Tampilkan postingan dengan label xxNowhere. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label xxNowhere. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

Catatan Akhir Tahun 2016

Hmmm.. mau nulis apa ya?

Biasanya setiap akhir atau awal tahun saya akan merangkum apa saja yang terjadi di tahun tersebut, pergi kemana saja dan apa saja yang terjadi dalam hidup saya, tapi tahun kemarin rasanya terlalu complicated untuk dirangkum, ini adalah tahun dimana saya merasa tertekan karena suatu hal tapi memilih untuk mengalah dan menghindari drama karena saya tahu masalahnya bukan di saya. Jadi untuk efisiensi energi saya memilih untuk menghindar dan move on.

Ternyata setiap tahun keadaan tidak jadi makin mudah. Sama seperti waktu sekolah, makin tinggi kelasnya pelajarannya makin rumit dan makin banyak. Mendekati akhir tahun 2016 saya sempat mengalami breakdown, merasa hilang arah sendirian tanpa google maps yang kasih tau harus turn left atau turn right. 

Di penghujung tahun 2016 saya kembali berada di persimpangan dalam hidup ketika pertanyaan batin itu terlontar secara lisan dan retoris, "Aku mau kemana tahun depan?" Sampai tulisan ini dibuat saya masih melangkah tanpa tahu pasti mau kemana, just living the day by day.

Saya telah belajar untuk live in the moment, bersukur dan menikmati yang saya miliki dan tidak berusaha bikin benchmark kehidupan saya dengan orang lain, karena saya masih percaya bahwa jalan hidup setiap orang berbeda-beda dan tidak ada standard khusus yang bisa bikin kategori mana hidup yang baik dan mana yang buruk. Tapi perasaan tidak tahu arah ini lumayan bikin resah, saya jadi berpikir mungkin itu kenapa manusia bikin benchmark, supaya mereka bisa ikut arah orang-orang sebelumnya atau sekitarnya, tapi apa kita semua harus pergi ke arah yang sama?

Tahun ini saya tidak banyak jalan-jalan. Awal tahun sempat ke Bangkok. Kemudian bulan Agustus saya ke Bali ikut Maybank Bali Marathon, berhasil finish Half Marathon pertama saya dan pergi ke Nusa Penida. Tahun depan, walaupun belum tahu mau kemana, yang jelas saya akan terus lari. 

Mulai pertengahan tahun kemarin adalah bencana bagi tanaman-tanaman saya. Musim hujan terlalu lama bikin tanaman saya jadi menderita, hama-hama makin banyak dan akar-akar tanaman busuk akibat tanah selalu basah. Mungkin akan saya ceritakan di postingan khusus kapan-kapan.

Mungkin hal akan berubah drastis untuk saya di tahun 2017. Let's see. Yang jelas sekarang saya sudah mulai pakai krim malam untuk mencegah keriput.


Instagram best nine 2016 

Jumat, 19 Agustus 2016

Catatan di Tahun ke-34

Ada orang yang senang jalan-jalan karena suka petualangan, senang melihat tempat baru, ketemu orang baru, foto-foto untuk kenang-kenangan. Ada orang yang perjalanan travelingnya berawal dari perasaan sedih, dari perasaan tersesat dalam hidup dan keinginan untuk mencari jawaban. Ada orang yang perjalanannya dimulai karena kehilangan sesuatu dan berusaha mencari gantinya. Tapi intinya sama, orang traveling karena kepingin bahagia. 

Banyak yang bilang kalau kita gak perlu cari kebahagiaan jauh-jauh, karena bahagia itu ada di dalam diri kita. Tapi kadang untuk menemukan sesuatu yang ada di dekat atau di dalam diri kita, kita perlu melihat keluar dan pergi jauh dulu. 

Kalau ada yang pernah baca buku Alchemist-nya Paulo Coelho, si pemeran utama menghabiskan waktu bertahun-tahun dan perjalanan jauh yang berliku hanya karena mimpi lihat piramida di mesir dan menemukan harta karun. Tapi ketika akhirnya dengan segala macam perjuangan dia sampai di mesir, ternyata harta yang dia cari ada di bawah pohon tempat dia tidur siang pas lagi mimpi itu. 

Walaupun tidak se-ekstrim pengalaman hidup Elizabeth siapa itu di buku Eat, Pray, Love yang merasa depresi dalam hidupnya kemudian pisah dari suami dan traveling sendiri selama berbulan-bulan. Gak juga mendekati pengalaman hidup Cheryl Strayed di buku Wild yang ketika ibunya meninggal karena penyakit kanker kemudian memutuskan hiking sendirian di gunung selama 4 bulan. Tapi ada miripnya sedikit dengan kedua perempuan itu, saya memulai jalan-jalan ini karena sedih. Saya pergi karena sedih dan mau cari sesuatu yang bisa bikin saya bahagia, hingga akhirnya saya sadar kalau tidak perlu kemana-mana untuk bahagia, semua itu ada di dalam diri kita sendiri.

Yup, waktu kawan saya dulu pertama ngajak saya backpacking perdana ke Singapura, saya langsung meng-hayuk-kan tanpa pikir dua kali karena saya lagi sedih dan tidak stabil secara emosional. Waktu itu umur saya 26 tahun. Memang sebelumnya pekerjaan saya banyak travelingnya, tapi ketika memutuskan untuk backpacking pertama itu saya lagi sedih, bukan karena aslinya saya adalah orang yang suka adventure dan berpetualang. Selama ini memang saya selalu denial tentang alasan asli saya pergi waktu itu, tapi kalau saat situasinya beda mungkin saya akan menunda pengalaman backpacking pertama saya dengan alasan tidak punya cukup uang. Apalagi saat itu saya juga baru saja berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan belum dapat yang baru. 

Waktu itu ketika saya menulis tentang pengalaman backpacking pertama ke Singapura dan kuala lumpur itu saya mengutip kalimat Paulo Coelho yang diambil dari buku Alchemist itu, "when you want something all the universe conspire to help you." Beberapa tahun berlalu, setelah melalui banyak hal, belajar banyak, dan mengalami proses evolusi dalam cara berpikir, sekarang saya gak percaya hal itu sama sekali. 

When you want something, the universe will not conspire to help you. They will against you. Mereka akan merintangi, menghalangi, mencoba menjauhkan kita dari hal yang kita inginkan itu. Yang bisa membuat kita mendapatkannya hanyalah seberapa besar kita menginginkannya dan rela berusaha mendapatkannya. Hidup ga semudah itu.

Tapi ada saatnya kapan kita harus usaha, ada saatnya kita hanya harus menunggu waktu yang tepat. Bahkan cowo di buku itu juga ada saat dimana dia harus nunggu beberapa tahun kerja di toko sebelum melanjutkan perjalanannya lagi lihat piramida. Tantangannya adalah, bagaimana kita tahu kapan harus berusaha, kapan harus menunggu dan kapan harus merelakan sesuatu yang kita inginkan.

Yang membuat saya kepikiran menulis ini karena beberapa hari lalu saya dan salah satu kawan terlibat diskusi. Berawal dari kawan saya suruh saya supaya berusaha cari jodoh. "Cari donk!" katanya, "berdoa kek, tahajud gitu." Saya jawab, iya saya doa kog, doa saya agar diberi yang terbaik dalam hidup. Saya percaya apabila saat ini saya belum dikasih jodoh berarti ini jalan hidup yang terbaik dan saya sudah dikasih lebih banyak hal selain itu dalam hidup saya. Apa yang saya dapat kan tidak harus sama seperti yang didapat orang lain. Jalan hidup orang tidak harus sama semua, ini bukan eropa abad ke-18 atau ke-19 dimana kita harus mencapai standard kehidupan tertentu supaya bisa diterima society. 

Ketika kelas 5 sd, saya pernah tanya sama papa saya. Kalau misalnya orang ditakdirkan kaya dia gak usah kerja bakal tetap jadi kaya donk, sementara orang yang ditakdirkan miskin mau kerja bagaimana pun tetap miskin. Entah di titik mana dalam perjalanan ini saya mulai mengerti bahwa ada takdir yang tidak bisa kita ubah seperti lahir dan mati, kita gak bisa pilih kapan kita lahir atau kapan kita mati. Tapi kita dikasih hidup bukan hanya untuk kemudian mati, kita dikasih pilihan mau jadi apa dalam hidup. Jadi kita bisa pilih mau jadi jahat atau baik, mau jadi kaya atau miskin, walaupun di dunia ini gak ada yang betul-betul hitam atau putih.

Misalnya kaya atau miskin, itu relatif bagaimana kita memilih untuk memandangnya. Ada orang yang punya segalanya, punya uang banyak, tapi tetap merasa kurang karena belum punya ini itu. Ada orang yang walaupun gak punya banyak tapi merasa cukup kaya. Ukuran seberapa kaya pun relatif. Buat orang yang gak punya mobil, orang yang punya Avanza dibilang kaya. Buat orang yang punya Avanza, kaya itu kalau udah punya Mercedes. Sementara orang yang punya Mercedes tetap saja merasa uangnya gak pernah cukup dan berusaha supaya uangnya makin banyak. Dan semakin banyak uangnya, hidupnya makin gak tenang karena makin takut kehilangan semua yang dia punya.

Jadi kita tidak bisa memilih kapan dan dimana kita dilahirkan. Kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kita akan mati. Tapi diantara itu kita kan harus hidup. Nah disinilah kita bisa memilih mau dijalanin seperti apa. Satu, kita bisa pilih untuk menyadari dan menikmati apa yang kita punya saat ini. Atau dua, menginginkan sesuatu yang kita gak punya saat ini hanya karena semua orang yang kita kenal punya sehingga waktu yang kita punya saat ini dihabiskan untuk usaha sehingga kita gak sadar sama apa yang kita punya sekarang dan gak sempat menikmatinya. Saya pilih nomor satu.

Bagaimana dengan orang-orang yang hadir dan pergi semasa hidup kita? Kita juga gak bisa memilih siapa yang akan kita temui dalam hidup ini kan? Apakah orang yang kita temui itu akan bikin kita bahagia. Atau orang yang kita temui akan melukai kita dan bikin kita sedih. Apakah orang yang kita temui itu akan jahat sama kita atau malahan akan jadi penolong disaat kita susah. Kita tidak bisa memilih dan tidak akan pernah tahu orang datang dalam hidup kita akan jadi apa, bisa jadi suatu saat orang yang datang ke hidup saya akan jadi jodoh saya atau bisa jadi orang itu sudah ada disekitar saya tapi memang belum waktunya.

Yang pasti menurut saya semua orang yang kita temui adalah pelajaran dalam hidup dan kita bisa memilih pelajaran itu akan kita gunakan untuk hal berguna apa di hidup kita kemudian harinya.

Kalau saya tidak ketemu sama orang yang bikin sedih mungkin saya tidak akan jadi pribadi yang seperti sekarang, mungkin saya pada akhirnya tidak akan pernah kemana-mana, tidak lihat banyak hal, tidak ketemu banyak orang baru, tidak belajar hal baru sebanyak sekarang ini. Yang terpenting adalah, mungkin saya tidak akan pernah ketemu dengan diri saya sendiri sehingga saya tidak akan pernah tahu apa saja yang mampu saya lakukan - what i'm capable of.

Saya memang gak bisa memilih akan bertemu siapa. Apakah orang yang saya temui akan bikin saya bahagia atau membuat saya sedih. Tapi sekarang saya malah harus berterima kasih sama orang yang bikin saya sedih waktu itu, because when you pushed me off the cliff, i didn't fall and die, i was flying.

Selasa, 22 Maret 2016

Salah Siapa?

Beberapa kali saya sempat berpikir untuk menyalahkan diri sendiri atas kejombloan yang menahun ini. Banyak tante-tante, om-om, kawan-kawan yang bilang bahwa penyebab saya masih jomblo adalah karena saya. 

“elo sih…” 

“ya salah lo sendiri sih..” 

Tapi hati nurani susah banget untuk nyalahin diri sendiri. Buat saya udah jelas. Yang salah adalah cowo-cowo itu. 

Terlalu banyak hal yang bikin ilfil. 

Nomor satu adalah cowo drama. Jenis orang yang merasa kalau dunia dan segala isinya berputar mengelilingi dia sebagai pusatnya. Cowo jenis ini yang suka galau kalau pesannya ga langsung dibalas atau pas telpon ga diangkat, dia mengira kalau kondisi seperti itu sudah pasti karena si cewe gak suka sama dia seolah-olah di dunia ini dari jutaan spesies hewan dan tumbuhan yang penting cuma dia doang. 

Cowo jenis ini gak pernah kepikiran kalau cewe yang dituju itu lagi sibuk sama urusan lain, misalnya lagi dateline pekerjaan, atau ada masalah pelik di pekerjaan atau lagi dikejar-kejar klien yang marah atau lagi dikejar-kejar calo dan terlalu lelah buat angkat telpon. Atau lebih simple lagi karena cewe itu sibuk seharian, terjebak kemacetan berjam-jam, sampe dirumah udah malem dan harus tidur karena setiap hari harus bangun jam 4 subuh. 

Dari sepenggal pesan yang lama dibalas atau telpon yang tidak sempat terangkat, cowo ini kemudian akan curhat dimana-mana, di social media, curhat sama teman-temannya, curhat di grup messenger, pasang quotes yang menyedihkan di foto profil messengernya. Sedih atas sesuatu yang hanya terjadi di imajinasinya aja. Kayak ibu-ibu yang nangis gara-gara nonton sinetron Cinta Fitri.

Ada juga cowo yang gak kreatif. Semua orang sih kayaknya pernah ngalamin. Tapi buat saya tetap aneh. Biasanya kejadian ini terjadi sekitar jam 12 – 1 siang dan 7 – 8 malam, berupa pesan dengan pertanyaan: sudah makan belum? 

Yang membuat kecewa adalah pertanyaan itu gak diikuti dengan action. Misalnya gini. 

Cowo: udah makan belum? 

Cewe : belum 

Cowo: oh bentar ya nanti dikirim makanan, pizza mau? 

Nah itu contoh yang benar, tapi selama ini belum pernah sih terjadi sama saya. Kebanyakan yang kasusnya gini. 

Cowo : udah makan belum? 

Cewe : belum 

Cowo: makan dulu sana, nanti sakit. 

Hellaaaawww….. 

Buat saya pesan seperti itu merendahkan intelejensia saya. Apa iya ada orang begitu bego nya sampai gak bisa mengenali rasa lapar dan gak langsung makan? Saya cuma gak makan pas laper kalau lagi gak punya duit, ya percuma nyuruh makan tapi gak kasih solusi. Kadang saya lelah menanggapi pesan seperti itu, sama lelahnya seperti menjawab telepon dari call center yang menawarkan kredit tunai.

Dari mulai jaman telepon koin, beralih ke jaman telepon genggam, melalui sms kemudian YM dan messenger2 lain, akan selalu ada cowo yang kirim pesan ke cewe dengan kalimat: Makan dulu, nanti sakit. Mungkin jaman masih pake surat-suratan juga ada kayak gitu, ditulis di surat, dikirim pos, seminggu kemudian sudah terlambat, cewe itu sudah mati kelaperan gara-gara lupa makan.

Ngomong-ngomong soal kirim pesan melalui messenger, ada beberapa cowo yang menurut saya keren, cool, orangnya serius dan berwibawa tapi ketika chatting di messenger pakai semua emo-emo, hati, bunga dan pakai huruf yang berlebihan. Ada salah satu cowo yang saya kenal, awalnya ketemu beberapa kali, ngobrol-ngobrol orangnya keliatan smart, serius tapi bisa lucu, tinggi, lumayan manis. Terus tiba saat kita tukeran pin BB. 

Waktu itu saya belum mulai BBM dia, sore harinya pas sampai rumah baru saya lihat ada pesan dari dia. Cowo itu bilang “Halo” tapi pakai insert text BBM yang ada emo orang trus disampingnya ada bunga-bungaan warna-warni. Saya kaget sampai BB saya nyaris lepas dari genggaman saya. Lebih parah lagi ketawanya pakai emo insert text juga yang di scroll 4 kali baru selesai gambarnya. Pegel cuy.

Ada juga teman cowo saya yang ganteng, suatu hari tiba-tiba aja cara nulis pesan di messengernya aneh. Banyak huruf yang kelebihan, kayak misalnya , “iyaaaaaaa……”, “laaaaaaaahhhh kog bisa gituuuuu… hahahahaaaaahhhhahaahhh……” 

Waktu itu saya penasaran dan saya tanya, “keypad henpon lo rusak?” 

Teman saya jawab,”enggaaaaaakkkkk…….” 

Mungkin dia abis digigit hewan yang terjangkit rabies, pikir saya dalam hati.  

Ada lagi nih cowo yang messengerannya perfeksionis, jadi pada suatu hari dia mengirim pesan pertama kalinya melalui Line messenger. Terus saya bales. Dia bales. Trus saya bales pake stiker. Trus dia lama banget ga bales-bales. Saya tidur. Besok paginya saya lihat ada balesan di Line. Stiker. Dalem hati saya mikir pasti dia lama pilih-pilih stiker deh. Lelah. 

Yang paling bikin sebel adalah cowo yang terlalu berusaha keras kelihatan mapan, baru kenal udah cerita soal jabatan di kantor, gajinya berapa, punya mobil apa dan berapa cicilannya, punya rumah harganya berapa milyar yang gak terpakai karena dia tinggal di apartement., bla bla bla. Saya gak peduli kalaupun dia punya satu negara, saya gak pernah peduli orang-orang punya apa dan saya gak mendasarkan pertemanan dari apa aja yang dipunyai orang. Bukannya bikin saya kagum, cowo-cowo kayak gitu malah bikin males. 

Beberapa cowo merasa kalau keberadaan laki-laki itu merupakan kebutuhan kaum perempuan. Sorry bro, sekarang jamannya layanan bengkel mobil 24 jam yang selalu siap sedia datang kapan aja. Pernah ada salah satu senior jaman saya kuliah yang dulunya saya ga gitu kenal deket, baru ketemu lagi. Tiba-tiba ybs merasa harus jadi pahlawan yang mau membantu pekerjaan saya, padahal waktu itu saya gak minta dibantu. Malahan karena ybs pekerjaan yang lagi saya kerjakan jadi terganggu karena "proyek"nya dia dan ybs nya menuntut banyak sekali perhatian. Waktu itu saya hanya gak enak karena sungkan nolak senior. Pada akhirnya ybs tetap marah-marah karena merasa saya kurang effort, kurang menghargai bantuannya, dan karena saya belum punya waktu untuk nemenin ybs nonton di bioskop. Saya langsung tarik nafas, berbaring di lantai, pose yoga savasana. Namaste.

Ini bukannya sengaja cari-cari kejelekan cowo yang deketin saya sebagai alasan buat kabur karena takut sama komitmen jangka panjang seperti yang pernah dibilang salah satu kawan saya. “Mil, lo itu terlalu ‘bro’ sampe cowo aja bakal lebih milih cowo juga buat jadi pasangannya daripada elo,” katanya berusaha menjelaskan kalau saya orangnya susah dipegang kayak belut yang licin dan dingin. 

Ngomong-ngomong, penjelasan teorinya tentang takut komitmen itu menggantung karena istrinya telfon dan dia langsung takut dimarahi kalau pulang kemalaman. Saya jadi mikir teorinya tentang takut komitmen itu sebenarnya ditujukan untuk memberi pembenaran sama situasinya sendiri. Saya pun langsung bersyukur karena kelak pas sampe rumah nanti saya bisa langsung istirahat dengan tenang di kamar saya sendiri tanpa menghadapi drama ‘kemana aja tadi’. 

Intinya adalah, walaupun tetap bersyukur dengan kondisi saya sekarang ini, saya gak pernah menghindar dari kesempatan untuk berkomitmen, malahan usaha cari-cari juga kog. Saya masih mau-mau aja kalau ada kawan saya yang berusaha menjodohkan saya dengan kawannya walaupun seringnya ketemu dengan tipe-tipe cowo yang diatas itu. 

Supaya lebih terlihat desperate nih ya, saya ngaku kalau pernah coba aplikasi Tinder, salah satu app cari jodoh yang ada di smartphone. Ujung-ujungnya sih saya malah jadi ngetawain kawan-kawan yang saya kenal yang ternyata muncul fotonya di aplikasi itu. 

Diantara foto-foto kawan saya itu saya melihat beberapa foto cowo-cowo yang biasa aja, bukan cowo yang keren, cool, bentuk badan atletis dengan tatapan mata tajam - justru kebalikan dari itu. Saya berpikir, mungkin kalau cowo yang keren banyak di-swipe kanan-in, tapi kalau cowo biasa-biasa aja mungkin sering kelewat, pasti selalu jadi korban swipe kiri. Jadi saya memutuskan akan mulai swipe kanan cowo-cowo yang biasa aja itu, supaya mereka senang kalau akhirnya ada yang like mereka. Aplikasi itu pun saya jadikan ajang untuk berbuat baik sesuai panggilan hati saya yang selalu ingin berbuat kebaikan. 

Sayangnya, cowo biasa-biasa pun gak ada yang memilih saya. Sistem di Tinder kalau orang lain dan kita sama-sama like maka akan ada notifikasi Match, setelah itu baru bisa kirim-kirim pesan. Dari itu saya tau ga ada yang pilih saya, karena gak dapet Match. Kebaikan saya pun bertepuk sebelah tangan. Belum ada seminggu mainan aplikasi itu saya udah gumoh (seperti perasaan eneg kalau makan kekenyangan) sama muka cowo-cowo karena kebanyakan liat foto. Saya pun menyerah. Nah jadi bukan salah saya kan. Saya udah usaha. Yang salah ya cowo-cowo itu.

Jumat, 08 Januari 2016

Flashback tahun 2015

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya semenjak saya memulai blog ini di tahun 2008 saya selalu membuat catatan akhir/awal tahun. Di tahun 2016 ini postingannya memang agak telat karena sudah satu minggu berlalu sejak pergantian tahun saya baru ada kesempatan update blog lagi.

Awal tahun 2015 saya lewatkan di Unit Gawat Darurat RS Persahabatan karena ada insiden yang terjadi menjelang detik-detik pergantian tahun di rumah saya yang cukup memacu adrenalin. Saat itu saya hanya mengantar tapi harus menunggu sampai pagi di dalam ruang itu. Sangat berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya yang saya lewatkan dengan tidur nyenyak, malam tahun baru 2015 saya sama sekali tidak tidur, malahan menyaksikan korban-korban kecelakaan motor, korban tawuran dan korban petasan hilir mudik di ruang UGD. 

Momen memacu adrenalin diawal tahun itu ternyata merupakan awal dari sulitnya tahun 2015 bagi saya. Perlambatan ekonomi dan pergantian posisi politik yang mengakibatkan banyaknya kebijakan-kebijakan yang berubah atau tidak jelas ditambah dengan perekonomian dunia yang secara umum memang lagi susah membuat usaha saya juga jadi susah. Prestasi terbesar di tahun 2015 kemarin untuk saya adalah bertahan atau survive

Walaupun tahun kemarin mungkin adalah tahun yang paling sedikit travelling untuk saya dalam 8 tahun terakhir tapi saya sempat mendaki puncak Merbabu. Sisa waktu luang yang ada saya pergunakan untuk berkebun dan lari. 

Tahun 2015 di bulan agustus bertepatan dengan tanggal ulang tahun, saya berhasil mencapai jarak 10km pertama saya. Saya dan kawan-kawan yang hobi lari juga mencari track-track lari baru di tempat-tempat yang seru. Besok-besok saya akan share rute dan track lari seru yang pernah saya coba. 

Semakin banyak aktifitas fisik di tahun kemarin, walaupun sedikit travelling, saya merasa semakin fit. Selain itu karena sejak beberapa tahun lalu saya bertekad membatasi bahan-bahan kimia yang masuk ke tubuh, jadi saya tidak lagi mengkonsumsi obat kalau sakit, tidak lagi menambahkan gula di kopi atau teh saya dan mengurangi drastis makan atau minum produk kemasan. Awalnya saya sempat kena flu tapi tetap tidak minum obat, saya hanya banyak konsumsi buah dan tidur lebih cepat, tidak perlu waktu lama saya merasa daya tahan tubuh saya menguat dan hingga sekarang sudah tiga tahun saya tidak pernah sakit, Alhamdulillah yah.

Sejak mulai menanam tomat di pertengahan tahun 2014, saya jadi suka banget bercocok tanam. Dari hanya tanaman tomat saya mulai merambah menanam sayur-sayuran lain seperti terong ungu, sawi, kangkung, bayam, kacang panjang, okra, ubi dan bunga marigold. Di akhir tahun 2015 kemarin saya sempat posting rencana kebun saya untuk tahun 2016, awal tahun ini pun diawali dengan baik karena setelah beberapa kali mencoba menanam benih bunga matahari dan gagal, kemarin salah satu benih bunga matahari yang saya tanam di awal tahun berkecambah.

Menghadapi masa-masa sulit sepanjang tahun, ada hal yang saya sadari. Saya banyak berubah. Saya mulai menabung bukan untuk jalan-jalan. Walaupun saya sempat hampir kehilangan semuanya, tapi sepertinya saya sudah sangat terbiasa kehilangan apa yang saya punya, jadi di momen-momen saya harus melepaskan tabungan saya itu tanpa ada kepastian akan kembali saya ikhlas kalau memang harus kehilangan. Untungnya sih balik. Seperti yang pernah saya posting di tahun 2014 bahwa hidup ini kayak traveling, semakin banyak barang/beban yang harus dibawa maka travelingnya jadi ribet dan berat. Tapi kalau kita bisa memilih untuk membawa apa saya yang benar-benar kita butuhkan sehingga bawaan kita ga banyak, perjalanan akan jadi lebih simpel dan ringan. Apalagi kalau bisa benar-benar jalan dengan hanya bawa diri sendiri - maybe that's what true freedom is, kita gak takut kehilangan apa pun lagi kalau kita ga punya apa-apa.






Kamis, 17 Desember 2015

Racauan orang yang lagi kurang piknik dan kebanyakan nonton video random di youtube

Sejarah dimulai ketika manusia mengenal tulisan. Manusia mengenal tulisan setelah mereka mengenal teknik bercocok tanam dan sudah tidak hidup berpindah-pindah untuk mengumpulkan dan berburu makanan (hunters and gatherers). Sebelum masa sejarah (pre historic) manusia yang hidup berpindah-pindah belum mengenal tulisan, ilmu dan pengetahuan diceritakan langsung dan diajarkan turun temurun. Cara bertahan hidup di alam, apa saja yang boleh dimakan, bagaimana cara berburu semua diajarkan secara lisan dan langsung diterapkan dalam kehidupannya.

Manusia sudah hidup dengan cara mengumpulkan makanan dan berburu sejak ada di bumi, beberapa ratus ribu tahun kemudian teknologi yang dipakai untuk hidup semakin rumit. Awalnya alat bantu untuk senjata, mengolah makanan, dan sebagainya menggunakan batu-batuan. Lama-lama mereka punya ide meruncingkan batu. Kemudian mereka hidup berpindah-pindah dalam kelompok untuk terus mencari makanan. Semakin lama teknologi yang mereka temukan makin canggih, mungkin karena di tempat-tempat baru yang didatangi mereka terbentur dengan tantangan alam baru dan harus terus menemukan cara untuk menanggulangi tantangan alam dan bertahan hidup. 

Hingga sampai pada era manusia mulai bercocok tanam. Mungkin awalnya gaya hidup bercocok tanam masih bercampur dengan berburu dan mengumpulkan makanan dari tumbuhan liar di hutan. Kemudian di beberapa daerah yang pada akhirnya menjadi pusat dari awal mula peradaban manusia seperti di mesopotamia, gaya hidup bercocok tanam lebih maju dan manusia mulai memenuhi sebagian besar kebutuhan makanannya dari hasil pertanian. Tapi laju kemajuan teknologi di bumi tidak sama. Ketika jaman peradaban mesopotamia terbentuk, sebagian besar manusia di bumi ini masih hidup sebagai kelompok nomaden hunters and gatherers.

Ketika daerah Eropa sudah memasuki era modernisasi di tahun 1700-an, Suku Aborigin di Australia masih hidup sebagai hunters and gatherers. Di saat itu juga pasti di pedalaman-pedalaman hutan di Indonesia masih banyak dihuni oleh suku asli yang hidup nomaden. Di pulau Jawa mungkin keberadaan suku nomaden terdesak oleh masuknya arus migrasi dari manusia yang hidup bercocok tanam padi, yang populasinya merupakan cikal bakal terbentuknya kerajaan di Jawa. Tapi di pulau-pulau lain seperti Sulawesi dan Kalimantan, mayoritas pasti masih dihuni suku nomaden. Waktu saya kecil aja di Irian Jaya (Sebutan papua jaman orde baru) masih banyak suku asli yang hidup di hutan dengan cara berburu. Di kalimantan pun masih ada suku Dayak yang tinggal di hutan yang masih belum jadi kebun sawit. 

Saya mau cerita video singkat yang baru saya tonton tentang Waorani, dari suku asli yang tinggal di hutan Amazon . Kalau mau nonton sepertinya harus Log In dulu dan daftar, jadi saya cerita aja sekilas. 

Waorani lahir sebagai suku nomaden di pedalaman Amazon. Waktu kecil Waorani masih hidup berpindah-pindah. Setiap 3 bulan pindah tempat, dia ikut jalan diikat pakai tali ke orangtuanya atau didukung di pundak orang tuanya. Mereka hidup dari makan hasil hutan dan berburu, makanan utamanya Yuca atau kalau kita bilang disini Singkong. Mereka hidup berkecukupan, alam memenuhi segala kebutuhan mereka. 

Hingga suatu hari ketika Waorani sudah dewasa di tahun 90-an, datang orang-orang dari perusahaan minyak. Mereka membuat perjanjian dengan beberapa suku asli yang tinggal di hutan itu agar mereka bisa menambang minyak bumi disitu. Seharusnya perjanjiannya hanya 20 tahun, tapi sudah lebih dari 20 tahun perusahaan minyak itu masih beroperasi di sana. Waorani menyebutnya "the devil's tongue of spanish".

Kisah yang mirip pernah saya dengar dari Rio yang pernah tinggal bersama suku dayak di Kalimantan. Hidup mereka berubah drastis karena perusahaan kelapa sawit membeli tanah mereka untuk dibangun perkebunan. Mereka yang sebelumnya tidak terbiasa dengan konsep uang mempergunakannya secara konsumtif, beli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan tidak bisa jadi modal untuk hidup mereka selanjutnya kalau uang hasil penjualan tanah sudah habis. 

Sejak nenek moyang Suku Dayak hidup di hutan itu berabad-abad lalu, mereka hidup dari apa yang ada di hutan. Mereka punya kepercayaan, kewajiban dan tata cara yang diajarkan turun temurun bagaimana menjaga hutan agar bisa terus hidup dan makan dari apa yang ada di hutan. Mereka tidak perlu uang untuk beli makanan. Tapi karena hutan tempat mereka cari makan berubah jadi ladang sawit dan sudah ditukar sama uang, jadi otomatis hidup mereka berubah drastis. 

Sama persis seperti Waorani di hutan amazon. Sebelum perusahaan minyak datang mereka hanya makan apa yang ada di hutan; singkong, pisang, hewan buruan. Pakaian, alat berburu dan aksesoris lainnya diambil dari bahan yang tersedia di hutan, diajarkan turun temurun oleh orang tua mereka. Dan mereka merasa cukup. Setelah mengenal uang dan bisa beli bahan makanan, yang dimakan jadi lebih bervariasi; nasi, coca cola, biskuit, kue. Masalahnya adalah Waorani tidak punya skill untuk menghasilkan uang, sementara makin lama kehidupannya makin tergantung dengan uang karena hutan tempatnya tinggal sudah tidak sama seperti pada masa ayah dan kakeknya. 

Waorani khawatir dengan kondisi hutan yang semakin rusak karena pekerjaan ekplorasi, mereka sudah tidak bisa lagi hidup dari hasil hutan seperti dulu. Ya mirip-mirip kejadiannya antara di amazon, suku dayak di kalimantan, suku di papua. Itu juga yang terjadi sama banyak spesies hewan di dunia ini yang semakin lama semakin susah untuk bertahan hidup karena hutan tempat tinggal mereka makin lama makin sempit didesak oleh perkebunan, peternakan, jalan raya, perumahan, pabrik. Sekarang Waorani dan anggota suku yang tinggal di hutan itu tidak lagi bisa hidup berpindah-pindah. Anak-anaknya sudah tidak merasakan hidup nomaden, mereka menetap di rumah yang sudah di semen permanen dan sudah sekolah.

Waorani di Amazon, suku Dayak di Kalimantan dan suku di Papua merupakan sisa-sisa dari generasi hunters and gatherers di dunia ini. Anak-anak mudanya mungkin sudah tidak hidup sama seperti cara hidup kakeknya karena perkembangan dunia yang pesat tahun belakangan ini, mereka sudah tidak lagi berburu dan mengumpulkan makanan karena kebutuhannya dibeli di pasar. Mereka mungkin sudah tidak lagi mempelajari pengetahuan turun temurun dari orang tuanya tentang jenis tumbuh-tumbuhan yang bisa jadi makanan atau jadi obat di hutan, tidak lagi mempelajari cara membuat pakaian dan membuat senjata dari bahan alami karena sudah sekolah dan belajar matematika, fisika dan kimia. 

Perubahan memang tidak terelakan, tapi lucu. Jaman dulu dunia ini tanpa batas, kemudian manusia membuat batasan-batasan untuk melindungi tempat tinggalnya contohnya batas negara, tapi lama-lama gaya hidup nya jadi sama semua dan mulai banyak yang menginginkan dunia tanpa batas (lagi). Yang hidup di peradaban inferior pasti kepingin mengikuti manusia yang hidup di peradaban superior. Kalaupun gak kepingin pilihannya hanya harus mengikuti atau terdesak. Seperti suku di Amazon dan Dayak terdesak sama globalisasi, suku Indian dan Aborigin terdesak sama kolonisasi bangsa eropa jaman dulu. 

Waktu ke Rinjani, kawan-kawan bule saya yang bareng mendaki sama saya sepakat kalau saya mengingatkan mereka sama Pocahontas waktu lihat saya lari-lari gak pake sepatu dipinggir danau. Katanya karena kulit saya yang tanned (bukan item yah), kepangan rambut dan tampak seneng banget lari-larian telanjang kaki. 

Pocahontas di disney memang keren, dia juga dari suku indian asli yang tinggal di hutan. Tapi kenyataannya ga seindah di film animasi. Pocahontas itu tokoh nyata dan memang benar dia ketemu John Smith yang berlayar pakai kapal dari Inggris. Si John Smith ini sendiri yang menulis surat ke Ratu Inggris tentang Pocahontas, seorang gadis anak kepala suku indian yang menyelamatkan nyawanya ketika mau dieksekusi sebagai penyusup asing. Mungkin itu yang menginspirasi cerita Disney. 

Saya pernah baca cerita asli tentang Pocahontas, di dunia nyata Pocahontas akhirnya menikah dengan pria Inggris, bukan John Smith. Dia jadi perempuan Indian pertama yang hidupnya di-westernisasi. Pocahontas diajari bahasa Inggris, pakai baju kayak perempuan inggris di era itu, gaya hidup dan tata caranya berubah jadi kayak orang eropa. Buat saya itu tragis dan menyedihkan, tapi mungkin pas jaman itu dari suku primitif yang hidup di hutan jadi anggota peradaban eropa yang canggih itu keren.

Waktu jaman kolonial di Indonesia dulu, Belanda juga membawa gaya hidup Eropa ke raja-raja Jawa. Pangeran dan Putri disekolahkan ke Belanda atau disekolahkan di sekolah elit yang didirikan dan diajar oleh orang Belanda, mempelajari bahasa dan gaya hidup eropa. Coba aja perhatikan kalau lagi berkunjung ke keraton atau museum kerajaan-kerajaan di Jawa. Di tahun 1800-an Sultan pun mulai memasukan unsur Jas ke pakaiannya, seperti gaya pakaian orang Eropa. Sekarang kita pakai baju, rok, kemeja, T-shirt, Jeans itu hasil nyata dari era kolonial, kita semua bergaya pakaian seperti orang barat. 

Berakhirnya satu jaman beralih ke jaman lain memang tidak terelakan dan kalau kita baca buku sejarah memang selalu terjadi. Sekarang ini adalah saatnya jaman hunters dan gatherers benar-benar berakhir. Generasi yang lahir sekarang-sekarang ini mungkin hanya akan tahu suku primitif yang tinggal nomaden di tengah hutan hanya dari wikipedia atau dari jalan-jalan ke goa pre-historic dan lihat gambar-gambar hasil karya orang purba di dinding goa karena budaya hidup hunters and gatherers sudah punah. Tapi mudah-mudahan kita semua tidak akan lupa kalau ada saat dimana manusia hanya mampu bertahan hidup di alam, belum punya teknologi untuk berusaha mengendalikan dan menjadi mahluk congkak yang berusaha menguasai dunia ini. 

Rabu, 08 Juli 2015

Playlist : Power Songs

Karena dibalik seorang wanita yang tegar ada lagu-lagu yang menguatkan, menyemangati dan menyelamatkan jiwa yang nyaris rapuh.

Walaupun kehidupan ini kadang terasa terlalu kejam dan melelahkan tapi saya bersukur hidup di jaman sekarang, bukan jamannya homo sapien masih menjadi spesies lemah di pojokan afrika yang tidur dalam gua dan hidup dalam ketakutan akan hewan-hewan buas. 

Di jaman itu Homo Sapien masih ada di level-level terbawah dalam piramida makanan. Jika ada hewan paling buas yang menduduki peringkat nomor satu dalam piramida makanan - misalnya Singa Masai - mendapatkan mangsa, maka singa itu akan memakan buruannya hingga kenyang kemudian meninggalkan. Sementara itu serombongan Kenya mengintai menunggu Singa Masai selesai makan, karena setelah itu giliran mereka. Ketika rombongan Kenya pergi, datang sekumpulan Burung Pemakan Bangkai mematuki sisa-sisa daging yang tertinggal di tulang belulang. 

Menunggu dengan sabar di balik semak dari kejauhan, sekumpulan Homo Sapien. Mereka mengharapkan sisa-sisa sumsum di tulang hewan untuk dimakan. Jadi sum-sum di tulang termasuk salah satu makanan utama manusia kayak kita pas jaman itu. Beruntung kan sekarang kita bisa makan daging dengan tenang, gak perlu menunggu sisa dari Singa dan burung pemakan bangkai dan makannya gak perlu sambil mengendap-ngendap kecuali kalo makan nya nyolong dari dapur tetangga.

Walaupun tiap pagi harus terjebak traffic yang parah, tapi saya bersukur gak harus jalan kaki di tengah padang savana yang terekspos sepenuhnya dengan perasaan was-was tiba-tiba diterkam Harimau lapar, seperti di era pra sejarah itu. 

Jadi seberat apapun hari-hari yang sedang saya lalui dalam hidup, jikalau kepenatan dan kegalauan mulai melanda, saya akan langsung memasang Power Songs. Seperti kata mba-mba di Nike Plus setiap kita sudah mau mencapai target finish lari, "you almost at your goal, press a power song and beat it!"

Berikut ini lagu-lagu yang ada di Playlist Power Song saya saat ini:

1. Afterlife - Ingrid Michaelson
2. Be OK - Ingrid Michaelson
3. Brave - Sara Bareilles
4. Elastic Heart - Sia
5. Everyone is Gonna Love Me Now - Ingrid Michaelson
6. Explosions - Ellie Goulding
7. Hand in My Pocket - Alanis Morissette
8. Hercules - Sara Bareilles
9. High - Lighthouse Family
10. King of Anything - Sara Bareilles
11. Little Black Dress - Sara Bareilles
12. Living in The Moment - Jason Mraz
13. New Romantics - Taylor Swift
14. Ride - Lana Del Rey
15. Shut up and Drive - Rihanna
16. Speed of Sound - Coldplay
17. Thank You - Alanis Morissette
18. Yellow Flicker Beat - Lorde
19. Big Girls Cry - Sia
20. Masterpiece - Jessie J
21. Fight Song - Rachel Platen

Lagu terakhir kayaknya lagu yang lagi paling banyak di cover di youtube, itu membuktikan bahwa banyak jiwa-jiwa hampir rapuh yang butuh diselamatkan oleh lagu yang dapat memberikan kekuatan jiwa apabila dinyanyikan dengan sepenuh hati.

Yang ini Bonus:


Minggu, 03 Mei 2015

Ikan Sebelah

"Even the misfits survives"

Kata seorang teman saya kemarin waktu saya whatsapp foto ikan yang namanya Ikan Sebelah. 

Sebut saya kurang wawasan / kurang gaul / kurang update, tapi seumur hidup baru kali kemarin itu saya lihat ikan yang matanya satu ada di kanan dan satu lagi di tengah. Letak matanya bukan di kedua sisi tubuhnya. 

Dari dulu salah satu pertanyaan besar dalam hidup saya adalah kenapa ikan matanya disamping jalannya kedepan, tapi kepiting matanya didepan jalannya kesamping. Walaupun pada akhirnya saya ambil kesimpulan (sok) analitis kalau mata ikan yang disamping dan jalannya kepiting yang menyamping itu adalah kunci survival spesies-spesies tersebut. Di tengah pencarian jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya saya sudah tahu kalau bahwa tidak semua ikan matanya disamping, banyak juga yang matanya didepan - misalnya ikan hiu, tapi saya melewatkan bahwa ada kesalahan dalam pertanyaan awal saya. 

Kesalahan saya adalah generalisasi. 

Karena mayoritas ikan-ikanan yang saya lihat setiap hari, yang kebanyakan sudah jadi lauk di piring, kedua matanya disamping maka saya men-generalisasi kalau 'semua' ikan kedua matanya disamping. Dalam kasus ikan hiu, oke, memang matanya mengarah ke depan dan posisinya gak disamping kayak ikan-ikan kecil lain tapi tetap saja ada mata kiri dan mata kanan yang simetris. 

Ketika kemarin saya lihat ikan yang posisi matanya tidak simetris, logika saya bener-bener gak menerima, seolah-olah itu bukan hal yang wajar. Anehnya hal ini bikin saya jadi bergidik ngeri kayak lihat mutan. Mungkin kayak gitu juga perasaan Charles Darwin waktu tau ada spesies ikan ini. 

Iya.

Ternyata jenis ikan kayak gini emang udah umum bahkan udah ada sejak jaman Darwin. Nama-nama nya juga gak asing dan mungkin saya juga pernah makan, diantaranya Halibut dan Flounders. Mereka masuk kedalam jenis flat fishes (ikan rata), kedua matanya ada di sisi kanan badannya, berenangnya dengan mata menghadap keatas dan badannya kearah samping. 

Pas tau gitu seketika saya marah besar sama Disney. Saya merasa tertipu dan dijerumuskan sama film Little Mermaid karena ternyata si Flounder temennya Ariel bukan Ikan Flounder! Ikan Flounder modelnya ga bulet setrip-setrip kuning dengan mata bulet didepan kayak gitu! 

Disney telah membuat saya men-generalisasi ikan Flounder jadi kayak si Flounder nya Ariel. Itu jadi sama aja kayak men-generalisasi kalau perempuan yang cakep itu yang kayak Barbie. Saya jadi merasa bersalah sama seluruh spesies flounder di dunia ini.

Awalnya waktu temen saya bilang kata 'misfits' saya ngerasa iiiihhh beneerr bangeett. 

Tapi setelah semaleman meng google tentang ikan halibut based on curiosity saya jadi berpikir ulang tentang kata misfits.

Bukannya di dunia ini emang ada macem-macem bentuk mahluk hidup ya? tapi kenapa kalau ada yang beda dengan yang kita lihat sehari-hari jadi kita sebut misfits ya? Kenapa kita ga bisa aja menerima kalau mahluk itu emang beda dari yang pernah kita lihat. 

Mungkin karena kita sebagai manusia terbiasa dicekokin sama generalisasi dan jadi beda itu dosa. 

Bahkan jalan hidup manusia post-modern kayak kita-kita ini juga path nya udah di generalisasi. Kalau ada yang merasa 'trapped in somebody else's masterplan' dan sengaja memilih untuk beda dari itu kemudian di cap misfits sama orang-orang di sekitarnya. 

Lucunya lagi kalau diamatin belakangan ini mulai muncul fenomena yang berusaha mendobrak generalisasi yang dibuat oleh generasi sebelum-sebelum kita. Mulai banyak juga sih paham yang menganggap kalau jadi rebellious dan beda itu sesuatu yang keren. Kita harus jadi diri kita sendiri. 

Tapi yakin kalau beda nya itu adalah kita yang jadi diri sendiri? Bukannya menyamakan diri sama yang beda? Kalau banyak beda yang sama jadinya sama aja bukan sih? 

Ikan halibut atau ikan sebelah gak terlahir dengan kedua mata di satu sisi tubuhnya. Waktu lahir larvanya punya mata simetris di kanan dan kiri sisi tubuhnya. Pas usia 6 bulan baru matanya yang kiri geser ke arah kanan sampai akhirnya matanya ngumpul di satu sisi dan sisi kiri tubuhnya kosong. Ikan ini banyak menghabiskan waktunya tiduran menyamping di sisi kiri dan berenang dengan sisi kiri di bawah.  

Walaupun dalam hati saya masih menggebu-gebu dengan pertanyaan: kenapaaaaa matanya harus geseeeerrr??? kenapaaaaa????? 

....dan kali ini saya kurang puas sama teori-teorian survival, tapi mulai sekarang saya akan melatih logika saya untuk selalu bisa menerima kalau ada yang beda dan itu adalah hal normal. Pasti susah banget buat gak banding-bandingin sesuatu dengan sesuatu yang lebih sering saya lihat, paling enggak saya mau coba berhenti men-generalisasi banyak hal dan melihat masing-masing hal itu secara terpisah.


Rabu, 31 Desember 2014

Catatan Penghujung 2014

Saya selalu membuat catatan penutup setiap tahun di blog ini, tapi 2014 tidak seperti tahun yang sebelumnya. Di tahun 2014 saya menulis Catatan di Pertengahan 2014, tentang Comfort Zone

Pertengahan 2014, adalah saat saya menyadari bahwa there is no such thing as comfort zone, yang kita lakukan di hidup ini intinya untuk survive hari demi hari. Setiap pagi adalah 'hari baru' dengan tantangan baru yang harus dihadapi dan setiap malam adalah saat hari berakhir, kemudian kita kembali ke 'hari baru' selanjutnya dengan tantangan baru yang berbeda yang dalam waktu 24 jam akan berakhir. Hidup adalah suatu siklus. 

Akhirnya di windu ke-4 kehidupan ini, saya memutuskan akan mulai memandang hidup ini satu siklus hari - satu siklus hari saja. Sebenarnya ada istilah bahasa inggris untuk ini: Taking one day at a time. Kalau menurut saya sih sebenarnya sama seperti kalau kita makan, walaupun ada nasi sepiring di hadapan kita tapi tetap saja yang bisa kita masukan ke dalam mulut kita hanya satu suap demi satu suap, dengan cara itu kita bisa lebih menikmati dan mencerna makanan kita. 

Buat saya dengan cara fokus di satu siklus hari saja, membuat kekhawatiran saya terhadap masa depan yang belum pasti terjadi berkurang secara drastis. Mengurangi keparnoan terhadap apa yang belum pasti terjadi ternyata efeknya mengurangi kegalauan yang berkecamuk karena hal ga jelas.  

Ketika di awal tahun 2014 saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Timor Leste, kawan-kawan saya pada mikir saya orang aneh, "ngapain lo ke timor leste? nyusul KD?" Mereka nanya, kenapa gak ke derawan? kenapa ga ke raja ampat? kenapa ga body surfing di green canyon? Semua hal yang jadi semacam destinasi wajib turis itu belum ada yang pernah saya kunjungi. Kenapa malah ke Timor Leste yang ga ada apa-apa itu?

Waktu itu saya jawab, "yaaa pengen aja liat bagaimana keadaan negara yang baru berdiri." Kan jarang-jarang ada kejadian begitu. Kalau saya tunggu 10 tahun lagi untuk ke sana ya mungkin udah ga baru-baru amat. Saya mau lihat bagaimana kehidupan orang yang tinggal di negara yang harus membangun segala sesuatu nya dari nol - from scratch - infrastruktur nya, gaya hidupnya, nasionalismenya, identitas budaya nya, bahkan mungkin jati diri nya sebagai warga dunia. 

Kunjungan saya beberapa bulan ke daerah Merapi juga membuat saya kembali dihadapkan pada suatu kehidupan yang harus dimulai dari awal. Hidup itu adalah siklus. Kalau mau melihat jauh ke belakang, ada saat dimana asteroid jatuh ke bumi dan memusnahkan dinosaurus dan seluruh organisme yang hidup di jaman jurassic itu, kemudian terbentuklah organisme yang sama sekali baru yang memulai dan lambat laun membangun eksistensinya sebagai mahluk hidup di bumi. 

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan segusar apa pun kita mengkhawatirkan nya dan berusaha memprediksinya. Ketika saya sadar itu, banyak hal yang buat saya jadi kurang penting lagi, seperti misalnya baju-baju brand luar yang saat opening dan sale selalu dipenuhin orang-orang. Bahkan ketika di awal tahun kamera underwater saya rusak dan tidak tertolong, saya merelakannya. Ketika memutuskan mau beli kamera pocket baru saya mikir, saya butuh barang ini atau saya hanya kepingin punya? Akhirnya hingga tahun 2014 mau berakhir saya belum beli camera pocket baru karena iPhone saya bisa berfungsi ganda sebagai kamera juga. 

Walaupun suka was was dengan batere iphone yang lebih cepat habis daripada camera pocket yang tahan berhari-hari, tapi ternyata mengurangi satu set gadget (lengkap dengan alat chargernya) jadi memudahkan saya ketika travelling. Hidup pun mungkin begitu, dengan mengurangi beban berupa barang-barang seperti itu akan membuat hidup lebih mudah dan lebih ringan. 

Sama seperti kita memutuskan apa yang mau dibawa ketika travelling supaya ga ribet, kita pun harus memutuskan apa yang mau kita bawa dalam hidup dan mana yang harus ditinggalkan. Hal itu termasuk perasaan-perasaan kita yang bikin berat hidup seperti misalnya perasaan pengen sama kayak temen kita si "anu" yang tiap 3 bulan sekali jalan-jalan ke luar negeri, atau pengen sama kayak temen kita si "cuplis" yang sepantaran tapi udah posisi manager dan mobilnya CRV. 

Apakah kita butuh seperti itu atau cuman kepingin aja seperti itu?

Buat saya, dengan bisa menerima diri saya ini seperti sekarang dan mensyukuri nya membuat hidup saya lebih ringan, ga keberatan sama ekspektansi.

Kata Jason Mraz di lagu nya, "Let's hike in the mountains and challenge our will," itu lah yang membawa saya ke Rinjani. Sebenarnya cita-cita mau ke Rinjani sudah ada sejak 3 tahun yang lalu tapi baru terlaksana tahun ini. Sejujurnya saya takut gak siap secara fisik, tapi kalau menunggu sampai siap rasanya saya gak akan siap-siap sampai waktu yang tak terhingga. Jadi saya hanya...

.....pergi. 

Begitu saja.

Beberapa hari setelah kepulangan saya, blackberry saya error. Semua foto yang tersimpan di memory card-nya hilang dan banyak foto-foto saya di Rinjani yang belum saya backup. Diantara itu ada foto saya main layangan di Segara Anak, foto favorit saya. Tentu saja saya sedih dan menyesali kejadian itu, tapi ketika hari berakhir saya memutuskan merelakannya. Keesokan pagi saya memulai hari baru tanpa penyesalan dan udah ga larut dalam kesedihan gara-gara foto yang terhapus. Buat saya yang penting adalah experience saya main layangan di segara anak, bukan sekedar foto saya lagi main layangan yang terhapus di memory card BB.  

Belakangan ini saya menemukan bahwa experience dalam acara jalan-jalan saya yang seringnya ga terkonsep menjadi hal yang lebih penting dari tujuannya. Kemanapun destinasi nya, akan selalu ada pelajaran baru yang menambah makna dari hari-hari yang saya jalani, membentuk apa yang menjadi diri saya hingga sekarang ini. Hingga akhirnya saya benar-benar tidak peduli kemana destinasi petualangan saya berikutnya karena buat saya sekarang setiap hari adalah hari baru, tantangan baru, petualangan baru dan tentunya pelajaran baru.

Selamat Menyongsong Tahun 2015.

 

Senin, 08 September 2014

Pertanyaan Besar Dalam Hidup

Apa kamu punya satu pertanyaan besar yang terus menghantui sepanjang hidup? Saya punya beberapa, salah satunya sudah menghantui saya selama sekitar 20 tahun:

Kenapa ikan matanya di samping tapi jalannya kedepan, tapi kepiting matanya ke depan jalannya ke samping?

Puluhan tahun saya terus mencari jawaban dari pertanyaan itu tapi hingga sekarang saya belum menemukan jawaban yang memuaskan. Dalam perjalanan-perjalanan pencarian innerpeace pun saya tetap berusaha mencari jawaban atas pertanyaan krusial dan mendasar dalam hidup saya itu. 

Di tengah pencarian, saya menemukan suatu fakta yang tidak saya ketahui sebelumnya ketika saya membuat pertanyaan "kenapa ikan matanya di samping". Bahwa ternyata tidak semua ikan matanya disamping, ada juga ikan yang matanya di depan, misalnya ikan hiu. Ikan yang matanya di samping adalah ikan-ikan yang posisinya di rantai makanan berada di tingkat bawah, sementara ikan predator yang posisi nya ada di atas rantai makanan punya mata di depan. 

Hubungan posisi mata dan posisi mahluk hidup di rantai makanan tidak hanya berlaku untuk ikan. Hal tersebut berlaku juga untuk hewan yang hidup di darat. Contohnya, hewan yang selalu diintai predator seperti ayam, kambing, kelinci, rusa, punya mata di samping. Sementara hewan yang berada di top of the food chain seperti singa, buaya, macan, punya mata di depan. Kalau mau fair bisa dimasukan juga spesies kita, manusia yang punya mata di depan.

Mahluk hidup yang selalu merasa terancam oleh predator punya mata di samping agar mereka lebih leluasa melihat sekeliling mereka. Tentu saja untuk lebih cepat melihat apakah ada ancaman dari sekitar mereka supaya bisa cepat-cepat kabur - ke arah depan - sementara mata mereka masih bisa mengawasi sekitar. Posisi mata mereka yang disamping itu lah yang membantu mereka untuk survive.

Tapi fakta yang saya temui itu tidak bisa menjawab kenapa kepiting malah sebaliknya, matanya ke arah depan tapi jalannya ke samping. Di rantai makanan pun kepiting tidak berada di posisi atas, hewan laut crustacea bercangkang ini merupakan santapan bagi hewan laut besar seperti gurita, anjing laut, singa laut, lobster laut yang ukurannya lebih besar dari kepiting. 

Ikan-ikan sepertinya jarang yang bisa makan kepiting karena cangkang nya yang keras. Palingan kalo ada yang makan langsung di lepeh lagi gara-gara keras. Kulitnya yang keras itu lah yang membantu kepiting survive dari ikan-ikan lapar. Tapi cangkangnya yang keras tidak sepenuhnya membantu kalau pemangsanya adalah gurita yang punya sulur-sulur kuat yang bisa meremukan cangkang kepiting. Atau oleh lobster besar yang cangkang nya jauh lebih keras dari cangkang kepiting dan punya capit besar yang bisa meremukan cangkang oranyenya seperti tang penjepit kulit kepiting di rumah makan sea food.

Punya kulit yang keras saja tidak cukup untuk kepiting agar bisa survive. Tapi mungkin karena kepiting ga punya mata di samping untuk selalu memantau sekeliling, karena itu kepiting harus selalu tiarap seperti seorang tentara yang lagi mengendap-ngendap di tanah supaya ga ketauan musuh. Tiarapnya kepiting bisa maksimal karena kaki-kakinya disamping, trade off nya adalah dia jadi tidak bisa jalan kedepan, konstruksi kaki-kakinya membuat kepiting hanya bisa jalan kesamping. Dengan menyamping juga lebih memudahkan kepiting menyusup ke lubang dalam pasir atau ke sela-sela batu. Jadi jalan menyamping membantunya survive.

Terus setelah sekian tahun, apa yang membuat saya tiba-tiba jadi kepikiran menghubungkan pertanyaan "Kenapa ikan matanya di samping tapi jalannya kedepan, tapi kepiting matanya ke depan jalannya ke samping?" dengan teori survival.

Pemikiran itu dipicu dari film  Hercules yang saya tonton kemarin, waktu Hercules ngomong ke tentara yang dilatihnya sebelum perang kalau yang terpenting dalam perang adalah bukan berapa banyak musuh yang dibunuh, tapi yang penting adalah bagaimana caranya supaya diri sendiri bertahan hidup - survive. 

Dari sebaris kalimat Hercules itu dan rangkuman dari beberapa tahun perjalanan mencari innerpeace, saya teringat pertanyaan besar dari kehidupan saya itu. 

Mungkin selama ini jawaban yang saya cari tidak rumit. Malahan mungkin jawaban yang saya cari sangat simpel. 

Kenapa ikan matanya di samping tapi jalannya kedepan, tapi kepiting matanya ke depan jalannya ke samping?

Supaya mereka bisa bertahan hidup.






.....tapi kemudian timbul lagi satu pertanyaan:

Kenapa udang jalannya mundur?


Rabu, 04 Juni 2014

Catatan di pertengahan 2014

Bulan Juni, yang berarti tahun 2014 ini sudah di pertengahan. 

Tahun-tahun terakhir ini rasanya seperti tersesat dalam dimensi waktu, kalau dirasa dalam satu hari rasanya waktu jalannya super lama bin slow motion, tapi kalau dilihat tahunnya ternyata si waktu cepat banget jalannya. Ngebut. Tidak terasa tiba-tiba berlalu gitu aja *cring* kayak sekejap mata. 

Rasanya seperti diperdaya oleh waktu yang membuat saya merasa terjebak dalam rangkaian hari yang lambat padahal sebenarnya saya sedang di bawa nya ngebut. Rasanya seperti duduk di pesawat ketika udara bagus, terasanya diam padahal kita lagi dibawa meluncur dengan kecepatan seribu kilometer per jam. Rasanya seperti dikhianati oleh Teori Relativitas.

Tiba-tiba perasaan melankolis melanda. Saya tidak mau ke kantor hari ini. Sudah beberapa bulan ini pergi ke kantor buat saya butuh kekuatan mental 3,000 kali lebih kuat, saya harus menyeret langkah tiap pagi seberat tahanan penjara jaman rennaisance harus menyeret bola besi yang mengganduli pergelangan kakinya. Saya bahkan tidak mau turun dari tempat tidur.

Alarm sudah berbunyi dari mulai jam 4. Kemudian jam 4.10. Diikuti selanjutnya jam 4.30. Jam 4.45. Terakhir jam 5.00 alarm berbunyi dari iPad saya yang sengaja saya letakkan agak jauh agar perlu usaha ekstra untuk mematikannya. Setelah mematikan alarm jam 5 saya kembali meringkuk di tempat tidur, membuka-buka socmed di smartphone. Untuk keberapa kalinya saya melihat quote itu lagi, di ukir dengan tulisan sophisticated dan melingkar-lingkar di atas foto pemandangan gunung melihat kebawah yang di filter dengan warna agak memudar : 

Life begins at the end of your comfort zone - Neale Donald Walsch

Pertama-tama  kali lihat quote ini hati saya selalu bergetar menuntut jawaban dari pertanyaan, apakah hidup saya sudah dimulai? Tapi lama-lama saya mikir, enggaklah... kayaknya buat mikir kayak gitu kog udah telat banget ya, hidup saya sudah terlanjur dimulai hampir 32 tahun yang lalu. Quote ini cuman jadi korban, di salah gunakan oleh industri turisme untuk 'mendorong' orang-orang dari apa yang di ilusikan sebagai comfort zone untuk keluar dari itu semua; traveling, explore new places, pergi naik pesawat, booking hotel mewah dan membayar untuk semua itu. 

Awalnya saya pikir comfort zone itu ada dimana saja, tapi lama-lama saya jadi mikir kalo satu-satunya comfort zone yang diketahui manusia adalah dalam rahim ibunya, makanya ketika manusia lahir - keluar dari rahim - dari comfort zone nya, disitulah kehidupan dimulai. Karena setelah kita lepas dari tali pusar yang menyokong kehidupan kita yang nyaman di dalam perut Ibu, kita tidak akan pernah bisa seutuhnya merasa nyaman. 

Kalau memang ada yang namanya comfort zone lain saya akan segera melompat kepelukannya dan tidak peduli kalaupun itu dosa sekalipun, bahkan kalau itu berarti tidak hidup. Memangnya kalau kita jadi pegawai yang digaji tiap bulan dan (kebetulan) menyenangi pekerjaan kita artinya itu comfort zone? Rumah hasil cicilan sendiri yang kita dekor dengan perabotan dari IKEA pun tidak akan pernah bisa menyaingi kenyamanan di rahim ibu, karena tetap saja kita harus berjuang untuk bayar cicilannya.

Bahkan ketika saat ini saya hanya ingin berbaring di tempat tidur saya yang terlindung oleh tembok-tembok kamar, terlindung dari kekejaman traffic di jalanan ibukota dan kumpulan orang-orang yang antri ga sabar mau menyerang kita hingga babak belur tapi ga lama perut saya akan menuntut makanan untuk mengisi nya dan saya harus keluar. Kamar dan tempat tidur ini bukan comfort zone sejati. Saya harus tetap hidup.

Comfort zone itu ilusi kolektif. Sama seperti kesuksesan menurut saya, ilusi kolektif. Kita beramai-ramai diajak untuk menamakan sesuatu yang ga nyata, yang hanya ada dalam angan-angan doang, makanya saya bilang ilusi kolektif. Membuat kita berharap ada sesuatu yang bisa diraih tapi sebenarnya hanya menimbulkan kesedihan karena kan ilusi adalah bayangan dan bayangan ga mungkin bisa diraih di dunia kita yang ada di dimensi tiga ini, jari-jemari manusia hanya akan menembus aliran udara dan gelombang spektrum cahaya ketika berusaha meraihnya. 

Jumat, 10 Januari 2014

Almarhum Sony DSC-TX10

Akhirnya kamera sony yang saya beli di tahun 2012 sebelum keberangkatan saya ke Australia sudah RIP - Rest In Peace. Ternyata kamera yang katanya bisa tahan dibanting dari ketinggian 1,5 m dan tahan dicelupin ke air sampe kedalaman 5 meter itu hanya kuat mendampingi perjalanan saya kurang dari 2 tahun aja. Mungkin dia gak setangguh yang saya harapkan ketika membelinya. Atau mungkin perjalanan saya yang terlalu ekstrim buat dia. Yang jelas hubungan kita gak bertahan lama.

Sebelumnya dia sudah nyaris hilang ketika perjalanan mencari innerpeace ke jogja, tapi waktu itu takdir masih mempersatukan kita lagi. Sepulang dari Arab, saya mendapati retak halus di tutup batere kamera itu. Ketika saya membawa ke service centernya, ternyata tidak bisa hanya diganti tutup baterenya saja, jadi saya harus ganti seluruh casing nya dengan harga setengah dari harga beli baru kamera itu. Karena takut retak halus itu akan jadi sumber kebocoran yang mengakibatkan masuknya air ke dalam kamera ketika saya mau gunakan di dalam air, maka saya menyanggupi untuk mengganti casing itu dan membayar biaya service nya.

Masalah baru muncul ketika saya ambil kamera itu, saya memang kurang teliti dan tidak memeriksanya. Saya tidak membuka nya dari kantung plastik pembungkusnya. Di rumah baru saya buka. Saya mendapati retak halus baru lagi di salah satu sudut kamera. Tadinya saya pikir karena pemasangan casing yang tidak benar karena saya tidak pernah melihat retak itu sebelum saya membawanya ke service center untuk diganti casing nya. 

Saya bawa kembali ke service center. Menurut mereka retak itu sudah ada ketika saya bawa kamera itu untuk diganti casing pertama kali. Karena malas berdebat saya mengiyakan saya dan setuju untuk mengganti bagian yang retak itu lagi, kali ini dengan membayar biaya sekitar 500ribu rupiah. 

Setelah di service untuk kedua kali itu saya belum pernah pakai kamera saya di dalam air hingga liburan tahun baru kemarin. Saya sedang bermain di kolam renang ketika mencelupkan kamera underwater saya itu dan muncul gelembung-gelembung dari dalam kamera. Layar nya langsung padam, dan kamera itu mati. 

Kamera underwater itu kemasukan air. 

Saya langsung mengeringkannya, mengeluarkan batere dan memory card kemudian coba saya keringkan dengan hairdryer. Tapi sampai keesokan harinya kamera itu tetap tidak menyala. 

Awalnya saya berpikir mau kembali ke service center itu, tapi setelah saya hitung-hitung berapa besar effort yang harus saya keluarkan untuk pergi ke service center nya yang jauh dari wilayah saya sehari-hari, terus nanti setelah menunggu lama dikabari biaya perbaikan yang harganya bakal sama kayak harga beli satu kamera baru lagi, ditambah lagi peristiwa service terakhir yang benar-benar tidak meng-enakan, maka saya putuskan untuk merelakan kamera itu. 

Yah jadilah kamera stylish yang katanya tough itu, di usianya yang masih teramat muda sudah menjadi bangkai yang menghiasi rak buku di kamar saya. 

"It takes getting everything you ever wanted and losing it to know what true freedom is," kata Lana Del Rey. Dan kayaknya sangking seringnya beberapa tahun terakhir ini saya kehilangan sesuatu, lama-lama jadi terbiasa untuk melepaskan sesuatu dengan penuh kerelaan. Beberapa bulan lalu juga saya kehilangan blackberry saya yang sudah menemani saya selama hampir 5 tahun. 

Mungkin hidup ini kayak traveling, semakin banyak barang/beban yang harus dibawa maka traveling nya jadi ribet dan berat. Tapi kalau kita bisa milih untuk membawa apa saja yang benar-benar kita butuhkan sehingga bawaan kita ga banyak, perjalanan akan jadi lebih simpel dan ringan. Apalagi kalau bisa benar-benar jalan dengan hanya bawa diri sendiri - maybe that's what true freedom is, kita gak takut kehilangan apa pun lagi kalau kita ga punya apa-apa. 

Minggu, 05 Januari 2014

Ride

I just love this song by Lana Del Rey, the video and the narration in the video before the song starts:

I was in the winter of my life, and the men i met along the road were my only summer.
At night I fell asleep with visions of myself, dancing and laughing and crying with them.
3 years down the line of being on an endless world tour, 
and my memories of them were the only things that sustained me, and my only real happy times.
I was a singer - not a very popular one,
I once had a dreams of becoming a beautiful poet, but an unfortunate series of events saw those dreams dashed and divided like million stars in the night sky that I wished on over and over again, sparkling and broken.
But I didn't really mind because I knew that it takes getting everything you ever wanted and then losing it to know what true freedom is.
When people I used to know found out what I had been doing, how I'd been living, they asked me why, but there's no use in talking to people who have home.
They have no idea what it's like to seek safety in other people - for home to be wherever you lay your head.

I was always an unusual girl.

My mother told me I had a chameleon soul, no moral compass pointing due north, no fixed personality, just an inner indecisiveness that was as wide and as wavering as the ocean.
And if I said I didn't plan for it to turn out this way I'd be lying.
Because I was born to be the other woman, who belonged to no one, who belonged to everyone.
Who had nothing, who wanted everything, with a fire for every experience and an obsession for freedom that terrified me to the point that I couldn't even talk about it, and pushed me to a nomadic point of madness that both dazzled and dizzied me.


Every night I used to pray that I'd find my people, and finally I did on the open road.
We had nothing to lose, nothing to gain, nothing we desired anymore......
except to make our lives into a work of art.
Live fast. Die young. Be wild. And have fun.
I believe in the country America used to be.
I believe in the freedom of the open road.
And my motto is the same as ever:
"I believe in the kindness of strangers. And when I'm at war with myself I ride, I just ride."
Who are you?
Are you in touch with all of your darkest fantasies?
Have you created a life for yourself where you can experience them?
I Have. I am fucking crazy.
But I am free.


Rabu, 01 Januari 2014

2013 ; The Unexpected Journey

Di film the hobbit bagian pertama yang judul nya sama seperti judul postingan tahun baru saya ini, Bilbo Bagins sedang santai di depan rumahnya sambil menghisap tembakau di pipa yang panjang ketika di datangi Gandalf yang mengajaknya untuk pergi berpetualang. Bilbo yang saat itu menikmati kehidupan rumahannya yang nyaman dan gak pernah pergi jauh kemana-mana langsung menolak, katanya petualangan itu konyol dan cuman bikin orang telat pulang untuk makan malam.

Mungkin buat banyak orang traveling itu adalah liburan untuk menikmati hidup, bersantai di resort mewah atau ikut tur kapal pesiar. Dari satu comfort zone ke more comfort zone. Tapi buat saya traveling itu adalah petualangan konyol yang bikin saya telat makan, keluar dari kenyamanan rumah saya agar selalu ingat bahwa dunia ini luas dan saya bukan siapa-siapa, insignificant. Banyak sekali yang saya ga tau di luar sana dan apa yang saya tau sekarang ga ada apa-apanya banget, malahan semakin memancing pertanyaan-pertanyaan baru untuk dicari jawabannya. 

Perjalanan dimulai dengan pencarian innerpeace ke Dieng, bersama  Chacha dan Tince, kami berangkat berpetualang ke tempat peristirahatan para dewa - Di Hyang, dengan menggunakan kereta api-bus-angkot. 

Entah kenapa saya sudah tidak begitu antusias melakukan riset mendalam ketika mau jalan. Saya justru ingin tahu berapa banyak kejutan dan berapa banyak saya bisa belajar dari journey itu sendiri. Karena itulah saya menanggalkan sesuatu yang bernama itinerary plan di perjalanan ke Dieng. 

Itinerary plan juga tidak ada di perjalanan saya ke Pulau Komodo. Saya, Pagit dan Mba Efa waktu itu hanya punya misi: bertemu Komodo, bagaimana proses mencapai misi itu biarlah menjadi Unexpected Journey.

Tuhan pun punya Unexpected Journey untuk saya, berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan umroh. Ketika sedang jalan-jalan ke Jabal Magnet saya dapat kabar kalau saya dapat proyek di Jepara, yang anehnya membawa saya ke titik pusat penyebaran Islam di Jawa - Demak dan Kudus.  

Perjalanan hidup sendiri pun adalah Unexpected Journey. 

Tahun kemarin saya punya mainan baru, sebuah smartphone. Awalnya saya belum terbiasa menggunakannya, smartphone canggih itu hanya saya gunakan untuk socmed, foto dan telepon. Tapi saya mencoba mempelajarinya, memahaminya dan bermain dengan smartphone saya. Cepat sekali saya terbiasa dengan barang itu. 

Memang awalnya butuh keberanian untuk ngutak ngutik barang baru itu. Takut salah pencet, takut rusak, takut nanti ada masalah. Tapi kalau takut mulai meng-eksplore, saya tau bahwa barang itu bakal mubazir, lagian saya punya rasa penasaran yang tinggi. Sekarang banyak sekali yang bisa saya lakukan dengan smartphone saya itu. 

Beberapa kali memang ke-sok tauan saya menimbulkan masalah, tapi kalau ada masalah saya tinggal meng-google nya atau liat di forum bagaimana orang-orang lain yang pernah kena masalah kayak gitu berbagi solusinya. Hingga saat ini saya bahkan belum pernah membuka manualnya.

Mungkin hidup harus begitu. Apalagi kan kalau manusia udah jelas-jelas pas lahir gak bawa manual, jadi ga ada acuan pasti tentang hidup. Mau digunakan seperti apa hidup kita ya semua tergantung diri sendiri. Mungkin agar terbiasa kita harus mempelajari hidup secara langsung dengan ber-eksperimen, kemudian mencoba memahaminya dan -jangan lupa, bermain! Konsekuensi nya memang kita pasti akan melakukan kesalahan-kesalahan, bikin masalah dimana-mana, tapi itulah yang membuat kita belajar. Bagaimana belajar dari kesalahan yang kita buat dalam hidup dan memperbaiki masalah yang ada. 

Selamat Tahun Baru 2014.

Senin, 21 Oktober 2013

Monday Madness; Membuat Saya Ingin Bernyanyi

Hari ini hari Senin di Jakarta. Macetnya luar biasa, lebih parah dari Senin-Senin yang lain.
Sangking keburu capek dijalan, sampe di kantor malah jadi gak semangat mau ngapa-ngapain gini.
Mau membangun mood dengan cara nulis blog tapi ternyata gak ada inspirasi juga. 

Sigh. 

Kemacetan tadi bener-bener telah membunuh semangat kerja dan kreatifitas saya.
Jadi ijinkan kali ini saya tidak bercerita tentang perjalanan, tapi sekedar bernyanyi untuk kawan-kawan. 
*siap-siap ditimpuk massa*




Rabu, 16 Oktober 2013

Sapi

Sekali-kali mari kita bahas soal sapi.

Sebelum manusia kenal sama yang namanya sapi, mereka cari makan dengan cara berburu hewan liar dan mengumpulkan daun-daun, rumput-rumput, buah-buah untuk dimakan. Hanya makan dan minum dari apa yang ada disekitar mereka, kalau adanya gajah ya makan gajah, kalau adanya daun ya makan daun. Seumur hidupnya mereka musti pindah-pindah, mengikuti kemana arah makanan membawa mereka- hunters & gatherers.

Lalu kemudian ada kelompok hunters & gatherers yang (kemungkinan secara gak sengaja) mulai menemukan caranya menanam sendiri tanaman liar yang biasanya mereka makan. Jadi gak tergantung dari ketersediaan alam, tapi mereka bisa membuat nya tersedia untuk mereka sendiri – disinilah manusia mulai mengenal produksi. Proses mulai dari ketidak sengajaan itu hingga jadi suatu sistem food production makan waktu berabad-abad, penuh trial & error.

Ribuan tahun juga waktu yang diperlukan manusia sampai bisa beternak sapi kayak sekarang ini. Sapi yang setiap hari kita minum susunya, makan dagingnya, kejunya, mentega, kerupuk kulitnya. Moyangnya sapi adalah hewan liar yang namanya auroch, yang dulu habitatnya di eropa, asia, dan afrika utara. Auroch yang sudah di domesticate (diternakin),yang kita sebut sapi, awalnya mulai di ternak di southwest asia hingga menyebar ke eropa dan ke asia. Sekarang Sapi menjadi salah satu hewan dengan populasi terbanyak yg tersebar di seluruh dunia, sedangkan moyang nya mbah auroch sudah punah. Thanks to human.

Berternak sapi ini gak cuman menimbulkan tragedi buat mbah auroch, tapi juga tragedi buat manusia. Ketika virus penyakit dari sapi ternak bermutasi menjadi virus yang membahayakan manusia. Jaman ketika ilmu kedokteran belum secanggih sekarang, banyak terjadi lebih dari setengah populasi suatu kampung di eropa meninggal karena diserang virus penyakit yang berasal dari hewan ternaknya.

Ternak sapi ini udah lama banget dilakukan manusia, konon menurut penelitian ahli 6000 tahun sebelum masehi di india sudah ada ternak sapi, itu berarti sekitar 8000 tahun yang lalu. Di India sapi adalah hewan suci yang dihormati.  Tapi gak banyak sapi yang beruntung bisa terlahir di india dan jadi kesayangan manusia, di tempat lain sapi di ekploitasi habis-habisan.

Eksploitasi sapi dimulai dari ketika sapi itu lahir, bayi sapi harus rela berbagi susu sama manusia. Ketika sapi mulai dewasa, dia mulai disuruh narik gerobak, bawain barang-barang berat, jadi kendaraan buat manusia juga. Bahkan ketika saya sudah kuliah dan lagi kerja praktek di daerah pedesaan yang banyak sawahnya, saya baru tau kalau sapi dipakai manusia buat membajak sawah juga. Saya pikir waktu itu ,membajak sawah kerjaannya kerbau, seperti yang diajarkan di sekolah. Semasa hidupnya kotoran sapi juga berguna buat manusia, dijadikan pupuk kandang.

Bukan cuman berguna buat manusia, sapi juga berguna buat burung-burung yang makanin kutu di sapi, kalau yang masih inget pelajaran simbiosis mutualisme.

Ketika sapi sudah cukup umur buat dipotong, atau sudah tua dan tenaganya buat narik gerobak sudah berkurang, atau sudah tidak bisa menghasilkan susu atau punya anak lagi, atau ketika majikannya sapi itu mau bikin hajatan, dia akan di sembelih untuk dimakan.
Orang Indonesia sih bener-bener kreatif dalam hal ini, semuanya bisa diolah dan dijadikan masakan untuk dimakan mulai dari daging, jeroan, kikil (kaki sapi), tulang belakang sampai buntut, bahkan sumsum dalam tulangnya aja berasa mubazir kalo gak dimakan juga. Minggu lalu saya kopdar sama cipu, ocha, feli, baru tau kalau diluar negeri orang-orang cuman makan daging sapi aja, sedangkan jeroannya itu untuk makanan anjing. Kulitnya sapi bisa dibikin sepatu, dompet, jaket.

Sapi yang dipelihara petani mungkin mikir enak jadi sapi potong yang lahir dipeternakan, gak perlu susah-susah narik gerobak atau bajak sawah, kandangnya bagus dan bersih, makanannya enak. pokoknya dimanja banget.  Tapi hidupnya gak lama, ketika sudah sampai berat optimal langsung dipotong.  Sapi-sapi itu dipaksa jadi gemuk dengan cara di cekokin makanan macam-macam, disuntik hormon dan bahan-bahan kimia lainnya supaya tercapai target produksi. Bagaimana memenuhi demand daging sapi untuk konsumsi manusia. Industrialisasi daging sapi.

Di Indonesia yang jumlah penduduknya banyak begini, produksi daging sapi lokal gak cukup untuk mengisi perut semua rakyatnya. Jadi ditambah dengan mengimpor daging sapi dari australia. Di australia, baru keluar sedikit dari daerah perkotaan di kiri kanan jalan nampak savana luas dengan gerombolan sapi-sapi gemuk sedang merumput. Tapi dibalik industri peternakan sapi di australia yang maju sekarang ini, ada cerita tragis jaman dulunya.

Australia, benua yang baru ditemukan ketika Indonesia sudah dijajah oleh Belanda, pada saat itu menjadi tempat dimana imigran dari eropa banyak berharap bisa memperbaiki nasibnya. Imigran yang pertama-tama datang ke benua itu mulai meng-klaim lahan-lahan jadi milik mereka. Di lahan itu mereka berternak sapi, yang dibawa pakai kapal dari Eropa. Buat mereka lahan itu kosong, padahal sebenarnya itu lahan tempat penduduk asli sana, orang aborigin, yang waktu itu hidupnya masih sebagai hunters and gatherers, berburu makanan. Untuk melindungi sapi-sapi nya, para imigran eropa itu tidak segan-segan ‘membantai’ orang Aborigin.

Kawanan sapi di perjalanan dari Melbourne menuju Balarat

Kawanan Sapi di pinggir jalan Great Ocean Road


Kembali ke tanah air.

Saya yang rumahnya dipinggiran kota, melihat setiap tahun di saat hari raya kurban banyak banget orang-orang yang bahagia karena bisa makan daging. Ironis memang, buat sebagian orang di indonesia makan daging masih merupakan luxury, kemewahan. Saya saja sudah lama gak makan daging sapi, warteg langganan saya di deket kantor sudah lama ga masak menu daging. "daging mahal sekarang, mba," penjual warteg mengeluh bingung menentukan harga jualnya, nanti malah tidak laku karena kemahalan.

Sapi perah lebih parah lagi. Sering digunakan sebagai kiasan dalam peribahasa tidak memperbaiki nasibnya juga. Seumur hidupnya sapi perah harus hamil dan melahirkan supaya bisa menghasilkan susu. Induk mamalia lain, termasuk manusia, melahirkan dan memproduksi susu untuk bayinya sendiri. Sapi perah memproduksi susu untuk manusia, bukan hanya buat manusia yang masih bayi tapi berlanjut terus seumur manusia hidup. Dipikir-pikir, kalau manusia butuh susu seumur hidupnya bukan hanya waktu dia kecil aja, kenapa manusia gak memproduksi susu sendiri seumur hidupnya. Kenapa musti tergantung sama sapi? ini industrialisasi susu sapi dan sapi perah mesin produksinya.

Waktu kecil, saya gak banyak minum susu sapi karena susu itu mahal. Jadi buat saya waktu kecil, minum susu itu pun adalah luxury. Kalau dibandingkan sama adik saya, yang terpaut usia 13 tahun dengan saya memang tinggi badan saya kalah jauh. Ketika adik bungsu saya lahir kondisi keuangan keluarga saya sudah mapan, jadi bisa beli susu tiap hari. Dari random sample yang diwakili oleh saya dan adik bungsu saya, bisa dilihat bahwa gizi manusia jadi jauh lebih baik kalau minum susu. Tapi apa kita memang benar-benar perlu minum susu sapi setiap hari ? Kalau balik lagi ke jaman manusia hidup sebagai hunters and gatherers, apa mereka kenal yang namanya susu? Apa mereka jaman dulu minum susu kuda liar atau susu auroch liar?

Katanya manusia butuh 1000mg kalsium setiap hari untuk mencegah osteoporosis.  Anyway, Ngerasa gak sih kalau hidup manusia itu lama-lama udah kayak sapi di peternakan, di reduksi maknanya oleh angka-angka dan di standarisasi. kita makan di standarisasi jadi 2000kcal per hari. Minum distandarisasi jadi 8 gelas air sehari. Tidur pun distandarisasi, ada minimum jam  per hari nya. Kenapa gak di simpelkan saja menjadi "secukupnya", apakah karena manusia pada dasarnya gak pernah merasa "cukup"?

Oh well....

Lanjut.

Untuk memenuhi kebutuhan 1000mg kalsium itu, menurut iklan di tivi kita musti minum susu 2 gelas sehari. Tentu saja iklan yang dibuat oleh produsen susu. Minum susu kebanyakan bikin gemuk? Jangan khawatir, ada susu Low Fat, High Calsium. Hidup di era dimana manusia selalu dibujuk, di iming-imingi dan dipaksa jadi konsumtif, saya jadi skeptic bin curigaan sama iklan susu di tipi. Jangan-jangan itu cuman daya upaya untuk mempengaruhi kita mengkonsumsi lebih banyak, mereka memproduksi dan menjual lebih banyak?

Sama kayak produsen shampoo anti ketombe yang terlalu melebih-lebihkan kejelekan si ketombe hingga orang-orang yang dulunya cuek-cuek aja sama ketombe sekarang  jadi berduyun-duyun menistakan ketombe sebagai sesuatu yang jorok banget.

Sebenernya sah-sah aja sih, kita mau konsumsi sapi sebanyak-banyaknya, tapi gak ada salahnya juga kita tetap ingat bahwa Sirloin/ Tenderloin/ Wagyu Steak yang disajikan di piring bersama mashed potato dan sayur-sayuran, disiram saos barbeque itu adalah bagian dari mahluk yang pernah hidup, pernah bernafas seperti kita, punya jantung, bahkan mungkin punya perasaan juga. Apalagi yang dari bayi udah minum susu sapi, berarti kan masih sodara sepersusuan sama sapi, jadi harusnya kita punya rasa kasih sayang sama sapi.

Menurut saya gak perlu juga terlalu ekstrim menunjukan kecintaan kita sama sapi dengan cara jadi vegetarian. Tapi kita perlu tetap ingat kalau dibalik sepotong rendang ada ribuan tahun yang penuh perjuangan dan tragedi hingga sampai di piring kita. Dan yang paling penting kita musti bersukur kalau masih bisa makan sapi, karena masih banyak orang-orang disekeliling kita yang makan daging sapi cuman setahun sekali. Jadi mulailah dengan meng apresiasi daging yang ada di piring kita.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...