Tampilkan postingan dengan label China - Shanghai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label China - Shanghai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2011

Shanghai Expo 2010

Haibao - Maskot Shanghai Expo
Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair adalah event besar bagi warga Jakarta yang diselenggarakan tiap tahun. Ratusan perusahaan dan brand ternama yang ada di Indonesia ini ambil bagian dalam event tersebut dan ratusan pengunjung memadati stand-stand pameran setiap hari nya.

Ada yang datang hanya untuk melihat-lihat, tapi banyak juga yang belanja.... baju, makanan, helm, blender, TV Flat screen, bahkan motor dan mobil. Papa Said dulu pernah belanja mobil di PRJ. Bayangin ga tuh puteran uang dalam sehari di Jakarta fair itu. Wuiiiih..... 

PRJ memang luar biasa, tapi tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi event sejenis yang lebih spektakuler dan bertaraf-nya internasional. Bukan hanya ratusan perusahaan bahkan ratusan negara ikut berpatisipasi. Shanghai Expo 2010. Kalau mau kelilingin seluruh area expo itu konon katanya memakan waktu 3 hari penuh. Sedangkan saya hanya punya waktu setengah hari, jadi cuman bisa lihat sebagian.

Di tengah area Zone B

Saya hanya sempat mengunjungi Zone B, dari lima zone A-E yang ada. Pavilion negara yanga da di zone B ini antara lain Malaysia, Singapore, Kamboja, dan negara sout-east asia lain. Katanya sih Timor-Leste, negara yang baru merdeka dari Indonesia punya Pavilion juga, tapi ada di zone berbeda. Karena waktu yang terbatas tidak sempat mengelilingi area pameran seluruh negara-negara, boro-boro ke area pameran corporation yang letaknya ada di sisi lain alias di seberang sungai Huang Pu. Shanghai Expo ini lokasi nya terbelah oleh sungai. 

Setiap negara membuat stand besar yang disebut Pavilion. Masing-masing negara bebas berkreasi menghias pavilion nya sesuai dengan kebudayaan dan kesenian daerah nya. Di dalam pavilion itu di perkenalkan segala jenis tentang sejarah, budaya, adat, tari-tarian, hingga makanan khas negara nya. Jadi pameran ini merupakan kesempatan untuk memperkenalkan suatu negara kepada negara lainnya.

Pavilion negara Malaysia

Pavilion Negara Singapore

Pavilion Negara Kamboja

Di zone B ini ada pavilion Indonesia, karena itu lah saya memilih zone ini, bukan zone yang ada pavilion China nya yang kata orang-orang lebih heboh. Saya kan mau lihat gimana negara saya mempromosikan diri di event internasional seperti ini. Ternyata pavilion Indonesia ga kalah keren di banding pavilion negara lain. Antrian untuk masuk ke pavilion Indonesia juga panjang sekali..... yang menandakan bahwa banyak orang yang tertarik dengan negara kita ini.

Pavilion Indonesia

Mirip rumah makan sunda kaaaan....
Pavilion Indonesia terbuat dari bambu, trus ada daon-daonan & air terjun buatan nya. Mirip rumah makan sunda sih. Di depan nya di pajang foto komodo yang besaaaaarrrr banget. Dari luar juga terdengar musik-musik tradisional mengalun, atraktif banget. Mungkin itu yang membuat orang penasaran dan rela mengantri panjang. Di teras nya ada rumah makan yang menyediakan menu khas Indonesia. Bangga deeeeh... ~entah kenapa rasa nasionalisme saya muncul, eh pas sampe jakarta ketemu macet nasionalisme nya langsung menguap ke udara -_-"

Expo ini rame nya juga luar biasa.. dimana-mana antri. Dari mulai pintu masuk kita harus antri berkelok-kelok. Mau masuk ke Pavilion juga harus antri. Konon katanya selama expo ini dibuka dari bulan Mei hingga Oktober 2010, total pengunjung nya ada 73.000 orang. Katanya sih jumlah pengunjung tersebut hingga saat ini masih memegang rekor dunia pengunjung terbanyak dalam sebuah event. 

Tempat beli merchandise Shanghai Expo 2010


Mobil Listrik... unyuu kan.. mirip sama Blue-On ku tercinta

Expo Axis... katanya kalo malem kereeeeen....

Jumat, 20 Mei 2011

Made in China (Shop 'till you drop continued)

Setelah saya baca komen-komen di postingan saya sebelumnya : Shop 'till you drop, ternyata banyak juga nih yang punya bad habit shopping ga terkontrol pas lagi traveling. Jadi makin semangat untuk nulis postingan lain yang berhubungan sama shopping nih. 

Sama seperti penyakit "kaki gatel" saya yang turunan, selama ini saya berpikir kalo penyimpangan perilaku saya yang suka kalap mendadak  ketika shopping adalah genetis juga. Nyokap, kedua adik saya, bahkan bokap punya penyimpangan perilaku yang sama seperti saya. 

Mama Emma- nyokap saya, kalau seminggu ga pergi ke Mall bisa meriang. Adik saya yang pertama, bahkan bisa-bisanya khilaf shopping beli digital camera. Adik saya kedua - yang fans berat Justin Bieber, paling  kalap sama yang namanya sepatu. Karena itulah ketika merencanakan traveling keluarga, Papa Said memutuskan pergi ke Shanghai dan Hongkong. 
Misi Mama Emma saat itu adalah mencari Tas Branded Knock-off (palsu) buatan China. Di Jakarta  sih banyak barang semacam itu, harga nya masih selangit walaupun sudah setengah dari harga barang asli nya. Harga barang Knock-off nya pun bervariasi, berdasarkan kualitas nya. Menurut Mama Emma, yang kualitasnya paling mendekati aslinya di sebut dengan KW Super. Harga nya pun paling mahal. Barang ini rata-rata Made in China.

Ternyata barang tiruan berkualitas mirip aslinya ini sudah agak susah di jual bebas di daerah China sendiri. Menurut Miss. Sunny - guide kita di Shanghai, kalau ketahuan memproduksi barang tiruan bisa di tangkap. Jadi kita di bawa ke tempat khusus penjualan barang-barang knock-off yang tersembunyi. Tempatnya ada di semacam bangunan gedung, sepertinya itu stadium atau theater atau semacamnya. Kita langsung di giring ke lantai dua bangunan, ke sudut yang sangat sepi. Pintu menuju toko nya pun tersamar gitu, kalau sekilas mirip banget sama temboknya. Ternyata toko nya ada di balik tembok. Seru banget, kayak tempat transaksi tersembunyi di film-film mafia gitu.

Yang di pajang di etalase bagian luar ruangan adalah barang-barang tiruan yang kualitasnya lebih rendah. Harganya pun murah sekali. Barang tiruan ini cuman mirip model nya saja, tapi bahan-bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang lebih murah sehingga harga nya pun jauh lebih murah. 

Ketika Miss. Sunny menanyakan tiruan yang kualitasnya bagus, kita diajak masuk lagi ke dalam ruang rahasia di dalam ruang rahasia itu. pokoknya rahasia banget deh.  Nah disitu di pajang, tas- tas LV, Hermes, Dior dan Designer Brand lainnya yang dibuat dengan material yang sama persis dengan aslinya, leather nya asli, jahitannya rapi, bahkan detail-detail sama persis dengan aslinya. Harganya sudah pasti jauh lebih miring. Walaupun kalau di rupiahkan masih ada 7 digit, tapi jauuuuh lebih murah kalau beli KW Super di Jakarta.

Cara membeli nya, kita mengumpulkan tas-tas yang mau kita beli di meja. Kemudian kita tawar bukan per barang, tapi semuanya. Agak seru juga sih nawarnya. Saya dan mbak-mbak penjualnya menghabiskan hampir setengah jam untuk tawar-tawaran, padahal saya sendiri ga beli satu pun. Mama Emma yang sangat bahagia mendapatkan tas LV yang kulitnya bisa berubah warna kalau semakin lama dipakai dengan harga yang miring banget. Saya sendiri kurang ada chemistry sama tas-tas designer brand gitu, jadi buat saya lebih menarik kegiatan tawar-tawaran nya daripada beli tas nya.

Kita menghabiskan setengah hari di Nanjing Road, Shanghai. Daerah ini adalah pusat perbelanjaan tertua di Shanghai. Bangunan-bangunan ini setelah jamannya perang opium adalah British Settlement, lokasi nya tidak jauh dari The Bund. Setelah British tersingkir daerah ini mulai menjadi pusat pertokoan. Di awal abad ke-20 di bangun 8 Department Store pertama di Shanghai. Saat ini menurut info nya Miss. Sunny, terdapat lebih dari 600 toko, department store, restorant dan franchise di jalan dengan panjang kurang lebih 5 Km itu.

Bangunan jaman dulu masih di pertahankan

Suasana Nanjing Road yang selalu ramai pengunjung

Saya sebenarnya bukan orang yang fashionable apalagi fashionista (klo nista doang mungkin iya hehee). Kalau soal berbusana saya lebih suka yang casual-casual aja yang penting nyaman di pakai. Tapi kadang kalau lagi ada rejeki lebih seperti bonus dari kantor atau hibah dari bokap, saya kadang berperilaku normal seperti cewe-cewe sepantaran saya. Saya belanja MANGO, ZARA, Guess dan semacamnya. Tapi kalo dah beli biasanya suka sayang di pakai, jadi lebih sering nongkrong di lemari daripada di badan.


MANGO di Nanjing Road
Di Nanjing Road Shanghai, saya mencoba survei buat bandingin harga. Ternyata memang lebih murah sedikit, tapi karena lagi ada sale "further reduction" harganya jadi jauh bedanya. Jadilah penyakit kalap komplikasi dengan lupa ingatan saya kambuh. Di Hongkong bahkan penyakit saya menjadi semakin kronis. MANGO di Hongkong harga nya jauuuuh sama di Jakarta. Kalau di Jakarta cuman dapet dua lembar baju, di Hongkong dapet seplastik.
 
Saya dan adik saya yang pertama pun kalap di outlet Mango. Kita berdua berlari-lari kecil bolak-balik ruang ganti, sambil kadang membelalakan mata dan senyum-senyum sendiri. Bahagia banget deh pokoknya. Sementara itu adik saya yang bungsu kalap beli sepatu, dia pun sukses memborong 5 pasang sepatu diantaranya Nike & Adidas limited edition. Papa Said juga ga mau ketinggalan, pulang ke tanah air dengan memboyong tas LV yang di beli di outlet LV terbesar se Asia Tenggara yang ada di Hongkong.

Bener kan.... genetis -_-"

mejeng dulu sambil nunggu Papa Said Shopping

Rabu, 09 Maret 2011

Old Shanghai: The Bund

Saya pernah janji kan di postingan mengenai Shanghai History Museum kalau saya akan membahas tentang The Bund. Kalau di Ho Chi Minh City ada area "mirip" kota perancis, nah di sini ada area yang "mirip" kota London. Malahan ada kembaran Big Ben, itu loh Jam Gadang nya Kota London..... konon jam ini di buat oleh pabrik yang sama dengan yang membuat Big Ben di London. Kenapa bisa ada Big Ben di Shanghai ya? Well... *seperti kata orang londo*... it's a very long story. 
Ringkasannya, berawal dari perang opium yang sempat saya singgung di postingan sebelumnya mengenai Shanghai History Museum. Untuk mengakhiri perang opium, dimana China perang dengan British yang menyelundupkan opium ke negaranya, di buatlah perjanjian Treaty of Nanking. Perjanjian tersebut menetapkan Shanghai sebagai salah satu port perdagangan International dimana British boleh melakukan perdagangan international di tempat tersebut. British pun membuat markasnya di daerah ini untuk mengatur perdagangannya. Markasnya kemudian disebut British Settlement. Orang-orang British pun mulai membangun bangunan-bangunan bergaya eropa, ada yang digunakan sebagai kantor, Bank, Hotel, Club dan lain-lain.

Lalu bangsa-bangsa lain seperti Amerika dan Rusia mulai datang membangun pusat perdagangan di daerah ini juga, sehingga namanya berubah menjadi International Settlement. Kemajuan pesat antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 membuat Shanghai menjadi International Hub untuk perdagangan East Asia. Sebenernya sih orang-orang bule ini emang udah lama mengincar lokasi strategis ini untuk membuka jalur perdagangan ke Asia.
Bangunan Kuno jaman Kolonial
Berasa di London komplit dengan Big Ben nya
Tapi kemudian datang Jepang. Awalnya mereka hidup berdampingan hingga akhirnya Jepang mengusai daerah ini dan orang-orang bule itu pun tersingkirkan. Tahun 1945 Jepang kalah dalam World War II  ketika Hiroshima dan Nagasaki di jatuhi bom atom. Jepang pun surrender dan pergi dari China. Sekarang The Bund adalah salah satu destinasi wajib bagi turis yang mengunjungi Shanghai.

Salah satu destinasi turis lokal & internasional di Shanghai


Rabu, 02 Februari 2011

Oriental Pearl TV Tower & Shanghai History Museum

Mejeng duyuu Unyuu Unyuu
Oriental Pearl TV Tower merupakan salah satu bangunan tertinggi di Shanghai. Bangunan ini terletak di daerah Pudong atau New Shanghai. Model nya lucu banget, kayak di film-film sci fiction, ada bulet-buletnya gitu. Dari bangunan yang fungsi awalnya adalah menara untuk antena TV dan radio tersebut, kita bisa melihat kota Shanghai dari atas. 

Untuk bisa sampai ke atas TV Tower dan melihat Shanghai dari atas kita harus membeli tiket dulu, tidak seperti Menara Petronas yang masuknya gratisan. Sayangnya waktu itu bertepatan dengan hari libur anak-anak sekolah di China, jadi untuk bisa ke atas menara harus mengantri panjaaaaaaang kayak uler melingkar-lingkar. 

Melihat begitu banyak manusia, kita (saya dan adik-adik) langsung jiper akhirnya kami sepakat untuk "menunda" naik ke atas TV tower hingga kunjungan ke Shanghai berikutnya (kalau ada kesempatan lagi). Kalau gratisan sih it's okey pake antri, lah ini masa udah bayar antri juga..hehe.. 

Alat menggiling beras jaman dulu
Ya sutralah cyiiin... akhirnya kita capscus menuju lantai dasar dimana terdapat Shanghai History Museum. Di sini kita bisa menyusuri perjalanan waktu dari mulai jamannya Shanghai masih merupakan desa nelayan kemudian pada masa Shanghai dijajah oleh Inggris dan Perancis hingga saat ini Shanghai menjadi kota metropolitan.

Awalnya Shanghai hanya merupakan desa nelayan yang sederhana, namun karena lokasi nya yang strategis - di pinggir sungai Yang Tze, desa ini lambat laun berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan  terbesar di China karena salah satu port international berlokasi di sini.

Di sekitar abad ke-19, melalui perdagangan ini British men-supply Opium hingga rakyat China terlena dan terbuai kecanduan drugs. Ketika pemerintah nya waktu itu, dinasty Ming, sadar kalau rakyat nya pada sakau, Opium pun di banned. Situasi perdagangan pun memanas, hingga akhirnya pecah Opium War. Walaupun perang ini berakhir seiring dengan di tanda tanganinya Treaty of Nanking, Shanghai masih dikuasai oleh British dan Amerika. Mereka mendirikan bangunan-bangunan megah di sisi sungai  Huangpu sebagai kantor dan bank perwakilan dari negara-negara yang melakukan trading  di China.

Setelah melalui macam-macam perang dan perjanjian, sekarang sih sudah milik Republik China lagi.Malahan daerah ini sekarang menjadi salah satu lokasi wisata di Shanghai, The Bund. Nanti kapan-kapan saya ceritain deh soal The Bund heheheee.....
Tampang-tampang teler gara-gara di dijejali Opium oleh Inggris

Judi Adu Jangkrik
Ternyata China memang jago nya tiru meniru. Bukan hanya barang-barang branded yang ditiru sama persis kayak aslinya, manusia pun bisa di tiru mirip aslinya. Manusia tiruan yang dipajang di museum ini berukuran seperti asli nya, lengkap dengan ekspresinya.

Sebenarnya alasan saya posting ini ceritanya supaya sesuai temanya, menyambut Tahun Baru China jadi saya mau sekalian mengucapkan Gong Xi Fa Choy. Hehehee... Tahun ini Shio-nya apa sih?


Rabu, 10 November 2010

Jade Budha Temple


Setelah beberapa bulan sebelumnya sempat melihat Patung Budha dari emas asli dengan ukuran asli sebesar Budha-nya di Silver Pagoda- Pnom Phen, kali ini saya melihat Patung Budha yang lebih besar yang terbuat dari batu Jade di Shanghai - China. Di Indonesia batu Jade ini disebut batu giok.

Jade Budha Temple ini termasuk Kuil yang termuda di China, didirikannya hanya 100 tahun sebelum saya lahir, di tahun 1882. Waktu itu kuil ini dibangun untuk menyimpan dua buah Patung Budha raksasa yang di impor dari Burma.

Kuil ini sempat hancur akibat perang, kemudian di re-built pada Tahun 1928 (waktu Indonesia lagi mendeklarasikan sumpah pemuda). Untung kedua Patung Budha itu selamat dan masih utuh. Kedua Patung tersebut diletakkan di dua tempat yang berbeda.

Patung yang pertama tingginya hampir 2 meter. Diukir dari satu batu giok yang sangat amat besar. Patung Budha yang posenya sedang duduk bersila ini juga dihiasi batu-batu permata, jadi keliatan mewah banget. Gioknya tuh mulus banget, bukan kayak di ukir tapi kayak di cetak gitu.

Patung yang kedua, Patung Reclining Budha (lagi tiduran posisi menyamping). Panjangnya hanya sekitar 1 meter, lebih kecil karena dibuat dari pecahan batu yang dipakai untuk membuat Patung Budha pertama. Tapi kerennya ga kalah.


Sayang sekali, sama seperti Patung Budha Emas di Silver Pagoda, Patung Budha giok ini juga tidak boleh di foto. Jadi saya tidak bisa membagi keindahannya dengan teman-teman :(




Selain tempat menyimpan dua buah Patung Budha Giok tersebut, Jade Budha Temple ini juga ramai oleh orang yang beribadah dan selain itu juga digunakan sebagai tempat belajar para biksu. Kebetulan saya ditemani oleh seorang guide, Ms. Sunny, yang menjelaskan sedikit tentang peribadahan umat Budha.


Dari Ms. Sunny saya baru tahu kalau dupa yang dipakai untuk berdoa itu ada warnanya. Dari warnanya kita bisa tahu orang sedang berdoa untuk seseorang yang lebih tua (mis. ayah & ibu) atau yang l ebih muda (mis. anak). Asap dupa yang dibakar, di harapkan bisa membawa pengharapan sampai kelangit untuk disampaikan kepada para Dewa. Harapan dan doa juga bisa dituliskan di pita merah, kemudian di ikatkan di pintu kuil.

Saya juga baru tahu kalau ternyata Budha itu ada banyak dan tugasnya beda-beda. Contohnya, Smilling Budha, yang selalu diletakkan di depan pintu yang mukanya selalu tersenyum, nah beliau itu tugasnya sebagai penyambut tamu. Ada satu ruangan di Kuil ini yang khusus memajang banyak sekali Budha-Budha dengan berbagai macam karakter.

Di samping Jade Budha Temple, tidak jauh ada Rumah Makan Vegetarian yang enak. Di sinilah saya menemukan Onde-Onde asli China. Dan kalau beruntung di kuil ini juga kita bisa mempelajari beberapa jurus kebanggaan Biksu Shaolin.





Selasa, 21 September 2010

iiiih kog sama sih?

Ketika saya sedang berusaha memahami kenapa di Shanghai tidak ada Es Shanghai, Cap cay, Kwetiau dan Puyunghai, saya malah menemukan Onde-Onde.

iiiih kog sama sih? padahal saya pikir itu makanan asli Indo. Emang ada bedanya siy.. klo di Indo kan isi nya kacang hijau, klo ini isinya kacang merah, tapi rasanya sama. Kulitnya juga lebih tebel dari onde-onde Indo, tapi sama-sama di selimutin sama wijen.


Oke..Oke.. saya ini kan ceritanya turis kere, jadi wajar lah klo ndeso. Bisa jalan-jalan keluar negri aja baru-baru ini doang. Trus disaat orang-orang udah pada keliling Eropa, saya masih yang deket-deket dulu sesuai kemampuan financial* wkwkwkkk... Yah..maklum aja klo kadang suka norak ketika menemukan sesuatu yang sama kayak di tanah air.

Seperti ketika saya ikut tur ke tempat persembunyian vietkong hanya untuk mendapati bahwa modal para vietkong itu untuk mengusir tentara Amerika yang mau menguasai daerahnya adalah Singkong Rebus. Begitu melihat penampakan Singkong, spontan saya langsung berucap... "iiiiih... kog sama sih?"





Seringkali sama nya karena di sama-sama-in dan sengaja dicari-cari supaya sama, kayak postingan saya sebelum ini soal cerita kodok & hujan. Contoh lain yang lebih tidak berkelas, sewaktu melihat nama jalan "Pasteur" di Ho Chi Minh City - Vietnam, saya serta merta teringat nama jalan serupa di kota Bandung.... iiiiih... kog sama sih? Langsung aja saya poto tu plang nama jalan buat bukti ketika saya kembali ke tanah air, bahwasanya di luar negeri sono ada jalan pasteur juga.

Tidak selalu sih yang sama itu sengaja di cari-cari dan disama-samakan. Malahan seringnya "hal itu" tiba-tiba aja muncul secara tidak sengaja, tidak terkira dan mengejutkan.

Misalnya waktu saya sedang berkeliling Pnom Phen dengan Tuk Tuk Mr. Marley, tiba-tiba di pinggir jalan saya melihat tenda di depan rumah. Komplit dengan hiasan-hiasan dan tandan pisang di depan jalan masuk nya, persis kayak tenda hajatan nikah nya orang Jawa. Bedanya tenda mereka lebih warna-warni.

Masih di Pnom Phen, ketika saya, cipu dan Mba Vony sedang menunggu bus ke Vietnam, tanpa sengaja saya membaca iklan Tukang Pijit Tuna Netra di tembok.
iiiiih... kog sama sih?

Apakah hal ini hanya terjadi kepada saya saja? Apakah ada seseorang di luar sana yang sama seperti saya? Adakah diantara kalian yang m'baca postingan ini kemudian kepikiran "iiiiih... kog sama sih?" *lebay*


Senin, 20 September 2010

China Town in China

Ga pa pa deh GAGAL mencicipi Es Shanghai di Shanghai karena ternyata Es Shanghai bukan berasal dari Shanghai melainkan asli hanya ada di Indo (jangan tanya saya kenapa bisa begitu -_-").

Setidaknya saya BERHASIL mengunjungi China Town di China. Perbedaannya dengan China Town di negara lain adalah disini tulisan nya Mandarin semua dan semua orang disini berbahasa Mandarin *doh*. Selebihnya kira-kira sama seperti China Town di negara lain.

China Town ini di dominasi oleh pertokoan-pertokoan, mayoritas menjual suvenir khas China dan makanan. Tuh... sama kan kayak China Town yang lain.

Di dalam China Town di Shanghai ini terdapat contoh Rumah orang kaya di China jaman dulu, namanya Yu Garden. Menurut Ms. Sunny (guide kita di Shanghai), Yu ini artinya semacam kebahagiaan, jadi rumah ini dinamakan Yu karena diharapkan akan memberi kebahagiaan bagi penghuninya. Tapi rumah ini sudah tidak ada penghuni nya lagi, orang kaya pemilik rumah ini sudah menjadikan rumah keluarganya menjadi semacam museum.

Tipikal dari kebudayaan China yang filosofis banget, setiap bagian dari rumah punya filosofi nya sendiri. Dari mulai tata letak perabotan, letak pintu dan jendela, Jembatan yang berbentuk zig zag, batu giok di halaman, Sepasang Pohon yang berumur ratusan tahun, hingga jumlah ikan di kolam merupakan simbol-simbol yang mengandung harapan dari si pemilik rumah. Kalo mo tau masing-masing artinya silahkan beli buku Feng Shui.

Buat saya sangat menarik sekali, karena sebagai seseorang yang dengan intelegensi tinggi saya sangat menyenangi hal-hal yang berbau filosofi *pembaca dilarang mual*

Yang paling menarik perhatian saya justru tembok nya. Di atas tembok rumahnya bertengger seekor naga yang panjang nya sekeliling rumah itu dan memagarinya. Naga itu ceritanya sebagai pelindung dari segala yang jahat-jahat dan membawa kemakmuran karena menurut Ms. Sunny, hujan itu di turunkan oleh Naga.

Jadi menurut legenda di sana, hujan berasal dari ludah nya naga. Di dalam mulut naga ada mutiara yang menyebabkan Naga itu tidak bisa mengatup mulut nya sehinga ludah-ludah bercucuran dari mulut nya sehingga hujan turun ke bumi dan tanaman menjadi subur. Tapi ketika saya sedang mengamati naga di tembok itu, kog saya melihat ada patung kodok di bawah si naga itu sedang menjulurkan lidah.

Ternyata, si kodok itu adalah penyeimbang. Yah mirip konsep Yin & Yang....

Hujan itu kan asalnya dari ludah Naga karena tidak bisa mengatup mulutnya, tapi kalau terus terusan hujan kan bisa menyebabkan musibah juga, misalnya badai dan banjir. Karena itu lah ada sang kodok. Si kodok itu makanannya adalah ludah Naga, secara tidak langsung yang dia makan air hujan. Jadi si kodok memakan sebagian air hujan itu agar tidak berlebihan di bumi yang akhirnya malah mengakibatkan malapetaka.

Hebat yah... bisa-bisa aja kepikiran soal kodok itu. Jadi inget kata Papa Said, kalo di kampung nya kodok-kodok pada ribut berarti tandanya mau hujan. mungkin waktu jaman dulu nenek moyang kita sempat mengalami asimilasi cerita legenda kali ya? heheheee


Rabu, 15 September 2010

When Nature Calls

Dengan semakin berkembangnya jaman, maka kebutuhan Primer manusia bertambah dari Sandang, Pangan, Papan menjadi Sandang, Pangan, Papan, Toilet, dan Henpon. *ngarang*

Malahan mustinya Toilet tuh kebutuhan primer yang nomor satu, secara kalo Sandang, Pangan, Papan bisa ditahan tapi klo kebutuhan kita akan toilet merupakan kebutuhan mendesak yang sulit ditahan.

Dengan semakin berkurangnya hutan-hutan, kebon-kebon dan pepohonan. Ditambah sungai-sungai dan kali-kali yang semakin tercemar, orang-orang mulai beralih ke toilet untuk melampiaskan hasratnya *makin ngarang* Pun, di beberapa tempat khususnya di daerah yang masih tradisional, tradisi memenuhi panggilan alam di ALAM masih di pertahankan dan dilestarikan.

Toilet disebut dalam berbagai bahasa. Di bahasa Indonesia sendiri ada macam-macam sebutan untuk toilet: kamar kecil, WC, kakus dsb. Belum lagi sebutannya dalam bahasa daerah. Itu aja baru di Indonesia, belum di Luar Indonesia. Di Malaysia yang bahasanya deket-deket dari Indonesia aja "toilet" disebut Tandas Awam... jauh kan?!

Belajar dari pengalaman saya di Vietnam, dimana jarang ada orang mengerti bahasa Inggris, sejak itu kalau pergi kemana-mana saya selalu sedia catatan kecil yang bertuliskan 'Toilet' dalam bahasa lokal. Jadi ketika 'alam memanggil' kita tinggal kasih liat catatan kecil itu.
Malahan hal pertama yang saya lakukan kalau ketemu orang lokal yang bisa bahasa inggris adalah meminta orang tersebut menuliskan bahasa lokal 'Toilet' di secarik kertas tersebut.



Toilet juga terdapat dalam berbagai bentuk. Ada yang terletak di Pom Bensin, rumah makan, rumah penduduk, bahkan di pinggir jalan
. Waktu ke Shanghai saya akhirnya menemukan toilet canggih yang sebelumnya pernah saya baca di buku Naked Traveler, yakni Toilet yang bisa nge-flush sendiri ketika kita buka pintu nya. Waktu itu saya sedang menggunakan fasilitas toilet umum di Shanghai Expo ketika mendapati tulisan Automatic Flush, saya langsung teringat tulisan Mbak Trinity tentang toilet yang bisa nge-flush sendiri.... dan bergumam dalam hati.... woooooh... beneran canggiiiiiih.

Toilet yang bisa nge-flush sendiri memang sepertinya belum ada di Indonesia, tapi kalau toilet dalam kontainer di indonesia juga ada loh. Toilet dalam kontainer ini biasa di temukan di tempat-tempat rekreasi umum yang berada di outdoor seperti di Monas dan stadion Senayan. So, buat kamu-kamu yang ingin merasakan sensasi ber-toilet yang "BEDA" silahkan langsung mengunjungi toilet kontainer yang terdekat dari rumah kamu.

Jumat, 09 Juli 2010

Cruising The Huangpu River

Setelah Cruising The Saigon River di Vietnam, kali ini saya Cruising The Huangpu River di Shanghai, China. Dan kali ini saya berlayar menggunakan kapal pesiar - Oriental Pearl Cruise, yang dermaganya terletak tidak jauh di sebelah Oriental Pearl TV Tower. Rute cruising nya cuman berputar-putar aja selama 45 menit di depan kawasan Pudong dan Puxi, tapi ini adalah hal yang musti kudu wajib hukum nya dilaksakan kalau berkunjung ke Shanghai.

Sungai Huangpu yang lebar nya nyaris 4000 meter memisahkan antara kota Shanghai lama dan kota Shanghai yang baru. Kota Shanghai yang lama, terletak di barat sungai Huangpu dinamakan daerah Puxi. Daerah ini dulunya adalah kawasan kekuasaan Inggris waktu jaman China dijajah dulu. Kalau dilihat dari jauh memang rasanya seperti bukan di China, tapi berasa di Inggris. Apalagi ada bangunan "mirip" Big Ben.



Sebelah Timur sungai Huangpu, dinamakan Pudong. Nah.. kalau disini rasanya juga ga kayak di China, tapi berasa di New York. Daerah Pudong ini sekarang adalah pusat bisnis kota Shanghai. Saya sampe ternganga-nganga waktu tahu ada apartement disana yang harganya USD20.000/m2, dan terisi full.



Lucu juga, berada di tengah-tengah sungai Huangpu melihat ke kanan dan ke kiri. Rasanya seperti berada di mesin waktu doraemon. Melihat ke kiri seperti London di abad ke 17, melihat ke kanan seperti new york di abad 21 dengan segala sky-scrapers nya.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...