Tampilkan postingan dengan label Thailand - Bangkok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thailand - Bangkok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2016

Keliling-keliling di Dalam Kompleks Wat Pho (Lagi)

Lima tahun lalu saya ke Bangkok dengan tujuan lihat patung Sleeping Budha di Wat Pho. Salah satu alasanya karena pernah lihat foto Papa Said waktu lagi bisnis trip ke Bangkok, sempat jalan-jalan dan foto di depan patung itu. Tahun ini saya balik kesana, bareng keluarga. Seperti yang pernah saya bilang di postingan sebelum-sebelumnya, harga tiket masuk ke Wat Pho ini naik dari 50 bath menjadi 100 bath.

Saya ke Bangkok kemarin bulan Februari, beberapa bulan sebelum Raja Bhumibol wafat dan Thailand berkabung selama satu tahun. Raja Bhumibol adalah Raja Thailand yang paling lama bertahta. Menurut Tince yang baru-baru ini dari sana, selama masa berkabung satu tahun itu rakyat Thailand harus pakai baju warna gelap atau warna putih.

Dari hotel Silom Village di daerah Silom, kami naik tuktuk ke pier Oriental, kemudian naik express boat sampai ke kawasan Rattanakosin. Tujuan pertama adalah ke Wat Phra Kew atau Grand Pallace, tapi mungkin pas itu adalah musim libur turis dari China jadi banyak banget rombongan turis komplit dengan tour guide nya yang angkat-angkat bendera sambil teriak-teriak. Ramainya itu sudah seperti satu provinsi rakyat China ada disitu. Kami sempat masuk ke halaman Wat Phra Kew dengan penuh perjuangan, mungkin mirip jalan di terowongan mina pas musim haji. Ketika lihat antrian loket beli tiket masuk yang mengular, langsung hilang minat untuk masuk. Akhirnya kami melipir ke Wat Pho.

Wat Pho tidak seramai Wat Phra Kew, mungkin karena masih pagi jadi rombongan turis belum sampai kesitu jadwalnya. Di halaman Wat sedang ada acara, orang-orang lokal mengantri di depan Biksu, di doakan, diciprat air suci, kemudian dipasangkan gelang. Turis-turis asing mengelilingi sambil foto-foto, beberapa bahkan ikut antri dan didoakan juga. 



Setelah lihat Patung Sleeping Budha, kami ke kompleks wat yang ada di halamannya. Dulu waktu saya pertama kali ke Wat Pho sendirian, saya sempat nyasar di kompleks itu sebelum akhirnya menemukan lokasi Sleeping Budha. Dulu lagi ada renovasi sehingga pintu utama yang langsung menuju ke Sleeping Budha ditutup, dan tempat itu sepi jadi ya saya muter-muter keliling sendirian. 

Kemarin saya muter-muter kompleks lagi itu sendirian, mengulang masa lalu. Kali ini bukan karena nyasar tapi karena cariin Mama Said yang tiba-tiba hilang waktu saya dan Anissa, adik saya yang bungsu, lagi foto-foto. Akhirnya Anissa tunggu di pintu exit, kita sms ke henponnya Mama Said dan saya keliling kompleks wat yang masih sepi aja kayak dulu, tapi gak ketemu juga. Waduh kalau nyasar gawat tuh, nanti pada gak bisa pulang. Setelah keringetan bolak balik saya kembali ke tempat Anissa menunggu, di dekat pintu exit. Saya berdua Anissa duduk-duduk aja disitu sampai kemudian muncul yang lain dengan wajah tanpa dosa. 

Sebetulnya rencana awal mau ke Wat Phra Keow, Wat Pho kemudian Wat Arun. Wat Phra Keow gagal kan tadi. Wat Arun juga gagal karena lagi direstorasi dan ditutup sementara. Sementara itu Mama Said juga udah gelisah gak sabaran kepingin shopping lagi, akhirnya kami naik taksi langsung ke mall.


Selasa, 11 Oktober 2016

Damnoensaduak Floating Market

Sudah cukup lama saya tidak update blog walaupun sebenarnya rencana postingan ini sudah cukup lama juga. Kali ini bukan karena sibuk. Template New Blog Post ini aja sudah berkali-kali saya buka dan terpampang di layar laptop, tapi untuk mulai nulis berat. Semacam mengalami Brain Fog. Badan juga kurang delicious, akhir-akhir ini lemes banget pinginnya tidur terus. Tapi sekarang saya sudah merasa mulai normal, setelah browsing sana sini akhirnya ketemu masalah kenapa saya lemes terus dan ternyata sepele. Nanti deh saya cerita di postingan khusus.

Sekarang saya mau cerita tentang Floating Market yang sempat dikunjungi waktu ke Bangkok awal tahun ini.

Hari terakhir di Bangkok kami masih ada waktu setengah hari untuk jalan-jalan karena pesawatnya sore, gak mau rugi. Memang rencana dari awal mau rent mobil untuk jalan-jalan dan langsung diantar ke airport. Salah satu tujuan yang ditargetkan adalah Floating Market, tapi belum tau yang mana, pokoknya yang sempat didatangi setengah hari itu.

Rental mobil belum ada, tapi saya yakin mestinya sih banyak di Bangkok. Harganya sih saya sudah survei di internet kira-kira kalau sewa mobil satu hari berapa ratenya. Kebetulan waktu mau ke Madame Tussaud Museum kami naik tuk tuk. Pengendara tuk tuk nya menanyakan rencana mau kemana aja, iseng-iseng saya tanya-tanya soal floating market. Seperti yang sudah saya duga, supir tuk tuk menawarkan, untuk mengantar. Sekalian saja saya nego untuk sewa mobil mengantar ke Floating Market sekalian drop di airport. Waktu itu rate yang disepakati adalah 2000 Bath, biaya toll dan bensin ditanggung supir. Saya memberikan nama saya, nama hotel dan nomor kamar. 

Di hari yang disepakati, jam 8 kurang ada telpon ke kamar saya di hotel. Supir tuktuk sudah datang menjeput dengan mobil. Saya turun untuk menemuinya. Supir tuktuk tampak segar pagi itu dengan wajah yang putih karena bedak dan bibir yang dipoles lipstik warna magenta. Dia berdiri di depan mobil minivan bersama seorang laki-laki lagi. "Kenalkan ini sepupu saya yang punya mobil dan yang akan menjadi supir," katanya memperkenalkan pria disebelahnya.

Menurut rekomendasinya kami pergi ke Damnoensaduak Floating Market, memang jauh tapi waktunya cukup. Floating market itu merupakan salah satu yang tertua dan terluas di Bangkok. Kami diturunkan di suatu tempat, masih ada beberapa km hingga ke Floating Marketnya. Tempat itu adalah penyewaan boat. Kami sewa boat 1 jam untuk keliling-keliling Floating Market, saya agak lupa mungkin sekitar 1000 bath.

Awalnya kami ditawarkan macam-macam paket dengan boat, ada yang ke floating market dan ke wat, macam-macam deh. Waktu saya tanya hanya mau ke floating market saja dia pura-pura tidak mengerti, sampai akhirnya saya bilang tidak jadi karena kalau ke macam-macam tempat tidak akan keburu mengejar pesawat. Waktu saya berdiri dari duduk baru deh dia keluarin tiket sewa perahu saja selama satu jam.

Saya membayangkan kalau Floating Market itu jualannya di perahu, ternyata tidak juga. Toko-tokonya ada di pinggiran sungai, yang beli dari perahu. Ada juga sih yang jualan langsung di perahu tapi tidak banyak. Salah satunya ada nenek-nenek mungil yang tampak sudah sangat tua tapi kuat mendayung sendiri perahunya yang berisi buah-buahan. Saya pernah coba belajar mendayung di sungai dan sama sekali tidak semudah kelihatannya. Saya jadi minder sama nenek.

Barang-barang yang dijual adalah souvenir, makanan dan minuman. Sepertinya Floating Market ini memang khusus untuk turis. Tidak luar biasa sih kalau menurut saya, tapi kalau yang memang suka atraksi yang touristy banget kayaknya bakal suka.

Damnoensaduak Floating Market

Gerbang masuk pasar

Para penjual, ada yang di toko, ada yang di perahu

Nenek mungil tapi perkasa 

Jumat, 12 Agustus 2016

Silom Village Inn, Bangkok

Ada 3 hal yang saya pertimbangkan dalam memilih hotel waktu trip ke Bangkok tahun ini. Pertama, ada rumah makan halal dekat dengan lokasi hotel. Kedua, lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi yang mau dikunjungi dan akses kendaraan mudah. Ketiga, walaupun saya cari hotel yang lokasinya tidak jauh dari pusat keramaian tapi saya menghindari lokasi hotel yang berada di pusat keramaian, karena untuk masuk dan keluar hotel biasanya agak ribet karena terhalang macet. Bangkok macetnya nyaris sama seperti Jakarta.

Atas dasar pertimbangan diatas saya pilih lokasi daerah Silom. Di daerah ini ada tiga stasiun BTS yaitu Chong Nongsi, Surasak dan Saphan Taksin. Dekat juga dengan dua dermaga (pier) untuk naik Chao Praya Express,  yaitu Sathorn pier dan Oriental pier. Kalau mau ke daerah pusat pertokoan seperti Siam square dan Pratunam juga tidak jauh, bisa naik taksi. Bahkan ketika disana sempat juga naik tuktuk dari MBK ke hotel di Silom karena antrian taksi panjang, ongkosnya memang sama seperti taksi tapi naik tuktuk ternyata lebih cepat sampai walaupun pakai olahraga jantung.

Di Silom banyak hotel yang bagus-bagus dan tidak mahal. Yang letaknya dekat sungai Chao Praya adalah hotel-hotel mahal bintang 5. Setelah lihat-lihat banyak pilihan hotel di Agoda, saya tertarik dengan Silom Village Inn. Menurut websitenya, bangunan hotel ini desainnya bangunan tradisional thailand yang dibangun di tahun 1900-an menggunakan teak wood. 

Sampai disana ternyata di dalam lokasi Silom Village Inn juga ada restoran, panggung pertunjukan, kios-kios merchandies khas thailand, spa & thailand massage. Saya booking kamar deluxe yang berada di bangunan lama yang dibangun dari teak wood, tapi karena bangunan lama jadi tidak ada lift, harus naik tangga. Kamarnya luas dan bersih, desainnya klasik dan sederhana. Lumayanlah, sesuai dengan rate yang dibayar.

Saya ambil paket kamar yang tidak termasuk sarapan karena biasanya juga percuma karena sarapannya tidak halal. Tapi pas disebelah hotel ada seven-eleven jadi gampang kalau pagi-pagi mau beli kopi. Selain itu juga tidak jaug dari hotel ada pasar yang pagi-pagi sudah ramai jual sarapan. Di ujung pasar ada mesjid kecil, jadi disekitar situ banyak ibu-ibu pakai kerudung yang jualan. 

Malam hari dari hotel bisa jalan kaki ke Patpong Night Market. Ke Ratanakosin, tempatnya Grand Palace (Wat Phra Kew) dan Sleeping Buddha bisa naik Chao Praya Express dari dermaga, kami waktu itu naik tuktuk ke oriental pier untuk naik express boat. Cari makanan halal juga tidak sulit disekitar situ, bisa dilihat di postingan saya yang Edisi Ngiler [Part 3].

Silom road sepertinya termasuk jalan yang sibuk, di pagi hari dan malam hari jalanannya padat merayap, motor-motor jalan di trotoar juga persis kayak di Jakarta. Tapi untungnya disana hanya macet ketika rush hour, selain itu cukup lenggang. Pagi-pagi banyak orang kantor yang take away sarapan di seven-eleven dan gerobak-gerobak di pinggir jalan. 

Kamis, 30 Juni 2016

Edisi Bikin Ngiler [Part 3]

Disclaimer: kalau gak kuat iman, jangan dibaca saat lagi puasa.

Di Jakarta saya jarang banget ke restoran Thailand karena tidak begitu doyan. Saya pernah bilang juga seperti itu waktu menulis Edisi Bikin Ngiler Part 1, saya gak doyan Tom Yam dan Pad Thai. Saya juga bilang gak suka sama rasa Thai Ice Tea. Tapi entah kenapa kalau makan jenis-jenis makanan itu langsung di Thailand rasanya beda, jauh lebih enak sehingga saya jadi suka. 

Mungkin cara masaknya atau racikan bumbunya beda. Misalnya Pad Thai yang saya coba di Jakarta rasanya kecut, sementara di Thailand gurih banget. Rasa asam yang ada seperti cuma nambah segar aja. Sementara Tom Yam, beberapa kali pernah makan disini rasanya hambar, padahal di Thailand rasanya spicy, gurih dan ada sedikit rasa asam yang bikin segar juga. Bukan hanya di restoran tertentu di Thailand yang enak, tapi makan dimana saja walaupun hanya di kaki lima emperan rasanya konsisten, gurih dan segar.

Daerah Silom Road

Ke Bangkok tahun ini saya sama keluarga. Saya langsung memilih hotel di kawasan Silom, mengingat pengalaman terdahulu kalau di daerah ini banyak rumah makan dan warung muslim. Restoran dan warung yang jual makanan halal biasanya ditandai dengan logo bahasa arab tulisan halal atau logo bulan sabit dan bintang di papan namanya. Saya pilih hotel Silom Village Inn karena lihat di peta dekat dengan Home Cuisine Islamic Restaurant yang terletak di 196-198 Soi 36, Th Charoen Krung, saya pernah makan disitu terakhir ke Bangkok dan enak. Bisa tinggal naik tuk tuk sedikit. 

Kenyataannya tiga hari disana akhirnya tidak sempat ke restoran itu karena di hari pertama ketika lagi jalan-jalan sekitar kawasan hotel buat tes ombak saya lihat pas di seberang hotel ada rumah makan muslim, Dee Restaurant. Disitu menyajikan makanan khas Thailand seperti pad thai, tom yam, nasi goreng thai, curry thailand, tumisan-tumisan dan ada roti prata juga. Malam pertama kami makan disana, ternyata enak dan menunya banyak sehingga keesokan malamnya kami makan disana lagi.   


Pad Thai

Tom Yam
Tidak jauh dari hotel ada pasar tradisional. Di gang depan pasar kalau malam banyak kaki lima dadakan yang buka di pinggir jalan dan kalau pagi juga disepanjang gang itu banyak yang jual sarapan. Di ujung gang ada mesjid, jadi lumayan banyak yang jual makanan halal, bisa dilihat dari tanda bulan sabit dan bintang di papan nama atau gerobaknya, atau lihat ibu-ibu yang jualnya pakai kerudung. 

Salah satu kegiatan favorit saya kalau traveling memang liat-liat pasar dan jajanan emperan, jadi pagi-pagi pas bangun saya langsung meluncur lagi ke gang yang ada pasarnya. Seru liat macam-macam yang dijual di pasar, lihat yang aneh-aneh dan beda dari disini. Lucunya pasti selalu bisa belanja walaupun saling ga ngerti bahasa. Kesimpulan saya uang itu memang bahasa universal dan kegiatan jual-beli tidak mengenal bangsa dan bahasa. 

Saya sempat beli sarapan nasi kuning Thailand pakai ayam yang dimasak pakai bumbu kari. Yang beli antri, rupanya salah satu sarapan favorit. Saya memperhatikan cara belinya dari orang-orang di depan saya, ternyata beli nasi kuning bisa milih mau pakai ayam atau tidak. Saya juga perhatikan jumlah uang yang dibayar pembeli sebelum saya, berapa harga pakai ayam dan berapa yang tidak pakai ayam. Ketika tiba giliran saya beli, saya tetap kasih uang yang ada kembaliannya, takut kurang.

Selain itu saya juga beli kacang dan ubi rebus yang di jualnya sudah dibungkus dalam kantong kresek kecil, harganya 20-an bath. Saya cuma nunjuk, ibu-ibu yang jual udah ngerti saya mau tanya harganya, dia langsung kasih kode angka 2 pakai jari telunjuk dan jari tengah, saya langsung ngerti maksudnya 20 bath. Ada juga sih yang udah pasang tulisan harga di atas dagangannya. Yang jual buah-buahan juga banyak, salah satu jajanan favorit saya di Thailand, soalnya buah disana manis-manis dan besar-besar ukurannya.

Malamnya ada jajanan pancake gaya thailand yang isinya pisang. Ada juga yang jualan ayam goreng tepung berbumbu a la Thailand yang krenyes-krenyes dan bikin nagih dan gorengan baso-basonya yang dimakan pakai saus pedas. Tapi ada satu yang saya kepingin tapi ga nemu, yaitu Som Tam, salad mangga muda yang diiris tipis-tipis disiram kuah spicy kayak yang pernah saya beli waktu ke Bangkok pertama kali dan pernah diceritain di Edisi Bikin Ngiler Part 2. 

Malam terakhir waktu lagi iseng jalan-jalan sekitar daerah Silom untuk survei tempat makan malam yang asik saya ketemu satu restoran bergaya restoran fast food yang jual Fish and Chips dan Burger, namanya Sally Fish. Waktu saya lagi lihat tanda halal dan sertifikat yang dipasang di depan tokonya, managernya keluar dan ngajak ngobrol. Akhirnya saya masuk dan cobain beli Fish and Chips yang ternyata ukurannya besar banget, harganya satu paket sekitar 70ribuan kalau di kurs ke rupiah.

Di belakang Starbuck Silom Rd ada restoran Turki yang ada tanda halalnya dan ada restoran Lebanon namanya Nadimos. Di Nadimos ga ada tanda halal, tapi kami akhirnya memutuskan makan di resto Lebanon karena lihat makanan di menunya lebih aneh-aneh, kalau turki kan kebab-kebab gitu. Saya jadi gak makan banyak disitu karena keburu kekenyangan sama cemilan Fish and Chips jumbo.

Sarapan Nasi Kuning gaya Thailand

Sally Fish, Burger dan Fish n Chips


Restoran Lebanon
Mall MBK dan Platinum

Rata-rata hampir semua foodcourt mall di Bangkok ada foodstall yang jual makanan halal, jadi tidak susah carinya. Apalagi daerah mall yang banyak turis Indonesianya seperti daerah Siam, Pratunam dan sekitarnya. Di MBK mall, tempat favorit mama saya karena mallnya luas banget dan komplit, makanan Halal ada di FoodCourt Lantai 4 dan Restaurant Yana di Lantai 4 juga. 

Foodcourtnya model Eat & Eat di sini, belanjanya dikasih kartu, bayarnay di kasir ketika mau keluar area foodcourt. Tempatnya memang ekslusif, harganya relatif lebih mahal. Tidak semua makanan yang dijual di foodcourt itu halal, jadi tetap harus lihat tanda Halal huruf arab yang dipajang di depan stall-nya. Ada yang jual makanan Indonesia disini, tapi saya tidak lihat ada logo halal. 

Kalau di Platinum Mall Foodcourt-nya ada di Lantai 6, diantara yang jual makanan disitu mungkin ada 3 atau 4 yang jual Halal food. Di Platinum saya beli nasi ayam goreng khas Thailand. Ayam goreng tepung thailand bumbunya enak dan renyah banget, beda sama ayam tepung a la amerika yang banyak di jual sini.

Ayam tumis di Foodcourt MBK

Nasi + Ayam goreng di Foodcourt Platinum Mall
Jajanan lain-lain

Buat saya yang doyan banget sama buah-buahan kayak monyet, seneng banget jalan-jalan di Bangkok yang banyak tukang buahnya. Buahnya manis-manis dan juicy banget, potongannya juga besar-besar. Nanasnya aja manis banget, cocok buat camilan di hari yang panas. Saya juga sempat beli Manggo Sticky Rice, ketan yang dimakan pakai mangga manis disiram kuah santan, enak sih tapi terlalu manis buat lidah saya. 

Disana juga lagi tren minuman jus Pomegranate dan Jeruk yang dijual di botol-botol plastik. Kita bisa lihat penjualnya bikin minuman jus itu langsung di gerobaknya. Saya suka banget yang pomegranate, murah lagi, jadi deh minum gituan kayak minum air putih. Di Chatuchak gak lupa saya jajan es kelapa dalem batok yang topping nya boleh pilih. Sekarang banyak banget yang jualan es model itu disana, di sepanjang jalan utama Chatuchak rata-rata isinya gerobak es kelapa.


Es kelapa Thailand




Minggu, 29 Mei 2016

Madame Tussaud Bangkok

Sama Opa Gandhi
Awalnya saya tahu tentang Museum Patung Lilin Madame Tussaud ini saya sempat bingung. Kenapa bisa ada museum yang isinya patung lilin mirip orang-orang terkenal yang sampai bisa punya cabang di seluruh dunia? 

Kadang saya lihat kawan-kawan saya pasang foto profil lagi foto bareng sama Ratu ELizabeth, salaman sama Barrack Obama, gandengan sama David Beckham, tapi tentu saja bukan orang aslinya melainkan patung lilinnya di Madame Tussaud. Saya jadi mikir, mungkin museum ini tempat menyalurkan hasrat terpendam orang-orang yang mau foto bareng sama idolanya tapi dalam kehidupan nyata kemungkinan ketemunya terlalu kecil. 

Waktu ke Sydney sebenarnya di itinerary saya ada rencana ke Madame Tussaud. Tapi sampai di sana malah batal dan budgetnya dialihkan untuk pergi ke Blue Mountain. Saya kembali memasukan rencana ke Madame Tussaud di itinerary ke Bangkok sama keluarga kemarin karena cocok buat Mama saya yang gak tahan kepanasan dan butuh tempat ber-AC. Selain itu di Madame Tussaud Bangkok ada patung Justin Bieber jadi adik bungsu saya yang ngefans sama JB bakal seneng juga. 

Patung-patung yang ada sekarang sudah tidak dibuat lagi oleh Madame Tussaudnya, karena beliau hidupnya pas jaman revolusi Prancis. Jadi sudah lama banget. Waktu revolusi itu si Madame yang nama depannya Marie, bikin patung kepala dari korban gerakan revolusi yang dipenggal pas jaman itu. Patung lilin kepala yang dibikin itu dicontoh dari aslinya yang kemudian disebut Death Mask dan dibawa pawai sepanjang jalan-jalan di Paris waktu Revolusi Perancis itu. Bisa dibilang Madame termasuk pejuang revolusi, bahkan patung lilin orang terkenal pertama yang dibuatnya bukan patung artis, melainkan Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau. Keduanya adalah filsuf yang aktif dalam menulis tentang gagasan Enlightenment yang merupakan awal dari Revolusi Perancis. 

Madame Tussaud Bangkok terletak di Siam Discovery, saya kemarin masuk dari Mall Siam Paragon mengikuti petunjuk arah, nanti kita akan dibawa keluar lagi dan masuk ke gedung sebelahnya. Rencananya mau beli tiket langsung di lokasi, tapi waktu naik tuk tuk dari Mall Platinum ke Siam Paragon supir tuktuk bawa kami ke kantor travel yang katanya bisa kasih harga diskon untuk tiket Madame Tussaud. Dapat diskon lumayan tapi ga banyak sih, kalau beli langsung 990 bath, di kantor travel dapat 800 bath.

Ternyata yang paling heboh foto-foto adalah Mama saya, semua patung lilin diajak foto bareng. Tapi pas ditanya siapa patung yang lagi difoto, mama saya jawab, "Gak tau sih, yang penting foto aja dulu."

Sama JB dan adik saya





Sabtu, 23 April 2016

Mengantar Si Mama Belanja

Saya sebenarnya bukan termasuk orang yang suka shopping, kalau mau beli sesuatu musti perlu dulu dan kalau pergi ke mall atau ke toko khusus untuk beli barang yang diperluin itu. Misalnya, sepatu. Biasanya teman-teman saya beli sepatu kalau ada model baru, atau pas lagi jalan atau liat online shop ada model yang disuka langsung beli, atau kalau lagi ada sale di brand tertentu. Saya cuma beli sepatu kalau salah satu sepatu saya rusak atau sudah jelek. Dan biasanya belinya modelnya pasti sama. Misalnya sepatu resmi saya untuk urusan kantor yang serius pasti hitam polos. Kalau sehari-hari saya sering pakai sepatu Converse dan kalau rusak saya selalu beli Converse lagi. 

Baju juga begitu. Saya jarang beli baju. Malahan Mama saya yang kadang suka menyelipkan baju baru di lemari saya diam-diam karena liat baju yang saya pakai itu lagi, itu lagi. Handphone saya juga biasanya saya pakai sampai rusak atau hilang, jadi sementara kawan-kawan saya sudah ganti tipe handphone 3 kali, saya masih setia dengan handphone yang saya beli 5 tahun lalu. Malahan iPhone saya tahun depan sepertinya sudah gak bisa update iOS karena udah mentok. Tapi karena masih bagus, saya belum ada niat untuk ganti.

Kadang ada barang yang saya kepingin banget tapi bimbang untuk beli karena sayang uangnya. Iya, saya memang se-pelit itu hihihi. Sejak jarak tempuh lari saya meningkat saya kepingin banget punya Garmin Forerunner, tipe yang saya mau pun saya sudah tau. Tapi untuk beli nya masih maju mundur, belum yakin. 

Walaupun gak terlalu suka shopping, kalau travelling saya tetap suka liat-liat pusat perbelanjaan, toko-toko, pasar. Saya senang lihat-lihat barang apa yang lagi trend disana, perbedaan harganya dengan disini, bagaimana cara dagang orang-orang disana, cuma mengamati saja buat saya seru. Ya pasti beli lah satu atau dua barang yang khusus mengingatkan kalau saya pernah ke tempat itu. 

Waktu pertama ke Bangkok, saya awalnya berangkat sendiri, kemudian janjian dengan dua orang kawan yang menyusul. Saya sempat ikut dua orang kawan saya muterin beberapa pusat perbelanjaan di Bangkok, tapi hari berikutnya saya putuskan pisah lagi sama kawan-kawan saya yang masih belum puas belanja dan jalan sendiri ke Vimanmek Mansion.

Ke Bangkok tahun ini tujuan utama saya memang mengantar Mama saya shopping spree di Bangkok, jadi di itinerary yang saya bikin untuk Mama saya setiap hari pasti ada shoppingnya. Malahan sebagian besar waktu dihabiskan di pusat perbelanjaan. 

Tiba di Bangkok hari pertama, malamnya kami langsung melipir ke Patpong Night Market. Jalan kaki dari hotel yang sengaja saya pilih di daerah Silom. Memang ibu-ibu itu kalau soal belanja cepet banget adaptasinya, biar bahasanya gak nyambung tapi Mama saya tetap saja bisa tawar menawar barang sendiri, malahan colek-colekan ama banci.

Keesokan harinya setelah lihat-lihat Wat dan Sleeping Buddha, kami naik taksi ke Siam Square dan jalan kaki ke MBK. Nah Mama saya betah nih di MBK. Mallnya gede banget, enaknya kalau belanja oleh-oleh disini ada tempat khususnya dan harganya pas, jadi gak perlu repot nawar. Baju-baju a la thailand juga banyak disini dan harga pas. Oleh-oleh makanan juga komplit. 

Keesokan harinya adalah hari sabtu. Pagi-pagi kami naik taksi dari depan hotel ke chatuchak. Mama saya juga betah disini. Saya dan Anissa, adik bungsu, cuma menunggu sambil ngopi di depan Clock Tower. Saya sempat minta difotoin di depan Clock Tower, tapi pas lagi gaya tiba-tiba di belakang saya muncul rombongan orang foto pre-wed pakai wedding dress putih. Sengaja banget mau nyindir jomblo. KZL. 

Liat yang foto pre wed dibelakang huhuu
Sebelum makin siang dan panas, saya menggiring Mama saya untuk pindah dari chatucak ke Pratunam naik taksi. Muter-muter sebentar di Platinum mall, Mama saya tampak kurang tertarik. Kami makan siang disana kemudian ke Siam Paragon karena mau ke Madame Tussaud. Setelah dari Madame Tussaud, Mama saya minta balik ke MBK. Betah banget, bu.

Dan..... seperti biasa, setiap pergi sama Mama saya ketika pulang barang bawaannya bertambah satu koper lagi.

Kamis, 03 Maret 2016

Apa Kabar, Bangkok ?

Yippy yeah yeah, saya kembali lagi ke Bangkok setelah 5 tahun berlalu sejak pertama kali menginjakan kaki di ibukota Thailand tersebut. Tahun ini saya kembali dengan membawa seluruh keluarga.

Ceritanya pada suatu hari setelah tahun baru Papa Said menelpon, “Coba liat harga tiket ke korea.”

Saya kebetulan lagi di depan laptop jadi bisa langsung cek harga tiket di website, “Mau pergi kapan?”

“Akhir Januari.”

“Akhir Januari 2016 ini?” saya melotot.

“Iyalah,” jawab Papa Said.

Salah satu kebiasaan Papa Said adalah kalau mau jalan-jalan mesti mendadak, bahkan waktu mau ngajak umroh aja mendadak. Fiuh.

“Emangnya yakin mau ke Korea musim dingin? Temperaturnya bisa minus 10 derajat Celsius.” Kata saya di telpon.

“Hmm iya juga sih…” Papa Said tampak berpikir,”lagipula kalau mau pergi ga bisa ya kalau paspornya masa berlakunya tinggal 4 bulan lagi?

“Kayaknya sih gak bisa. Maksimal 6 bulan masa berlakunya. Lagian kita musti ngurus visa kalau ke Korea. Gak bakal bisa akhir bulan ini,” yang mana saat itu tinggal 3 minggu lagi.

“Ya sudah kalau begitu Papa perpanjang paspor dulu kalau begitu,” katanya.

Beberapa hari kemudian Paspor Papa Said sudah jadi dan akhirnya setelah diskusi sekeluarga diputuskan kita pergi ke Bangkok, di minggu kedua Februari karena adik bungsu saya sudah akan selesai liburan dan masuk kuliah lagi di akhir Februari.

Saya coba membuka website tiket2.com untuk melihat dan membandingkan harga tiket pesawat di hari keberangkatan yang telah direncanakan. Lebih simple dan praktis, karena hanya dengan buka satu web langsung bisa membandingkan harga dari beberapa airlines. Jadi tidak perlu buka semua website maskapai penerbangan dan cek harga satu-satu, bikin frustasi dengan koneksi internet yang lamban seperti di kantor saya.





Website ini memudahkan untuk mencari alternatif penerbangan termurah dalam waktu cepat. Tinggal masukan destinasi, tanggal keberangkatan dan/atau pulang dan jumlah penumpang, nanti akan keluar halaman yang menampilkan semua penerbangan yang ada di hari itu dan juga hari sebelum dan sesudahnya. Apabila tanggal kepergian tidak mengikat, kita masih bisa membandingkan harga dengan hari lain dan memilih harga lebih murah.

Ada halaman khusus untuk melihat informasi check-in di berbagai maskapai penerbangan yang berbeda, bahkan kita juga bisa melihat kontak dan informasi lengkap mengenai maskapai tertentu, seperti kontak maskapai Garuda Indonesia ini.

Di kolom kiri juga ada filter. Kita bisa menyaring pilihan dari nama maskapainya, jam keberangkatan (misalnya tidak mau terlalu pagi bisa geser ke jam yang nyaman untuk kita) dan lama perjalanan maksimal. Langkah selanjutnya tinggal pilih penerbangan yang kita mau dan lanjutkan dengan pembayaran. Gampang kan?

Itinerary yang dipakai kali ini mirip dengan itinerary 3hari di Bangkok saya 5 tahun lalu, bedanya kali ini saya tidak ke VimanmekPalace tapi ke Madame Tussaud dan Pasar terapung (Floating Market). 

Wat Pho
Selama 5 tahun inflasi terasa banget. Harga tiket masuk Wat Phra Keuw  atau Grand Palace yang dulu hanya 350 bath sekarang menjadi 500 bath. Masuk ke Wat Pho atau Sleeping Budha dulunya 50 bath, sekarang jadi 100 bath (bonus sebotol air mineral).

Nilai bath terhadap rupiah juga menguat, dulu waktu saya pergi 1 bath kurang lebih 300 rupiah. Sekarang 1 bath kurang lebih 400 rupiah. Jadi kalau beli barang disana yang harganya 100 bath, dulu saya bilang, “ murah bangeeettt, cuman 30 ribu.” Sekarang kalau nemu barang harga 100 bath saya langsung sebel dan bilang, “mahal banget 40 ribu, dulu cuman 30 ribu.” Beda 10 ribu itu sangat berarti.

Selain harga masuk tempat wisata, harga-harga lain seperti harga makanan,  transport dan hotel dalam bath naiknya sedikit saja. Yah ditambah penguatan nilai bath jadi lumayan terasa selisihnya.

Maka dari itu perlu diingat kalau kita bikin itinerary ke suatu tempat yang belum pernah kita datangi dan cari referensi mengenai harga di blog atau sumber lain, kita harus lihat tahun berapa sumber tersebut ditulis, apakah masih relevan atau tidak. Kalau memungkinkan cari referensi yang waktunya paling terbaru kalau mengenai harga, atau kita cadangkan budget lebih untuk mengantisipasi kenaikan harga.



Senin, 05 Maret 2012

Edisi Bikin Ngiler : Part 2

Setelah Edisi Bikin Ngiler yang sukses membuat orang yang baca terngiler-ngiler, sekarang saat nya saya bikin Part 2 nya. 

Hampir 30 tahun dan masih hidup menjomblo, saya mulai mencoba untuk introspeksi diri. Agak terlambat sih, harusnya ya saya udah mulai introspeksi diri 5 tahun yang lalu. Yah, tapi kan kata orang-orang pinter di tivi kan better late than never. Dari hasil introspeksi itu saya menemukan bahwa salah satu masalah terbesar saya berkaitan dengan nafsu makan. 

Mungkin agak menyeramkan juga ya ketika para lelaki itu membayangkan masa depan nya dengan saya sebagai istri, kemudian mengkalkulasi berapa karung beras yang dibutuhkan setiap bulannya untuk ngasih makan saya. Apalagi kalau punya anak yang nurunin nafsu makan ibunya. Saya yakin hitung-hitungan karung beras itu setelah di tuangkan ke dalam spreadsheet excel kemudian dimasukin kedalam formula excel, hasil yang keluar adalah MELARAT. Sehingga ketika mereka liat saya lagi mungkin di otaknya ada semacam alert berbentuk running text berwarna merah dengan huruf kapital semua yang menyala kedip-kedip : ...MELARAT...MELARAT...MELARAT.. 

Begitu juga pas traveling, seketat apa pun budget nya saya tetap ga rela kalau penghematan itu harus saya lakukan dari segi kuliner. Saya senang banget nyicip-nyicip makanan khas, apalagi kalau makanan itu tidak ada di tempat saya tinggal. Excitement nya itu rasanya seperti coba-coba berjudi gitu, kadang rasanya kayak menemukan jackpot karena enak banget. Tapi kadang juga terjebak karena rasanya aneh dan ga sesuai sama lidah saya. Kalau kayak gitu saya juga tetap bersukur udah nyobain, yah walaupun cukup sekali saja.  

Ga usah jauh-jauh pas traveling, pas jam makan siang di hari biasa saja saya sering gitu. Belum lama ini saya baru nyicipin yang namanya sroto. Selama ini saya penasaran banget apa bedanya sroto dan soto, cuman baru beberapa waktu lalu sempet mampir ke RM Eling-Eling yang menu khas nya sroto. Ternyata sroto dan soto itu benar-benar dua hal yang berbeda. Saya suka soto tapi ga akan dua kali makan yang namanya sroto. Bleeegh.. rasanya aneh kalau menurut saya.

Di Penang saya penasaran sama Nasi Kandar. Berbagai sumber yang saya temukan waktu browsing-browsing sebelum berangkat bilang kalau ke Penang ga nyobain nasi kandar rugi banget, gitu katanya. Jadi waktu disana saya minta diantar ke Rumah Makan yang jual nasi kandar naik becak warna kuning yang penuh bunga-bunga-an. Saya diantar ke satu rumah makan nasi kandar yang menurut abang becaknya termasuk yang ramai di Penang. 

Sayang nya waktu itu Jum'at siang, rumah makan nya masih tutup dan baru buka lagi agak sore-an, jadi saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di Fort Cornwalis sambil nunggu RM Nasi Kandar nya buka. Sial nya perut saya ini protes ga bisa disuruh nunggu Nasi Kandar, akhirnya saya memutuskan mengganjal perut dengan Nasi Ayam di foodcourt  nya Taman Kota Lama. 

Saya cuman sehari sih di Penang, tapi kalau menurut saya itu testimonial dari turis-turis lain tentang Penang yang merupakan surga makanan kaki lima overrated banget. Cendol disana sama cendol disini, kalau buat saya enakkan disini - jauh lebih murah pula. Sama hal nya dengan Singapura yang memutuskan menggunakan promosi sejenis buat menarik wisatawan asing. Menurut saya sih rasa makanan disana bukan yang istimewa-istimewa amat. Personally, saya lebih suka Thailand kalau untuk hal kayak begini-begini-an.

Kebetulan lokasi rumah makannya nya tidak jauh dari Fort Cornwalis, tinggal nyebrang menuju daerah Little India. Saya masuk agak bingung-bingung. Pertama saya pikir cara pesan makanan itu di pesan dari menu, ternyata ketika saya bilang mau pesan nasi kandar saya disuruh langsung menuju etalase yang mirip seperti etalase warteg.

Menu yang dipajang macam-macam, ada daging, ikan, ayam dan sayur-sayuran. Semua nya berkuah kari mirip kuah gulai RM Padang. Saya pilih cumi atau sotong, yang ternyata bahasa melayu nya disana juga sotong. Nasi putih saya pun di siram 3 macam kuah kari sebagai pelengkap. 
RM Nasi kandar Mustafa

Nasi Kandar Sotong
Saya segera menuju kasir sambil nenteng piring mau bayar, tapi tiba-tiba di teriakin sama bapak-bapak yang meracik nasi kandar saya, makan dulu baru bayarnya belakangan katanya. Wangi nya sih semerbak banget. Tapi rasa kari nya buat saya terlalu pekat jadi malah eneg. Yah, at least kan saya sudah coba nasi kandar (walaupun ga doyan) jadi ga rugi-rugi amat.
***
Awalnya saya sempat bertanya-tanya, kenapa Ho Chi Minh City dulunya di sebut Saigon. Apakah karena kota itu asalnya makanan ringan jajanan SD jaman dulu yang berbentuk serbuk warna coklat dan manis itu? Eh tapi itu sagon ya bukan saigon..

Ternyata asal nama Saigon itu karena konon di daerah itu dulu nya banyak pohon kapas, jadi di kasih nama based on pohon kapas dalam bahasa nya mereka. Ini semakin menguatkan ketidak ada nya hubungan antara jajanan SD di Indonesia jaman dulu (Sagon) dan salah satu kota di Vietnam (Saigon). Bukan juga merupakan jajanan SD bernama sagon yang dicampur sama salah satu merk obat nyamuk sehingga mengakibatkan 78 anak SD dibawa ke Rumah Sakit karena kasus keracunan makanan.

Jadi jelas lah kenapa kita tidak akan menemukan sagon di Saigon. Walaupun masih belum jelas buat saya sampai sekarang kenapa tidak ada Es Shanghai di Shanghai, yang jelas saya menemukan Ca Phe Sua Da yang membuat saya tergila-gila. Saya juga sempat nyicipin sandwich khas daerah itu, yang ini sepertinya perpaduan dengan budaya Prancis. Dulu nya daerah ini sempat di jajah Prancis. Sandwich ini banyak dijual di kaki lima, menggunakan roti Baquet yang bisa kita pilih isinya, namanya bánh mì.
bánh mì saya yang isinya telor ceplok & sayur doang
Saya mulai melihat sisi ironis nya disini kalau dikaitkan dengan perkembangan negaranya. Bangsa Vietnam memang bangga makan singkong, tapi itu waktu jaman mereka perang dulu. Nah sekarang mereka sudah beralih dari makan singkong ke makan roti. Sedangkan di Indonesia kita masih aja setia sama singkong. Karena itu saya mulai khawatir ga lama lagi bangsa kita bakal kalah maju sama Vietnam, ya karena kita masih terlena sama singkong itu.
***
Thailand buat saya adalah surga makanan, enak-enak dan murah meriah. Waktu kedua kali nya saya ke Thailand ada satu makanan yang saya cari tapi tidak ketemu, saya ga tau namanya tapi itu semacam rujak mangga muda yang pake bumbu pedes terus ditaburin kacang. Saya ketemu ini waktu di Bangkok, ada ibu-ibu yang jualan makanan ini di pinggir jalan dan ada seorang lelaki yang lagi beli. Trus penasaran saya tanya itu apa, terus dijelasin kalau itu mangga pedes.Akhirnya saya & temen saya waktu itu beli makanan itu dibantu di terjemahin sama cowo itu. Si cowo thai itu mesti mikir, ni turis random abis.

Jajan Rujak Mangga

Si ibu lagi meracik rujak mangga pesanan kita
Kedua kali nya saya ke Thailand, memang ga ketemu jajanan rujak mangga pedes tapi ada juga sih jajanan yang lain yang lucu-lucu. Diantaranya jajanan semacam pancake waktu 3 alay main ke Patong Beach, lumayan kiyut gitu buat cemilan. Saya juga nyobain sotong yang dikeringin gitu, soalnya saya liat ada orang Thai makan gituan kayak enak banget, pas saya yang nyobain kok susah di kunyah nya, alot gitu. Awet jadinya, ga habis-habis hahaha....

Penjual Pancake di Patong Beach
Pancake Pisang Coklat
Saya juga heran sama orang-orang Thai. Kalau dilihat masakan nya dan cara masak nya kayaknya simpel banget. Either orang sana semua pada jago masak atau masakannya di kasih banyak MSG atau ganja jadi semuanya enak. Ayam goreng pinggir jalan, bola-bola ubi, Thai ice tea dan makan siang dari paket tur, walaupun masakan sederhana tapi incredibly delicious, bahkan nasi putih nya aja enak banget. No wonder Indonesia impor beras dari Thailand. 

Gerobak makanan di pinggir jalan

Nasi Goreng Thai yang pucat tapi rasanya berbumbu banget
Mie kuah siram sea food, murah dengan potongan udang dan cumi melimpah
Makan siang di resto terapung waktu tur mengayak di Krabi
Makan siang di kapal, James Bond island Tour

Senin, 20 Juni 2011

Edisi Bikin Ngiler


Makanan Thailand mungkin termasuk makanan internasional yang populer di Indonesia - selain makanan Chinesse, American fastfood, Jepang dan Itali. Sayangnya lidah saya ini kurang nyambung sama sup Tom Yum  Kung dan Pad Thai khas negeri gajah putih tersebut. Dengan kata lain, saya udah pernah cicipin dan ga doyan ama kedua menu andalan neger Siam itu.

Di Bangkok saya sempat khawatir juga masalah makanan. Apalagi di sana mayoritas kan makanannya daging ga halal itu (yang "katanya" sih enak), jadi ga bisa makan sembarangan. Salah satu alternatif ya makan di resto vegetarian kayak waktu ke China. Eeeergh... nyebut kata "vegetarian" aja saya masih eneg akibat waktu ke China makan sayur mulu.

Dari buku panduan "Bangkok Encounter" keluaran Lonely Planet yang saya beli ada alamat beberapa rumah makan muslim, dan saya sempat cobain 2 dari sekian rumah makan yang di rekomendasi-in itu:

1. Roti-Mataba. Rumah makan yang menyediakan menu Southern Thai-muslim ini terletak tidak jauh dari kawasan backpacker Khao San Road. Letaknya di Th Phra Athit nomor.136. Warungnya itu tempatnya agak nyempil deket tikungan, pas di depan Phra Sumen Fort (semacam monumen gitu). Makanannya mirip makanan India, kayak semacam roti canai dan kari-kari-an. Di bagian depan warungnya kita bisa liat adonan roti canai itu di olah hingga matang. Selain di makan sama kari, roti itu juga bisa di makan sama keju, coklat, pisang, dan selai. Enaaaaaakkk.... saya aja sampe nambah dua porsi hehee....

Yang anehnya lagi, minumnya saya pesen Ice Tea. Yang keluar malah Thai Ice Tea, ternyata disana itu kalo pesen es teh yang keluar otomatis ya Thai Ice Tea yang pake susu. Karena malas berdebat pake bahasa ajaib akhirnya saya terpaksa tenggak tuh minuman. Biasanya saya tuh paling ga doyan sama Thai Ice Tea, entah kenapa kog yang itu enak banget. Ga berasa eneg sama sekali. Bener-bener enak dan segaaaarrr.....

Roti & Mutton Curry + Thai Ice Tea *slurp*
2. Home Cuisine Islamic Restaurant. Resto ini adanya di daerah Silom yang ternyata daerah muslim, soalnya di daerah ini ada mesjidnya. Alamatnya: 196-198 Soi 36, Th Charoen Krung. Disini jualnya makanan Thailand yang model Pad Thai, Tom Yum Kung dan makanan lain yang stir-fried gitu. Karena saya ga doyan makanan thai yang asem-asem aneh gitu saya pesen daging sapi di stir-fried sama sayuran.



Jajanan disepanjang jalan di Bangkok juga banyak banget dan wanginya itu loh.... bikin cacing di perut berontak. Tapi ya itu hambatannya, ga bisa sembarangan jajan karena ga  tau bahan dasar makanannya itu terbuat dari apa.

Ada gorengan semacam baso gitu yang biasa di jual di gerobak-gerobak pinggir jalan. Saya penasaran banget pengen nyicipin, tapi ragu karena ga tau itu daging apa. Eh... kebetulan waktu saya keluar dari Home Cuisine Islamic Restaurant saya nemu gerobak yang jual gorengan ini dan ibu yang jualnya pake jilbab. Langsung aja saya beli dan ternyata enaaaaaaakkkk..... makan baso goreng nya pake saos yang pedes gitu...enak banget deh pokoknya. 

Baso goreng pake saos pedes yang enak nya dewa banget

Di depan Wat Pho saya sempet jajan es kelapa muda. Nikmat banget deh minum es kelapa muda langsung dari batoknya saat lagi panas terik. Ngomong-ngomong soal batok kelapa, di pasar Chatucak saya juga jajan es krim yang rasanya kayak es puter, di sajikan di batok kelapa yang kecil trus toppingnya irisan kelapa muda yang lembut banget dan taburan kacang. Omigooooooddd..... enaaaaak bangeeeeettttt...... Ibu-ibu bule disebelah saya sampe nambah. 
Es Kelapa Muda di depan Wat Pho

Es Puter ala Thailand
Jajanan lain yang selalu bikin saya ngiler adalah jajanan di gerobak yang jual seafood kayak udang & cumi. Seafood nya langsung di bakar saat itu juga jadi  baunya kemana-mana menggoda iman. Di Chaktucak saya jajan udang bakar yang masih fresh. Udang hidup nya juga dipajang di situ. Gimana ga bikin saya tambah ngiler coba. Langsung aja saya beli satu porsi, dan ternyata udangnya dibakar tanpa dikasih  bumbu dan rasanya manis alami..... sedaaaaapppp.....

Udang penggoda iman

Waktu jalan-jalan malem-malem di Siam juga iman saya tergoda sama gerobak yang jualan cumi bakar. Saya nunggu cumi pesenan saya di bakar sambil ngences-ngences. Cumi nya di masukin plastik dan dikasih saos yang kayak kecap tapi lebih encer dan pedes...... nyaaaaaaammmm...

Cumi bikin ngences
Yang bikin saya lebih menikmati makanannya adalah karena harganya termasuk murah meriah, semua udah saya tulis di rincian biaya 3 hari di Bangkok. Coba aja cek lagi kalo ga percaya heheee.... Gara-gara nulis postingan ini & liat foto-fotonya saya jadi lapeeeeerrrr.... *ngais-ngais tanah*

Oh iya, klo sempet mampir donk ke posterous saya yang isinya makanan semua di:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...