Setelah saya baca komen-komen di postingan saya sebelumnya :
Shop 'till you drop, ternyata banyak juga nih yang punya bad habit shopping ga terkontrol pas lagi traveling. Jadi makin semangat untuk nulis postingan lain yang berhubungan sama shopping nih.
Sama seperti
penyakit "kaki gatel" saya yang turunan, selama ini saya berpikir kalo penyimpangan perilaku saya yang suka kalap mendadak ketika shopping adalah genetis juga. Nyokap, kedua adik saya, bahkan bokap punya penyimpangan perilaku yang sama seperti saya.
Mama Emma- nyokap saya, kalau seminggu ga pergi ke Mall bisa meriang. Adik saya yang pertama, bahkan bisa-bisanya khilaf shopping beli digital camera.
Adik saya kedua - yang fans berat Justin Bieber, paling kalap sama yang namanya sepatu. Karena itulah ketika merencanakan traveling keluarga, Papa Said memutuskan pergi ke Shanghai dan Hongkong.
Misi Mama Emma saat itu adalah mencari Tas Branded Knock-off (palsu) buatan China. Di Jakarta sih banyak barang semacam itu, harga nya masih selangit walaupun sudah setengah dari harga barang asli nya. Harga barang Knock-off nya pun bervariasi, berdasarkan kualitas nya. Menurut Mama Emma, yang kualitasnya paling mendekati aslinya di sebut dengan KW Super. Harga nya pun paling mahal. Barang ini rata-rata Made in China.
Ternyata barang tiruan berkualitas mirip aslinya ini sudah agak susah di jual bebas di daerah China sendiri. Menurut Miss. Sunny - guide kita di Shanghai, kalau ketahuan memproduksi barang tiruan bisa di tangkap. Jadi kita di bawa ke tempat khusus penjualan barang-barang knock-off yang tersembunyi. Tempatnya ada di semacam bangunan gedung, sepertinya itu stadium atau theater atau semacamnya. Kita langsung di giring ke lantai dua bangunan, ke sudut yang sangat sepi. Pintu menuju toko nya pun tersamar gitu, kalau sekilas mirip banget sama temboknya. Ternyata toko nya ada di balik tembok. Seru banget, kayak tempat transaksi tersembunyi di film-film mafia gitu.
Yang di pajang di etalase bagian luar ruangan adalah barang-barang tiruan yang kualitasnya lebih rendah. Harganya pun murah sekali. Barang tiruan ini cuman mirip model nya saja, tapi bahan-bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang lebih murah sehingga harga nya pun jauh lebih murah.
Ketika Miss. Sunny menanyakan tiruan yang kualitasnya bagus, kita diajak masuk lagi ke dalam ruang rahasia di dalam ruang rahasia itu. pokoknya rahasia banget deh. Nah disitu di pajang, tas- tas LV, Hermes, Dior dan Designer Brand lainnya yang dibuat dengan material yang sama persis dengan aslinya, leather nya asli, jahitannya rapi, bahkan detail-detail sama persis dengan aslinya. Harganya sudah pasti jauh lebih miring. Walaupun kalau di rupiahkan masih ada 7 digit, tapi jauuuuh lebih murah kalau beli KW Super di Jakarta.
Cara membeli nya, kita mengumpulkan tas-tas yang mau kita beli di meja. Kemudian kita tawar bukan per barang, tapi semuanya. Agak seru juga sih nawarnya. Saya dan mbak-mbak penjualnya menghabiskan hampir setengah jam untuk tawar-tawaran, padahal saya sendiri ga beli satu pun. Mama Emma yang sangat bahagia mendapatkan tas LV yang kulitnya bisa berubah warna kalau semakin lama dipakai dengan harga yang miring banget. Saya sendiri kurang ada chemistry sama tas-tas designer brand gitu, jadi buat saya lebih menarik kegiatan tawar-tawaran nya daripada beli tas nya.
Kita menghabiskan setengah hari di Nanjing Road, Shanghai. Daerah ini adalah pusat perbelanjaan tertua di Shanghai. Bangunan-bangunan ini setelah
jamannya perang opium adalah British Settlement, lokasi nya tidak jauh dari
The Bund. Setelah British tersingkir daerah ini mulai menjadi pusat pertokoan. Di awal abad ke-20 di bangun 8 Department Store pertama di Shanghai. Saat ini menurut info nya Miss. Sunny, terdapat lebih dari 600 toko, department store, restorant dan franchise di jalan dengan panjang kurang lebih 5 Km itu.
 |
| Bangunan jaman dulu masih di pertahankan |
 |
| Suasana Nanjing Road yang selalu ramai pengunjung |
Saya sebenarnya bukan orang yang fashionable apalagi fashionista (klo nista doang mungkin iya hehee). Kalau soal berbusana saya lebih suka yang casual-casual aja yang penting nyaman di pakai. Tapi kadang kalau lagi ada rejeki lebih seperti bonus dari kantor atau hibah dari bokap, saya kadang berperilaku normal seperti cewe-cewe sepantaran saya. Saya belanja MANGO, ZARA, Guess dan semacamnya. Tapi kalo dah beli biasanya suka sayang di pakai, jadi lebih sering nongkrong di lemari daripada di badan.
 |
| MANGO di Nanjing Road |
Di Nanjing Road Shanghai, saya mencoba survei buat bandingin harga. Ternyata memang lebih murah sedikit, tapi karena lagi ada sale "further reduction" harganya jadi jauh bedanya. Jadilah penyakit kalap komplikasi dengan lupa ingatan saya kambuh. Di Hongkong bahkan penyakit saya menjadi semakin kronis. MANGO di Hongkong harga nya jauuuuh sama di Jakarta. Kalau di Jakarta cuman dapet dua lembar baju, di Hongkong dapet seplastik.
Saya dan adik saya yang pertama pun kalap di outlet Mango. Kita berdua berlari-lari kecil bolak-balik ruang ganti, sambil kadang membelalakan mata dan senyum-senyum sendiri. Bahagia banget deh pokoknya. Sementara itu adik saya yang bungsu kalap beli sepatu, dia pun sukses memborong 5 pasang sepatu diantaranya Nike & Adidas limited edition. Papa Said juga ga mau ketinggalan, pulang ke tanah air dengan memboyong tas LV yang di beli di outlet LV terbesar se Asia Tenggara yang ada di Hongkong.
Bener kan.... genetis -_-"
 |
| mejeng dulu sambil nunggu Papa Said Shopping |