteng tersebut sudah hancur, nyaris tidak berbekas. Yang sisa hanya tinggal reruntuhan salah satu gate nya, Porta de Santiago, yang sekarang dikenal dengan A Famosa.(wikipedia)

Di atas bukit yang paling tinggi di bangun lah sebuah gereja, letaknya ga jauh dari A Famosa. Gereja ini juga nasibnya sekarang cuman lebih beruntung sedikit dari A Famosa. Walaupun atapnya udah ga ada, tapi sebagian besar temboknya masih kokoh. Waktu Belanda mengambil alih Malaka dari Portugis, gereja ini masih di gunakan sampai kemudian dibangun Christchurch di samping Stadthuys, semua kegiatan keagamaan pun pindah ke Christchurch. 

Pada waktu Belanda di ganti Inggris, nasib gereja ini lebih miris - hanya jadi gudang mesiu. Mungkin orang-orang males kali ya kalo mau ke gereja musti manjat bukit dulu. Kualat tuh orang-orang Inggris, masa tempat ibadah nya dijadiin gudang -_-"
St. Paul's hill

Inside the Church Ruins
Yang saya ga ngerti adalah kenapa di dalam gereja ada sumur air. Sumurnya sekarang udah kering sih, dan banyak koin-koin berserakan di dalamnya. Konon itu semacam potluck gitu, lempar koin dan make a wish, and it'll come true. Saya pun ga mau kalah, melempar koin 500 Rupiah ke dalem sumur yang atas nya ditutup jeruji besi. Semoga aja uang rupiah saya bisa bergaul dengan koin-koin mata uang negara lain supaya bisa lebih gaul dan nilainya ga jeblok-jeblok amat.
di bawah sana ada koin 500 perak saya
Kalo malem-malem saya di suruh kemari, ga akan saya berani. Tempatnya horor banget, apalagi ada batu-batu nisan di jejer-jejerin. Bikin tambah horor. Awalnya saya ga ngerti kenapa itu batu-batu nisan di jejerin di situ, tapi setelah baca ini saya baru ngerti bahwa dulu nya pernah ada beberapa orang yang sempat di kubur di dalem St. Paul's church ini. Sekarang sih kuburan-kuburan nya yang lain juga udah dipindahin, makanya itu batu nisan nya di jejerin di tembok-tembok gitu. Termasuk St. Francis Xavier yang patung nya berdiri di sebelah reruntuhan gereja ini.

Tombstones

Yak dipilih..dipilih...
St. Francis Xavier adalah seorang missionary yang di beri kepercayaan untuk jadi semacam penanggung jawab gereja ini. Beliau dan beberapa rekan sempat membangun sekolah di dekat St. Paul's Church. Beliau sempat menjalankan misi hingga ke Cina, hingga akhirnya meninggal dunia di sana karena sakit. Jenazahnya di bawa ke Malaka dan sempat di kubur sementara di St. Paul's Church selama beberapa bulan kemudian di bawa ke Goa, India.

Patung St. Francis Xavier yang ada di sebelah reruntuhan St. Paul's Church baru didirikan di abad ke-20, untuk memperingati 400 tahun sejak beliau mengemban misi di Malaka. Sehari setelah patung di didirikan, bagian tangan sebelah kanannya tertimpa batang pohon hingga patah. Jadi yang bisa kita lihat sekarang adalah patung St. Francis Xavier yang tanpa tangan kanan. Ada cerita-cerita seram, konon kalo malem patung ini suka keliatan mengeluarkan air mata kayak nangis. Hiiiii..... hayoooo siapa berani bukti'in?

Patung St. Francis Xavier tanpa tangan kanan

Jumat, 15 Juli 2011

Stadthuys Express

Judulnya pake Express bukan berarti ini postingan mengenai semacam angkutan umum atau jasa pengiriman paket, tapi karena postingan kali ini merupakan rangkaian perjalanan Malacca Singapore Express yang nyaris menyebabkan para tiga alay terdampar di Melaka.

Kota Melaka konon ceritanya didirikan oleh seorang pangeran yang masih keturunan dari kerajaan Sriwijaya bernama Parameswara di sekitar tahun 1400-an.  

Kebetulan saya baca buku nya George Coedes - ahli sejarah asal prancis yang mempelajari sejarah di Asia Tenggara. Menurut beliau, mengacu kepada bukti-bukti - berupa prasasti dan kebanyakan rujukan dari catatan sejarah China kuno, pada abad ke-7 wilayah Semenanjung Malaya merupakan salah satu daerah jajahan Kerajaan Sriwijaya yang pusatnya ada di Sumatera. 

Waktu itu Kerajaan Sriwijaya sedang jaya-jaya nya, mereka memang berambisi menguasai perdagangan dengan cara menguasai daerah-daerah di sekitar Selat Malaka dan Selat Sunda yang merupakan jalan masuk utama jalur perdagangan internasional di jaman itu. Namun di sekitar abad ke-14 kerajaan yang  besar ini runtuh, kalah sama Majapahit.

Pangeran Parameswara berhasil melarikan diri hingga ke daerah Melaka dan mendirikan kerajaan di daerah yang sebelumnya hanya kampung nelayan kecil. Melaka pun jadi gampang nge-top karena posisi nya yang strategis. Pedagang dari Arab, China, India mesti deh ngelewatin jalur Selat Melaka ini.

Tiba-tiba datanglah Portugis ke area ini dengan misi ekspansi dan penaklukan nya. Mereka menduduki wilayah ini, membangun markas, benteng dan gereja. Sekitar 1.5 abad kemudian, Belanda datang mengambil alih daerah ini dari Portugis. 

Stadthuys dibangun pada tahun 1650 merupakan salah satu bangunan hasil peninggalan Belanda. Asalnya bangunan ini adalah semacam town hall atau  pusat pemerintahan , lengkap dengan gereja nya bernama Christ Church yang dibangun pada tahun 1753

Daerah Kota Kuno Melaka, the red square

Bangunan utama, yang sekarang menjadi Muzium

Di depan Art Galery & Christ Church

Kemudian Melaka diberikan oleh Belanda kepada Inggris. Sebenarnya ditukar sih. Waktu itu Melaka di tukar sama Bengkulu (waktu masih di kuasai Inggris namanya Bencoolen), Inggris menguasai Melaka dan Belanda menguasai Bengkulu. Jadi kalau menurut saya ini adalah awalnya kenapa bisa ada Bangsa Indonesia dan Bangsa Malaysia. Semua itu karena pada jaman penjajahan dulu bangsa eropa seenak udel nya aja bagi-bagi teritori wilayah kekuasaan kayak dunia ini miliknya.Yang satu merdeka dari Belanda, namanya Indonesia. Yang satu lagi merdeka dari Inggris, namanya Malaysia... heheee...


Okey... kembali ke Stadthuys. Daerah pusat pemerintahan Belanda ini biasa juga disebut Red Square. Soalnya bangunan nya merah semua. Sekarang bangunan bekas Belanda ini di fungsikan sebagai Muzium. Masuk ke dalam muzium nya bayar 50 RM, tapi kalau menurut saya sih ga ada yang menarik di dalam. Lebih menarik di luar nya. 

Saya jadi penasaran, itu warna merahnya di cat atau gimana sih ? Hmmm... 
Dari mulai tembok sampai bunga warna nya merah
Lantai nya aja warna merah

Jendela bangunan Belanda, khas banget

Becak yang penuh dekorasi bunga-bungaan

Mobil pemadam kebakaran antik - Pantang pulang sebelum padam
Sebenarnya Melaka itu unik karena lokasi nya yang sering dilalui pedagang Arab, China & India. Pedagang-pedagang tersebut ternyata bukan hanya lewat, tapi juga sekalian transit dan kelamaan mereka juga membangun kampung-kampung sendiri. Jadilah di kota ini kumpulan multi etnis dari macam-macam bangsa. Sayangnya saya tidak sempat keliling kemana-mana lagi karena punya batas waktu cuman 2 jam. 

Tapi saya sempat melihat reruntuhan gereja kuno jaman Portugis yang lokasi nya ga jauh dari Stadthuys.

Selasa, 14 Juni 2011

Melaka; The Gate


Melaka merupakan pintu gerbang masuknya VOC ke Indonesia. Belanda sempat menguasai Melaka sebelum menguasai Indonesia, mereka bahkan membangun landmark yang saat ini menjadi salah satu objek pariwisata bersejarah di melaka yaitu, Stadthuys. Tapi sebenarnya Belanda ga begitu napsu ama Melaka, tujuan utama mereka saat itu emang pulau Jawa soalnya mereka ngiler sama rempah-rempah dan segala macemnya itu lah.

Itulah kenapa saya merasa penting banget untuk bisa menjejakan kaki di kota yang masuk ke dalam salah satu UNESCO World Heritage list sebagai salah satu historic cities of Malacca Strait. Kota satu nya lagi adalah George Town, yang Insyaallah akan saya jejaki di bulan Oktober *amin* 

Sebelum berangkat ke Melaka, saya sudah melakukan riset seoptimal mungkin. Malahan saya sempat print peta Melaka dari internet. Hasil print peta itu dibawa dari Jakarta, tapi ketinggalan di Singapore *doh*


Pemandangan kota Melaka dari atas

Setidaknya ketika browsing-browsing cara menuju Melaka dari Singapore, saya menemukan beberapa cara. Salah satunya naik Bus Express Singapore-Malacca. Selain itu bisa juga naik bus 707 tujuan Singapore - Johor Bahru dari Queen Street bus terminal. Terus ganti naik Bus jurusan Johot Bahru - Melaka di  Terminal Bus Larkin. Naik taksi juga bisa, ada taksi khusus yang bisa lewat perbatasan Singapore - Malaysia, tapi harga nya sudah pasti muahal.

Sebenarnya kita sudah mengantisipasi kepadatan transportasi Singapore-Malaysia ketika weekend. Tapi ga kepikiran kalau ternyata cari tiket bus yang lewat perbatasan negara ini juga susah banget. Kehabisan tiket bus express jurusan Melaka - Singapore, akhirnya kita memutuskan untuk cari bus Melaka-Johor Bahru, terus sambung bus no 707 di Terminal bus Larkin menuju Singapore. 

Celakanya, tiket bus Melaka-Johor Bahru sudah sold out juga untuk waktu keberangkatan Pukul 5 dan seterusnya. Jadwal keberangkatan paling sore yang tersisa hanya yang untuk Pukul 4, sedangkan waktu itu sudah jam setengah 2 siang. 

Akhirnya kita beli juga tiket bus Melaka-Johor Bahru jam 4, yang artinya........ kita hanya punya waktu sekitar 2 jam untuk keliling di kota Melaka.

Kita bergegas menuju loket taksi. Di depan loket, saya agak bingung mau kemana, karena peta yang sudah di print ketinggalan.... hiks! Otak saya pun berputar... kalau saya cuman punya waktu 2 jam di Melaka, tempat mana kah yang saya bener-bener pengen datengin?


Stadthuys!

...... dan pergilah kita naik taksi.

Jumat, 03 Juni 2011

Malacca Singapore Express

Seperti yang telah saya sempat singgung di awal postingan petualangan 3 alay, sehari sebelum kembali ke tanah air kita memutuskan untuk melakukan perjalanan nekad yang memacu adrenalin: singapore - malaka - singapore dalam sehari.

Karena keterbatasan waktu maka perjalanan sehari ini harus di rencanakan dengan teliti dan detail. Dari hasil penelusuran di internet, dari Singapore ke Malacca bisa menggunakan Bus dengan waktu tempuh 4-5 jam tergantung antrian di imigrasi nya. Ada beberapa perusahaan bus yang menawarkan jurusan ke Malaka, diantaranya Transnasional, Delima Express, Malacca Singapore Express dan masih ada beberapa perusahaan lainnya. Ada dua terminal bus (setahu saya) yang melayani jurusan Singapore-Malacca, dari Terminal Bus Lavender dan Golden Mile Complex.

Kita memutuskan untuk naik dari Terminal Bus Lavender, karena disini waktu keberangkatannya tiap jam mulai dari jam 8 pagi. Kalau yang di Golden Mile Complex tidak tiap jam berangkatnya, bus-busnya juga lebih mewah jadi harga lebih mahal. Kelebihannya kalau bus-bus yang berangkat dari Golden Mile, tiket nya bisa di beli online.

Malam sebelum keberangkatan ke Malaka - setelah pulang dari USS - kita melakukan survey letak tempat Terminal Bus Lavender. Oh iya... ini beda loh.. terminal bus Lavender, bukan Station MRT Lavender tempat kita turun  dan mondar-mandir ga jelas pertama kali waktu baru sampe di Singapore. Survey ini dalam rangka mengantisipasi, jangan sampe kita nyasar-nyasar ga jelas di pagi hari nya gegara nyari-nyari terminal bus nya dan ga kedapetan tiket paling pagi. Terminal nya ga jauh dari hotel kita di  Little India, kalau jalan kaki cepet ga sampe 10 menit.

Keesokan hari nya kita bangun subuh-subuh dan mulai jalan jam 6.30. Jam 7 kurang kita sudah tiba di tempat tujuan dan langsung beli tiket untuk bus Malacca Singapore Express jam 8 Pagi seharga $20 (dollar singapore)

Terminal Bus Lavender

Tiket Bus Malacca-Singapore Express $20

Di dalam Bus
Kita adalah tiga orang pertama yang masuk ke Bus. Pak sopir nya yang langsung aware kalau kita mahluk asing langsung nyamperin kita bertiga, mempersilahkan kita masuk ke bus, mengambil ketiga tiket kita dan menunjuk masing-masing dari ketiga alay, "you number 6, you number 5, you number 4." Tapi pas kita masuk ke dalem bus, tiap nomor ternyata ada a,b,c nya... nah bingung deh jadinya kita di a atau b atau c.. Akhirnya setelah hesitate agak lama kita bertiga sepakat bahwa kita ada di deret c yang bangkunya single.
Ga lama setelah kita masuk bus, penumpang lain pun mulai berdatangan. Tiba-tiba, si Joko yang duduk di nomor 6 di suruh pindah sama penumpang lain karena tiketnya dia nomor 6c. Si Joko pun turun berusaha mendapatkan tiketnya yang diambil pak supir bus untuk liat tempat duduk nya. Setelah terlihat berbincang dengan Pak sopir, Joko pun masuk kembali ke bus dengan lunglai. Saya pun tanya, " 6 mana kata Pak supirnya?".

"Any 6", kata si Joko meniru jawaban sopirnya.

Saya pun turun mencoba bicara dengan Pak supir nya yang ternyata langsung ramah abezzz setelah saya ajak ngomong bahasa Indonesia yang mirip-mirip melayu. Tapi tetep aja saya ga dapetin tiket yang di pegang sama dia. Waktu saya ngotot minta potongan tiket untuk bukti nanti setelah turun di imigrasi mau naik kembali ke bus, dia bilang ga perlu khawatir. Yauwdah, saya pun kembali ke dalam bus dengan tangan kosong tapi penuh perasaan ragu.

Ternyata keraguan saya tidak terbukti. Pak sopir itu, surprisingly, hafal sama semua penumpangnya. Di imigrasi dia nunggu di depan pintu keluar dan melambai-lambai memanggil semua penumpangnya. Begitu pula waktu kita berhenti untuk makan siang di rest area- nya Malaysia, Pak Sopir itu pun keliling mencari seluruh penumpangnya, dan dipanggilin satu-satu sampai komplit. jam 1 siang waktu setempat kita tiba di Melaka Sentral. Teminal bus sekaligus pusat perbelanjaan di Melaka.

Melaka Sentral

Kita pun segera menuju tempat beli tiket lagi untuk membeli tiket pulang ke singapore untuk jam 6 atau jam  7 malam. Pertama kita menuju loket Singapore Malacca express, ternyata tiket untuk hari itu ke Singapore sudah habis. Kita menuju loket Delima Express, untuk tujuan singapore juga sudah habis untuk hari itu. Kita pergi ke tiap loket yang menjual jurusan ke Singapore. 


Tapi tiket untuk hari itu ke Singapore sudah SOLD-OUT !

Ini bisa-bisa kita terdampar di Melaka, ga bisa pulang nih. Alternatif nginep semalem ke Malaka terus baru kembali ke Singapore besoknya pagi-pagi juga ga mungkin. Ga akan sempat ngejar pesawat kita yang berangkat jam 11, sementara barang-barang kita masih di tinggal di hotel di Singapore. 

Kami pun - tiga alay yang tetap imut di saat-saat tertekan, terkulai lemas dan berjalan tanpa arah di Melaka Sentral.........ratusan kilometer dari rumah.....

Sambungan nya bisa dilihat di SINI !

Selasa, 10 Mei 2011

Petualangan Tiga Alay

Setelah pengalaman perdana bekpeking ke Singapore tahun 2009 silam, saya kembali lagi. Dulu Marina bay Sands masih dalam tahap konstruksi, sekarang sudah jadi dan ternyata aslinya bagus sekali. Bangunan mewah ini adalah salah satu pusat hiburan orang-orang kaya, di dalamnya ada Casino, hotel, theatre, museum, butik-butik, dan di atapnya yang berbentuk perahu itu ada kolam renang nya. Keren banget kan tuh.

Sekarang sih saya hanya mampu memandang dari kejauhan. Tapi saya yakin suatu saat nanti saya akan nginep di resortnya yang konon rate paling murahnya 3,5 juta - 4 juta  (nanti kalo dah jadi orang kaya maksudnya wkwkwkwk..)

Marina Bay Sands menjelang malam
Sebenernya kalau untuk tujuan berwisata, buat saya Singapura kurang menarik. Soalnya disana yang ada cuman gedung-gedung, mall, cafe-cafe tempat nongkrong.... yang di Jakarta juga ada. Apalagi disana segala serba mahal dan suasananya nya serasa nothing-personal-it's-just-business style. Saya cuman penasaran pengen ke Universal Studio Singapore.

Berangkat hari Jum'at dan pulang hari Senin, hari Sabtu-nya khusus hari bersenang-senang seharian di Universal Studio. Yah walopun sempet basah kuyup kayak ayam kecebur kali tapi overall it was fun. Terus ngapain donk hari Minggu nya? keliling-keliling Singapura mah ga asik and it's so lame. Akhirnya muncul ide untuk PP ke Melaka di malaysia. Emang sih kedengarannya agak nekat. Apalagi perjalanan darat Singapura - Melaka tuh 4 jam, belom termasuk antri di imigrasinya..... tapi hasilnya adalah petualangan yang lumayan seru penuh kedodolan.

Saya menyebut perjalanan kali ini - yang lebih banyak acara foto-foto nya daripada jalan-jalannya- dengan judul "petualangan 3 alay"...... Tunggu postingan nya yaaaaaah.... ;)
AL4y #1

AL4y #2

AL4y #3
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...