Pertama-tama saya akan memperkenalkan dulu Purwaceng buat yang belum tahu benda ini. Purwaceng itu adalah serbuk herbal yang berasal dari tanaman, dipercaya dapat meningkatkan stamina apabila dikonsumsi. Bisa dicampur dengan kopi, susu maupun teh. Purwaceng ini adalah salah satu minuman khas dari dataran Dieng.
Nah sekarang yang mau saya posting disini sebenarnya fokusnya tidak ke minuman Purwaceng nya tapi lebih kepada perjuangan Trip Dieng saya bersama satu adik dan satu kawan bernama Tince yang benar-benar membutuhkan stamina yang kuat banget. Kalau si Purwaceng itu butuh endorser kayaknya kita bertiga mau mengajukan diri nih.
Perjalanan diawali dengan pertemuan kami bertiga di gerai kopi Starbuck di Stasiun Gambir, 3 lembar tiket kereta eksekutif menuju Semarang tergeletak di antara gelas-gelas kopi. Pukul 7.30 tepat kereta mulai beranjak dari Gambir tiba di Stasiun Tawang dini hari pukul 3. Kita memutuskan untuk menunggu sunrise di Dunkin Donut sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Dataran Dieng.
Dieng adalah suatu dataran tinggi yang terletak di sebelah barat dua gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Sebagian dataran Dieng masuk ke kabupaten Wonosobo, sebagian lagi masuk kabupaten Banjarnegara. Dari Semarang kami berencana akan menembus Dieng di bagian Wonosobo nya.
Matahari masih malu-malu muncul, langit belum sepenuhnya terang, kami bertiga berjalan keluar Stasiun Tawang yang berarsitektur klasik diiringi dentang jam besar yang semakin lama terdengar makin jauh sesuai dengan langkah kaki kita berjalan menjauh dari stasiun keluar gerbang. Pas di depan gerbang kita menunggu angkot jurusan Terminal Purboyo.
Di dalam angkot Tince ngobrol dengan ibu-ibu penjual makanan yang kebetulan searah dengan kita, mau ke terminal juga. Dari ibu yang baik hati itulah kita mendapatkan tips-tips menuju Wonosobo, si ibu bilang kita jangan masuk ke dalam terminal bus nya karena kalau kita beli tiket di dalam harganya lebih mahal daripada kalau kita menghadang busnya di pertigaan sebelum pintu masuk terminal. Kita pun turun di tempat yang ditunjuk ibu itu dan ternyata memang banyak yang menunggu bus disitu.
Setelah satu jam lebih menanti bus jurusan Wonosobo akhirnya muncul juga, sesuai dengan arahan ibu yang di angkot tadi, kita membayar tarif 20ribu rupiah. Sementara mba-mba di sebelah harus mengeluarkan kocek sebesar 30ribu karena membeli tiket di dalam terminal padahal tujuannya lebih dekat dari kita. *puk-puk mba-nya*
Perjalanan di dalam bus luar kota yang penuh desak-desakan dengan posisi memangku backpack selama 4 jam itu ternyata benar-benar kegiatan yang menguji kesabaran dan kekuatan tulang-tulang, rasanya Temanggung itu luasnya sepanjang pulau Jawa, lama banget ga sampe-sampe.
Pengamen datang silih berganti, pantang menyerah menyempilkan gitarnya diantara desakan rapat penumpang yang berdiri berdesakan di selasar bus. Ada pengamen gondrong, bertatoo, muka preman, tapi nyanyinya lagu nasyid. Ada pengamen yang membawakan 3 lagu campur sari Didi Kempot yang membuat saya flashback ke masa muda saya di boyolali beberapa tahun lampau, kalua dliat2 sih orangnya mirip juga sama Didi Kempot. Tapi favorit saya adalah pengamen yang kreatif banget me-medley lagu-lagu iklan yang sebagian liriknya adalah:
"Aku anak sehat tubuhku kuat, karena ibuku selalu memberiku batere ABC."
kemudian lagunya ditutup dengan lirik:
"Sudah lama jadi pengamen tapi belum dapat istri."
*puk-puk mas pengamen*
Mana busnya sempat ada acara ganti ban lagi. Nah pas acara ganti ban itu kita bertiga pindah tempat duduk ke belakang karena bus sudah mulai sepi mendekati Wonosobo. Saya bertanya kepada kenek yang jaga pintu di belakang, "mas, nanti bus nya lewat pertigaan ke Dieng ndak?"
"Wonosobo?" tanya mas nya.
Saya mengangguk.
"yang di lampu merah itu?" tanya mas nya lagi
Saya kurang yakin juga sih karena petunjuk yang saya dapat cuman bilang pertigaan, gak bilang ada lampu merah atau tidak. "Yang ada angkot ke dieng nya."
Mas nya pun tersenyum, "iya, lewat. Mau muncak?" tanyanya lagi.
"Iya," jawab saya singkat.
"Ke Sindoro aja, lebih bagus," usul mas nya.
Saya hanya tersenyum.
Lewat terminal bus wonosobo saya menengok lagi ke mas keneknya, "Mas, pertigaannya belum lewat kan?"
Masnya hanya tersenyum manja sembari menggeleng.
Tidak jauh dari terminal wonosobo mas nya memberi komando untuk kita siap-siap karena tempat kita turun sudah dekat. Kita pun turun di pertigaan yang ada lampu merahnya dan menyebrang jalan atas instruksi mas-masnya.
Di pertigaan itu ada pangkalan ojek, jadi saya meyakinkan diri dengan bertanya ke tukang ojek yang lagi duduk-duduk disitu, "Mas angkot ke dieng disini kan?"
"Iya mba, tunggu aja disitu, sebentar lagi lewat."
 |
| Angkot ke Dieng yang ada LCD tivi nya |
Kita diantar angkot naik keatas gunung, menembus kabut tebal yang menggelayuti langit semacam pesawat menembus awan sampai ke depan Rumah Makan Dieng yang terletak di seberang penginapan yang telah kita booking via telpon, Homestay Lotus. Jam sudah menunjukan pukul 12 siang lewat dan perut kita sudah keroncongan. Chacha dan Tince memesan soto sapi, sedangkan saya memesan sate sapi yang langsung dingin berlemak dalam waktu tak sampai 10 menit gara-gara udara dingin.
Setelah satu setengah hari penuh menjelajahi Dieng Plateu yang membutuhkan banyak aktifitas fisik di dera udara dingin, kita menempuh perjalanan kembali ke Jakarta via Jogjakarta. tadi kan pergi ke Diengnya via Semarang, pulangnya kita memilih rute berbeda via Jogja.
Kita memulai perjalanan pulang dengan pamit kepada ibu pemilik Homestay yang baik banget, kita naik angkot langsung dari depan Homestay ke pertigaan tempat kita naik angkot pertama ketika mau naik ke Dieng, 10 ribu per orang. Karena angkot itu tidak mengarah ke Terminal Wonosobo maka kita harus ganti angkot lagi dari pertigaan itu ke Terminal Wonosobo, 2000 per orang. Disitu kita menunggu Bus ke arah Magelang, tarifnya 10 ribu per orang.
Dari Wonosobo ke Jogja tidak ada bus langsung, jadi kita harus ambil jurusan ke Magelang kemudian ganti bus ke Jogja di terminal Magelang, bayar 8000 rupiah. Lama perjalanan dari Wonosobo ke Terminal Jombor Jogja, termasuk ganti bus di Terminal Magelang memakan waktu hampir sama dengan perjalanan Semarang - Wonosobo. Di Terminal Jombor Jogja, kita tinggal naik Bus TransJogja menuju Malioboro, dimana kita akan menginap semalam di daerah Sosrowijayan.
Keesokan pagi nya rangkaian terakhir dari perjalanan yang menguji stamina dan ketahanan mental adalah naik kereta api bisnis Fajar Utama Jogja menuju Jakarta dari Stasiun Tugu. Kira-kira begitulah rangkaian perjalanan yang saya, chacha dan tince tempuh di Trip pencarian innerpeace kita ke Dieng Plateu. Melelahkan memang, tapi sebanding dengan keindahan dan ketenangan jiwa yang kita dapat di sana.
 |
| ceritanya sok-sok niup bunga kayak di film2 |
 |
| Di kawah Sikidang |
 |
| Rumpian di pinggir jurang |
 |
| Sunrise di Bukit Sikunir |
 |
| Pagi di kompleks candi arjuna |
 |
| Leyeh-leyeh |
 |
| Tim Purwaceng Putri |
 |
| Dapet salam dari Purwaceng |