Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Belitung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Belitung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2013

To The Light House

Beberapa hari lalu saya baru baca buku klasik karangan virginia woolf, judulnya To The Lighthouse yang menceritakan tentang sebuah keluarga, seorang perempuan pelukis dan seorang penjaga menara mercu suar (light house). 
Anak lelaki di keluarga itu ingin sekali ke menara mercusuar yang terletak di suatu pulau tidak jauh dari pantai tempat rumahnya berada, tapi ayahnya melarang karena yakin keesokan hari cuaca tidak bagus untuk melaut. Keinginan berkunjung ke mercusuar tertunda karena pecah perang dunia. Beberapa tahun kemudian, setelah anak lelaki itu dewasa, setelah perang dunia berakhir, setelah ibu mereka meninggal dunia tiba-tiba dalam tidurnya, sekeluarga mereka mengunjungi mercusuar itu. 

Saya jadi ingat perjalanan saya menuju menara mercusuar di Belitung yang terletak di Pulau Lengkuas. 

Waktu itu bulan november. Sedari pagi rombongan sudah tiba di dermaga untuk island hoping dan snorkeling, menunggu. Hujan deras disertai angin kencang menyerbu pulau kecil ini tanpa ampun. Awan hitam tebal yang berarak di atas langit nyaris memupuskan harapan kita untuk menjelajah laut.

Saya sudah menghabiskan sepiring indomie rebus ketika hujan mulai reda. Kami langsung diarak oleh pemandu menuju ke perahu kayu yang disewa untuk island hopping. Dua perahu untuk satu rombongan kita. Masing-masing membawa pelampung & peralatan snorkeling, kemudian melompat masuk ke dalam perahu. 

Seharian hujan hampir tidak berhenti, tapi sudah tidak deras seperti pagi hari nya. Di spot snorkeling pertama saya menceburkan diri ke laut tidak pakai tes arus dulu sebelumnya, ternyata saya langsung terbawa arus menjauh dari perahu. Setengah mati saya berusaha berenang melawan arus mendekati perahu lagi, yang ada langsung ngos-ngosan. Waktu ke Belitung itu saya lagi ada di puncak berat badan paling tinggi dalam hidup saya, lagi gendut-gendutnya. 

Karena arusnya terlalu kuat untuk snorkeling dan ga ada ikan yang bisa dilihat maka diputuskan mencari spot snorkeling di lain tempat. Kawan-kawan yang lain langsung kembali melompat ke laut di spot yang baru, sementara saya yang gendut dan pemalas memilih untuk duduk dan menonton sambil ngobrol sama Bapak yang punya perahu. 

Bapak yang punya perahu, usianya mungkin sekitar 50-an tahun. Sebenarnya profesi si bapak adalah nelayan. Tidak jauh dari Belitung ada penangkaran ikan kerapu, kalau lagi panen si bapak akan menangkap kerapu dan menjualnya di pasar ikan di Bangka. Ikan Kerapu harganya tinggi. Kalau tidak ada kerapu, ikan apa saja boleh. 

Setelah film Laskar Pelangi yang mengkomersilkan pulau belitung, si bapak jadi sering menyewakan perahunya untuk membawa turis. 

“anak saya sekarang juga di Jakarta,” kisahnya dengan penuh rasa bangga menceritakan tentang anak perempuannya yang jadi seorang perawat di RS Fatmawati, “kapan kalau sempat datang saja ke sana, ketemu anak saya.”

Sepertinya bagi seorang bapak yang profesinya nelayan di suatu pulau kecil, anaknya bisa kerja di kota Jakarta - kota impian, adalah suatu kesuksesan baginya. Dari jerih payahnya berjuang di lautan, beliau berhasil membiayai sekolah anaknya hingga bisa dapat kesempatan memperbaiki hidup di kota, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang ada di desanya, mendapat uang lebih banyak, mengirimkan sebagian ke rumah, sehingga menaikan standard hidup keluarganya juga. 

Kalau dulu waktu saya kecil ada film Kabayan, tentang seorang pemuda desa lugu, baik hati, lucu yang punya pacar namanya Nyi Iteung. Kabayan hidup sederhana, tapi santai dan ceria terus.  

Jaman sudah berubah.

Sekarang yang lagi tren kisah-kisah tentang pemuda desa yang berhasil keluar dari desanya, sukses di ibukota hingga sampai ke luar negeri. Kisah ini laris jadi novel sampai dibikin filmnya ke bioskop. Inspirasional. Bukan hanya menularkan semangat untuk maju tapi juga memperkenalkan yang namanya ambisi. 

Menurut saya ambisi adalah sesuatu yang berbahaya, kalau tidak bisa mengendalikannya, ambisi yang akan mengendalikan kita dan dengan semena-mena menjajah hidup kita. Kehidupan di kota besar yang membuat manusia terpapar terus-terusan sama persaingan yang keras membuat ambisi dalam diri tumbuh subur. Kita harus lebih baik dari orang lain kalau ingin memenangkan persaingan hidup di ibukota - survival of the fittest. 

Kemudian kita terus memelihara ambisi dan memupuknya dengan nafsu sehingga tumbuh besar. Ambisi untuk mendapat gaji yang lebih besar. Ambisi untuk naik jabatan. Ambisi untuk punya rumah. Setelah punya rumah, ambisi meminta rumah yang lebih besar lagi. Setelah punya rumah lebih besar, ambisi tidak juga puas, minta ganti rumah yang lebih besar yang terletak di kota. Begitu juga dengan mobil, ambisi akan pretisius, luxury dan gengsi yang ditarget oleh jenis mobil mewah, bukan soal fungsi lagi. 

Sementara saya yang terlalu pemalas, hingga saat ini ambisi dalam diri saya layu, kering dan kurang gizi. Dalam persaingan survival of the fittest ini saya lebih suka jadi ubur-ubur, jenis hewan yang strukturnya sangat sederhana sampai-sampai di anatomi tubuhnya ga ada otak. Gerakannya juga ya gitu-gitu aja, ngambang-ngambang nyantai. Tapi ubur-ubur ini salah satu spesies tertua yang berhasil hidup di bumi ribuan tahun gak pakai ber-evolusi drastis atau punah. 

Saya malahan lebih senang jadi penonton dan mengamati - apakah warga kota besar yang ambisius itu bahagia ?

Saya melihat bapak nelayan di sebelah saya, apakah putri si bapak ini sekarang bahagia karena berhasil membuat bangga bapaknya dengan bekerja di ibukota dan mengirim sebagian penghasilannya untuk membantu ekonomi keluarganya?

Apakah si Bapak Nelayan ini bahagia?

“Lebih enak jaman Suharto,” lagi-lagi saya mendengar keluhan seperti ini dari orang-orang yang tinggal jauh dari kota besar yang semakin merasa hidupnya tidak diperhatikan di era reformasi, “sekarang harga solar naik terus. Kalau cuma dari ikan, kadang tidak balik modal. Bagus lah sekarang mulai banyak turis.”

“Sejak film itu ya, Pak?” tanya saya.

“Sebelum film itu ada sedikit, sekarang semakin banyak (turis),” kata si bapak terkekeh sembari menghisap Dji Sam Soe nya dalam-dalam. 

Mungkin turisme seperti ini ga jelek-jelek amat seperti yang banyak dikecam oleh para pecinta lingkungan. Mungkin ini bisa jadi salah satu cara untuk membuat uang tersebar merata hingga ke pelosok negeri. Asalkan si hantu ambisi gak ikut-ikutan, mungkin bisa tercipta suatu keseimbangan yang harmonis. Masalahnya, kemana si uang pergi, hantu ambisi selalu ikut sih. Dan biasanya dimana ambisi menampakan diri dan tumbuh subur disitulah kekacauan mulai terjadi.

Di kasus Kabayan, hantu ambisi muncul di sosok ibunya Nyi Iteung, si Ambu. Walaupun Nyi Iteung menerima Kabayan apa adanya dengan segala kesederhanaannya, tapi Ambu tidak setuju karena berambisi mau punya menantu kaya, tidak miskin seperti Kabayan.

“Kalo nak ini asli jakarta?” tanya si bapak.

“Saya sih dari bayi sampai besar di jakarta, Pak.”

“Jakarta nya di sebelah mana?”

“Rumah saya sih di perbatasan Jakarta- Bekasi.”

“Dekat sama Fatmawati?”

Saya tertawa sembari mengira-ngira jarak, “ya..... lumayan jauhlah, pak.”

“Kalau aslinya dari mana? Asli Jakarta?”

Pertanyaan yang paling sulit dijawab karena saya sendiri sebenarnya krisis identitas suku, bahkan krisis identitas ras juga.

“Campur-campur, pak,” saya pun menjawab sekenanya.

“Campur-campur bagaimana?” tanya si bapak masih penasaran.

Akhirnya saya mencoba se simpel mungkin, “ ibu saya dari sunda, ayah saya dari sulawesi.” 

Si Bapak langsung berbinar sambil menunjuk ke suatu arah, “disebelah sana itu banyak orang Bugis, disana ada kampung bugis.”

Saya pun tertawa, “Sulawesi utara, pak. Bukan sulawesi selatan.”

“Ooooh..” Si bapak menghisap rokoknya untuk terakhir kali sebelum membuang nya ke laut. 

Di kejauhan menara mercusuar terlihat menjulang di tengah pulau kecil di tengah lautan, kesanalah tujuan kita selanjutnya. Sebagian kawan-kawan saya memutuskan untuk berenang hingga sampai ke Pulau Lengkuas itu, sementara saya yang pemalas lebih memilih untuk menumpang perahu kayu ini sampai ke pinggir pantai sembari menonton pelampung-pelampung oranye mengambang di atas permukaan laut berlomba-lomba menuju pantai. 

“Kalau sempat nanti harus ke Pulau Burung, disitu bagus,” seru si bapak bersemangat dari ujung geladak, sementara saya duduk di atas atap perahu, menyaksikan menara mercusuar yang semakin lama semakin besar dan tinggi di hadapan saya. 

Saya tidak punya ekspektansi apa-apa terhadap perjalanan ini, ke pulau mana pun buat saya ga jadi masalah, saya tetap menikmatinya. Walaupun akhirnya kita tidak sempat pergi ke pulau burung karena sudah kesorean, saya tidak kecewa. Si bapak malahan yang kelihatan kurang puas karena tidak bisa menunjukan pulau burung yang dianggapnya sangat bagus dan memang merupakan salah satu ikon pulau belitung.

Hingga saat ini pun saya masih perempuan yang sama (dengan berat badan yang sudah berkurang beberapa kilogram) yang duduk di kapal itu lebih dari 2 tahun yang lalu, terlalu malas untuk punya ambisi, terlalu malas untuk punya ekspektansi -  Apakah saya bahagia?

Bersama si Bapak Nelayan

Note: postingan ini ditulis dalam keadaan sakit gigi

Rabu, 01 Mei 2013

Not my kind of "Mie"

Udah lama gak posting soal kuliner, kali ini saya mau bahas tentang mie aaah.
 
Kata orang-orang saya ini rakus dan termasuk ke dalam spesies pemakan segala-nya, tapi ada juga makanan yang kurang pas sama lidah saya. Yah walopun gak pas sama lidah juga biasanya tetep habis aja sih, mubazir soalnya. Dan dari sekian banyak makanan favorit saya kalau harus memilih 3 besar terfavorit, salah satu nya adalah Mie. Segala macam mie saya suka. Mie goreng, mie ayam, mie bakso, mie godog, mie instant, termasuk sodara jauh nya mie semacam ramen, spaghetti, udon. Itu saya suka semua. Malahan saya lebih suka mie daripada nasi, meski kadang-kadang makan mie pake nasi juga sih.

Tadinya tuh saya sempet berpikir, mungkin karena keseringan makan mie yang bentuknya ikal-ikal gitu rambut saya jd ikal juga. Kemudian saya bereksperimen, mencoba lebih selektif dalam  memilih jenis mie yang saya makan. Jadi instead of makan mie ayam yang keriting kecil-kecil saya memilih untuk makan spagetti yang bentuknya seperti mie yang sudah melalui proses catok. Tapi sekian lama saya coba efeknya gak nampak di saya. Rambut saya tetap seperti mie keriting yang kebanyakan kuah sampe lepek, jauh dari penampilan oglio olio yang rapih, lurus dan mengkilat bercahaya. 

Hampir sepanjang  hidup saya ini saya mengidolakan mie dan membuat pernyataan dalam hati bahwa, saya pasti bakal suka dan melahap segala jenis masakan yang terbuat dari mie tanpa tendeng aling-aling. Hingga suatu ketika saya pergi ke Belitung dan mencoba masakan khas nya yang berbahan dasar mie - Mie Belitung. 

Mie Atep yang terkenal di Belitung

Ibu nya lagi menyiapkan pesanan pelanggan

Mie Belitung
Bentuknya sih bagus, mie nya gemuk-gemuk, dihiasi potongan kentang dan tahu goreng, irisan timun dan seekor udang, disiram kuah berwarna coklat. Melihat penampakannya yang menggugah selera saya pun beberapa kali menelan ludah, mana waktu itu dari pagi belum makan apa-apa karena penerbangan dari jakarta ke belitungnya pagi banget, jadi cacing-cacing dalam perut tuh udah berontak gak karu-karuan. Tapi saya langsung kecewa di suapan pertama, karena rasanya aneh di lidah saya. Suapan kedua, ketiga dan seterusnya sampai hidangan di piring di hadapan saya tandas, lidah saya masih gak terima sama rasanya. Gak biasa aja mungkin sama rasanya.

Kejadian kedua kali terjadi kemaren banget pas saya ke Dieng. Semua orang dan semua referensi yang saya baca di internet menyarankan harus mencoba makanan khas sana yang namanya Mie Ongklok, dimakan pake sate sapi. Di malam yang dingin, saya pun memesan mie ongklok ditemani anglo di sebelah saya yang berfungsi menghangatkan ruangan dari dinginnya udara di Dieng.

Mie Ongklok
Mie ini dicampur sama sayur-sayur trus disiram kuah yang kental warna coklat. Tapi saya gak doyan sama kuahnya, rasanya manis-manis gimana gitu. Jadi saya tambahin aja sambel yang banyak, eh habis juga sih. 
 

Jumat, 28 September 2012

Maduma, masuk duduk mabok

Ini bukan cerita mabok minuman keras, mabok harta apalagi mabok janda. Ini lebih kepada mabok naik kendaraan. Saya juga baru tahu akhir-akhir ini kalau istilah bahasa inggris buat mabok semacam ini adalah motion sickness, mungkin karena kemabukan ini diakibatkan oleh goyangan yang lama-lama bikin pusing sehingga menyebabkan mual. 

Adik saya, pernah melakukan kesalahan fatal waktu di Phuket yang menyebabkan dia terserang mabuk laut. Di hari terakhir kita di Phuket, diputuskanlah untuk mengambil paket tur half-day snorkeling ke 3 pulau. Hari sebelumnya juga kita naik kapal seharian, tapi adik saya ga mabok. Hanya saja di hari sebelumnya itu kapalnya besar, jadi guncangan ombak tidak begitu terasa. Sedangkan di paket tur snorkeling ini kita naik boat kecil sehingga lumayan berasa kalau diombang-ambing ombak.

Di pulau pertama adik saya - Chacha, masih baik-baik saja, bahkan sempat mencoba belajar snorkeling. Kesalahannya adalah ketika mau berangkat ke spot snorkeling kedua, kita buru-buru naik duluan dan masuk ke dalam ruangan gitu. Lumayan lama kita menunggu peserta tur lain masuk semua ke dalam kapal dan selama itu kapal diguncang-guncang ombak sehingga motion nya menimbulkan sickness buat si Chacha.

Jadi, sementara saya dan peserta lain berenang-renang di laut, Chacha dengan muka pucat berjemur di atas geladak kapal mengenggam lembaran-lembaran kantong plastik untuk muntah di kelilingi kru-kru kapal yang prihatin. "Jangan  khawatir, plastiknya masih banyak," ujar sang nahkoda kapal yang berbadan besar dan berkulit legam. Sementara itu tour guide kita, yang awalnya mengaku bernama Simon tapi setelah ngobrol lebih banyak ternyata nama aslinya Sulaiman, berusaha keras menghibur dan menemani adik saya yang mabok berat itu dengan bercerita macam-macam ikan yang ada disana.

Kalau ditilik dari historikal nya sebenarnya si Chacha itu ga pernah mabok laut, beberapa kali kita naik kapal di Indonesia menyebrang ke pulau-pulau kecil tidak pernah dia mabok laut sekalipun. Mungkin karena kapal yang biasa dia naikin itu kapal kayu jelek punya nelayan gitu, sedangkan ini naik boat bagus. Waktu masih kecil juga dia suka mabok kalau naik pesawat, tapi ga pernah loh dia ngerasa pusing kalo naik angkot. Ya mungkin dia cuman mabok kalau naik kendaraan yang bagus-bagus gitu.

Tiba di pulau ketiga, adik saya yang mabok itu hanya bisa terkapar di kursi warna-warni di pinggir pantai. Tak peduli dengan putihnya pasir yang terhampar dihadapannya. Tak peduli dengan beningnya air di pinggir pantai yang ombaknya menyapu lembut di depannya. Tak peduli dengan seorang cewek korea dengan bikini kombinasi pink-putih dan topi selebar setengah meter sedang berpose jungkir balik di bawah payung warna-warni. Mata nya hanya memandang kosong ke horizon biru muda, sementara Sulaiman yang iba dengan sukarela memberi pijatan refleksi di kepalanya.

Tour Guide pun jadi merangkap tukang pijit

Mabok laut yang tersisa menjelang perjalanan udara
Boat belum sepenuhnya berhenti dan merapat ke daratan ketika Chacha duluan melompat dari dalamnya, seolah-olah ingin cepat-cepat mengakhiri penderitaannya. Di dalam mobil jemputan tur yang mengantar kita kembali ke hotel, seorang bapak-bapak bule rusia yang ikut prihatin berkata,"istri saya juga sama kayak kamu (mabok laut), makanya saya ikut paket tur ini sendirian." 

Jadi begini rencana awal nya, pagi-pagi kita check-out dari hotel dan menitipkan barang kita. Pulang dari paket tur half-day itu kita akan menghabiskan waktu di Spa sambil menunggu sore dan berangkat ke bandara. Tapi karena adik saya mabok laut itu rencana ke Spa terpaksa dibatalkan. Atas permintaan si mabok kita pun terpaksa extend sehari di kamar hotel yang hanya kita pakai 3 jam lebih. Dia yang mabok, saya yang ikut-ikutan tekor.

Waktu trip ke Belitung, salah satu kawan saya juga ada yang mabuk laut. Nah, kalau yang ini dia mengaku memang mudah mabuk, mabuk di kendaraan maupun mabuk minuman. Minum wine segelas saja sudah bisa membuat wajahnya memerah dan mabuk, katanya. Sudah tau mabuk-an, dengan nekadnya dia memutuskan ikut trip yang sudah pasti seharian terayun-ayun di atas kapal.

Setiap kali duduk diatas kapal yang  bergoyang-goyang, wajahnya akan pucat dan lemas. Lucunya ketika waktunya kita disuruh terjun ke laut untuk snorkeling dia langsung bersemangat dan duluan melompat ke dalam air dan berenang-renang dengan riang gembira. Tapi ketika tiba waktunya naik ke atas kapal, wajahnya kembali pucat pasi, tangannya senantiasa mengenggam sebuah kantong plastik hitam. Maduma banget deh, Masuk Duduk Mabok. Pas.

Waktu kapal berlabuh ke pantai, dia juga duluan yang turun dari kapal dan berlarian di sepanjang garis pantai dan minta di foto-foto bergaya a la baywatch. Tidak ada tersirat sedikit pun pucat dan pias yang beberapa menit sebelumnya terlukis di wajahnya. Tidak terlihat ada tanda-tanda sedikit pun bahwa perempuan ini yang meringkuk karena pusing dan mual di atas kapal, bahkan ketika sedang snorkeling di tengah laut pun minta dilemparin kantong plastik sama bapak yang diatas kapal.

Si bapak nya cuman ketawa-tawa sambil teriak, "muntah aja di laut situ, kasih makan ikan-ikan."

Perempuan yang satu ini emang saya curiga keturunan dewa atau urat nekat nya sudah putus. Setelah perjalanan hopping island seharian di kapal yang membuat hidupnya semacam sengsara karena mabok laut, sejak trip Belitung itu dia sekarang lagi semangat-semangatnya mengajak trip ke kepulauan komodo yang sudah pasti bakal seharian di kapal juga. Saya curiga orang itu lupa kalau dia itu mabok laut.

Kalau pulang ke kampung Papa Said di Kotamobagu, dari Manado itu jalanannya lumayan ekstrim tikungan-tikungannya. Kalau tidak biasa dengan gaya nge-drift gitu sudah bisa dipastikan bakal mabok darat. Om saya pernah cerita, ada nih tante nya Papa Said yang maduma kalo masuk mobil, masuk duduk mabok. Suatu ketika ada undangan pernikahan di Kotamobagu, sementara dia di Manado. Nah, untuk perjalanan naik mobil sekitar kota saja sudah bisa membuat dia pusing, apalagi perjalanan dengan medan berat seperti ke Kotamobagu, perjalanannya 4 - 5 jam pulak.

Karena takut mabok darat, tantenya Papa Said membeli 3 strip Antimo. Om saya curiga itu diminum semua sekaligus, karena tante nya Papa Said sukses ga mabok darat sama sekali. Jadi pas perjalanan dari Manado ke Kotamobagu dia tidur, sampai tiba kembali di Manado dia tidur. Ketika terbangun, tante nya Papa Said berkata, "sudah sampai kita di pesta?"


Senin, 21 Mei 2012

Kota Seribu Warung Kopi

Di ruang tunggu bandar udara H.A.S. Hanandjoeddin, ketika sedang menunggu pesawat yang akan mengantar saya kembali ke Jakarta,  saya tertegun melihat poster iklan pariwisata bertuliskan "Manggar, kota seribu warung kopi." Dua hari sebelumnya saya sempat dibawa ke salah satu kedai kopi di daerah itu dan tidak percaya kalau masih ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan warung kopi lagi di daerah yang tampak sepi itu.

Manggar adalah nama daerah yang terletak di Belitung Timur, menurut wikipedia jumlah populasi nya approximately 35ribu-an jiwa. Apa benar ada 1000 warung kopi se kecamatan itu? Atau mungkin "seribu" itu hanya kiasan seperti candi sewu yang aslinya hanya terdiri dari 249 candi. Pokoknya "seribu" itu artinya "banyak". Dan banyaknya warung kopi di daerah ini telah diputuskan menjadi suatu identitas budaya dari daerah itu sehingga muncul tagline seperti diatas.

Rumpi cyiiiiin (pic by: Pagit)
 
Warung kopi yang terdapat di Manggar dan juga Belitung secara keseluruhan - layaknya warung kopi yang terdapat di sebagian daerah sumatera seperti Riau, kalau kita pesen kopi, yang keluar otomatis pasti kopi susu. Kalau mau pesen kopi hitam, namanya kopi O.

Bisnis warung kopi semacam ini ternyata sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Konon warung kopi tertua di Tanjung Pandan, Warung Kopi Ake, didirikan pada tahun 1922. Warung kopi ini sudah berdiri sejak 3 generasi, pertama didirikan oleh kakeknya Pak Ake dengan nama Warkop Senang.

Tampak muka Warung Kopi Ake

Pak Ake, yang punya warung

Sedang bersosialisasi

Pak Ake lagi sibuk meracik kopi
Kalau di daerah Riau, Belitung, Batam, Medan banyak terdapat warung kopi yang menawarkan menu kopi O dan teh O, di Jakarta banyak bertebaran coffee shop trendi yang menawarkan menu kopi berbahasa Italia seperti Espresso dan Cappuccino, dengan interior yang se-comfy mungkin dilengkapi dengan sofa empuk dan fasilitas internet gratis. Di Aceh budaya bersosialisasi di warung kopi adalah budaya yang dianggap serius. "Urusan bisnis sampai politik, semua bisa diselesaikan di kedai kopi," kata seorang kawan yang membawa saya mencicipi kopi Ulee Kareng di salah satu kedai di Banda Aceh. 

Warung kopi memang sudah menjadi bagian dari kebudayaan, bukan sekedar tempat untuk menikmati minuman berwarna hitam dengan aroma khas. Warung kopi, kedai, kopitiam, cafe, apa pun namanya adalah tempat bersosialisasi, tempat  bapak-bapak melobi rekan bisnisnya, tempat ibu-ibu arisan, tempat sepasang muda-mudi memadu kasih, tempat sekumpulan teman bercengkrama, tempat janjian untuk blind date dan bisa dijadikan daya tarik pariwisata suatu daerah juga. 

Minggu, 01 April 2012

"When you wish upon a star....

...... your dreams come true". - Jiminy Cricket di film Pinocchio

Saya suka banget lagu itu, mengingatkan saya sama Disneyland. Mengingatkan saya sama impian saya ketemu Prince Charming and live happily ever after.. ahaaaay... Biar kata penampilan saya rada sangar dikit, tapi sebenarnya hati saya lemah lembut seperti Cinderella dan Snow White *kibasponi*

Seberapa jauhkah kekuatan "wish upon a star" itu? bisa mengubah boneka kayu menjadi anak manusia? bisa mengubah labu menjadi kereta kencana? bisa di temukan oleh Pangeran ganteng setelah tidur 100 tahun tapi ga keriput sedikit pun? 

Atau kalau mau di terapkan ke dunia nyata, apakah kekuatan "wish upon a star" bisa mengubah HP nokia berumur lebih dari 5 tahun menjadi iPhone 4S? apakah bisa mengubah mobil Jepang warna biru langit menjadi Minicooper strip biru-kuning? apakah bisa membawa jodoh saya mendekat sebelum saya mencapai usia 40 tahun dan mulai keriput?

Mungkin hanya Tuhan (dan Jimmy Jangkrik) yang tahu jawabannya, sebagai manusia (dan para boneka kayu yang pengen jadi manusia) ya kita harus berusaha meraih impian kita upon a stars.....

Eh... tapi bagaimana kalau suatu hari kita punya kesempatan menggenggam bintang-bintang di tangan kita. Bintang jatuh? bukan sih, lebih tepat nya Bintang Laut. Yeeaaah.. menurut saya itu adalah suatu momen yang (tetep) magical. 

Lokasi nya di tengah laut dekat dengan Pulau Belitung, ada sebuah pulau yang tidak selalu terlihat sepanjang hari. Pulau Pasir namanya, hanya kelihatan di jam-jam tertentu saja. Namanya Pulau Pasir karena disitu cuman ada sebidang pasir yang sedikit mencuat di atas permukaan laut, ga ada pohon kelapa, ga ada batu-batuan, mulussss... ga ada apa-apa, cuman pasir doang.

Di Pulau berukuran seluas ruang tamu rumah BTN ukuran 36/90 itu lah saya berhasil menggenggam bintang (laut). Pasti pengen kaaaan? pengen kaaaaan?

Patrick, is that you?
Foto sama bintang film laut
Untuk mengimbangi bahasan ga penting di atas dan supaya keliatan agak pinter dikit, kayaknya bagusnya di postingan kali ini saya membahas tentang reproduksi Bintang Laut. 

Sebagai salah satu pengikut setia serial Spongebob Squarepants, saya ingat satu episode dimana Spongebob dan Patrick mengadopsi bayi kerang. Spongebob jadi ibu nya yang rewel ngurusin anaknya, Patrick jadi bapaknya yang pergi ke kantor trus pulang telat. Mereka pun terlibat dalam suatu pertengkaran rumah tangga yang absurd banget, soalnya si Spongebob tiba-tiba pake daster -_____-" 

Eniwei, pas nonton itulah tiba-tiba muncul pertanyaan dalam otak saya, bagaimana cara Bintang Laut berkembang biak? saya coba mengingat-ngingat pelajaran biologi dari jaman SD sampe SMA, sepertinya saya mengalami amnesia atau paling tidak demensia di bagian otak saya yang menyimpan memori pelajaran sekolah.

Untung jaman sekarang ada Mbah Google yang tau segalanya, jadi saya ga perlu bongkar-bongkar buku SD saya di gudang.

Jadi, Bintang Laut itu berkembang biak dengan 2 cara, seksual dan aseksual. Cara seksual itu, misalnya ada Bintang laut jantan ketemu bintang laut betina terus mereka tertarik secara seksual dan melakukan hubungan tersebut sehingga sel telur si betina di buahi oleh sperma nya si jantan, maka jadilah bayi-bayi bintang laut yang lucu.

Tapi ada yang membuat saya sangat tertarik sama cara reproduksi Bintang Laut yang lain, yakni reproduksi secara aseksual (tidak melalui cara sel telur yang dibuahi sperma). 

Nah, jadi jika ada Bintang Laut yang pengen punya anak tapi belum ketemu pasangan yang cocok, mereka tetap bisa reproduksi sendiri. Tinggal mematahkan salah satu arm-nya, nanti potongan arm-nya itu akan berkembang menjadi Bintang Laut yang sempurna dengan 5 arm atau lebih. Si induknya yang kehilangan satu arm itu ga perlu khawatir karena dengan segera anggota tubuhnya yang putus itu akan beregenerasi kembali dengan sempurna.

Coba bayangkan kalau itu bisa terjadi pada manusia, betapa mudah nya hidup. Tinggal potek satu jempol bisa berkembang jadi anak. Ga perlu pusing-pusing, ribet-ribet, repot-repot cari jodoh.

Jempol kiri dan kanan menjelma menjadi 2 perempuan unyu

Minggu, 19 Februari 2012

Belitung, habis tambang sepah dibuang

Minivan yang mengantar rombongan wisata membelok ke suatu daerah yang gersang dengan tanah berwarna keputihan, mirip sama lokasi tambang kapur. Katanya daerah tandus ini bekas tambang kaolin. Saya salah satu penumpang di dalam minivan itu, seketika terkesima dengan pemandangan yang saya lihat di luar jendela. 

Danau yang airnya berwarna biru pastel, berpadu dengan warna tanah nya yang keputihan. Nyaris kelihatan kayak lukisan krayon, bukan kayak kenyataan. Tapi apa benar ini suatu keindahan? saya melihat satu ironi dibalik ini semua *dengan gaya bicara setajam ssssiiileet*

Kaolin, adalah nama barang tambang yang pertamanya digunakan untuk campuran di keramik China. Tapi kemudian penggunaannya berkembang jadi banyak digunakan untuk campuran cat, digunakan di industri karet, sampai kosmetik. Belitung adalah salah satu pulau yang di dalam tanahnya terkandung bahan ini. 

Seperti bahan-bahan tambang lain pada umumnya, misalnya batu bara, kaolin biasanya terdapat dibawah lapisan tanah. Biasanya tanah paling atas itu tanah biasa  tempat dimana tanaman-tanaman  dan hewan-hewan hidup. Untuk mendapatkan mineral tertentu yang terkandung di dalam tanahnya, tanaman-tanaman yang tumbuh diatas nya dimusnahkan, lapisan tanah yang posisi nya diatas di keruk, kemudian baru bahan tambang nya yang di keruk hingga menimbulkan bolongan raksasa di tanah.

Nah biasanya dalam melakukan open mining kayak gini, setelah selesai ditambang harusnya di bekas tambang tersebut dilakukan reklamasi untuk mengembalikan ekosistem alam. Tapi bekas tambang kaolin di belitung ini sepertinya di terlantarkan gitu aja.

Ibarat peribahasa "habis tambang sepah dibuang", kira-kira begitulah nasib si Pulau Belitung ini.

Begitu banyak nya kawah-kawah bekas danau kaolin di Pulau Belitung, dilihat dari atas pesawat membuat saya miris. Bagus sih melihat warna-warna yang dipantulkan oleh air yang bercampur dengan kaolin ketika kena sinar matahari, tapi bersamaan dengan itu sedih melihat sebagian pulau itu bolong-bolong kayak semacam dimakan sama mahluk buas.

Penambangan Timah juga dilakukan dengan cara open mining dengan issue pengrusakan lingkungan yang sampai sekarang juga masih belum tertanggulangi. Belanda lah yang pertama menemukan keberadaan timah terkandung di dalam pulau ini, di abad ke-18. Waktu itu pas banget lagi booming industrialisasi di Eropa dan pas banget sama perang dunia I. Timah diperlukan banget buat bikin peralatan industri dan senjata-senjata perang gitu. Karena itu juga pulau ini sempat jadi rebutan antara Inggris dan Belanda.

Belanda dulu datang ke pulau ini karena ambisi nya mau menguasai perdagangan lada sedunia. Kemudian ditemukanlah timah di pulau ini. Selanjutnya pemerintah Belanda membuat satu perusahaan khusus untuk me-manage tambang timah ini. Pernah dengar BHP Billiton? perusahan tambang multinational gitu. Coba klik website nya disini : www.bhpbilliton.com

BHP Billiton adalah hasil merger dari dua perusahaan tambang besar si BHP dan si Billiton. Si Billiton ini asalnya adalah perusahaan Belanda tersebut. Namanya Billiton Maatschapij diambil dari nama pulau Belitong, Billiton adalah cara orang bule mem-pronountiate nya. Perlu bukti? coba klik disini : Billiton Chronology.

Apakah dengan banyaknya mineral bernilai tinggi terkandung di dalam pulau nya menjadikan Belitung pulau yang mewah? Boro-boro. Kalo pas jaman penjajahan dulu mungkin saya masih bisa maklum, tapi ternyata setelah Indonesia merdeka dan penambangan Timah diambil alih oleh perusahaan negara, keadaan masih belum banyak berubah bagi Belitung.

Sayang banget kalau keindahan alam yang ada jadi terkontaminasi atau bahkan rusak karena kita mengambil kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dengan cara yang  tidak bertanggung jawab.



Sementara itu di telinga saya masih saja terngiang-ngiang diskusi di suatu rapat mengenai investasi tambang kapur. "demand (permintaan) kapur di Indonesia ini banyak sekali sampai kita harus impor, padahal di Indonesia ini masih banyak gunung-gunung kapur yang belum di eksploitasi. Biaya investasi nya kecil, tapi margin keuntungannya besar." Dan seketika itu saya membayangkan seluruh gunung-gunung kapur di Indonesia habis di kerukin sampai rata. Sumpah, itu horror banget. Air tercemar, erosi, longsor.

Apakah kemajuan Industri harus selalu ada di kutub yang berlawanan dengan sustainability lingkungan alam?

Minggu, 15 Januari 2012

Vihara Burung Mandi di Belitung

Vihara Burung Mandi atau yang lebih dikenal dengan nama Vihara Dewi Kwan Im terletak di daerah Manggar, Belitung. Lokasi nya di atas bukit dengan view menghadap laut, tapi waktu saya tiba disana sepi banget.

Katanya vihara ini dibangun di pertengahan abad ke-18, ya kira-kira waktu  timah mulai ditemukan oleh Belanda di daerah ini dan penambang dari China mulai berdatangan. Kemungkinan besar para pendatang itu lah yang membangun vihara ini, dilihat dari arsitektur nya yang Tionghoa banget.

Menurut M.C. Ricklefs dalam buku nya "A History of Modern Indonesia Since c.1200",  populasi penambang timah dari China di pulau Bangka dan Belitung mencapai puncak nya pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin. Di akhir masa pemerintahannya sekitar tahun 1750-an tercatat populasi China miners mencapai 25.000 - 30.000 jiwa.. Tapi angka tersebut segera anjlok di tahun 1780-an menjadi hanya sepertiga-nya, para penambang tersebut banyak yang migrasi ke Perak dan Kalimantan. Hingga saat ini keturunan para China miners itu masih banyak yang menetap di Bangka dan Belitung. Di pulau Belitung sendiri, tercatat 20% lebih dari penduduk nya adalah etnis Tionghoa.

Vihara Burung Mandi - yang letak nya tampak jauh dan sepi bagi pendatang seperti saya yang baru pertama kali datang ke daerah ini, didedikasikan untuk Dewi Kwan Im. Karena itu Vihara ini lebih populer dengans ebutan vihara Dewi Kwan Im. Dewi welas asih ini umumnya di kenal oleh penganut Buddha yang berasal dari China dan sekitarnya, termasuk Vietnam. Sosok Dewi ini tidak ditemukan di tempat ibadah agama Buddha di daerah Thailand dan Kamboja.

Laskar Pelancong di Vihara Dewi Kwan Im

Warna merah yang cerah

Mendaki kuil

Sembahyang dengan view lautan

Tiang penyangga di peluk Naga

Pekarangan Vihara yang asri

Altar

Minggu, 25 Desember 2011

Snorkeling is Fun

Menjelang usia kepala tiga saya baru merasakan asik nya snorkeling. Bukan nya takut, tapi karena kesempatan (dan budget) nya belum ada. Ya mungkin juga karena jaman sudah berubah yah... sekarang ini tur-tur yang menawarkan paket snorkeling itu menjamur banget dan harga nya juga relatif terjangkau.

Kalau dibilang jago berenang, ya saya sih ga jago-jago amat. Dulu waktu SD pernah les berenang - tapi cuman sampe pelajaran gaya katak, abis itu berenti. Jadi satu-satu gaya renang yang saya bisa ya gaya kecebong, kadang juga sih gaya bebas. Dalam artian bebas sebebas nya gimana ni kaki & tangan mau gerak yang penting ngambang dan maju.

Satu kelemahan saya sampe sekarang ini. Saya masih belum berani buka mata di air huhuhuuu.... jadi kalo berenang wajib pake google. 

Waktu di Phuket dengan penuh ke-nekat-an dan ke-sok-tau-an tingkat dewa, saya (mempengaruhi dua alay lainnya) ngambil paket snorkeling half day ke 3 pulau : Khai Nai, Khai Nui, Khai Nok. Di speed boat, guide kita yang mengaku namanya Simon (pada akhirnya dia  ngaku juga khusus kepada 3 alay kalau nama sebenarnya adalah Sulaiman) membagi-bagikan alat snorkel. Nah itu lah pertama kali saya megang tu benda, biasanya cuman liat-liat di foto orang-orang aja. 

Perhentian pertama adalah pulau Khai Nai, pulau yang di pantai nya aja udah keliatan ikan kuning belang-belang seliweran. Dan tuh ikan-ikan lucu banget, kalo ada orang malah nyamperin & ngerubungin. Di situlah kita dikasih kesempatan buat nyoba alat snorkel-nya, bagi yang baru pertama snorkeling bisa belajar-belajar dulu. 

Saya tidak pake buang-buang waktu langsung nyerbu pantai menenteng alat snorkel saya itu, ternyata ribet juga karena ga diajarin cara pakai nya. Kebetulan di depan saya ada cewe Jepang yang lagi coba-coba alat snorkel nya. "How to use this thing?" saya nanya ke dia *sok akrab abis*. 

"just put this in your mouth like this," dia pun memperagakan cara nya memasukan selang napas ke mulut, " and breath with your mouth."

Tidak sampai 3 menit saya langsung menguasai alat itu *sombong* dan langsung aja seliweran berenang-renang di sekitar situ mengikuti cewek Jepang yang baru ngajarin saya itu. Dia langsung ngacungin jempol nya sambil ketawa-ketawa. 

Merasa sudah menguasai alat itu saya pun berlari ke pantai menjemput dua alay lain nya yang lagi ribet sama life jacket. Et dah, mau berenang di pinggir pantai aja pakai lifejacket, memang luar biasa itu adik saya yang satu itu. Ngajarin dia pakai alat snorkel juga luar biasa ribet nya. Saya yang ngajarin malah di bentak-bentak,"kak, jangan seret-seret ke tengah!" Udah gitu malah ngetawain cewe Korea yang lagi belajar snorkel juga, "cupu banget tu cewek.. hahahaaa." Woooi.. ngaca wooooi... #nyelem

Ngajarin alay #3 nyelem

Alay #3 lengkap dengan life jacketnya

Ternyata menyenangkan sekali snorkeling itu. Yang berenangnya belum jago seperti saya juga tidak perlu khawatir karena ada life jacket. Jadi  ga perlu banyak effort udah pasti mengambang. Tapi kalo diajak berenang jauh tetep aja capek, apalagi kalau jarang olah raga. 

Terbukti sama saya waktu diajak sama Simon a.k.a Sulaiman untuk berburu ikan Nemo. Yang berhasil terpengaruh sama si Simon itu cuman saya dan si cewe Jepang yang ngajarin snorkeling ke saya di pantai, kita berenang-renang sampe jauh.. menyusuri lautan sampe akhirnya ketemu ikan Nemo nya... jauuuuuh di dalem laut, di balik terumbu karang. 

Lumayan nyesek juga sih bo', udah jauh-jauh berenang cuman liat ikan nemo ngumpet.

Nah pas balik badan saya langsung panik karena speed boat nya sudah tidak kelihatan. Itu menandakan kalau kita berenang sudah sangat jauh. Di jalan pulang saya semakin kehabisan nafas sementara di cewek Jepang dan Simon meninggalkan saya di belakang. Huhuhuuu... don't leave me... Saya pun mempercepat renangan sampai akhirnya berhasil meraih ujung celana pendek Simon. Dia pun sadar kalau saya kecapekan dan memperlambat renangan nya.

Sampai di kapal saya bener-bener dah kehabisan napas dan berjanji ke seluruh penumpang kapal kalau sampai di Indo saya akan rajin berolah raga, jogging seminggu 3 kali. Guyuran air mineral dingin dari Simon di kepala saya lumayan menyegarkan sih. Di perhentian terakhir, pulau ke3, saya pun tepar.... 

Walaupun melelahkan tapi snorkeling itu sangat menyenangkan. Saya pun ketagihan. Beberapa bulan kemudian ada tawaran dari seorang wanita bernama Lili dan Pagit untuk berlibur ke Belitung. Saya langsung memutuskan ikut karena ada acara snorkeling nya. Saya suka snorkeling.... yuhuuuuuuy... Walaupun pas disana saya pun tetep masih kehabisan napas kalau berenang kejauhan. 

Ikan mana ikan.....
Sementara itu janji jogging 3 kali seminggu yang pernah saya lafalkan di sebuah speed boad di lautan Andaman dihadapan para turis berbagai bangsa : Jepang, Korea, Rusia dan Australia - masih  belum juga terlaksana. *pecut diri sendiri*

Senin, 21 November 2011

Belitung yang Fotogenik

Laskar Pelancong
Bukan cuman saya yang fotogenik, ternyata Belitung juga bisa fotogenik. Saya baru tersadar ketika melihat hasil jepretan kamera saya di layar laptop, beneran kliatan cantik banget. Lebih cantik dari aslinya.... ya aslinya juga cantik sih. Tapi it looks good banget di foto.

Ga heran kalau tempat ini ditaksir jadi salah satu tempat syuting film Hollywood - The Philosopher. Sebelum nya Belitung juga dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi yang mengisahkan tentang kisah hidup anak-anak dari daerah ini.

Sepertinya film ini juga lah yang mulai membuat turis-turis melirik daerah ini sebagai destinasi wisata. Hal ini sesuai dengan pengakuan Bapak pemilik perahu nelayan yang disewa untuk wisata Island Hopping, "sebelum laskar pelangi ada sih turis,  tapi tidak banyak. Setelah film itu baru banyak sekali turis berdatangan ke Belitung."

Apakah Belitung akan menjadi seperti Phuket Island di Thailand yang menjual wisata bekas lokasi syuting film James Bond dan The Beach ?

Pantai Bukit Batu

Pulau Lengkuas, tempat syuting The Philosopher

Menunggu Sunset di Tanjung Pendam

Menjelang Sunset di Tanjung Pendam
Seharusnya Belitung ini merupakan daerah yang kaya raya. Dari sejak jaman Belanda orang-orang sudah mulai menambang Timah disini, dan hingga saat ini masih belum habis-habis. Pada masa penjajahan dulu Belanda mendatangkan buruh-buruh kontrak dari daratan Cina untuk menambang Timah di daerah ini. Jadi jangan heran kalau sampai sekarang populasi warga keturunan Hokkian masih banyak sekali di Belitung dan Bangka (kedua nya merupakan lokasi penambangan timah).

Seharusnya sih kaya yah... tapi entah kenapa kog keadaan di pulau ini buat saya kelihatan memprihatinkan gitu. Semacam kurang terurus. Ah rasanya ironis sekali, pulau yang menghasilkan banyak pemasukan bagi negara karena penjualan Timah  nya eh malah jadi korban ke tidak-merataan pembangunan. 

Pusat kota Tanjung Pandan

Manggar, kota seribu kedai kopi tapi jarang manusia sepertinya
Saya dan rombongan juga sempat mampir di lokasi syuting Laskar Pelangi, tapi cuman lokasi Sekolah Muhammadiyah yang di buat untuk keperluan syuting aja sih. Kalau suka banget sama film Laskar Pelangi ada juga paket-paket tur dari operator lokal yang menawarkan tur Laskar Pelangi.

Bangunan yang jadi SD Muhammadiyah di film laskar pelangi

Pemandangan di sekitaran lokasi syuting

Gimana? mirip ga sama di filmnya? nih deh saya kasih  bonus trailer nya buat perbandingan heheee.... Film ini pun menurut saya menyoroti tentang betapa tidak merata nya pembangunan di Indonesia ini. Tapi sih katanya SD Muhammadiyah Gantong yang sekarang udah bagus gitu, Alhamdulillah yah...


PS: oh iyah.. ceritanya saya itu ke sana bersama dengan rombongan 15-an orang gitu. Ceritanya saya di ajak oleh Miss Lili dan Miss Pagit. Kita berangkat dengan pesawat promo BNI dan ikut paket tur yang sangat  worth banget kalau menurut saya, akomodasi nya nyaman dan makanannya enak-enak. Apalagi serombongan itu seru-seru *dan narsis-narsis* semua orangnya, jadi sangat-sangat menyenangkan. Kalau mau tau apa aja yang kita lakukan dari mulai datang sampe pulang silahkan langsung menuju link blog nya Miss Pagit, hari pertama, hari kedua, dan hari ketiga (terakhir)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...