Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Dieng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Dieng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2013

Yang kecil, Yang berpetualang

"Gw pikir lo orangnya gede ternyata kecil begini."

Itulah kalimat komplain dari orang-orang yang sering berinteraksi lewat dunia maya tapi baru pertama kali ketemu saya secara langsung. Saya juga gak ngerti apa mungkin kalau di foto saya kelihatan tinggi besar gitu kali ya? padahal kenyataannya sebenarnya tuh tinggi saya kurang 2 senti dari 1,5 meter. 

Begitu juga kalau ketemu klien urusan kerjaan yang sudah sering berkorespondensi lewat phone dan e-mail sebelumnya tapi baru pertama kali berhadapan langsung dengan saya. Kekecewaan terpancar di wajah mereka bahwa perempuan yang mereka temui tampak seperti anak kuliahan dengan kemeja, celana panjang, flatshoes dan (kadang) berponi. Sering juga saya mengganti flatshoes saya dengan high-heels supaya tampak lebih tinggi dan berwibawa, tapi itu seringkali terasa terlalu menyakitkan, khusus nya di bagian betis. 

Mungkin karena ukuran badan saya yang 'compact', kalau baru kenalan sama orang trus mereka coba-coba nebak umur saya, tidak ada satu pun yang tebakan nya menembus angka 28. Kisarannya antara 25 dan 27. Saya gak tau musti bangga atau sedih dengan hal ini, yang jelas adik saya - Chacha, suka senewen karena selalu disangka kakak saya atau sering disangka kembar padahal umur kita terpaut 3 tahun.

Mata air awet muda di Dieng, Tuk Bimo Lukar - tapi bukan karena ini saya awet muda

Nongkrong di angkringan Jogja sama Rio & Anno yang masih SD waktu saya udah kuliah
Ada seorang bapak-bapak di kantor saya dulu yang pernah bilang gini, "kamu itu, mil, kecil-kecil tapi udah jalan-jalan kemana-mana, saya yang segede gini aja belom pernah kemana-mana, paspor aja gak punya." Saya sih gak liat korelasi antara ukuran badan dan semangat jalan-jalan. Malahan enak lagi punya badan irit gini, kalo packing gak repot soalnya baju nya kecil-kecil jadi bawaannya gak berat *halah*.

Dan petualangan saya bulan Mei berlanjut. Setelah menghabiskan waktu 4 hari di Labuan Bajo demi cita-cita saya ketemu Mbah Komodo di Pulau Komodo, beberapa hari setelahnya saya langsung terbang ke Arab bersama Chacha dan Papa Said untuk menunaikan ibadah Umroh dan juga ibadah jalan-jalan di Madinah dan Mekkah.

Waktu mau berangkat

Pulau Komodo

Sementara itu jadwal business trip saya bolak-balik Jakarta-Semarang-Jepara akan masih padat dalam beberapa bulan kedepan. Belum lagi ada dua acara Undangan Pernikahan sepupu saya yang berdomisili di Manado. Jadi dalam tahun ini masih akan banyak petualangan baru yang menanti saya. Sementara itu, diantara himpitan padatnya pekerjaan saya akan mencoba untuk terus konsisten mencicil postingan perjalanan saya di Australia yang masih banyak banget belum saya tulis, masih  banyak keseruan dan tempat-tempat indah disana yang belum sempat saya share disini.

Jadi kesimpulan dari postingan ini adalah, tidak ada syarat tinggi badan minimum untuk memulai suatu petualangan dan melihat dunia.

Selasa, 28 Mei 2013

Candi Jawa Periode Klasik di Dieng

Kompleks Candi Arjuna di Dieng merupakan bangunan candi tertua yang dibangun di Jawa. Dibangun oleh kerajaan Holing atau Kalingga di sekitar abad ke-7. Bentuknya lebih sederhana jika dibandingkan Borobudur atau Prambanan yang dibangun ratusan tahun setelahnya, tapi prinsip-prinsip dasar arsitektur candi sudah tampak di bangunan candi di Dieng ini.

Ada yang bilang kalau Dataran tinggi Dieng awalnya sudah merupakan tempat ibadah kepercayaan di nusantara sebelum Hindu masuk. Kepercayaan tersebut sangat kuat dengan pemujaan terhadap leluhur. Kemudian seiring dengan masuknya pengaruh Hindu, dataran tinggi ini berubah fungsi menjadi tempat ibadah Hindu. Bisa dibilang bahwa candi ini dibangun pada masa transisi dari kepercayaan masyarakat Jawa Kuno ke Hindu. Walaupun begitu candi-candi yang dibangun setelahnya konsep dasarnya sama dengan Candi di Dieng ini.

Candi di Dieng terdiri dari 3 bagian; Atap Candi (Swarloka), Tubuh Candi (Bhuwarloka) dan Kaki Candi. Terdapat bangunan Kala di pintu-pintu nya sebagai penolak bala dan Makara (mahluk mitos Hindu yang melambangkan air) untuk mengalirkan air. Batu yang digunakan adalah batu andesit dan di susun tidak mengunakan perekat, melainkan dengan suatu sistem yang membuat batu-batu itu tersusun bertautan.

Sistem sambungan batu di candi-candi yang ada di Jawa
Kala dan Makara
Menurut legenda, Kala adalah demon bernama Rahu yang dihukum oleh Wisnu karena mau mencuri ramuan keabadian para dewa. Jadi barang siapa yang meminum ramuan itu hidupnya akan abadi alias gak mati-mati. Rahu sudah berhasil mencuri dan sudah memasukan cairan itu kedalam mulutnya, tapi kemudian Matahari dan Bulan yang menyaksikan kejahatan Rahu melapor ke Wisnu sebelum cairan itu sempat ditelannya. Akhirnya Wisnu menghukum Rahu sehingga bagian atas kepala dan rahangnya hidup eternally tanpa tubuhnya yang mortal. 

Gerhana matahari dipercaya merupakan usaha balas dendam Rahu kepada Matahari dan Bulan, tapi karena Rahu hanya punya kepala bagian atas dan rahang jadi usaha balas dendamnya selalu gagal dan Matahari akan selalu muncul kembali.

Potongan Kala model lain yang dipajang di Museum Dieng Kailasa
Di Dieng ada Museum yang menurut saya keren bernama Museum Dieng Kailasa yang menjelaskan tentang candi, dari mulai proses akan dibangunnya sebuah candi hingga komponen-komponen yang terdapat dalam candi. Bahkan ada pemasangan film tentang Candi di Dieng di teater yang terdapat di dalam museum.

Untuk membangun sebuah candi ternyata perlu ritual-ritual khusus. Pertama-tama Sang Raja akan memilih para tenaga ahli untuk membangun candi yang disebut dengan Silpin yang dikepalai oleh seorang Sthapaka, yang juga bertanggung jawab sebagai arsitek atau perancang bangunannya. 

Memilih lokasi atau lahan untuk dibangun candi tidak bisa sembarangan, ada upacaranya. Kemudian ada ritual-ritual untuk menentukan arah mata angin, Utara - Selatan. Barulah kemudian ditentukan batas dan titik pusat halaman candi. Nanti di titik pusat itu akan ditanam sesuatu bernama Peripih, semacam deposit-box berisi barang-barang berharga dan semacam benih yang merupakan simbolis dari energi spiritual candi itu yang akan tumbuh. Pokoknya ribet dan kelihatannya banyak birokrasinya. Dari itu saya jadi berpikir, jangan-jangan birokrasi memang merupakan sifat dasar rakyat kita, buktinya itu sudah mulai dilakukan sejak jaman bikin candi.

Proses awal pembangunan Candi


Candi Arjuna

Candi Semar

Candi Srikandi


Sabtu, 25 Mei 2013

Kawah Sikidang

Alkisah ada seorang putri yang cantik jelita bernama Sinta Dewi. Dia di taksir oleh seorang pangeran yang kaya tapi gak ganteng bernama Kidang Garungan. 

Ketika pangeran melamar putri Sinta Dewi, dia memberi syarat kepada sang pangeran untuk menggali sebuah sumur dalam waktu semalam. Kalau Kidang Garungan berhasil menggali sumur itu baru Sinta Dewi bersedia menjadi istrinya.

Tapi  ternyata ilmunya Kidang Garungan sakti banget, menjelang pagi sumur yang digalinya sudah hampir selesai. Putri Sinta Dewi panik kemudian menimbun sang Pangeran yang masih berada dalam sumur itu. Si Pangeran murka dan mengutuk keturunan Sinta Dewi kelak akan berambut gimbal. 

Putri terus menimbun Kidang Garungan yang lagi marah-marah di dasar sumur hingga terkubur. Sumur yang digali sang pangeran pun berubah menjadi kawah.

Kawah Sikidang ini adalah salah satu kawah di daerah Dieng dari sekian banyak kawah aktif yang bersebaran dan satu-satunya kawah yang kita kunjungi. Walaupun bau belerang di sekitar kawah ini sangat menyengat tapi masih masuk kategori tidak beracun. 






Sehari setelah kita turun dari Dieng, sampai di jogja kita mendapat kabar bahwa ada kawah aktif di Dieng yang mengeluarkan gas beracun. Di film yang diputar di Dieng Plateu Theater, konon katanya kawah yang mengeluarkan gas beracun itu - yang bernama Kawah Sileri, pernah menjadi tempat tragedi yang menewaskan puluhan penduduk di tahun 1970-an. Kita tidak sempat kesana karena lokasi nya yang lumayan jauh dari tempat kita di dekat bukit Sikunir. 

Minggu, 05 Mei 2013

Rintik Hujan di Telaga Warna

Hujan di pagi hari yang dingin dan berkabut mengiringi perjalanan saya, Chacha dan Tince naik motor turun dari Parkiran Sikunir menuju Telaga Warna. Rintik air lumayan membuat jaket yang saya kenakan jadi lembab dan wajah jadi basah. Ketika kena angin dingin yang terhempas ke muka karena laju motor, rasanya muka ini langsung kaku dan gak bisa digerak-gerakin. Saya dan Chacha pun sibuk buka-buka mulut sepanjang jalan, soalnya keren bisa keluar asap dari dalam mulut kayak lagi di Rusia gitu.

Tarif sewa ojek kita seharian per-orang 100 ribu, dipikir-pikir daripada gempor jalan kaki ke lokasi-lokasi nya yang jauh-jauh dan musti manjat-manjat, akhirnya kita charter ojek aja.

Telaga warna pagi itu berkabut parah, ditambah dengan cuaca mendung disertai hujan rintik-rintik jadi agak susah mendapatkan foto yang bagus. Akhirnya kita berkeliling di sisi danau sembari menunggu dan berharap cuaca akan cerah. Dalam satu danau ini terdapat dua warna - bening dan kehijauan. Batas antara kedua warna itu jelas banget keliatan walaupun tidak ada pemisah apa-apanya.

Bersebelahan dengan Telaga Warna ada Telaga Pengilon, yang berarti cermin. Dan di hutan rindang yang mengeliling dua danau itu terdapat beberapa goa-goa untuk bertapa. Tapi goa-goa pertapaan itu sekarang di kasih pintu dan digembok, jadi tidak bisa dimasuki lagi.

Pagi itu cuaca benar-benar tak bersahabat. Karena hujan dan berkabut jadi kita kurang maksimal dalam menikmati keindahan telaga warna nya. Dalam foto-foto apalagi. Tapi kita sempat loh jajan kue pancong dari abang yang jualan di pinggir telaga. 

Di pinggir telaga warna

Batas warna jelas banget yah

Berkabut parah huhuhuuu T_T
Siang hari nya selesai menonton pertunjukan di Dieng Plateu Theatre, mas-mas ojek kita menunjukan tempat melihat telaga warna dan pengilon dari atas. Jalannya lumayan menantang, menanjak tajam di jalan setapak yang licin diantara petak ladang sayur dan kentang, ditambah memanjat batu-batu dan melipir di ruas jalan kecil yang tinggal selangkah nyusruk ke jurang. Tapi pemandangannya kereeeennn bangeeet.

Telaga warna dan Pengilon dari atas

Selangkah nyusruk ke jurang
Ini tempat innerpeace bangeeettth........ Pokoknya kalo ke Dieng jangan lupa minta dianterin liat telaga warna dari atas ya.
 

Rabu, 01 Mei 2013

Not my kind of "Mie"

Udah lama gak posting soal kuliner, kali ini saya mau bahas tentang mie aaah.
 
Kata orang-orang saya ini rakus dan termasuk ke dalam spesies pemakan segala-nya, tapi ada juga makanan yang kurang pas sama lidah saya. Yah walopun gak pas sama lidah juga biasanya tetep habis aja sih, mubazir soalnya. Dan dari sekian banyak makanan favorit saya kalau harus memilih 3 besar terfavorit, salah satu nya adalah Mie. Segala macam mie saya suka. Mie goreng, mie ayam, mie bakso, mie godog, mie instant, termasuk sodara jauh nya mie semacam ramen, spaghetti, udon. Itu saya suka semua. Malahan saya lebih suka mie daripada nasi, meski kadang-kadang makan mie pake nasi juga sih.

Tadinya tuh saya sempet berpikir, mungkin karena keseringan makan mie yang bentuknya ikal-ikal gitu rambut saya jd ikal juga. Kemudian saya bereksperimen, mencoba lebih selektif dalam  memilih jenis mie yang saya makan. Jadi instead of makan mie ayam yang keriting kecil-kecil saya memilih untuk makan spagetti yang bentuknya seperti mie yang sudah melalui proses catok. Tapi sekian lama saya coba efeknya gak nampak di saya. Rambut saya tetap seperti mie keriting yang kebanyakan kuah sampe lepek, jauh dari penampilan oglio olio yang rapih, lurus dan mengkilat bercahaya. 

Hampir sepanjang  hidup saya ini saya mengidolakan mie dan membuat pernyataan dalam hati bahwa, saya pasti bakal suka dan melahap segala jenis masakan yang terbuat dari mie tanpa tendeng aling-aling. Hingga suatu ketika saya pergi ke Belitung dan mencoba masakan khas nya yang berbahan dasar mie - Mie Belitung. 

Mie Atep yang terkenal di Belitung

Ibu nya lagi menyiapkan pesanan pelanggan

Mie Belitung
Bentuknya sih bagus, mie nya gemuk-gemuk, dihiasi potongan kentang dan tahu goreng, irisan timun dan seekor udang, disiram kuah berwarna coklat. Melihat penampakannya yang menggugah selera saya pun beberapa kali menelan ludah, mana waktu itu dari pagi belum makan apa-apa karena penerbangan dari jakarta ke belitungnya pagi banget, jadi cacing-cacing dalam perut tuh udah berontak gak karu-karuan. Tapi saya langsung kecewa di suapan pertama, karena rasanya aneh di lidah saya. Suapan kedua, ketiga dan seterusnya sampai hidangan di piring di hadapan saya tandas, lidah saya masih gak terima sama rasanya. Gak biasa aja mungkin sama rasanya.

Kejadian kedua kali terjadi kemaren banget pas saya ke Dieng. Semua orang dan semua referensi yang saya baca di internet menyarankan harus mencoba makanan khas sana yang namanya Mie Ongklok, dimakan pake sate sapi. Di malam yang dingin, saya pun memesan mie ongklok ditemani anglo di sebelah saya yang berfungsi menghangatkan ruangan dari dinginnya udara di Dieng.

Mie Ongklok
Mie ini dicampur sama sayur-sayur trus disiram kuah yang kental warna coklat. Tapi saya gak doyan sama kuahnya, rasanya manis-manis gimana gitu. Jadi saya tambahin aja sambel yang banyak, eh habis juga sih. 
 

Sabtu, 30 Maret 2013

Mendaki Bukit Sikunir, Mengejar Golden Sunrise

Jam 4 tepat tanpa berani mandi, cuman percikin sedikit air ke muka dan gosok gigi seadanya, saya, chacha dan tince sudah siap di depan homestay. 3 ojek sudah menanti untuk mengantarkan kita bertiga keliling Dieng seharian. Tujuan pertama adalah mengejar matahari terbit dari atas puncak bukit Sikunir.

Hujan di malam sebelumnya membuat cuaca makin dingin, rencana saya untuk sok-sokan mengenakan celana pendek untuk treking terpaksa di batalkan.

Perjalanan naik motor dari homestay menuju parkiran Bukit Sikunir aja sudah cukup membuat muka saya beku kena angin dingin campur lembab-lembab embun pagi. Jalanannya pun cukup menantang maut, gelap gulita dengan jarak pandang  paling jauh 2 meter saja karena kabut tebal, ditambah jalanan yang menanjak berlubang-lubang dan licin. Sementara di sebelah kanan jalan, tampak jurang menganga lebar walaupun gak keliatan dalemnya sebagaimana karena gelap.

Sampai di parkiran Bukit Sikunir ternyata sudah ramai pengunjung, mobil-mobil dan motor-motor tampak sudah memenuhi area tersebut. Rombongan-rombongan turis pun sudah mulai ramai berduyun-duyun berjalan beriringan mengikuti arah jalan setapak. Mungkin karena kita datang disaat akhir minggu dimana hari selasanya tanggal merah, jadi long wiken bagi yang ambil cuti hari senin.

Perjalanan mulai berat sekitar 200 meter dari area parkir karena mulai menanjak di batu-batuan licin karena basah selepas hujan. Luas jalannya pun hanya bisa dilewati satu orang, jadi harus antri dan agak susah kalau mau melewati antrian itu. Sekitar setengah jalan menuju puncak, antrian rombongan terhenti karena ada salah satu pria yang gak kuat menanjak dan tergeletak tak berdaya di bebatuan yang dingin. Kita sempat melewati pria yang nyaris pingsan itu, tapi jalan antrian masih tersendat karena medan yang semakin curam. 

Guide kita pun berinisiatif mengarahkan saya dan chacha ke jalan lain yang ternyata jaraknya lebih jauh dan lebih tinggi dari tujuan para pengunjung yang mengantri itu. Kita tiba di Pos 3. Medan nya juga lebih sulit karena jarang dilalui, jalan setapaknya nyaris tertutup semak belukar sehingga kalau tidak ada mas-mas penunjuk jalan sudah bisa dipastikan kita pasti akan tersesat. Jalan nya pun tidak semuanya di tutup batu-batu dengan rapi seperti jalan menuju Pos 1, jadi kita harus hati-hati banget ketika melewati jalan tanah yang licin dan lengket menempel di sol sepatu. 

Sekitar 20 menit kita berjalan, sampai di pos yang dituju sepi banget. Hanya ada serombongan kecil fotografer yang sudah siap dengan posisi tripod sudah terpasang. Saya pun menggelar plastik dan duduk berdua chacha, mengeluarkan bekal roti dan susu, sembari sarapan menunggu kemunculan matahari dari balik awan.










Ya, kita hanya berdua karena Tince rupanya terbawa arus rombongan ke Pos 1, yang menurut tince ramai orang banget sampe si tince kegerahan. Sementara saya dan Chacha nyaris beku di pos 3, sampai kita numpang menghangatkan diri di api unggun anak-anak yang lagi kemping tidak jauh dari posisi kita menyaksikan sunrise. 

Saya dan Chacha ketemu lagi sama tince di area parkir, kita memutuskan untuk menghangatkan diri sambil ngopi-ngopi dan ngemil gorengan di warung. Tince yang sudah lepas jaket kegerahan, dan saya yang masih kedinginan dengan celana dan sepatu penuh lumpur. Jadi di jalan turun dari bukit saya sempat terperosok gara-gara tanah yang saya injak amblas. Rupanya karena jarang dilewatin dan habis hujan malamnya tanahnya itu jadi gak padat, jadi pas saya injak langsung jeblos gitu. Bukan hanya sekali, tapi tiga kali saya tersuruk di tempat yang sama. Sudah pasti jadi bahan ketawaan si Chacha selama 3 minggu.

Jalan pulang habis liat sunrise menuju parkiran di sebelah telaga cebong

Ngopi di warung

akibat nyusruk di kubangan

Kamis, 21 Maret 2013

Di Hyang

Dieng berasal dari kata Di Hyang, yang bermakna tempat bersemayam nya para Dewa. Saya mulai mengerti asalnya orang-orang memberi nama tersebut ketika angkot jurusan Dieng-Batur yang saya tumpangi menembus kabut putih pekat kemudian semakin naik semakin cerah seolah-olah kita berada diatas awan. Imajinasi saya langsung membayangkan adegan Zeus yang lagi mengintip ke bumi dari atas awan. Well, kalau dalam hal ini mungkin lebih tepatnya Dewa Siwa yang lagi mengintip ke bumi melalui celah-celah awan putih selembut kapas.

Sekitar abad ke-5, ada sebuah kerajaan di daerah tersebut yang mengirimkan utusan ke China. Sumber China tersebut mencatat kerajaan tersebut bernama Ho Ling. Tapi banyak ahli yang percaya bahwa dimulainya kerajaan di daerah ini sudah dimulai jauh sebelum itu, ketika rakyatnya masih menganut kepercayaan animisme jawa kuno yang memuja leluhurnya. 

Konon menurut catatan sejarah dari negeri China, sekitar jaman itu ada seorang ratu yang memerintah dengan sangat adil dan tegas, kerajaan tersebut aman banget sampai-sampai tidak ada perompak yang berani macam-macam di kerajaan itu. Ratu Shima namanya. 

Dalam menegakkan keadilan, sang ratu tak pandang mana bulu mana putranya sendiri. Jadi suatu hari kaki sang pangeran tidak sengaja menyentuh sekarung emas yang sengaja diletakkan di tengah jalan oleh orang asing yang mau membuktikan keadilan Ratu itu. Sebenarnya orang asing itu cuman mau nge-tes, kalau dia taruh sekarung emas ada gak rakyat situ yang berani ambil. Ternyata ditunggu beberapa hari tidak ada satu pun yang berani menyentuh karung itu. Malahan si pangeran yang ga sengaja lewat situ dan ga sengaja kakinya nyentuh. 

Kemudian ada saksi mata yang melaporkan kejadian itu ke Ratu Shima. Sang ratu murka dan memerintahkan untuk memenggal kepala putranya sendiri. Tapi hal tersebut segera dicegah oleh para penasihatnya, akhirnya yang dipenggal hanya kaki Pangeran yang gak sengaja menyentuh karung emas itu. 

Nama Ratu Shima yang tersohor juga muncul dalam kisah Carita Parahyangan, cerita rakyat yang disusun berabad-abad setelahnya. Kerajaan tersebut disebut bernama Kerajaan Kalingga, yang wilayahnya kira-kira meliputi daerah Jawa Tengah yang sekarang. Ratu Shima menikah dengan Raja dari Kerajaan Galuh yang terletak agak disebelah barat pulau jawa. Salah satu anak mereka adalah Sanjaya, yang kemudian mempelopori Wangsa Sanjaya yang terkenal sebagai pendiri kerajaan Mataram Kuno, yang nanti ceritanya akan saya sambung pas saya posting cerita jalan-jalan ke candi-candi di daerah jogja dan sekitarnya.

Dieng sekarang.
Saat kabut mulai turun
Saya tiba di Dieng siang hari, desa tampak sepi karena sebagian besar penghuninya sedang bekerja di ladang. Mata pencaharian utama di daerah ini memang petani, mayoritas menanam kentang. Dari jauh tampak susunan ladang seperti motif kotak-kotak yang menyelimuti sekujur bukit. Para penghuni desa ini telah turun temurun selama ber-abad-abad tinggal di dataran tinggi yang subur itu. Malahan orang Dieng harus menikah dengan orang dari Dieng juga. Kalau ada pemuda Dieng yang jatuh hati dengan gadis "bawah" dari wonosobo, biasanya tidak akan direstui oleh keluarganya. Itu menurut kawan baru saya, orang asli Dieng yang punya usaha buka distro di Wonosobo.

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 5 candi yang dibangun untuk menghormati dewa Siwa. Candi-candi ini adalah candi tertua yang dibangun di Jawa, lebih tua satu abad dibandingkan Borobudur dan lebih tua dua abad dibandingkan Prambanan. Bentuknya lebih sederhana dan ukurannya lebih mungil dibandingkan dua kompleks candi besar yang saya sebut setelahnya, tapi kondisinya masih kokoh dan terawat walaupun penduduk Dieng sekarang sudah menganut Islam.   

Suasananya yang adem dan tenang memberi efek serupa yang merasuk ke dalam jiwa saya. Kalaupun memang benar disini tempat bersemayam nya para dewa, setelah dua hari di Dieng saya makin mengerti kenapa mereka memilih tempat ini.

Kompleks Candi Arjuna

Bidadari turun di candi

Kompleks candi pagi-pagi

Gunung Sindoro diantara dua candi

Bias sinar mentari pagi

Kamis, 14 Maret 2013

Purwaceng Putri

Pertama-tama saya akan memperkenalkan dulu Purwaceng buat yang belum tahu benda ini. Purwaceng itu adalah serbuk herbal yang berasal dari tanaman, dipercaya dapat meningkatkan stamina apabila dikonsumsi. Bisa dicampur dengan kopi, susu maupun teh. Purwaceng ini adalah salah satu minuman khas dari dataran Dieng.

Nah sekarang yang mau saya posting disini sebenarnya fokusnya tidak ke minuman Purwaceng nya tapi lebih kepada perjuangan Trip Dieng saya bersama satu adik dan satu kawan bernama Tince yang benar-benar membutuhkan stamina yang kuat banget. Kalau si Purwaceng itu butuh endorser kayaknya kita bertiga mau mengajukan diri nih.

Perjalanan diawali dengan pertemuan kami bertiga di gerai kopi Starbuck di Stasiun Gambir, 3 lembar tiket kereta eksekutif menuju Semarang tergeletak di antara gelas-gelas kopi. Pukul 7.30 tepat kereta mulai beranjak dari Gambir tiba di Stasiun Tawang dini hari pukul 3. Kita memutuskan untuk menunggu sunrise di Dunkin Donut sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Dataran Dieng.

Dieng adalah suatu dataran tinggi yang terletak di sebelah barat dua gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Sebagian dataran Dieng masuk ke kabupaten Wonosobo, sebagian lagi masuk kabupaten Banjarnegara. Dari Semarang kami berencana akan menembus Dieng di bagian Wonosobo nya. 

Matahari masih malu-malu muncul, langit belum sepenuhnya terang, kami bertiga berjalan keluar Stasiun Tawang yang berarsitektur klasik diiringi dentang jam besar yang semakin lama terdengar makin jauh sesuai dengan langkah kaki kita berjalan menjauh dari stasiun keluar gerbang. Pas di depan gerbang kita menunggu angkot jurusan Terminal Purboyo.

Di dalam angkot Tince ngobrol dengan ibu-ibu penjual makanan yang kebetulan searah dengan kita, mau ke terminal juga. Dari ibu yang  baik hati itulah kita mendapatkan tips-tips menuju Wonosobo, si ibu bilang kita jangan masuk ke dalam terminal bus nya karena kalau kita beli tiket di dalam harganya lebih mahal daripada kalau kita menghadang busnya di pertigaan sebelum pintu masuk terminal. Kita pun turun di tempat yang ditunjuk ibu itu dan ternyata memang banyak yang menunggu bus disitu.

Setelah satu  jam lebih menanti bus jurusan Wonosobo akhirnya muncul juga, sesuai dengan arahan ibu yang di angkot tadi, kita membayar tarif 20ribu rupiah. Sementara mba-mba di sebelah harus mengeluarkan kocek sebesar 30ribu karena membeli tiket di dalam terminal padahal tujuannya lebih dekat dari kita. *puk-puk mba-nya*

Perjalanan di dalam bus luar kota yang penuh desak-desakan dengan posisi memangku backpack selama 4 jam itu ternyata benar-benar kegiatan yang menguji kesabaran dan kekuatan tulang-tulang, rasanya Temanggung itu luasnya sepanjang pulau Jawa, lama banget ga sampe-sampe. 

Pengamen datang silih berganti, pantang menyerah menyempilkan gitarnya diantara desakan rapat penumpang yang berdiri berdesakan di selasar bus. Ada pengamen gondrong, bertatoo, muka preman, tapi nyanyinya lagu nasyid. Ada pengamen yang membawakan 3 lagu campur sari Didi Kempot yang membuat saya flashback ke masa muda saya di boyolali beberapa tahun lampau, kalua dliat2 sih orangnya mirip juga sama Didi Kempot. Tapi favorit saya adalah pengamen yang kreatif banget me-medley lagu-lagu iklan yang sebagian liriknya adalah:

"Aku anak sehat tubuhku kuat, karena ibuku selalu memberiku batere ABC."

kemudian lagunya ditutup dengan lirik:

"Sudah lama jadi pengamen tapi belum dapat istri."

*puk-puk mas pengamen*
 
Mana busnya sempat ada acara ganti ban lagi. Nah pas acara ganti ban itu kita bertiga pindah tempat duduk ke belakang karena bus sudah mulai sepi mendekati Wonosobo. Saya bertanya kepada kenek yang jaga pintu di belakang, "mas, nanti bus nya lewat pertigaan ke Dieng ndak?"

"Wonosobo?" tanya mas nya.

Saya mengangguk.

"yang di lampu merah itu?" tanya mas nya lagi

Saya kurang yakin juga sih karena petunjuk yang saya dapat cuman bilang pertigaan, gak bilang ada lampu merah atau tidak. "Yang ada angkot ke dieng nya."

Mas nya pun tersenyum, "iya, lewat. Mau muncak?" tanyanya lagi.

"Iya," jawab saya singkat.

"Ke Sindoro aja, lebih bagus," usul mas nya.

Saya hanya tersenyum.

Lewat terminal bus wonosobo saya menengok lagi ke mas keneknya, "Mas, pertigaannya belum lewat kan?"

Masnya hanya tersenyum manja sembari menggeleng. 

Tidak jauh dari terminal wonosobo mas nya memberi komando untuk kita siap-siap karena tempat kita turun sudah dekat. Kita pun turun di pertigaan yang ada lampu merahnya dan menyebrang jalan atas instruksi mas-masnya.

Di pertigaan itu ada pangkalan ojek, jadi saya meyakinkan diri dengan bertanya ke tukang ojek yang lagi duduk-duduk disitu, "Mas angkot ke dieng disini kan?"

"Iya mba, tunggu aja disitu, sebentar lagi lewat."

Angkot ke Dieng yang ada LCD tivi nya
Kita diantar angkot naik keatas gunung, menembus kabut tebal yang menggelayuti langit  semacam pesawat menembus awan sampai ke depan Rumah Makan Dieng yang terletak di seberang penginapan yang telah kita booking via telpon, Homestay Lotus. Jam sudah menunjukan pukul 12 siang lewat dan perut kita sudah keroncongan. Chacha dan Tince memesan soto sapi, sedangkan saya memesan sate sapi yang langsung dingin berlemak dalam waktu tak sampai 10 menit gara-gara udara dingin.

Setelah satu setengah hari penuh menjelajahi Dieng Plateu yang membutuhkan banyak aktifitas fisik di dera udara dingin, kita menempuh perjalanan kembali ke Jakarta via Jogjakarta. tadi kan pergi ke Diengnya via Semarang, pulangnya kita memilih rute berbeda via Jogja.

Kita memulai perjalanan pulang dengan pamit kepada ibu pemilik Homestay yang baik banget, kita naik angkot langsung dari depan Homestay ke pertigaan tempat kita naik angkot pertama ketika mau naik ke Dieng, 10 ribu per orang. Karena angkot itu tidak mengarah ke Terminal Wonosobo maka kita harus ganti angkot lagi dari pertigaan itu ke Terminal Wonosobo, 2000 per orang. Disitu kita menunggu Bus ke arah Magelang, tarifnya 10 ribu per orang.

Dari Wonosobo ke Jogja tidak ada bus langsung, jadi kita harus ambil jurusan ke Magelang kemudian ganti bus ke Jogja di terminal Magelang, bayar 8000 rupiah. Lama perjalanan dari Wonosobo ke Terminal Jombor Jogja, termasuk ganti bus di Terminal Magelang memakan waktu hampir sama dengan perjalanan Semarang - Wonosobo. Di Terminal Jombor Jogja, kita tinggal naik Bus TransJogja menuju Malioboro, dimana kita akan menginap semalam di daerah Sosrowijayan.

Keesokan pagi nya rangkaian terakhir dari perjalanan yang menguji stamina dan ketahanan mental adalah naik kereta api bisnis Fajar Utama Jogja menuju Jakarta dari Stasiun Tugu. Kira-kira begitulah rangkaian perjalanan yang saya, chacha dan tince tempuh di Trip pencarian innerpeace kita ke Dieng Plateu. Melelahkan memang, tapi sebanding dengan keindahan dan ketenangan jiwa yang kita dapat di sana.

ceritanya sok-sok niup bunga kayak di film2



Di kawah Sikidang

Rumpian di pinggir jurang


Sunrise di Bukit Sikunir

Pagi di kompleks candi arjuna


Leyeh-leyeh

Tim Purwaceng Putri

Dapet salam dari Purwaceng

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...